Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Analysis of Heat Transfer on the Effect from Mineral Crust in Evaporator Semi-Kestner Quintuple Effect Rahadianto Wahyu Triaji; Eka Sri Yusmartini Yusmartini; Mardwita Mardwita
AJARCDE (Asian Journal of Applied Research for Community Development and Empowerment) Vol. 6 No. 3 (2022)
Publisher : Asia Pacific Network for Sustainable Agriculture, Food and Energy (SAFE-Network)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.381 KB) | DOI: 10.29165/ajarcde.v6i3.125

Abstract

Indonesia as a large population country has the potential to become one of the largest consumers of sugar in the world. Indonesia's national sugar needs amounted to 3.2 million tons per year while domestic production was around 2 million tons. In the sugar industry, the benefits of evaporator tools are to thicken clear juice whose dissolved solid number is 7 - 11 oBrix into a thickened syrup with a dissolved solid of 55 - 60 oBrix, this process occurs through the process of evaporation of water content contained in the material. In one sugar factory, the type of evaporator used is a Semi-Kestner Evaporator with the quintuple effect principle. One of the biggest challenges of evaporators is the decrease in heat value of the evaporator due to the onset of mineral crust that inhibits heat transfer. On September 7th, 2021 Q evaporator 1 is at 135874.8 Kw and on October 26th, 2021 Q evaporator 1 is at 121399.2 Kw. Based on the results of data observations on the evaporator carried out in September 2021 and October 2021, it can be concluded that the decreased heat transfer will cause the evaporator's performance in evaporating water from the sap material (clean juice) so that the material flow rate is getting bigger. Efforts that can be made to overcome this are to carry out mechanical cleaning or chemical cleaning per 28 days of the grinding process, to remove crusts on the tube calandria evaporator.
Sosialisasi Masyarakat di Desa Babatan Saudagar Ogan Ilir Tentang Pentingnya Kualitas Air untuk Kesehatan dan Lingkungan Sari, Debi Anggun; Rahadianto, Wahyu Triaji; Lestari, Dwi Indah; Maranggi, Isma Uly; Putri, Rara Eka Dyla
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 3 No. 4 (2025): Bulan Juli
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v3i4.186

Abstract

Kegiatan sosialisasi mengenai pentingnya kualitas air bagi kesehatan dan kelestarian lingkungan telah dilaksanakan di Desa Babatan Saudagar, Kabupaten Ogan Ilir, sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penggunaan air bersih dalam kehidupan sehari-hari serta upaya pelestariannya. Materi yang disampaikan mencakup dampak buruk air tercemar terhadap kesehatan, pentingnya sanitasi lingkungan, dan teknik sederhana pengelolaan air bersih, termasuk penggunaan filter air. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif, di mana masyarakat dilibatkan secara aktif dalam sesi diskusi, praktik lapangan, dan tanya jawab interaktif. Evaluasi dilakukan melalui pengamatan dan diskusi terarah, yang menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap karakteristik air bersih, bahaya air yang tercemar, serta praktik pemeliharaan kualitas air. Kegiatan ini melibatkan 20 orang peserta yang terdiri atas perangkat desa, kepala dusun, dan pengurus posyandu sebagai mitra pelaksana kegiatan. Hasil kegiatan ini diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat.
PENGARUH VARIASI MASSA BENTONIT DAN SUHU PEMANASAN TERHADAP EFEKTIVITAS PENJERNIHAN MINYAK JELANTAH SECARA FISIKA DAN KIMIA Maranggi, Isma Uly; Rahadianto, Wahyu Triaji; Chandra, Yogi; Sugesti, Heni
Jurnal Teknologi Kimia Unimal Vol. 14 No. 1 (2025): Jurnal Teknologi Kimia Unimal - May 2025
Publisher : Chemical Engineering Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jtku.v14i1.21731

