Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Analisis Kegagalan Pipa Elbow Superheater 90° Terhadap Perlakuan Bending Menggunakan Hydraulic Pipa Bender Sampurno, Rachmat Dwi; Tafrant, Dodi; Putri, Fenoria; Hendradinata, Hendradinata; Arnoldi, Dwi; Ramadhan, Surya
JURNAL CRANKSHAFT Vol 8, No 2 (2025): Jurnal Crankshaft Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/cra.v8i2.15058

Abstract

Steam power plants are the most widely used power plants. The steam produced will be channeled using a superheater pipe. The component that often fails is the superheater elbow pipe. The method used is purposive sampling. The test method used is metallographic testing where the test is based on ASTM. For the results of reading the microstructure content, the percentage of the microstructure phase of the sample tested was factory factory elbow superheater pipe with a percentage of 53.50% pearlite and 27.50% ferrite, the flexible superheater elbow pipe sample contained 43.00% pearlite and 36% ferrite. . 00%, the leaking superheater elbow pipe sample contained 37.50% pearlite and 43.00% ferrite. So the conclusion is that the superheater elbow pipe which has high hardness and good pearlite and ferrite content is found in the factory ebow superheater pipe sample, the manual bending elbow superheater pipe experienced a reduction in the pearlite phase and the addition of a ferrite phase, so it can be concluded that this sample experienced a reduction in resistance and hardness, The Leaking superheater elbow pipe sample has high hardness due to the heat treatment process and a martensite phase appears due to heating, while the percentage of pearlite decreases and ferrite increases, and if there is more ferrite in the material, the pressure in the pipe will be decreased.Steam power plants are the most widely used power plants. The steam produced will be channeled using a superheater pipe. The component that often fails is the superheater elbow pipe. The method used is purposive sampling. The test method used is metallographic testing where the test is based on ASTM. For the results of reading the microstructure content, the percentage of the microstructure phase of the sample tested was factory factory elbow superheater pipe with a percentage of 53.50% pearlite and 27.50% ferrite, the flexible superheater elbow pipe sample contained 43.00% pearlite and 36% ferrite. . 00%, the leaking superheater elbow pipe sample contained 37.50% pearlite and 43.00% ferrite. So the conclusion is that the superheater elbow pipe which has high hardness and good pearlite and ferrite content is found in the factory ebow superheater pipe sample, the manual bending elbow superheater pipe experienced a reduction in the pearlite phase and the addition of a ferrite phase, so it can be concluded that this sample experienced a reduction in resistance and hardness, The Leaking superheater elbow pipe sample has high hardness due to the heat treatment process and a martensite phase appears due to heating, while the percentage of pearlite decreases and ferrite increases, and if there is more ferrite in the material, the pressure in the pipe will be decreased.
Analisa Aerodinamika Bodi Mobil Sriwijaya Mechanical Engineering Squad Menggunakan Metode Simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) Hernando Ari Saputra; Hendradinata, Hendradinata; Putri, Fenoria
MACHINERY Jurnal Teknologi Terapan Vol. 6 No. 2 (2025): Machinery: Jurnal Teknologi Terapan
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.16938117

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aerodinamika pada bodi mobil Sriwijaya Mechanical Engineering Squad. Salah satu aspek penting dalam mobil hemat energi ialah bentuk mobil yang aerodinamis dan efisien dalam penggunaan bahan bakar. Aerodinamika yang baik dapat meningkatkan performa kendaraan seperti konsumsi energi yang lebih hemat, jarak tempuh yang lebih jauh. Untuk menganalisis aliran fluida pada geometri bodi mobil dibutuhkan metode simulasi Computational Fluid Dynamics. Hasil penelitian ini terdiri dari drag coefficient dan lift coefficient. Nilai drag coefficient  terendah terjadi pada Bapro z dengan kecepatan 15 m/s yang memiliki nilai drag coefficient  0.072 sedangkan lift coefficient terendah terjadi pada Bapro Y dengan kecepatan 15 m/s yang memiliki nilai lift coefficient -0.186. dapat disimpulkan pada bodi Bapro Z memiliki desain yang lebih aerodinamis karena memiliki drag coefficient  terendah. Sedangkan lift coefficient terendah berada pada Bapro Y di kecepatan 15 m/s yang artinya Bapro Y dapat melaju dengan stabil pada kecepatan 15 m/s.
KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO BAJA AISI 1040 SEBAGAI HASIL PROSES QUENCHING MENGGUNAKAN PENDINGIN AIR GARAM DAN ASAP CAIR Tafrant, Dodi; Hendradinata, Hendradinata; Mulyadi, Mulyadi; Sampurno, Rachmat Dwi; Sani, Almadora A.; Karmin, Karmin; Hidayat, Randy; Muzafar, M. Agil; Fitriani, Devita Dinda
MACHINERY Jurnal Teknologi Terapan Vol. 3 No. 2 (2022): Machinery: Jurnal Teknologi Terapan
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.6857629

