Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

The potential source of natural antioxidant agent of Casia alata microgreen Novianti Adi Rohmanna; Ronny Mulyawan; Zuliyan Agus Nur Muchlis Majid
Agrovigor Vol 16, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v16i2.19853

Abstract

Commonly, plant was cultivated by microgreen have potentially source of natural antioxidant agents. This study was conducted to utilize Cassia alata (C. alata) as a microgreen and evaluated the potential of Microgreen gelinggang as the source of natural antioxidant agents. The seed of Cassia alata was cultivated in Rockwool at room temperature (27±1oC). At the appearance of the first true leaves, about 21 days, microgreens were harvested from a triplicate of trays with sterilized scissors. The antioxidant activity assay using the DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) radical scavenging activity method. It was analyzed using spectrophotometry UV-VIS. The result showed that the IC50 values of Microgreen gelinggang were 1.789x103 ±0.0  µg/mL. It was a weak category antioxidant. This study indicated that the extract of Microgreen gelinggang has a potential source of natural antioxidant agents.
EDUKASI HIDUP SEHAT PADA ANAK DENGAN BERKEBUN SAWI HIJAU DI SDIT INSANURRAHMAN KELURAHAN LOKTABAT UTARA KOTA BANJARBARU Alfi Yasmina; Pandji Winata Nurikhwan; Novianti Adi Rohmanna; Nur Amalia Muslimah; Hadrianti HD Lasari; Devia Lestari; Siti Maulidah; Muhammad Hashfi Abdurrahman
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 7 No. 4 (2023): Jurnal Panrita Abdi - Oktober 2023
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v7i4.23507

Abstract

In social life, we can observe that children are less fond of foods made from vegetables. The Proportion of Consumption of Fruits/Vegetables Per Day of the Week in Population Age 5 Years According to the Characteristics of South Kalimantan Province, Riskesdas 2018, 34.56% of children aged 5-9 years do not consume vegetables and fruit. Also, for children aged 10-14 years, as much as 27.68% do not consume fruits and vegetables. This figure is high compared to other age groups. When the service was carried out, the average Pretest score was 8.21, which means that the students had a fairly good knowledge of healthy living education, and the average Post-Test was 8.5. Based on this value, there is an increase in the average knowledge of students after being given counselling. It is known that respondents' pre-test and post-test scores are generally not distributed because the significant value is less than 0.05 (Pre-test Sig Value = 0.001 <0.05 and Post-test Sig Value = 0.001 <0.05). So that the test is carried out with the Wilcoxon test. Based on the results of the Wilcoxon test, it is known that the value of Sig (0.001) <0.05, namely Ho, is rejected, which means that there is a significant difference between the knowledge of the respondents before and after being given educational materials about the benefits of green mustard in preventing non-communicable diseases.  ---  Dalam kehidupan bermasyarakat dapat kita mengamati, bahwa anak-anak kurang menggemari makanan yang berbahan sayur. Proporsi Konsumsi Buah/Sayur Per Hari Dalam Seminggu Pada Penduduk Umur ≥ 5 Tahun menurut Karakteristik Provinsi Kalimantan Selatan, Riskesdas 2018, terdapat 34,56% anak usia 5-9 tahun yang tidak mengkomsumsi sayur dan buah. Dan juga anak usia 10-14 tahun sebanyak 27,68% tidak mengkomsumsi buah dan sayur. Angka yang tinggi disbanding kelompok umur lainnya. Saat dilaksanakan pengabdian didapatkan nilai rata-rata Pretest sebesar 8,21 yang artinya siswa siswa memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai edukasi hidup sehat, kemudian rata-rata Pos-ttest adalah sebesar 8,5. Berdasarkan nilai tersebut terdapat peningkatan rata-rata pengetahuan siswa setelah diberikan penyuluhan. Diketahui bahwa baik nilai pre-test maupun post-test responden tidak berdistribusi normal karena nilai signifikan yang kurang dari 0,05 (Nilai Sig Pre test = 0,001 < 0,05 dan Nilai Sig Post test = 0,001 < 0,05). Sehingga pengujian dilakukan dengan Uji Wilcoxon. Berdasarkan hasil dari Uji Wilcoxon diketahui bahwa nilai Sig (0,001) < 0,05 yaitu Ho ditolak yang artinya ada perbedaan yang signifikan antara pengetahuan responden pada saat sebelum dan sesudah diberikan materi edukasi mengenai manfaat sawi hijau dalam mencegah penyakit tidak menular.
Pemberdayaan Kelompok Budidaya ikan Melalui Pembuatan Pelet Mandiri Berbasis Black Soldier Fly Larva Alan Dwi Wibowo; Novianti Adi Rohmanna; Zuliyan Agus Nur Muchlis Majid; Anida Anida; Musthafa Gyats; Muhammad Zaini; Dea Azizah Widyasari
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 8 No. 3 (2023): September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v8i3.1415