Abstract

Minyak jelantah merupakan limbah rumah tangga dan industri yang berpotensi mencemari lingkungan serta membahayakan kesehatan apabila digunakan kembali tanpa proses pemurnian. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas pemurnian minyak jelantah menggunakan adsorben bentonit melalui metode penjernihan fisika dan kimia, dengan memvariasikan massa bentonit dan suhu pemanasan. Proses fisika dilakukan dengan adsorpsi menggunakan bentonit dalam variasi 1-7% b/v dan suhu 30-80°C, sedangkan proses kimia menggunakan reaksi esterifikasi dengan etanol dan asam sulfat pada suhu yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemurnian fisika paling efektif pada suhu 80°C dan konsentrasi bentonit 5%, menghasilkan penurunan kadar asam lemak bebas (ALB) hingga 0,08%. Sementara itu, pemurnian kimia efektif menurunkan ALB hingga 0,18% pada suhu 80°C. Kedua metode mampu memperbaiki kejernihan dan menurunkan kadar ALB secara signifikan, namun belum sepenuhnya menghilangkan aroma bau tidak sedap. Penelitian ini menunjukkan bahwa bentonit merupakan adsorben yang efektif untuk pemurnian minyak jelantah, dan pemilihan kondisi operasi yang optimal sangat berpengaruh terhadap hasil akhir.
LITERATURE REVIEW: THE POTENTIAL OF NON-EDIBLE OILS AS RAW MATERIALS FOR BIODIESEL PRODUCTION: TINJAUAN PUSTAKA: POTENSI MINYAK NON-NON-MAKAN SEBAGAI BAHAN BAKU PRODUKSI BIODIESEL Heni Sugesti; Yogi Chandra; Isma Uly Maranggi; Wahyu Triaji Rahadianto; Eka Putri
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 5 No. 3 (2025): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-June 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v5i3.23092

Abstract

The global energy crisis and limited fossil fuel resources have prompted the search for sustainable alternative fuels. Biodiesel is one of the environmentally friendly renewable energy solutions that can be produced from various sources, including non-edible oils. Non-edible oils, such as karanja, jatropha, mahua, castor, neem, linseed, jojoba, and rapeseed, offer several advantages, including not competing with food crops, high lipid content, and the ability to be cultivated on marginal land. Biodiesel production from non-edible oils is carried out through a transesterification process using short-chain alcohol with the aid of catalysts, both homogeneous and heterogeneous. The study results indicate that homogeneous base catalysts achieve high conversion efficiencies under specific reaction conditions. Meanwhile, heterogeneous catalysts also provide high yields (>90%). The use of heterogeneous catalysts offers advantages in separation and recycling processes. Based on these findings, non-edible oils have proven to be a viable and strategic feedstock for the production of second-generation biodiesel. This approach supports the development of sustainable energy and the reduction of carbon emissions in the future.
Pemanfaatan Sampah Organik Rumah Tangga Menjadi Cairan Serba Guna dengan Proses Fermentasi di Panti Asuhan Humairoh Palembang Yusmartini, Eka Sri; Kharismadewi, Dian; Atikah; Rahadianto, Wahyu Triaji
Jurnal Abdimas Mandiri Vol. 9 No. 2
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jam.v9i2.5820

Abstract

Sampah masih menjadi masalah utama di lingkungan, karena jumlah timbunan sampah yang dihasilkan sehari hari dari aktivitas masyarakat. Timbunan sampah pada TPA semakin hari semakin meningkat, kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk membangun kesadaran tentang pentingnya mengolah sampah organik menjadi cairan serba guna yang dapat digunakan sehari hari dengan memanfaatkan sampah organik. Kegiatan dilakukan di Panti Asuhan Aisyiyah Humairoh, kota Palembang yang diikuti oleh 27 peserta. Eco enzym adalah produk pemanfaatan sampah organik rumah tangga (kulit buah, sisa sayuran) yang masih segar yang difermentasi dengan gula merah atau bisa juga menggunakan molase, dalam wadah kedap udara selama 3 bulan, sampai menjadi larutan aktif. Bahan bahan nya terdiri dari air, gula merah atau molase, dan sampah dari kulit buah serta sayuran. Metode Sosialisasi dan Pelatihan dilakukan dengan dimulai dari persiapan, pretest, pelaksanaan pelatihan dan posttest. Peserta kegiatan berperan aktif dalam kegiatan baik dalam sosialisasi maupun pelatihan.  Evaluasi dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan untuk mengetahui tingkat wawasan peserta terkait sosialisasi dan pelatihan yang dipaparkan.  Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pemahaman peserta meningkat sebesar 100 % dari semula tidak paham dan kurang paham.   Hasil dari eco enzyme dapat dipanen setelah 3 bulan proses fermentasi. Setelah kegiatan peserta dibagikan produk eco enzyme yang dapat dipakai untuk kebutuhan sehari hari seperti mengepel dan menyiram tanaman. Hal ini dimaksudkan agar peserta dapat merasakan manfaat dari eco enzyme yang diolah menggunakan sampah organik. Pengetahuan masyarakat akan nilai tambah sampah dengan mengolahnya menjadi eco enzyme bertambah, dan diharapkan selanjutnya bisa mandiri membuatnya, baik dilingkungan panti asuhan maupun diluar panti asuhan.
Analysis of Heat Transfer on the Effect from Mineral Crust in Evaporator Semi-Kestner Quintuple Effect Triaji, Rahadianto Wahyu; Yusmartini, Eka Sri Yusmartini; Mardwita, Mardwita
AJARCDE (Asian Journal of Applied Research for Community Development and Empowerment) Vol. 6 No. 3 (2022)
Publisher : Asia Pacific Network for Sustainable Agriculture, Food and Energy (SAFE-Network)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29165/ajarcde.v6i3.125

