Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pelatihan Pengolahan Kripik Ikan Lele dalam Meningkatkan Ekonomi Kreatif di Masa New Normal Suharman Suharman; Atika Nur Syarifah
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat UBJ Vol. 4 No. 3 (2021): Edisi Khusus: Peranan Akademisi Dalam Masyarakat (Desember 2021)
Publisher : Lembaga Penelitian Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.273 KB)

Abstract

The KWT "Margo Mulyo" Mertosanan Wetan, Potorono Village is a community group made up of women farmers. Potorono Village has a tourist attraction in Telaga Embung, which is often packed, and there is also a lot of potential for catfish fishing. However, the community's knowledge and skills in diversifying the processing of catfish products are still limited. The catfish produced are only utilized for personal consumption, with some being sold to middlemen for a small profit. To boost the selling value of catfish, product processing innovations that may be used as mementos typical of Potorono Village are required, with the Telaga Embung tourist region as the primary marketing goal. As a result, counseling and training on the manufacturing of catfish chips as souvenirs unique to Potorono Village, Banguntapan District, Bantul Regency, Yogyakarta Special Region. This program aims to raise awareness about the nutritional value of catfish and to improve the processing abilities of the "Margo Mulyo" Farmer Women's Group. The skills required begin with the selection of raw materials and continue through product preparation, which includes washing, slicing, and seasoning preparation, to ensure that the products produced exceed nutritional and food safety criteria. Consumers appreciate the product's appearance and crispness, as well as the use of a silent machine to ensure that the final product is of high quality.   Keywords: Creative Economy, Catfish Chips, Kwt Margo Mulyo   Abstrak   Kelompok Wanita Tani “Margo Mulyo” Pedukuhan Mertosanan Wetan, Desa Potorono merupakan kelompok masyarakat yang beranggotakan para perempuan. Desa Potorono memiliki ikon wisata Telaga Embung yang selalu ramai dikunjungi masyarakat, selain itu potensi hasil perikanan ikan lele cukup melimpah. Namun pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam diversifikasi pengolahan produk lele masih sangat minim. Hasil budidaya ikan lele selama ini hanya dimanfaatkan sebagai konsumsi rumahan dan sebagian dijual ke tengkulak dengan harga yang relatife rendah. Untuk meningkatkan nilai jual ikan lele diperlukan inovasi pengolahan produk yang bisa dijadikan sebagai oleh-oleh khas Desa Potorono dengan target utama pemasaran adalah diarea wisata Telaga Embung. Oleh karena itu dilakukan penyuluhan dan pelatihan pengolahan kripik ikan lele sebagai oleh-oleh khas Desa Potorono, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan memberikan informasi nilai gizi, pemasaran ikan lele dan meningkatkan keterampilan Kelompok Wanita Tani “Margo Mulyo” dalam mengolah kripik ikan lele. Keterampilan yang dimiliki mulai dari pemilihan bahan baku, preparasi produk mulai dari pembersihan, pengirisan termasuk penyiapan bumbu agar produk yang dihasilkan memenuhi standar nutrisi dan keamanan pangan. serta pengemasan menggunakan mesin siller sehingga produk yang dihasilkan disamping kualitasnya baik, penampilan dan kerenyahan produk juga disukai konsumen.   Kata kunci: Ekonomi Kreatif, Kripik Lele, Kwt Margomulyo
Pengaruh Penambahan Ekstrak Bunga Telang (Clitoria ternatea) terhadap Pertumbuhan Bakteri Asam Laktat pada Pembuatan Yogurt Telang Lana Santika Nadia; Adi Sutakwa; Suharman Suharman
Journal of Food and Culinary Vol. 3 No. 1 [Juni 2020]
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/jfc.v3i1.3123

