Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Strategi Pengembangan Teknik dan Repertoar Gamelan Baleganjur untuk Meningkatkan Partisipasi Budaya Umat Hindu di Keerom, Papua Indra Wijaya Kadek; Wicaksana I Dewa Ketut; Ida Bagus Gede Surya Peradantha
Komatika: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Institut Informatika Indonesia Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34148/komatika.v5i1.1096

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengembangkan teknik bermain gamelan Baleganjur bagi komunitas Hindu di Kabupaten Keerom, Papua. Meski telah tersedia gamelan Baleganjur hasil swadaya dan bantuan pemerintah, pengetahuan teknik dan repertoar musik yang relevan masih kurang untuk kegiatan keagamaan setempat. Komunitas Hindu yang tergabung dalam Sanggar Seni Saraswati berkeinginan kuat mendukung budaya dan keagamaan melalui Baleganjur. Metode pelatihan demonstratif langsung digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bermain gamelan Baleganjur di kalangan anggota komunitas. Penggunaan teknologi modern, seperti perekaman audiovisual dan pembuatan materi tutorial, diharapkan meningkatkan aksesibilitas dan fleksibilitas pembelajaran. Kegiatan ini difokuskan pada dua aspek utama: 1) Pengembangan teknik bermain Baleganjur pada tiap instrumen; dan 2) Pengayaan repertoar gending Baleganjur, seperti Tabuh Gilak dan Bebarongan. Luaran utama dari program ini adalah video dokumentasi pelatihan, mencakup sesi teori, praktik, dan penampilan akhir peserta. Hasil kegiatan ini menunjukkan kemajuan positif. Para penabuh Sanggar Seni Saraswati telah berhasil meningkatkan teknik bermain gamelan Baleganjur, khususnya telah menguasai teknik pukulan instrumen reyong, pola gegilakan dan jagul dalam instrumen kendang dan teknik kakilitan dalam instrumen ceng-ceng. Keberhasilan selanjutnya adalah penambahan materi gamelan Gilak untuk musik ilustrasi upacara Caru, serta gamelan Babarongan yang digunakan untuk mengiringi upacara Melasti. Peningkatan ini membawa dampak positif dalam memupuk rasa kebersamaan antarkomunitas umat Hindu setempat baik dalam konteks budaya maupun keagamaan.
Anjangsana Lintas Agama Rumah Moderasi Beragama STAKPN Sentani: Menyelami Nilai-Nilai Hindu Bali melalui Seni Budaya Fredrik Warwer; Ida Bagus Gede Surya Peradantha; Yohanes Kristian Labobar; Yakob Godlif Malatuny; Daniel Syafaat Siahaan; Jolanti Wisje Pentury; Dorce Bu’tu; Lewi Kabanga; Santy Layan; Riski Tasijawa; Seprianti Elisabet Pandi; Shintia Maria Kapojos
IHSAN : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 8, No 1 (2026): Ihsan: Jurnal Pengabdian Masyarakat (April)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/ihsan.v8i1.25909

Abstract

Papua memiliki keragaman budaya dan agama yang tinggi sehingga membutuhkan ruang perjumpaan lintas iman yang autentik, kontekstual, dan menyentuh secara emosional. Melalui program Kampung Moderasi Beragama, STAKPN Sentani menginisiasi Kunjungan Lintas Iman di Pura Agung Giri Cyclop untuk menggali nilai-nilai moderasi beragama dari perspektif Hindu Bali dengan pendekatan seni budaya. Kegiatan dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara dengan tokoh agama Hindu, dialog interaktif lintas iman, serta penyusunan laporan reflektif dan artikel ilmiah. Salah satu hasil penting adalah terciptanya karya seni kolaboratif berupa Pupuh Durma berjudul “Turunnya Sang Juru Selamat”, yang dibawakan oleh penyanyi Hindu dan diterjemahkan secara lisan oleh peserta Kristen Protestan. Karya ini mengisahkan kelahiran Yesus Kristus dalam perspektif spiritual universal melalui seni vokal tradisional Bali. Kolaborasi ini membuka ruang ekspresi spiritual bersama yang melampaui batas agama, budaya, dan wilayah. Nilai-nilai seperti Tat Twam Asi, Vasudhaiva Kutumbakam, serta cinta sebagai inti ajaran agama disampaikan secara puitis dan reflektif. Program ini menunjukkan bahwa moderasi beragama dapat diwujudkan tidak hanya melalui wacana normatif, tetapi juga melalui praktik seni inklusif yang sederhana dan dapat direplikasi di berbagai konteks multikultural.
The Creation Strategy of Rene Hu Dance as the Institutional Dance of the Papua Language Center Ida Bagus Gede Surya Peradantha; Godlief Patrice Felixe Muabuay; Hana Naema Jarisetouw; Riska Kogoya; Yohanes Primus Boli
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 27, No 2 (2025): Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPM Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ekspresi.v27i2.6061

