Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

TREND POSITIF: LEWAT GERAKAN HIJAU DAN KREATIVITAS MEMASAK PADA KELOMPOK REMAJA DI DESA DAYEUHKOLOT KABUPATEN BANDUNG Yunita, Desi; Lesmana, Aditya Candra; Wibowo, Heri; Amanatin, Elsa Lutmilarita
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v8i3.62822

Abstract

Remaja berada dalam fase perkembangan yang penuh tantangan, terutama saat menghadapi dilema pilihan hidup dan risiko seperti putus sekolah dan keterbatasan biaya pendidikan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan edukasi untuk memperkuat dan memotivasi cara berpikir remaja melalui pola tren positif, yang diwujudkan dalam praktik hulu-hilir berbasis potensi dan permasalahan sosial, dengan fokus pada gerakan hijau dan kreativitas memasak. Pendekatan yang digunakan melihat persoalan remaja sebagai bagian dari masyarakat berisiko. Namun, risiko tersebut dapat diprediksi dan diupayakan penyelesaiannya. Metode pengabdian dilakukan melalui pemetaan sosial sederhana, dilanjutkan dengan analisis sebab-akibat dari permasalahan remaja. Selanjutnya, ditentukan tahapan pengabdian dengan mengangkat tema tren positif serta memberikan informasi dan strategi program penyetaraan pendidikan serta peluang beasiswa. Hasil dari kegiatan ini terlihat dari partisipasi aktif dan respons positif para remaja selama proses edukasi berlangsung. Remaja di Desa Dayeuhkolot memperoleh gagasan baru dalam melihat persoalan dan peluang, serta memiliki cara pandang yang lebih konstruktif dalam mengatasi permasalahan yang mereka hadapi.
MEMBANGUN SPIRAL PENGASUHAN BERBASIS KONSEP KAPABILITAS SPIRITUAL MELALUI PEMBENTUKAN TENAGA PENYULUH PENGASUHAN KADER POSYANDU DESA CILELES KABUPATEN SUMEDANG JAWA BARAT Wibowo, Hery; Nurwati, Nunung; Yunita, Desi; Firsanty, Farah Putri; Amanatin, Elsa Lutmilarita; Lesmana, Aditya Candra; Gunawan, Wahyu; Sekarningrum, Bintarsih; Nugraha, Ardi Maulana
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 7, No 1 (2026): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v7i1.67955

