Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Kelayakan Ektsrak Kulit Putih Semangka (Citrullus Lanatus) Sebagai Lip Balm Untuk Perawatan Bibir Kering Latisa, Putri; Novelni, Ringga
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.12998

Abstract

Penelitian ini tentang kelayakan lip balm ekstrak kulit putih buah semangka terhadap bibir kering. Penelitian ini dilatar belakangi dari permasalahan pada bibir yaitu bibir kering yang membuat seseorang memiliki bibir kering dan pecah-pecah. Oleh sebab itu penelitian tertarik untuk meneliti kelayakan ekstrak kulit putih buah semangka karena memiliki kandungan yang baik untuk permasalah bibir kering. Penelitian bertujuan menganalisis pembuatan pelembab bibir, kelayakan uji kandungan vitamin A, vitamin C, uji homogenitas kelayakan uji organoleptik (aroma, tekstur dan warna), juga dilihat dari uji hedonik (kesukaan panelis), dan uji pH. 1) Hasil uji kadar F1 F2 F3 vitamin A (-), vitamin C (+). hasil uji pH yaitu F1 pH 5,5. F2 F3 pH 5. 2 hasil uji organoleptik dilihat dari 3 sediaan adalah F1 85% F2 85% menyatakan halus, F1 42% F2 57% menyatakan cukup berwarna kuning pucat F3 71% menyatakan cukup berwarna kuning pucat. 3) hasil uji hedonik dilihat dari kesukaan panelis adalah F1 57% panelis menyatakan cukup suka lip balm ekstrak kulit putih buah semangka, F2 85% panelis menyatakan lip balm cukup suka lip balm ekstrak kulit putih buah semangka, F3 57% panelis menyatakan cukup suka lip balm ekstrak kulit putih buah semangka. hasil Kelayakan lip balm ekstrak kulit putih buah semangka terhadap bibir kering dengan kosentrasi 10% 20% dan 30% di dapatkan hasil bahwa formulasi satu (F2) adalah formulasi terbaik karena berdasarkan hasil uji skrining fitokimia formulasi satu (F2) memiliki vitamin C positif tapi vitamin A negatif, berdasarkan hasil uji pH formulasi satu (F2) memiliki pH 5. Berdasarkan penilaian hasil uji organoleptik didapatkan warna yaitu putih kekuningan, dan aroma cukup beraroma khas ekstrak. Berdasarkan hasi uji hedonik atau kesukaan panelis didapatkan formulasi satu (F2) yang disukai panelis.
Pemanfaatan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium Guajava L.) dan Kayu Manis (Cinnamomum Burmanii) Sebagai sediaan Krim Kosmetik Pewarna Rambut Beruban Rahma Putri, Dian; Novelni, Ringga
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengenai pemanfaatan ekstrak daun jambu biji dan kayu manis sebagai sediaan krim pewarna rambut beruban. Penelitian ini dilatar belakangi dari permasalahan pada rambut yaitu rambut beruban yang muncul pada usia muda. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti pemanfaatan ekstrak daun jambu biji dan kayu manis sebagai sediaan krim pewarna rambut beruban karena daun jambu biji dan kayu manis memilki zat yang dapat menghasilkan warna. Penelitian bertujuan untuk menganalisis pembuatan krim pewarna rambut, dan melihat hasil dari uji pH, uji homogenitas, uji aktivitas warna yang dihasilkan sediaan, uji organoleptik(tekstur, aroma dan warna), dan uji hedonik (Kesukaan panelis). Hasil penelitian diperoleh dari uji kadar pH setiap formulasi berada dalam range yang aman sebagai sediaan krim pewarna rambut. Hasil uji homogenitas menunjukkan sifat yang homogen pada setiap formulasi. Pada uji aktivitas warna yang dihasilkan sediaan menunjukkan setiap formulasi sediaan menghasilkan warna pada helaian rambut dengan kepekatan warna yang berbeda. Pada uji organoleptik, panelis menyatakan F1 sebagai sediaan dengan tekstur sangat kental, beraroma khas daun jambu biji dan kurang berwarna coklat. Pada formulasi F2, panelis menyatakan sediaan bertekstur sangat kental, beraroma khas daun jmabu biji. Dan berwarna coklat. Sedangkan formulasi F3 dipilih sebagai sediaan yang disukai panelis dalam uji hedonik dan bertekstur kental, sangat beraroma khas daun jmabu biji dan kayu manis serta berwarna sangat coklat. Dengan demikian ekstrak daun jmabu biji dan kayu manis dapat dimanfaatkan sebagai sediaan krim pewarna rambut beruban dinilai dari uji pH, homogenitas, aktivitas warna yang dihasilkan sediaan, uji organolpetik dan uji hedonik.