Abstract

Limbah rumah tangga, khususunya sampah makanan merupakan salah satu sumber pencemar lingkungan. Pengelolaan sampah makanan dengan menggunakan BSFL dapat menjadi salah satu alternatif pengelolaan sampah organik. Disisi lain, proses biokonversi limbah organik menghasilkan biomassa serangga yang mengandung protein dan lemak cukup tinggi. Tujuan dari pengabdian ini adalah memberdayakan kelompok budidaya ikan melalui pengelolaan limbah sisa makanan dengan BSFL (black soldier fly larva) untuk dihasilkan pelet ikan. Pellet yang dihasilkan dapat menjadi alternatif pakan ikan. Kegiatan ini dilaksanakan di Kelurahan Syamsudin Noor, Landasan Ulin, Kalimantan Selatan. Kegiatan melibatkan 20 orang dari kelompok budidaya ikan. Tahapan kegiatan pengabdian dari Identifikasi masalah atau kebutuhan, analisis kebutuhan, persiapan kegiatan, pelaksanaan kegiatan, serta pendampingan dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan limbah organik untuk dihasilkan bahan baku produksi pelet. Para petani ikan juga mampu melakukan produksi pelet mandiri dengan memanfaatkan biomassa BSFL. Empowerment of Fish Farming Groups Through Pellets Production Using Black Soldier Fly Larvae Household waste, especially food waste, was a source of environmental pollution. Food waste management using BSFL can be an alternative to organic waste treatment. Furthermore, it produced insect biomass high in protein and fat. This study aimed to authorize fish farming groups by food waste treatment using BSFL (black soldier fly larvae) to produce fish pellets. The pellet was used as alternative fishmeal. This activity was conducted in Syamsudin Noor Village, Landasan Ulin, South Kalimantan, and involved 20 farmers. The activity stage involved problem identification, needs analysis, preparation, implementation, assistance, and evaluation. The activity increased the community's knowledge and skills in managing organic waste to produce feedstock for pellet production. Fish farmers are also able to produce pellets using BSFL biomass.
Pengoptimalan Olahan Blondo untuk Peningkatan Perekonomian Masyarakat Desa Pingaran Ulu, Kalimantan Selatan Rahmi, Alia; Rohmanna, Novianti Adi; Saufi, Ahmad; Khusna, Lailil; Aristya, Muhammad Nabil Raihan; Azizah, Nur; Sari, Nur Sinta; Khairina, Mahfuzah
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2024): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i2.1930