Abstract

ABSTRAKKrisis keluarga sebagai bagian dari krisis multidimensional bangsa menuntut pendekatan pengasuhan yang lebih mendalam dan transformatif. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan membangun spiral pengasuhan berbasis kapabilitas spiritual melalui pembentukan tenaga penyuluh pengasuhan dari kader Posyandu di Desa Cileles, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Desa Cileles, sebagai wilayah perdesaan yang bersinggungan langsung dengan kampus Universitas Padjadjaran, dipilih sebagai lokus intervensi karena potensi strategisnya dan kebutuhan akan penguatan kapasitas sosial non-fisik. Program ini mengintegrasikan konsep kapabilitas spiritual sebagai fondasi pengasuhan, dengan materi berbasis pandangan alam Islam dan konsep yang dikembangkan penulis yaitu kapabilitas spiritual yang meliputi penguatan kompetensi berbasis ruh, aql, nafs dan qalb. Melalui pelatihan intensif, kader Posyandu dibekali kompetensi sebagai penyuluh pengasuhan yang mampu mendampingi orang tua dalam memahami peran mendidik anak secara holistik, meliputi aspek fisik, psikis, dan spiritual. Intervensi ini tidak hanya memperkuat fungsi Posyandu sebagai wadah pemberdayaan masyarakat, tetapi juga membentuk ekosistem pengasuhan yang berkelanjutan dan berakar pada nilai-nilai lokal. Program pelatihan di lapangan telah dilaksanakan sebanyak tujuh pertemuan dalam kurun waktu sekitar tujuh bulan. Peserta merupakan perwakilan kader posyandu dari lebih dari 12 Rukun Warga Desa Cileles, yang ditargetkan dapat memberikan penyuluhan pengasuhan pada ragam agenda posyandu. Selain pelatihan langsung di lapangan, program ini juga menyediak video pembelajaran dan bahan artikel singkat pendukung, untuk menguatkan pemahaman peserta. Kata kunci: kapabilitas spiritual, pengasuhan anak, kader Posyandu, pemberdayaan desa, pendidikan ruhani                                                                          ABSTRACTThe family crisis, as a facet of the nation’s broader multidimensional crisis, demands a deeper and more transformative approach to parenting. This community engagement program aims to develop a spiral model of parenting grounded in spiritual capability by training parenting facilitators from Posyandu cadres in Cileles Village, Sumedang Regency, West Java. Cileles, a rural area adjacent to Universitas Padjadjaran’s northern campus, was selected as the intervention site due to its strategic potential and the urgent need to strengthen non-physical social capacities. The program integrates the concept of spiritual capability as the foundation of parenting, drawing upon an Islamic worldview and a framework developed by the authors that encompasses the strengthening of competencies rooted in ruh (spirit), aql (intellect), nafs (self), and qalb (heart). Through intensive training, Posyandu cadres were equipped to serve as parenting facilitators capable of guiding parents in understanding their educational role holisticallyaddressing physical, psychological, and spiritual dimensions. This intervention not only enhances the function of Posyandu as a community empowerment platform but also cultivates a sustainable parenting ecosystem anchored in local values. The field training was conducted over seven sessions across approximately seven months. Participants included Posyandu representatives from more than 12 neighborhood units (Rukun Warga) in Cileles Village, with the goal of enabling them to deliver parenting education through various Posyandu activities. In addition to in-person training, the program provided recorded video lessons and concise supporting articles to reinforce participants’ understanding.  Keyword: spiritual capabilities, childcare, Posyandu cadres, village empowerment, spiritual education
Ekologi Sosial Pesisir: Peran Intergenerasional Keluarga Dalam Menjaga Mangrove Di Pesisir Indramayu Nurwati, Nunung; Fedryansyah, Muhammad; Yunita, Desi; Amanatin, Elsa Lutmilarita; Sudrajat, Ade
Sosioglobal Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i1.67835

Abstract

ABSTRAK  Penelitian ini mengkaji dinamika ekologi sosial keluarga pesisir di Indramayu dalam menjaga kelestarian hutan mangrove melalui peran lintas generasi. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang lebih menyoroti aspek kelembagaan atau kebijakan konservasi, penelitian ini menawarkan kebaruan dengan menempatkan keluarga sebagai pusat analisis ekologi sosial. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan untuk menelusuri bagaimana nilai gotong royong (sabilulungan), pewarisan pengetahuan ekologis, dan solidaritas antar generasi membentuk praktik pelestarian mangrove yang berkelanjutan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi di kawasan pesisir Karangsong, Pasekan, dan Brondong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga memainkan peran kunci dalam membangun kesadaran ekologis, menghubungkan nilai tradisional dengan adaptasi modern melalui kegiatan konservasi, ekonomi lokal, dan ekspresi digital generasi muda. Sintesis teoritis dalam penelitian ini menghasilkan model ekologi sosial berbasis keluarga, yang menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan pesisir tidak hanya bergantung pada kebijakan atau intervensi eksternal, tetapi juga pada kekuatan nilai sosial, solidaritas lintas generasi, dan kesadaran ekologis yang tertanam dalam keluarga.Kata kunci: Ekologi Sosial, Keluarga Pesisir, Intergenerasional, Mangrove, SabilulunganABSTRACT  This study explores the dynamics of coastal families’ social ecology in Indramayu and their intergenerational roles in conserving mangrove forests. Unlike previous studies focusing on institutional or policy dimensions, this research offers novelty by positioning the family as the core of social-ecological analysis. Using a qualitative descriptive approach, it investigates how local values of sabilulungan (mutual cooperation), ecological knowledge transmission, and intergenerational solidarity shape sustainable mangrove conservation practices. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation in the coastal areas of Karangsong, Pasekan, and Brondong. Findings reveal that families act as key agents in fostering ecological awareness, connecting traditional values with modern adaptations through conservation activities, local economic initiatives, and youth-led digital expressions. The theoretical synthesis formulates a family-based social ecology model, emphasizing that coastal environmental sustainability depends not only on policies or external interventions but also on the strength of social values, intergenerational solidarity, and ecological consciousness embedded within families.Keywords: Social Ecology, Coastal Family, Intergenerational, Mangrove, Sabilulungan
Ngaben: Simbolisme, Etika, Dan Tantangan Keagamaan Dalam Berkabung Di Bali Sekarningrum, Bintarsih; Amanatin, Elsa Lutmilarita; Pratiwi, Ni Putu Sri
Sosioglobal Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i1.63893