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh penambahan ekstrak bunga telang dan penambahan susu skim pada pertumbuhan bakteri asam laktat. Rancangan perconaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan tanpa dan penambahan ekstrak bunga telang (1% v/v). Pembuatan yogurt dan yogurt telang menggunakan susu skim (SS), susu pasteurisasi (SP), susu UHT(SU), susu pasteurisasi dengan penambahan 5% (b/v) bubuk skim (SPS), dan susu UHT dengan penambahan 5% (b/v) bubuk skim (SUS). Hasil analisa total BAL menunjukkan tidak berbeda nyata dan semua variabel tersebut sesuai dengan Standar SNI 2981:2009. Kesimpulannya, Penambahan ekstak bunga telang tidak menghambat pertumbuhan bakteri asam laktat namun juga tidak meningkatkan pertumbuhan BAL. Namun, asam laktat meningkat dengan penambahan ekstrak bunga telang. Dengan menambahkan susu skim dapat pula meningkatkan asam laktat pada yogurt.
Pendampingan Masyarakat dalam Penguatan Imunitas Tubuh dengan Gizi Seimbang dan Suplemen di Era Adaptasi Kebiasaan Baru Rosmauli Jerimia Fitriani; Margala Juang Bertorio; Rahmat A. Hi Wahid; Suharman Suharman
Jurnal Abdidas Vol. 2 No. 3 (2021): Pages 459-724
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v2i3.333

Abstract

Pandemi Covid-19 sudah terjadi lebih dari satu tahun. Pada masa adaptasi kebiasaan baru diharapkan dapat menerapkan adaptasi kebiasaan baru di segala lini masyarakat, tempat pendidikan, kantor, tempat umum dan lainnya. Perlu adanya pendampingan masyarakat untuk meningkatkan protokol kesehatan. Pendampingan masyarakat bertujuan untuk menumbuhkan pengetahuan masyarakat tentang gizi seimbang dan suplemen kesehatan, menumbuhkan pengetahuan masyarakat dalam membedakan suplemen kesehatan dan obat sebagai terapeutik serta menumbuhkan pengetahuan masyarakat tentang PHBS. Pendampingan ini dilaksanakan di Padukuhan Karang Tengah, Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan pengabdian ini menggunakan metode ceramah dan demonstrasi. Metode ceramah untuk menjelaskan tentang tentang gizi seimbang dan suplemen kesehatan, membedakan suplemen kesehatan dan obat sebagai terapeutik dan pengetahuan masyarakat tentang PHBS. Metode demonstrasi untuk mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yaitu 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak dan Menghindari kerumunan) di era adaptasi kebiasaan baru. Pengabdian ini dilakukan secara tatap muka, kemudian dilanjutkan dengan dibentuknya grup WhatsApp untuk berdiskusi lebih lanjut. Pengabdian ini mendapat respon yang baik oleh masyarakat dan peserta mendapatkan ilmu baru mengenai gizi seimbang dan suplemen di era adaptasi kebiasaan baru.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA PATUKGAWEMULYO MELALUI PENGEMBANGAN KETERAMPILAN DIVERSIFIKASI PRODUK OLAHAN JAMBU KRISTAL Suharman Suharman; Dewi Amrih; Adi Sutakwa; Nuril Khoirunnisa Izzati
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i2.15284

