Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Perubahan Pemanfaatan Lahan Pada Kawasan Kota Baru Kabupaten Gowa Shadrah Nur; Rudi Latief; Syafri Syafri
Urban and Regional Studies Journal Vol. 5 No. 2 (2023): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2023
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v5i2.2709

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui hal-hal apa yang dapat berpengaruh terhadap perubahan pemanfaatan lahan permukiman di Kota Baru Gowa, dan merumuskan konsep arahan pemanfaatan lahan pemukiman di Kota Baru Gowa. Metode analisis yang digunakan adalan analisis korelasi dan analisis deskriptif kuantitatif ini akan menganalisis bagaimana hubungan ketidaksesuaian perubahan lahan dengan rencana perubahan lahan dari pedoman rencana Kecamatan Pattallassang yang ada. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh jumlah penduduk terhadap perubahan pemanfatan lahan pemukiman sangat kuat dimana nilai korelasi adalah 0,94. Pengaruh mata pencaharian terhadap perubahan pemanfaatan lahan pemukiman (jumlah pemukiman) sangat kuat dimana nilai korelasinya 0,95. Pengaruh harga lahan terhadap perubahan pemanfaatan lahan pemukiman (jumlah pemukiman) sangat kuat yaitu dilihat dari uji statistik, harga lahan di Kota Baru Gowa sangat memberatkan seperti kepemilikan maupun pembeliannya karena adanya tingkatan-tingkatan harga. Arahan pemanfaatan lahan pemukiman berdasarkan dari hasil survey lapangan maka, perlu dilakukan arahan pemanfaatan fasilitas pendidikan, arahan perubahan kawasan perdagangan dan kegiatan ekonomi, arahan penataan fasilitas perkantoran, arahan perubahan pemanfaatan lahan pemukiman, arahan pengembangan sistem transportasi dan arahan penggunaan lahan konservasi. Mekanisme arahan pemanfaatan lahan bertujuan untuk merealisasikan atau memberikan tanggungjawab kepada pihak-pihak yang terkait dalam hal pelaksanaan kegiatan pemanfaatan lahan sesuai dengan arahan yang telah ditetapkan. The research aim to know the factors affected of change in the use of residential land in the new city Gowa, and formulation the direction concept of use residential land in the new city Gowa. Analysis method were correlation analysis and descriptive quantitative analysis of the correlation the change of land suitable with the guiding of Pattallassang District Plan. The result of research showed that the effect of total population toward the change of residential land use is more strong where the correlation value as amount 0,93. The effect of livelihood toward the change use of residential land (total residential) more strongwhere the value of correlation 0,95. the effect of land price toward the change use of residential land (total residential) more strong to see from the statistic test or result of interview through questioner, the land price of new city Gowa is very burdensome such as the land own or purchase it because the rate of price. The direction of residential land use based on field survey so required of direction to useful of educational facility, the direction of trading and economiy area change, office facility ordering, residential land useful, and development of transportation system and consercation land. The mechanism of land useful direction to propose of realization or responsibility to related parties in applied of land use activity suitable with the direction it.
Implikasi Pembangunan Perumahan Formal Perkotaan: Study Kasus: Pemenuhan Prasarana Perkotaan Disekitar Perumnas Balandai Kota Palopo Hudia Hudia; Murshal Manaf; Syafri Syafri
Urban and Regional Studies Journal Vol. 5 No. 2 (2023): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2023
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v5i2.2725

