Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Ngaben: Simbolisme, Etika, Dan Tantangan Keagamaan Dalam Berkabung Di Bali Sekarningrum, Bintarsih; Amanatin, Elsa Lutmilarita; Pratiwi, Ni Putu Sri
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i1.63893

Abstract

ABSTRAK  Penelitian ini menyoroti adaptasi ritual keagamaan, khususnya ngaben di Bali, di tengah perkembangan era digital. Teknologi digital telah mengubah cara partisipasi masyarakat, termasuk prosesi ngaben yang kini disiarkan melalui TikTok, YouTube, dan Instagram. Studi sebelumnya membahas dampak teknologi terhadap ritual keagamaan, tetapi belum mendalami implikasi etika dan spiritual integrasi teknologi dalam ngaben, terutama keseimbangan antara inovasi digital dan pelestarian makna sakral. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana simbolisme dan praktik ngaben beradaptasi dengan teknologi, tantangan etika yang muncul, serta dampak perubahan tersebut. Metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus diterapkan di Bali melalui wawancara mendalam dengan informan kunci: tokoh agama, anggota keluarga, dan ahli budaya. Data dianalisis menggunakan teori dramaturgi Goffman dan konsep “teater negara” Geertz. Temuan menunjukkan bahwa digitalisasi memperluas partisipasi dan konektivitas spiritual, tetapi juga memperkenalkan dimensi komersialisasi dan hiburan yang berpotensi mengaburkan kesakralan ngaben. Teknologi berperan ganda: mempertahankan relevansi ritual sekaligus menantang pelestarian nilai spiritualnya. Keterbatasan penelitian mencakup belum tergalinya pandangan generasi muda, aspek gender, serta cakupan wilayah yang terbatas pada Bali. Penelitian lanjutan disarankan memperluas perspektif dan lokasi. Selain itu, diperlukan pedoman etika penggunaan teknologi dalam ritual keagamaan agar inovasi digital selaras dengan pelestarian nilai-nilai spiritual dan budaya Bali. Kata kunci: Bali, Etika Keagamaan, Dramaturgi, Ngaben, Simbolisme  ABSTRACT This study highlights the adaptation of religious rituals, particularly the Balinese ngaben, amid the rise of the digital era. Digital technology has transformed community participation, with ngaben ceremonies now broadcast via TikTok, YouTube, and Instagram. Previous studies have examined technology’s impact on religious rituals but have not deeply explored the ethical and spiritual implications of integrating technology into ngaben, especially the balance between digital innovation and preserving its sacred meaning. This research aims to explore how the symbolism and practice of ngaben adapt to technology, the ethical challenges that emerge, and the resulting impacts. A qualitative method with a case study approach was applied in Bali through in-depth interviews with key informants: religious leaders, family members, and cultural experts. Data were analyzed using Goffman’s dramaturgical theory and Geertz’s “theater state” concept. Findings reveal that digitalization expands participation and spiritual connectivity but also introduces commercialization and entertainment elements that risk obscuring the ritual’s sacredness. Technology plays a dual role: sustaining ritual relevance while challenging the preservation of its spiritual values. Limitations include the lack of perspectives from younger generations, gender dynamics, and the study’s restricted geographic scope. Further research and ethical guidelines are recommended to align digital innovation with preserving Bali’s spiritual and cultural values. Keywords: Bali, Dramaturgy, Ngaben, Religious Ethics, Symbolism 
Makna Upacara Adat “Naik Garudo” Pada Tradisi Pernikahan Di Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari, Kota Jambi Nurwati, Nunung; Firsanty, Farah Putri; Amanatin, Elsa Lutmilarita; Yunita, Desi; Lesmana, Aditya Candra
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i2.66534

