Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

IMPLEMENTASI PROGRAM BIMBINGAN PERKAWINAN SEBAGAI PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING DI NIAS TAHUN 2022 El Hayatli, Miftahurrahmah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i2.37877

Abstract

Program pendampingan, konseling, dan pemeriksaan kesehatan dalam tiga bulan pranikah sebagai upaya pencegahan stunting dari hulu kepada calon pengantin telah diluncurkan oleh Kementerian Agama bersama BKKBN. Program ini sejalan dengan program bimbingan perkawinan (bimwin) oleh Kementerian Agama, namun implementasi dari kesepakatan tersebut tidak terlaksana dengan baik ke daerah-daerah termasuk Kepulauan Nias yang sebagian besar dari wilayahnya berstatus zona merah permasalahan stunting. Hal tersebut ditinjau dari keterbatasan upaya pelaksana program yaitu aparatur KUA dan aparatur agama lainnya sebagai ujung tombak keberhasilan program ini sehingga menyebabkan program tidak optimal. Sementara Perpres No. 72 tahun 2021 menyatakan penurunan stunting merupakan upaya kolaboratif dari seluruh pemangku kepentingan termasuk KUA dibawah Kantor Kementerian Agama. Dengan demikian untuk mengetahui bagaimana program tersebut berjalan diperlukan analisis mendalam terhadap implementasi program bimwin sebagai upaya percepatan penurunan stunting di Kepulauan Nias. Penelitian kualitiatif dengan rancangan studi kasus dan subjek penelitian yaitu Kepala Kantor Kementerian Agama, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat dan Kepala KUA melalui wawancara dan observasi. Analisis menunjukkan program bimwin sudah mulai terlaksana namun tidak optimal karena tidak adanya Memorendum of Understanding secara resmi dan tertulis oleh Kementerian Agama bersama Dinas Kesehatan menyebabkan para pelaksana program terbatas dalam bergerak didukung keterbatasan pengetahuan yang dimiliki serta tidak adanya anggaran khusus untuk kegiatan ini. Program bimwin sebagai upaya percepatan penurunan stunting dari hulu telah terlaksana namun tidak optimal dan terhambat oleh tidak adanya MoU antara pemangku kepentingan daerah. Saran: Terlaksananya MoU antar pemangku kepentingan dan pemuka agama lainnya agar pelaksana program dapat optimal melaksanakan tugasnya.
Studi Literatur: Pemanfaatan Media Video Pembelajaran Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Miftahurrahmah El Hayatli; Alya Fadilla; Nadrah Na'imi; Sabrina cahyati Nst; Ainun Nuraida
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 6 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i6.1715

