Rahayu, Yohana Fajar
Unknown Affiliation

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pendidikan Kristen dan Moralitas di Dunia Digital:: Integrasi Teologi dalam Pembentukan Etika di Era Teknologi bagi Generasi Alpha Arifianto, Yonatan Alex; Sumual, Elisa Nimbo; Rahayu, Yohana Fajar
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 1 (2025): Pendidikan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55967/manthano.v4i1.83

Abstract

Abstract: The development of digital technology has brought significant changes in social and cultural life and spirituality, especially for the Alpha generation who grew up in the digital era and the globalisation of the internet of thoughts. The influence of social media, digital content, and virtual interaction in the gadget world has affected their mindset and moral behaviour. Therefore, Christian education, which is supposed to shape character and morality based on the teachings of Christ, is faced with great challenges in teaching ethical values in the midst of the rapid development of cyberspace which often contradicts moral principles and Christian values. This research aims to examine the role of Christian education in shaping the morality of the Alpha generation in the digital world, with a focus on the integration of theology in relevant theological ethical teaching. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach. The conclusion of this study shows that the integration of theological teachings in Christian education can strengthen the foundation of Alpha generation morality, by emphasising biblical values in their digital life. Such as the paradigm of the concept of Christian morality and ethics in the digital context and the existence of morality issues in the digital world for the alpha generation that must be resolved. So that Christianity has an educational role in shaping morality in the digital world, which is based on theology-based Christian education for ethical formation in the digital era. Abstrak: Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan sosial dan budaya serta spiritualitas, khususnya bagi generasi Alpha yang tumbuh dalam era digital dan globalisasi internet of thinks. Pengaruh media sosial, konten digital, dan interaksi virtual dalam gawai telah memengaruhi pola pikir dan perilaku moral mereka. Maka itu pendidikan Kristen, yang seharusnya membentuk karakter dan moralitas berdasarkan ajaran Kristus, dihadapkan pada tantangan besar dalam mengajarkan nilai-nilai etika di tengah pesatnya perkembangan dunia maya yang seringkali bertentangan dengan prinsip moral dan nilai kekristenan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pendidikan Kristen dalam membentuk moralitas generasi Alpha di dunia digital, dengan fokus pada integrasi teologi dalam pengajaran etis teologis yang relevan. Menggunkan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi ajaran teologi dalam pendidikan Kristen dapat memperkuat dasar moralitas generasi Alpha, dengan menekankan nilai-nilai alkitabiah dalam kehidupan digital mereka. Moralitas dan etika kristen dalam konteks digital dan adanya persoalan moralitas dalam dunia digital bagi generasi alpha yang harus diselesaikan. Sehingga kekristenan memiliki peran pendidikan dalam membentuk moralitas di dunia digital, yang mana ini didasarkan pada pendidikan Kristen berbasis teologi untuk pembentukan etika di era digital.
Perang Komentar dan Kekerasan Simbolik di Era Digital: : Formulasi Teologi Perdamaian sebagai Kerangka Etis dalam Pendidikan Agama Kristen Kontekstual Sumual, Elisa Nimbo; Arifianto, Yonatan Alex; Rahayu, Yohana Fajar
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i1.240

