Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PENGARUH MODEL TWO STAY TWO STRAY TERHADAP KETERAMPILAN KOMUNIKASI PESERTA DIDIK PADA MATERI STRUKTUR SEL Prahesti, Elsa Rima; Ramadhani, Arni; Salsabila, Niken Alya; Irawan, Nevilia Pramesti; Siburian, Jodion; Tentia, Ine
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i1.8933

Abstract

Communication skills are a vital competency in the era of globalization and society 5.0, but their application in biology learning is often still minimal due to the lack of active interaction in the classroom. This study aims to evaluate the effectiveness of the Two Stay Two Stray (TSTS) learning model in improving students' communication skills in cell structure material. Using the Classroom Action Research (CAR) method implemented in two cycles (planning, implementation, observation, and reflection) in class X.2.2 of SMA Negeri 8 Jambi City with 33 students, this study measured communication indicators such as cooperation, interpersonal skills, integrity, responsibility, and interactive communication through a non-test questionnaire. Quantitative descriptive analysis showed a significant increase in students' communication skills, moving from the good category (80.3%) in the pre-action to very good (88.1%) in the second cycle. This increase was driven by the optimization of discussion time and group presentation obligations that facilitated a more intensive exchange of ideas. It was concluded that the TSTS model was effective in developing students' communication skills, although additional mentoring strategies were needed for students with low initial abilities to ensure equitable learning outcomes. ABSTRAK Keterampilan komunikasi merupakan kompetensi vital dalam era globalisasi dan masyarakat 5.0, namun penerapannya dalam pembelajaran biologi sering kali masih minim akibat kurangnya interaksi aktif di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) dalam meningkatkan keterampilan komunikasi siswa pada materi struktur sel. Menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus (perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi) di kelas X.2.2 SMA Negeri 8 Kota Jambi dengan 33 siswa, penelitian ini mengukur indikator komunikasi seperti kerja sama, keterampilan interpersonal, integritas, tanggung jawab, dan komunikasi interaktif melalui angket non-tes. Analisis deskriptif kuantitatif menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam keterampilan komunikasi siswa, bergerak dari kategori baik (80,3%) pada pra-tindakan menjadi sangat baik (88,1%) pada siklus kedua. Peningkatan ini didorong oleh optimalisasi waktu diskusi dan kewajiban presentasi kelompok yang memfasilitasi pertukaran ide secara lebih intensif. Disimpulkan bahwa model TSTS efektif dalam menumbuhkan kemampuan komunikasi siswa, meskipun diperlukan strategi pendampingan tambahan bagi siswa dengan kemampuan awal yang rendah untuk memastikan pemerataan hasil belajar.  
Hubungan Rasio Panjang Jari Telunjuk dan Jari Manis (2D:4D) dengan Tinggi Badan Mahasiswa Universitas Jambi Gayatri, Adinda Kinantia; Agustyn, Amanda Rya; Putri, Dea Abyanti; Napitu, Priska Enjelina; Siburian, Jodion; Anggereini, Evita; Saparuddin, Saparuddin; Tentia, Ine
Biocaster : Jurnal Kajian Biologi Vol. 6 No. 1 (2026): January
Publisher : Lembaga Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kamandanu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/biocaster.v6i1.856

Abstract

The finger length ratio (2D:4D) is often used as an indirect indicator to estimate the influence of hormones, especially prenatal sex hormones, which are thought to be related to physical variations such as height. This study aims to analyze the relationship between the index finger and ring finger length ratio (2D:4D) and the height of students at the University of Jambi. This study used a quantitative approach with a correlational design. The sample consisted of 37 students at the University of Jambi who were selected using purposive sampling. The inclusion criteria included students who were willing to participate, were in good physical health, and had no growth disorders or abnormalities of the fingers. Measurements were taken directly of the length of the index finger (2D) and ring finger (4D) on the right and left hands using calipers with an accuracy of 0.05 mm, while height was measured using a tape measure. Pearson's correlation analysis was used to determine the relationship between the 2D:4D ratio and height. The results showed that the relationship between height and the 2D:4D ratio on the right hand (r = 0.184; p = 0.276) and left hand (r = 0.233; p = 0.166) was positive but very weak and not statistically significant. These findings indicate that the 2D:4D ratio is not significantly related to the height of students at the University of Jambi.
Analisis Pola Pewarisan Sifat Earlobe (Cuping Telinga Menempel dan Bebas) dalam Tiga Generasi Keluarga Rahmadaniati, Wulan; Febiola, Nasha; Zahrani, Salyabila; Aina, Selia; Siburian, Jodion; Anggereini, Evita; Saparuddin, Saparuddin; Tentia, Ine
Bioed : Jurnal Pendidikan Biologi Vol 14, No 1 (2026): Bioed : Jurnal Pendidikan Biologi
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jpb.v14i1.22334