Abstract

Steel with various uses has an important role in machining and construction processes. In its use, steel is chosen because of its strength, ductility, and hardness. One type of steel commonly used in the machining process is AISI 1040 steel. This is because AISI 1040 steel has tough, strong, and hard properties. However, in its use sometimes AISI 1040 steel must be hardened to be more capable in its use. In that endeavor, AISI 1040 steel can be subjected to heat treatment to change its microstructure from initially Ferrite and Pearlite, to Martensite. This change in microstructure has an effect on increasing the hardness value of AISI 1040 steel. This study was conducted to determine how much effect the increase in hardness value would have if AISI 1040 steel was subjected quenching using brine and liquid smoke as cooling media. The results obtained were an increase in the hardness value of AISI 1040 steel to 63.76 HRc, and 65.40 HRc for each cooling medium. The visible microstructure is the formation of a martensitic phase on AISI 1040 steel after heat treatment.
Kajian Eksperimental Sifat Mekanis ASTM A532 Pada Hammer Crusher Batubara PLTU Tanjung Enim 3 X 10 MW M. Habib Putra; Taufikurrahman Taufikurrahman; Hendradinata Hendradinata
TEKNIKA Vol. 20 No. 2 (2026): Teknika Mei 2026
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18645696

Abstract

AbstrakHammer crusher merupakan komponen penting dalam sistem preparasi batubara pada PLTU yang bekerja pada kondisi keausan tinggi. ASTM A532 digunakan karena memiliki ketahanan aus yang baik, namun sifat mekaniknya sangat dipengaruhi oleh perlakuan panas dan media pendinginan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh hardening pada suhu 850 °C dengan variasi media quenching terhadap sifat mekanik ASTM A532. Pengujian meliputi uji kekerasan Vickers dan uji impak Charpy pada tiga kondisi spesimen, yaitu tanpa perlakuan panas, hardening dengan quenching air, dan hardening dengan quenching silikon oil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan panas secara signifikan meningkatkan kekerasan material. Nilai rata-rata kekerasan meningkat dari 292,6 VHN (tanpa perlakuan panas) menjadi 459,6 VHN pada quenching air dan 434,1 VHN pada quenching silikon oil. Analisis ANOVA menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan antar perlakuan (Fhitung = 24,23 > Ftabel = 3,89; α = 0,05). Uji lanjut BNT menunjukkan bahwa quenching air dan silikon oil tidak berbeda nyata, namun keduanya berbeda nyata dibandingkan material tanpa perlakuan panas. Uji impak Charpy menunjukkan quenching silikon oil menghasilkan ketangguhan impak tertinggi sebesar 1,038 J/mm². Hasil ini menunjukkan bahwa quenching silikon oil memberikan kombinasi sifat kekerasan dan ketangguhan yang lebih optimal untuk aplikasi hammer crusher. Kata kunci:Hammer crusher, ASTM A532, perlakuan panas, kekerasan, ketangguhan
Pemanfaatan Baja SKD 11 Sebagai Alternatif Pahat Bubut M. Faiz Muamar Afriadi; Taufikurrahman Taufikurrahman; Yuli Asmara Triputra; Indra Gunawan; Hendradinata Hendradinata
TEKNIKA Vol. 20 No. 2 (2026): Teknika Mei 2026
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18759636

