Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

The Relationship Between Papaya Consumption During Pregnancy and Smooth Breast Milk Production in Postpartum Mothers in the Work Area of UPT Puskesmas Bontonompo 1, Gowa Regency Eppang, Yudiarsi; Kusmayanti, Evi; Yuliandini, Astri; Suhartini
Indonesian Journal of Nursing and Health Care Vol. 1 No. 2: August (2024)
Publisher : Ammar Dharma Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64914/39a0p128

Abstract

Background: Breastfeeding is the best feeding method for infants. The coverage of exclusive breastfeeding in the Upt Puskesmas Bontonompo 1 work area remains below target due to insufficient milk production. Lactagogum, a substance found in papaya, is known to enhance breast milk production.Objective: This study aims to investigate the relationship between papaya fruit consumption during pregnancy and smooth breastfeeding in postpartum mothers in the Upt Puskesmas Bontonompo 1 work area.Research Method: This study is an observational study with a cross-sectional approach. The sample consisted of 48 respondents selected using purposive sampling based on inclusion criteria in the work area of UPT Puskesmas Bontonompo 1, Gowa Regency. Data analysis was conducted using bivariate analysis with the Mann-Whitney test.Results: The Mann-Whitney test results showed a p value 0.000 < 0,05, indicating a significant relationship between papaya fruit consumption during pregnancy and smooth breastfeeding in postpartum mothers.Conclusion: There is a significant relationship between papaya fruit consumption during pregnancy and smooth breastfeeding in postpartum mothers in the Upt Puskesmas Bontonompo 1 work area.
Pengaruh Faktor Sosial Budaya Terhadap Keputusan Ibu Untuk Bersalin Dibantu Dukun Di Puskesmas Suntamon Dekai Yahukimo B.P, Delfiani; Yuliandini, Astri; Muliyana, Muliyana; Suhartini, Suhartini
Karya Kesehatan Siwalima Vol 3, No 2 (2024): September
Publisher : Lembaga Penerbitan Fakultas Kesehatan, Universitas Kristen Indonesia Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54639/kks.v3i2.1764

Abstract

Angka kematian ibu dan bayi di Indonesia masih cukup tinggi, salah satunya dipengaruhi oleh keputusan ibu yang lebih memilih bersalin dengan bantuan dukun dibandingkan tenaga kesehatan. Hal ini berkaitan erat dengan faktor sosial budaya yang masih kuat, khususnya di wilayah terpencil seperti Puskesmas Suntamon.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor sosial budaya terhadap keputusan ibu untuk bersalin dibantu dukun di wilayah kerja Puskesmas Suntamon Dekai, Kabupaten Yahukimo. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 45 responden yang dipilih dengan teknik total sampling. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 25 responden dengan faktor sosial budaya tinggi, sebanyak 19 responden (76,0%) memilih bersalin dengan bantuan dukun, sedangkan hanya 6 responden (24,0%) yang tidak. Sebaliknya, dari 20 responden dengan faktor sosial budaya rendah, hanya 1 responden (5,0%) yang bersalin dengan dukun, sementara 19 responden (95,0%) tidak. Uji statistik Chi-Square diperoleh nilai p = 0,000 (p 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang sangat signifikan antara faktor sosial budaya dengan keputusan ibu untuk bersalin dibantu dukun.Kesimpulan penelitian ini adalah faktor sosial budaya memiliki pengaruh yang kuat dalam menentukan keputusan ibu memilih penolong persalinan. Disarankan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan edukasi, pendekatan berbasis budaya, serta membangun kerja sama dengan tokoh masyarakat dan dukun tradisional agar dapat menekan angka persalinan non-medis dan meningkatkan keselamatan ibu serta bayi.
Analisis Faktor Risiko Kematian Neonatal pada Era Pasca-Pandemi di Indonesia Tahun 2025 Ghita, Dwi; Yuliandini, Astri; Riska Reviana
Midwife Care Journal Vol.2 No.2 (Nov 2025)
Publisher : Universitas Bhakti Asih Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65344/micare.v2i2.157

Abstract

Kematian neonatal masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, terutama pada era pasca-pandemi yang membawa perubahan besar terhadap sistem pelayanan kesehatan ibu dan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor risiko utama yang berkontribusi terhadap kematian neonatal pada tahun 2025 dengan menggunakan desain observasional analitik pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada beberapa rumah sakit daerah dan puskesmas di Indonesia selama Januari hingga September 2025 dengan total sampel 500 bayi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui rekam medis, register persalinan, serta catatan layanan neonatal, yang mencakup variabel maternal, neonatal, dan akses layanan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi bayi dengan berat badan lahir rendah mencapai 32%, sedangkan 27% mengalami gangguan pernapasan pada awal kehidupan. Selain itu, 24% ibu tercatat mengalami infeksi selama kehamilan, dan 30% persalinan dilakukan tanpa kehadiran tenaga kesehatan terlatih. Analisis regresi logistik mengungkapkan bahwa faktor risiko paling signifikan terhadap kematian neonatal adalah berat badan lahir rendah (OR = 4,21), gangguan pernapasan (OR = 3,74), infeksi maternal (OR = 2,89), tidak dilakukan inisiasi menyusu dini (OR = 2,42), serta rendahnya akses pelayanan kesehatan (OR = 2,11). Temuan ini menegaskan bahwa risiko kematian neonatal sangat dipengaruhi oleh kondisi biologis bayi, kesehatan maternal, serta kualitas layanan kesehatan yang diterima sebelum, saat, dan sesudah persalinan. Penelitian ini menekankan pentingnya penguatan layanan antenatal, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, optimalisasi praktik perawatan neonatal, serta perluasan akses layanan kesehatan berkualitas sebagai strategi kunci untuk menurunkan angka kematian neonatal di Indonesia pada era pasca-pandemi.
Edukasi Kesehatan Pra-Konsepsi untuk Mempersiapkan Kehamilan Sehat pada Pasangan Usia Subur AM, Besse Aismaria; Eppang, Yudiarsi; Yuliandini, Astri
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 3 No. 9 (2025): November
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v3i9.3429