Abstract

Abstract: The development of digital technology has created new social spaces that not only expand access to communication but also give rise to a form of non-physical violence known as symbolic violence. In this context, comment wars on social media have become one of the manifestations of digital conflict, characterised by hate speech, stigmatisation, and polarisation of opinions. Unfortunately, this symbolic violence has received little attention in theological discourse or contemporary Christian religious education. The increasing phenomenon of digital verbal conflicts among students and religious communities indicates an ethical void that requires a theological and educational response. This study aims to formulate and examine a theology of peace that can be integrated into Christian religious education. Using a descriptive qualitative method with a social media analysis approach and literature review, it can be concluded that the paradigm related to the nature of symbolic violence in digital comment wars is important. So that the principles of peace theology in biblical values can be actualised in Christian Religious Education as an instrument of digital peace ethics. And, of course, as a formulation of an ethical framework for peace theology in the context of digital Christian education. Christian religious education has strategic potential as a means of character formation for peace in the digital age. Thus, this ethical framework is expected to strengthen the role of the church and school in creating a fair and humane digital culture. Abstrak: Perkembangan teknologi digital telah menciptakan ruang sosial baru yang tidak hanya memperluas akses komunikasi, tetapi juga memunculkan bentuk kekerasan non-fisik yang dikenal sebagai kekerasan simbolik. Dalam konteks ini, perang komentar di media sosial menjadi salah satu manifestasi konflik digital yang sarat dengan ujaran kebencian, stigmatisasi, dan polarisasi opini. Sayangnya, kekerasan simbolik ini masih kurang mendapatkan perhatian dalam diskursus teologis maupun pendidikan agama Kristen kontemporer. Fenomena meningkatnya konflik verbal digital di kalangan peserta didik dan umat beragama menandakan adanya kekosongan etis yang perlu direspons secara teologis dan edukatif. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan dan mengkaji teologi perdamaian yang dapat diintegrasikan ke dalam Pendidikan Agama Kristen. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisi media sosial dan studi pustaka. Dapat disimpulkan bahwa pentingnya paradigma terkait hakikat kekerasan simbolik dalam perang komentar digital. Supaya prinsip-prinsip teologi perdamaian dalam nilai alkitabiah dapat diaktualisasikan dalam pendidikan agama Kristen sebagai instrumen etika perdamaian digital. dan tentunya sebagai formulasi kerangka etis teologi perdamaian untuk konteks pendidikan kristen digital. Pendidikan Agama Kristen memiliki potensi strategis sebagai sarana pembentukan karakter damai di era digital. Dengan demikian, kerangka etis ini diharapkan mampu memperkuat peran gereja dan sekolah dalam menciptakan budaya digital yang adil dan manusiawi.
Reflektif Teologi Digital di Era Pasca Pandemi dan Post-Truth:: Strategi Edukasi Iman dan Kritik terhadap Kultur Digital Arifianto, Yonatan Alex; Sumual, Elisa Nimbo; Rahayu, Yohana Fajar
Jurnal Salvation Vol. 6 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v6i1.58

Abstract

Abstract: The rapid development of digital technology, especially in the wake of the Covid-19 pandemic, has prompted churches and theological institutions to adapt their ministry and faith education to the digital space. However, this transformation brings not only opportunities but also serious challenges, particularly in terms of spiritual shallowness, stagnation of faith communities, and the emergence of instant religious consumption models. Concurrently, the post-truth era has given rise to an epistemological crisis, where subjective feelings, relativism, and personal or communal opinions are trusted more than objective truth, including in matters of faith. The flood of hoax content, theological disinformation, and the influence of digital platforms on faith understanding have become key concerns in the dynamics of digital religious life. This study aims to theologically examine the expansion of digital theology in responding to this crisis through strategies of faith education and criticism of digital culture. Using a descriptive qualitative method based on literature review, It can be concluded that the understanding of digital theology as a contextual response in the post-pandemic era is presented as digital faith education within the paradigm shift in theological learning. Despite the post-truth crisis and theological challenges, this serves as a pathway for theological criticism of digital culture to build faith education and digital spirituality. Thus, the church is challenged to be present as light and salt in the digital space as an agent of truth and restoration. Abstrak: Perkembangan teknologi digital yang pesat, terutama pasca-pandemi Covid-19, telah mendorong gereja dan institusi teologi untuk mengadaptasi pelayanan dan pendidikan iman ke dalam ruang digital. Namun, transformasi ini tidak hanya membawa peluang, tetapi juga tantangan serius, terutama dalam hal pendangkalan spiritualitas, stagnasi komunitas iman, dan munculnya model konsumsi religius yang instan. Bersamaan dengan itu, era post-truth telah melahirkan krisis epistemologis, di mana nilai perasaan subjektif dan relaitiv serta opini persoanal maupun komunal lebih dipercaya daripada kebenaran objektif, termasuk dalam perkara iman. Fenomena membanjirnya konten hoaks, disinformasi teologis, dan pengaruh Flatform digtital terhadap pemahaman iman menjadi perhatian utama dalam dinamika kehidupan beragama digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara teologis ekspansi teologi digital dalam merespons krisis tersebut melalui strategi edukasi iman dan kritik terhadap kultur digital. Menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka,. Maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman akan teologi digital sebagai respons kontekstual di era pasca-pandemi, dihadirkan sebagai pendidikan iman digital dalam perubahan paradigma pembelajaran teologis. walaupun adanya krisis post-truth dan tantangan teologis menjadi jalan bagi kritik teologis terhadap kultur digital membangun edukasi iman dan spiritualitas digital. Dengan demikian, gereja ditantang untuk hadir secara nyata dalam terang dan garam di ruang digital sebagai agen kebenaran dan pemulihan.
Integrasi Teologi Penginjilan dan Misi Digital dalam Kepemimpinan Gereja Era Teknologi Djajadi, Soewieto; Suseno, Aji; Rahayu, Yohana Fajar
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 5, No 2 (2025): Ritornera: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia - Agustus 2025
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v5i2.141

