Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PERBANDINGAN KADAR KARBOHIDRAT PADA UBI KAYU (Manihot esculenta) GORENG DENGAN UBI KAYU REBUS Rahmawati Rahmawati; Muh Rifo Rianto; Aswindah Aswindah
Jurnal Medika Vol 3 No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.424 KB) | DOI: 10.53861/jmed.v3i2.152

Abstract

Ubi kayu merupakan salah satu sumber karbohidrat yang berasal dari umbi. Ubi kayu bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan selain beras, yang lazimnya yaitu dengan cara digoreng maupun direbus. Pemanasan menyebabkan terjadinya perubahan sifat fisik kimia pada bahan dan minyak goreng, sehingga dapat menyebabkan penurunan kadar karbohidrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kadar karbohidrat pada ubi kayu goreng dan ubi kayu rebus. Jenis penelitian secara observasi laboratorik dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling. Objek dalam penelitian ini adalah 4 sampel ubi kayu goreng dan 4 sampel ubi kayu rebus yang diperiksa di Laboratorium Kimia Akademi Analis Kesehatan Muhammadiyah Makassar, menggunakan analisis kuantitatif dengan metode luff schoorl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar karbohidrat pada sampel ubi kayu goreng yaitu 5,14%, 5,11%, 4,95%, 5,11% dan pada ubi kayu rebus yaitu 14,78%, 14,66%, 14,73%, dan 14,19%. Berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai p 0,000 < 0,05, maka H0 ditolak Ha diterima artinya terdapat perbedaan antara kadar karbohidrat ubi kayu goreng dengan ubi kayu rebus.
ANALISIS KLORIN (Cl2) PADA KANTONG TEH CELUP BERBAGAI MERK DI KOTA MAKASSAR Muawanah Muawanah; Muh Rifo Rianto; Wahyuni Wahyuni
Jurnal Medika Vol 4 No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.718 KB) | DOI: 10.53861/jmed.v4i1.158

Abstract

Teh celup merupakan produk teh yang banyak diminati masyarakat. Para produsen dalam pembuatan kantong teh menggunakan kertas yang berasal dari pulp (bubur kertas) dengan menambahkan senyawa klorin sebagai desinfektan dan pemutih untuk menghemat biaya produksi dan mendapatkan keuntungan. Klorin yang terdapat pada kantong teh celup sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar klorin dalam kantong teh celup berbagai merk di kota Makassar dan jenis penelitian bersifat observasi laboratorik. Penelitian dilakukan terhadap 10 sampel yang diambil secara accidental sampling dan dianalisis secara kualitatif dengan metode kolorimetri dan analisis kuantitatif dengan metode Spektrofotometer UV-Vis. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil 100% dari 10 sampel positif (+) mengandung klorin. Sedangkan kadar klorin tertinggi pada sampel 9 yaitu 121,461 μg/g dan kadar klorin terendah pada sampel 4 yaitu 15.613 μg/g. Hal ini dapat disimpulkan bahwa the celup yang beredar di kota Makassar tidak aman untuk dikonsumsi.
PENGARUH WAKTU PERENDAMAN PADA REBUNG BETUNG (Dendrocalamus asper) TERHADAP PENURUNAN KADAR SIANIDA Nur Qadri Rasyid; Muh Rifo Rianto; Ita Reski Cahyani
Jurnal Medika Vol 4 No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.89 KB) | DOI: 10.53861/jmed.v4i1.164