Abstract

Desa Pingaran Ulu merupakan salah satu desa yang terletak diwilayah Kecamatan Astambul, Kalimantan Selatan. Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai produsen Jengkol saus tahi lala. Pengolahan tahi lala secara lanjut dapat menghasilkan blondo. Blondo mengandung protein dan asam amino dan baik untuk dimanfaatkan sebagai makanan. Oleh karena itu, tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah mengoptimalkan olahan blondo sebagai strategi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Pingaran Ulu, Kalimantan Selatan. Kegiatan dilaksanakan selama 3 bulan dengan melibatkan sekitar 10 produsen saus tahi lala. Kegiatan pengabdian dilakukan dengan sosialisasi, demonstrasi, dan diskusi. Evaluasi program dilakukan dengan mengukur partisipasi masyarakat, peningkatan pengetahuan dan keterampilan, dan perubahan perilaku. Selama kegiatan masyarakat diberikan informasi terkait proses pembuatan blondo dari saus tahi lala dan demontrasi pembuatan bolu dan brownis dari blondo. Berdasarkan hasil kegiatan, sekitar 60% dari 40 peserta memahami teknik pengolahan blondo menjadi produk. Peserta juga menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti pelatihan dan berniat untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam usaha mereka. Kegiatan ini dinilai berhasil karena antusias warga untuk terlibat sangat tinggi. Masyarakat juga mampu mengolah blondo menjadi bolu dan brownies sebagai opsi penambahan pendapatan. Optimizing The Blondo Product to Improve the Economy of Pingaran Ulu Village Community, South Kalimantan Abstract Pingaran Ulu Village is one of the villages located in Astambul District, South Kalimantan. Most of the people work as producers of Jengkol tahila sauce. Further processing of tahilala sauce could produce blondo. Blondo contains protein and amino acids and is suitable for use as a food. Therefore, the aim of this service activity is to optimize the blondo product to improve the economy of Pingaran Ulu Village community, South Kalimantan. The activity was carried out for 3 months involving around 10 tahilala sauce producers. Service activities are carried out through socialization, coercion, and discussion. Program evaluation is carried out by measuring community participation, increased knowledge and skills, and behavior changes. During the activity, the community was given information regarding the process of making blondo from tahilala sauce and a demonstration on making sponge cake and brownies from blondo. Based on the results of the activity, about 60% of the 40 participants understood the technique of processing blondo into products. Participants also showed high enthusiasm in attending the training and intended to apply the knowledge and skills gained in their business. This activity was successful because the enthusiasm of the communities was very high. The community was also able to process blondo into cakes and brownies as an option to increase income.
The Potential Source of Natural Antioxidant Agent of Cassia alata Microgreen Rohmanna, Novianti Adi; Mulyawan, Ronny; Majid, Zuliyan Agus Nur Muchlis; Afrina, Dina
Journal of Applied Food Technology Vol 9, No 1 (2022)
Publisher : Dept. Food Technology, Faculty of Animal and Agricultural Sciences, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17728/jaft.11062

Abstract

This study aimed to utilize Cassia alata (C. alata) as a microgreen and evaluate its potential as a source of natural antioxidant agents. The seeds of Cassia alata were cultivated in Rockwool at room temperature (27±1oC). Uppon the appearance of the first true leaves, approximately 21 days after planting, microgreens were harvested from triplicate trays using sterilized scissors. The antioxidant activity was assessed using the DPPH radical scavenging activity method and analyzed via UV-VIS spectrophotometry. The results showed that the IC50 values of C. alata microgreens was 1.789x103 µg/mL, categorizing it as a weak antioxidant. This study indicates that the extract of C. alata microgreens has the potential to be a natural source of antioxidant agents.
Pelatihan Kultur Jaringan Varietas Nanas Lokal Kalimantan Selatan pada Wirausahawan Muda Pedesaan Ellya, Hikma; Apriani, Rila Rahma; Rohmanna, Novianti Adi
Jalujur: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jalujur.v3i1.12430

