Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Kepadatan Populasi Cacing Tanah pada Perkebunan Kelapa Sawit di Desa Salang Tungir Kecamatan Namorambe Jhon Kevin Purba; Rama R Sitinjak; Nur Ariyani Agustina; Julaili Irni
JURNAL ILMIAH SAINS Volume 22 Nomor 1, April 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.319 KB) | DOI: 10.35799/jis.v22i1.35703

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepadatan populasi cacing tanah di perkebunan kelapa sawit dengan perbedaannya pada strata umur kelapa sawit di Desa Salang Tungir Kecamatan Namorambe.Metode yang digunakan adalah metode survey dengan teknik pengambilan sampel cacing tanah secara hand sorting pada stasiun I (TBM) dan stasiun II (TM). Analisis data untuk kepadatan hingga indeks nilai penting cacing tanah digunakan rumus tertentu, dan untuk  perbedaan kepadatan digunakan uji T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cacing tanah di perkebunan kelapa sawit TBM terdapat 3 jenis: Pontoscolex corethrurus, Pheretina sp., dan Lumbricus. Kepadatan relatif dan indeks nilai penting yang tertinggi ditemukan pada Pheretina sp. yaitu 36,09% dan 69,42%. Sedangkan pada TMterdapat 4 jenis: Pontoscolex corethrurus, Pheretina sp., Lumbricus, dan Microscolex. Kepadatan relatif dan indeks nilai pentingnya ditemukan pada Pontoscolex corethrurus yaitu secara berurut 30,56% dan 55,63%. Nilai kepadatan cacing tanah ditemukan lebih tinggi pada perkebunan kelapa sawit yang berumur 4 tahun.Kata kunci: Cacing tanah; Elaeis quineensis Jacq; kepadatan Earthworm Population Density in Oil Palm Plantation inSalang Tungir Village, Namorambe District ABSTRACTThis study aims to analyze the population density of earthworms in oil palm plantations with the differences in the age strata of oil palm in Salang Tungir Village, Namorambe District. The method used is survey method with earthworm sampling technique by hand sorting at station I (TBM) and station II (TM). Analysis of data for density to index of significance of earthworms used a certain formula, and for differences in density used the T test. The results showed that there are 3 types of earthworms in TBM oil palm plantations: Pontoscolex corethrurus, Pheretina sp., and Lumbricus. The highest relative density and significant value index were found in Pheretina sp, namely 36.09% and 69.42%, respectively. While in TM there are 4 types: Pontoscolex corethrurus, Pheretina sp., Lumbricus, and Microscolex. The relative density and significance index found in Pontoscolex corethrurus were 30.56% and 55.63%, respectively. Earthworm density values were found to be higher in oil palm plantations aged 4 years.Keywords: Earthworm; Elaeis quineensis Jacq; density
PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN EKSTRAK BAWANG MERAH (Allium cepa L.) TERHADAP PERTUMBUHAN STEK Mucuna bracteata D.C irni, Julaili
Agroprimatech Vol. 3 No. 1 (2019): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.588 KB)

Abstract

Penelitian, “Pengaruh Konsentrasi dan Lama Perendaman Ekstrak Bawang Merah (Allium cepa L.) Terhadap Pertumbuhan Setek Mucuna bracteata D.C” bertujuan untuk mengetahui konsentrasi dan lama perendaman yang sesuai terhadap keberhasilan perbanyakan setek Mucuna bracteata D.C. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor perlakuan yang diteliti yaitu berbagai konsentrasi ekstrak bawang merah (A) dengan 4 taraf yaitu A0 (0 cc/100 ml aquades), A1 (5 cc/100 ml aquades), A2 (10 cc/100 ml aquades) A3 (15 cc/100 ml aquades), sebagai faktor pertama dan lama perendaman (P) dengan 4 taraf yaitu P0 (Tanpa waktu perendaman (celup)), P1 (15 menit), P2 (30 menit), P3 (60 menit), sebagai faktor kedua. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Berdasarkan hasil penelitian dan analisa data, faktor perlakuan berbagai konsentrasi A memberikan pengaruh berbeda nyata pada parameter persentase hidup. Perlakuan A dengan konsentrasi A1 (5 cc/100 ml aquades) memberikan signifikan tertinggi pada persentase hidup sebesar 79,16 %. Kombinasi perlakuan konsentrasi (A) dan lama perendaman (P) tidak berpengaruh nyata pada seluruh parameter yang diamati (persentase hidup, panjang sulur, jumlah daun, panjang akar, berat segar akar, berat segar tajuk, berat kering akar, berat kering tajuk).
KERAGAMAN KUPU-KUPU (Lepidoptera) DI TANGKAHAN KABUPATEN LANGKAT SUMATERA UTARA irni, Julaili
Agroprimatech Vol. 4 No. 1 (2020): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.624 KB) | DOI: 10.34012/agroprimatech.v3i2.915

