Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

ANALISA PENGKONDISIAN UDARA UNTUK PROSES PENGURANGAN KADAR AIR PADA WORTEL Hendradinata Hendradinata; Muhamad Cipto
PETRA : Jurnal Teknologi Pendingin dan Tata Udara Vol 5 No 2 (2018): jurnal PETRA
Publisher : Politeknik Sekayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.238 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisa pengkondisian udara untuk proses pengurangan kadar air padawortel. Alat yang di gunakan recirculating air condentioning unit dengan menggunakan tiga metode yaitu; (1)Dehumidifikasi; (2) Heater; (3) Dehumidifikasi dan Heater. Teknik analisa data yang di gunakan dalampenelitian ini adalah analisis data kuantitatif yang bersifat pengelola angka-angka dari hasil percobaan yangpeneliti lakukan dengan menggunakan waktu percobaan 30 menit, 60 menit, 90 menit, 120 menit, dan 150menit. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukan bahwa pengurangan kadar air dengan waktu 30 menit, 60menit, 90 menit, 120 menit, dan 150 menit dengan dehumidifikasi persentase susut masing-masing yaitu 12%,20%, 36%, 34%, 40%, dengan menggunakan heater masing-masing yaitu 20%, 24%, 40%, 52%, 62%, dengandehumidifikasi dan heater persentase susut masing-masing menjadi 16%, 40%, 50%, 68% dan 78%. Maka,berdasarkan hasil analisa data pengukuran dan pembahasan yang di lakukan dapat di simpulkan bahwapengkondisian udara untuk proses pengurangan kadar air yaitu dengan menggunakan dehumidifikasi dan heaterdengan waktu 150 menit persentase susutnya menjadi 78%.Kata Kunci: Wortel,Dehumidifikasi, dan Heater
RANCANG BANGUN WATER HEATER DENGAN MEMANFAATKAN PANAS AIR CONDITIONING Hendradinata Hendradinata; Ferry Irawan; Aan Pra Kesuma
PETRA : Jurnal Teknologi Pendingin dan Tata Udara Vol 5 No 2 (2018): jurnal PETRA
Publisher : Politeknik Sekayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.262 KB)

Abstract

Rancang Bangun Water Heater Dengan Memanfaatkan Panas Air Conditioning adalah media mesin AirConditioning yang dimodifikasi untuk menghasilkan fungsi ganda selain fungsi utamanya. Yang dilakukanuntuk memanfaatkan panas yang keluar dari kompresor yang digunakan untuk memanaskan air untuk mandi.Pada rancang bangun ini, dibagi menjadi beberapa tahap yaitu penentuan komponen, perhitungan danperancangan. Hasil analisa perhitungan perencanaan alat penukar kalor tipe helix (spring) pada tabung waterheater dari panas buang pada kompresor dibutuhkan panjang pipa 2,22 meter dengan jumlah lilitan 3 lilitandimasukan dalam tabung dengan dimensi : Diameter 34 cm dan tinggi 37 cm volume air yang bisa ditampung30 liter dengan suhu air mencapai 60 ℃.Kata kunci: Rancang Bangun,Water Heater, Suhu
ANALISA PENGURANGAN KADAR UAP AIR PADA KENTANG MENGUNAKAN METODE DEHUMIDIFIER Baiti Hidayati Hidayati; Hendradinata Hendradinata Hendradinata; Reza Wahyudi Wahyudi
PETRA : Jurnal Teknologi Pendingin dan Tata Udara Vol 6 No 1 (2019): JURNAL PETRA
Publisher : Politeknik Sekayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.517 KB)