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik parameter fisika, kimia dan biologi di Teluk Sarawandori, Kecamatan Kosiwo, Yapen-Papua; dan untuk mengetahui tingkat kesesuaian lokasi Teluk Sarawandori Kecamatan Kosiwo Yapen-Papua dalam mendukung pengelolaan budidaya Eucheuma cottonii. Bersifat eksperimental dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Penentuan stasiun dilakukan secara acak yang dianggap mewakili lokasi, baik di lokasi yang ditemukan kegiatan budidaya rumput laut maupun yang belum dilakukan kegiatan budidaya. Setiap titik pengambilan sampel dicatat dalam posisi geografisnya atau koordinatnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan Teluk Sarawandori Kecamatan Kosiwo Kabupaten Yapen Papua memiliki parameter fisikokimia yang cukup layak sebagai daerah pengembangan budidaya Eucheuma cottonii. Pada tiga kategori kesesuaian lokasi, stasiun 2 dan 3 sebagai stasiun dengan kategori sesuai yaitu masing-masing 201 dan 205, sedangkan Stasiun 1 merupakan lokasi dengan kategori tidak sesuai. Dengan demikian, hasil penelitian ini menyatakan bahwa kondisi teluk Sarawandori di Kosiwo Kabupaten Yapen-Papua memenuhi syarat untuk budidaya rumput laut Eucheuma cottonii. Disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut pada musim hujan dan musim kemarau untuk melengkapi informasi kesesuaian perairan untuk lokasi budidaya rumput laut Eucheuma cottonii. The research was aimed to find out the characteristics of the parameters of physics, chemistry and biology in Sarawandori bay, Kosiwo district, Yapen-Papua; and to find out the level of location suitability of Sarawandori bay, Kosiwo district, Yapen-Papua in supporting the management of Eucheuma cottonii cultivation. It is experimental using quantitative and qualitative approaches. Determination of stations is done randomly which is considered to represent the location, both at locations found seaweed cultivation activities and those have not been conducted cultivation activities. Each sampling point is recorded in its geographical position or its coordinates. The results of research indicated that the waters of Sarawandori Bay, Kosiwo district of Yapen Papua had a physico-chemical parameter that was quite feasible as a development area for Eucheuma cottonii cultivation. On three categories of location suitability, station 2 and 3 as stations with appropriate categories i.e 201 and 205 respectively, while Station 1 is a location with an inappropriate category. Thus, the results of this study state that the condition of Sarawandori bay in Kosiwo District of Yapen-Papua meets the requirements for Eucheuma cottonii seaweed cultivation. It is recommended to conduct further research in the rainy and dry season to complete information on the suitability of the waters for the location of Eucheuma cottonii seaweed cultivation.
Optimalisasi Pengembangan Kawasan Obyek wisata Benteng Alla Desa Benteng Alla Utara, Kecamatan Baroko, Kabupaten Enrekang Nur Reski; Syafri Syafri; Muhammad Arif Nasution
Urban and Regional Studies Journal Vol. 5 No. 2 (2023): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2023
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v5i2.2726

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengembangan kawasan obyek wisata Benteng Alla sesuai dengan historical kawasan dan untuk mengidentifikasi potensi dan daya tarik yang dapat dikembangkan dalam mengoptimalkan pengembangan kawasan obyek wisata Benteng Alla. metode analisis yang digunakan yaitu: Metode Analisis Deskriptif Kualitatif dan Metode Analisis Pembobotan menggunakan Indeks bobot Kualitatif dan Kuantitatif pengembangan kawasan wisata dengan melihat potensi kawasan wisata melalui variabel yang akan diteliti. seperti kondisi fisik, aksesibilitas, sosial budaya masyarakat, sarana dan prasarana obyek wisata, dan atraksi wisata. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa kawasan obyek wisata Benteng Alla dapat dkembangkan sebagai obyek wisata sejarah, dan obyek wisata penunjang lainnya yang dapat menunjang keberadaan obyek wisata untuk mengembangkan kawasan obyek wisata Benteng Alla dalam kaitannya dengan historikal kawasan maka perlu adanya pemeliharaan dan pelestarian lingkungan situs sejarah Benteng Alla. Dalam mengoptimalkan potensi dan daya yang dimiliki kawasan obyek wisata Benteng Alla maka Pengembangan obyek wisata dilakukan melalui penataan kawasan dengan membagi atas 2 zona yaitu zona 1 (zona konservasi) dan zona 2 (zona pemamfaatan). The purpose of this study is to determine the development of the Alla Fortress tourist area in accordance with the historical area and to identify the potential and attractiveness that can be developed in optimizing the development of the Alla Fortress tourist area. The analytical methods used are: Qualitative Descriptive Analysis Method and Weighting Analysis Method using Qualitative and Quantitative weight indexes for the development of tourist areas by looking at the potential of tourist areas through the variables to be studied. such as physical conditions, accessibility, social culture of the community, tourist facilities and infrastructure, and tourist attractions. Based on the results of the analysis and discussion, it can be concluded that the Alla Fortress tourist area can be developed as a historical tourism object, and other supporting tourism objects that can support the existence of tourism objects. the surroundings of the historical site of the Alla Fort. In optimizing the potential and power of the Fort Alla tourism object area, the development of tourism objects is carried out through structuring the area by dividing into 2 zones, namely zone 1 (conservation zone) and zone 2 (use zone).
Alih Fungsi Lahan Pertanian Dan Pembangunan Kawasan Industri Di Kecamatan Marusu Nur Alam; Muh. Arief Nasution; Syafri Syafri
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.6041