Abstract

Kupu-kupu merupakan salah satu serangga cantik di dunia yang dijadikan sebagai lambang keindahan karena memiliki warna dan corak sayap yang sangat menarik. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui keragaman kupu-kupu (lepidoptera) serta mengidentifikasi kupu-kupu yang berhasil didokumentasikan dan dilaksanakan di Tangkahan Kabupaten Langkat, Sumatera Utara pada bulan Desember 2013 – Januari 2014. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan metode jelajah untuk mendapatkan sampel. Penelitian ini menggunakan 18 titik pengamatan pada hutan kering sekunder yang dimulai dari titik 1 di pondok dan berakhir dititik 18 yaitu pantai kupu-kupu serta parameter pengamatan yaitu suhu, kelembapan udara dan intensitas cahaya. Hasil yang diperoleh dari titik pengamatn tersebut ditemukan 38 spesies yang berhasil didokumentasi dan terdiri dari 5 famili yaitu Papilionidae, Nymphalidae, Riodinidae, Pieridae dan Lcyaenidae. Family Nymphalidae memiliki spesies terbanyak yaitu 16 spesies dan paling sedikit dari Family Riodinidae sebanyak 3 spesies. Intensitas cahaya yang terdapat di dalam hutan yaitu 1264 Lux sedangkan di Pantai Kupu-kupu 1850 Lux. Suhu dan kelembaban udara di hutan yaitu 98 % dan 25ºC sedangkan di Pantai Kupu-kupu yaitu 60 %dan 35 ºC.
INVENTARISASI SERANGGA MALAM (NOCTURNAL) PADA LAHAN KONVERSI TEH MENJADI KELAPA SAWIT irni, Julaili
Agroprimatech Vol. 5 No. 2 (2021): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/agroprimatech.v5i1.2084

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekargaman serangga malam yang ada di lahan konversiTeh menjadi kelapa sawit, apakah populasi serangga yang berada di lahan konversi Teh menjadi Kelapasawit menimbulkan penambahan spesies atau bahkan spesies tersebut migran atau bahkan punah.Metode yang di pakai dalam penelitian ini jebakan/trapping dengan teknik purposive sampling dalammeletakkan jebakan untuk memperoleh data seranggga malam hari yang di butuhkan. Berdasarkan hasildan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Ditemukan 1475 individu serangga nocturnal yangtergolong dalam 9 genus, 9 Famili dan 8 Ordo yang terdapat pada lahan konversi teh menjadi kelapa sawit.3 Indeks keanekaragaman (H’) serangga Nocturnal pada perkebunan kelapa sawit yang ditemukan padastasiun 1-15 sebesar -0.96. kemudian Indeks kemerataan (E’) serangga pada stasiun 1-15 sebesar 0.30,indeks kekayaan (Dmg) serangga pada stasiun 1-15 sebesar 2.53.
Pendugaan Parameter Demografi Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea abotti) Di Masakambing Kepulauan Masalembo irni, Julaili
Agroprimatech Vol. 6 No. 1 (2022): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/agroprimatech.v5i2.2637