Abstract

Dehumidifikasi merupakan salah satu proses yang dapat di gunakan untuk menurunkan kadaruap air di udara sehingga mengakibatkan kelembaban udara menjadi turun, kemudian akan memberipengaruh pada kentang, pengurangan uap air pada kentang mengunakan sistem refrigerasi denganmenambah heater. bertujuan untuk menganalisa pengurangn kadar uap air pada kentang. Alat yangdigunakan recirculating air condentioning unit dengan mengunakan dehumidifier pada variasitemperatur yang berbeda yaitu: 60°C, 80°C dan 100°C. cara penganalisa dalam pengambilan data kaliini adalah analisa data kuantitatif yang bersifat pengelolaan data angka–angka dari hasil percobaanyang peneliti lakukan dengan menggunakan waktu percobaan 60 menit, 120 menit 180 menit, 240menit, 300 menit. Berdasarkan hasil peneliti pada temperatur 60°C, menunjukkan bahwa pengurangankadar uap air dengan waktu 60 menit, 120 menit, 180 menit, 240 menit, dan 300 menit. denganpersentase susut masing-masing yaitu 29%, 44%, 60%, 74%, 81%, pada temperatur 80°C, didapatkanpersentase susut masing-masing sebesar 36%, 62%, 79%,85%, 86%, selanjutnya pada temperatur100°C di dapatkan persentase susut masing-masing yaitu 40%, 63%, 78%, 86%, 87%. Maka,berdasarkan hasil analisa data pengukuran dan pembahasan yang dilakukan dapat disimpulkanbahwa untuk proses pengurangan kadar uap air pada kentang yaitu dengan mengunakan dehumidifierpada temperatur 100°C menit ke 300 menit persentase susutnya menjadi 87%.Kata Kunci: Dehumidifier, Kentang, Heater, Presentase susut.
PERBANDINGAN PROSES PENGURANGAN KADAR AIR PADA KARET (BOKAR) DENGAN CARA PANAS SINAR MATAHARI DAN RECICULATING AIR CONDITIONING UNIT Hendradinata Hendradinata Hendradinata; Ferry Irawan Irawan; Nata Syaripudin Syaripudin
PETRA : Jurnal Teknologi Pendingin dan Tata Udara Vol 6 No 1 (2019): JURNAL PETRA
Publisher : Politeknik Sekayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.141 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisa perlakuan untuk proses pengurangan kadar air pada Karet (Bokar). Subjekpembekuan getah karet yaitu Asap Cair, dengan menggunakan panas sinar matahari dan alat Recirculating AirConditioning unit dengan metode dehumidifikasi dan pemanas dialirkan udara. Teknik analisa data yangdigunakan adalah analisis data kuantitatif yang bersifat pengelola angka-angka dari hasil percobaan yangpeneliti lakukan dengan menggunakan waktu 240 menit dan massa karet sebesar 300 gram. Berdasarkan hasilpercobaan menunjukan bahwa pengurangan kadar air pada waktu 60 menit, 120 menit, 180 menit dan padawaktu 240 menit dengan panas sinar matahari susut masing-masing yaitu 5,67%, 9,67%, 13%, 13,67%,dengan menggunakan dehumidifikasi dan pemanas dialirkan udara susut masing-masing menjadi 6%, 11,67%,16,67%, 21%. Maka, dapat disimpulkan untuk proses pengurangan kadar air yang tepat menggunakanperlakuan dehumidifikasi dan pemanas dialirkan udara dengan waktu 240 menit susut 21%. Berdasarkan hasilpercobaan dan analisa Laboratorium PT. Kirana Musi Persada menunjukan bahwa perlakuan panas sinarmatahari untuk kadar karet kering sebesar 56,72% dan dehumidifikasi dan pemanas kadar karet kering sebesar63,17%. Maka perlakuan yang tepat dilakukan untuk kadar karet kering yaitu proses dehumidifikasi danpemanas dengan kadar karet kering sebesar 63,17%. Bersasarkan analisa Break Even Point (BEP) menunjukanbahwa menggunakan perlakuan panas sinar matahari memerlukan jumlah karet sebesar 13,76 Kg untuk satu haripercobaan dan perlakuan Recirculating Air Conditioning unitmemerlukan jumlah karet sebesar 13,64 Kg untuksatu hari percobaan.Kata Kunci : Karet, Asap Cair, Panas, Sinar Matahari, Recirculating Air Conditioning Unit dan BEP
PENGARUH SUDUT KEMIRINGAN SUDU TERHADAP KINERJA TURBIN ACHARD YANG DIGABUNG DENGAN DEFLEKTOR 30° Dodi Tafrant Tafrant; Hendradinata Hendradinata Hendradinata
PETRA : Jurnal Teknologi Pendingin dan Tata Udara Vol 6 No 1 (2019): JURNAL PETRA
Publisher : Politeknik Sekayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.721 KB)