Abstract

Wirausahawan pedesaan di Kalimantan Selatan yang mayoritas dalam bidang pertanian sangat berperan dalam mendukung ketahanan pangan. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan khusus bagi mereka diperlukan untuk mengoptimalkan hasil pertanian. Salah satu varietas lokal unggul daerah yaitu nanas tamban, yang selama ini terkendala dalam pengedaan bibit karena hanya bergantung pada bahan tanam berupa mahkota dan batang tanaman dan dengan keberhasilan tumbuh yang rendah. Pelatihan kultur jaringan tanaman ini menjadi solusi dalam permasalahan tersebut. Pelatihan ini dilaksanakan di SMK-PP N Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dan diikuti oleh 25 wirausahawan tani dari Kabupaten Banjar, Tanah Laut, dan Tanah Bumbu. FGD dilakukan pada wirausahawan tani untuk memberikan gambaran awal tentang teknik kultur jaringan serta manfaatnya dibandingkan teknik perbanyakan tanaman lain. Pelatihan dan pendampingan dilakukan selama satu bulan hingga tanaman menghasilkan kalus. Evaluasi dilakukan dengan memberikan kuisioner kepuasan, hasilnya peserta puas dan tertarik untuk melanjutkan kultur jaringan menjadi usaha baru karena keunggulan teknik yang dapat menghasilkan anakan yang baru dalam jumlah besar dengan sifat sama dengan tanaman induk dan dalam waktu singkat. Sebanyak 83% peserta pelatihan sangat setuju bahwa mereka antusias untuk melanjutkan teknik kultur jaringan tanaman dalam usaha bisnis maupun budidaya yang sudah mereka jalankan. Tingkat kepuasan peserta mencapai 67% sangat puas, dan 33% puas.
Inovasi Kemasan Saset untuk Meningkatkan Penjualan Produk Cabai Hiyung di Kelompok Tani Karya Baru Purba, Febriani; Saputra, Riza Adrianoor; Majid, Zuliyan Agus Nur Muchlis; Rohmanna, Novianti Adi; Kastalani, M. Abral; Hakim, Muhamad Karim Abdillah; Prayogo, Joni Yogo; Najwa, Nugraha Anthoni
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2270

Abstract

Karya Baru merupakan kelompok tani di desa Hiyung tapin yang bergerang dalam budidaya cabai Hiyung dan pengolahan produk turunananya. Kelompok tani ini mengelola sekitar 450 ha lahan pertanian cabai Hiyung dan telah menghasilkan berbagai produk turunan yang dijual secara komersil seperti benih, cabai kering, saos dan aneka jenis sambal. Cabai Hiyung merupakan komoditi unggulan di Kabupaten Tapin yang memiliki tingkat kepedasan 17 kali lebih pedas dari cabai pada umumnya. Namun demikian kelompok tani Karya Baru menghadapi tantangan dalam proses pemasarannya. Produk yang saat ini dijual dalam kemasan botol ukuran 100mL belum mampu menjangkau pasar yang luas terutama untuk kalangan konsumen yang baru ingin mencoba dan ibu rumah tangga yang menginginkan ukuran yang ekonomis. PkM ini dilakukan melalui serangkaian kegiatan yang terdiri dari survey awal, sosialisasi, pelatihan dan penerapan teknologi serta pendampingan dan evaluasi. Seluruh peserta telah menghasilkan desain kemasan saset untuk produk sambal. Seluruh peserta juga telah mampu menerima proses alih teknologi yang tercermin dari kemapuan dalam mengoperasikan mesin pengemas saset otomatis. Hasil penerapan PkM ini telah mampu meningkatkan 53.11% penjualan produk sambal di kelompok tani Karya Baru pada periode Juli-Agustus 2024. Innovative Saset Packaging to Enhance Sales of Hiyung Chili Products from Karya Baru Farmers Group Abstract Karya Baru is a farmer group in Hiyung Tapin village that cultivates Hiyung chili and processes its derivative products. This farmer group manages around 450 ha of Hiyung chili farming land. It has produced various derivative products sold commercially, such as seeds, dried chili, sauce and various types of chili sauce. Hiyung chili is a superior commodity in Tapin Regency, exhibiting a spiciness intensity 17 times more than typical chili. However, the Karya Baru farmer group faces challenges in its marketing process. The product, presently available in 100mL bottles, has not attained a broad market presence, particularly among consumers experiencing it for the first time and homemakers seeking an economical size. This PkM was carried out through a series of activities consisting of an initial survey, socialization, training and application of technology, mentoring, and evaluation. Training has been conducted, and a packaging design for chili sauce items has been created. In addition, technology transfer has been carried out using an automatic sachet packaging machine. Training has been conducted on utilizing the Shopee e-commerce platform for sales and Instagram for product promotion. Implementing PkM has increased chili sauce product sales in the Karya Baru farmer group.
Pengoptimalan UMKM Jengkol Saus Lalaan Di Desa Pingaran Ulu, Kalimantan Selatan Rohmanna, Novianti Adi; Millati, Tanwirul; Agustina, Lya; Susi, Susi; Hakim, Hisyam Musthafa Al; Majid, Zuliyan Agus Nur Muchlis; Akbar, Arief RM; Saufi, Ahmad; Khusna, Lailil; Khairina, Mahfuzhah; Aristya, Muhammad Nabil Raihan; Azizah, Nur; Sari, Nur Sinta
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2369

