Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PENGEMBANGAN VIDEO PEMBELAJARAN TARI BARIS TUNGGAL GAYA I NYOMAN CERITA DI SANGGAR SENI TEDUNG AGUNG, DESA UBUD, KABUPATEN GIANYAR Bisma, I Dewa Gede Oka; Budiarsa, I Wayan; Putra, I Gede Gunadi
PENSI : Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Vol 2 No 1 (2022): Pensi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni - Juni 2022
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/pensi.v2i1.1710

Abstract

Proses penelitian ini diawali dengan need assessmet yaitu menidentifikasi persoalan-persoalan terkait dengan pembelajaran tari Baris Tunggal gaya I Nyoman Cerita di Sanggar Seni Tedung Agung, Desa Ubud, Kabupaten Gianyar. Hasil need assessment menunjukkan bahwa guru belum menggunakan media pembelajaran berupa video pembelajaran dalam penyampaian materi. Tari Baris Tuggal ini merupakan salah satu tari klasik yang perlu diperhatikan dan dilestarikan. Tari Baris Tunggal gaya I Nyoman Cerita sangat unik dan menarik karena memiliki beberapa ciri khas gerakan, seperti: (tayog sengkok, angsel nyerere, angsel nyogroh, angsel keled, angsel nyaup lamak, angsel ngijig, angsel ngejer gelungan dan angsel tayung), dan merupakan tari dasar yang sangat sesuai diajarkan sebagai dasar awal belajar tari Bali putra bagi anak-anak yang masih pemula. Maka dari itu peneliti tertarik untuk mengembangkan produk berupa materi tari Baris Tunggal gaya I Nyoman Cerita dilengkapi dengan Video Pembelajaran. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan (research and development) melalui beberapa tahapan yaitu: penentuan model pengembangan, prosedur pengembangan dan uji coba produk. Data yang dihasilkan berupa data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan penyekoran, sedangkan data kualitatif diperoleh berupa komentar dan saran. Hasil penelitian adalah (1) proses pembuatan video pembelajaran tari Baris Tunggal gaya I Nyoman Cerita dilakukan dengan menganalisis tari Baris Tunggal gaya I Nyoman Cerita pada aspek sejarah tari, ragam gerak, struktur dan pola lantai, tata rias dan busana serta bentuk tari secara keseluruhan yang dikemas dalam DVD. (2) Uji ahli isi, uji ahli media pembelajaran, dan uji guru tari terhadap video pembelajaran tari Baris Tunggal gaya I Nyoman Cerita. Hasil validasi dari uji ahli isi diperoleh total skor 24 dengan persentase 100%. Dari uji media pembelajaran diperoleh total skor 19 dengan persentase 95%. Sedangkan hasil dari uji guru tari diperoleh total skor 31 dengan persentase 96,87%, ini berarti produk yang dikembangkan masuk kedalam kategori sangat layak dan tidak perlu direvisi. (3) Validasi uji coba perorangan dan uji coba kelompok kecil dilakukan pada peserta didik dari Sanggar Seni Tedung Agung, Desa Ubud, Kabupaten Gianyar, menunjukkan bahwa video pembelajaran tari Baris Tunggal gaya I Nyoman Cerita dalam kategori sangat layak dan tidak perlu direvisi.
NILAI PENDIDIKAN PADA TARI “BARIS JANGKANG” DESA PELILIT, KEC. NUSA PENIDA, KAB. KLUNGKUNG Surya, Ni Komang Okta Adi; Putra, I Gede Gunadi
PENSI : Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Vol 2 No 2 (2022): Pensi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni - September 2022
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/pensi.v2i2.1817

