Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Hubungan Preeklampsia Berat Pada Ibu Hamil terhadap BBLR di RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta Periode Tahun 2005 Alfaina Wahyuni; Firma Nur Rachmawati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 1 (s) (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i1 (s).1685

Abstract

The hypertension that caused by pregnancy is preeclampsia. Preeclampsia was the most important cause of death in pregnancy in UK, USA and Nordic countries. Preeclampsia also made the disturbance of uteroplacenta distribution. It could cause the low birth weight infant. In the pattern of the diseases which cause the death, showed that the first cause of the neonatal death in 0 - 7 days age was preterm and low birth weight (35%), then asphyxia (33,6%). The study was conducted to investigate the relation between severe preeclampsia and low birth weight incident. The researches used an analytic retrospective by seeing the medical record and used the Chi-Square Crosstabs Test for statistic test. The subjects was 90 pregnant women which has been born their babies in RSUP DR Sardjito Yogyakarta which 54 women have severe preeclampcia during pregnancy, 23 women have mild preeclampcia and 13 normally The result from the statistic with Chi Square Crosstabs Test showed that the p value = 0,045. The p value 0,05 was show that there was relation between the severe preeclampcia and low birth weight incident. From the research also known that the highest frequency of low birth weight was in pregnant women with severe preeclampsia (32,3%).Penyakit hipertensi yang timbul karena kehamilan adalah preeklampsia. Pre-eklampsia merupakan penyebab kematian terpenting dalam kehamilan di UK, USA and negara-negara Nordic. Preeklampsia juga menyebabkan aliran uteroplasenta terganggu. Hal ini menyebabkan terjadinya BBLR. Pada pola penyakit penyebab kematian menunjukkan bahwa proporsi penyebab kematian neonatal kelompok umur 0-7 hari tertinggi adalah premature dan berat badan lahir rendah/LBW (35%), kemudian asfiksia lahir (33,6%). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah preeklampsia berat pada ibu hamil berpengaruh pada kejadian berat bayi lahir rendah Penelitian ini menggunakan metode analisis retrospektif dengan melihat data yang ada di rekam medis dan menggunakan uji Crosstabs Chi Square sebagai uji statistik dalam pengolahan data. Sebagai subjek adalah ibu-ibu yang telah melahirkan di RSUP DR.Sardjito sebanyak 90 orang dimana ibu dengan preeklampsia berat 54 orang, ibu dengan preeklampsia ringan 23 orang dan yang normal 13 orang.  Hasil uji statistik dengan chi square didapatkan nilai p = 0,045. Nilai p 0,05 menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara preeklampsia berat pada ibu hamil terhadap kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR). Dari penelitian didapatkan bahwa kejadian BBLR tertinggi adalah pada ibu hamil dengan preeklampsia berat (32,3%).
Perbandingan Kembalinya Siklus Menstruasi Normal pada Akseptor Injeksi Progestogen dan Akseptor IUD Astri Kartika Sari; Alfaina Wahyuni
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v13i1.1050

