Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Anemia pada Remaja PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UNTUK MENUMBUHKAN KEMANDIRIAN KELUARGA DALAM MEWUJUDKAN “REMAJA PUTRI SEHAT BEBAS ANEMIA” DI DESA SAWIR KEC. TAMBAKBOYO, TUBAN Retna Puspitadewi, Teresia; Christyaningsih , Juliana; Yunariyah , Binti
Jurnal Ilmiah Tatengkorang Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Tatengkorang
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/tkrg.v8i1.636

Abstract

Remaja putri memilik risiko tinggi mengalami anemia karena defisiensi zat besi. Hal ini karena remaja putri mengalami menstruasi setiap bulannya dan sedang dalam masa pertumbuhan Hambatan penurunan kejadian anemia pada remaja putri antara lain: kurangnya pemahaman keluarga terhadap pencegahan anemia dan status gizi remaja putri, kurang terpaparnya keluarga terhadap risiko atau dampak anemia, oleh karena itu perlu adanya pemberdayaan keluarga untuk :1) Deteksi dini kejadian anemia 2) Edukasi pemenuhan gizi remaja dengan pemanfaatan pangan lokal. Kegiatan pengabdian masyarakat bertujuan untuk menumbuhkan kemandirian keluarga sebagai upaya mewujudkan remaja putri bebas anemia di Desa Sawir Kecamatan Tambakboyo Kabupaten Tuban. Kegiatan dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu: tahap 1 tgl 4 Juni 2023 dilakukan skreening anemia pada 50 remaja putri di polindes, tahap 2 tanggal 21 Juni 2023 penyuluhan dan demonstrasi pembuatan menu, tahap 3 tanggal 4-5 Juli 2023 pendampingan pembuatan menu berbahan pangan lokal pada keluarga. Dari kegiatan pengabdian masyarakat didapatkan hasil skreening masih ditemukan sebagian kecil (10 persen) remaja putri mengalami anemia, kenaikan nilai rata-rata pengetahuan anemia dan dampaknya sebesar 4 Persen dari post-test dibandingkan pre-test ,dan dihasilkan 27 kreasi menu makanan berbahan pangan lokal yang bergizi seimbang bagi remaja. Perlu adanya kegiatan lanjutan yang berupa pendampingan pada keluarga yang memiliki remaja putri agar keluarga dapat melakukan deteksi dini anemia dan pencegahannya serta kerjasama pihak kecamatan, dan puskesmas agar kegiatan pengabdian masyarakat ini tepat sasaran dan berhasil guna sebagai upaya turut serta mensukseskan program pemerintah dalam mewujudkan ‘Remaja Putri Sehat Bebas Anemia’ Adolescent girls have a high risk of anemia due to iron deficiency. This is because adolescent girls menstruate every month and are in their growth Obstacles to reducing the incidence of anemia in adolescent girls include: lack of family understanding of anemia prevention and nutritional status of adolescent girls, lack of family exposure to the risk or impact of anemia, therefore it is necessary to empower families to: 1) Early detection of anemia 2) Education on the fulfillment of adolescent nutrition with the use of local food. Community service activities aim to foster family independence as an effort to realize anemia-free adolescent girls in Sawir Village, Tambakboyo District, Tuban Regency. The activity was carried out in 3 stages, namely: phase 1 on June 4, 2023, anemia screening was carried out on 50 adolescent girls in Polindes, phase 2 on June 21, 2023, counseling and demonstration of menu making, phase 3 on July 4-5, 2023, assistance in making menus made from local food for families. From community service activities, it was found that a small percentage (10 percent) of adolescent girls had anemia, an increase in the average value of anemia knowledge and its impact by 4 percent from the post-test compared to the pre-test, and produced 27 creations of food menus made from local foods that are nutritionally balanced for adolescents. There needs to be further activities in the form of assistance to families who have adolescent girls so that families can carry out early detection of anemia and its prevention as well as cooperation between the Subdistrict, and Puskesmas so that this community service activity is right on target and successful as an effort to participate in the success of government programs in realizing 'Healthy Young Women Free of Anemia'
PENDAMPINGAN KADER POSYANDU MELALUI PELATIHAN PEMANTAUAN STATUS KESEHATAN BALITA DAN KONSELING GIZI SEBAGAI UPAYA MENURUNKAN KEJADIAN STUNTING Retna Puspitadewi, Teresia; Jannah, Roudlotul; Wahyurianto, Yasin
Jurnal Ilmiah Tatengkorang Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Tatengkorang
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Nusa Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54484/tkrg.v8i2.679

