Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

The Analysis of Post-Flood Flood Surveillance Activities in Torue District: Parigi Motong Regency in 2022 Laba, Stefiani Bengan
Preventif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 14 No. 1 (2023): Volume 14 No. 1 (2023)
Publisher : Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/preventif.v14i1.618

Abstract

Post-disaster surveillance played a crucial role in disaster management, including the flash flood disaster. In addition to focusing on disaster victims, health workers and health posts are also required to carry out surveillance activities in order to get a follow-up plan as soon as possible in a post-disaster situation. This study aims to evaluate post-disaster surveillance implementation based on 6 post-disaster indicators. This type of research is a quantitative descriptive method using field research methods through observation and interviews. The research targets were disease reports at the time of the disaster and a number of informants, namely one Secretary of the Parigi Health Service, including health workers at each Health Post. The results of this study indicate that the Torue Disaster Task Force has carried out environmental sanitation monitoring activities, surveillance of infectious diseases and malnutrition that may arise, outbreaks of communicable diseases and malnutrition, and community empowerment. Of the 6 indicators of post-disaster surveillance, 5 indicators have been conducted and 1 indicator namely mental health problem recovery has not been implemented. The indicators that have been conducted have almost reached the applicable standards.
Analisis Faktor Risiko Kejadian Diare Di Wilayah Terdampak Banjir ROB Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala Ardiansyah, Mukhlas; Buchaer, Nur Hikmah; Syahadat, Dilla Srikandi; Laba, Stefiani Bengan
Preventif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 15 No. 1 (2024): Volume 15 No. 1 (2024)
Publisher : Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/preventif.v15i1.1130

Abstract

ABSTRAK Diare adalah salah satu penyakit yang berpeluang besar menyebabkan KLB (Kejadian Luar Biasa), sehingga dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat. Meskipun KLB diare sudah jarang terjadi di Sulawesi Tengah pada tahun 2021, kasus sering meningkat di beberapa wilayah kerja puskesmas pada waktu tertentu, seperti saat musim buah atau saat cuaca berubah dari musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya. Tiga faktor yang signifikan memiliki dampak terhadap lingkungan adalah air minum yang tidak sehat, limbah, dan pembuangan limbah. Adapun faktor dari lingkungan yang dapat mengakibatkan diare yaitu banjir, perilaku masyarakat yang kurang menjaga kebersihan, khususnya mencuci tangan menggunakan sabun setelah membuang air dan sebelum makan, memperbaiki sumber air dan keberhasilan perorangan akan mengurangi kemungkinan tertular oleh bakteri patogen tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis besaran faktor risiko terjadinya diare di wilayah terdampak banjir ROB di Kecamatann Sirenja Kabupaten Donggala dengan menggunakan pendekatan kuantitatif Case Control. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji chi-square. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kebiasaan mencuci tangan (OR=15,074), kondisi jamban keluarga (OR=13,632), kondisi tempat sampah (OR=41,0), serta adanya Ketersedian air bersih (OR=6,378) memiliki faktor risiko dengan kejadian diare. Kebiasaan mencuci tangan, kondisi jamban keluarga, kondisi tempat sampah dan Ketersedian air bersih merupakan faktor risiko kejadian Diare.
Measles Surveillance Evaluation (Post Outbreak); Systems Approach at The Palu City Health Department In 2024 Laba, Stefiani Bengan; Rau, Muhammad Jusman; Buchair, Nur Hikmah; Meliana, Relin; Royana, Nurul Vida
Preventif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 16 No. 2 (2025): VOLUME 16 NO.2 TAHUN 2025
Publisher : Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/preventif.v16i2.1988

Abstract

Measles is an airborne disease with a very high transmission rate. There has been a global increase in both morbidity and mortality due to measles. In 2023, outbreaks occurred in several regions, particularly in Central Sulawesi, with Palu City being notably affected. This study aimed to evaluate the surveillance activities following the measles outbreak in the jurisdiction of the Palu City District Health Office, employing a systems approach. The research respondents included surveillance officers from the Palu City Health Office and those from the Puskesmas (community health centers) within its area. Data were collected through interviews and observations. The findings revealed several issues in the input aspect of surveillance, including overlapping roles for surveillance officers, a lack of knowledge transfer to new personnel, insufficient tactical funding for outbreak responses, and inadequate computer resources at some health centers to support surveillance activities. In the process aspect, challenges included the absence of designated contact persons from hospitals for all public health centers (PHCs), delays in the timely collection of zero case data, and inconsistent data processing with sub-district stratification among PHCs. Regarding the output aspect, reports were often not delivered promptly, and the dissemination of information was limited to internal stakeholders.
Anemia Screening and Counseling for Female Students at SMAN 5 Tondo in 2025 Laba, Stefiani Bengan; Rau, Muhammad Jusman; Buchair, Nur Hikmah; Syahadat, Dilla Srikandi; Palinggi, Marselina; Azzahra, Nur Azizah; Sari, Nur Fadhilah; Ardayani, Adinda; Agustianingsih, Rizka
ADMA : Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): ADMA: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Mayarakat: In-Progress
Publisher : LPPM Universitas Bumigora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30812/adma.v6i2.5737