Abstract

Jumlah populasi di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat signifikan setiap tahunnya. Pemerintah membuat kebijakan mengenai perencanaan keluarga atau yang disebut dengan Keluarga Berencana (KB) untuk menanggulangi jumlah penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kecepatan kembalinya siklus menstruasi normal pada akseptor injeksi progestogen dan akseptor IUD. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik menggunakan desain cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara pada 81 akseptor IUD dan 81 akseptor injeksi progestogen 3 bulanan di Puskesmas Kedungwuni I Kabupaten Pekalongan. Setiap ibu diberi pertanyaan yang sama mengenai identitas diri, metode KB yang digunakan, tahun awal pemakaian metode tersebut, lama pemakaian, siklus menstruasi pasca penghentian metode KB dan parietas. Analisis data menggunakan independent T test. Selain itu, sebagai data sekunder, peneliti juga mencari pengaruh antara lama pemakaian dengan kembalinya siklus menstruasi pada masing-masing metode KB dengan menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan kembalinya siklus menstruasi normal pada akseptor IUD lebih cepat 3 bulan dibandingkan dengan akseptor injeksi progestogen (P=0.000; CI=95%) dengan waktu kembali rata-rata 1.02±0.16 bulan. Rata-rata waktu kembalinya siklus menstruasi normal pada akseptor injeksi progestogen adalah 7.43±3.73 bulan. Disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh lama pemakaian dengan kecepatan kembalinya siklus menstruasi pada akseptor injeksi progestogen dan akseptor IUD. The amount of Indonesia population is getting significantly increase every year. The government made a policy about family planning or Keluarga Berencana (KB) to overcome the population. This research aims to know the comparison normal menstruation cycle return in progestogen injection acceptor and IUD’s acceptor. This is a descriptive analysis research with cross sectional design by doing an interview with 81 IUD’s acceptors and 81 progestogen injection’s acceptors in work area of Puskesmas Kedungwuni I Pekalongan regency. Every acceptor was given the same questions such as identity, contraceptive method, year when she start using that method, the duration of use, her normal menstruation cycle after stop the method, and parity. The data analyzed using independent T test. In addition, as secondary result, researcher also looking for the impact of duration of use and the return of normal menstruation cycle in both of the method by using bivariate Pearson correlation. The result showed that the return of normal menstruation cycle of IUD’s acceptors is faster than progestogen injection’s acceptor (P=0.000; CI=95%) with 1.02±0.16 month on an average, and 7.43±3.73 months in progestogen injection’s acceptors. It can concluded that duration of use has no impact on return of normal menstruation cycle in progestogen injection acceptor and IUD’s acceptor.
Perbandingan Tingkat Kecemasan Primigravida dan Multigravida Dalam Menghadapi Persalinan Di Wilayah Kerja Puskesmas Wirobrajan Hidayatul Kurniawati; Alfaina Wahyuni
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 14, No 1 (2014): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v14i1.2476

Abstract

Kecemasan adalah pengalaman tidak menyenangkan yang terjadi ketika seseorang merasa khawatir atau ketakutan. Diperkirakan 2%-4% diantara penduduk di suatu fase dari kehidupannya pernah mengalami kecemasan. Sebagai seorang perempuan, kehamilan dan menghadapi persalinan merupakan salah satu fase yang dapat menyebabkan kecemasan. Dibandingkan dengan primigravida, multigravida lebih berpengalaman dalam menghadapi persalinan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan apakah terdapat perbedaan tingkat kecemasan primigravida dan multigravida dalam menghadapi persalinan. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Wirobrajan Yogyakarta. Jenis penelitian adalah observasional dengan teknik purposif sampling. Tingkat Kecemasan berupa data interval yang diukur menggunakan Analog Anxiety Scale (AAS). Sampel dengan jumlah 30 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Data dianalisis dengan Independent-Sample T Test. Hasil penelitian diperoleh bahwa responden primigravida dengan kecemasan ringan sebanyak 4 responden (13,33%), cemas sedang sebanyak 3 responden (10%), dan cemas berat sebanyak 1 responden (3,34%). Untuk responden multigravida hanya mengalami cemas ringan dan cemas sedang masing-masing 1 responden (3,34%). Nilai signifikansi (P) 0,05. Disimpulkan bahwa primigravida memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan multigravida dalam menghadapi persalinan.Anxiety is unpleasant experience that happen when someone feel worry or threatening. Approximately 2%-4% of population suffers from anxiety in one phase of their life. As a woman, pregnancy and facing the child birth is one phase that can caused anxiety.  Compare with primigravida, multigravida have more experience in facing the child birth. This research was to know whether there was a differentiation of anxiety level between primigravida and multigravida in facing the child birth. The research was done in Wirobrajan Primary Health Care. The study was observational with purposive sampling technique. The anxiety level was interval data that  measured using Analog Anxiety Scale (AAS). Samples with a number of 30 respondents who is appropriate with the inclusion criteria. Data was analyzed by Independent-Sample T Test. This research found that primigravida with mild anxious there were 4 respondents (13,33%), 3 respondents (10%) with moderate anxious, and  1 respondent (3,34%) with severe anxious. For multigravida, there were 1 respondent (3,34%) with mild anxious and moderate anxious. The (P) value was 0,05. It can be concluded that anxiety level of primigravida is higher than multigravida in facing the child birth.
Hubungan antara Angka Ketahanan Hidup Sperma Yayie Lakcitadhini; Alfaina Wahyuni
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v8i2 (s).1631