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengungkap makna simbolik dan interaksi sosial dalam prosesi pernikahan adat Naik Garudo di Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari, Jambi. Prosesi ini ditandai dengan arak-arakan pengantin di atas replika burung garuda, yang sarat dengan simbol kekuatan, kesucian, dan kehormatan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode wawancara, observasi partisipatif, serta dokumentasi. Informan dipilih melalui purposive dan snowball sampling, meliputi pemangku adat, keluarga pengantin, dan masyarakat yang terlibat langsung. Validasi data dilakukan dengan triangulasi sumber, metode, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesi Naik Garudo memiliki makna simbolik yang kompleks. Simbol garuda, pakaian adat, mahkota, hingga lantunan salawat dipahami sebagai sarana komunikasi sosial yang menegaskan transformasi status pengantin, memperkuat solidaritas, serta menjaga legitimasi budaya. Analisis dengan teori interaksionisme simbolik Mead menjelaskan bahwa makna simbol lahir dan dimodifikasi melalui interaksi sosial. Konsep ritual dan simbol Turner menegaskan fungsi prosesi sebagai rite of passage, sedangkan konsep identitas sosial Tajfel & Turner memperlihatkan peran tradisi ini dalam membangun identitas kolektif masyarakat Mersam. Kesimpulannya, prosesi Naik Garudo tidak hanya merupakan ritual adat, tetapi juga arena reproduksi nilai budaya dan pembentukan identitas sosial. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pelestarian tradisi melalui dukungan masyarakat dan kebijakan kebudayaan agar tetap relevan di tengah modernisasi.Kata Kunci: Budaya, Identitas, Ritual, Sosial ABSTRACT This study explores the symbolic meaning and social interaction in the traditional wedding procession Naik Garudo in Mersam District, Batanghari Regency, Jambi. The procession, where the bride and groom are paraded on a Garuda replica, symbolizes strength, purity, and honor. A qualitative descriptive approach was applied through in-depth interviews, participatory observation, and documentation. Informants were chosen via purposive and snowball sampling, involving customary leaders, families, and community members. Data validity was ensured through source, method, and time triangulation. Findings indicate that Naik Garudo holds layered symbolic meanings. The Garuda, traditional attire, crown, and chanting of salawat are social symbols reflecting the couple’s transition of status, communal solidarity, and cultural legitimacy. Through Mead’s symbolic interactionism, these meanings emerge and evolve within social interaction. Turner’s ritual and symbol concept situates the procession as a rite of passage, while Tajfel and Turner’s social identity concept shows its role in reinforcing Mersam’s collective identity. In conclusion, Naik Garudo is not merely a wedding tradition but an arena where cultural values are reproduced and social identity is shaped. The study highlights the importance of preserving this tradition through community engagement and cultural policies to ensure its continuity and relevance in the context of modernization.Keywords: Culture, Identity, Ritual, Social
Fragmentasi Modal Sosial Dalam Pengembangan Kawasan Perdagangan Lama Di Jakarta Pusat (Studi Kasus Pasar Baru, Pecenongan, Dan Juanda) Nugraha, Ardi Maulana; Amanatin, Elsa Lutmilarita; Adriani, Yani
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i2.69826

