Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Jus Apel Hijau terhadap Penurunan Kadar Kolesterol pada Keluarga dengan Masalah Hiperkolesterolemia di Wilayah Pinang Ranti Gani Igha Pramisty; Amri, Khaerul; Azis Fahruji; Imelda Avia
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2024): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/h9vy5e91

Abstract

Hiperkolesterolemia merupakan salah satu gangguan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol dalam darah. Penatalaksanaan hiperkolesterolemia dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara farmakologi dan cara nonfarmakologi. Adapun dengan cara nonfarmakologi salah satunya yaitu dengan apel hijau. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan dari mengkonsumsi jus apel hijau terhadap penurunan kadar kolesterol pada keluarga dengan masalah hiperkolesterolemia. Metode studi kasus ini adalah studi komparatif, kasus ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan pengaruh terapi jus apel hijau terhadap penurunan kadar kolesterol pada 2 keluarga dengan masalah kesehatan hiperkolestrolemia. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh terhadap penurunan kadar kolesterol, pada Ny. Y kadar kolesterol sebelum diberikan terapi jus apel hijau adalah 225 mg/dL, setelah diberikan terapi jus apel hijau 215 mg/dL. Pada Ny. W kadar kolesterol sebelum diberikan terapi jus apel hijau adalah 230 mg/dL, setelah diberikan terapi jus apel hijau 210 mg/dL. Kesimpulan dari pengaruh terapi jus apel hijau dapat menurunkan kadar koleserol dengan rata – rata 15 mg/dL dari 2 subjek yang ada dalam waktu 7 hari. Saran diharapkan studi kasus selanjutnya dalam melakukan penelitian hendaknya menambah jumlah responden agar menghasilkan penelitian yang lebih efektif.   Hypercholesterolemia is one of the lipid metabolism disorders characterized by increased cholesterol levels in the blood. The management of hypercholesterolemia can be done in two ways, namely by pharmacology and non-pharmacology. As for the nonpharmacological way, one of them is with green apples. The purpose of this study aims to determine the effect of the application of consuming green apple juice on lowering cholesterol levels in families with hypercholesterolemia problems. This case study method is a comparative study, this case aims to determine and compare the effect of green apple juice therapy on lowering cholesterol levels in 2 families with hypercholesterolemia health problems. The results showed an effect on lowering cholesterol levels, in Mrs. Y the cholesterol level before being given green apple juice therapy was 225 mg/dL, after being given green apple juice therapy 215 mg/dL. In Mrs. W, the cholesterol level before being given green apple juice therapy was 230 mg/dL, after being given green apple juice therapy 210 mg/dL. The conclusion of the effect of green apple juice therapy can reduce cholesterol levels by an average of 15 mg/dL from 2 existing subjects within 7 days. Suggestions are expected that the next case study in conducting research should increase the number of respondents in order to produce more effective research.
Implementasi Rendam Kaki Dengan Rebusan Serai Dan Garam Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Keluarga Dengan Masalah Kesehatan Hipertensi Di Wilayah Kebon Pala RW 11 Salsabila Putri Arlinda; Khaerul Amri; Nawang Pujiastuti
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 3 (2024): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/zwehvy47