Pemanfaatan Ekstrak Daun Kersen sebagai Sediaan Gel Moisturizer untuk Perawatan Kulit Wajah Berjerawat Sri Selva, Wilvy; Novelni, Ringga
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jerawat adalah peradangan pada saluran kelenjar minyak yang berlebihan yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus epidermis, bakteri Staphylococcus aureus, dan bakteri Propionibakterium acnes. Tanaman daun kersen memiliki aktivitas antibakteri karena mengandung komponen senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, dan tanin. Sehingga bisa digunakan sebagai salah satu bahan untuk zat aktif dalam sediaan gel moisturizer yang dimanfaatkan untuk perawatan kulit wajah berjerawat. Penelitian ini dilatar belakangi oleh tingginya tingkat permasalahan kulit wajah berjerawat di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif, dengan desain penelitian eksperimen. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, dokumentasi, dan kuesioner dengan tujuan untuk menganalisis pemanfaatan ekstrak daun kersen sebagai sediaan gel moisturizer untuk perawatan kulit wajah berjerawat dengan melihat dari hasil uji pH, homogenitas, daya lekat, uji organoleptik (tekstur, aroma, dan warna), dan uji hedonik (kesukaan panelis). Hasil penelitian yang diperoleh dari uji kadar pH setiap formulasi berada dalam range yang aman sebagai sediaan gel moisturizer untuk perawatan kulit wajah yaitu 4,5-6,5. Hasil uji homogenitas menunjukkan sifat yang homogen pada ketiga formulasi. Pada uji daya lekat yang dihasilkan ketiga formulasi sudah memenuhi standar daya lekat sediaan gel yg baik yaitu lebih dari 1 detik. Pada uji organoleptik dan hedonik, dengan hasil pengamatan yang dilakukan pada ketiga formulasi menyatakan tekstur yang dimiliki kental, gel moisturizer beraroma khas ektrak daun kersen, dan warna gel yang dihasilkan berwarna khas ekstrak daun kersen, serta sediaan gel moisturizer ekstrak daun kersen yang banyak disukai oleh panelis yaitu formulasi F2.
Pemanfaatan Ekstrak Buah Senggani (Melastoma Malabathricum L) Sebagai Pewarna Alami Pada Sediaan Blush On Cream Rifanda, Firara; Novelni, Ringga
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buah senggani (Melastoma Malabathricum L) merupakan bahan alami yang memiliki potensi menjadi pewarna alami dalam pembuatan sediaan blush on cream karena memiliki kandungan antosianin (pigmen warna). Blush on merupakan sediaan kosmetik yang digunakan sebagai pewarna pipi dengan sentuhan artistik dalam tata rias wajah. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis sediaan blush on cream menggunakan ekstrak buah senggani sebagai pewarna alami ditinjau dari uji laboratorium (uji pH, uji daya sebar, uji poles, uji homogenitas), uji organoleptik (warna, aroma, tekstur) dan uji hedonik. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan kuantitatif dan teknik pengumpulan data dengan metode observasi, dokumentasi, dan kuesioner. Hasil penelitian ini diperoleh dari uji laboratorium pada F1, F2, dan F3 sediaan blush on cream menggunakan ekstrak buah senggani menunjukkan hasil uji pH yang sesuai dengan standar pH kulit yaitu 4-7, uji daya sebar belum memenuhi standar yang ditetapkan, uji poles sudah memenuhi standar, dan uji homogenitas menunjukkan hasil yang homogen.
Skrinning fitokimia ekstrak daun kelor kombinasi lemon Govaldi, Gina Amelia; Novelni, Ringga
FLORONA : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2023): Florona: Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : ARKA INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55904/florona.v2i2.721

