Rahayu, Yohana Fajar
Unknown Affiliation

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Peran Gereja dalam Pembentukan Etika Kepemimpinan Kristen Holistik Berbasis Sensitivitas Ekologis Sumual, Elisa Nimbo; Rahayu, Yohana Fajar
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.405

Abstract

The increasingly complex global ecological crisis demands that the church focus not only on spiritual development, but also on the development of leadership ethics that are responsive to environmental damage. The lack of integration between creation theology and leadership formation has resulted in Christian leaders being less sensitive to ecological issues that impact church life and society. Furthermore, leadership approaches that still tend to be anthropocentric hinder the church from presenting a holistic witness that reflects God's concern for all creation. The increasing phenomenon of natural disasters, environmental degradation, and the ecological suffering of local communities emphasises the urgency of forming leadership ethics rooted in ecological sensitivity. This study aims to analyse the role of the church in shaping a holistic Christian leadership ethic based on ecology. The research method used is qualitative-descriptive analysis through a review of theological and pastoral literature. The results show that a holistic Christian leadership ethic is rooted in a theological foundation that views ecological responsibility as an integral part of the call to faith and service. The church plays a strategic role as an agent of formation that fosters ecological sensitivity as a core competency of Christian leadership through education, pastoral training, and community praxis. Thus, an ecology-based theological-pastoral model becomes a transformative framework for forming Christian leaders who are faithful, ethical, and responsible for the integrity of creation. AbstrakKrisis ekologis global yang semakin kompleks menuntut gereja untuk tidak hanya fokus pada pembinaan spiritual, tetapi juga pada pengembangan etika kepemimpinan yang responsif terhadap kerusakan lingkungan. Minimnya integrasi antara teologi penciptaan dan formasi kepemimpinan telah menyebabkan pemimpin Kristen kurang peka terhadap persoalan ekologis yang berdampak pada kehidupan gerejawi dan masyarakat. Selain itu, pendekatan kepemimpinan yang masih cenderung antroposentris menghambat gereja dalam menghadirkan kesaksian holistik yang mencerminkan kepedulian Allah terhadap seluruh ciptaan. Fenomena meningkatnya bencana alam, degradasi lingkungan, dan penderitaan ekologis komunitas lokal mempertegas urgensi pembentukan etika kepemimpinan yang berakar pada sensitivitas ekologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran gereja dalam membentuk etika kepemimpinan Kristen holistik berbasis ekologi. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kualitatif-deskriptif melalui kajian literatur teologis dan pastoral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  etika kepemimpinan Kristen holistik berakar pada fondasi teologis yang memandang tanggung jawab ekologis sebagai bagian integral dari panggilan iman dan pelayanan. Gereja berperan strategis sebagai agen formasi yang menumbuhkan sensitivitas ekologis sebagai kompetensi inti kepemimpinan Kristen melalui pendidikan, pembinaan pastoral, dan praksis komunitas. Dengan demikian, model teologis-pastoral berbasis ekologi menjadi kerangka transformatif untuk membentuk pemimpin Kristen yang beriman, beretika, dan bertanggung jawab terhadap keutuhan ciptaan.
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN SEBAGAI STRATEGI MISIOLOGIS: PERAN GEMBALA DALAM MEMBENTUK NALAR TEOLOGIS JEMAAT BERMISI DAN TANGGUH TERHADAP INTOLERANSI Suseno, Aji; Rahayu, Yohana Fajar; Arifianto, Yonatan Alex
Metanoia Vol 8 No 1 (2026): Metanoia Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/metanoia.v8i1.218

Abstract

Dalam era globalisasi yang sarat dengan perpindahan budaya dan ideologi membawa ketegangan sosial dan keberagaman identitas, gereja menghadapi tantangan serius dalam membentuk jemaat yang tangguh secara teologis. Intoleransi yang berkembang baik secara terselubung maupun terang-terangan menjadi ancaman bagi masyarakat sosial dan kesaksian iman Kristen. Namun banyak jemaat mengalami krisis nalar teologis yang membuat mereka mudah terjebak dalam fanatisme sempit atau pasif terhadap realitas sosial. Fenomena meningkatnya polarisasi dan radikalisme berbasis agama di ruang publik dan digital mempertegas urgensi pembentukan daya tangkal iman yang kokoh dan kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Pendidikan Agama Kristen dapat digunakan sebagai strategi misiologis oleh gembala dalam membentuk nalar teologis jemaat yang tangguh menghadapi intoleransi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa perlunya reaktualisasi peran gembala dalam konteks misiologis gereja masa kini maka pendidikan agama kristen sebagai strategi pembentukan nalar teologis dan juga nalar teologis sebagai daya tahan jemaat terhadap intoleransi. Sehingga gembala dapat mengintegrasi pendidikan Kristen, misiolog, tentunya gembala berperan penting sebagai pendidik iman yang membekali jemaat untuk memahami, merespons, dan menyikapi intoleransi secara teologis dan misioner
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MENANAMKAN NILAI ETIKA KRISTEN ERA DIGITAL SOCIETY 5.0 Sumual, Elisa Nimbo; Rahayu, Yohana Fajar
Metanoia Vol 8 No 1 (2026): Metanoia Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/metanoia.v8i1.287