Abstract

Kakatua jambul kuning merupakan species terancam punah yang disebabkan oleh perubahan alam dan keberadaan manusia. Studi literatur ini membahas tentang aspek bioekologi dan penurunan jumlah populasi kakatua jambul kuning tersebut dari tahun1995, 1997, 1998, 2008 sampai 2009 dan 2012. Pada tahun 1995 ditemukan 1 betina 2 jantan sedangkan pada tahun 1997 ditemukan 5 individu tanpa diketahui seks ratio satwa tersebut sedangkan pada tahun 1998 di Pulau Alor dan Pantar sebanyak 109 individu. Pada tahun 2008 ditemukan 4 pasang dan 2 anakan sedangkan pada tahun 2009 hanya ditemukan 3 pasang dan 2 remaja kakatua jambul kuning. Pada tahun 2012 ditemukan 69 ekor yang tersebar di desa Golomori NTTHal ini disebabkan oleh banyaknya pohon sarang yaitu pohon kelapa, randu maupun api-api yang ditebang serta pengambilan spesies secara besar-besaran untuk diekspor keluar negeri.
KEANEKARAGAMAN LEPIDOPTERA DI KAWASAN PENYANGGA TANGKAHAN TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER Irni, Julaili
Agroprimatech Vol. 7 No. 1 (2023): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kupu-kupu merupakan salah satu serangga cantik di dunia yang dijadikan sebagai lambang keindahan karena memiliki warna dan corak sayap yang sangat menarik. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui keragaman kupu-kupu (lepidoptera) serta mengidentifikasi kupu-kupu yang berhasil didokumentasikan dan dilaksanakan di Tangkahan Kabupaten Langkat, Sumatera Utara pada bulan Desember 2013 – Januari 2014. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan metode jelajah untuk mendapatkan sampel. Penelitian ini menggunakan 18 titik pengamatan pada hutan kering sekunder yang dimulai dari titik 1 di pondok dan berakhir dititik 18 yaitu pantai kupu-kupu serta parameter pengamatan yaitu suhu, kelembapan udara dan intensitas cahaya. Hasil yang diperoleh dari titik pengamatn tersebut ditemukan 38 spesies yang berhasil didokumentasi dan terdiri dari 5 famili yaitu Papilionidae, Nymphalidae, Riodinidae, Pieridae dan Lcyaenidae. Family Nymphalidae memiliki spesies terbanyak yaitu 16 spesies dan paling sedikit dari Family Riodinidae sebanyak 3 spesies. Intensitas cahaya yang terdapat di dalam hutan yaitu 1264 Lux sedangkan di Pantai Kupu-kupu 1850 Lux. Suhu dan kelembaban udara di hutan yaitu 98 % dan 25ºC sedangkan di Pantai Kupu-kupu yaitu 60 %dan 35 ºC.
ANALISIS KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN PAKAN BURUNG GOSONG KAKI MERAH (Megapodius reindwardt) DI TAMAN WISATA ALAM GUNUNG TUNAK Junaidi, Koko; Irni, Julaili
Agroprimatech Vol. 7 No. 1 (2023): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Burung gosong kaki merah (Megapodius reindwart Dumont 1823) digolongkan sebagai satwa yang dilindungi berdasarkan PP No.7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Sebagai kawasan Taman Wisata Alam maka TWA Gunung Tunak berfungsi sebagai kawasan pelestarian alam (KPA) yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan konservasi yang diperuntukkan sebagai kawasan rekreasi dan pariwisata alam. Terkait dengan fungsinya tersebut maka TWA Gunung Tunak mempunyai peran yang penting dalam menunjang konservasi satwaliar khususnya burung gosong kaki merah dan terlaksananya kegiatan rekreasi dan pariwisata alam seara berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis pakan tumbuhan serta mengetahui keanekaragaman jenis pakan tumbuhan burung gosong kaki merah di TWA Gunung Tunak. Keragaman jenis tumbuhan pakan menggunakan beberapa indeks yaitu Indeks keanekaragaman spesies (Indeks Shannon-Wiener), indeks kekayaan Margalef, dan indeks kemerataan spesies (Indeks Pielou). Berdasarkan hasil pengambilan data di lapangan ditemukan 13 spesies (20%) dari 65 spesies tumbuhan yang berpotensi sebagai sumber burung gosong kaki merah. Keanekaragaman spesies berdasarkan indeks Shannon-Wiener berkisar antara 0.26 hingga 0.69 untuk tumbuhan bawah/tumbuhan merambat; 0.46 hingga 1.04 untuk tiang; serta 0.74 hingga 1.39 untuk pohon. Indeks kekayaan Margalef tumbuhan pakan burung gosong kaki berkisar antara 0.38 hingga 1.44 untuk tumbuhan bawah/tumbuhan merambat; 0.72 hingga 1.44 untuk tingkat tiang; serta 0.96 hingga 1.70 untuk pohon. Untuk indeks kemerataan spesies (Indeks Pielou) didapatkan berkisar antara 0,37 hingga 1,00 untuk tumbuhan bawah/tumbuhan merambat; 0,42 hingga 0,95 untuk tiang; serta 0,62 hingga 0,97 untuk pohon.
KEANEKARAGAMAN JENIS KUPU-KUPU BERDASARKAN TIPE TUTUPAN LAHAN DAN WAKTU AKTIFNYA DI KAWASAN PENYANGGA TANGKAHAN TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER Irni, Julaili; Masy'ud, Burhanuddin; Haneda, Noor Farikhah
Media Konservasi Vol. 21 No. 3 (2016): Media Konservasi Vol. 21 No. 3 Desember 2016
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.12 KB) | DOI: 10.29244/medkon.21.3.225-232