Abstract

Indonesia as a large population country has the potential to become one of the largest consumers of sugar in the world. Indonesia's national sugar needs amounted to 3.2 million tons per year while domestic production was around 2 million tons. In the sugar industry, the benefits of evaporator tools are to thicken clear juice whose dissolved solid number is 7 - 11 oBrix into a thickened syrup with a dissolved solid of 55 - 60 oBrix, this process occurs through the process of evaporation of water content contained in the material. In one sugar factory, the type of evaporator used is a Semi-Kestner Evaporator with the quintuple effect principle. One of the biggest challenges of evaporators is the decrease in heat value of the evaporator due to the onset of mineral crust that inhibits heat transfer. On September 7th, 2021 Q evaporator 1 is at 135874.8 Kw and on October 26th, 2021 Q evaporator 1 is at 121399.2 Kw. Based on the results of data observations on the evaporator carried out in September 2021 and October 2021, it can be concluded that the decreased heat transfer will cause the evaporator's performance in evaporating water from the sap material (clean juice) so that the material flow rate is getting bigger. Efforts that can be made to overcome this are to carry out mechanical cleaning or chemical cleaning per 28 days of the grinding process, to remove crusts on the tube calandria evaporator.
Pemanfaatan Karbon Magnetit dari Tempurung Kelapa sebagai Adsorben Ion Seng (II) dalam Larutan Artifisial Sugesti, Heni; Chandra, Yogi; Rahadianto, Wahyu Triaji
Blend Sains Jurnal Teknik Vol. 4 No. 3 (2026): Edisi Januari
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/blendsains.v4i3.1532