Abstract

ABSTRAK  Penelitian ini menyoroti adaptasi ritual keagamaan, khususnya ngaben di Bali, di tengah perkembangan era digital. Teknologi digital telah mengubah cara partisipasi masyarakat, termasuk prosesi ngaben yang kini disiarkan melalui TikTok, YouTube, dan Instagram. Studi sebelumnya membahas dampak teknologi terhadap ritual keagamaan, tetapi belum mendalami implikasi etika dan spiritual integrasi teknologi dalam ngaben, terutama keseimbangan antara inovasi digital dan pelestarian makna sakral. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana simbolisme dan praktik ngaben beradaptasi dengan teknologi, tantangan etika yang muncul, serta dampak perubahan tersebut. Metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus diterapkan di Bali melalui wawancara mendalam dengan informan kunci: tokoh agama, anggota keluarga, dan ahli budaya. Data dianalisis menggunakan teori dramaturgi Goffman dan konsep “teater negara” Geertz. Temuan menunjukkan bahwa digitalisasi memperluas partisipasi dan konektivitas spiritual, tetapi juga memperkenalkan dimensi komersialisasi dan hiburan yang berpotensi mengaburkan kesakralan ngaben. Teknologi berperan ganda: mempertahankan relevansi ritual sekaligus menantang pelestarian nilai spiritualnya. Keterbatasan penelitian mencakup belum tergalinya pandangan generasi muda, aspek gender, serta cakupan wilayah yang terbatas pada Bali. Penelitian lanjutan disarankan memperluas perspektif dan lokasi. Selain itu, diperlukan pedoman etika penggunaan teknologi dalam ritual keagamaan agar inovasi digital selaras dengan pelestarian nilai-nilai spiritual dan budaya Bali. Kata kunci: Bali, Etika Keagamaan, Dramaturgi, Ngaben, Simbolisme  ABSTRACT This study highlights the adaptation of religious rituals, particularly the Balinese ngaben, amid the rise of the digital era. Digital technology has transformed community participation, with ngaben ceremonies now broadcast via TikTok, YouTube, and Instagram. Previous studies have examined technology’s impact on religious rituals but have not deeply explored the ethical and spiritual implications of integrating technology into ngaben, especially the balance between digital innovation and preserving its sacred meaning. This research aims to explore how the symbolism and practice of ngaben adapt to technology, the ethical challenges that emerge, and the resulting impacts. A qualitative method with a case study approach was applied in Bali through in-depth interviews with key informants: religious leaders, family members, and cultural experts. Data were analyzed using Goffman’s dramaturgical theory and Geertz’s “theater state” concept. Findings reveal that digitalization expands participation and spiritual connectivity but also introduces commercialization and entertainment elements that risk obscuring the ritual’s sacredness. Technology plays a dual role: sustaining ritual relevance while challenging the preservation of its spiritual values. Limitations include the lack of perspectives from younger generations, gender dynamics, and the study’s restricted geographic scope. Further research and ethical guidelines are recommended to align digital innovation with preserving Bali’s spiritual and cultural values. Keywords: Bali, Dramaturgy, Ngaben, Religious Ethics, Symbolism