Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

KONFLIK TOKOH DALAM NOVEL MALEWA LELAKI YANG BERJALAN DI ATAS AIR KARYA ANDHIKA MAPPASOMBA Caca Rahma Wati; Sri Suryana Dinar; Asma Wati Ndita; Wa Ode Fitriani Sari
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 1 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JANUARI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i1.1215

Abstract

This research is entitled Character Conflict in the Novel Malewa The Man Who Walks on Water by Andhika Mappasomba. The problem of this research is how the character conflict occurs in the novel Malewa Lelaki yang Berjalan di Atas Air by Andhika Mappasomba. This research aims to describe the conflict between the characters in the novel Malewa Lelaki yang Berjalan di Atas Air by Andhika Mappasomba. This type of research is library research, using qualitative descriptive methods. The data in this research is written data in the form of character conflicts in the novel Malewa Lelaki Berjalan di Atas Air by Andhika Mappasomba. The data source in this research is the novel entitled Malewa Lelaki yang Berjalan di Atas Air by Andhika Mappasomba, published by Rumah Bunyi, Kendari, 2019 with a thickness of 143 pages. Data collection techniques in this research are analytical reading, intensive reading and note taking. The data analysis technique used in this research is using a structural approach. The results of this research show that the conflicts contained in the novel Malewa Lelaki Yang Berjalan di Atas Air by Andhika Mappasomba are internal conflict and external conflict. Internal conflict in the novel Malewa Lelaki yang Berjalan di Atas Air by Andhika Mappasomba consists of physical conflict that occurs in the characters Malewa, Cousin Atikah, and Girl Wasior, social conflict that occurs in each character, natural conflict that occurs in the character Malewa, Lelaki Tua, Captain and Crew, and Vice President. The main factor causing conflict in the novel Malewa Lelaki yang Berjalan di Atas Air by Andhika Mappasomba is the conflict between love and parental approval.
MAKNA DALAM NOVEL AKU TAK MEMBENCI HUJAN KARYA SRI PUJI HARTINI KAJIAN SEMIOTIK ROLAND BARTHES Asmin; La Ode Syukur; Sri Suryana Dinar; Wa Ode Fitriani Sari
Jurnal Pesastra (Pendidikan Bahasa dan Sastra) Vol. 2 No. 3 (2025): Jurnal Pesastra Edisi Agustus
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/pesastra.v2i3.98

Abstract

This study aims to reveal the meanings contained in the novel Aku Tak Membenci Hujan by Sri Puji Hartini using Roland Barthes' semiotic approach. One of the benefits of this research is to serve as a reference for future studies, particularly those concerning the application of Barthes' five codes in literary texts. This is a library research supported by primary data from the novel Aku Tak Membenci Hujan and secondary data from relevant literature. The method used is descriptive qualitative. The data source of this research is the novel Aku Tak Membenci Hujan by Sri Puji Hartini, published by Akad X Skuad in 2023, consisting of 348 pages. The data are in the form of written excerpts from the novel that contain elements of Barthes semiotic codes. The data were collected using reading and note-taking techniques. Data analysis was carried out using Roland Barthes' semiotic approach through five codes: hermeneutic, proairetic, semic, symbolic, and cultural codes.he results show that these five semiotic codes create a complex web of meaning in the novel's narrative, including mysteries within the story, sequences of actions, character representations, life symbols, and embedded cultural values. Through Barthes' semiotic perspective, readers are invited to uncover the latent meanings hidden beneath the surface of the text.
SOCIAL CRITISM IN THE NOVEL “SELAMAT TINGGAL” BY TERE LIYE Rahmawati; Sri Suryana Dinar; Sulfiah
Jurnal Casa Cendekia Vol 1 No 2 (2026): Juscia (Jurnal Sastra Cendekia), Vol. 1 No. 2, January 2026.
Publisher : CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66225/tmz99k62

Abstract

This study aims to describe and analyze forms of social criticism in the novel Selamat Tinggal by Tere Liye. The research employs a qualitative approach using library research methods. The data consist of words, phrases, and sentences in the novel that reflect social criticism, particularly those related to social problems. Data were collected through intensive and analytical reading techniques and analyzed using an objective approach that focuses on the intrinsic structure of the text. The findings reveal that the novel contains five major forms of social criticism: poverty, crime, family disorganization, environmental issues, and population problems. Poverty is portrayed as a structural condition that restricts access to education and healthcare, while crime—especially intellectual property piracy—is depicted as a systemic issue resulting from weak legal protection and moral awareness. Family disorganization emerges as a consequence of economic pressure and insufficient social support, positioning families as vulnerable social institutions. In addition, environmental and population issues are presented as reflections of societal neglect and imbalance. This study concludes that Selamat Tinggal functions not only as a literary work but also as a medium of social reflection that critiques social inequality and injustice within contemporary Indonesian society. The social criticism presented in the novel encourages readers to develop social awareness and critical thinking toward existing social realities.  
DI MANA LETAK KESULITAN SISWA? MENELUSURI FAKTOR PENGHAMBAT KEMAMPUAN MENULIS TEKS PROSEDUR SISWA KELAS VII MTS: Where Do Students Struggle? Tracing the Inhibiting Factors in Writing Procedure Texts among Seventh-Grade Students of MTs Asma Dwi Mahmudah; Sri Suryana Dinar; La Ode Akhiri Zulzaman
Jurnal Pesastra (Pendidikan Bahasa dan Sastra) Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Pesastra Edisi Februari 2026
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/pesastra.v3i1.81