Abstract

Media video pembelajaran telah dikenal luas sebagai salah satu media yang efektif dalam mendukung proses pembelajaran, terutama dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Video pembelajaran menyajikan materi secara visual dan interaktif, sehingga mampu membantu siswa dalam memahami konsep yang kompleks dan meningkatkan motivasi belajar. Studi literatur ini dirangkum dari 12 artikel penelitian yang diperoleh melalui database Google Scholar dan ScienceDirect, yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2025. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengeksplorasi efektivitas pemanfaatan media video dalam pembelajaran berbagai mata pelajaran di tingkat pendidikan dasar dan menengah. Hasil kajian menunjukkan bahwa media video mampu meningkatkan pemahaman konsep, hasil belajar, serta keterlibatan siswa secara signifikan. Penggunaan media seperti Canva, Powtoon, dan animasi berbasis aplikasi lainnya juga dinilai praktis dan menarik oleh siswa dan guru. Diharapkan, hasil dari studi ini dapat mendorong penerapan media video secara lebih luas dan optimal sebagai strategi pembelajaran inovatif, terutama dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital
Aksi Bergizi: Health Promotion Program Supporting Healthy Eating Habits in School Children Fitriyani, Meidina; El Hayatli, Miftahurrahmah; Muflih Faadhilah; Lestari, Puji; Kristina
BKM Public Health and Community Medicine The 12th UGM Public Health Symposium
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Purpose: The Aksi Bergizi program aims to cultivate a school community that values healthy, clean, and nutritious food. Its specific objectives include promoting health-oriented policies in schools related to healthy eating habits, creating a supportive environment for healthy eating among school children by establishing Agents of Change (AoC) for the Healthy Eating Movement for School Children (GEMASS), enhancing the capacity and skills of teachers, staff, students, and parents regarding healthy eating habits, and building networks with relevant stakeholders (Puskesmas, BPOM, School Committee) to support healthy eating in schools. Methods: Children spend about a quarter of their time in school daily, often consuming snacks whose nutritional content and cleanliness are unknown, potentially affecting their health. Preventive actions against the adverse effects of unhealthy snacks are necessary. The Aksi Bergizi program addresses the problem of unhealthy food consumption among school children. The program was implemented at SDN Percobaan 2 Yogyakarta, forming a team of AoC GEMASS to supervise, control, and educate the school community about healthy eating habits. The AoC GEMASS team includes students, teachers, the school committee, and parents. Additionally, the program promotes the policy of "No Snacking Fridays" as a flagship initiative. Results: The Aksi Bergizi program established the AoC GEMASS team to monitor and educate the school community on healthy eating practices. This team consists of students, teachers, the school committee, and parents. The program also strengthened the policy of "No Snacking Fridays," a key initiative of the school. Through these efforts, the program aims to create a healthy and nutritious school environment and build networks with stakeholders to support healthy eating in schools. Conclusion: The Aksi Bergizi program effectively promotes healthy eating habits among school children by establishing a supportive environment and engaging the school community and stakeholders. The initiative fosters a healthier school environment and encourages collaboration to sustain healthy eating practices.
LITERATURE REVIEW PENGEMBANGAN MEDIA EDUKASI KESEHATAN MASYARAKAT : TREN, INOVASI, DAN EFEKTIVITAS Eka Cahyani; Najwa Safira Hasibuan; Nur Anisa; Anisa Marsya Agustin; Miftahurrahmah El Hayatli
JIP: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol. 3 No. 1 (2025): JUNI
Publisher : CV. Adiba Aisha Amira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of information and communication technology has driven innovation in health education media, ranging from traditional print media to digital and interactive social media platforms. These various media formats have the potential to reach broader audiences and enhance the effectiveness of health message delivery. However, the effectiveness of educational media largely depends on selecting the appropriate type of media based on the characteristics of the target audience and the method of information delivery. Therefore, a comprehensive literature review is necessary to understand the trends in health education media innovation and the evidence of its effectiveness in improving public knowledge and behavior. The purpose of this literature review is to examine the development of public health education media, focusing on innovation trends and their effectiveness. This study employs a literature review method by analyzing relevant articles sourced from Google Scholar. The findings indicate that innovations in educational media—such as the use of interactive videos, social media, and mobile applications—have a positive impact on increasing public knowledge and health-related behaviors. Furthermore, the effectiveness of educational media is significantly influenced by content relevance, delivery methods, and audience engagement. These findings offer a comprehensive overview that can serve as a foundation for developing more adaptive and effective health education media to support health promotion in communities.
PENGGUNAAN LAYANAN GO KAMPUS (GOPUS) SEBAGAI BAGIAN DARI GAYA HIDUP MAHASISWA RANTAU UINSU MEDAN DI ERA DIGITAL Suci Aulia Ramadan S; Findyani Siregar; Alya Dwi Ananta; Amanda Natasya Gunawan; Miftahurrahmah Elhayatli
ZAHRA: JOURNAL OF HEALTH AND MEDICAL RESEARCH Vol. 4 No. 4 (2025): JULI
Publisher : CV. ADIBA AISHA AMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of digital technology has brought significant changes in the lifestyle of students, especially students from other regions who need easy access to campus services and daily needs. One of the increasingly popular innovations is the Go Campus (GOPUS) service, which has become part of the lifestyle of students in the midst of this digital era. This study aims to describe in depth the use of the Go Campus (GOPUS) service as part of the lifestyle of students from other regions of the State Islamic University of North Sumatra (UINSU) Medan in the digital era, focusing on their experiences, motivations, and impacts on their lives. This study uses a qualitative approach with a descriptive research type. Data were collected through in-depth interviews with four UINSU students from other regions who use GOPUS, participant observation, and documentation. Data were analyzed thematically based on patterns of use and students' perceptions of the service. The results of the study indicate that GOPUS has become an integral part of the lifestyle of UINSU students from other regions, providing practical solutions to transportation and time constraints. The main motivations for using GOPUS include convenience and practicality, especially in bad weather conditions or when assignments are piling up. The use of this service facilitates daily activities but also affects their physical activity patterns, with the potential to support a sedentary lifestyle. Although most respondents were satisfied, there were complaints related to service delays and driver availability and response speed. It was concluded that GOPUS not only meets functional needs, but also reflects students' adaptation to the social and technological environment.
Improving personal hygiene practices through health cadre training: a case study in a boarding school Fajrul Falah Farhany; Ichwan Ichwan; Fitriana Aulia Sabila Eka Putri; Miftahurrahmah El Hayatli; Dita Stiana; Hanggoro Tri Rinonce; Happy Indah Kusumawati; Shinta Trilaksmi Dewi
Berita Kedokteran Masyarakat Vol 40 No 12 (2024)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.v40i12.17915

