Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Sains Medisina

Review Article: Patofisiologi Dan Terapi Farmakologi Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Pasien Geriatri Putri, Asyifa Adinda; Junando, Mirza; Oktafany, Oktafany; Sukohar, Asep
Sains Medisina Vol 2 No 5 (2024): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v2i5.401

Abstract

Diabetes melitus (DM) adalah gangguan metabolisme pada pankreas yang menyebabkan peningkatan gula darah, atau dikenal sebagai hiperglikemia, akibat penurunan jumlah insulin yang diproduksi oleh pankreas. Menurut International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2021, jumlah pasien dewasa diabetes melitus di Indonesia mencapai 10,8%, setara dengan 19,4 juta orang, dan cenderung meningkat setiap tahunnya. Tujuan penelitian mengetahui patofisiologi dan terapi farmakologi diabetes melitus tipe 2 pada pasien geriatri. Metode dalam penelitian ini menggunakan desain Literatur Review yang dikumpulkan dari basis data Pubmed dan Google Scholar dengan kata kunci “Diabetes mellitus in geriatrics”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita diabetes melitus tipe 2 geriatri mengakibatkan peningkatan resistensi dan gangguan sekresi insulin. Perbaikan klinis pada pasien diabetes geriatri lebih sulit dikarenakan adanya penyakit kronis yang menyertainya sehingga dapat meningkatkan risiko komplikasi. Diperlukan perubahan gaya hidup serta terapi farmakologi berupa penggunaan insulin basal dikombinasikan dengan agen noninsulin. Metformin adalah terapi non insulin lini pertama. Obat lainnya yaitu tiazolidindion, sulfonilurea, DPP-4I, SGLT2-I, dan GLP-1. Terapi farmakologi disesuaikan dengan kondisi pasien seperti, komorbit yang diderita, status kognitif dan fisik, serta risiko hipoglikemia.
Potensi Bahari Indonesia Sebagai Antikanker Payudara Hakim, Fatiyah Kamilah; Iqbal, Muhammad; Ulandari, Atri Sri; Junando, Mirza; Triyandi, Ramadhan
Sains Medisina Vol 3 No 2 (2024): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v3i2.549

Abstract

Indonesia, sebagai negara maritim, memiliki kekayaan alam laut yang signifikan dan potensi besar dalam pengembangan obat antikanker. Mengingat tingginya angka kematian akibat kanker, serta meningkatnya kejadian kanker, potensi senyawa alami laut membuka peluang baru dalam pengembangan obat kanker. Review ini mengumpulkan dan menganalisis informasi dari berbagai studi yang relevan, menggunakan pendekatan sistematis dengan pencarian literatur melalui database ilmiah. Artikel yang dimasukkan dalam analisis adalah penelitian yang membahas senyawa alami dari organisme laut yang menunjukkan aktivitas antikanker. Penelitian menunjukkan bahwa berbagai organisme laut, seperti spons, alga, dan teripang, mengandung senyawa bioaktif dengan aktivitas sitotoksik yang menjanjikan terhadap sel kanker payudara. Meskipun penelitian yang telah dilakukan menunjukkan hasil yang nyata, tantangan dalam isolasi, purifikasi, dan studi pra-klinis masih perlu diatasi untuk memastikan keamanan dan efektivitas senyawa yang dihasilkan. Dengan pendekatan yang berkelanjutan, Indonesia berpotensi dalam pemanfaatan sumber daya laut untuk pengobatan kanker, menawarkan harapan baru bagi penderita kanker di masa depan.
Narrative Review: Penggunaan Antibiotik Reserve Dalam Era Resistensi Antimikroba Cathartica, Allamanda; Junando, Mirza; Sayoeti, Muhammad Fitra Wardhana; Suri, Nurma
Sains Medisina Vol 3 No 4 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v3i4.663