Abstract

Penelitian ini menunjukkan bahwa Baris Jangkang terlahir dari kemenangan yang diperoleh oleh Desa Pelilit melawan Desa Watas dan Desa Tanglad dalam sebuah perang perebutan wilayah kekuasaan yang terjadi di Desa Pelilit. Nama Baris Jangkang sendiri berasal dari kalahnya musuh melawan Desa Pelilit dengan berlari terjengkang- jengkang, sehingga oleh I Jero Kulit diciptakanlah sebuah tarian yang disebut dengan Baris Jangkang karena melibatkan barisan pasukan. Prosesi pementasan Baris Jangkang diawali dengan tabuh oleh sekaa gong. Jro mangku nyakap banten, sedangkan penari merias diri. Sebelum pementasan dimulai, semua penari, penabuh, dan alat musik diberikan tirtha penglukatan untuk menyucikan agar tidak terjadi hal yang tidak diharapkan dilanjutkan dengan melakukan persembahyangan untuk memohon agar Ida Sang Hyang Widhi Wasa merestui dan menghidupkan tarian sehingga memiliki taksu. Pementasan Baris Jangkang berlangsung sekitar 15 menit diiringi dengan pesantian sebagai penetralisir kekuatan jahat yang mengganggu para penari
PEMBELAJARAN TARI BARIS AKSARA PITU, DI BANJAR KERTHA PASCIMA, DESA ADAT TANJUNG BENOA, KECAMATAN KUTA SELATAN, KABUPATEN BADUNG Suwedana, I Kadek Mejon; Mudiasih, Ni Wayan; Putra, I Gede Gunadi
PENSI : Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Vol 2 No 2 (2022): Pensi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni - September 2022
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/pensi.v2i2.1821

Abstract

Penelitian ini membahas tentang pembelajaran tari Baris Aksara Pitu di Banjar Kertha Pascima, Desa Adat Tanjung, Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Dalam pelatihan pembelajaran tari Baris Aksara Pitu guna meningkatkan generasi baru yang mampu meneruskan tari Wali yang ada pada Banjar Kertha Pascima, selain itu peserta didik dikenalkan dengan karakteristik tari Baris Aksara Pitu. Banjar Kertha Pascima merupakan lokasi pembelajaran yang dilaksanakan, posisi Banjar Kertha Pascima berada pada bagian barat balai Desa Adat Tanjung Benoa. Berdasarkan latar belakang penelitian, maka rumusan masalah yang dapat dirumuskan diantaranya, mengenai karakteristik tari Baris Aksara Pitu di Banjar Kertha Pascima, Desa Adat Tanjung, Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, proses pembelajaran, serta faktor pendukung dan penghambat dalam proses pembelajaran tari Baris Aksara Pitu tersebut. Metode yang digunakan dalam pembelajaran tari Baris Aksara Pitu merupakan metode Drill metode ini yang mendukung dalam pelaksanaan pembelajaran dikarenakan metode pembelajaran Drill tersebut atau latihan berulang ulang merupakan serangkaian latihan praktek yang dilakukan oleh peserta didik. Selain itu adapun metode yang digunakan sebagai teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan, teknik analisis data, serta teknik penyajian hasil analisis penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penggunaan metode Drill atau latihan berulang-ulang dengan metode demonstrasi, ceramah dengan metode tersebut pembelajaran berjalan dengan efektif. Dalam penilaian adapun nilai yang diperoleh peserta didik dari wiraga, wirama, dan wirasa juga baik dan memuaskan. Adapun faktor pendukung dan penghambat proses pembelajaran adalah faktor internal dan eksternal. Faktor internal, meliputi faktor jasmaniah dan faktor psikologi yang terdiri dari tingkat kecerdasan, sikap, minat, bakat, dan motivasi peserta didik. Sedangkan pada faktor eksternal, meliputi faktor guru, faktor sarana, dan prasarana, serta faktor situasi dan kondisi.
PEMBELAJARAN KOREOGRAFI DASAR DENGAN METODE TEAM BASED PROJECT PADA KELAS XII MIPA 1 DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 MARGA, KABUPATEN TABANAN Arini, Si Ayu Rai Celuk; Dewi, Ni Made Liza Anggara; Putra, I Gede Gunadi
PENSI : Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/pensi.v4i1.3074