Abstract

Rebung betung (Dendrocalamus asper) memiliki kandungan nutrisi, namun di samping itu rebung juga mengandung unsur anti nutrisi yang membahayakan kesehatan yaitu kandungan hidrogen sianida (HCN). Asam sianida merupakan senyawa beracun yang sangat mematikan, apabila masuk kedalam tubuh dalam dosis yang tinggi maka akan menyebabkan gangguan kesehatan bahkan kematian dalam sekejap. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh waktu perendaman pada rebung betung (Dendrocalamus asper) terhadap penurunan kadar sianida dengan variasi waktu 0 menit,15 menit, 30 menit, 45 menit dan 1 jam. Pada penelitian ini menggunakan metode eksperimen laboratorik yang diuji secara kuantitatif dengan menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar sianida pada perendaman 0 menit diperoleh kadar sianida sebanyak 64,07 mg/kg dengan selisih 0, pada perendaman 15 menit diperoleh kadar sebanyak sianida sebanyak 49,78 mg/kg dengan selisih sebanyak 14,29 pada perendaman 30 menit didapatkan kadar sianida sebanyak 45,15 mg/kg dengan selisih sebanyak 18,92 mg/kg, pada perendaman 45 menit didapatkan kadar sianida sebanyak 44,85 mg/kg dengan selisih sebanyak 19,22 mg/kg dan penurunan kadar sianida tertinggi yaitu pada perendaman selama 1 jam sebanyak 43,83 mg/kg dengan selisih sebanyak 20,24 mg/kg, Sehingga dapat disimpulkan bahwa waktu perendaman rebung mempengaruhi kadar sianida pada rebung, semakin lama waktu perendaman kadar sianida semakin menurun sehingga masih aman untuk dikonsumsi karena tidak melewati ambang batas yang telah ditentukan yaitu <50 mg/kg.
IDENTIFIKASI TELUR CACING NEMATODA USUS PADA ANAK-ANAK YANG TINGGAL DI DAERAH KANAL KELAPA TIGA MAKASSAR Ulkia Multiani Asri; Mujahidah Basarang; Muh Rifo Rianto
Jurnal Medika Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/jmed.v5i2.180

Abstract

Nematoda usus merupakan cacing parasit yang hidup dalam usus manusia yang dapat menyebabkan helminthiasis/kecacingan. Penyakit helminthiasis ditularkan melalui tanah, baik melalui kontak langsung maupun dengan perantara seperti makanan. Tanah maupun makanan yang terkontaminasi telur cacing dapat menyebar ke anak-anak saat mereka bermain dan tidak mencuci tangan sebelum makan. . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Identifikasi telur cacing nematoda usus pada anak-anak yang tinggal di daerah Kanal Kelapa Tiga Kota Makassar. Jenis penelitian ini adalah observasi laboratorik dengan teknik pengambilan sampel secara accidental sampling dengan besaran sampel sebanyak 10 sampel feses yang kemudian diperiksa dengan menggunakan metode sedimentasi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dari 10 sampel feses yang diperiksa 5 diantaranya positif terdapat nematoda usus dengan jenis cacing yang ditemukan adalah telur Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, larva rabditiform necator americanus dan telur infertil dan 5 sampel lainnya negatif. Sehingga dapat di simpulkan bahwa terdapat infeksi kecacingan pada beberapa anak-anak yang tinggal di daerah Kanal Kelapa Tiga Kota Makassar.
KANDUNGAN LOGAM BESI PADA AIR SUMUR BOR DI MUARA SUNGAI TALLO KOTA MAKASSAR Salisna Salisna; Nur Qadri Rasyid; Muh Rifo Rianto
Jurnal Medika Vol 6 No 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/jmed.v6i1.190

Abstract

Kontaminasi air tanah memiliki komplikasi besar pada lingkungan dan dapat menimbulkan ancaman serius bagi pertanian dan kesehatan manusia. Namun logam magnesium, kalsium, besi dan mangan diperlukan untuk membantu proses metabolisme tubuh. Oleh karena itu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyetujui pengolahan air jika konsentrasi besi lebih tinggi dari 0.3mg/L. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan logam besi pada air sumur bor di Muara Sungai Tallo Kota Makassar. Daerah ini merupakan daerah padat penduduk dengan kebiasaan membuah sampah rumah tangga dan limbah pabrik ke sungai sehingga kemungkinan sungai dan air sumur tercemar logam utamanya logam besi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak lima sampel yang dikumpulkan dari 5 sumur bor yang berbeda. pemeriksaan kadar Fe dalam air sumur digunakan Spektrofotmeter Serapan Atom (SSA) pada panjang gelombang 248,3 nm. Dari hasil penelitian di peroleh kadar besi (Fe2+) masing-masing sampel adalah sampel A sebesar 0,8507 mg/L, sampel B sebesar 0,257 mg/L, sampel C sebesar 0,0763 mg/L, sampel D sebesar 0,0848 mg/l, sampel E sebesar 0,1227 mg/l. Hasil ini menunjukkan terdapat 1 sampel yang melebihi ambangbatas syarat pengolahan air.
IDENTIFIKASI NARKOTIKA JENIS TETRAHYDROCANNABINOL (THC) PADA URINE REMAJA Rahmawati Rahmawati; Dewi Arisanti; Muhammad Rifo Rianto; Mardatillah Ahmad
Jurnal Medika Vol 6 No 2 (2021): Desember 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/jmed.v6i2.228