Abstract

Defenisi cantik yaitu memiliki kulit wajah yang sehat. Memiliki wajah sehat dapat melakukan perawatan menggunakan bahan alami yang mengandung senyawa antioksidan yang dapat merawat kulit wajah. salah satunya adalah daun kelor dan lemon, Daun kelor dan lemon mengandung flavonoid, tanin dan vitamin C yang telah terbukti efektif sebagai antibakteri dan mampu mengurangi peradangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia yang terdapat pada masker daun kelor kombinasi lemon menggunakan skrining fitokimia dengan dua pembanding yaitu F1 (daun kelor masker kombinasi lemon 2:4), F2 (masker daun kelor kombinasi lemon 3:5). Berdasarkan hasil skrining fitokimia diketahui F1 mengandung vitamin C tingkat sedang , flavonoid tingkat sedang dan tannin tingkat sedang . sedangkan F2 mengandung vitamin C tingkat sedang, flavonoid tingkat sedang dan tannin tingkat sedang. Hasil uji menunjukan bahwa daun kelor kombinasi lemon positif memiliki kandungan flavonoid, tannin dan vitamin c.
FORMULATION AND ANTIBACTERIAL ACTIVITY TEST OF ANTI-ACNE GEL FROM ETHANOL EXTRACT OF SENDUDUK LEAVES (Melastoma malabathricum. L) Novelni, Ringga; Mimi Yupelimi; Dina Agustina; Diza Sartika; Vici Syahril Chairani
JURNAL KATALISATOR Vol. 9 No. 1 (2024): Jurnal Katalisator Volume 9 No.1, April 2024
Publisher : LLDIKTI X Sumbar, Riau, Jambi, Kepri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62769/katalisator.v9i1.2902

Abstract

Treatment of inflamed acne is done by administering antibiotics and chemicals, which can usually cause side effects such as skin irritation and resistance. To avoid this, it can be replaced by doing traditional treatment using natural ingredients. Senduduk plant (Melastoma malabathricum L.) is one of the natural ingredients that can be used to treat acne because it contains secondary metabolites of flavonoids, phenolics, tannins and terpenoids that are very potential as antibacterials. This study aims to determine the ethanol extract of senduduk leaves can be formulated in a physically stable gel dosage form and determine the antibacterial activity against Propionibacterium acne and Staphylococcus aureus bacteria. This study used an experimental method by making 3 types of formulas containing ethanol extract of senduduk leaves (Melastoma malabathricum L.) 1.5%, 2.5% and 3.5%. Furthermore, the evaluation of the gel preparation included organoleptic test, homogeneity test, pH test, spreadability test and adhesion test. Antibacterial activity testing was carried out by the pitting diffusion method using Klindamycin as a positive control. Based on the results of the gel preparation evaluation, it shows that the anti-acne gel preparation has physical quality that meets the standards. Antibacterial activity test of senduduk leaf ethanol extract gel against S.aureus bacteria at concentrations of 1.5%, 2.5% and 3.5% had inhibition zone diameters of 20.3 mm, 21.4 mm, and 24.2 mm, respectively, while against P. acnes bacteria it was 21.6 mm, 25.3 mm, and 26.5 mm. It can be concluded that the anti-acne gel of senduduk leaf ethanol extract has antibacterial activity against S. aureus and P. acnes bacteria and can be made into an anti-acne gel dosage form.
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI ENDOFIT DARI DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) DENGAN MENGGUNAKAN GEN 16S rRNA SERTA UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERINYA Sartika, Diza; Irwandi, Irwandi; Novelni, Ringga; Alena, Meysa
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 14, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v14i2.2053