Abstract

Purpose: To assess changes in SHCs’ scabies-related knowledge after a brief training and to explore feasibility, acceptability, and implementation challenges. Methods: Explanatory-sequential mixed-methods study at a Yogyakarta Islamic boarding school. The quantitative strand employed a one-group pretest–posttest design with a 10-item knowledge score (0–10), and a paired t-test was used to analyze the data. The qualitative strand comprised semi-structured interviews with SHCs, and the data were analyzed thematically. Results: Thirty-five SHCs completed both assessments (51.4% female). Mean knowledge increased from 6.26 ± 1.46 to 7.94 ± 1.26 with Δ = 1.69 ± 2.21, t(34) = 4.52, p < 0.001, and Cohen’s dz ≈ 0.76. The proportion with good knowledge rose from 20.0% to 71.4%. The largest gains involved bathing with soap, changing clothes after sweating or dust exposure, and not sharing personal items, whereas declines were observed in mattress-airing frequency and a stigma item. Interviews indicated acceptability and feasibility, and highlighted irregular coordination and the absence of a formal SHC structure. Item-level interpretations are exploratory. Conclusions: A brief training for SHCs was associated with a statistically significant within-group increase in scabies-related knowledge and appeared feasible in dormitory settings. Scale-up should pair concise training with a formal SHC structure, scheduled coordination, orientation-time sessions, and simple visual prompts. Future research should evaluate retention, observable behaviors, and incidence with a comparison or cluster design to determine the preventive impact.
Analisis Sasaran Advokasi Kesehatan Dalam Mendukung Percepatan Penurunan Stunting: Studi Literatur Nabila Andini; Nurul Hidayah; Putri Zahrina Zahra; Senja Vellina; Miftahurrahmah El Hayati
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8751

Abstract

Stunting masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia karena berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, produktivitas, serta kualitas sumber daya manusia di masa mendatang. Upaya percepatan penurunan stunting memerlukan pendekatan yang komprehensif melalui advokasi kesehatan yang melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi advokasi kesehatan dalam percepatan penurunan stunting di Indonesia melalui metode literature review. Artikel yang dianalisis diperoleh dari Google Scholar berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi advokasi kepada pemerintah dilakukan melalui penguatan komitmen politik, koordinasi lintas sektor, pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), pemanfaatan data sebagai dasar kebijakan, serta penguatan dukungan sumber daya kesehatan. Sementara itu, advokasi kepada masyarakat dilakukan melalui penyuluhan kesehatan, kampanye sosial, konseling gizi, pendampingan keluarga, pemanfaatan media komunikasi, dan pendekatan berbasis budaya lokal. Faktor pendukung keberhasilan advokasi meliputi komitmen pemerintah, keterlibatan kader kesehatan, kolaborasi lintas sektor, serta pemanfaatan teknologi informasi. Adapun faktor penghambat yang ditemukan antara lain rendahnya literasi kesehatan masyarakat, keterbatasan sumber daya manusia, kondisi sosial ekonomi yang rendah, serta belum optimalnya koordinasi antarinstansi. Dengan demikian, advokasi kesehatan yang terintegrasi dan berkelanjutan menjadi strategi penting dalam mendukung percepatan penurunan stunting di Indonesia.
Literature Review: Peran Stakeholder dalam Upaya Pengendalian Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) Miftahurrahmah El Hayati; Chairunnisa; Ikrima Fauziah; Wira Anjani; Muhammad Abdurrozaq
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8758