Abstract

The development of digital technology has changed the way people live. As a community of faith, the church faces the challenge of remaining relevant in reaching the digital generation that lives in a virtual culture. However, traditional evangelism approaches, which still dominate, often fail to adapt to the rapid changes of the times. The phenomenon of increasing digital activity among the younger generation, while the church lags behind in the use of digital media for evangelism, highlights a gap between ministry strategies and real-world needs. This study aims to examine how the integration of evangelistic theology and digital mission can be strategically applied in contemporary church leadership. Using qualitative methods, it can be concluded that the essence of evangelism theology is deeply rooted in biblical foundations, which serve as the primary basis for designing contextual mission strategies in the digital age. The concepts and practices of digital mission represent an actual expansion of the Great Commission, now carried out through media and virtual spaces. Church leadership in the technological era is required to be adaptive, innovative, and theological in order to guide the congregation in mission service. Therefore, the integration of evangelical theology and digital mission has become an urgent need, not only to address the challenges of the times but also to shape a strategic pattern of digital evangelical leadership for the future of the church. This approach will encourage the church to remain faithful to the Gospel call while being responsive to the changes of the times.
PAK dan Teologi Martabat Manusia:: Integrasi Imago Dei dalam Moralitas dan Etis Generasi Muda Rahayu, Yohana Fajar; Sumual, Elisa Nimbo; Arifianto, Yonatan Alex
MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 2 (2025): September
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55967/manthano.v4i2.98

Abstract

Abstract: The moral crisis and decline in human values affecting the younger generation demand a renewal in educational approaches, particularly in Christian religious education. Education that focuses solely on cognitive and doctrinal aspects has proven insufficient in shaping the character and ethical awareness of students in a holistic manner. The absence of a strong theological foundation in the design of Christian religious education has caused the educational process to lose its transformative power. The phenomenon of the decline in human values and morality, and the loss of empathy among the younger generation, reinforces the urgency of a more humanistic and spiritual approach. This study aims to integrate the values of Imago Dei into the design of moral learning as a form of implementing the theology of human dignity in Christian religious education. Using a descriptive qualitative method with a literature review approach, it can be concluded that the Imago Dei as the theological foundation of moral education must be strong to prevent a moral crisis among the younger generation, as this is a contextual challenge for Christian religious education in this era. The need to integrate the theology of human dignity into moral education design will bring a more humanising face to Christian religious education. This serves as an ethical and pastoral implication for the church and school. Abstrak: Krisis moralitas dan nilai kemanusiaan yang melanda generasi muda menuntut adanya pembaharuan dalam pendekatan pendidikan, khususnya dalam PAK. Pendidikan yang hanya berfokus pada aspek kognitif dan doktrinal terbukti tidak cukup membentuk karakter dan kesadaran etis peserta didik secara utuh. Ketidakhadiran fondasi teologis yang kuat dalam desain pembelajaran PAK menjadikan proses pendidikan kehilangan daya transformatifnya. Fenomena dekadensi nilai kemanusiaan dan moralitas, dan hilangnya empati di kalangan generasi penerus, memperkuat urgensi pendekatan yang lebih humanistik dan spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai Imago Dei dalam desain pembelajaran moralitas sebagai bentuk implementasi teologi martabat manusia dalam PAK. Menggunkan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka maka dapat dinyatakan kesimpulan bahwa imago dei sebagai dasar teologis pembelajaran moral dalam PAK harus kuat supya tidak terjadi krisis moralitas di generasi muda, sebab ini adalah  tantangan kontekstual pendidikan agama Kristen di era ini. perlunya integrasi teologi martabat manusia dalam desain pembelajaran moralitas akan membawa wajah PAK yang memanusiakan. ini sebagai bagian implikasi etis dan pastoral bagi gereja dan sekolah.
Kelompok Sel dalam Perspektif Kolose 3: 14-15, Upaya Membangun Spiritual dan Pertumbuhan Gereja Rahayu, Yohana Fajar; Hadi, Sukarno; Arifianto, Yonatan Alex
Jurnal Lentera Nusantara Vol 2, No 2 (2023): Teologi dan Pendidikan Kristen - Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jls.v2i2.219