Abstract

Tanaman sirih hijau (Piper betle L.) merupakan tanaman yang banyak digunakan sebagai obat tradisional, karena memiliki kandungan metabolit sekunder yang diduga mempunyai aktivitas sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan  aktivitas antibakteri yang dihasilkan oleh bakteri endofit dari daun sirih hijau terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Daun sirih hijau yang diambil daun pucuk hijau (PH) daun muda hijau (MH) dan daun tua hijau (TH) aktivitas antibakteri diuji dengan metode Kirby-Bauer. Hasil yang didapatkan karakteristik bakteri endofit dari identifikasi morfologi secara makroskopik yaitu bulat, timbul datar, terdapat lengkungan, putih bening dan putih kekuningan. Sedangkan hasil identifikasi morfologi secara mikroskopik dengan cara pewarnaan gram yaitu berbentuk basil dan termasuk gram positif. Hasil pengujian aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji Staphylococcus aureus yaitu PH (6,91 mm), MH (10,25 mm) dan TH (10,03 mm) yang seluruhnya tergolong lemah dan termasuk bakteri yang berspektrum sempit. Sedangkan terhadap bakteri uji Escherichia coli tidak memiliki aktivitas antibakteri. Hasil identifikasi molekuler menunjukkan bahwa isolat MH memiliki kemiripan 100 % dengan Bacillus siamensis strain cqsM9 ribosomal RNA. Dapat disimpulkan bahwa terdapat 3 isolat murni bakteri endofit yang dilakukan uji aktivitas antibakteri, isolat yang memiliki aktivitas antibakteri terbesar yaitu isolat MH yang merupakan spesies dari Bacillus siamensis
Pelatihan Keterampilan Pijat Refleksi dan Pembuatan Jamu Tradisional sebagai Upaya Pengembangan Ekonomi Masyarakat Marginal di Nagari Rao-Rao Kabupaten Tanah Datar Novelni, Ringga; Mentari, Tyas Asih Surya; Dewi, Siska Miga; Oktarina, Rahmi; Sartika, Diza
Jurnal Pengabdian UNDIKMA Vol. 6 No. 4 (2025): November
Publisher : LPPM Universitas Pendidikan Mandalika (UNDIKMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jpu.v6i4.10253

Abstract

This community service program aims to improve the skills of marginalized community members in Nagari Rao-Rao in beauty services, particularly in reflexology massage and traditional herbal medicine production, to increase their income. The implementation method involved training activities through demonstrations, hands-on practice, and mentoring in reflexology massage and the preparation of traditional herbal drinks using plants commonly grown around their homes, such as ginger, turmeric, aromatic ginger (kencur), temulawak (Curcuma xanthorrhiza), and lemon. The evaluation instrument used questionnaires, and the data were analyzed descriptively. The results of the community service program showed that the marginalized community group in Nagari Rao-Rao: (1) mastered beauty service skills in the field of reflexology massage; (2) was able to produce traditional herbal products from plants available in their home gardens; and (3) developed motivation to start their own businesses as entrepreneurs to support community economic development.
ISOLATION AND IDENTIFICATION OF ENDOPHYTIC BACTERIA FROM ROOTS AND STEMS OF GREEN BETEL PLANT (PIPER BETLE L.) AND EVALUATION OF THEIR ANTIBACTERIAL ACTIVITY Novelni, Ringga
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 16, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v16i2.30714

Abstract

The green betel plant (Piper betle L.) is known to possess antibacterial activity due to its secondary metabolite content, such as tannins, saponins, flavonoids, terpenoids, polyphenols, and steroids. This study aims to determine the characteristics and antibacterial activity of endophytic bacteria isolated from the roots of the green betel plant (Piper betle L.) against Staphylococcus aureus and Escherichia coli. The research employed an experimental method involving bacterial isolation, macroscopic and microscopic identification, as well as antibacterial activity testing of the endophytic bacteria against S. aureus and E. coli using the Kirby-Bauer disk diffusion method. Furthermore, molecular identification of the endophytic bacteria was conducted using the 16S rRNA gene through the Polymerase Chain Reaction (PCR) method. The macroscopic morphological characteristics of the isolated endophytic bacteria showed round, flat-raised colonies with curved edges and a clear white appearance. Microscopic observation through Gram staining revealed that the bacteria were rod-shaped (bacilli) and Gram-positive. The antibacterial activity test showed that the isolate produced an inhibition zone of 11.45 mm against Staphylococcus aureus, which is categorized as weak and indicates that the bacteria have a narrow-spectrum antibacterial effect. Meanwhile, no antibacterial activity was observed against Escherichia coli. It can be concluded that the pure isolates of endophytic bacteria from the roots and stems of the green betel plant belong to the Gram-positive group and exhibit antibacterial activity only against Staphylococcus aureus with a weak inhibitoryeffect
Penyuluhan dan pelatihan pembuatan masker tradisional dari kulit buah asam kandis sebagai upaya pengembangan ekonomi masyarakat Nagari Salibutan Merita Yanita; Ringga Novelni; Siska Miga Dewi
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 2 (2025): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i2.28275

