Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

GAMING DISORDER DAN MOTIVASI BELAJAR PADA KESEHATAN MENTAL REMAJA Wetik, Syenshie V; Sepang, Mareyke; Worotikan, Roxane
Lasalle Health Journal Vol. 2 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Katolik De La Salle Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Introduction: Since the Covid-19 pandemic, access to online games has increased and this has become an activity that is considered common for society, especially for teenagers. Seeing the various phenomena that occur because of excessive use of online games, the World Health Organization (WHO) has made Gaming Disorder a mental illness in the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM-5) with the characteristic of being unable to control oneself to stop playing. Playing games has even become part of life's needs and routine. The high duration of playing online games has a negative and positive impact on teenagers' learning motivation. This then affects the mental health of teenagers. Objective: The aim of this research is to identify the picture of gaming disorder and learning motivation on the mental health of teenagers in Taas Village, Manado City. Method: This research is quantitative with a descriptive analysis design. The population is late teenagers (18-22 years) = 205 teenagers with a sampling technique, namely purposive sampling so that the number of respondents is 90 teenagers. The research instrument used the Indonesian Online Game Questionnaire (IOGQ) questionnaire and data analysis used univariate analysis. Results: the description of gaming disorder showed that 71.1% were in the mild category and 60% of teenagers' learning motivation was in the high category. Conclusion: related to the mental health of teenagers in Taas Village, most teenagers are in the mild category of gaming disorder with learning motivation in the high category.
MOTIVASI DAN BEBAN KERJA PERAWAT BERKAITAN DENGAN PENERAPAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA PASIEN GANGGUAN JIWA Dalope, Felani; Ake, Julianus; Wetik, Syenshie
Lasalle Health Journal Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Katolik De La Salle Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: The application of therapeutic communication in nursing services is crucial as it significantly impacts the patient's recovery process. Ineffective communication can lead to inappropriate treatment or recovery, and treatment planning may not be suitable for patients with mental health issues. Several factors can contribute to nurses having ineffective communication, including high workloads and decreased work motivation. Objective: This study investigates the correlation between nurse workload and their motivation with the implementation of therapeutic communication for patients with mental disorders. Method: A quantitative study using a cross-sectional design with a population of 150 nurses at RSJ Prof. Dr. V. L. Ratumbuysang in Manado and a sample size of n=60. Results were analyzed using chi-square and Fisher's exact test. Results: There is a significant relationship between nurse motivation and the implementation of therapeutic communication for patients with mental disorders, with a p-value of 0.032 < 0.05. However, there is no significant relationship between nurse workload and the implementation of therapeutic communication for patients with mental disorders, with a p-value of 1.000 > 0.05. Conclusion: The variable of motivation affects the implementation of therapeutic communication for patients with mental disorders, whereas the variable of workload does not.
PENGEMBANGAN KETERAMPILAN REMAJA TENTANG TEKNIK RESUSITASI JANTUNG PARU MELALUI KEGIATAN PELATIHAN TEKNOLOGI INTERAKTIF (E-LEARNING DAN ROLE PLAY) Tumilantouw, Dina Erika; Ake, Julianus; Wetik, Syenshie Virgini
Lasalle Health Journal Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Katolik De La Salle Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Cardiac arrest is one of the main problems in the cardiovascular system which can be fatal and even cause death. Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) is a fast and effective method for treating this condition, so it is important for people, especially teenagers, to understand and master this technique. Objective: This study aims to analyze the effect of e-learning and role play based CPR training on adolescent skills in Sion Village, Tompaso Baru District. Method: The research uses a quantitative approach with pre-experimental methods and One Group Pre-Test Post-Test research design. The research population consisted of 50 teenagers aged 13–19 years, with 15 respondents selected using purposive sampling techniques. Results: Based on non-parametric statistical tests using the Wilcoxon test with a P-Value 0.001. This shows that Ho is rejected and Ha is accepted, which means there is a significant influence on teenagers' skills before and after being given RJP training based on e-learning and role play. Conclusion: RJP training in the form of interactive technology (e-learning and role play) has had a significant impact on improving the skills of teenagers in Sion Village, Tompaso Baru District
P PERILAKU IBU DALAM PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) PADA BALITA DIPENGARUHI OLEH TINGKAT PENGETAHUAN DAN SELF-EFFICACY Pasang, Melani; Rakinaung, Natalia Elisa; Wetik, Syenshie Virgini
Media Ilmiah Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 2 (2025): MAY
Publisher : Pakis Journal Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58184/miki.v3i2.635