Abstract

Stunting is a condition of failure to grow in toddlers due to chronic malnutrition for 1,000 HPK, The lack of exposure of mothers of toddlers and posyandu cadres about stunting is predicted to be the cause of the lack of social support, therefore it is necessary to educate the public about the health status of toddlers through screening. The purpose of community service activities is to provide assistance to Posyandu Cadres and mothers of toddlers on Monitoring the Nutritional Status of Toddlers and Nutrition Counseling as an effort to reduce the incidence of stunting in Tunah Village, Tuban Regency. The results of the first phase of activities on July 9, 2024 were counseling on stunting, nutrition for toddlers, and a demonstration of toddler menu processing by PERSAGI. From the results of this activity, it was obtained that there was a difference in knowledge with a significance of 0.000 with a p value of < 0.05, which means that there was an influence of the treatment or education provided on the improvement of participants' knowledge. Phase 2 on July 15, 2024, assisted the skills of posyandu cadres for anthropometric measurements obtained from 50 toddlers almost entirely (86%) with normal LILA, almost all (82%) LILA with normal toddlers, and most (54%) with BMI less than normal. The results of this measurement illustrate the condition of toddlers in Tunah village who have a malnourished status who are at risk of stunting. In the assistance of processing the toddler menu, 26 sample menus for toddlers were produced. This mentoring activity needs to be continued with the cooperation of the District, Puskesmas so that this community service activity is on target and successful as an effort to participate in the success of the government program to realize the acceleration of stunting reduction in toddlers Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis selama 1.000 HPK, Kurang terpaparnya ibu balita dan kader posyandu tentang stunting diprediksi menjadi penyebab kurangnya dukungan sosial, oleh karenanya diperlukan edukasi pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang status kesehatan balita melalui skreening. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat memberikan Pendampingan pada Kader Posyandu dan ibu balita tentang Pemantauan Status Gizi Balita dan Konseling Gizi sebagai upaya menurunkan Kejadian Stunting di Desa Tunah Kabupaten Tuban. Hasil kegiatan tahap I tgl 9 Juli 2024 dilakukan penyuluhan tentang stunting, nutrisi balita, serta Demonstrasi pengolahan menu balita oleh PERSAGI. Dari hasil kegiatan ini didapatkan perbedaan pengetahuan dengan signifikansi 0,000 dengan p value < 0,05 diartikan ada pengaruh dari perlakuanatau edukasi yang diberikan pada peningkatan pengetahuan peserta. Tahap 2 tanggal 15 juli 2024 dilakukan pendampingan ketrampilan kader posyandu untuk pengukuran antropometri didapatkan dari 50 balita hampir seluruhnya (86%) LILA normal, LIKA hampir seluruhnya (82%) balita normal, dan IMT sebagian besar (54%) kurang dari normal. Hasil pengukuran ini menggambarkan kondisi balita didesa Tunah memiliki status gizi kurang yang berisiko mengalami stunting. Pada pendampingan pengolahan menu balita dihasilkan 26 contoh menu bagi balita. Kegiatan pendampingan ini perlu dilanjutkan dengan kerjasama pihak Kecamatan, Puskesmas agar kegiatan pengabdian masyarakat ini tepat sasaran dan berhasil guna sebagai upaya ikut serta mensukseskan program pemerintah mewujudkan percepatan penurunan Stunting pada balita
HUBUNGAN KARAKTERISTIK CAREGIVER DENGAN TINGKAT SELF-EFFICACY DALAM MERAWAT IBU DENGAN DIABETES MELLITUS GESTASIONAL: RELATIONSHIP CAREGIVER CHARACTERISTICS AND SELF-EFFICACY LEVELS IN CARING FOR MOTHERS WITH GESTATIONAL DIABETES MELLITUS Roudlotul Jannah; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 7 No. 2 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v7i2.404