Abstract

Kemampuan menulis teks prosedur merupakan salah satu kompetensi penting dalam pembelajaran bahasa Indonesia karena menuntut siswa mampu mengorganisasi gagasan, memahami struktur teks, serta menerapkan kaidah kebahasaan secara tepat. Namun, dalam praktik pembelajaran masih ditemukan berbagai kesulitan yang dialami siswa dalam menulis teks prosedur. Penelitian ini bertujuan memetakan kemampuan menulis teks prosedur serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi penghambat kemampuan tersebut pada siswa kelas VII. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan subjek penelitian sebanyak 24 siswa. Data dikumpulkan melalui tes menulis teks prosedur yang dianalisis berdasarkan aspek struktur teks, ciri kebahasaan, dan aspek mekanik penulisan. Analisis data dilakukan dengan menghitung persentase ketuntasan belajar secara individual dan klasikal serta menelaah tingkat ketuntasan pada setiap aspek penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 64,58% siswa telah mencapai ketuntasan belajar, sedangkan 35,41% siswa belum tuntas. Aspek langkah-langkah menjadi bagian struktur yang paling dikuasai siswa, sementara aspek pendahuluan dan penutup masih menunjukkan tingkat ketidaktuntasan tinggi. Pada aspek kebahasaan, penggunaan kalimat perintah relatif dikuasai siswa, tetapi penggunaan kalimat larangan dan adverbia masih menjadi kendala. Aspek mekanik, khususnya penggunaan ejaan dan tanda baca, merupakan kelemahan utama dengan tingkat ketidaktuntasan sebesar 95,83%. Temuan ini menunjukkan bahwa kesulitan menulis teks prosedur dipengaruhi oleh faktor internal seperti keterbatasan kosakata, kesulitan mengembangkan ide, dan rendahnya minat menulis, serta faktor eksternal berupa strategi pembelajaran yang belum optimal. Penelitian ini memberikan gambaran empiris mengenai letak kesulitan siswa yang dapat menjadi dasar dalam merancang pembelajaran menulis teks prosedur yang lebih efektif dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
KEMAMPUAN MENULIS TEKS NARASI SISWA KELAS VII SMP: The Ability of Seventh-Grade Students to Write Narrative Texts Wa Ode Nambe; Sri Suryana Dinar; La Tike
Jurnal Pesastra (Pendidikan Bahasa dan Sastra) Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Pesastra Edisi Februari 2026
Publisher : PT. CASA CENDEKIA MEDIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/pesastra.v3i1.104

Abstract

Kemampuan menulis teks narasi merupakan salah satu keterampilan penting dalam pembelajaran bahasa Indonesia karena menuntut kemampuan siswa dalam mengembangkan ide, menyusun alur cerita, serta menerapkan kaidah kebahasaan secara tepat. Namun, dalam praktik pembelajaran masih ditemukan berbagai kesulitan yang dialami siswa dalam menulis teks narasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan menulis teks narasi siswa kelas VII SMP Negeri 5 Kendari serta mengidentifikasi letak kesulitan yang dialami siswa dalam proses penulisan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan subjek penelitian sebanyak 168 siswa. Data dikumpulkan melalui tes menulis teks narasi yang dianalisis berdasarkan aspek struktur teks dan aspek kebahasaan. Struktur teks narasi meliputi orientasi, komplikasi, resolusi, dan koda, sedangkan aspek kebahasaan meliputi kesesuaian isi dengan judul, pemilihan diksi, penggunaan huruf kapital, serta tanda baca. Analisis data dilakukan dengan menghitung persentase kemampuan siswa pada setiap aspek penilaian untuk memetakan letak kesulitan menulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan menulis teks narasi siswa belum mencapai ketuntasan secara klasikal, dengan persentase ketuntasan sebesar 51,78% dan 48,22% siswa belum tuntas. Kesulitan siswa paling menonjol terdapat pada penyusunan resolusi dan koda, kesesuaian isi cerita dengan judul, serta penerapan kaidah kebahasaan, khususnya pemilihan diksi, penggunaan huruf kapital, dan tanda baca. Temuan ini menunjukkan bahwa siswa relatif mampu memulai dan mengembangkan konflik cerita, tetapi masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan cerita secara runtut dan menggunakan bahasa tulis secara tepat. Penelitian ini memberikan gambaran empiris mengenai letak kesulitan siswa dalam menulis teks narasi yang dapat menjadi dasar dalam merancang pembelajaran menulis yang lebih efektif dan berorientasi pada penguatan struktur teks serta kaidah kebahasaan.