Abstract

Salah satu masalah kesehatan bagi balita yang insidennya terus meningkat dan menjadi ancaman adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Ibu yang memiliki anak balita memegang peran penting dalam upaya pencegahan penyakit tersebut. Level pengetahuan yang baik serta self-efficacy yang tinggi dapat memengaruhi perilaku ibu dalam menerapkan langkah-langkah pencegahan. Tanpa keyakinan diri dan motivasi yang cukup, ibu mungkin mengalami kesulitan dalam menjalankan perilaku pencegahan yang efektif. Oleh karena itu, pengetahuan dan self-efficacy ibu menjadi faktor utama dalam menurunkan risiko kejadian DBD pada balita. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara level pengetahuan dan self-efficacy ibu dengan perilaku pencegahan DBD pada balita di Desa Sidey Baru, Kabupaten Manokwari. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki anak balita di Desa Sidey Baru, Kabupaten Manokwari = 85 orang sehingga sampel (n) berjumlah 85 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner tentang perilaku pencegahan DBD, pengetahuan dan self-efficacy. Berdasarkan hasil uji korelasi non-parametrik Spearman, diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan perilaku pencegahan DBD pada balita (p = 0,016), serta antara self-efficacy ibu dengan perilaku pencegahan DBD (p = 0,000). Kedua nilai p tersebut lebih kecil dari batas signifikansi (p ≤ 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa baik pengetahuan maupun self-efficacy ibu memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku pencegahan DBD pada balita. Hasil ini berkontribusi bagi instansi terkait untuk meningkatkan edukasi dan pemberdayaan ibu untuk mendukung perilaku pencegahan DBD pada balita.
Play Therapy Berbasis Trauma Healing Pasca Bencana Pada Anak Usia Sekolah Wetik, Syenshie Virgini; Polii, Grace Benedikta
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 2 No. 4 (2023): November
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/js.v2i4.118

Abstract

Dampak psikososial yang paling utama muncul sebagai akibat dari peristiwa bencana adalah perasaan traumatis. Adanya rasa trauma yang berkepanjangan mengakibatkan penurunan fungsi dan kualitas hidup serta menjadi peristiwa tidak menyenangkan khususnya bagi anak-anak yang belum mampu mengekspresikan perasaannya. Masalah psikososialnya antara lain gangguan tidur, mimpi buruk, merasa kesepian, gelisah, khawatir, mudah marah, sensitive, sulit berkonsentrasi dan muncul memori terkait kejadian traumatis secara berulang. Kondisi tersebut apabila yang tidak direhabilitasi dengan baik dapat menimbulkan trauma psikologis yang dapat mengganggu stabilitas hidup dan berdampak negatif pada kehidupan selanjutnya. Salah satu kegiatan dukungan psikososial yaitu trauma healing. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendistraksi anak-anak dari kejadian traumatis agar tetap mampu menjalani dan menikmati kehidupan sehari-harinya dengan baik. Kegiatan ini dilaksanakan pada anak usia sekolah (6-12 tahun) korban pasca bencana banjir di Kelurahan Molas, Sulawesi Utara. Metode yang digunakan adalah play therapy berupa gerak dan lagu dengan 3 jenis permainan. Hasilnya adalah seluruh peserta merasa senang, bahagia, merasa rileks dan bersemangat ditandai dengan ekspresi wajah yang ceria dan secara subjektif mengatakan puas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik dan memberikan dampak positif bagi seluruh peserta kegiatan. Kegiatan ini dijadikan sebagai metode non-farmakologis dan sangat direkomendasikan dilakukan pada anak-anak di wilayah pasca bencana
ANALISIS PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) DI PUSKESMAS TONDANO SELATAN Lumowa, Fresy; Wetik, Syenshie; Rakinaung, Natalia
JURNAL ILMIAH KESEHATAN MANADO Vol. 1 No. 3 (2022): Jurnal Ilmiah Kesehatan Manado (JIKMA)
Publisher : Yayasan Syalom Cipta Sumikolah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64418/jikma.v1i3.45

