Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Effect of Salinity Variation on Survival of Pearl Oyster Spawn (Pinctada maxima) Padalegi, Maria; Tjendanawangi, Agnette; Suleman
International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences Vol. 2 No. 6 (2024): June 2024
Publisher : MultiTech Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59890/ijarss.v2i6.1956

Abstract

Pearl oysters (Pinctada maxima) are a high-value fishery commodity with significant development prospects, due to increasing demand and selling value in domestic and international markets. One of the challenges in pearl oyster cultivation is determining the optimal salinity to improve spat (seed) survival. This study aims to evaluate the effect of various salinity levels on the survival of Pinctada maxima spat and determine the optimal salinity. The study used a completely randomized design (CRD) with four salinity treatments: 35 ppt, 30 ppt, 25 ppt, and 20 ppt, each with three replicates. Results showed that the highest survival rate was found at 35 ppt (63%) and 30 ppt (23%) salinity, while the lowest survival rate was at 25 ppt (7%) and 20 ppt (1%) salinity. Salinity of 35 ppt gave the best results for survival and weight growth of pearl oyster spat, followed by salinity of 30 ppt. These findings have important implications for the development of more effective and efficient culture methods to improve pearl production and quality.
Potensi Dan Prospek Ekonomi Udang Berdasarkan Hasil Tangkap Di Perairan Pariti, Kabupaten Sulamu Meyners, Reynald; Jasmanindar, Yudiana; Tjendanawangi, Agnette
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 1 (2025): November 2025
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i1.7429

Abstract

Perairan Pariti merupakan salah satu perairan yang dijadikan sebagai tempat untuk menangkap udang oleh para nelayan dan masyarakat sekitar sebagai mata pencaharian. Keberadaan udang di wilayah Pariti di dukung oleh lingkungan perairan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, ditemukan dua (2) spesies udang dengan famili yang sama yaitu Penaeidae, yakni udang jerbung (Penaeus merguiensis) dan udang windu (Penaeus monodon). Desa Pariti, Kabupaten Sulamu Kupang dikatakan bahwa kebanyakan penduduk disana memiliki mata pencaharian yaitu sebagai nelayan. Nelayan di desa Pariti menggunakan alat tangkap berupa pukat atau sorong. Hasil tangkap yang mereka dapatkan biasanya bisa sampai 18 kg bahkan bisa mencapai 20 kg/hari. Berdasarkan Harga jual udang di pasar internasional mencapai harga yang cukup tinggi yaitu berkisar antara Rp.134.355/Kg dengan rata-rata jumlah total ekspor udang yaitu 116 ton/tahun (Luneto, 2022). Berdasarkan hasil survey, pengepul langsung menjualnya dipasar dengan harga untuk udang putih atau udang jerbung yaitu Rp. 50.000 hingga Rp. 80.000/kg dan untuk udang windu atau yang biasa disebut udang loreng oleh masyarakat lokal dijual dengan harga Rp. 90.000/kg. bandingkan dengan (Furqan, 2018) mengemukakan bahwa harga udang putih di pasar berkisar Rp. 42.226/kg, sementara udang windu dihargai sekitar Rp. 75.696/kg. Harga udang putih dengan ukuran 70-30 berkisar antara Rp. 115.000 hingga Rp. 147.000, sedangkan untuk udang windu dengan ukuran 30-10, harga berkisar antara Rp. 185.000 hingga Rp. 225.000. Oleh karena itu, harga udang di pasar tergolong tinggi (Adji, 2023)
Respons Pertumbuhan, Moulting, dan Kelulushidupan Kepiting Bakau (Scylla serrata) terhadap Dosis Vitamin C Berbeda pada Pakan Berbasis Pila ampullacea Yulistiani, Veronika; Linggi, Yulianus; Tjendanawangi, Agnette
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 1 (2025): November 2025
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i1.7539

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons pertumbuhan, frekuensi moulting, dan kelulushidupan kepiting bakau (Scylla serrata) yang diberi pakan berbasis keong sawah (Pila ampullacea) dengan dosis vitamin C berbeda. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dosis vitamin C, yaitu 12 mg/100 g pakan (A), 24 mg/100 g pakan (B), dan 36 mg/100 g pakan (C), masing-masing dengan lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan berat mutlak, survival rate (SR), frekuensi moulting, serta kualitas air. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan terdapat pengaruh nyata (P<0,05) dosis vitamin C terhadap pertumbuhan, moulting, dan kelulushidupan kepiting bakau. Perlakuan C menghasilkan pertumbuhan rata-rata tertinggi sebesar 48,2 g, frekuensi moulting terbanyak (3 ekor), serta tingkat kelulushidupan 100%. Peningkatan performa biologis pada perlakuan C menunjukkan bahwa suplementasi vitamin C mampu meningkatkan efisiensi metabolisme, mendukung pembentukan eksoskeleton, serta meningkatkan respons imun kepiting bakau. Parameter kualitas air selama pemeliharaan masih berada dalam kisaran optimal untuk budidaya kepiting bakau. Dengan demikian, suplementasi vitamin C sebesar 36 mg/100 g pakan berbasis Pila ampullacea direkomendasikan sebagai dosis optimal dalam meningkatkan performa budidaya kepiting bakau.Kata kunci: vitamin C, Scylla serrata, moulting, pertumbuhan, kelulushidupan
Pemanfaatan Tepung Daun Lamtoro Gung (Leucaena leucocephala) Fermentasi dan Tepung Bekicot (Achatina fulica) sebagai Bahan Baku Pakan Alternatif untuk Meningkatkan Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Angul, Betrisia Geliana; Tobuku, Ridwan; Tjendanawangi, Agnette
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 1 (2025): November 2025
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i1.7448

Abstract

Kenaikan harga pakan komersial menjadi kendala utama dalam kegiatan budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus). Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menekan biaya produksi adalah pemanfaatan bahan baku lokal sebagai sumber pakan alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh kombinasi tepung daun lamtoro (Leucaena leucocephala) terfermentasi dan tepung bekicot (Achatina fulica) dalam pakan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan, yaitu: A (40% tepung lamtoro terfermentasi + 10% tepung bekicot), B (30% tepung lamtoro terfermentasi + 20% tepung bekicot), C (20% tepung lamtoro terfermentasi + 30% tepung bekicot), dan D (100% pakan pelet komersial). Ikan nila berukuran 4–6 cm dipelihara selama 60 hari dengan feeding rate 3% bobot biomassa per hari. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan berat mutlak, laju pertumbuhan spesifik (SGR), rasio konversi pakan (FCR), dan tingkat kelangsungan hidup (SR). Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan tepung daun lamtoro terfermentasi dan tepung bekicot dalam pakan berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap pertumbuhan berat mutlak, laju pertumbuhan spesifik, dan kelangsungan hidup ikan nila. Perlakuan C memberikan hasil terbaik dengan pertumbuhan berat mutlak sebesar 8,98 g, SGR 2,31%/hari, dan tingkat kelangsungan hidup sebesar 80%. Dengan demikian, kombinasi tepung daun lamtoro terfermentasi dan tepung bekicot berpotensi digunakan sebagai pakan alternatif untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan nila.Kata kunci: daun lamtoro terfermentasi, tepung bekicot, pakan alternatif, pertumbuhan, ikan nila