Abstract

Bertitik tolak dari pentingnya komunitas sel bagi pertumbuhan gereja yang mana juga  bertujuan  untuk mmeberikan pengalaman bahwa kasih dalam komunitas sel sebagai pengikat menjadi tetap relevan dalam komunitas sel.  maka salah satu cara gereja untuk mengalami pertumbuhan gereja secara kuantitas dan kualitas dalam  menjangkau dan merangkul para pelayan maupun anggota yang melayani dalam komsel. Menggunakan metode kualitatif deskritif dan juga pendekatan dengan studi literartur serta eksegis ayat dapat disimpulkan bahwa: Prinsip komunitas Sel  kelompok sel dalam perspektif kolose 3: 14-15, upaya membangun spiritual dan pertumbuhan gereja merupakan kesadaran untuk mengasihi Tuhan melalui tindakan kasih yang mana kasih tersebut mengikat sera pvertikal maupun horizontal. Maka orang percaya pertama memahami dan mengetahui Hakikat dan Definisi KomSel supaya orang percaya dapat merespon dengan baik adanya tantangan dan upaya pertumbuhan Gereja. Hal itu di hasilkan dari eksegesis maupun ataupun kajian biblikal  Teologis Kolose 3: 14-15. Sehingga dari data tersebut ditemukan adanya Peran Kelompom Sel Upaya Membangun Spritualitas
Pastoral Kristen dan Etika Publik untuk Rekonsiliasi Perdamaian dalam Masyarakat Multikultural-Digital Arifianto, Yonatan Alex; Sumual, Elisa Nimbo; Rahayu, Yohana Fajar
Jurnal Ap-Kain Vol 3, No 2 (2025): Ap-Kain: Jurnal Penelitian dan PKM
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/jak.v3i2.197

Abstract

Contemporary society lives in an increasingly complex multicultural dynamic, where social interaction is expanded and accelerated through the development of digital technology. This condition not only presents opportunities for cross-cultural encounters, but also gives rise to conflicts that are often triggered by differences in identity, intolerance, and social polarisation. The Church is required to play an active role in contextual pastoral ministry and transformative public ethics. The phenomena that support this reality are evident in the increase in religious and cultural conflicts in the digital space, which affect communal life in multicultural societies. The purpose of this study is to analyse and examine the integrative role of Christian pastoral ministry and public ethics in building peace and reconciliation in multicultural-digital societies. Using qualitative research methods with a literature study approach, it can be concluded that the essence of Christian pastoral care integrated with public ethics emphasises the importance of holistic ministry that is not limited to the church space but is actively present in the life of a multicultural-digital society. Through this approach, Christian pastoral care can function as an agent of reconciliation that promotes public moral values, while responding to ethical challenges that arise in the digital age. The actualisation of practical theology that combines pastoral care and public ethics is thus able to present a paradigm of service for the creation of just and sustainable peace.AbstrakMasyarakat kontemporer hidup dalam dinamika multikultural yang semakin kompleks, di mana interaksi sosial diperluas dan dipercepat melalui perkembangan teknologi digital. Kondisi ini tidak hanya menghadirkan peluang bagi perjumpaan lintas budaya, tetapi juga memunculkan konflik yang sering kali dipicu oleh perbedaan identitas, intoleransi, dan polarisasi sosial. Gereja dituntut untuk berperan aktif dalam pelayanan pastoral yang kontekstual dan etika publik yang transformatif. Fenomena yang mendukung realitas ini tampak jelas dalam meningkatnya konflik berbasis agama dan budaya di ruang digital, yang memengaruhi kehidupan bersama dalam masyarakat multikultural. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengkaji peran integratif pastoral Kristen dan etika publik dalam membangun rekonsiliasi perdamaian di tengah masyarakat multikultural-digital. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa hakikat pastoral Kristen yang terintegrasi dengan etika publik menegaskan pentingnya pelayanan holistik yang tidak terbatas pada ruang gerejawi, melainkan hadir aktif dalam kehidupan masyarakat multikultural-digital. Melalui pendekatan ini, pastoral Kristen dapat berfungsi sebagai agen rekonsiliasi yang mengedepankan nilai-nilai moral publik, sekaligus menjawab tantangan etis yang muncul di era digital. Aktualisasi teologi praktis yang menggabungkan pastoral dan etika publik dengan demikian mampu menghadirkan paradigma pelayanan bagi terciptanya perdamaian yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Detoksifikasi Digital dan Pemulihan Rohani: Rekonstruksi Pendidikan Agama Kristen Berbasis Teologi dalam Konteks Kesehatan Mental Siswa Rahayu, Yohana Fajar; Sumual, Elisa Nimbo
Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 4, No 1 (2025): Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani - November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvary - Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59376/philo.v4i1.53