Abstract

Narkotika meliputi cakupan drug yang berarti semua jenis zat yang apabila dipergunakan akan membawa efek dan pengaruh-pengaruh tertentu pada tubuh pemakai seperti menimbulkan gangguan pada sistem saraf, jantung, paru-paru, dan lain-lain. Faktor yang mempengaruhi terjadi penyalahgunaan narkotika pada remaja yaitu sebagian remaja yang orang tuanya sibuk pada urusan pekerjaan sehingga memberikan peluang anak merasa bebas (leluasa) untuk memasuki pergaulan atau perkumpulan yang diinginkan. Salah satu jenis narkotika yang sering disalahgunakan oleh para remaja adalah jenis obat tetrahydrocannabinol (THC). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi narkotika jenis obat tetrahydrocannabinol (THC) pada remaja. Metode penelitian yang digunakan adalah purposive sampel dengan 15 sampel urine remaja dengan metode immunokromatografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 15 sampel diperoleh 2 hasil positif ditandai dengan terbentuknya satu garis pada garis control (C) dan 13 hasil negatif yang ditandai dengan terbentuknya dua garis merah pada garis control (C) dan garis test (T). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa 2 sampel urine remaja mengandung narkotika dan 13 sampel urine lainnya tidak mengandung narkotika jenis obat tetrahydrocannabinol (THC).
IDENTIFIKASI Salmonella sp PADA AIR RENDAMAN SPONS CUCI PIRING BEKAS YANG DIRENDAM SELAMA 3 HARI Anita Anita; Muhammad Rifo Rianto; Dewi Arisanti; Anang H Radjak
Jurnal Medika Vol 6 No 2 (2021): Desember 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/jmed.v6i2.233

Abstract

Spons cuci piring adalah alat yang sering digunakan sebagian besar masyarakat untuk membersihkan peralatan makan, namun tidak dicantumkan cara penggunaannya sehingga mengurangi pengetahuan konsumen dalam menjaga kebersihan serta kondisi spons yang dipakai. Spons cuci piring 200.000 kali lebih kotor dibandingkan dudukan toilet, sehingga pemakaian lebih dari 3 hari dan didiamkan dalam keadaan lembab dapat mendukung pertumbuhan bakteri diantaranya Salmonella sp. Bakteri Salmonella sp bersifat gram negatif, tidak membentuk spora, fakultatif anaerobik, berbentuk motil dan batang. Salmonella adalah bakteri mesofilik, dapat hidup pada kisaran suhu 5-46°C, dan suhu pertumbuhan terbaik adalah 35-37°C. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Salmonella sp terdapat pada spons cuci piring bekas yang direndam selama 3 hari. Metode penelitian ini dilakukan terhadap 5 sampel spons cuci piring bekas dengan cara eksperimen dan dilakukan dengan cara uji kultur pada media. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua sampel spons positif adanya kontaminasi bakteri Salmonella sp. Sehingga dapat disimpulkan penelitian pada identifikasi Salmonella sp pada spons cuci piring bekas yang direndam selama 3 Hari ditemukan adanya bakteri Salmonella sp.
Growth of Candida sp and Aspergillus sp from Bronchoscopy Pulmonary Tuberculosis Patients on Bran Media Mujahidah Basarang; Muhammad Rifo Rianto
Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu Alam dan Lingkungan
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.094 KB) | DOI: 10.20956/jal.v9i18.5378