Abstract

Turbin Achard adalah salah satu tipe turbin aliran lintang bersumbu tegak yang bisa digunakan di alirandengan head rendah. Karena itu, turbin tipe ini bisa digunakan di aliran irigasi atau sungai tanpa harusmembendungnya terlebih dahulu. Hal ini memberikan keuntungan dari segi biaya yang harus dikeluarkan,maupun dari segi ekologi yang tidak merusak alam selain juga akan memberikan fungsi lain kepada aliranirigasi kanal terbuka menjadi sumber energi terbarukan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tiga suduturbin Achard NACA 0020 di aliran irigasi kanal terbuka yang terletak di Kabupaten OKU Timur PropinsiSumatera Selatan. Aliran yang dipakai mempunyai kecepatan 0,55 m/s, 0,61 m/s, dan 0,71 m/s. Penelitian inimendapatkan hasil bahwa penambaan sudut kemiringan sudu pada turbin Achard memberikan penambahanpada efisiensi, namun memberikan pengurangan pada koefisien torsi.Kata Kunci: Turbin Achard, Efisiensi Turbin, Koefisien Torsi
PERHITUNGAN BEBAN PENDINGIN PADA GEDUNG AULA MA NEGERI 1 MUBA Hendradinata hendradinata; Suci Aji Pratama
PETRA : Jurnal Teknologi Pendingin dan Tata Udara Vol 7 No 2 (2020): jurnal PETRA
Publisher : Politeknik Sekayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pehitungan beban pendingin merupakan suatu analisa mengetahui seberapa besar kalor/panas yang ada dalamsuatu ruangan, sehingga dapat ditentukan seberapa besar pendinginan yang dibutuhkan untuk membuat ruangantetap dalam kondisi dingin. Dalam pemasangan dan penggunaannya, sistem tata udara memerlukan biaya yang tidaksedikit. Pemakaian sistem tata udara yang tidak tepat dengan kebutuhannya akan mengakibatkan pemborosan, baikitu energi maupun biaya yang cukup mahal. Setiap bangunan atau ruangan selain mempunyai kondisi bebanpendinginan juga mempunyai beban total pendinginan ruangan, yang biasanya berubah-ubah setiap jamnya.Sehingga dalam hal ini diperlukan survey langsung dan perhitungan untuk menentukan beban pendinginanPerhitungan menggunakan metode CLSHLH( Cooling Load Sensible heat and Laten heat) berdasarkan AustralianRefrigeration and Air Conditioning Volume 2. Perhitungan beban pendingin berdasarkan data-data yang ada, dankemudia hasil dari perhitungan disesuaikan dengan jenis sistem tata udara. Hasil akhir diperoleh ialah Total bebanpendingin maksimum pada beban puncak adalah sebesar 248745,125 Btu/hr
Feasibility Analysis of Applying Appropriate Technology and Business Processes in the Small and Medium Coffee Industry Ahmad Zamheri; Hendradinata Hendradinata; Rian Rahmanda Putra; Jovan Febriantoko
International Journal of Multi Discipline Science Vol 6, No 1 (2023): Volume 6 Number 1 February 2023
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/ij-mds.v6i1.3778

Abstract

This study was conducted to see the feasibility of the coffee industry through the application of appropriate technology and business processes. The research method used was descriptive quantitative. Data collection was done through observation, documentation, and a literature study. The data analysis technique used was data reduction, data presentation, and data interpretation. The results showed that the availability of raw material in the form of coffee yields had an increasing trend both nationally and in South Sumatra. In addition, the area of coffee plantations also tended to increase. The type of coffee product from South Sumatra with the highest possible commercialization opportunity was Robusta coffee. Several types of coffee products from home industries in various Regencies/Cities in South Sumatra had excellent taste and aroma so they had commercialization opportunities. The coffee industry in South Sumatra, especially in Pagaralam City was feasible to be built based on abundant raw materials and financial analysis. Raw materials from local farmers had relatively stable production and tended to increase. Suggestions and recommendations can be given to the Regional Government and the community to pay attention and intensively foster the process of cultivating wild civet coffee (Paradoxurus hermaphrodites) from various Regencies/Cities in South Sumatra by the Regional Government to have competitive commercialization opportunities.
Analysis of Variation E7016 Electrode Heating Time and Humidity on E7016 Electrode Tensile Strength of Joints Welding Material SS400 Junaidi, Ahmad; saputra, Dimas Ariya; Wilza, Romi; Hendradinata, Hendradinata
International Journal of Mechanics, Energy Engineering and Applied Science (IJMEAS) Vol. 2 No. 3 (2024): IJMEAS - September
Publisher : Yayasan Ghalih Pelopor Pendidikan (Ghalih Foundation)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53893/ijmeas.v2i3.305