Abstract

Kalimantan Selatan merupakan wilayah pengolah jengkol atau dikenal dengan jaring, salah satu produk olahan jengkol yang terkenal adalah jengkol saus lalaan. UMKM Jaring Acil Ina merupakan salah satu UMKM yang menjual produk Jengkol saus lalaan. Akan tetapi dalam penjualan dan produksinya, UMKM Jaring Acil ina memiliki beberapa kendala diantaranya daya simpan yang relatif singkat. Secara garis besar, metode pengabdian ditentukan dalam penyelesaian permasalahan berdasarkan dengan apa yang dibutuhkan mitra. Proses penyelesaian masalah dilakukan dengan pemberian teknologi, sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan kemudian dilakukan evaluasi pelaksanaan program keberlanjutan. Hasil dari evaluasi digunakan untuk menentukan tindak lanjut agar program yang sudah diberikan dapat terus berlanjut bahkan dapat diadopsi oleh kelompok tani lain. Berdasarkan hasil pengamatan, bahwa pengawetan jengkol yang paling efektif untuk memperpanjang masa simpan jengkol adalah dengan metode vakum pada proses pengemasan. Selain itu, proses penyimpanan dalam vacuum dan freezer dapat meningkatkan daya simpan produk (1 bulan) dibandingkan tanpa vacuum (3 hari). Selain masa simpan yang lebih lama, sifat organoleptic dari produk juga dapat bertahan lebih lama dibandingkan dengan metode vacuum dan metode penyimpanan lain. Berdasarkan hasil kegiatan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa produk jengkol saus lalaan dengan cita rasa uniknya, dapat memiliki nilai jual yang tinggi jika di kemas dengan tepat. Pengoptimalam kemasan tidak hanya dapat meningkatkan daya tarik visual, melainkan juga dapat memperpanjang masa simpan dan menjaga kulitas produknya. Hal ini menandakan adanya peluang besar UMKM untuk mengembangkan produk jengkol saus tahi lala menjadi oleh-oleh khas Kalimantan Selatan atau produk unggulan dengan kualitas yang baik. Optimization of MSMEs Jengkol Lalaan Sauce in Pingaran Ulu Village, South Kalimantan  Abstract South Kalimantan is a Jengkol processing area or known as netting, one of the famous Jengkol processed products is Jengkol saus lalaan. MSMEs Neting Acil Ina is one of the MSMEs that sells Jengkol saus lalaan products. However, in sales and production, Neting Acil ina MSMEs have several obstacles, including a relatively short shelf life. Broadly speaking, the method of service is determined in solving problems based on what the partners need. The problem-solving process is carried out by providing technology, socialization, training, and mentoring and then evaluating the implementation of sustainability programs. The results of the evaluation are used to determine follow-up so that the program that has been given can continue and can even be adopted by other farmer groups. Based on the observation results, the most effective preservation of Jengkol to extend the shelf life of Jengkol is by the vacuum method in the packaging processor. In addition, the vacuum and freezer storage have more shelf life of the product (1 month) than no-vacuum (3 days). In addition to a longer shelf life, the organoleptic properties of the product can also last longer compared to vacuum and other storage methods. Based on the results of the activities that have been carried out, it can be concluded that Jengkol saus lalaan products with their unique taste, can have a high selling value if packaged properly. Packaging optimizers can not only improve visual appeal, but also extend shelf life and maintain product quality. This indicates a great opportunity for MSMEs to develop Jengkol saus lalaan sauce products into souvenirs typical of South Kalimantan or superior products with good quality.
Pengenalan Dan Pendampingan Budidaya Black Soldier Larva Di PT Kharisma Inti Usaha Zuliyan Agus Nur Muchlis Majid; Novianti Adi Rohmanna; Baimy Alexander; Danang Yugo Pratomo
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 4 No. 3: August 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v4i3.778