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tekanan darah yang tinggi, hal ini termasuk dalam masalah degeneratif yang terjadi di masyarakat maupun keluarga. Penatalaksaan hipertensi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan farmakologi dan nonfarmakologi salah satunya dengan terapi rendam kaki dengan rebusan serai dan garam. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui implementasi terapi rendam kaki dengan rebusan serai dan garam terhadap penurunan tekanan darah pada keluarga dengan masalah hipertensi di RW 11 Kelurahan Kebon Pala. Sampel yang digunakan studi kasus dengan 2 orang subjek Ny. M berusia 63 tahun & Ny. E 55 tahun. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 03 Juni 2024 sampai dengan 09 Juni 2024. Metode yang digunakan adalah Deskriptif Komparatif, Instrumen yang digunakan adalah tensi meter digital, lembar observasi. Hasil dari penelitian sebelum diberikan terapi rendam kaki dengan rebusan serai dan garam didapatkan subjek 1 Ny. M yaitu 154/95 mmHg dan subjek 2 Ny. E yaitu 150/98 mmHg. Hasil pemeriksaan pada hari terakhir setelah diberikan terapi rendam kaki dengan rebusan serai dan garam selama 7 hari didapatkan subjek 1 Ny. M yaitu 144/80 mmHg dan subjek 2 Ny. E yaitu 140/90 mmHg. Untuk hasil perbandingan pada kedua subjek sebelum dan sesudah diberikan terapi rendam kaki dengan rebusan serai dan garam didapatkan nilai rata-rata perbandingan 24 mmhg diastole dan 15 mmhg sistole. Semua subjek mengalami penurunan tekanan darah menjadi normal. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa terapi rendam kaki dengan rebusan serai dan garam berpengaruh untuk penurunan tekanan darah pada keluarga dengan masalah hipertensi di RW 11 Kelurahan Kebon Pala.    Hypertension is a disease of high blood pressure, this is a degenerative problem that occurs in society and families. Management of hypertension can be done in two ways, namely pharmacological and non-pharmacological, one of which is foot soak therapy with a decoction of lemongrass and salt. The aim of this research is to determine the implementation of foot soak therapy with boiled lemongrass and salt to reduce blood pressure in families with hypertension problems in RW 11 Kebon Pala Village. The sample used was a case study with 2 subjects, Mrs. M is 63 years old & Mrs. E 55 years old. This research was carried out from 03 June 2024 to 09 June 2024. The method used was the observation method, digital pressure meter, operational procedure unit sheet, observation sheet. The results of the research before being given foot soak therapy with boiled lemongrass and salt were obtained by subject 1 Mrs. M, namely 154/95 mmHg and subject 2 Mrs. E is 150/98 mmHg. The results of the examination on the last day after being given foot soak therapy with lemongrass decoction and salt were obtained by subject 1 Mrs. M, namely 144/80 mmHg and subject 2 Mrs. E is 140/90 mmHg. For comparison results for the two subjects before and after being given foot soak therapy with a decoction of lemongrass and salt, the average comparison value was 24 mmHg diastole and 15 mmHg systole. All subjects experienced a decrease in blood pressure to normal. The conclusion of this study shows that foot soak therapy with boiled lemongrass and salt has an effect on reducing blood pressure in families with hypertension problems in RW 11 Kebon Pala Village.
Penurunan Tingkat Depresi Pada Lanjut Usia Melalui Terapi Tertawa Amri, Khaerul; Aziz Fahruji; Widya Nara Nazwa
Jurnal Bakti Dirgantara Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Bakti Dirgantara
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/kg31fn70