Abstract

Diabetes mellitus gestasional (DMG) dapat berdampak fatal jika tidak ditangani dengan tepat, karena dapat merusak kesehatan ibu dan janin. Self-efficacy yang tinggi pada caregiver berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup ibu dengan DMG, karena mampu mendukung manajemen kesehatan ibu serta memberikan dukungan psikologis dan emosional yang lebih stabil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik caregiver dengan self-efficacy. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Tuban dengan menggunakan desain cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 81 caregiver yang mendampingi ibu dengan DMG yang berkunjung ke Poli Hamil dan Puskesmas, yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan tingkat self-efficacy sebagian besar berada pada kategori tinggi (55,6%). Karakteristik caregiver yang berhubungan dengan self-efficacy adalah jenis kelamin (p= 0,033; OR 7,56 CI 95% 3,90 – 63,65), pendidikan (p= 0,046) dan penghasilan (p= 0,016; OR 3,67 CI 95% 1,22 – 10,99). Caregiver perempuan memiliki peluang 7,568 kali lebih besar untuk memiliki self-efficacy tinggi dibandingkan laki-laki. Caregiver dengan penghasilan ≥Rp 1.851.083 memiliki peluang 3,674 kali lebih besar untuk memiliki self-efficacy tinggi dibandingkan individu dengan penghasilan <Rp 1.851.083. Self-efficacy yang tinggi pada caregiver diharapkan dapat mendukung pengelolaan kesehatan ibu secara optimal dan mengurangi risiko komplikasi. Gestational diabetes mellitus (GDM) can have fatal consequences if not properly managed, as it can harm the health of both the mother and the fetus. High self-efficacy among caregivers plays an important role in improving the quality of life of mothers with GDM by supporting maternal health management and providing more stable psychological and emotional support. This study aims to determine the relationship between caregiver characteristics and self-efficacy. The study was conducted in Tuban Regency using a cross-sectional design. The sample consisted of 81 caregivers accompanying mothers with GDM at maternity clinics and public health centers, selected using consecutive sampling. Data analysis was performed using the chi-square test with a 95% confidence level. The results showed that most caregivers had high self-efficacy (55.6%). Caregiver characteristics significantly associated with self-efficacy were gender (p= 0.033; OR 7.56, 95% CI 3.90–63.65), education (p= 0.046), and income (p= 0.016; OR 3.67, 95% CI 1.22–10.99). Female caregivers were 7.568 times more likely to have high self-efficacy than male caregivers. Caregivers with an income of ≥IDR 1,851,083 were 3.674 times more likely to have high self-efficacy than those earning <IDR 1,851,083. High self-efficacy among caregivers is expected to support optimal maternal health management and reduce the risk of complications.
Improving Adolescent Reproductive Health Literacy through Community-Based Health Screening and Education in Rural East Java Teresia Retna Puspitadewi,S.Kep,Ns,M.Kes; Hilmi Yumni; Nurwening Tyas Wisnu; Hery Sumasto; Rahayu Sumaningsih; Yuni Ginarsih; Evi Yunita Nugrahini; Ira Rahayu Tiyar Sari; Ira Puspita Sari; Siswari Yuniarti; Sri Utami; Binti Yunariyah
Frontiers in Community Service and Empowerment Vol. 5 No. 2 (2026): June
Publisher : Forum Ilmiah Teknologi dan Ilmu Kesehatan (FORITIKES)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35882/ficse.v5i2.144