Abstract

Infertility is when a woman is not pregnant despite having sexual intercourse without protection for one year. In Indonesia there are 15% of reproducstive age couple (15-40 year old) experience infertility problems. The examination of sperm analysis conducted to determine the cause of male infertility before IVF (invitro fertilitation) program. This research was conducted in November-December 2007 at the clinic RSUP Permata Hati. Dr Sardjito Yogyakarta. This study is a nonexperimental retrospective study using secondary data from medical records patient that participate IVF program. The data consist of the result of sperm morphology and SPERST test. Data were analyzed by correlation Spearman test to know the relationship between sperm morphology and the results of SPERST test with fertilization success rate. The results of this study show that 60% of the 35 IVF program participants ages 30¬40 year, 77.2% of whom had sperm normospermia profile. Laboratory data showed 57.2% morphological rate are 60% with 80% good fertilization rate, 88.6% 24-hour of SPERST test rate are 50% with 70.9% good fertilizer, and 28, 6% 48-hour SPERST test are 25% with 80% better fertilization.. Statistical calculations show that the relationship between fertilization rate with the results of laboratory tests in a row is as follows: sperm morphology examination (correlationcoefficient 0.399;P=0.018), SPERST24hours (correlationcoefficient of 0.432; P= 0.010) and SPERST48 hours (correlation coefficient 0.215; P= 0.216). It can be concluded that there was a significant relationship between sperm morphology examination and inspection 24 hours SPERST with fertilization rate.Infertilitas adalah apabila seorang wanita tidak hamil meskipun telah melakukan hubungan seksual tanpa pelindung selama satu tahun. Di Indonesia terdapat 15% dari pasangan usia reprodukstif (15-40 tahun) mengalami masalah infertilitas. Pemeriksaan analisis sperma dilakukan untuk mengetahui penyebab infertilitas dari pihak laki-laki sebelum mengikuti program bayi tabung. Penelitian ini dilakukan pada November-Desember 2007 di klinik Permata Hati RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta. Penelitian ini bersifat noneksperimental retrospektif dari data sekunder rekam medis pasien peserta program bayi tabung IVF (invitro fertilitation) yang melakukan pemeriksaan morfologi sperma dan SPERST antara Januari 2005 - Desember 2007. Data dianalisis dengan uji korelasi Spearman untuk mengetahui hubungan antara morfologi sperma dan hasil pemeriksaan SPERST dengan angka keberhasilan fertilisasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 60% dari 35 peserta program IVF berusia 30-40 tahun, 77,2% diantaranya memiliki profil sperma normospermia. Data hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan 57,2% memiliki angka morfologi 60% dengan 80% angka fertilisasi bagus, 88,6% memiliki angka SPERST 24 jam 50% ; 70,9% angka fertilisasi bagus, dan 10 pasien (28,6%) memiliki angka SPERST 48 jam 25% dengan 80% angka fertilisasi bagus. Penghitungan statistik menunjukkan bahwa hubungan antara angka fertilisasi dengan hasil pemeriksaan laboratorium berturut-turut adalah sebagai berikut: pemeriksaan morfologi sperma (koefisien korelasi 0,399 dengan P 0,018), SPERST 24 jam (koefisien korelasi 0,432 dengan P 0,010) dan pada SPERST 48 jam (koefisien korelasi 0,215 dengan P 0,216). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemeriksaan morfologi sperma dan pemeriksaan SPERST 24 jam terhadap angka keberhasilan fertilisasi.
PENINGKATAN KUALITAS GENERASI SADAR KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA PUTRI SMA MUHAMMADIYAH I BANTUL Nur Hayati; Alfaina Wahyuni; Alfun Dhiya An
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2020: 6. Kinerja Kelembagan Sosial Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan dan Penanganan Bencana
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.957 KB) | DOI: 10.18196/ppm.36.312