Abstract

Lansia mengharapkan kehidupan yang tenang dan damai, tetapi tidak semua mendapatkannya. Perubahan fisik dan mental serta kurangnya adaptasi terhadap stres dapat menyebabkan depresi. Terapi tertawa merupakan intervensi non-farmakologis yang dapat membantu menurunkan tingkat depresi dengan meningkatkan ekspresi kebahagiaan dan mengurangi stres. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan lansia dalam menerapkan terapi tertawa. Dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Makasar, kegiatan ini melibatkan 20 lansia dengan pendekatan quasi-eksperimental menggunakan desain pre-test dan post-test tanpa kelompok kontrol. Intervensi dilakukan dalam bentuk edukasi dan praktik terapi tertawa selama tiga minggu dengan frekuensi satu kali per minggu. Pengukuran tingkat depresi menggunakan Geriatric Depression Scale (GDS) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil analisis menunjukkan penurunan skor GDS 80% yang mengindikasikan berkurangnya tingkat depresi. Secara kualitatif, peserta melaporkan peningkatan suasana hati, rasa kebersamaan, dan motivasi untuk bersosialisasi. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah terapi tertawa efektif dalam menurunkan depresi pada lansia dan perlu dikembangkan sebagai bagian dari program kesehatan mental komunitas.   Elderly individuals aspire to live a peaceful and serene life, but not all of them achieve this. Physical and mental changes, along with a lack of adaptation to stress, can lead to depression. Laughter therapy is a non-pharmacological intervention that can help reduce depression levels by enhancing expressions of happiness and reducing stress. This community service activity aims to improve the understanding and skills of the elderly in applying laughter therapy. Conducted in the working area of the Makasar District Public Health Center, this activity involved 20 elderly participants using a quasi-experimental approach with a pre-test and post-test design without a control group. The intervention was carried out in the form of education and laughter therapy practice over three weeks, with a frequency of once per week. Depression levels were measured using the Geriatric Depression Scale (GDS) before and after the intervention. The analysis results showed an 80% reduction in GDS scores, indicating a decrease in depression levels. Qualitatively, participants reported an improvement in mood, a sense of togetherness, and increased motivation to socialize. In conclusion, laughter therapy is effective in reducing depression among the elderly and should be developed as part of community mental health programs.
Implementasi Pemberian Teh Rosela terhadap Penurunan Tekanan Darah Tinggi dengan Hipertensi  di Kelurahan Kebon Pala Braviero Boyadewa; Nawang pujiastuti; Khaerul Amri
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/5fgkfr12

Abstract

Hipertensi merupakan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg, hipertensi disebut juga dengan tekanan darah tinggi. Banyak metode pengobatan untuk mengobati hipertensi muncul sebagai hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk penggunaan obatobatan tradisional seperti kayu manis (cinnamomun zeylanicum) dan bunga rosela (Hibiscus sabdariffa). Tanaman seperti Hibiscus Sabdariffa (HS) kaya akan manfaat kesehatan antara lain antioksidan, dan efek antidislipidemia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh terapi teh rosela pada keluarga yang anggotanya menderita hipertensi. Jenis penelitian yang akan diterapkan pada penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus model deskriptif komparatif. Kasus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas implementasi teh rosela terhadap penurunan tekanan darah. penelitian ini menggunakan pasien yang menderita penyakit hipertensi di kelurahan kebon pala dengan 2 subjek responden yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Setelah dilakukan pemberian terapi non-farmakologi teh rosela selama 7 hari pasien menunjukkan adanya perubahan tekanan darah rata-rata penurunan sistole 12 mmHg dan diastole 10 mmHg. Terapi pemberian teh rosela dapat menurunkan tekanan darah pada keluarga yang menderita hipertensi derajat 1 menjadi normal-tinggi.   Hypertension is a systolic blood pressure of more than 140 mmHg and a diastolic blood pressure of more than 90 mmHg, hypertension is also called high blood pressure. Many treatment methods for treating hypertension have emerged as a result of advances in science and technology including the use of traditional medicines such as cinnamon (cinnamomun zeylanicum) and roselle flowers (Hibiscus sabdariffa). Plants such as Hibiscus Sabdariffa (HS) are rich in health benefits including antioxidants and antidyslipidemia effects. The aim of this research is to determine the effect of roselle tea therapy on families whose members suffer from hypertension. The type of research that will be applied in this research is descriptive witht a comparative descriptive model case study approach. This research case aims to determine the effectiveness of the implementation of rosella tea on lowering blood pressure. this study used patients suffering from hypertension in the Kebon Pala sub-district with 2 respondent subjects who met the inclusion and exclusion criteria. : After administering nonpharmacological therapy with roselle tea for 7 days, the patient showed changes in blood pressure. in blood pressure.average decrease in systolic blood pressure of 12 mmHg and dyastolic blood pressure 10 mmHg. Roselle tea therapy can reduce blood pressure in families suffering from grade 1 hypertension to normal-high.  
Implementasi Foot Massage Pada Keluarga Dengan Masalah Hipertensi Di Kelurahan Kebon Pala Muhammad Ramadani; Khaerul Amri; Nawang Pujiastuti
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/kj7ygj24