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia yang memerlukan upaya pengendalian secara komprehensif dan berkelanjutan. Pengendalian DBD tidak hanya bergantung pada intervensi sektor kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan berbagai stakeholder melalui dukungan kebijakan, koordinasi lintas sektor, dan partisipasi masyarakat. Dalam perspektif advokasi kesehatan, keterlibatan stakeholder berperan penting dalam memperkuat pelaksanaan program pengendalian DBD. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran stakeholder dalam upaya pengendalian kasus DBD serta mengidentifikasi bentuk keterlibatan, faktor pendukung, dan faktor penghambat pelaksanaan program. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan deskriptif. Penelusuran literatur dilakukan melalui beberapa basis data nasional berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Artikel yang dipilih merupakan penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2021–2025, tersedia dalam bentuk teks lengkap, dan relevan dengan topik penelitian. Hasil seleksi menghasilkan sepuluh artikel untuk dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stakeholder yang terlibat dalam pengendalian DBD meliputi pemerintah, Dinas Kesehatan dan Puskesmas, tenaga kesehatan, masyarakat, kader kesehatan/Jumantik, keluarga, dan stakeholder lintas sektor. Pemerintah berperan dalam penyusunan kebijakan dan koordinasi program, sedangkan sektor kesehatan berperan dalam pelaksanaan surveilans, promosi kesehatan, dan kegiatan pengendalian DBD. Masyarakat menjadi salah satu stakeholder utama karena berkontribusi dalam penerapan perilaku pencegahan dan keberlanjutan program. Faktor pendukung keberhasilan meliputi koordinasi antar stakeholder, dukungan sumber daya, dan partisipasi masyarakat, sedangkan hambatan yang ditemukan berupa keterbatasan pendanaan, koordinasi yang belum optimal, dan rendahnya keterlibatan masyarakat. Disimpulkan bahwa pengendalian DBD memerlukan kolaborasi antar stakeholder yang didukung oleh penguatan advokasi kesehatan, koordinasi lintas sektor, dan pemberdayaan masyarakat agar program dapat berjalan secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Advokasi Program Pemberian Makanan Bergizi sebagai Upaya Penurunan Angka Kecelakaan Kerja pada Pekerja Industri di Kota Medan Hilwa Irvi Adzkia; Nurita Oktapia Simajuntak; Sandra Dwi Aldini; Zaskia Isnaini Pulungan; Miftahurrahmah El Hayatli
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 6 (2026): Menulis - Juni
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i6.1261

Abstract

Kecelakaan kerja masih menjadi permasalahan utama dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang berdampak pada kesehatan pekerja, produktivitas, dan kerugian ekonomi. Salah satu faktor yang berhubungan dengan risiko kecelakaan kerja adalah status gizi pekerja yang memengaruhi konsentrasi, daya tahan tubuh, dan kemampuan kerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis pentingnya advokasi program pemberian makanan bergizi sebagai upaya menurunkan angka kecelakaan kerja pada pekerja industri di Kota Medan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah berbagai jurnal ilmiah, buku, pedoman, dan laporan resmi yang berkaitan dengan gizi kerja dan keselamatan kerja. Hasil kajian menunjukkan bahwa program pemberian makanan bergizi berpotensi meningkatkan status kesehatan pekerja, mengurangi kelelahan kerja, meningkatkan produktivitas, serta mendukung terciptanya lingkungan kerja yang lebih aman. Keberhasilan program dipengaruhi oleh dukungan kebijakan perusahaan, komitmen manajemen, dan keterlibatan pemangku kepentingan melalui advokasi. Kesimpulannya, advokasi program pemberian makanan bergizi merupakan strategi potensial untuk mendukung penerapan K3 dan menurunkan risiko kecelakaan kerja pada pekerja industri di Kota Medan.
Kajian Literatur Efektivitas Program Makanan Bergizi Gratis Terhadap Perbaikan Status Gizi Anak Sekolah Miftahurrahmah El Hayatli; Izmi Raditya Putri; Tiara Putri Azzahra Tamin; Abellia Putri; Sekar Giovany Afif Nababan
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 3 No. 1 (2026): April - Juni
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jipk.v3i1.2108

Abstract

Nutritional problems among school-aged children remain a public health challenge in Indonesia as they can affect physical growth, cognitive development, and academic performance. One of the government's efforts to address this issue is the Free Nutritious Meal Program (Program Makan Bergizi Gratis/MBG). This study aims to analyze the effectiveness of the Free Nutritious Meal Program in improving the nutritional status of school-aged children based on published research findings. The study employed a descriptive literature review approach. Data were collected from national and international scientific articles published between 2021 and 2026 through Google Scholar and PubMed databases. Articles were selected based on predetermined inclusion and exclusion criteria and analyzed qualitatively through research synthesis. The findings indicate that the Free Nutritious Meal Program has a positive impact on improving children's nutritional status by increasing the intake of energy, protein, vitamins, and minerals. The program also contributes to improved school attendance, learning concentration, and educational outcomes. Furthermore, MBG has the potential to serve as a long-term investment in developing healthy and productive human resources. However, the effectiveness of the program is influenced by several factors, including menu quality, food distribution, food safety, funding availability, and monitoring and evaluation systems. Therefore, the Free Nutritious Meal Program can be considered an effective strategy for improving the nutritional status of school-aged children when supported by proper and sustainable program management.