Abstract

Penyakit tidak menular akan berdampak pada kemiskinan, terhambatnya pertumbuhan ekonomi dan beban pada sistem kesehatan pada negara berkembang dan negara miskin (CDC, 2023). Anemia merupakan salah satu permasalahan yang banyak dialami oleh masyarakat Indonesia, khususnya remaja. Anemia pada remaja dapat memberikan dampak yang signifikan, salah satunya adalah stunting. Dalam jangka pendek, remaja putri yang mengalami anemia dapat kekurangan konsentrasi dan juga lletih serta lesu. Tujuan dari pengabdian ini adalah adalah untuk melaksanakan skrining hemoglobin pada siswi SMAN5 Tondo. Kegiatan dilakukan menggunakan metode sosialisasi, skrining dan juga konseling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 72,3% siswi tidak menderita anemia. Siswi yang menjadi responden pada saat screening sebagian besar berada pada usia 16 tahun 67%. Pengukuran sensitivitas menunjukkan sensitivitas sebesar 0% karena ada satu sel kosong yakni hasil pemeriksaan anemia dari dokter karena sebagian besar dari remaja putri belum pernah memeriksakan diri. Kegiatan screening anemia perlu dipertahankan dan dikembangkan guna mencegah kejadian anemia di masyarakat khususnya di kalangan remaja.
Edukasi “CERDIK’’ Sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) Pada Siswa SMAN 1 Moyo Utara Putri Adekayanti; Stefiani Bengan Laba; Lina Eta Safitri; Abdul Hamid
Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2023): Maret : Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpikes.v3i1.1202

Abstract

Penyakit Tidak Menular (PTM) masih menjadi masalah kesehatan yang belum terselesaikan di Indonesia. Pola hidup yang tidak sehat yang terbentuk selama masa remaja seperti kurangnya aktifitas fisik, penggunaan tembakau, konsumsi alkohol, pola makan yang tidak sehat serta ketidakmampuan dalam memanajemen stress merupakan faktor risiko PTM. Salah program yang telah dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan RI untuk pencegahan PTM yaitu CERDIK. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada siswa SMAN I Moyo Utara tentang upaya pencegahan PTM melalui perilaku CERDIK. Kegiatan ini dilakukan dengan memberikan edukasi kepada siswa melalui penyuluhan kesehatan. Kegiatan penyuluhan diikuti oleh 49 siswa. Untuk mengukur besarnya pengaruh penyuluhan terhadap peningkatan pemahaman siswa tentang materi pencegahan PTM, maka dapat dilihat dari penilaian hasil pre-test dan post-test. Hasil analisis data dengan menggunakan uji wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan yang signifikan sebelum dan sesudah penyuluhan pada siswa SMAN 1 Moyo Utara dengan nilai p=0,007. Kegiatan serupa dengan sasaran yang lebih luas perlu dilakukan sehingga semakin banyak siswa yang paham dan mulai menerapkan upaya pencegahan PTM.
Evaluation of the Measles/MR Supplemental Immunization Program for Children Under Two Years in the Palu City Health Office Working Area Rau, Muhammad Jusman; Laba, Stefiani Bengan; Syahadat, Dilla Srikandi; Marselina, Marselina; Buchair, Nur Hikmah; Sari, Nur Fadhilah; Azzahra, Nur Azizah
Journal of Health and Nutrition Research Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Media Publikasi Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56303/jhnresearch.v5i1.879

Abstract

Measles and rubella (MR) remain significant public health concerns in Indonesia, with outbreaks linked to low immunization coverage. A notable measles outbreak in October 2023 underscored the urgency of achieving herd immunity through high vaccination rates. The Ministry of Health targets 100% coverage for supplemental MR immunization; however, in 2022 Central Sulawesi reached only 30.4%, and in 2024 Palu City recorded 57.8%, both far below the target. This study aimed to evaluate the implementation of the measles/MR supplemental immunization program in 14 CHCs under the Palu City Health Office. A descriptive, quantitative, evaluative approach was employed to identify the program's strengths and weaknesses, which were assessed across input, process, and output dimensions using questionnaires. Regarding input, 100% of the CHCs had immunization officers with relevant educational qualifications, and 93% had received immunization-specific training. The process showed high compliance with SOP documentation: 100% of CHCs recorded vaccine temperature, inflow/outflow, and calculated remaining stock at every issuance, while 93% maintained individual stock cards, documented VVM status, and recorded equipment such as needles, syringes, and cold chain devices by type and quantity. However, only 86% recorded immunization logistics in general logbooks. The output showed that 86% of CHCs failed to meet the 100% immunization coverage target. Overall, these findings highlight gaps in training, service delivery, and community awareness that must be addressed to improve coverage and prevent future outbreaks. The MR supplemental immunization program in Palu City should be strengthened by ensuring annual training for immunization officers, enforcing complete SOP documentation, including vaccine stock and logistics recording, and implementing targeted outreach to improve coverage in CHCs that failed to meet the 100% target.