Abstract

Kesehatan Ibu dan anak adalah salah satu jaminan tolak ukur dari berhasilnya tatanan kesehatan dalam suatu negara. UU Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan mendukung adanya hak setiap anak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dimana didalamnya hak tersebut didapatkan sejak anak dalam kandungan , begitu juga dengan kesehatan ibu berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan tepat guna untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak.Keberhasilan pelaksanaan pelayanan KIA di puskesmas salah satunya bergantung pada ketersediaan fasilitas dan sarana prasarana yang dikelolah oleh bidan yang berkompeten. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bidan pelaksana KIA di puskesmas dalam melakukan pelayanan KIA dipuskesmas serta sistem rujukan yang berlaku dalam pelayanan KIA puskesmas. Penelitian ini menggunakan desain penlitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam pada 4 orang responden. Hasil penelitian ini adalah ditemukan bahwa puskesmas melaksanakan pelayanan KIA Maternal setiap hari senin sampai dengan sabtu dengan bidan pelaksana sebanyak 4 orang yang pada aplikasinya jumlah tenaga bidan pelaksana masih kurang sesuai dengan jadwal pelayanan, jumlah pasien yang datang, maupun program – program KIA diluar gedung puskesmas seperti program BIAN, vaksinasi, dan sebagainya. Bidan pelaksana KIA juga melakukan rujukan maternal melalui aplikasi p- care puskesmas sesuai dengan kondisi dan indikasi pasien yang perlu dirujuk meskipun dalam pengaplikasiannya terdapat banyak kendala.Kesimpulan penelitian ini adalah pelayanan KIA Maternal di puskesmas telah berjalan cukup baik dan pelayanan diberikan oleh bidan berkompeten meskipun jumlah bidan pelaksana puskesmas belum mencukupi untuk pelaksanaan semua program KIA Maternal, sehingga jika berada pada bulan BIAN, pelayanan KIA di puskesmas seringkali tidak terdapat petugas.Begitu pula dengan sistem rujukan maternal yang tidak bisa diberikan setiap hari, karena keterbatasan sistem aplikasi p- care dan jadwal pelayanan p- care yang hanya sampai hari jumat, sementara hari pelayanan KIA hingga hari sabtu.
P Pengaruh Guided Imagery Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Pre-Operasi Benedikta Polii, Grace; Virgini Wetik, Syenshie
Jurnal Kesehatan Vol 9 No 2 (2020): Jurnal Kesehatan
Publisher : STIKES Ngesti Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Anxiety is a reaction to psychological disorders experienced by most patients in the face of surgery. Signs and symptoms are tremors, tachycardia, nervousness, insomnia, sweating and shortness of breath. The preoperative patient anxiety level is in the category of severe, moderate. If it is not handled properly, it will have a negative impact on the operation process that will be carried out by the patient so that relaxation measures are needed so that the patient can control his anxiety. One recommended therapy is guided imagery. Various studies have been conducted to prove its effect. The objective of this research was to analyze effects of guided imagery towards anxiety level decrease on pre-operative patients. This research used literature review design, database used were 2018- 2020 Google Scholar. Research populations were all research journals regarding effects of guided imagery and progressive relaxation towards anxiety level decrease on pre-operative patients using flow diagrams technique (data synthesis) thus n-value was obtained = 3. Analyzed journals result showed that there was a decrease in anxiety level of pre-operative patients after guided was given. Guided imagery affected the decrease of anxiety level on pre-operative patients. Abstrak Kecemasan merupakan reaksi psikologis yang dialami oleh sebagian besar pasien dalam menghadapi operasi. Hal ini ditandai dengan gerakan tremor, takikardi, gelisah, susah tidur, berkeringat dan sesak nafas. Kecemasan yang dirasakan oleh pasien pra-operasi berada pada kategori berat, sedang. Apabila tidak teratasi dengan baik, maka akan menimbulkan dampak negatif bagi proses operasi yang akan dijalankan pasien sehingga dibutuhkan tindakan norfarmakologi berupa pemberian tindakan rileksasi pada pasien agar pasien mampu mengontrol perasaan cemas yang dirasakannya. Salah satu terapi yang direkomendasikan adalah guided imagery. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk membuktikan pengaruhnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh guided imagery terhadap tingkat kecemasan pasien pra-operasi. Penelitian ini menggunakan desain literature review dengan jenis database yang digunakan, yaitu Google Scholar tahun 2018-2020. Populasi penelitian adalah seluruh jurnal penelitian tentang pengaruh terapi guided imagery terhadap tingkat kecemasan pasien pra-operasi dengan menggunakan teknik diagram flow (sintesis data) sehingga didapatkan n = 3. Hasil analisis jurnal penelitian menunjukan bahwa guided imagery efektif menurunkan kecemasan pasien pra-operasi.
The Implementation of the Mental Health Integrated Service Post(Posyandu Jiwa): Mental health training and support for cadres at theCommunity Health Center Level: Implementasi Posyandu Jiwa: Pelatihan dan pendampingan KaderKesehatan jiwa di Tingkat Puskesmas Buanasari, Andi; Wetik, Syenshie Virgini; Rahman, Asep
Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 9 No. 3 (2025): Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/9wajtg63