Abstract

Resistensi antimikroba merupakan tantangan besar bagi kesehatan global dengan peningkatan yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Salah satu kelompok antibiotik yang terdampak adalah antibiotik reserve, yang diklasifikasikan dalam sistem AWaRe (Access, Watch, Reserve) oleh WHO. Antibiotik reserve berperan sebagai lini terakhir dalam pengobatan infeksi berat akibat multidrug-resistant organisms (MDRO). Namun, tingginya tingkat resistensi terhadap kelompok antibiotik ini menjadi permasalahan serius, mengingat penggunaannya yang seharusnya dibatasi dan diawasi secara ketat. Tinjauan ini merupakan kajian naratif yang diperoleh dari database elektronik seperti PubMed dan Google Scholar. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun antibiotik reserve memiliki peran krusial dalam terapi infeksi resistan, penggunaan yang tidak terkendali berisiko mempercepat munculnya resistensi. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengelolaan yang lebih ketat, termasuk penggunaan berbasis diagnosis yang akurat, pemanfaatan uji kerentanan antimikroba, penggunaan antibiotik empiris yang tepat, optimalisasi strategi AWaRe, terapi kombinasi, serta peningkatan sosialisasi terkait regulasi dan kebijakan. Optimalisasi penggunaan antibiotik sesuai dengan pedoman WHO diharapkan dapat menekan laju resistensi dan mempertahankan efektivitas terapi antibiotik dalam menghadapi infeksi bakteri resisten.
Article Review: Analisis Kuantitatif Penggunaan Antibiotik Pada Pediatrik Di Indonesia Menggunakan ATC/DDD Thahir, Salsabila Anggraini; Junando, Mirza; Pardilawati, Citra Yuliyanda; Sukohar, Asep
Sains Medisina Vol 3 No 5 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v3i5.739

Abstract

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat menjadi salah faktor pendorong utama terjadinya resistensi yang saat ini masih menjadi ancaman kesehatan global yang semakin mendesak. Di Indonesia, data mengenai pola penggunaan antibiotik pada anak masih terbatas. Di negara berkembang diperkirakan terdapat 30-80% kasus infeksi yang mendapatkan perawatan dengan antibiotik di rumah sakit dan 20-65% penggunaan antibiotik tersebut dinilai kurang tepat. Di Indonesia, sebagai negara dengan populasi besar dan beragam, tantangan dalam mengendalikan penggunaan antibiotik menjadi lebih kompleks, terutama pada populasi pediatri yang rentan. Literature review ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif literatur yang ada terkait penggunaan metode ATC/DDD sebagai pilihan yang paling banyak digunakan dalam evaluasi kuantitatif penggunaan antibiotik pada pasien pediatri di Indonesia. Metode yang digunakan dalam menyusun articel review ini adalah metode tinjauan pustaka pada artikel yang terbit dalam 10 tahun terakhir dan telah memenuhi kriteria. Dari tinjauan literatur ini, ditemukan bahwa seftriakson, ampisilin, amoksisilin, dan kombinasi ampisilin-sulbaktam merupakan antibiotik yang paling sering diresepkan pada populasi pediatri di Indonesia. Pola peresepan dan penggunaan, serta total konsumsi antibiotik, menunjukkan variabilitas di beberapa fasilitas pelayanan kesehatan yang dikaji. Metode ATC/DDD terbukti menjadi alat yang berguna untuk menganalisis dan membandingkan penggunaan antibiotik secara kuantitatif.
Literature review : Terapi Non-Farmakologi Terhadap Proses Pemulihan dan Penurunan Intensitas Nyeri Pada Pasien Pasca Tindakan Bedah Sectio Caesarea Nikita, Marshanda; Damayanti, Ervina; Junando, Mirza; Soleha, Tri Umiana
Sains Medisina Vol 4 No 2 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i2.864

Abstract

Sectio caesarea atau bedah caesar merupakan tindakan bedah mayor yang dilakukan untuk menyelamatkan ibu dan bayi. Meskipun efektif secara medis, prosedur ini dapat menimbulkan nyeri khususnya pada pasca operasi sehingga berdampak terhadap kenyamanan, kondisi psikologis, dan proses pemulihan pasien. Manajemen nyeri pasca tindakan bedah caesar dapat dilakukan dengan pendekatan farmakologis daan non-farmakologi. Hasil telaah ini disusun dalam bentuk literature  review yang bertujuan untuk menggambarkan berbagai jenis terapi non-farmakologi yang efektif dalam menurunkan intensitas nyeri dan membantu dalam proses pemulihan pada pasien pasca tindakan bedah caesar. Penelusuran literature  review dilakukan dengan cara menelaah, mengidentifikasi dan menganalisis berbagai literature  yang relevan dengan terapi non-farmakologis pada pasien bedah caesar berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil telaah literature  review ditemukan bahwa terapi non-farmakologis dengan teknik autogenic, relaksasi pernafasan, terapi musik, pijat kaki, aromaterapi dan relaksasi genggam jari mampu menurunkan skala nyeri dari kategori sedang (skala 5-7) menjadi kategori ringan (skala 2-3). Hal ini dapat disimpulkan bahwa terapi non-farmakologis terbukti efektif dalam menurunkan intensitas nyeri dan meningkatkan kenyamanan pasien.
Literature Review : Efektivitas Pemberian Antibiotik Profilaksis dalam Mencegah Infeksi Luka Operasi pada Bedah Ortopedi Dewi, Hanifah Tiara; Junando, Mirza; Fitra W.S, Muhammad; Ismunandar, Helmi
Sains Medisina Vol 4 No 2 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i2.869