Abstract

Butterfly is one of insect that comes from Lepidotera and has a very important role in maintaining ecosystem. Tangkahan is a Gunung Leuser National Park buffer zone that has been defined as a tourism area and make butterfly as one of tourism object. This study aims to identify and analyze the diversity of butterfly by active time (morning and afternoon) as well as the diversity of food plant and host plant in three types of buffer zones area. This research was conducted in December 2015 to February 2016 in Tangkahan, Gunung Leuser National Park buffer zone. The data was collected on three types of land cover that sattlement, river and forest.The observation of butterfly, food plant and host plant diversity were done using transect Pollard Method. Based on the study 5 family of butterflies were recorded with number of species as many as 61 species and 1.213 individuals. Food plants species were found as many as 48 species, while hosts plant were 27 species, and consisted of covercrop, sapling and poles. The highest of butterfly and food plant diversity index were recorded in the settlement for 3,43 and 2,75, the highest of host plant diversity index was recorded in the forest for 2,06.  Keyword: butterfly, food plant, host plant
Inovasi Pengemasan Produk Souvenir bagi Pedagang di Daerah Wisata Tangkahan, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara Myrna Pratiwi Nasution; Laura Juita Pinem; Muhammad Sahnan; Julaili Irni
Jurnal Pengabdian UNDIKMA Vol. 4 No. 4 (2023): November
Publisher : LPPM Universitas Pendidikan Mandalika (UNDIKMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jpu.v4i4.9153

Abstract

This community service program aims to increase traders’ the knowledge and skills in the Tangkahan Tourism Village by innovating souvenir products for tourists. The method of implementing this service consists of Socialization, Training, Mentoring and evaluation. There were 20 participants involved in this activity, and they were souvenir traders in the Tangkahan Tourism Village. The evaluation instrument used in this activity was a questionnaire, and analyzed descriptively. The results of this service show that traders in the Tangkahan Tourism Village have knowledge and skills in packaging souvenir products that can be sold to tourists. Apart from that, traders realize that packaging is one of the attractions in stimulating consumer buying interest, especially in tourist areas.
Desain Taman Kupu-Kupu Sebagai Pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit Berbasis Konservasi Berkelanjutan di Tangkahan Sumatera Utara Simbolon, Refinna; Irni, Julaili
JURNAL AGROPLASMA Vol 12, No 2 (2025): Vol 12, No 2 (2025): (JURNAL AGROPLASMA VOLUME 12 NO 2 TAHUN 2025)
Publisher : UNIVERSITAS LABUHANBATU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/agroplasma.v12i2.7643

Abstract

This study reveals that the development of a butterfly garden as a post-oil palm plantation land use strategy in Tangkahan holds significant ecological and social potential. Observations indicate a clear difference in butterfly species composition between the garden area and the former plantation, with a moderate diversity index and low similarity index. These findings underscore the importance of mosaic habitat management to enhance species diversity. Several host and nectar plants were identified, including Citrus sp., Ageratum conyzoides, Chromolaena odorata, and Lantana camara, which support a lifecycle-based garden design. Community perception was generally positive, and chi-square analysis showed that public support transcended age, education, and occupation. The garden is zoned into three key areas: conservation core, education zone, and buffer zone, covering a 100 x 100 meter area. With construction progress reaching 40%, the integration of ecological and social elements must continue to ensure long-term sustainability of conservation efforts in the region. Keywords: butterfly garden, biodiversity, sutainable conservative, garden zoning, host and nectar planting