Abstract

Adolescents are an age group that is prone to health problems such as anemia, impaired nutritional status, premature hypertension, and the risk of metabolic disorders due to lifestyle changes. In addition, low reproductive health literacy increases the risk of risky behaviors and long-term health problems. This community service activity aims to identify adolescent health conditions through integrated screening and increase reproductive health knowledge through a community-based approach. The methods used include blood pressure, hemoglobin, hematocrit, blood glucose, Body Mass Index (BMI) measurement, and interactive counseling on reproductive health. The activity was attended by 17 teenagers from Mrican Village. The screening results showed that 17.7% of adolescents were in the prehypertensive category, 17.7% had poor nutritional status based on BMI, and 17.7% had high blood glucose levels. As many as 11.8% of adolescents had low hemoglobin levels, while 29.4% showed low hematocrit levels. Educational evaluation showed that 88.2% of participants obtained perfect scores on the reproductive health post-test.  This activity is able to provide an overview of adolescents' health conditions through health screening while increasing their knowledge about reproductive health. In addition, the findings of health risk factors in some adolescents are also an important basis for follow-up efforts in the form of health education, monitoring nutritional status, and fostering healthy living behaviors in adolescents in the community.
The Effectiveness of Oxytocin Massage on Milk Production in Postpartum Mothers Anita Lontaan; Moudy Lombogia; Teresia Retna Puspitadewi
Bulletin of Inspiring Developments and Achievements in Midwifery Vol. 2 No. 1 (2025): June, 2025
Publisher : CV. Get Press Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69855/bidan.v2i1.597

Abstract

Background: Exclusive breastfeeding is essential for supporting optimal infant growth and development, as breast milk provides complete nutrients and enhances the immune system. However, many postpartum mothers experience difficulties in breast milk production due to physical and psychological factors. Oxytocin stimulation through massage is considered a potential method to improve milk flow. This study aimed to determine the effectiveness of oxytocin massage on milk production among postpartum mothers in the working area of Andalas Padang Health Center. Methods: This study used a quantitative approach with a pretest–posttest experimental design. The research was conducted in the working area of Andalas Padang Health Center with a sample of 30 postpartum mothers selected based on inclusion and exclusion criteria. Data were collected through interviews and observations, and analyzed using univariate and bivariate analysis with a paired t-test to assess differences before and after the intervention. Results: The findings showed that 90% of respondents experienced improved milk production after receiving oxytocin massage. The t-test results indicated a significant difference in milk production before and after the intervention (p < 0.05). Conclusion: Oxytocin massage is effective in improving milk production in postpartum mothers and can support the success of exclusive breastfeeding.
Development of Caregiver Empowerment Model in Caring for Mothers with Gestational Diabetes Mellitus Teresia Retna Puspitadewi; Roudlotul Jannah; Yasin Wahyurianto
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 8 No. 9 (2025)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v8i9.7551

Abstract

Introduction: Gestational Diabetes Mellitus (GDM) is a condition of elevated blood glucose levels during pregnancy, usually around 24 weeks of gestation, and contributes to approximately 3 million stillbirths annually. It increases the maternal mortality risk up to four times and poses long-term health risks. More than 50% of women with GDM are at risk of developing type 2 diabetes mellitus later in life. This study aims to develop a caregiver empowerment model for supporting mothers with GDM, based on the caregiver empowerment theory with a family-centred nursing approach. Methods: This model focuses on family caregiver factors and maternal GDM factors, as well as their influence on filial values, resources, appraisal, and caregiver outcomes. This study employs an explanatory design with a cross-sectional approach. The population comprises family caregivers of mothers with GDM who visited six community health centres (Puskesmas) in Tuban Regency. A total of 81 caregivers meeting the inclusion criteria were selected through systematic random sampling. Research variables include family caregiver factors, maternal GDM factors, filial values, resources, appraisal, and caregiver outcomes. Data were collected via questionnaires and analysed using Structural Equation Modelling-Partial Least Squares (SEM-PLS) after validity and reliability testing. Results: The results indicate that family caregiver factors (X1) significantly influence filial values (X3) and caregiver outcomes (Y1), while resources (X4) significantly affect appraisal (X5), with a T-value above 1.96 and a positive coefficient. The finding this model provides a new conceptual and practical contribution to maternal health interventions, particularly in strengthening family-based support systems for GDM management. Conclusion: In conclusion, the caregiver empowerment model for supporting mothers with GDM demonstrates that family caregiver factors influence filial values and caregiver outcomes, while resources affect appraisal.
Factors Analysis of Stunting Prevention Effort in Mother of Toddlers through Snehandu B. Karr Theory Approach Teresia Retna Puspitadewi; Roudlotul Jannah; Yasin Wahyuriyanto
MEDICA (International Medical Scientific Journal) Vol. 8 No. 3 (2026): MEDICA (International Medical Scientific Journal)
Publisher : Borneo Scientific Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53770/medica.v8i3.978

