Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Analisis Perkembangan Bahasa Daerah Tidore Pada Anak Kelompok B Di PAUD Rirorano Topo 3 Kota Tidore Kepulauan Taib, Bahran; Arifin, Andi Agustan; Wondal, Rosita; Ramli, Karlina
Jurnal Ilmiah Cahaya Paud Vol 6, No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Cahaya Paud (Edisi November)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/cahayapd.v6i2.9042

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk memahami perkembangan bahasa daerah Tidore pada anak kelompok B PAUD Rirorano Topo 3 Kota Tidore Kepulauan. Metode penelitian kualitatif dengan memakai pendekatan deskriptif dengan subjek penelitian sebanyak 11 anak dan 2 guru. Teknik pengumpulan data yang dilakukan ialah observasi, wawancara, serta dokumentasi. Teknik analisis data terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini memperlihatkan perkembangan bahasa daerah Tidore pada anak kelompok B di PAUD Rirorano terlihat dengan 3 indikator yakni: 1). Mengucapkan kata yang tepat, dari 11 anak, terdapat 7 anak yang sudah mampu mengucapkan kata sederhana dalam bahasa Tidore, sedangkan 4 anak lainnya belum mampu mengucapkan kata dalam bahasa Tidore dengan tepat, karena ketika ditanya anak hanya diam tidak bereaksi apa-apa. Hal ini karena ketika guru mengajar anak tidak menyimak apa yang dikatakan guru melainkan anak bermain dengan teman dibelakang. 2). Memahami bahasa daerah Tidore, dari 11 anak, terdapat 5 anak yang sudah mampu memahami bahasa daerah Tidore, sedangkan 6 anak lainnya masih kesulitan, terutama dalam mengulang kalimat yang rumit. Kemampuan anak dalam memahami penjelasan guru tentang bahasa Tidore juga sangat terbatas. Hal ini diperparah oleh metode pembelajaran yang kurang menarik, sehingga anak-anak cenderung merasa malas selama proses pembelajaran bahasa daerah tersebut. 3). Berbahasa daerah Tidore, dari 11 anak, terdapat 5 anak yang mampu berbahasa daerah Tidore, sedangkan 6 anak lainnya belum lancar dan belum bisa berbahasa daerah Tidore dikarenakan di rumah mereka hanya menggunakan bahasa Indonesia sehingga pada saat berbahasa daerah Tidore anak terbata-bata dalam pengucapannya.
Analisis Kemampuan Mengenal Konsep Bilangan Dalam Permainan Maze Peta Pada Anak Umur 4-5 Tahun Di PAUD Pembina 1 Kota Ternate S. Safar, Widya Rahmadini; Mahmud, Nurhamsa; Samad, Farida; Alhadad, Bujuna; Arifin, Andi Agustan; Maronta, Yusuf
Jurnal Ilmiah Cahaya Paud Vol 7, No 1 (2025): Jurnal Ilmiah Cahaya Paud (Edisi Mei)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/cahayapd.v7i1.9848

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peningkatan kemampuan mengenal lambang bilangan melalui permainan maze peta pada anak usia 4–5 tahun di PAUD Pembina 1 Kota Ternate. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian terdiri dari 1 orang guru kelas A dan 10 anak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, permainan maze peta terbukti efektif dalam membantu anak mengenal konsep lambang bilangan. Penerapan pembelajaran dilakukan melalui beberapa indikator sebagai berikut: 1) Mengenal angka 1-10, guru mengajak anak-anak bernyanyi sambil menghitung menggunakan jari-jari tangan. Selanjutnya, guru memperkenalkan permainan maze peta yang memuat angka-angka sebagai sarana untuk mengenal konsep bilangan. Untuk anak yang mengalami kesulitan dalam menghitung, guru menerapkan metode menghitung jumlah anak dimulai dari diri sendiri. Metode ini membuat pembelajaran menjadi menyenangkan dan disukai oleh anak. 2) Menyebut urutan bilangan, guru menuliskan angka di papan tulis dan mengajak anak-anak menyebutkan angka 1-10 secara bersama-sama. Bila terdapat anak yang belum bisa menyebutkan urutan bilangan dengan benar, guru akan memberikan pertanyaan ulang untuk membantu pemahaman anak-anak. 3) Mencocokkan angka 1-10 dengan benda, guru menggunakan permainan maze peta yang menampilkan angka 1-10 yang ditempatkan di perahu dan pulau. Anak diminta mencocokkan angka dengan benda yang sesuai. Aktivitas ini menarik minat anak dan membantu anak-anak memahami hubungan antara angka dan objek. 4) Menghubungkan konsep dengan lambang bilangan, melalui permainan maze peta, guru membantu anak menghubungkan konsep bilangan dengan lambangnya. Setiap perahu dan pulau diberi angka 1-10. Anak diminta maju ke depan, mengambil perahu, dan mencari jalan menuju pulau yang memiliki angka yang sama. Aktivitas ini memungkinkan anak mengaitkan konsep bilangan dengan simbol angkanya secara menyenangkan dan bermakna.
Analisis Perkembangan Bahasa Daerah Tidore Pada Anak Kelompok B Di PAUD Rirorano Topo 3 Kota Tidore Kepulauan Taib, Bahran; Arifin, Andi Agustan; Wondal, Rosita; Ramli, Karlina
Jurnal Ilmiah Cahaya Paud Vol 6, No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Cahaya Paud (Edisi November)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/cahayapd.v6i2.9042

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk memahami perkembangan bahasa daerah Tidore pada anak kelompok B PAUD Rirorano Topo 3 Kota Tidore Kepulauan. Metode penelitian kualitatif dengan memakai pendekatan deskriptif dengan subjek penelitian sebanyak 11 anak dan 2 guru. Teknik pengumpulan data yang dilakukan ialah observasi, wawancara, serta dokumentasi. Teknik analisis data terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini memperlihatkan perkembangan bahasa daerah Tidore pada anak kelompok B di PAUD Rirorano terlihat dengan 3 indikator yakni: 1). Mengucapkan kata yang tepat, dari 11 anak, terdapat 7 anak yang sudah mampu mengucapkan kata sederhana dalam bahasa Tidore, sedangkan 4 anak lainnya belum mampu mengucapkan kata dalam bahasa Tidore dengan tepat, karena ketika ditanya anak hanya diam tidak bereaksi apa-apa. Hal ini karena ketika guru mengajar anak tidak menyimak apa yang dikatakan guru melainkan anak bermain dengan teman dibelakang. 2). Memahami bahasa daerah Tidore, dari 11 anak, terdapat 5 anak yang sudah mampu memahami bahasa daerah Tidore, sedangkan 6 anak lainnya masih kesulitan, terutama dalam mengulang kalimat yang rumit. Kemampuan anak dalam memahami penjelasan guru tentang bahasa Tidore juga sangat terbatas. Hal ini diperparah oleh metode pembelajaran yang kurang menarik, sehingga anak-anak cenderung merasa malas selama proses pembelajaran bahasa daerah tersebut. 3). Berbahasa daerah Tidore, dari 11 anak, terdapat 5 anak yang mampu berbahasa daerah Tidore, sedangkan 6 anak lainnya belum lancar dan belum bisa berbahasa daerah Tidore dikarenakan di rumah mereka hanya menggunakan bahasa Indonesia sehingga pada saat berbahasa daerah Tidore anak terbata-bata dalam pengucapannya.