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk mengintroduksi budidaya BSFL (Black soldier fly larva) di PT. Kharisma Inti Usaha (PT. KIU). Kegiatan dilaksanakan melalui 3 tahapan. Tahap pertama adalah survey lokasi dan potensi. Tahap ke dua adalah proses pencarian data baik data sekunder maupun primer terkait budidaya BSFL dan potensi serta keberlanjutan program. Tahap ketiga adalah implementasi teknologi budidaya BSFL dan pendampingan program. Adapun hasil dari kegiatan ini terdapat potensi sumber daya untuk dilakukan pengembangan program budidaya BSFL di area site PT KIU. Hasil dari proses pembudidayaan BSFL secara tidak langsung dapat mendukung PT KIU dalam penerapan sirkular ekonomi. Melalui pemanfaatan limbah rumah tangga pekerja di PT KIU yang di integrasikan dengan pemanfaatan limbah kelapa sawit solid decanter mampu menghasilkan biomassa BSFL yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat pekerja di PT KIU untuk pakan ternak ikan lele. Diharapkan kegiatan ini berkelanjutan khususnya dapat berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat pekerja di PT KIU. Introduction And Assistance Of Black Soldier Larva Cultivation At Pt Kharisma Inti Usaha This activity aimed to introduce the rearing of BSFL (Black soldier fly larva) at PT. KIU. The activity was carried out in 3 stages. The first stage was a site and potential survey. The second stage was searching for secondary and primary data related to BSFL cultivation and the potential and sustainability of the program. The third stage was the implementation rearing of BSFL technology and program assistance. There were potential resources for developing a rearing of the BSFL program in the PT KIU site area. The rearing of BSFL could indirectly support PT KIU in implementing the circular economy. Using workers' household waste at PT KIU, integrated with solid decanter palm oil waste, could produce BSFL biomass for catfish animal feed at PT KIU. It was expected that this sustainable activity could significantly improve the working community's welfare at PT KIU
Evaluasi penerapan produksi bersih pada UMKM tempe di Kelurahan Guntung Paikat, Banjarbaru, Kalimantan Selatan Novianti Adi Rohmanna; Nelva Kamila Syahnazia; Andira Mawardani; Nur Sabrina; Nurul Fayzhatun Nisa; Septiana Nurmala
AGROINTEK Vol 19, No 2 (2025)
Publisher : Agroindustrial Technology, University of Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrointek.v19i2.24465

Abstract

Tempe is a product that the people of Indonesia popularity, mainly South Kalimantan. The increase in tempeh production in MSMEs in Banjarbaru is proportional to the demand. It has an impact on increasing waste production. Currently, environmental issues are one of the urgent topics for MSMEs, including Tempe MSMEs. Therefore, it is necessary to carry out a clean production analysis. This study aims to evaluate the application of cleaner production in the Tempe industry. Activities were carried out at MSMEs ABC in Guntung Paikat, Banjarbaru City, South Kalimantan. The method used is quick scanning at all stages of the process. The activities begin with identifying production processes, identifying clean production opportunities, determining priority scales, and feasibility studies for implementing clean production. The study shows that wastewater is the most produced from Tempe production. Based on determining the priority scale, applying multilevel filtration technology is a choice for reducing water usage and minimizing liquid waste. The feasibility calculations show that the application of this technology has a PP value of 15 months.