Abstract

Desa Patukgawemulyo terletak di ujung tenggara Kabupaten Kebumen. Mayoritas wilayah Patukgawemulyo terdiri dari lahan pertanian. Potensi komoditas utama yang ditanam pada lahan pertanian salah satunya adalah jambu kristal yang dapat dengan mudah ditemukan di sepanjang lahan pertanian pinggir pantai. Konsekuensi dari potensi melimpahnya hasil panen jambu kristal di Desa Patukgawemulyo dan wilayah sekitarnya adalah harga penjualan yang tidak stabil dan cenderung berpotensi merugikan petani. Kerugian tersebut dapat disebabkan oleh periode panen yang bersamaan, permintaan pasar yang tidak seimbang dengan hasil panen, serta overcapacity yang tidak diimbangi dengan keterampilan pengawetan dan pengolahan buah jambu kristal. Tingginya tingkat produksi jambu kristal tidak diimbangi dengan diversifikasi produk olahan sebagai upaya peningkatan nilai tambah dan memperpanjang umur simpan buah. Permasalahan yang dihadapi kelompok PKK Desa Patukgawemulyo yaitu sebagai berikut: (1) Permasalahan Produksi, petani jambu kristal yang tergabung dalam Kelompok PKK Desa Patukgawemulyo minim pengetahuan dan ketrampilan dalam mengolah hasil panen jambu kristal, (2) Permasalahan Pengemasan, minimnya pengetahuan dan keterampilan mitra dalam hal pemilihan kemasan yang tepat untuk produk jambu kristal dalam peningkatan kualitas dan umur simpan produk. Solusi yang akan dilakukan yaitu menyelenggarakan kegiatan penyuluhan dan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kelompok PKK Desa Patukgawemulyo dalam upaya diversifikasi pengolahan hasil pertanian jambu kristal.
PEMBERDAYAAN UMKM “KAMPUNG KACANG” MELALUI PENINGKATAN EFEKTIVITAS PRODUKSI DI KAPANEWON SEMANU, GUNUNGKIDUL Muhammad Priya Permana; Suharman Suharman; Guntur Samodro
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 5 (2023): Volume 4 Nomor 5 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i5.21747

Abstract

Kabupaten Gunungkidul merupakan penghasil kacang tanah terbesar di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu daerah penghasil kacang tanah di Kabupaten Gunungkidul yaitu berada di Kapanewon Semanu. Di daerah ini terdapat Kelompok UMKM “Kampung Kacang”. Pemrosesan kacang dimulai dengan pemanenan, mencuci, dan mengeringkan sebelum proses mengolah menjadi kacang sangrai, kacang oven original, kacang oven asin, kue kacang dan pengupasan kacang. Kelompok UMKM ini sebelumnya mengolah kacang tanah dengan metode manual, seperti penggunaan ember dan sikat untuk mencuci dan penjemuran dengan sinar matahari selama 2-3 hari sehingga ketergantungan akan cuaca yang mempengaruhi produktivitas dan terkadang tidak memenuhi permintaan pasar. Permasalahan tersebut menjadi latar belakang pelaksanaan pengabdian untuk meningkatkan efektivitas produksi. Tujuan pengabdian ini adalah meningkatkan waktu dan kapasitas proses pencucian dan pengeringan menggunakan mesin yang dirancang. Sehingga produksi tetap berjalan dengan waktu lebih singkat, kapasitas lebih besar dan tanpa kendala cuaca. Kemudian, adanya pembuatan SOP untuk penggunaan mesin, perbaikan, dan perawatan untuk kepentingan kelompok. Melalui dana hibah PkM dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) pada tahun anggaran 2023, tim Pengabdi berupaya menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh mitra dengan pelaksanan kegiatan sosialisasi desain alat dan pelatihan penggunaan alat mesin pencuci kacang tanah dan pengering kacang tanah serta penyerahan alat. Serah terima alat dilaksanakan di Balai Dusun Pragak Kalurahan Semanu dan disaksikan oleh Kepala Dukuh Pragak, Ketua UMKM Kampung Kacang, serta pejabat desa setempat. Selain itu ada sosialisasi untuk usaha dalam memperpanjang usia simpan kacang tanah. Alat yang diberikan mengefektifkan pemrosesan kacang tanah sebelum masuk pengolahan dan alat pencuci bisa menampung 10-15 kg kacang tanah dan hanya membutuhkan 20 menit sekali proses sedangkan mesin pengering bisa menampung 30 kg kacang tanah selama 8 jam. Melalui pengabdian ini, manfaat yang dirasakan oleh Kelompok UMKM "Kampung Kacang" mencakup peningkatan pada jumlah produksi, pendapatan, dan masa simpan produk olahan kacang sampai beberapa bulan.
Analisis Proksimat dan Kualitas Fisik Mie Wikau Maombo dengan Penambahan Rumput Laut (Eucheuma Cottonii) Shintya Maslin; suharman
Journal of Innovative Food Technology and Agricultural Product Volume 2, No. 1, Juni 2024
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jitap.v2i1.6635