Abstract

Advanced digital and communication technologies have brought about significant changes in the fields of education and spirituality. However, behind the ease of access to information and communication lies a serious issue: a mental health crisis among students who are addicted to digital devices. This has led to many of them feeling spiritually exhausted and even experiencing emotional burnout. Religious education, which has traditionally focused on cognitive aspects, is deemed insufficiently responsive to the spiritual needs of students. This study aims to reconstruct a Christian religious education approach grounded in theology to facilitate spiritual recovery through digital detoxification practices. The research method used is descriptive qualitative with a literature review approach. It can be concluded that digital detoxification can be an effective spiritual tool in freeing students from the pressures of digital addiction. Therefore, understanding the digital era and the mental health crisis among students must be prioritised. Furthermore, the concepts of theology and spirituality of recovery in Christian education must be able to detoxify digital as a process of Christian spirituality. Thus, this can reconstruct and integrate the Christian religious education curriculum in spiritual recovery.AbstrakTeknologi digital dan komunikasi yang sangat maju telah menciptakan perubahan besar dalam ruang pendidikan dan spiritualitas. Namun, di balik kemudahan akses informasi dan komunikasi, muncul persoalan serius berupa krisis kesehatan mental di kalangan naradidik yang mengalami kecanduan digital. Yang mengakibatkan banyak dari mereka jenuh dan teransing secara spiritual bahkan tekanan kelelahan emosional. Pendidikan agama yang selama ini berfokus pada aspek kognitif dinilai belum cukup responsif dalam menjawab kebutuhan spiritual peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi pendekatan pendidikan agama Kristen berbasis teologi dalam rangka memfasilitasi pemulihan rohani melalui praktik detoksifikasi digital. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa detoksifikasi digital dapat menjadi sarana spiritual yang efektif dalam membebaskan siswa dari tekanan kecanduan digital.  Oleh karena itu pemahaman akan era digital dan krisis kesehatan mental siswa harus diperhatikan. Terlebih konsep dan  teologi dan spiritualitas pemulihan dalam pendidikan kristen harus bisa mendetoksifikasi digital sebagai proses spiritualitas kristen. Sehingga hal ini dapat merekonstruksi dan integrasi kurikulum pendidikan agama kristen dalam pemulihan rohani
Praksis Teologi Digital dalam Pelayanan Pastoral Gembala Menghadapi Fintech dan Pinjol Jemaat Sumual, Elisa Nimbo; Rahayu, Yohana Fajar
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 1 (2025): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i1.455