Abstract

This research aims to determine the effect of variations in heating time and humidity of the E7016 electrode on the tensile strength of welded joints in SS400 material. The research was carried out using three humidity levels and two electrode heating durations (2 hours and 3 hours) at a temperature of 260°C. The research results show that electrode humidity and heating time have a significant influence on the tensile strength of the welded joint. The highest tensile strength value was found in the welding variation using welding wire without treatment with heating for 3 hours with an average of 529.62 N/mm2, then the lowest tensile stress was found in the outdoor electrode humidity treatment variation with a heating time of 2 hours amounting to 378.12 N/mm2. The analysis was carried out using the two ways ANOVA method to analyze the resulting tensile strength data. The analysis results show that electrodes heated for 3 hours produce higher tensile strength compared to electrodes heated for 2 hours
Analisis Kegagalan Pipa Embedded Pada PLTU TE 3x10 MW Kiagus M. Rizky Khadafi; Hendradinata, Hendradinata; Fenoria Putri; Ogi Meita Utami
MACHINERY Jurnal Teknologi Terapan Vol. 5 No. 2 (2024): Machinery: Jurnal Teknologi Terapan
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.12735933

Abstract

Pipa merupakan salah satu equipment terpenting didalam boiler. Memperbaiki kebocoran pada pipa boiler membutuhkan banyak waktu dan biaya perawatan yang tinggi. karena itu kerusakan pipa pada boiler harus segera diperbaiki dan dicegah, agar tidak terjadi. Kebocoran pada pipa dikarenakan kurangnya ketahanan suatu material dalam menahan pressure fluida dan penipisan ketebalan, maka pada penelitian ini menggunakaan pengujian struktur mikro untuk mengetahui kandungan suatu material. Dari hasil pengujian yang didapat perlit pipa yang bocor 48% dan pipa yang tidak bocor 31,5%, sedangkan hasil dari ferrite pipa yang bocor 43,5% dan pipa yang tidak bocor 35%.maka pipa yang bocor tingkat Pada struktur mikro sampel pipa embedded yang tidak bocor didapatkan hasil kandungan perlit sebesar 31,5% sedangkan kandungan ferrit didapatkan sebesar 35%, maka dapat disimpulkan kandungan baja tersebut bersifat lunak dan didapatkan nilai gran size atau butiran fasa struktur mikro sebesar 7,24071. Pada struktur mikro sampel pipa embedded yang bocor mempunyai kandungan perlit sebesar 48% lebih tinggi kandungan perlit, dibandingkan kandungan ferrit lebih rendah dari perlit dengan nilai 43,5% sehingga baja tersebut mempunyai tingkat kekerasan yang cukup tinggi, yang disebabkan oleh perlit, dan didapatkan nilai gran size atau butiran fasa struktur mikro sebesar 5,9039.
Analisis Kekuatan Sambungan Pada Belt Conveyor Dengan Metode Mecanical Fastener dan Cold Splicing Apridiansyah, Apridiansyah; Putri, Fenoria; Hendradinata, Hendradinata
MACHINERY Jurnal Teknologi Terapan Vol. 5 No. 3 (2024): Machinery: Jurnal Teknologi Terapan
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.14242107

Abstract

Belt conveyor is a material transportation tool that uses a belt (belt) as a means of transportation. Belt conveyors were chosen because of their versatile function and ability to work continuously and easy maintenance. The damage factor that often occurs on conveyor belts is tearing and breaking caused by rubbing the belt with the pulley. When the belt breaks or is replaced the connection commonly used is a mechanical fastener and cold splicing connection. In this study, it discusses the strength of the two connections for mechanical fastener connections using flexco and cold splicing connections using 3 different types of adhesives (sunpat eco glue, aibon glue, and dextone glue) drying time of 3 hours. The belt specifications used in this study are EP-100 x 2P x 3.0 x 1.5. to determine the strength of the connection, a tensile test was carried out on the belt connection. From the test results obtained the average value of each connection, mechanical fastener 7.72 MPa, cold splicing glue sunpat eco 8.86 MPa, aibon glue 2.09 MPa, and dextone glue 4.79 MPa. Where the highest tensile strength is obtained by cold splicing joints using sunpat eco glue 8.86 MPa. So from the test results it can be concluded that the cold splicing connection with sunpat eco glue is stronger than other types of conveyor belt connections.