Abstract

      Tepung wikau maombo berasal dari ubi kayu yang dimodifikasi dengan pengolahan fermentasi, aktivitas enzim dari kapang menghasilkan rasa manis dan ciri khas pada produk wikau maombo. Wikau maombo dapat dikonsumsi sebagai pengganti beras. Makanan khas ini berasal dari daerah Buton Sulawesi Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh penambahan bubur rumput laut dan xanthan gum terhadap nilai gizi dan karakteristik mie. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 6 perlakuan yang merupakan kombinasi proporsi antara tepung wikau maombo, rumput laut dan xanthan gum (tepung wikau maombo : terigu : rumput laut : xanthan gum )W1= 60% : 37% : 2% : 1%, W2= 60% : 35% : 4% : 1%, W3= 60% : 33% : 6% : 1%, W4= 60% : 31% : 8% : 1% , W5= 60% : 29% : 10% : 1%, W6= 98% : 2%. Berdasarkan hasil penelitian bahwa penambahan bubur rumput laut dan xanthan gum berpengaruh terhadap Kandungan proksimat yang diperoleh dari komposisi terbaik pada perlakuan W1 = (60 g wikau maombo, 37 g terigu , 2 g rumput laut dan 1 g xhantan gum) dengan nilai kadar air yang lebih tinggi dari SNI yaitu 46,86 (%bb), kadar abu lebih rendah dari SNI yaitu 0,61 (%), kadar glukosa sebesar 2,68 (%), kadar protein sebesar 13,31 (%), kadar lemak sebesar 1,92 (%) dan kadar serat sebesar 3,22 (%). Kualitas fisik mie wikau maombo yang menunjukkan daya putus mie sebesar 30 %, daya serap terhadap air sebesar 79,46 % dan daya kembang sebesar 66,67 %.   kata kunci : Wikau Maombo, Mie, Rumput laut , Xanthan gum  
PEMBERDAYAAN KWT “BINA USAHA TANI” MELALUI PENYULUHAN CPPOB DAN PELATIHAN PEMBUATAN ES PUTER SRIKAYA Suharman Suharman; Afnita Nur Amalina; Latifah Putranti; Azzah Afifah; Muhammad Dwi Santoso
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 5 (2025): Vol.6 No. 5 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i5.50679

Abstract

Kelompok Wanita Tani “Bina Usaha Tani” bergerak dalam bidang pengolahan hasil pertanian yang berada di Dusun Kaliwuluh Rt. 004, Rw 006 Jurangjero, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. KWT tersebut memiliki ladang di sekitar pekarangan rumah mereka yang dimanfaatkan untuk menanam tanaman buah khususnya buah srikaya. Buah Srikaya yang dihasilkan belum dapat dimanfaatkan secara baik, hanya dijual langsung dan dikonsumsi oleh anggota KWT. Untuk meningkatkan nilai tambah terhadap buah srikaya maka dilakukan pengolahan menjadi produk es puter yang dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan KWT “Bina Usaha Tani”. Kegiatan yang dilakukan tim pengabdi yaitu melakukan penyuluhan tentang Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) dan dilanjutkan dengan kegiatan pelatihan pembuatan es puter srikaya. Dari hasil kegiatan pengabdian tersebut masyarakat menjadi lebih paham terkait syarat yang harus dipenuhi dalam pengolahan bahan hasil pertanian menjadi produk serta kewajiban pelaku usaha pangan dalam memiliki sertifikat CPPOB. Selain itu setelah dilakukannya pelatihan pembuatan es puter, masyarakat menjadi lebih terampil dalam praktek pembuatan es puter hingga pengemasan produk yang siap jual. Kegiatan pengabdian tersebut bermanfaat bagi KWT “Bina Usaha Tani” dalam meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan anggota kelompok tersebut.
IMPLEMENTASI CARA PRODUKSI PANGAN OLAHAN YANG BAIK (CPPOB) UNTUK MENINGKATKAN KEAMANAN DAN MUTU PRODUK PANGAN KELOMPOK USAHA BERSAMA SEJAHTERA DI KAPANEWON NGAWEN, KABUPATEN GUNUNGKIDUL Guntur Samodro; Muhammad Priya Permana; Suharman Suharman; Ifan Adi Pratama; Rahmat Pamuji; Tejo Sumarsana
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 5 (2025): Vol.6 No. 5 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i5.50680