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja adsorpsi karbon magnetit sebagai adsorben ion Seng (Zn²⁺) dalam larutan berair menggunakan metode batch. Karbon magnetik dari tempurung kelapa dianalisa karakterisasi menggunakan FTIR dan SEM. Hasil karakterisasi menggunakan FTIR mengonfirmasi keberhasilan pembentukan komposit melalui munculnya puncak serapan khas ikatan Fe-O pada bilangan gelombang di bawah 600 cm⁻¹. Selain itu, teridentifikasi gugus fungsi aktif hidroksil (O-H) dan karbonil (C=O) yang berperan sebagai situs aktif pengikatan logam. Analisis SEM memperlihatkan morfologi permukaan yang berpori dengan distribusi partikel magnetit pada matriks karbon aktif, yang memberikan sifat pemisahan magnetik yang cepat. Adsorben karbon magnetit disintesis melalui teknik kopresipitasi dan diaplikasikan untuk menyisihkan ion Zn²⁺ dengan variasi konsentrasi awal 5, 15, dan 25 mg/L. Proses adsorpsi dilakukan pada suhu 25 °C dengan dosis adsorben 0,08 g dalam 100 mL larutan dan waktu kontak hingga 75 menit. Konsentrasi sisa Zn²⁺ dianalisis menggunakan instrumen flame Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) untuk menentukan efisiensi penyisihan (% removal). Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi adsorpsi meningkat seiring bertambahnya waktu kontak dan konsentrasi awal Zn²⁺. Pada waktu kontak 75 menit, persentase removal 90% untuk 25 mg/L. Peningkatan efisiensi adsorpsi pada konsentrasi yang lebih tinggi menunjukkan adanya pengaruh gradien konsentrasi sebagai gaya pendorong utama proses adsorpsi. Secara keseluruhan, karbon magnetit menunjukkan kinerja adsorpsi yang baik terhadap ion Zn²⁺ dan berpotensi diaplikasikan sebagai adsorben magnetik yang efektif dalam pengolahan limbah cair yang mengandung logam berat.
Adsorpsi ion Zn (II) dari Larutan Artifisial menggunakan Karbon Magnetik Berbasis Tempurung Kelapa Sugesti, Heni; Chandra, Yogi; Rahadianto, Wahyu Triaji
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA MINERAL Forthcoming issue
Publisher : Politeknik ATI Makassaar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan adsorben karbon-magnetik Fe3O4 dari limbah tempurung kelapa. Proses pembuatan adsorben melibatkan tiga langkah sistematis utama. Pertama, arang tempurung kelapa dikarbonisasi pada suhu 650°C. Kedua, aktivasi kimia menggunakan 12% H3PO4 secara efektif meningkatkan porositas dan memperluas luas permukaan material. Ketiga, sintesis komposit dilakukan melalui kopresipitasi, menghasilkan padatan komposit magnetik berwarna hitam. Karakterisasi morfologi permukaan dengan SEM menunjukkan struktur kasar dan berpori, yang mengkonfirmasi ketersediaan situs aktif yang tinggi untuk pengikatan polutan. Spektrum EDS menunjukkan keberadaan tiga unsur utama dalam material: 54,8% karbon (C), 29,3% oksigen (O), dan 15,9% besi (Fe). Pengujian kinerja dilakukan pada ion Zn(II) dengan berbagai konsentrasi awal (10, 20, dan 30 mg/L) dan waktu kontak hingga 75 menit. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kapasitas adsorpsi ion Zn(II) dan kemudahan pemisahan material menggunakan medan magnet eksternal. Hasil penelitian menunjukkan kinerja adsorpsi yang signifikan dengan efisiensi penghilangan tertinggi mencapai 90,1% pada konsentrasi awal 30 mg/L. Secara kinetik, proses adsorpsi sangat responsif pada fase awal antara 0 dan 25 menit, sebelum mencapai kesetimbangan dalam total waktu 75 menit. Kombinasi aktivasi kimia konsentrasi rendah dan penambatan magnetik ini telah terbukti menghasilkan adsorben yang tidak hanya efektif secara kuantitatif dalam menghilangkan polutan logam berat tetapi juga efisien dalam pemulihan material pasca-penggunaan.
Pemanfaatan Karbon Aktif dari Cangkang Kelapa Termodifikasi Fe₃O₄ sebagai Adsorben untuk Menurunkan Kadar Logam Seng (Zn2+) Limbah Cair Chandra, Yogi; Rahadianto, Wahyu Triaji; Sugesti, Heni
KATALIS: Jurnal Penelitian Kimia dan Pendidikan Kimia Vol 9 No 1 (2026): Jurnal Katalis Volume 9 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33059/katalis.v9i1.13631

Abstract

Environmental pollution originating from industrial waste, including waste containing heavy metals such as ions (Zn²⁺), is a serious concern due to its toxic nature, which can endanger human health. Efforts to treat heavy metal waste continue to be developed, one of which is through adsorption, which is considered efficient, inexpensive, and environmentally friendly. The use of composite-based materials, such as Fe3O4 and coconut shell activated carbon, offers great potential because it combines the magnetic properties of Fe3O4 and the surface area of activated carbon, thereby facilitating the separation process and increasing adsorption capacity. This study aims to evaluate the effectiveness of activated carbon derived from coconut shells and modified with Fe₃O₄ as an adsorbent to reduce the zinc ion (Zn²⁺) content in liquid waste. Activated carbon was modified with Fe₃O₄ to increase its adsorption capacity and facilitate the separation of the adsorbent after the process. Fe3O4-modified activated carbon was characterized using Scanning Electron Microscopy (SEM) to observe the surface morphology and texture, as well as to verify the success of the modification. The SEM characterization results showed changes in the surface structure of activated carbon after Fe3O4 modification. Adsorption tests were conducted in batches to determine the optimal contact time parameter. Contact time variations were tested to determine the adsorption kinetics (Zn²⁺). The results showed that Fe3O4-modified activated carbon had good adsorption performance for (Zn²⁺) ions, achieving a significant reduction in concentration. The optimal contact time for adsorption (Zn²⁺) was found to be 75 minutes, at which the adsorption efficiency (%) reached 90.1%. The conclusion of this study is that Fe3O4-modified coconut shell activated carbon is a potential, efficient, and environmentally friendly adsorbent for treating liquid waste contaminated with heavy metals (Zn²⁺).