Abstract

ABSTRAK Kawasan perdagangan lama merupakan ruang sosial-ekonomi yang memiliki nilai historis dan berperan penting dalam dinamika perkotaan. Namun, berbagai penelitian terdahulu lebih banyak menitikberatkan pada aspek revitalisasi fisik, ekonomi, dan pariwisata, sementara dinamika fragmentasi modal sosial sebagai faktor yang memengaruhi pengembangan kawasan masih relatif kurang mendapat perhatian. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana fragmentasi modal sosial membentuk pola relasi antaraktor serta implikasinya terhadap pengembangan kawasan perdagangan lama di Pasar Baru, Pecenongan, dan Juanda (PPJ), Jakarta Pusat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi terhadap pedagang formal, pedagang kaki lima, pekerja informal, pengelola kawasan, tokoh komunitas, serta perwakilan institusi terkait. Analisis dilakukan secara tematik dengan menggunakan kerangka modal sosial Woolcock yaitu bonding, bridging, dan linking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial bonding berkembang kuat di dalam kelompok-kelompok internal, tetapi lemahnya modal sosial bridging dan linking menciptakan fragmentasi relasi antaraktor yang menghambat koordinasi, kolaborasi, dan pembentukan visi kolektif dalam pengembangan kawasan. Temuan ini menunjukkan bahwa pengembangan kawasan perdagangan lama tidak cukup ditentukan oleh keberadaan modal sosial, tetapi oleh keseimbangan dan keterhubungan antar dimensi modal sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan memperluas pemahaman mengenai hubungan antara fragmentasi modal sosial dan pengembangan kawasan perdagangan lama dalam konteks perkotaan Indonesia, sekaligus memberikan implikasi praktis bahwa penguatan jejaring lintas aktor serta hubungan yang lebih inklusif antara masyarakat dan institusi formal merupakan prasyarat bagi keberlanjutan kawasan perdagangan lama.Kata kunci: Fragmentasi Modal Sosial, Kawasan Perdagangan Lama, Pengembangan Kawasan  ABSTRACTThe old trade area is a socio-economic space that has historical value and plays an important role in urban dynamics. However, various previous studies have focused more on the aspects of physical, economic, and tourism revitalization, while the dynamics of social capital fragmentation as a factor affecting regional development have received relatively little attention. This study aims to analyze how the fragmentation of social capital shapes the pattern of relations between actors and its implications for the development of old trade areas in Pasar Baru, Pecenongan, and Juanda (PPJ), Central Jakarta. The research uses a qualitative approach with a case study design. Data was obtained through in-depth interviews, field observations, and documentation of formal traders, street vendors, informal workers, area managers, community leaders, and representatives of related institutions. The analysis was carried out thematically using the social capital framework from Woolcock of bonding, bridging, and linking. The results show that social capital bonding develops strongly within internal groups, but weak social capital bridging and linking creates fragmentation of relationships between actors that hinder coordination, collaboration, and the formation of a collective vision in regional development. These findings show that the development of the old trade zone is not sufficiently determined by the existence of social capital, but by the balance and interconnectedness between the dimensions of social capital. This research makes a theoretical contribution by broadening the understanding of the relationship between social capital fragmentation and the development of old trade zones in the context of urban Indonesia, while providing practical implications that strengthening cross-actor networks and more inclusive relationships between communities and formal institutions are prerequisites for the sustainability of old trade zones.Keywords: Social Capital Fragmentation, Old Trade Zones, Regional Development
Sextortion sebagai Bentuk Kekerasan Seksual Berbasis Gender Online yang Terabaikan: Kekosongan Kategorisasi Hukum dan Bias Gender Korban dalam Sistem Hukum Indonesia Tamam, Irfan; Amanatin, Elsa Lutmilarita
Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (JPPM) Vol 6, No 1 (2025): Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (JPPM)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v6i1.72114

Abstract

Perkembangan teknologi digital memicu lonjakan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), khususnya sextortion. Penelitian ini bertujuan menganalisis konseptualisasi sextortion, akomodasi hukum pidana Indonesia terhadap karakteristik khasnya, serta alasan ketidakterlihatan korban laki-laki. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi kepustakaan. Hasil menunjukkan bahwa sextortion secara distingtif melibatkan ancaman, materi intim, dan koersi pemerasan, berbeda dari revenge porn. Secara sosiologi hukum, terdapat kesenjangan antara hukum di atas kertas (law on the books) dan praktik di lapangan (law in action); aparat penegak hukum masih cenderung menggunakan Pasal 27 ayat (1) UU ITE daripada Pasal 14 ayat (1) UU TPKS yang lebih progresif. Melalui perspektif relasi kuasa Michel Foucault, sextortion beroperasi sebagai bentuk panoptisisme digital yang mengeksploitasi régime of truth (rezim kebenaran) masyarakat terkait tabu seksualitas untuk memaksa ketundukan korban. Rezim pengetahuan ini pula yang melestarikan bias gender institusional, menciptakan titik buta (blind spot) dalam sistem hukum yang mengabaikan korban laki-laki. Akibat norma maskulinitas budaya yang menstigmatisasi viktimisasi seksual, korban laki-laki menghadapi hambatan psikososial berlapis sehingga enggan mencari bantuan dan terisolasi sebagai invisible victims. Kesimpulannya, sistem hukum Indonesia memerlukan pembaruan yang mampu mengenali relasi kuasa digital dan inklusivitas gender tanpa bias institusional demi mewujudkan keadilan substantif.