Abstract

AbstrakKeterbatasan kekerasan dan ketahanan aus baja pahat High Speed Steel (HSS) mendorong perlunya material alternatif dengan performa yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan baja SKD11 sebagai bahan alternatif pahat bubut berdasarkan pengujian kekerasan dan keausan. Metode penelitian meliputi perlakuan panas baja SKD11 melalui proses hardening dan tempering dengan variasi media quenching air dan oli. Pengujian kekerasan dilakukan menggunakan metode Vickers, sedangkan pengujian keausan dilakukan dengan metode gesek menggunakan Ogoshi Wear Testing Machine. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baja SKD11 dengan quenching air menghasilkan nilai kekerasan tertinggi sebesar 788,46 VHN, melebihi standar kekerasan baja HSS, serta memiliki ketahanan aus terbaik dibandingkan variasi lainnya. Berdasarkan hasil tersebut, baja SKD11 dinyatakan layak digunakan sebagai bahan alternatif pahat bubut karena memiliki kekerasan dan ketahanan aus yang unggul, sehingga berpotensi meningkatkan umur pahat dan efisiensi proses pemesinan.Kata kunci— SKD11, HSS, perlakuan panas, kekerasan, keausan
Pengaruh Variasi Quenching Terhadap Kekerasan Material ASTM A532 Dica Aditia; Taufikurrahman Taufikurrahman; Hendradinata Hendradinata; Indra Gunawan
TEKNIKA Vol. 20 No. 2 (2026): Teknika Mei 2026
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18645845

Abstract

AbstrakTyre roller merupakan salah satu komponen pada vertical roller mill yang berfungsi menghancurkan dan menggiling material bahan mentah dalam proses produksi semen. Selama operasi, tyre roller mengalami keausan tinggi sehingga diperlukan material dengan sifat mekanik dan ketahanan aus yang baik, umumnya menggunakan ASTM A532. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh perlakuan quenching terhadap komposisi kimia dan kekerasan material ASTM A532 sebagai upaya peningkatan kinerja dan umur pakai komponen. Pengujian meliputi analisis komposisi kimia menggunakan XRF Analyzer dan pengujian kekerasan menggunakan metode Vickers. Variasi perlakuan yang digunakan meliputi material tanpa perlakuan, quenching dengan media silikon oil, dan quenching dengan media air. Hasil pengujian menunjukkan komposisi kimia material terdiri atas 1,03% C, 8,27% Cr, 1,06% Mn, 0,26% Mo, 0,23% Ni, dan 0,26% Cu. Nilai kekerasan meningkat dari 382,56 VHN (tanpa perlakuan) menjadi 411,16 VHN (quenching silikon oil) dan mencapai 440,84 VHN pada quenching air. Peningkatan kekerasan tertinggi pada media air menunjukkan terjadinya transformasi fasa yang lebih cepat dan pembentukan struktur mikro yang lebih keras. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi praktis dalam pemilihan metode perlakuan panas yang optimal untuk meningkatkan ketahanan aus tyre roller, sehingga berpotensi memperpanjang umur pakai komponen, menurunkan frekuensi penggantian, dan meningkatkan efisiensi operasional pada industri semen. Kata kunci:Tyre roller, ASTM A532, Quenching, Kekerasan, Komposisi Kimia
Pengaruh Waktu Tunggu terhadap Nilai Kekerasan pada Perlakuan Panas Material ASSAB 709 Ahmad Dzaki Athallah; Taufikurrahman Taufikurrahman; Hendradinata Hendradinata; Indra Gunawan
TEKNIKA Vol. 20 No. 2 (2026): Teknika Mei 2026
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18645633

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi waktu tunggu terhadap kekerasan pada proses hardening baja ASSAB 709. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan perlakuan hardening pada suhu 850°C selama 30, 60, dan 90 menit. Uji kekerasan Vickers dilakukan untuk mengetahui nilai kekerasan masing-masing spesimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu tunggu, nilai kekerasan material cenderung menurun. Nilai kekerasan tertinggi diperoleh pada waktu tunggu 30 menit sebesar 404,740 HV dan terendah pada 90 menit sebesar 356,997 HV. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa variasi waktu tunggu berpengaruh signifikan terhadap nilai kekerasan baja ASSAB 709. Kata kunci:hardening, waktu tunggu, hardness vickers, silicone oil, ASSAB 709
Investigasi Sifat Mekanis Hammer pada Mesin Limestone Crusher Nizar Muhammad; Taufikurrahman Taufikurrahman; Hendradinata Hendradinata; Indra Gunawan
TEKNIKA Vol. 20 No. 2 (2026): Teknika Mei 2026
Publisher : Politeknik Negeri Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18646253

