Rahayu, Yohana Fajar
Unknown Affiliation

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Praksis Teologi Digital dalam Pelayanan Pastoral Gembala Menghadapi Fintech dan Pinjol Jemaat Sumual, Elisa Nimbo; Rahayu, Yohana Fajar
Jurnal Lentera Nusantara Vol 5, No 1 (2025): Lentera Nusantara: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/jln.v5i1.455

Abstract

The massive and significant development of digital technology has fundamentally changed the social, economic and spiritual patterns of congregations, particularly through the presence of fintech and online lending. In practice, easy access to digital finance is often not balanced with adequate ethical and theological understanding in church life. This condition poses new challenges for pastoral ministry, which is required to respond to digital financial issues in a contextual and transformative manner. The phenomenon of increasing online lending practices has an impact on economic crises, psychological pressure, and vulnerability of faith, which requires ongoing pastoral guidance. This study aims to formulate a digital theology praxis relevant to pastoral ministry in dealing with fintech and online lending among congregations. Using qualitative research methods with a literature study approach, it can be concluded that digital theology from a biblical perspective affirms the church's calling to bring Christian values into the digital space of congregational life. Digital theology functions as a framework for pastoral ministry practices that help pastors interpret and respond to the reality of the digital economy in a theological and contextual manner. The phenomena of fintech and online lending have emerged as real pastoral challenges because they have an impact on the vulnerability of the congregation's faith, ethics, and welfare. Therefore, the role of pastors through the practice of digital theology is key in transformative and sustainable pastoral care for congregations in the era of digital finance.AbstrakPerkembangan teknologi digital yang massif dan signifikan telah mengubah secara mendasar pola kehidupan sosial ataupun ekonomi serta spiritual jemaat, khususnya melalui kehadiran fintech dan pinjaman online. Dalam praktiknya, kemudahan akses finansial digital sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman etis dan teologis yang memadai dalam kehidupan bergereja. Kondisi ini menimbulkan tantangan baru bagi pelayanan pastoral gembala yang dituntut merespons persoalan finansial digital secara kontekstual dan transformatif. Fenomena meningkatnya praktik pinjol berdampak pada krisis ekonomi, tekanan psikologis, dan kerentanan iman yang memerlukan pendampingan pastoral berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan merumuskan praksis teologi digital yang relevan bagi pelayanan pastoral gembala dalam menghadapi fintech dan pinjol jemaat. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literature, maka dapat disimpulkan bahwa Teologi digital dalam perspektif alkitabiah menegaskan panggilan gereja untuk menghadirkan nilai kekristenan di ruang digital kehidupan jemaat. Teologi digital berfungsi sebagai kerangka praksis pelayanan pastoral yang menolong gembala menafsirkan dan merespons realitas ekonomi digital secara teologis dan kontekstual. Fenomena fintech dan pinjol muncul sebagai tantangan pastoral yang nyata karena berdampak pada kerentanan iman, etika, dan kesejahteraan jemaat. Oleh karena itu, peran gembala melalui praksis teologi digital menjadi kunci dalam pendampingan pastoral yang transformatif dan berkelanjutan terhadap jemaat di era keuangan digital.
Revitalisasi Pastoral Gerejawi dan Krisis Etika: Studi tentang Kepemimpinan Gerejawi di tengah Fenomena Komersialisasi Pelayanan Tiwa, Jerry F.; Rahayu, Yohana Fajar
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 9 No 2: November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v9i2.560