Abstract

Kesehatan reproduksi sangat penting untuk dipahami oleh semua orang, khususnya remaja putri. Banyak remaja mendapatkan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dari media sosial yang tidak terjamin kebenarannya. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kesadaran remaja mengenai kesehatan reproduksi. Mitra kegiatan ini adalah remaja putri siswi SMA yang rentan terhadap pengaruh negatif dari media sosial maupun lingkungannya. Metode pengabdian masyarakat dengan mengadakan webinar yang diikuti oleh siswa SMA. Pembicara menyampaikan materi mengenai kesehatan reproduksi melalui webinar dan membuat poster-poster untuk dibaca oleh mitra. Sebelum mengikuti webinar siswa diuji pengetahuannya mengenai kesehatan reproduksi dengan pretest. Setelah mendapatkan pemaparan materi, dilakukan postest. Hasil analisis pretest dan postest menunjukkan peningkatan pengetahuan siswa mengenai kesehatan reproduksi. Pengabdian masyarakat dengan webinar dan pembuatan poster dapat meningkatkan pengetahuan siswa mengenai kesehatan reproduksi.
PENINGKATAN PENGETAHUAN MASYARAKAT DALAM DETEKSI KANKER SERVIKS DAN PAYUDARA DI DESA RINGINHARJO Alfun Dhiya An; Alfaina Wahyuni; Nur Hayati
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2020: 6. Kinerja Kelembagan Sosial Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan dan Penanganan Bencana
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.739 KB) | DOI: 10.18196/ppm.36.315

Abstract

Data Kesehatan Provinsi DIY tahun 2016 menunjukkan angka kejadian kanker serviks di Kota Yogyakarta sebanyak 341 kasus, Kabupaten Sleman sebanyak 962 kasus, Kabupaten Gunung Kidul sebanyak 105 kasus, Kabupaten Kulon Progo sebanyak 205 kasus, dan terbanyak di Kabupaten Bantul sebanyak 1.355 kasus. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai Deteksi Dini Kanker Serviks dan Payudara. Mitra kegiatan ini adalah Ibu-ibu kader di Desa Ringinharjo, Bantul. Dilaksanakan pada hari Minggu, 13 September 2020 yang dibagi menjadi dua sesi yaitu pada jam 08.30-10.30 dan jam 10.30-12.30. Metode yang digunakan adalah ceramah secara langsung kepada total 34 orang ibu-ibu kader dengan materi berupa pengetahuan tentang kanker serviks, kanker payudara, dan tumor organ reproduksi yang didahului dengan pretest dan posttest pada akhir kegiatan dalam bentuk kuesioner. Kegiatan ini dilakukan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran covid-19. Selanjutnya hasil pretest tentang pengetahuan kanker serviks 71%, dan hasil rerata posttest 80% yang mana dari hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan sebanyak 9%. Sedangkan rerata pretest tentang pengetahuan kanker payudara 63%, dan hasil rerata posttest 76%. Sehingga dari hasil tersebut adanya peningkatan pengetahuan sebanyak 13%. Kegiatan ini diakhiri dengan pemeriksaan USG gratis untuk ibu-ibu kader yang hadir.
UPAYA PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM VAKSINASI COVID-19 MELALUI PEMBERDAYAAN IBU-IBU ‘AISYIYAH Nova Maryani; Alfaina Wahyuni; Siti Aminah Tri Susila Estri
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2021: 3. Kesehatan Keluarga dan Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.673 KB) | DOI: 10.18196/ppm.43.607