Abstract

The massive and significant development of digital technology has fundamentally changed the social, economic and spiritual patterns of congregations, particularly through the presence of fintech and online lending. In practice, easy access to digital finance is often not balanced with adequate ethical and theological understanding in church life. This condition poses new challenges for pastoral ministry, which is required to respond to digital financial issues in a contextual and transformative manner. The phenomenon of increasing online lending practices has an impact on economic crises, psychological pressure, and vulnerability of faith, which requires ongoing pastoral guidance. This study aims to formulate a digital theology praxis relevant to pastoral ministry in dealing with fintech and online lending among congregations. Using qualitative research methods with a literature study approach, it can be concluded that digital theology from a biblical perspective affirms the church's calling to bring Christian values into the digital space of congregational life. Digital theology functions as a framework for pastoral ministry practices that help pastors interpret and respond to the reality of the digital economy in a theological and contextual manner. The phenomena of fintech and online lending have emerged as real pastoral challenges because they have an impact on the vulnerability of the congregation's faith, ethics, and welfare. Therefore, the role of pastors through the practice of digital theology is key in transformative and sustainable pastoral care for congregations in the era of digital finance.AbstrakPerkembangan teknologi digital yang massif dan signifikan telah mengubah secara mendasar pola kehidupan sosial ataupun ekonomi serta spiritual jemaat, khususnya melalui kehadiran fintech dan pinjaman online. Dalam praktiknya, kemudahan akses finansial digital sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman etis dan teologis yang memadai dalam kehidupan bergereja. Kondisi ini menimbulkan tantangan baru bagi pelayanan pastoral gembala yang dituntut merespons persoalan finansial digital secara kontekstual dan transformatif. Fenomena meningkatnya praktik pinjol berdampak pada krisis ekonomi, tekanan psikologis, dan kerentanan iman yang memerlukan pendampingan pastoral berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan merumuskan praksis teologi digital yang relevan bagi pelayanan pastoral gembala dalam menghadapi fintech dan pinjol jemaat. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literature, maka dapat disimpulkan bahwa Teologi digital dalam perspektif alkitabiah menegaskan panggilan gereja untuk menghadirkan nilai kekristenan di ruang digital kehidupan jemaat. Teologi digital berfungsi sebagai kerangka praksis pelayanan pastoral yang menolong gembala menafsirkan dan merespons realitas ekonomi digital secara teologis dan kontekstual. Fenomena fintech dan pinjol muncul sebagai tantangan pastoral yang nyata karena berdampak pada kerentanan iman, etika, dan kesejahteraan jemaat. Oleh karena itu, peran gembala melalui praksis teologi digital menjadi kunci dalam pendampingan pastoral yang transformatif dan berkelanjutan terhadap jemaat di era keuangan digital.
Revitalisasi Pastoral Gerejawi dan Krisis Etika: Studi tentang Kepemimpinan Gerejawi di tengah Fenomena Komersialisasi Pelayanan Tiwa, Jerry F.; Rahayu, Yohana Fajar
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.560

Abstract

Commercialization in contemporary church life has generated an ethical crisis that threatens the integrity of pastoral ministry. The paradigm of ministry, which originally focused on spiritual devotion, has now shifted toward a business-oriented management approach. This shift creates a dilemma for church leadership between faithfulness to pastoral calling and economic demands, reflected in paid ministry practices, spiritual marketing, and hedonistic lifestyles that contradict the principles of simplicity exemplified by Jesus Christ. This study aims to examine the ethical crisis in church leadership amid the widespread commercialization of ministry through a qualitative method. The findings reveal that the essence of church leadership lies in the calling to shepherd the congregation according to biblical values. However, in adapting to contemporary demands, churches often become entangled in commercialization. Amid increasingly complex economic pressures, theological spirituality becomes essential as a critique of commercialization theology that disregards the sacredness of ecclesiastical calling. Therefore, the church needs to return to a pure spirituality grounded in the theology of the cross as the foundation for restoring the integrity of pastoral ministry.   Abstrak Komersialisasi dalam kehidupan gereja masa kini telah memunculkan krisis etika yang mengancam integritas pelayanan pastoral. Paradigma pelayanan yang semula berfokus pada pengabdian spiritual kini bergeser ke arah pengelolaan bercorak bisnis. Pergeseran ini menimbulkan dilema bagi kepemimpinan gereja antara kesetiaan pada panggilan pastoral dan tuntutan ekonomi, yang tercermin dalam praktik pelayanan berbayar, pemasaran spiritual, hingga gaya hidup hedonisme yang bertentangan dengan prinsip kesederhanaan Yesus Kristus. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara teologis krisis etika kepemimpinan gereja di tengah maraknya komersialisasi pelayanan dengan menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakikat pemimpin gereja terletak pada panggilan menggembalakan umat berdasarkan nilai-nilai alkitabiah. Namun, dalam adaptasi kontekstual terhadap tuntutan zaman, gereja kerap terjebak dalam arus komersialisasi. Di tengah tekanan ekonomi yang kompleks, spiritualitas teologis menjadi penting sebagai kritik terhadap teologi komersialisasi yang mengabaikan kesakralan panggilan gerejawi. Oleh karena itu, gereja perlu kembali pada spiritualitas murni berbasis teologi salib sebagai dasar pemulihan integritas pelayanan pastoral.