Abstract

This study explores the creation process of Rene Hu, the official ceremonial dance of the Papua Language Center, through an artistic autoethnography perspective. The research is motivated by the institutional need for a representative work that bridges organizational identity with Papuan cultural heritage. The objective is to reflect and analyze creation strategies in the creative process while positioning performance art as a medium for institutional identity formation. The method employed is artistic autoethnography, combining participatory observation, interviews with cultural leaders and local artists, documentation, and the choreographer’s reflective notes. The creative process followed four stages: preparation, exploration, creation, and evaluation, engaging local communities, artists, students, and the initiating institution. The findings reveal that Rene Hu functions not only as an artistic product but also as a cultural strategy that connects Papuan traditions with institutional values through negotiation between an external choreographer and cultural custodians. This study contributes to the development of artistic research in Indonesia by offering a model of institutional dance creation that is ethical, representative, and sustainable, and by highlighting the potential of artistic autoethnography as a reflective approach in choreographic practice.
Penciptaan Musik Tari Rejang Giri Jaya Ing Pura untuk Mengembangkan Seni Tradisional Bali di Kota Jayapura Wijaya Kadek Indra; Ida Bagus Gede Surya Peradantha; I Putu Agus Eko Sattvika
MITRA: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 10 No. 1 (2026): Mitra: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitra.v10i1.7214

Abstract

Aktivitas kesenian umat Hindu di Kota Jayapura berlangsung intens melalui pelaksanaan piodalan dan berbagai upacara keagamaan lainnya. Kondisi ini mendorong lahirnya kebutuhan akan karya baru yang bersifat religius sekaligus kontekstual dengan kehidupan umat Hindu di tanah perantauan. Penelitian ini memusatkan perhatian pada penciptaan musik tari Rejang Giri Jaya Ing Pura sebagai bentuk pengembangan seni tradisional Bali di luar daerah asalnya. Tujuan penelitian adalah: (1) merumuskan proses kreatif penyusunan gending; (2) merancang metode pelatihan efektif bagi penabuh gamelan; dan (3) mewujudkan penyajian musik tari yang berkelanjutan. Metode yang digunakan berupa praktik artistik-partisipatif yang dilaksanakan melalui tahapan eksplorasi, komposisi, pelatihan, dan evaluasi bersama komunitas di Sanggar Seni Saraswati Kota Jayapura. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan teknis para penabuh melalui model pelatihan progresif-mandiri. Model ini meliputi demonstrasi langsung, pendokumentasian pola, latihan individual di luar pertemuan, serta presentasi hasil pada sesi berikutnya. Penerapan model ini terbukti mempercepat penguasaan teknik gamelan Gong Kebyar, termasuk teknik khas ngoret-ngerot, kaklenyongan, dan norot. Selain itu, tercipta musik tari baru Rejang Giri Jaya Ing Pura yang memperkaya repertoar kesenian Hindu di Jayapura dan meningkatkan partisipasi komunitas. Kontribusi penelitian ini tidak hanya memperkuat kompetensi penabuh, tetapi juga mendukung pelestarian serta keberlanjutan dinamis seni tradisional Bali di perantauan.
Forests, Lived Relations, and Dance Creation in Papua Ida Bagus Gede Surya Peradantha; Andy McNeilly; Jimmi Rerei; Yosinta Kawagop; Dominggas Sobi; Kadek Indra Wijaya; Ellaboge Mulyani Uaga
Soshum: Jurnal Sosial dan Humaniora Vol. 16 No. 2 (2026): July 2026
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah, P3M, Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31940/soshum.v16i2.113-125

Abstract

This study explains how forests are positioned as living spaces within Papuan worldviews and how disruptions to this relationship affect sources of artistic creation, particularly dance. The study adopts a conceptual approach grounded in literature synthesis, critical engagement with previous scholarship, and contextual reflection on cultural and artistic practices. The analysis shows that forests are understood as living spaces that shape sociocultural relations, cosmological orientations, and embodied experience among Papuan communities, while sustaining the continuity of cultural practice and dance creation. Disruptions such as pollution, deforestation, and land conversion affect not only physical ecology but also interrupt lived practices, embodied knowledge, and cultural meanings that underpin creative processes. The study clarifies that forests are not treated as a singular origin of Papuan dance but as one of several relational spaces within a network of lived experience that informs artistic creation. These findings contribute to performing arts scholarship by framing the forest as a relational and epistemic foundation for dance creation and by offering conceptual implications for creative practice and context-based choreographic education.