Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Tanin Dari Kulit Buah Durian (Durio Zibethinus Murr) Sebagai Inhibitor Organis untuk Mereduksi Laju Korosi Baja Karbon Elfidiah, Elfidiah; Martini , Sri; Kalsum, Ummi
Jurnal INOVATOR Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal INOVATOR
Publisher : LPPM Politeknik Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37338/inovator.v8i1.460

Abstract

Korosi merupakan suatu bentuk kerusakan yang terjadi pada logam dan tidak dapat dicegah namun, korosi dapat diperlambat. Salah satu metode untuk memperlambat terjadinya korosi adalah dengan cara pemberian inhibitor. Pemilihan bahan alam sebagai inhibitor korosi merupakan salah satu alternatif yang dapat dikembangkan karena biaya yang relatif murah serta ramah lingkungan. Bahan alam yang dapat dimanfaatkan sebagai inhibitor adalah  bahan yang mengandung atom N, O, P, S, dan senyawa-senyawa yang memiliki pasangan elektron bebas pada atom penyusunnya.  Salah  satu  senyawa  yang  dapat  digunakan  sebagai  inhibitor  alami adalah polifenol, yaitu senyawa yang banyak terdapat didalam tanin kulit buah durian.Pembuatan spesimen uji dilakukan di Laboratorium Desain dan Uji Bahan Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang. Sedangkan  pengamatan  struktur  mikro dilakukan di Laboratorium Kimia Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang. Variabel yang digunakan adalah variasi konsentrasi ekstrak kulit buah durian 0 ppm, 1000 ppm, 1200 ppm, 1400 ppm. Korosi rata-rata pada konsentrasi 0 ppm adalah 6,1213 mdd, 1000 ppm adalah 2,3404 mdd, 1200 ppm adalah 2,8409 mdd,dan 1400 ppm adalah 3,5074 mdd. Dengan efisiensi inhibitor terbesar yaitu setelah perendaman selama 30 hari pada konsentrasi 1000 ppm adalah 78,98%,dan pada 40 hari konsentrasi 1200 ppm adalah 72,08%,dan 1400 ppm adalah 65,81%. Variasi konsentrasi ekstrak kulit buah durian berpengaruh terhadap laju korosi baja karbon.
Pengolahan Limbah Cair Industri Petroleum Menggunakan Membran Komposit PVDF/Karbon Aktif/TiO2 Sri Martini; Marhaini; Khairil Iksani; Elfidiah
Jurnal INOVATOR Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal INOVATOR
Publisher : LPPM Politeknik Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37338/inovator.v8i2.500

Abstract

Industri perminyakan menghasilkan limbah cair berminyak dalam jumlah yang signifikan. Hal ini memerlukan strategi pengolahan yang efektif untuk menghindari permasalahan terkait lingkungan. Dalam penelitian ini, dikembangkan membran komposit berbahan dasar polyvinylidene fluoride (PVDF), karbon aktif (AC) dari kulit singkong, serta TiO₂, yang ditujukan untuk mengolah limbah cair kilang minyak mentah dengan kandungan pencemar organik dan anorganik yang tinggi. Dalam penelitian ini, membran difabrikasi dengan variasi konsentrasi AC/TiO₂ sebesar 0, 1, 2, dan 3% untuk mengevaluasi pengaruh komposisi komposit terhadap kualitas permeat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa membran dengan penambahan AC/TiO₂ sebesar 3% memberikan kinerja paling optimal. Pada rasio tersebut, efisiensi penyisihan mencapai lebih dari 40% for BOD5,  40% for COD, 80% for oil and grease, 69% for sulfida and 60% for amonia. Dengan demikian, membran komposit berpotensi menjadi alternatif yang andal untuk pengolahan limbah cair industri. penelitian lanjutan diharapkan dapat lebih mengeksplorasi integrasi membran komposit dengan teknik pengolahan lain untuk memperpanjang umur membran sekaligus meningkatkan kualitas limbah cair.
Ekstraksi Daun Tembakau sebagai Inhibitor Untuk Memperlambat Laju Korosi Pada Pelat Baja Lunak Elfidiah Elfidiah; Atikah Atikah; Ragil.D
Jurnal INOVATOR Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal INOVATOR
Publisher : LPPM Politeknik Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37338/abased14

Abstract

Korosi merupakan proses elektrokimia yang menyebabkan penurunan mutu logam akibat interaksi dengan lingkungan. Dalam industri, korosi menyebabkan kerugian besar secara ekonomi dan operasional. Penggunaan inhibitor sintetik seperti kromat dan nitrit terbukti efektif, namun memiliki dampak toksik dan tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu, pencarian inhibitor alami yang biodegradable dan aman menjadi penting. Salah satu kandidat potensial adalah ekstrak daun tembakau (nicotiana tabacum) yang kaya akan senyawa alkaloid seperti nikotin, tanin, dan flavonoid. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui laju korosi pelat baja lunak yang direndam dalam air sungai dan air laut yang sebelumnya sudah diberi inhibitor ekstrak daun tembakau dengan waktu perendaman dan volume inhibitor yang bervariasi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dihasilkan ektrak daun tembakau menggunakan teknik maserasi dengan pelarut ethanol 96%. Inhibitor alami dari ekstrak daun tembakau ini bekerja optimum pada media air Sungai maupun larutan NaCl pada hari ke-7 dengan volume inhibitor sebanyak 15 mL dengan laju korosi 0,28208 Mpy dalam medium air Sungai dan 0,2827 Mpy dalam medium larutan NaCl. Menyimpulkan bahwa semakin lamanya perendaman maka akan semakin optimal inhibitor melindungi plat baja.
Persiapan dan Penerapan Karbon Aktif NaOH dari Limbah Teh untuk Penghilangan Amonium dan Besi dari Air Sungai Heni Juniar; Elfidiah; Eko Ariyanto; Amsi Ramadani Pratama Pratama
Jurnal Migasian Vol 10 No 1 (2026): Jurnal Migasian
Publisher : LPPM Institut Teknologi Petroleum Balongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36601/jm.v10i1.394

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah ampas teh sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif yang diaktivasi menggunakan NaOH serta mengkaji kemampuannya dalam menurunkan kadar amonium (NH₄⁺), besi (Fe). Proses pembuatan karbon aktif meliputi tahap pengeringan, karbonisasi, dan aktivasi kimia dengan variasi massa adsorben 5 g, 10 g, 15 g, 20 g, dan 25 g serta waktu kontak 1 jam. Analisis dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan massa adsorben meningkatkan efisiensi penurunan ammonium sebesar 16,66%, namun kapasitas adsorpsi per satuan massa cenderung menurun. Untuk parameter besi (Fe), kondisi optimum diperoleh pada massa adsorben 15 g dengan hasil penurunan terbaik. Sementara itu, penurunan suhu paling signifikan terjadi pada massa adsorben 25 g, yaitu dari 32°C menjadi 27°C.