Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PENGARUH FREKUENSI DAN ASUPAN KALORI SARAPAN TERHADAP PREVALENSI DEPRESI PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA ANGKATAN 2019 Auriol, Blasius Hugo; Biromo, Anastasia Ratnawati
Ebers Papyrus Vol. 27 No. 2 (2021): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v27i2.16130

Abstract

Sarapan merupakan kebiasaan yang banyak dimiliki setiap orang. Sarapan yang dipengaruhi oleh frekuensi dan asupan kalori memiliki banyak manfaat bagi kesehatan seseorang. Salah satunya adalah kesehatan mental, khususnya depresi. Salah satu populasi masyarakat yang rentan terkena depresi adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran, yang pada umumnya memiliki beban dan tuntutan akademik yang berat. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara frekuensi dan asupan kalori sarapan dengan prevalensi depresi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional yang melibatkan 91 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2019. Frekuensi dan asupan kalori pada sarapan dinilai menggunakan kuesioner pola sarapan selama 2 minggu kebelakang. Prevalensi depresi dinilai menggunakan instrumen kuesioner Zung Self Rating Depression Scale (ZSDS). Pengolahan data dilakukan menggunakan metode Chi-square dengan interval kepercayaan 95% (? = 0,05) dan dengan nilai p sebesar 0,000005 dan 0,00034. Pada penelitian ini terdapat hubungan yang bermakna antara frekuensi dan asupan kalori sarapan terhadap prevalensi depresi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2019.
Evaluasi Kesehatan Mental Pekerja Kantoran di Kawasan Sudirman dengan Menggunakan Depression Anxiety Stress Scales (DASS-42) Biromo, Anastasia Ratnawati; Santoso, Alexander Halim; Teguh, Stanislas Kotska Marvel Mayello; Dinali, Diana; Aziel, Disya Gwyneth
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 3 No. 2 (2025): Desember
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/v5y6q259

Abstract

Pendahuluan: Ansietas merupakan salah satu bentuk gangguan psikologis yang rentan muncul pada pekerja kantoran akibat tingginya tuntutan kerja, target, dan lingkungan kompetitif. Kondisi ini dapat berdampak pada performa kerja dan kesejahteraan mental sehingga perlu dikaji lebih lanjut. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat depresi, ansietas, dan stres pada pekerja kantoran di kawasan Sudirman dengan menekankan pada proporsi ansietas. Metode: Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini menggunakan pendekatan Plan–Do–Check–Action (PDCA). Pada tahap Plan, ditentukan peserta dan instrumen penelitian. Sebanyak 57 pekerja kantoran dipilih sebagai responden menggunakan metode purposive sampling. Tahap Do mencakup pengumpulan data menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS-42) yang telah terstandarisasi untuk mengukur tiga aspek psikologis, yaitu depresi, ansietas, dan stres. Tahap Check dilakukan dengan memeriksa dan menganalisis data secara deskriptif untuk mengidentifikasi distribusi kategori pada setiap dimensi gangguan psikologis. Tahap Action difokuskan pada interpretasi hasil untuk menyusun rekomendasi peningkatan kesehatan mental bagi pekerja kantoran. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas peserta berada pada kategori normal di ketiga aspek. Namun proporsi ansietas didapatkan lebih tinggi dibandingkan depresi dan stres, dengan sejumlah peserta berada pada kategori ringan hingga sedang. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun kondisi psikologis sebagian besar pekerja kantoran berada dalam batas wajar, tekanan pekerjaan di perkantoran masih dapat memicu munculnya gejala ansietas. Kesimpulan: Ansietas merupakan salah satu masalah utama yang patut mendapatkan perhatian khusus dalam kesehatan mental pekerja kantoran. Kondisi ini menuntut adanya upaya promotif dan preventif yang terstruktur, seperti pelatihan manajemen stres, layanan konseling psikologis, serta pembentukan lingkungan kerja yang lebih mendukung. Intervensi tersebut diharapkan mampu membantu karyawan mengelola tekanan pekerjaan dengan lebih efektif. Dengan demikian, keseimbangan antara tuntutan produktivitas dan kesejahteraan mental dapat tetap terjaga secara berkelanjutan.
DEPRESI BERAT TANPA GEJALA PSIKOTIK DENGAN TENTAMEN SUICIDE DAN GANGGUAN KEPRIBADIAN EMOSIONAL TIPE BORDERLINE Mutiara Ilsa, Arianti; Utami, Ananditya Sukma Dewi; Biromo, Anastasia Ratnawati
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.54055

Abstract

Perilaku bunuh diri pada remaja merupakan masalah kesehatan mental yang serius dan terus meningkat. Depresi berat dan gangguan kepribadian emosional tidak stabil tipe borderline berperan besar dalam munculnya ide serta percobaan bunuh diri berulang. Trauma masa kanak-kanak, konflik keluarga, dan rendahnya dukungan sosial sering memperburuk kondisi klinis. Laporan kasus ini menggambarkan seorang remaja perempuan berusia 14 tahun 8 bulan dengan riwayat percobaan bunuh diri berulang dengan konsumsi obat, self-harm, dan perilaku membahayakan diri lainnya, disertai penolakan pengobatan psikiatri. Pemeriksaan status mental menunjukkan suasana hati depresif, afek depresif serasi dengan isi pembicaraan, ide bunuh diri, kontrol impuls buruk, serta gangguan hubungan interpersonal. Pada pemeriksaan fisik ditemukan jaringan parut pada kedua lengan dan tungkai atas akibat self-harm. Diagnosis ditegakkan sebagai Episode Depresif Berat tanpa gejala psikotik (F32.2) dengan komorbid Gangguan Kepribadian Emosional Tidak Stabil tipe borderline (F60.3), disertai gangguan fungsi sosial berat. Penanganan melibatkan kombinasi farmakoterapi, termasuk antidepresan SSRI, mood stabilizer, dan antipsikotik atipikal, serta pendekatan non-farmakologi yang dapat disarankan pada pasien ialah Dialectical Behavior Therapy, terapi keluarga dan intervensi sosial-pendidikan. Pendekatan multidisipliner ini bertujuan menurunkan risiko kekambuhan, meningkatkan regulasi emosi, serta memperbaiki fungsi sosial pasien. Kasus ini menegaskan bahwa perilaku bunuh diri berulang pada remaja merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan sosial, dan menekankan perlunya intervensi holistik untuk mencegah kekambuhan dan meningkatkan kualitas hidup pasien.