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit berbahaya yang mendapat julukan The Silent Killer, karena hipertensi dapat menyerang tanpa adanya tanda atau gejala yang muncul pada tubuh. Penanganan tekanan darah tinggi dalam penelitian ini menggunakan terapi non-konvensional berupa foot massage. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sebelum dan sesudah foot massage pada klien hipertensi, serta mengetahui manfaat tambahan dari terapi tersebut. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan mengumpulkan informasi, menganalisis masalah, dan melakukan intervensi dalam rentang waktu yang telah ditentukan. Subjek penelitian adalah klien dengan hipertensi tahap I, yang tinggal di Desa Kebon Pala. Penelitian dilaksanakan selama 7 hari dengan durasi foot massage selama 30–45 menit per sesi. Hasil dari foot massage menghasilkan perasaan lebih tenang, nyaman, dan mengalami relaksasi setelah setiap sesi foot massage. Klien juga menyampaikan bahwa terapi ini membuat mereka tidur lebih nyenyak di malam hari dan merasa lebih ringan di bagian kaki. Hal ini menunjukkan bahwa selain menurunkan tekanan darah, foot massage juga memberikan manfaat psikologis dan fisiologis berupa relaksasi serta meningkatkan kualitas istirahat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa foot massage efektif menurunkan tekanan darah secara signifikan pada lansia dengan hipertensi tahap I dan juga memberikan manfaat tambahan berupa relaksasi serta kenyamanan secara subjektif.   Hypertension is a dangerous disease that gets the nickname The Silent Killer, because hypertension can attack without any signs or symptoms that appear in the body. Handling high blood pressure in this study uses non-conventional therapy in the form of foot massage. The purpose of this study was to determine the effect before and after foot massage on hypertensive clients, as well as to determine the additional benefits of the therapy. The method used is descriptive method by collecting information, analyzing problems, and intervening within a predetermined time span. The research subjects were clients with stage I hypertension, who lived in Kebon Pala Village. The study was conducted for 7 days with the duration of foot massage for 30-45 minutes per session. The results of foot massage resulted in a feeling of calmness, comfort, and relaxation after each foot massage session. Clients also reported that this therapy made them sleep better at night and feel lighter in the legs. This shows that in addition to lowering blood pressure, foot massage also provides psychological and physiological benefits in the form of relaxation and improved quality of rest. The conclusion of this study is that foot massage is effective in significantly reducing blood pressure in elderly with stage I hypertension and also provides additional benefits in the form of relaxation and subjective comfort.
Correlation between jet lag syndrome and air travel fatigue Amri, Khaerul; Avia, Imelda; Fahruji, Azis
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 14, No 3: September 2025
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijphs.v14i3.25992

Abstract

Long-distance air travel causes travelers to experience travel fatigue. Jet lag syndrome is one of the factors that exacerbate fatigue from air travel. Fatigue can seriously impact travelers with a history of illness. Health emergencies resulting from travel fatigue can even lead to death. A cross-sectional study was conducted to identify the relationship between jet lag syndrome and air travel fatigue. The 117 people who had traveled in the past year had jet lag syndrome and did not meet the exclusion criteria were selected. The questionnaires used the circadian type inventory and the fatigue scale, and validity and reliability were tested. Multiple logistic regression was performed to determine the variables influencing air travel fatigue. The relationship between jet lag syndrome and air travel fatigue was analyzed using Chi-square analysis. Results of the study identified that 53.8% of respondents experienced severe fatigue, and 54.7% experienced severe jet lag syndrome. Jet lag syndrome correlated with air travel fatigue significantly (p = 0.001). Respondents with severe jet lag syndrome experienced severe fatigue. The findings from this study emphasize that addressing jet lag syndrome is necessary to reduce air travel fatigue for overall health.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Sindrom Perubahan Zona Waktu (Jet Lag) Avia, Imelda Avia; Amri, Khaerul; Fahruji, Azis
Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33867/125qnz32