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan kesiapan pasangan usia subur (PUS) dalam mempersiapkan kehamilan yang sehat melalui edukasi kesehatan pra-konsepsi. Program ini merupakan bagian dari upaya promotif dan preventif untuk menurunkan risiko komplikasi kehamilan dan angka kematian ibu serta bayi. Metode kegiatan meliputi ceramah interaktif, pemutaran video edukatif, dan diskusi yang melibatkan 26 peserta di Desa Lamata, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan rata-rata pengetahuan sebesar 85%, di mana sebagian besar peserta berpindah dari kategori sedang–rendah ke kategori tinggi. Selain peningkatan pemahaman, peserta juga menunjukkan antusiasme untuk melakukan pemeriksaan pra-konsepsi di fasilitas kesehatan terdekat. Kegiatan ini terbukti efektif dalam memperluas wawasan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya persiapan kesehatan sebelum kehamilan serta memperkuat kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak.
Relationship between Father Involvement in Parenting and Adolescent Mental Health Rajab, M. Alfian; Toban, Rindani Claurita; Yuliandini, Astri; Ramadani, Nadia Frisilia
Genius Journal Vol. 7 No. 1 (2026): GENIUS JOURNAL
Publisher : Inspirasi Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/gj.v7i1.900

Abstract

Introduction: Adolescence is a critical developmental stage that is vulnerable to mental health problems. Globally, about 14% of adolescents experience mental health issues, and in Indonesia, the prevalence reaches 34.9%. A study in Makassar City also revealed that 47.9% of adolescents aged 15–18 years suffer from mental health problems. Family factors, particularly father involvement in parenting, play an important role in maintaining adolescent mental health. Objective: To analyze the relationship between father involvement in parenting and adolescent mental health. Method: This quantitative study employed a descriptive analytic design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 78 tenth-grade students at SMA Negeri 3 Makassar. Data were collected using questionnaires on father involvement and adolescent mental health, and analyzed using the Chi-square test. Result: Most respondents were female (65.4%) and aged 15 years (61.5%). Adolescent mental health levels were categorized as very good (26.9%), good (59%), and poor (14.1%). Father involvement was mostly at the moderate level (70.5%), followed by high (17.9%) and low (11.5%). The Chi-square test showed a p-value of 0.000, indicating a significant relationship between father involvement in parenting and adolescent mental health. Conclusion: Father involvement in parenting has a significant impact on adolescent mental health. Higher father involvement is associated with better adolescent mental well-being. Strengthening the role of fathers, both emotionally and physically, is essential to support adolescents’ psychological well-being.
Factors Influencing Medication Adherence Among Children and Adolescents with Tuberculosis: Factors Affecting TB Medication Adherence in Youth Toban, Rindani Claurita; Rajab, M. Alfian; Yuliandini, Astri
Innovative Approaches in Health Science Journal Vol. 3 No. 1 (2026): Innovative Approaches in Health Science Journal
Publisher : CV. Paperhome Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64871/9xwet743

Abstract

Background: Tuberculosis (TB) remains a major global health challenge, particularly in low-resource and geographically isolated areas such as Papua, Indonesia. Medication adherence among children and adolescents is crucial to achieving successful treatment outcomes and preventing drug resistance. However, adherence rates remain suboptimal due to various individual, familial, and healthcare-related factors. This study aimed to identify factors associated with medication adherence among children and adolescents with TB undergoing treatment at the Agats Public Health Center, Asmat Regency, South Papua.. Methods: A quantitative analytical observational study with a cross-sectional design was conducted from November to December 2024. The study included all 35 pediatric and adolescent TB patients registered at the health center, using a total sampling technique. Data were collected through validated questionnaires measuring knowledge, attitude, family support, the role of healthcare workers, and medication adherence using the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-square test at a 95% confidence level (p ≤ 0.05). Results: Most respondents had low knowledge (77.1%), negative attitudes (85.7%), and poor family support (77.1%), while the majority perceived the role of healthcare workers as good (82.9%). Significant associations were found between knowledge (p = 0.033), attitude (p = 0.000), and the role of healthcare workers (p = 0.000) with medication adherence. Family support was not significantly associated with adherence (p = 0.068). Conclusion: Knowledge, attitude, and the role of healthcare workers significantly influence medication adherence among children and adolescents with TB. Although family support was not statistically significant, it remains an important contextual factor. Strengthening community-based health education, enhancing healthcare worker engagement, and empowering families are recommended to improve treatment adherence and outcomes, particularly in remote settings such as South Papua.