Abstract

Stunting remains a major global public health problem reflecting chronic malnutrition in children and contributing substantially to under-five mortality worldwide. This study aimed to analyze the dominant factors influencing stunting prevention efforts among mothers of toddlers using the Snehandu B. Karr theoretical approach in the working area of Wire Public Health Center, Tuban Regency. An analytical cross-sectional design was employed in August 2022 involving 200 mothers of toddlers selected through quota sampling. Data were collected using a structured questionnaire developed based on the Snehandu B. Karr theory to assess internal and external determinants of preventive behavior. Univariate analysis was conducted to describe respondent characteristics and study variables, while bivariate and multivariate analyses using logistic regression were performed to identify significant and dominant factors. The results showed that social support (p = 0.029), behavioral intention (p = 0.018), and autonomy (p = 0.018) were significantly associated with stunting prevention efforts, whereas access to information (p = 0.998) and situational factors (p = 0.999) were not significantly related. Behavioral intention was identified as the most dominant factor influencing stunting prevention behavior among mothers. In conclusion, strengthening maternal behavioral intention, enhancing social support, and promoting autonomy are crucial to improving stunting prevention efforts; therefore, future studies should focus on intervention-based and longitudinal approaches to better understand causal relationships and evaluate the effectiveness of behavior change strategies.
Stres Akademik Yang Dihadapi Mahasiswa Semester 4 Di Poltekkes Kemenkes Surabaya Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Kampus Tuban Paskalia Siska Putri Febrina; Yasin Wahyurianto; Teresia Retna Puspitadewi; Binti Yunariyah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2364

Abstract

Stres akademik sering dialami mahasiswa keperawatan akibat tingginya tuntutan tugas, ujian, dan praktik klinik yang dapat berdampak pada prestasi belajar dan kesehatan mental jika tidak dikelola dengan baik. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran stres akademik yang dihadapi mahasiswa semester 4 Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Kampus Tuban. Metode: Desain penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi yang diteliti terdiri dari 82 mahasiswa, dengan jumlah sampel sebanyak 68 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner stres akademik. Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 82 mahasiswa, sebagian besar mahasiswa semester 4 Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Kampus Tuban dengan kategori umur remaja (< 20 tahun) memiliki tingkat stres akademik ringan sebanyak 18 mahasiswa (72%), hampir seluruh mahasiswa dengan jenis kelamin laki-laki memiliki tingkat stres akademik ringan sebanyak 5 mahasiswa (83%), sebagian besar mahasiswa yang tinggal bersama orang tua memiliki tingkat stres akademik ringan sebanyak 20 mahasiswa (71%), dan hampir seluruh mahasiswa yang aktif dalam organisasi memiliki tingkat stres akademik ringan sebanyak 19 mahasiswa (79%). Simpulan: Temuan menunjukkan stres akademik mahasiswa masih dalam batas adaptif, mencerminkan kemampuan cukup baik dalam mengelola tekanan. Kondisi ini dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Adaptasi yang baik mendukung kelancaran akademik karena tanpa koping efektif, stres dapat meningkat. Diperlukan upaya berkelanjutan melalui dukungan sosial, manajemen waktu, dan aktivitas positif guna menjaga kesehatan mental.
Faktor Yang Mempengaruhi Pola Makan Lansia Dan Kejadian Penyakit Jantung Koroner Di Poli Jantung RSUD dr. R Koesma Tuban Eliya Catur Rini; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto; Binti Yunariyah
Jurnal Keperawatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jkmc.v5i1.2388