Abstract

AbstrakGamaran merupakan salah satu Korong yang terdapat di Nagari Salibutan. Berdasarkan observasi di lapangan terdapat hutan sosial yang luasnya mencapai 2.800 hektar di Korong Gamaran yang membudidayakan tanaman asam kandis. Asam kandis ini biasanya diolah oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Kandis Bundo Gamaran. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua KUPS Kandis Bundo Gamaran, untuk saat ini KUPS hanya menghasilkan produk olahan buah asam kandis dalam bidang kuliner dan olahan bumbu. Diketahui bahwa buah asam kandis memiliki aktivitas antioksidan sehingga bisa dikembangkan dalam bidang kecantikan seperti masker tradisional untuk perawatan kulit wajah. Namun KUPS Kandis Bundo Gamaran ini belum memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam hal tersebut. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan terhadap KUPS Kandis Bundo Gamaran tentang proses pembuatan masker tradisional berbahan dasar asam kandis sehingga bisa menghasilkan inovasi produk turunan dari asam kandis yang memiliki nilai jual yang lebih. Metode pelatihan yang digunakan adalah ceramah, diskusi, demonstrasi dan praktik. Peserta pelatihan adalah anggota KUPS Bundo Gamaran yang berjumlah 20 orang. Kegiatan pelatihan ini diawali dengan tahap perencanaan yang mencakup koordinasi terkait kebutuhan pelatihan dan sasaran pelatihan. Tahap pelaksanaan diawali dengan proses penyampaian materi dan diskusi serta dilanjutkan proses demonstrasi dan praktik pembuatan masker tradisional berbahan dasar asam kandis. Tahapan terakhir pelatihan adalah evaluasi yang mengukur capaian kegiatan pelatihan. Hasil pelatihan menggambarkan bahwa peserta dapat mengikuti kegiatan dengan penuh antusias. Selanjutnya, peserta juga dapat memenuhi beberapa indikator ketercapaian kegiatan pelatihan antara lain memahami manfaat buah asam kandisi dalam bidang kecantikan. Selanjutnya, peserta juga memahami dan mampu membuat masker tradisonal. Beberapa indikator tersebut mengindikasikan bahwa tujuan pelaksanaan pelatihan dapat tercapai dengan baik. Kata kunci: KUPS Kandis Bundo Gamaran; buah asam kandis; masker tradisional. Abstract Gamaran is one of the Korongs in Nagari Salibutan. Based on observations in the field, there is a social forest covering an area of 2,800 hectares in Korong Gamaran which cultivates kandis acid plants. Kandis acid is usually processed by the Kandis Bundo Gamaran Social Forestry Business Group (KUPS). Based on the results of an interview with the chairman of KUPS Kandis Bundo Gamaran, currently KUPS only produces processed kandis acid fruit products in the culinary and spice processing sectors. It is known that kandis tamarind fruit has antioxidant activity so it can be developed in the beauty sector such as traditional masks for facial skin care. However, KUPS Kandis Bundo Gamaran does not yet have the knowledge and skills in this matter. This service activity aims to provide knowledge and skills to KUPS Kandis Bundo Gamaran regarding the process of making traditional masks made from kandis acid so that they can produce innovative products derived from kandis acid which have greater selling value. The training methods used are lectures, discussions, demonstrations and practice. The training participants were 20 members of KUPS Bundo Gamaran. This training activity begins with a planning stage which includes coordination regarding training needs and training targets. The implementation phase begins with the process of delivering material and discussions and continues with the demonstration process and practice of making traditional masks made from kandis acid. The final stage of training is evaluation which measures the achievements of training activities. The results of the training illustrate that participants were able to participate in the activities with enthusiasm. Furthermore, participants can also fulfill several indicators of achievement of training activities, including understanding the benefits of kandisi tamarind fruit in the field of beauty. Furthermore, participants also understand and are able to make traditional masks. Several indicators indicate that the objectives of implementing the training can be achieved well. Keywords: KUPS Kandis Bundo Gamaran; kandis acid; traditional masks