Abstract

Pewarisan karakter pada manusia merupakan salah satu kajian penting dalam genetika, khususnya dalam menjelaskan variasi fenotip yang muncul antar generasi. Salah satu sifat morfologi yang sering digunakan sebagai contoh dalam studi genetika dasar adalah bentuk earlobe (cuping telinga bebas atau menempel), yang secara klasik dijelaskan mengikuti pola pewarisan Mendel. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola pewarisan bentuk earlobe pada tiga generasi dari tiga keluarga serta menelaah kesesuaiannya dengan prinsip dominansi dalam genetika Mendel. Penelitian dilakukan menggunakan metode observasional deskriptif melalui pengamatan langsung terhadap bentuk cuping telinga, dokumentasi visual, serta wawancara untuk memperoleh informasi silsilah keluarga. Penentuan kemungkinan genotipe individu dilakukan berdasarkan fenotip yang diamati dan pola kemunculan sifat pada silsilah keluarga, dengan asumsi bahwa individu berfenotip dominan yang memiliki keturunan dengan fenotip resesif dikategorikan sebagai heterozigot. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa fenotip cuping telinga bebas lebih sering muncul pada anggota keluarga yang diamati dibandingkan dengan cuping telinga menempel. Pola transmisi sifat yang terlihat antar generasi menunjukkan kecenderungan yang selaras dengan model pewarisan autosomal dominan, di mana alel E (cuping telinga bebas) bersifat dominan terhadap alel e (cuping telinga menempel). Dengan demikian, penelitian ini memberikan gambaran mengenai pola pewarisan bentuk earlobe dalam lingkup keluarga yang diamati serta menunjukkan kesesuaian umum dengan prinsip pewarisan Mendel. Temuan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai contoh kontekstual dalam pembelajaran genetika berbasis studi keluarga.Kata Kunci: Autosomal Dominan, Cuping Telinga, Genetika Mendel, Pewarisan Sifat, Tiga Generasi Keluarga
Enhancing High School Students' Understanding of the Excretory System through Problem-Based Learning Dhea Febria; Aswinda Aswinda; Septia Yuliadip; Fulsiana Yustia; Kharisma Dwi Khorneliana; Jodion Siburian; Ine Tentia
Pro-Life Vol. 13 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/pro-life.v13i1.7621

Abstract

Low cognitive learning outcomes in biology on the excretory system are often due to conventional learning methods that make students passive and focus on memorization. This study aims to improve students' cognitive learning outcomes by applying the Problem-Based Learning (PBL) model. The study used the Classroom Action Research (CAR) method, conducted in two cycles with 24 students from SMA Negeri 1 Kota Jambi. Data were collected through pretests and posttests in each cycle and analyzed using descriptive statistics, including average scores and learning completeness percentages. The results showed an increase in the average score from 46.25 in the pre-cycle to 80.83 in cycle I and 87.08 in cycle II, with the mastery percentage increasing from 4.17% to 100%. These findings indicate that the PBL model is effective in improving cognitive learning outcomes and fostering students' conceptual understanding and critical thinking skills. This study contributes by showing that the application of PBL through classroom action research can be an effective learning strategy for improving the quality of biology learning in secondary schools.
ANALISIS PENURUNAN SIFAT POLIDAKTILI: STUDI KASUS BEBERAPA WILAYAH DI PROVINSI JAMBI Amanda Riskina Ramadhani; Elka Indra Wati; Cahaya indah; Febilia Asdenafika; Jodion Siburian; Evita Anggereini; Ine Tentia; Saparuddin Saparuddin
BIOGENIC : Jurnal Ilmiah Biologi Vol 3 No 2 (2025): Jurnal BIOGENIC: Jurnal Ilmiah Biologi
Publisher : Program Studi Biologi UNARS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/biogenic.v3i2.7429

Abstract

Polidaktili merupakan kondisi bawaan ketika seseorang memiliki jumlah jari tangan atau jari kaki lebih dari lima akibat gangguan pembentukan atau diferensiasi jaringan pada masa perkembangan embrio. Polidaktili diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama, yaitu preaksial, postaksial, dan sentral. Kasus polidaktili juga terjadi di Jambi, namun data tentang kasus polidaktili dan pola pewarisannya masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pola pewarisan polidaktili pada beberapa kasus di wilayah Jambi. Metode yang digunakan adalah studi kasus melalui wawancara, dokumentasi, dan observasi langsung terhadap individu yang mengalami polidaktili. Data dianalisis untuk menentukan pola pewarisan berdasarkan kemunculannya pada generasi berikutnya. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan tipe polidaktili preaksial dan postaksial. Temuan ini menunjukkan bahwa alel penyebab polidaktili dapat diwariskan secara de novo dan baru muncul pada generasi tertentu.