Abstract

Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) merupakan pedoman yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk menjamin mutu serta keamanan pangan olahan. Penerapan CPPOB bertujuan melindungi konsumen dari pangan tercemar fisik, kimia, maupun mikrobiologi serta meningkatkan daya saing produk di pasar nasional maupun internasional (BPOM, 2019). Lingkup penerapan CPPOB mencakup berbagai aspek produksi, antara lain lokasi dan lingkungan, bangunan dan fasilitas, peralatan, suplai air, higiene karyawan, pengendalian proses, pengemasan, penyimpanan, distribusi, dokumentasi, hingga prosedur penarikan produk (Sari & Putri, 2021). Implementasi CPPOB tidak hanya menjadi syarat perolehan izin edar, tetapi juga sebagai dasar dalam penerapan sistem jaminan mutu yang lebih lanjut seperti HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) (Widyaningsih et al., 2020). Dengan demikian, CPPOB berperan penting sebagai fondasi sistem keamanan pangan yang harus dipenuhi oleh industri pangan olahan, baik skala besar maupun usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Kata kunci: CPPOB, keamanan pangan, mutu pangan, BPOM, HACCP
PELATIHAN PEMBUATAN MANGGLENG DAN PENYULUHAN PENGAJUAN P-IRT DI KWT “BINA USAHA TANI” Suharman Suharman; Afnita Nur Amalina; Sri Harmini; Azzah Afifah; Ifan Adipratama
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 6 (2025): Vol. 6 No. 6 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i6.54036

Abstract

Kalurahan Jurangjero yang berada di Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki sektor pertanian utama dengan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. Singkong menjadi produk utama yang dibudidayakan. Namun potensi hasil panen yang melimpah ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selama ini, hasil panen singkong sebagian besar hanya dikonsumsi untuk keperluan pribadi rumah tangga. Pada saat panen berlimpah, singkong hanya dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang sangat rendah di pasar. Permasalahan yang dihadapi oleh KWT ini diantaranya yaitu, kelompok ini memiliki keterbatasan dalam pengetahuan dan keahlian untuk mengolah singkong mentah menjadi berbagai produk pangan olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Hal ini menyebabkan mereka terjebak dalam penjualan dengan keuntungan yang tipis. Kedua, kelompok juga kurang terampil dalam memilih kemasan yang tepat dan menarik. Ketiga, kelompok menghadapi kendala dalam hal legalitas produk dan strategi pemasaran. Mereka kurang memahami tata cara pengajuan P-IRT (Pangan Industri Rumah Tangga), yang merupakan sertifikat wajib untuk dapat memasarkan produk pangan secara legal dan luas. Kegiatan yang akan dilakukan yaitu pelatihan pengolahan singkong menjadi produk "Manggleng" dengan berbagai varian rasa. Selain itu akan dilakukan penyuluhan terkait teknik pengemasan yang baik dan bimbingan teknis pengajuan sertifikat P-IRT. Dari kegiatan yang dilakukan, KWT “Bina Usaha Tani” menjadi lebih paham dan terampil dalam pembuatan manggleng menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi dan dapat bersaing di pasaran. Selain itu KWT tersebut menjadi paham terkait pentingya dan cara pengajuan P-IRT agar produk tersebut legal dijual di pasaran.