Abstract

AbstrakHammer pada mesin limestone crusher di PT Semen Baturaja Tbk merupakan komponen utama dalam proses penghancuran batu kapur yang bekerja pada kondisi beban benturan dan gesekan tinggi, sehingga rentan mengalami keausan dan kegagalan. Kondisi tersebut menyebabkan penurunan efisiensi operasi serta peningkatan biaya perawatan dan penggantian komponen. Material hammer yang dianalisis adalah baja mangan cor standar ASTM A128 Grade B2, yang dipilih karena kemampuannya mengalami pengerasan kerja (work hardening). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sifat mekanis material hammer, meliputi komposisi kimia, kekerasan, dan ketangguhan impak, serta mengevaluasi pengaruh perlakuan panas (heat treatment) terhadap peningkatan kekerasan material. Metode penelitian bersifat eksperimental di laboratorium. Analisis komposisi kimia dilakukan menggunakan Optical Emission Spectrometry. Pengujian kekerasan Vickers dilakukan pada tiga kondisi spesimen, yaitu tanpa perlakuan panas, spesimen yang di-hardening pada suhu 850 °C dengan media quenching air, dan silicon oil. Pengujian impak Charpy dilakukan pada material tanpa perlakuan panas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa material hammer tergolong baja karbon tinggi dengan kandungan karbon 1,18% dan baja mangan tinggi dengan kandungan mangan 15,47%. Nilai kekerasan awal material sebesar 262 VHN. Perlakuan quenching menggunakan silicon oil meningkatkan kekerasan menjadi 320 VHN, sedangkan quenching air menghasilkan kekerasan tertinggi sebesar 348 VHN. Berdasarkan hasil tersebut, perlakuan panas hardening dengan quenching air dinilai paling efektif untuk meningkatkan kekerasan material hammer, sehingga berpotensi meningkatkan ketahanan aus dan umur pakai komponen pada aplikasi industri semen. Kata kunci:Hammer crusher, sifat mekanis, baja mangan, perlakuan panas, kekerasan vickers
Analisis Kinerja dan Reduksi Emisi Karbon pada Mesin Pemipil Jagung Berbasis Energi Surya Toni Okviyanto; Hendradinata Hendradinata; Firdaus Firdaus; Tri Satya Ramadhoni; Agis Fika Wulandari; Indra Syahputra; Stevan Juliandro Aruan
Infotekmesin Vol 17 No 2 (2026): Infotekmesin: Juli 2026
Publisher : P3M Politeknik Negeri Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35970/

Abstract

Agricultural post-harvest operations require technological innovations that enhance productivity while reducing dependence on fossil fuels and environmental impacts. Although solar energy has been increasingly applied in agricultural mechanization, previous studies have primarily focused on technical performance or energy consumption, with limited attention to integrating machine performance evaluation and carbon emission reduction. This study aimed to evaluate the performance of a solar-powered corn sheller and assess its carbon emission reduction potential compared with a gasoline-powered sheller. A comparative experimental method was employed by analyzing shelling capacity, shelling efficiency, energy consumption, kernel damage, and carbon emissions using the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) emission factor. The results showed that the solar-powered sheller achieved a shelling capacity of 65 kg h⁻¹ and a shelling efficiency of 90%, which were comparable to the gasoline-powered sheller (69.67 kg/h and 91.67%, respectively). Moreover, the solar-powered system produced no direct operational carbon emissions, whereas the gasoline-powered sheller emitted 0.5082 kg CO₂ per 10 kg of processed corn. The novelty of this study lies in integrating technical performance evaluation with IPCC-based carbon emission analysis. This study provides a comprehensive evaluation framework to support the development of low-carbon agricultural mechanization based on renewable energy.