Abstract

Commercialization in contemporary church life has generated an ethical crisis that threatens the integrity of pastoral ministry. The paradigm of ministry, which originally focused on spiritual devotion, has now shifted toward a business-oriented management approach. This shift creates a dilemma for church leadership between faithfulness to pastoral calling and economic demands, reflected in paid ministry practices, spiritual marketing, and hedonistic lifestyles that contradict the principles of simplicity exemplified by Jesus Christ. This study aims to examine the ethical crisis in church leadership amid the widespread commercialization of ministry through a qualitative method. The findings reveal that the essence of church leadership lies in the calling to shepherd the congregation according to biblical values. However, in adapting to contemporary demands, churches often become entangled in commercialization. Amid increasingly complex economic pressures, theological spirituality becomes essential as a critique of commercialization theology that disregards the sacredness of ecclesiastical calling. Therefore, the church needs to return to a pure spirituality grounded in the theology of the cross as the foundation for restoring the integrity of pastoral ministry.   Abstrak Komersialisasi dalam kehidupan gereja masa kini telah memunculkan krisis etika yang mengancam integritas pelayanan pastoral. Paradigma pelayanan yang semula berfokus pada pengabdian spiritual kini bergeser ke arah pengelolaan bercorak bisnis. Pergeseran ini menimbulkan dilema bagi kepemimpinan gereja antara kesetiaan pada panggilan pastoral dan tuntutan ekonomi, yang tercermin dalam praktik pelayanan berbayar, pemasaran spiritual, hingga gaya hidup hedonisme yang bertentangan dengan prinsip kesederhanaan Yesus Kristus. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara teologis krisis etika kepemimpinan gereja di tengah maraknya komersialisasi pelayanan dengan menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hakikat pemimpin gereja terletak pada panggilan menggembalakan umat berdasarkan nilai-nilai alkitabiah. Namun, dalam adaptasi kontekstual terhadap tuntutan zaman, gereja kerap terjebak dalam arus komersialisasi. Di tengah tekanan ekonomi yang kompleks, spiritualitas teologis menjadi penting sebagai kritik terhadap teologi komersialisasi yang mengabaikan kesakralan panggilan gerejawi. Oleh karena itu, gereja perlu kembali pada spiritualitas murni berbasis teologi salib sebagai dasar pemulihan integritas pelayanan pastoral.    
Peran Gereja dalam Pembentukan Etika Kepemimpinan Kristen Holistik Berbasis Sensitivitas Ekologis Sumual, Elisa Nimbo; Rahayu, Yohana Fajar
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.405

Abstract

The increasingly complex global ecological crisis demands that the church focus not only on spiritual development, but also on the development of leadership ethics that are responsive to environmental damage. The lack of integration between creation theology and leadership formation has resulted in Christian leaders being less sensitive to ecological issues that impact church life and society. Furthermore, leadership approaches that still tend to be anthropocentric hinder the church from presenting a holistic witness that reflects God's concern for all creation. The increasing phenomenon of natural disasters, environmental degradation, and the ecological suffering of local communities emphasises the urgency of forming leadership ethics rooted in ecological sensitivity. This study aims to analyse the role of the church in shaping a holistic Christian leadership ethic based on ecology. The research method used is qualitative-descriptive analysis through a review of theological and pastoral literature. The results show that a holistic Christian leadership ethic is rooted in a theological foundation that views ecological responsibility as an integral part of the call to faith and service. The church plays a strategic role as an agent of formation that fosters ecological sensitivity as a core competency of Christian leadership through education, pastoral training, and community praxis. Thus, an ecology-based theological-pastoral model becomes a transformative framework for forming Christian leaders who are faithful, ethical, and responsible for the integrity of creation. AbstrakKrisis ekologis global yang semakin kompleks menuntut gereja untuk tidak hanya fokus pada pembinaan spiritual, tetapi juga pada pengembangan etika kepemimpinan yang responsif terhadap kerusakan lingkungan. Minimnya integrasi antara teologi penciptaan dan formasi kepemimpinan telah menyebabkan pemimpin Kristen kurang peka terhadap persoalan ekologis yang berdampak pada kehidupan gerejawi dan masyarakat. Selain itu, pendekatan kepemimpinan yang masih cenderung antroposentris menghambat gereja dalam menghadirkan kesaksian holistik yang mencerminkan kepedulian Allah terhadap seluruh ciptaan. Fenomena meningkatnya bencana alam, degradasi lingkungan, dan penderitaan ekologis komunitas lokal mempertegas urgensi pembentukan etika kepemimpinan yang berakar pada sensitivitas ekologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran gereja dalam membentuk etika kepemimpinan Kristen holistik berbasis ekologi. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kualitatif-deskriptif melalui kajian literatur teologis dan pastoral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  etika kepemimpinan Kristen holistik berakar pada fondasi teologis yang memandang tanggung jawab ekologis sebagai bagian integral dari panggilan iman dan pelayanan. Gereja berperan strategis sebagai agen formasi yang menumbuhkan sensitivitas ekologis sebagai kompetensi inti kepemimpinan Kristen melalui pendidikan, pembinaan pastoral, dan praksis komunitas. Dengan demikian, model teologis-pastoral berbasis ekologi menjadi kerangka transformatif untuk membentuk pemimpin Kristen yang beriman, beretika, dan bertanggung jawab terhadap keutuhan ciptaan.