Abstract

Sejak awal pandemi jumlah kasus positif Covid-19 di DIY semakin bertambah. Masyarakat memiliki peran penting dalam memutus mata rantai penularan Covid-19 agar tidak menimbulkan sumber penularan baru. Vaksin untuk mencegah infeksi Covid-19 dianggap sebagai pendekatan yang paling menjanjikan untuk mengendalikan pandemik dan diharapkan bisa membentuk herd immunity pada masyarakat. Berdasarkan survey pada ibu-ibu Aisyiyah PCA Sleman didapatkan bahwa masih terdapat pemahaman yang kurang tepat mengenai vaksin dan perkembangan terkini tentang penyakit Covid-19 maka diadakanlah kegiatan seminar sosialisasi dengan tujuan agar dapat meningkatkan pengetahuan mengenai Covid-19 dan vaksinasinya sehingga nantinya mereka dapat menjadi edukator dan motivator yang selanjutnya dapat meningkatkan partisipasi masyarakat untuk mengikuti program vaksinasi Covid-19 dengan sukarela. Hasil diadakannya sosialisasi didapatkan ada perbedaan rata-rata antara pretest (11.65) dan posttest (13.73) ada peningkatan pemahaman mengenai pentingnya selalu menerapkan protokol kesehatan dan perlunya vaksinasi untuk membentuk kekebalan kelompok, khususnya kelompok rentan seperti ibu hamil dan orang tua.
UPAYA PENINGKATAN KESIAPAN DAN KEWASPADAAN BIDAN MENGHADAPI KASUS KEGAWATDARURATAN DI ERA PANDEMI COVID-19 Yosy Budi Setiawan; Alfaina Wahyuni; Fitnaningsih Endang Cahyawati Cahyawati
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2021: 3. Kesehatan Keluarga dan Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/ppm.43.645

Abstract

Di Indonesia sampai Desember 2020, terdapat 369 tenaga medis terinfeksi Covid-19. Dengan peningkatan kasus tersebut, maka kemungkinan ibu hamil terpapar Covid-19 juga lebih besar. Bidan sebagai salah satu ujung tombak menghadapi ibu hamil dalam menjalani kehamilan maupun persalinan, tentunya memerlukan kesiapan dan kewaspadaan dalam menghadapi pasien ibu hamil suspek atau terkonfirmasi Covid-19. Selain itu bidan juga berperan penting dalam sosialisasi tentang Covid-19 dan vaksinasi kepada masyarakat sehingga diharapkan tumbuh kesadaran dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program vaksinasi Covid-19 sebagai upaya pencegahan terhadap infeksi Covid-19. Berdasarkan survey pada beberapa bidan di Bantul didapatkan masih banyak yang belum mengetahui tentang perkembangan terkini dan penatalaksanaan kegawatan penyakit Covid-19. Oleh karena itu diadakanlah kegiatan penyuluhan bersama Ikatan Bidan Indonesia Cabang Bantul Ranting Bantul Tengah dengan harapan para bidan mendapatkan pendidikan dan pelatihan untuk mengetahui berbagai hal mengenai etiologi, patofisiologi, pencegahan dan penatalaksanaan Covid-19 khususnya pada kasus kegawatdaruratan. Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan secara daring (zoom dan live youtube). Metode yang digunakan dalam kegiatan tersebut melalui penyuluhan kepada bidan-bidan dan mendapatkan respon yang sangat bagus dengan diikuti oleh 333 peserta. Berdasarkan hasil evaluasi pre test dan post test, peserta menunjukkan adanya peningkatan yang cukup signifikan, yaitu rerata pre test 25,4%, dan rerata post test 27,1%. Sehingga dari hasil tersebut terdapat peningkatan pengetahuan sebanyak 1,7%.
Family history of PCOS, obesity, low fiber diet, and low physical activity increase the risk of PCOS Alfaina Wahyuni; Supriyatiningsih; Wiwik Kusumawati; Kamila Sedah Kirana; Cynthia Dwi Mayayustika
JKKI : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia JKKI, Vol 13, No 1, (2022)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JKKI.Vol13.Iss1.art8