Abstract

Peinyakit jantung koroneir meirupakan gangguan fungsi jantung yang teirjadi kareina arteiri koroneir meingalami peinyumbatan. Peinyakit ini beirsifat “sileint killeir” yang meinyeibabkan keimatian deingan preiseintasei 30% di seiluruh dunia. Kondisi ini diseibabkan oleih pola makan buruk yang kaya akan leimak jeinuh, gula seideirhana, dan tinggi natrium. Tujuan peineilitian ini untuk meingeitahui gambaran faktor yang meimpeingaruhi pola makan lansia dan keijadian peinyakit jantung koroneir di Poli Jantung RSUD dr. R Koeisma Tuban. Deisain pada peineilitian deiskriptif deingan populasi peineilitian seiluruh pasiein peinyakit jantung yang peiriksa di poli jantung RSUD dr. R Koeisma tuban seibanyak 131. Beisar sampeil 99 reispondein meinggunakan teiknik purposivei sampling. Variabeil peineilitian ini yaitu faktor yang meimpeingaruhi pola makan lansia dan keijadian peinyakit jantung koroneir. Peingumpulan data meinggunakan kueisioneir dan dianalisis deingan analisis deiskriptif. Hasil peineilitian didapatkan seibagian beisar lansia meindeirita peinyakit jantung koroneir > 1 tahun, hampir seiteingah lansia beirumur 55-65 tahun dan seibagian beisar lansia beikeirja. Seibagian beisar lansia didiagnosis PJK. Hampir seiluruh lansia deingan tingkat peindapatan reindah dan faktor lingkungan buruk meingalami keijadian peinyakit jantung koroneir. Seibagian beisar lansia deingan faktor sosial budaya buruk meingalami keijadian peinyakit jantung koroneir. Hampir seiluruh lansia deingan peindidikan tinggi tidak meingalami keijadian peinyakit jantung koroneir. Lansia deingan peinyakit jantung koroneir meimiliki keibiasaan pola makan buruk, keimudian deingan kondisi eikonomi reindah dan tingkat peindidikan reindah meimpeingaruhi pola makan lansia, diiringi deingan sosial budaya dan kondisi lingkungan buruk meimpeirsulit lansia dalam meineintukan pola makan seihat. Oleih kareina itu, dipeirlukan dukungan dari keiluarga kareina keiluarga meirupakan subsisteim untuk meinolong anggota keiluarganya yang sakit.
Persepsi Akseptor Pada Pemakaian Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) Di Puskesmas Tuban Tri Wahyu Setiyowati; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto; Roudlotul Jannah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2367

Abstract

Secara nasional program KB di Indonesia diarahkan ke metode kontrasepsi jangka Panjang (MKJP) dibandingkan non-MKJP karena dianggap lebih efektif, efisien, aman, dan ekonomis. Namun kenyataannya penggunaan MKJP masih lebih rendah dibandingkan non-MKJP. Meskipun demikian, terdapat akseptor yang telah menggunakan MKJP dengan berbagai persepsi yang dimiliki. Persepsi tersebut dapat mempengaruhi keberlanjutan penggunaan serta kepuasan akseptor terhadap MKJP. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Persepsi akseptor pada pemakaian metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Puskesmas Tuban. Desain penelitian ini deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor MKJP yang mendapatkan pelayanan KB di Puskesmas Tuban pada bulan Desember 2025 s/d Februari 2026 yaitu sebanyak 94 akseptor, dengan sampel sebanyak 76 akseptor yang diambil menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan 24 pernyataan yang mencakup pengetahuan, keyakinan, sikap, sarana dan kemudahan akses, dukungan tenaga kesehatan dan keluarga. Analisis data dilakukan secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar akseptor memiliki persepsi yang baik terhadap pemakaian MKJP, meskipun akseptor dengan persepsi cukup hingga kurang masih ditemukan. Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi akseptor memiliki peranan penting dalam mendukung penerimaan serta keberlanjutan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang. Dapat disimpulkan bahwa persepsi akseptor pada pemakaian MKJP di wilayah kerja Puskesmas Tuban sebagian besar dalam kategori baik. Oleh karena itu, diperlukan edukasi dan konseling secara berkelanjutan oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan pemahaman serta persepsi positif akseptor terhadap MKJP.