Abstract

The issue of mental health has recently become a prominent topic due to its significant impact. Various efforts have been undertaken, including the establishment of community-based mental health services such as Posyandu Jiwa (Mental Health Integrated Service Post). This community service involves health cadres from the Tikala Baru Public Health Center as partners, aiming to implement Posyandu Jiwa through training and mentorship for mental health cadres. Activities began with socialization, followed by training on mental health screening using SRQ (Self-Reporting Questionnaire) and SDQ (Strengths and Difficulties Questionnaire), along with the stages involved in the implementation of Posyandu Jiwa, culminating in the actual implementation of Posyandu Jiwa. Following the training, there was a notable increase in the knowledge levels of the cadres. Prior to training, 73.3% of cadres were categorized as having limited knowledge, which reduced to only 15.6% post-training. Additionally, there was an improvement in the skills required for conducting screenings, with an average skill score of 76.35 after training. The Posyandu Jiwa was conducted using a five-table system, with cadres stationed at each table and supported by Nurses.
Pemberdayaan Kader Kesehatan Jiwa Untuk Penanganan Pasien Gaduh Gelisah Dan Resiko Bunuh Diri Wetik, Syenshie; Laka, Angela Alfonsin Maria Lusia; Sandehang, Cornelia Fransiska
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 4 No. 4 (2025): November
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/qcwst903

Abstract

Berbagai perilaku amuk, gaduh gelisah, risiko bunuh diri, serta kekambuhan pasien ODGJ dapat terjadi di masyarakat pada waktu yang tidak dapat diperkirakan. Jika tidak ditangani, hal ini dapat menimbulkan rasa tidak aman, kekhawatiran, dan ketakutan di masyarakat karena dianggap mengganggu ketertiban umum. Selain itu, muncul stigma dan diskriminasi terhadap pasien ODGJ dan keluarganya yang dapat memperburuk kondisi sosial di lingkungan sekitar. Kader Kesehatan Jiwa (KKJ) merupakan garda terdepan yang berperan penting dalam menghadapi pasien dan keluarga ODGJ serta mendukung pelayanan kesehatan jiwa di komunitas. Oleh karena itu, kader perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan khusus dalam menghadapi situasi tersebut di lapangan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan jiwa di Puskesmas Wawonasa, Kota Manado. Metode yang digunakan meliputi ceramah, diskusi, role play dan simulasi. Hasil: Rata-rata nilai pre-test peserta sebesar 62,7 meningkat menjadi 86,5 pada post-test. Kader menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan dalam mengenali gejala serta melakukan penanganan awal secara tepat. Kesimpulan: Kegiatan pemberdayaan ini efektif meningkatkan kemampuan kader kesehatan jiwa dalam menangani pasien gaduh gelisah dan individu dengan risiko bunuh diri di masyarakat. Saran: Kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkala dan diperluas ke wilayah lain agar kapasitas kader dalam pelayanan kesehatan jiwa semakin optimal