Abstract

Seseorang yang melakukan perjalanan udara dalam durasi perjalanan yang lama danmengalami perbedaan waktu dari wilayah asal menyebabkan keteidaksesuaian jambiologis (sindrom jet lag) sehingga mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis.Gangguan yang terjadi meliputi gangguan tidur, gangguan pencernaan, hingga gangguanperasaan. Beberapa faktor yang mempengaruhinya meliputi riwayat penyakit, durasiperjalanan, lama dan upaya mencegah jet lag, dan sebagainya. Tujuan penelitian ini untukmengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan sindrom jet lag. Penelitiandilakukan di lingkungan Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma, pada 117 orangyang pernah melakukan perjalanan udara dengan tehnik pengumpulan data snowballsampling. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner Circardian Type Inventory. Analisisdata menggunakan uji chi-square dan mann-whitney. Hasil penelitian menunjukkanmayoritas laki-laki (64,1%), pendidikan SMA (32,5%), tidak memiliki riwayat penyakitmasa lalu (73,5%), tidak memiliki riwayat penyakit saat ini (72,6%), melakukanperjalanan karena pekerjaan (47%), gejala jet lag < 2 gejala (68,%), upaya mencegah jetlag (67,5%), upaya mengurangi jet lag (67,5%), tingkat sindrom jet lag berat (54,7%),umur 36,91±9,678 tahun, durasi perjalanan 4,4±4,115 jam, frekuensi perjalanan dalam 1tahun 3,46±6,66 kali, lama mengalami jet lag 7,298±12,269. Faktor yang berhubungandengan sindrom jet lag yaitu: pendidikan (p 0,004), riwayat penyakit masa lalu (p 0,02),upaya mengurangi jet lag (p 0,001), dan lamanya mengalami jet lag (p 0,003). Datapenelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perawat dan tenaga kesehatan lainnyauntuk memberikan asuhan kepada individu yang mengalami jet lag lebih optimal danmasyarakat dapat melakukan upaya pencegahan sindrom jet lag dengan melakukanpemeriksaan kesehatan sebelum melakukan perjalanan udara.
Pengaruh Pemberian Air Kelapa Hijau terhadap Penurunan Nyeri Haid (Disminorea) pada Keluarga dengan Masalah Reproduksi di Kelurahan Cipinang Melayu, Jakarta Timur Lian Muflihah; Fahruji, Aziz; Khaerul Amri; Indah Nursanti
Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan Vol. 1 No. 1: Jurnal Manajemen Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35968/5w4gzz96

Abstract

Dismenorea adalah keadaan nyeri yang hebat dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari pada perempuan khususnya remaja putri. Dismenorea merupakan suatu fenomena simptomatik meliputi nyeri abdomen, kram dan sakit punggung. Untuk mengatasi dismenorea adalah dengan cara mengkonsumsi air kelapa hijau sebanyak 1 hari 1x dalam waktu 30 menit rasa nyeri haid berkurang, air kelapa hijau di konsumsi selama 3 hari dalam siklus menstruasi. Tujuan dari studi kasus ini untuk mengetahui penurunan skala nyeri dari pemberian air kelapa hijau terhadap penurunan nyeri haid (dismenorea). Penelitian ini menggunakan desain studi kasus komparatif yaitu perbandingan dua subyek dengan pemberian air kelapa hijau terhadap penurunan nyeri haid (dismenorea). Setelah dilakukan pemberian air kelapa hijau selama 3 hari didapatkan hasil yaitu subyek 1 pre skala nyeri 5 post skala nyeri 1 dan subyek 2 skala nyeri pre 6 dan post menjadi skala nyeri 2. Dari hasil yang didapat maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pemberian air kelapa hijau dapat menurunkan nyeri haid (dismenorea).
Determinasi Pengguna Transportasi Udara Terhadap Sindrom Aviophobia (Rasa Takut Terbang) Azis Fahruji; Khaerul Amri; Sri Hunun Widiastuti
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i12.21942