Abstract

Infeksi luka operasi (ILO) merupakan salah satu komplikasi yang paling sering terjadi setelah tindakan bedah ortopedi dan dapat meningkatkan morbiditas, lama rawat inap, serta biaya perawatan pasien. Upaya pencegahan ILO melalui pemberian antibiotik profilaksis telah menjadi standar praktik di berbagai rumah sakit, namun masih terdapat variasi dalam jenis, waktu, dan durasi pemberian yang dapat memengaruhi efektivitasnya. Kajian literatur ini bertujuan untuk menelaah bukti ilmiah mengenai efektivitas antibiotik profilaksis dalam mencegah ILO pada bedah ortopedi. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan cara menelaah, mengidentifikasi dan menganalisis dari berbagai literature yang diperoleh melalui pencarian artikel ilmiah yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil telaah terhadap berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemberian antibiotik profilaksis yang tepat waktu, yaitu 30–60 menit sebelum insisi, serta dengan durasi pendek (single dose atau kurang dari 24 jam), terbukti efektif menurunkan risiko infeksi tanpa meningkatkan kejadian resistensi antibiotik. Sefazolin direkomendasikan untuk operasi ortopedi bersih karena efektif terhadap flora kulit penyebab infeksi, dan penggunaan yang rasional sesuai pedoman mendukung keselamatan pasien serta pencegahan resistensi antibiotik. Hal ini dapat disimpulkan bahwa antibiotik profilaksis efektif dalam mencegah infeksi luka operasi pada bedah ortopedi jika diberikan tepat waktu, memiliki spektrum antibiotik yang sempit, dan berdurasi <24 jam.
Review Artikel: Kepatuhan Fasilitas Kefarmasian di Indonesia terhadap Standar Penyimpanan Obat Permenkes No. 72 Tahun 2016 Eliza, Chintya Nafa; Iqbal, Muhammad; Sari, Novita; Junando, Mirza
Sains Medisina Vol 4 No 2 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i2.893

Abstract

Penyimpanan sediaan farmasi pada berbagai fasilitas pelayanan kefarmasian berdasarkan Standar Pelayanan Kefarmasian sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016, mengingat masih ditemukannya permasalahan dalam praktik penyimpanan obat, seperti pemantauan dan pencatatan suhu yang tidak konsisten, pencatatan stok yang belum lengkap, penerapan prinsip First Expired First Out (FEFO) yang belum optimal, serta ketidak stabilan kondisi lingkungan penyimpanan yang berpotensi menurunkan mutu obat. Kajian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kepatuhan fasilitas pelayanan kefarmasian terhadap standar penyimpanan obat yang berlaku. Metode yang digunakan adalah systematic literature review dengan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui penelusuran artikel ilmiah pada basis data PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar. Hasil telaah literatur menunjukkan bahwa sebagian besar fasilitas telah memiliki sarana dan prasarana penyimpanan yang memadai, namun masih ditemukan ketidak sesuaian dalam penerapan standar operasional prosedur (SOP), khususnya pada aspek pemantauan suhu, pengelolaan stok obat, serta penerapan prinsip First Expired First Out (FEFO), yang dipengaruhi oleh keterbatasan kompetensi dan pelatihan sumber daya manusia kefarmasian. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kualitas penyimpanan sediaan farmasi belum sepenuhnya memenuhi standar yang ditetapkan, sehingga diperlukan penguatan manajemen perbekalan farmasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia kefarmasian, serta pemantauan kondisi lingkungan penyimpanan secara konsisten dan berkelanjutan guna menjamin mutu, keamanan, dan efektivitas obat.