Abstract

Perkembangan Digital Society 5.0 telah membawa perubahan mendasar dalam cara manusia berinteraksi, termasuk dalam konteks pendidikan agama. Transformasi digital yang masif menghadirkan tantangan etis baru bagi peserta didik, seperti relativisme moral, krisis tanggung jawab, serta degradasi nilai kemanusiaan di ruang digital. Dalam situasi tersebut, Pendidikan Agama Kristen dihadapkan pada tuntutan untuk tidak hanya mentransmisikan pengetahuan iman, tetapi juga membentuk karakter dan kesadaran etis. Fenomena meningkatnya penggunaan teknologi digital dalam kehidupan peserta didik sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan refleksi moral yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran strategis guru Pendidikan Agama Kristen dalam menanamkan nilai etika Kristen yang kontekstual dan transformatif di era Digital Society 5.0. Menggunkan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, maka disimpulkan bahwa etika Kristen merupakan fondasi teologis yang esensial dalam pendidikan di era Digital Society 5.0. Etika Kristen berakar pada wahyu Allah dan teladan Kristus yang menjadi fondasi teologis bagi pembentukan karakter dan pengambilan keputusan moral, termasuk dalam konteks pendidikan di era Digital Society 5.0. Di tengah karakteristik masyarakat digital yang ditandai oleh kecerdasan buatan, konektivitas tanpa batas, dan arus informasi yang masif, peserta didik menghadapi tantangan etis seperti degradasi nilai, penyalahgunaan teknologi, dan krisis identitas moral. Oleh karena itu, guru Pendidikan Agama Kristen berperan strategis sebagai pendidik etika digital yang menuntun peserta didik untuk mengintegrasikan iman Kristen dengan sikap kritis, bertanggung jawab, dan beretika dalam kehidupan digital.
Teologi Kristen dan Tantangan Etis dari Budaya Viral Challenge di Ruang Virtual Rahayu, Yohana Fajar; Sumual, Elisa Nimbo
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 5 No. 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.198

Abstract

The development of digital culture has given rise to the phenomenon of viral challenges, which have not only become an entertainment trend but also shaped the mindset and behaviour of contemporary society. This dynamic has had a significant impact on moral values, particularly when the challenges that circulate normalise risky behaviour and erode norms of propriety. The massive viral challenge phenomenon in virtual space reveals an ambivalence between positive creativity and the potential for moral degradation due to the removal of cultural and religious norms. The purpose of this study is to examine the ethical challenges of viral challenge culture from a Christian theological perspective and to formulate its implications for the life of faith. Using a qualitative method based on literature study with theological-ethical analysis of contemporary digital phenomena, it can be concluded that the viral challenge culture in a social and digital perspective shows how digital trends shape new patterns of interaction and values in modern society. However, the ethical challenges of viral challenges for Christian life reveal issues of misguided self-existence, social pressure, and the banality of sin that demand faithfulness. Therefore, the Christian theological response to viral challenge culture and its implications for Christian leadership and education in virtual spaces is important in order to provide an ethical framework, spiritual examples, and educational strategies that can correct and transform digital culture into a means of Christian service and witness.AbstrakPerkembangan budaya digital telah melahirkan fenomena viral challenge yang tidak hanya menjadi tren hiburan, tetapi juga membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat kontemporer. Dinamika ini membawa dampak signifikan terhadap nilai moral, khususnya ketika tantangan yang beredar menormalisasi perilaku berisiko dan mengikis norma-norma kepatutan.   Fenomena viral challenge yang masif di ruang virtual memperlihatkan ambivalensi antara kreativitas positif dan potensi degradasi moral akibat menyingkirkan norma budaya dan agama. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah tantangan etis dari budaya viral challenge melalui perspektif teologi Kristen serta merumuskan implikasinya bagi kehidupan iman. Menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan analisis teologis-etis terhadap fenomena digital kontemporer, maka dapat disimpulkan bahwa budaya viral challenge dalam perspektif sosial dan digital menunjukkan bagaimana tren digital membentuk pola interaksi dan nilai baru dalam masyarakat modern. Namun, tantangan etis viral challenge bagi kehidupan Kristen menyingkap persoalan eksistensi diri yang salah arah, tekanan sosial, serta banalitas dosa yang menuntut kewaspadaan iman. Karena itu, respon teologi kristen terhadap budaya viral challenge dan implikasi kepemimpinan dan pendidikan Kristen di ruang virtual menjadi penting untuk menghadirkan kerangka etis, teladan rohani, serta strategi edukatif yang mampu mengoreksi sekaligus mentransformasi budaya digital menjadi sarana pelayanan dan kesaksian Kristen.