Abstract

ABSTRACT Air transportation has an impact on developing health science, namely aviation health which can be influenced by various factors: environment, air pressure effects, temperature changes and others. Common health problems during flights: jet lag, low-flying cabin syndrome, high blood pressure, and increased risk of blood clots and fear of flying or aviophobia. The phenomenon of not choosing air transportation, the cause is not because of expensive tickets or fast but is caused by aviophobia. To identify the influence of air transportation user determination with aviophobia syndrome. Using FAS (32 statements), Pearson and Mann Whitney Correlation tests. The results showed that 95% of air transportation users were between 36.64 years to 40.55 years old with 84 men (53.8%) and 72 women (46.2%), had no history of illness: 150 (96.2%), had a history of illness: 6 (3.8%). Users who had received information about flight incidents: 136 (87.2%) with experience of turbulence 111 (71.2%). Transportation users showed efforts to overcome anxiety: 86 (55.1%) and no efforts to overcome anxiety: 70 (44.9%). Analysis of significant influence on aviophobia syndrome is age factor p Value: 0.006 (p 0.05), gender: 0.002 (p 0.05), incident information: 0.002 (p 0.05) and Efforts to overcome: 0.000 (p 0.05), while there is no significant influence is users who have a history of illness: 0.073 (p0.05) and turbulence experience: 0.925 (p0.05). aviophobia syndrome in air transportation users shows an average of 48.31 ± 16.634 people with a standard deviation of 16.634. The results of the research analysis show that 95% of air transportation users who experience aviophobia syndrome are between 45.68 people and 50.94 people. Keywords: Anxiety, Aviophobia, Determination, Transportation, Turbulence.  ABSTRAK Transportasi udara  memberikan dampak dalam mengembangkan ilmu pengetahuan bidang kesehatan yaitu kesehatan penerbangan yang dapat dipengaruhi berbagai faktor: lingkungan, efek tekanan udara, perubahan suhu dan lainnya. Masalah kesehatan umumnya selama penerbangan: jet lag, sindrom kabin terbang rendah, tekanan darah tinggi, dan peningkatan risiko pembekuan darah serta takut terbang atau aviophobia. Fenomena tidak memilih transportasi udara, penyebabnya bukan karna mahalnya tiket atau cepat tapi disebabkan karena aviophobia. Mengidentifikasi pengaruh determinasi pengguna transportsi udara dengan sindroma aviophobia. Menggunakan FAS (32 pernyataan), uji Korelasi Pearson dan Mann Whitney. Hasil menunjukkan 95% usia pengguna transportasi udara diantara 36,64 tahun sampai 40,55 tahun dengan laki – laki 84 (53,8%) dan perempuan 72 (46,2%), tidak memiliki riwayat penyakit: 150 (96,2%), memiliki riwayat penyakit: 6 (3,8%). Pengguna yang pernah mendapatkan informasi kejadian penerbangan: 136 (87,2%) dengan pengalaman mengalami turbulensi 111 (71,2%). Pengguna transportasi menunjukkan ada upaya mengatasi kecemasan: 86 (55,1%) dan tidak ada upaya mengatasi kecemasan: 70 (44,9%). Analisis pengaruh signifikan terhadap sindroma aviophobia adalah factor usia nilai p Value: 0,006 (p  0,05), jenis kelamin: 0,002 (p  0,05), informasi kejadian: 0,002 (p  0,05) dan Upaya mengatasi: 0,000 (p  0,05), sedangkan tidak ada pengaruh signifikan adalah pengguna yang memiliki riwayat penyakit: 0,073 (p 0,05) dan pengalaman turbulensi: 0,925 (p  0,05). Sindroma aviophobia pada pengguna transportasi udara menunjukkan rata – rata 48,31 ± 16,634 orang dengan standar deviasi 16,634. Hasil analisis penelitian menunjukkan 95% yang mengalami sindroma aviophobia pengguna transportasi udara berada diantara 45,68 orang sampai 50,94 orang Kata Kunci: Aviophobia, Cemas, Determinasi, Transportasi, Turbulensi.
Pemberdayaan Komunitas Pelari Melalui Wirausaha Produk Minuman Isotonik Alami Sehat Berbasis Bahan Lokal: Community Empowerment of Running Communities Through Entrepreneurship of Healthy Natural Isotonic Beverages Based on Local Ingredients Alpan Habibi; Eni Nuraeni; Eka Mardiana Afrilia; Putra Pratama; Khaerul Amri; Azizah Al Ashri Nainar; Daffa Ramzi Ramadhan; Mutiara Mardhotillah
Batik-MU : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Batikmu
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48144/batikmu.v6i1.2427