Abstract

Background: Polycystic ovarian syndrome (PCOS) is a common endocrine disorder and leading cause of prolonged anovulation. PCOS has been linked to a variety of long-term health problems, including: heart disease; metabolic syndrome; and diabetes. It is interesting to know the risk factors for PCOS in local settings.Objective: The aim of this research is to identify PCOS risk factors in our own settings (Asri Medical Center in Yogyakarta), so that we could identify the specific preparation to avoid having disorders personalized in localcharacteristics.Methods: This is a descriptive-analytic cross-sectional study. The research was carried out at Asri Medical Center in Yogyakarta, Indonesia, with a total sample size of 92 people who met the inclusion and exclusion criteria. They were divided into two groups: non-PCOS and PCOS. Data were retrieved using the questionnaire. The variables evaluated were nutritional status, physical activity, carbohydrate diet, fiber diet, family history of diabetes, family history of PCOS, and age of menarche. The data was analyzed usingthe Chi-square test.Results: Family history of PCOS, obesity, low physical activity and a lowfiber diet proved to differ significantly between the two groups (p<0.05).Conclusion: Family history of PCOS, obesity, low physical activity, low fiber diet had a substantial impact on the occurrence of PCOS.
UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN REPRODUKSI MELALUI DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN GANGGUAN HAID SERTA MENOPAUSE Alfaina Wahyuni; Fitnaningsih Endang Cahyani; Shifa Noor Amalya
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 6, No 3 (2022): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v6i3.9194

Abstract

ABSTRAKMenstruasi merupakan peristiwa yang wajar dan alami, walaupun kenyataannya banyak wanita mengalami masalah menstruasi. Gangguan haid dari sisi jumlah dan lamanya sering terjadi baik pada usia remaja maupun usia menjelang menopause akibat ketidakseimbangan hormon. Penyebab ketidakteraturan haid antara lain disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon, efek samping obat, tumor di ovarium, tumor di rahim dan polikistik ovarium sindrom (PCOS). Sebagian besar masih belum memahami bahwa haid yang tidak teratur bisa jadi merupakan gejala awal dari penyakit system reproduksi maupun hubungan antara obesitas dengan gangguan haid. Kegiatan pengabdian masyarakat bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang gangguan haid, fakta dan mitos seputar gangguan haid, menopause serta permasalahannya. Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan pada hari Jumat, 11 Maret 2022 pukul 15.30-17.30 di Masjid Al Fatah, Bodeh, Ambarketawang, Gamping, Sleman. Metode yang digunakan melalui ceramah secara langsung kepada kader binaan Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Ambarketawang. Kegiatan tersebut diikuti oleh 34 peserta, didahului dengan dilakukan pretest dan posttest pada akhir kegiatan. Bentuk pretest dan posttest menggunakan kuesioner. Berdasarkan hasil pretest dan posttest peserta menunjukkan adanya peningkatan, dengan hasil rerata pretest tentang pengetahuan gangguan haid dan menopause 81,74%, dan hasil rerata posttest 87,59%. Disimpulkan bahwa ada peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan sebanyak 5,85%. Kata kunci: gangguan haid; menopause; menstruasi. ABSTRACTMenstruation is a normal and natural occurrence; however, many women experience menstrual problems. The majority of menstrual disorders and conditions that occur during adolescence and before menopause are caused by hormonal imbalances. Menstrual irregularities can be caused by hormonal imbalances, medication side effects, tumors in the ovaries, tumors in the uterus, and polycystic ovary syndrome (PCOS). Most people are still unaware that irregular menstruation can be an early sign of reproductive system disease, or that there is a link between obesity and menstrual disorders. The aim of the community service is to give undersatanding about menstrual disorder counseling, facts and myths about menstrual disorders, menopause, and their problems. On Friday, March 11, 2022, from 15.30-17.30, community service activities will be held at Al Fatah Mosque in Bodeh, Ambarketawang, Gamping, and Sleman. The Aisyiyah Branch Leadership (PRA) Ambarketawang is assisting with direct lectures to cadres. The activity was attended by 34 people, and it was preceded by a pretest and a posttest at the end. A questionnaire is used as a pretest and posttest. Participants improved based on the results of the pretest and posttest, with the average pretest result for knowledge of menstrual disorders and menopause being 81.74 percent and the average posttest result being 87.59 percent. As a result, there is a 5.85 percent increase in knowledge between before and after counseling. Keywords: menstrual disorders; menopause; menstruation