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai pembelajaran Koreografi Dasar dalam mata pelajaran Seni Budaya dengan menerapkan metode pembelajaran Team Based Project pada kelas XII MIPA 1 di SMA Negeri 1 Marga, Kabupaten Tabanan. Adapun yang melatarbelakangi penelitian ini ialah, berdasarkan data empiris yang ada di lapangan peserta didik dituntut agar mampu menciptakan suatu karya tari, sedangkan pada realitanya tidak semua peserta didik memiliki kemampuan dalam mencipta dan menata gerak tari. Adapun permasalahan yang dirumuskan pada penelitian ini ada empat, yaitu: bagaimana konsep pembelajaran, tahapan pembelajaran, capaian pembelajaran, dan kontribusi pembelajaran Koreografi Dasar dalam mata pelajaran Seni Budaya yang diberikan kepada SMA Negeri 1 Marga, Kabupaten Tabanan. Hasil penelitian yang dilaksanakan dalam 16 kali pertemuan menunjukkan bahwa konsep pembelajaran yang diterapkan dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif dengan sistem penilaian berupa penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan, serta out put dari pembelajaran ini yaitu peserta didik mampu berperan aktif dalam menyusun koreografi sederhana secara berkelompok. Pembelajaran dilaksanakan dalam empat tahapan. Pertama tahap persiapan komponen pembelajaran, kedua tahap penyampaian materi Koreografi Dasar, ketiga tahap latihan menyusun gerak koreografi, dan keempat tahap penampilan sekaligus dilakukan penilaian. Adapun hasil dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan ialah sebagian besar peserta didik mendapatkan skala nilai baik dan amat baik. Hal ini menunjukkan bahwa capaian pembelajaran telah tercapai. Pembelajaran Koreografi Dasar dengan Metode Team Based Project mampu memberikan rangsangan positif bagi pengalaman berkreativitas siswa dalam menata gerak tari secara berkelompok.
Negotiating the Third Space: Islamic Performing Arts and Cultural Diplomacy Between Muslim Minorities and Royal Patronage in Bali Sariada, I Ketut; Gunadi Putra, I Gede; Rahiminejat, Rahim
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol. 15 No. 3 (2025): Identity in Contemporary Bali
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JKB.2025.v15.i03.p06

Abstract

In Bali, Islamic performing arts have long bridged relations between Muslim minority communities and the puri royal courts, shaped by trade, intermarriage, and mutual coexistence. This study examines Rodat as a medium of social interaction and identity negotiation in Kepaon, Denpasar, and Puri Agung Pemecutan, with comparisons from other regions in Bali. Using a qualitative ethnographic approach that combines observation, interviews, and document analysis, the research traces the historical, symbolic, and political dimensions of these practices. The findings show that Rodat and other Islamic performances serve dual functions: preserving Muslim identity while legitimizing palace authority, creating a third space that enables coexistence without forced assimilation. This space functions as a mechanism of interfaith diplomacy, reinforced through rituals, mutual recognition, and cultural patronage. In doing so, this study advances theoretical understanding by demonstrating how Bhabha’s ‘third space’ can be institutionalized through traditional patronage, enabling coexistence without assimilation.
Negotiating the Third Space: Islamic Performing Arts and Cultural Diplomacy Between Muslim Minorities and Royal Patronage in Bali Sariada, I Ketut; Gunadi Putra, I Gede; Rahiminejat, Rahim
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol. 15 No. 3 (2025): Identity in Contemporary Bali
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JKB.2025.v15.i03.p06

Abstract

In Bali, Islamic performing arts have long bridged relations between Muslim minority communities and the puri royal courts, shaped by trade, intermarriage, and mutual coexistence. This study examines Rodat as a medium of social interaction and identity negotiation in Kepaon, Denpasar, and Puri Agung Pemecutan, with comparisons from other regions in Bali. Using a qualitative ethnographic approach that combines observation, interviews, and document analysis, the research traces the historical, symbolic, and political dimensions of these practices. The findings show that Rodat and other Islamic performances serve dual functions: preserving Muslim identity while legitimizing palace authority, creating a third space that enables coexistence without forced assimilation. This space functions as a mechanism of interfaith diplomacy, reinforced through rituals, mutual recognition, and cultural patronage. In doing so, this study advances theoretical understanding by demonstrating how Bhabha’s ‘third space’ can be institutionalized through traditional patronage, enabling coexistence without assimilation.
Discovery Nusantara Creative Dance Creation Training as a Platform for Talent Development and Social Therapy for Inmates at Kerobokan Women's Prison Agustawan, Dewa Made; Putra, I Gede Gunadi; Widyastuti, Ida Ayu Gede Sasrani
Outline Journal of Community Development Vol. 3 No. 2: November 2025
Publisher : Outline Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61730/zxt1s059

Abstract

This community service activity aims to provide training in creating the creative dance "Discovery Nusantara" as a means of developing talent, increasing self-confidence, and social therapy for children in Kerobokan Women's Prison. The implementation method of this service activity uses a participatory approach by actively involving the inmates in the process of creating, practicing, and performing the dance. In addition to being a means of entertainment, this activity also serves as a forum for developing the interests and talents of the inmates of Kerobokan Prison. The results of the activity show that there is an increase in motor skills, creativity, and social interaction of participants when participating in the creation, practice, and performance sessions. This activity also contributes to building and strengthening local cultural values ​​and broadening the participants' artistic and cultural insights.