Abstract

Komunitas lari memiliki kebutuhan tinggi terhadap asupan cairan dan elektrolit untuk mendukung performa dan menjaga kesehatan. Namun, minuman isotonik komersial umumnya mengandung pemanis buatan dan bahan tambahan yang berpotensi berdampak negatif jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan komunitas lari melalui pengembangan kewirausahaan berbasis produksi minuman isotonik alami dari bahan lokal. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui enam tahapan utama, yaitu analisis kebutuhan, pelaksanaan pelatihan, pendampingan usaha, pembuatan branding, evaluasi, dan keberlanjutan program dengan melibatkan 30 anggota komunitas Freeletics Tangerang. Kegiatan meliputi edukasi mengenai kebutuhan hidrasi dan elektrolit serta kewirausahaan, pelatihan pembuatan minuman isotonik berbahan air kelapa, madu, dan buah-buahan, serta pendampingan dalam pengemasan, penentuan harga, dan pemasaran digital sederhana. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pengetahuan peserta, dengan skor rata-rata meningkat dari 46 menjadi 92. Seluruh peserta (100%) mengalami peningkatan keterampilan dalam memproduksi minuman isotonik alami yang sehat dan aman. Selain itu, kelompok peserta berhasil mengembangkan merek produk sebagai bagian dari luaran program. Program ini berpotensi meningkatkan kemandirian ekonomi komunitas sekaligus mendorong gaya hidup sehat melalui pemanfaatan bahan lokal. Kata kunci: Komunitas lari, Minuman isotonik, Pengabdian masyarakat Abstract Running communities have a high demand for fluid and electrolyte intake to support physical performance and maintain health. However, commercially available isotonic beverages often contain artificial sweeteners and additives that may have negative long-term health effects. This community service program aimed to empower a running community through entrepreneurship development based on the production of natural isotonic beverages using local ingredients. The program employed a participatory approach consisting of six main stages: needs assessment, training implementation, business mentoring, branding development, evaluation, and program sustainability, involving 30 members of the Freeletics Tangerang running community. Activities included education on hydration and electrolyte needs as well as entrepreneurship, hands-on training in producing natural isotonic beverages using coconut water, honey, and fruits, and mentoring on packaging, pricing, and simple digital marketing strategies. The results showed a significant improvement in participants’ knowledge, with the average score increasing from 46 to 92. All participants (100%) demonstrated improved skills in producing safe and healthy natural isotonic beverages. In addition, participant groups successfully developed a product brand as a program output. This program has the potential to enhance community economic independence while promoting a healthy lifestyle through the utilization of local resources. Keywords: Running Community, Isotonic Drink, Empowerment