Abstract

Pulmonary tuberculosis caused by Mycobacterium tuberculosis become ahealth problem in Indonesia. The chronic nature of this disease is further exacerbated ifit is accompanied by fungal infection such as Candida albicans and Aspergillus sp.,which is usually remains undiagnosed and thus untreated. Culture techniques can beused to identify Candida sp and Aspergillus sp from bronchoscopy. Fungal culturemedia in laboratory containing high carbohydrate source, nitrogen source are requiredfor the growth. This nutrient can be found in bran that contains high carbohydrates,proteins, fats, vitamins, and crude fiber. So that bran can be used as raw material for alternative fungal growth media. The purpose of this study was to increase bran as amedium for the growth of Candida sp and Aspergillus sp isolated from bronchoscopy ofpulmonary TB patients. This study included bran collection, preparation of bran media,inoculation bronchoscopy on bran media, observation of fungal growth. Colonies ofCandida sp and Aspergillus sp were confirmed microscopically. The results showed thatCandida sp and Aspergillus sp grew on both media, Bekatul Dextrose Agar and PotatoDextrose Agar. The conclusion of this study is that bran can be used as a medium forfungal growth. Bran media can be used as an alternative media to replace syntheticmedia to grow Candida sp and Aspergillus sp isolated from bronchial rinses.
ANALISIS PEMANIS SAKARIN DALAM SUSU KEDELAI YANG DIPERJUALBELIKAN DI SUPERMAKET KOTA MAKASSAR Rahma wati; Muh Rifo Rianto; Nurhidayat Nurhidayat; Lili Nurlinda
Jurnal Medika Vol 7 No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/jmed.v7i1.263

Abstract

Susu kedelai merupakan salah satu produk minuman ringan dari bahan baku kacang kedelai yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat dikarenakan kandungan gizinya sebagai sumber protein. Dalam produksi susu kedelai terkadang ada beberapa produsen yang sengaja menambahkan Bahan Tambahan Makanan (BTM) yang berbahaya dan memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan konsumen. Sakarin adalah zat pemanis buatan dengan rumus kimia (C7H5NO3S) berbentuk bubuk kritsal putih mudah larut dalam air, tidak berbau, dan sangat manis. Efek samping penggunaan sakarin dapat menyebabkan gangguan kesehatan jika dikonsumsi dalam waktu yang lama seperti sakit kepala, kehilangan daya ingat, hipertensi, diare, asma, dan kanker otak. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar sakarin dengan teknik pengambilan sampel secara simple random sampling menggunakan 5 sampel. Berdasarkan hasil penelitian dengan uji kualitatif dengan menggunakan metode resolsinol diperoleh 2 sampel negatif dan 3 sampel positif yang menunjukkan warna flouresensi hijau kekuningan. Selanjutnya uji kuantitatif menggunakan metode titrimetri jenis alkalimetri diperoleh kadar sampel 2 sebesar 4,4963 mg/kg, sampel 3 sebesar 2,9973 mg/kg, dan sampel 4 sebesar 3,9253 mg/kg. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa susu kedelai yang diperjualbelikan di supermarket kota Makassar masih aman untuk dikonsumsi karena tidak melebihi ambang batas yang telah ditetapkan Menurut PermenkI No. 033/Menkes/2012 tentang bahan tambahan makanan dengan batas maksimum sakarin yaitu 50-300 mg/kg bahan.
Kemampuan Senyawa Anti Ketombe pada Sampo dalam Menghambat Pertumbuhan Jamur yang Diisolasi dari Ketombe Mujahidah Basarang; Muh. Rifo Rianto; Riskiah Dwi Julianti
Lontara Journal of Health Science and Technology Vol 3 No 2 (2022): Ilmu dan Teknologi Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/lontarariset.v3i2.320

Abstract

Dandruff is a medical condition that indicates the activity or growth of fungi on the scalp. Shampooing using an anti-dandruff shampoo is an action that can be taken to inhibit the growth of these fungi. Anti-dandruff shampoo contains antifungal active compounds such as ZnPtO, selenium sulfide, piroctone olamine which functions in reducing fungal infections on the scalp which are expected to inhibit the growth of fungi found on the scalp that cause dandruff. This study aims to determine the inhibition of the active compound in anti-dandruff shampoo against fungal growth isolated from dandruff. This research is a laboratory experimental study which was carried out by isolating the fungus from dandruff and continued by testing the inhibition of fungal growth using a shampoo containing active compounds. From the results of research conducted on 3 shampoos that have different anti-dandruff compounds, namely ZnPtO, 1% selenium sulfide, and piroctone olamine, the growth of fungal colonies decreased with different contact times, namely 2 minutes, 4 minutes, and 6 minutes. The conclusion of the study stated that shampoo containing piroctone olamine compound with a contact time of 6 minutes inhibited the growth of fungal colonies better than other shampoos containing 1% selenium sulfide and zinc pyrithione (ZnPtO).