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak pembangunan industri dan alih fungsi guna lahan terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di kawasan pengembangan industri marusu dan menentukan strategi arahan pengendalian alih fungsi lahan pertanian di Kecamatan Marusu. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan di 3 (tiga) Desa yaitu Desa Temmapaduae, Desa Pabentengang dan Desa Abbulosibatang Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros. Dengan menggunakan pendekatan purposive sampling, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perspektif yang kaya dan beragam tentang proses alih fungsi lahan dan dampaknya terhadap masyarakat, ekonomi, dan lingkungan di Kecamatan Marusu. Jenis dan sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu Obeservasi, telaah pustaka, Survei instansi, studi dokumnetasi, dan wawancara. Hasil Penelitian menunjukan bahwa: (1) Alih fungsi lahan terjadi karena berbagai faktor yang saling terkait, seperti pertumbuhan penduduk, pembangunan infrastruktur, dan kebijakan ekonomi. Meskipun proses ini dapat mendorong kemajuan ekonomi, penting untuk mengelola perubahan fungsi lahan secara bijaksana untuk memastikan keberlanjutan lingkungan dan sosial di masa depan, (2) Pembangunan industri memiliki dampak yang luas pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Dengan manajemen yang baik, dampak positif seperti penciptaan lapangan kerja, peningkatan infrastruktur, dan pembangunan ekonomi lokal bisa tercapai. Namun, dampak negatif, seperti ketimpangan sosial, degradasi lingkungan, dan kerusakan kualitas hidup, juga perlu diperhatikan dengan serius. Oleh karena itu, sangat penting untuk merencanakan dan mengelola pembangunan industri dengan pendekatan yang berkelanjutan dan inklusif, sehingga dapat memaksimalkan manfaat ekonomi dan sosial sekaligus meminimalkan dampak negatifnya, dan (3) Pengendalian alih fungsi lahan pertanian memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Selain melalui kebijakan pemerintah yang tegas, penting juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, mengoptimalkan teknologi pertanian, serta menciptakan insentif untuk mendukung pengelolaan lahan yang ramah lingkungan. Melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, diharapkan alih fungsi lahan dapat dikendalikan dengan cara yangtidak merugikan ketahanan pangan dan lingkungan.     The purpose of this study is to analyze the impact of industrial development and land use conversion on the socio-economic conditions of the community in the Marusu industrial development area and to determine the strategy for controlling agricultural land conversion in Marusu District. This type of research is qualitative descriptive research. This research was conducted in 3 (three) villages, namely Temmapaduae Village, Pabentengang Village and Abbulosibatang Village, Marusu District, Maros Regency. By using a purposive sampling approach, this study aims to obtain a rich and diverse perspective on the land conversion process and its impact on society, the economy, and the environment in Marusu District. The types and sources of data used are primary data and secondary data. Data collection techniques used are observation, literature review, agency surveys, documentation studies, and interviews. The results of the study show that: (1) Land conversion occurs due to various interrelated factors, such as population growth, infrastructure development, and economic policies. Although this process can drive economic progress, it is important to manage land use change wisely to ensure environmental and social sustainability in the future, (2) Industrial development has a broad impact on the social and economic life of the community. With good management, positive impacts such as job creation, infrastructure improvement, and local economic development can be achieved. However, negative impacts, such as social inequality, environmental degradation, and damage to the quality of life, also need to be taken seriously. Therefore, it is very important to plan and manage industrial development with a sustainable and inclusive approach, so that it can maximize economic and social benefits while minimizing negative impacts, and (3) Controlling agricultural land use change requires a comprehensive and sustainable approach. In addition to firm government policies, it is also important to increase public awareness, optimize agricultural technology, and create incentives to support environmentally friendly land management. Through synergy between the government, community, and private sector, it is hoped that land use change can be controlled in a way that does not harm food security and the environment.
Penanganan Kawasan Permukiman Kumuh di Kecamatan Mamuju Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat Arfah Sugiati Nengsy N Nengsy; Batara Surya; Syafri Syafri
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.6046

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis pengaruh perilaku masyarakat terhadap penurunan kualitas lingkungan permukiman kumuh di Kecamatan Mamuju serta menganalisis strategi penanganan kawasan permukiman kumuh perkotaan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif dan eksplanatori. Data dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif, uji regresi linear berganda, dan analisis SWOT untuk merumuskan strategi penanganan kawasan kumuh. Hasil uji regresi linear berganda menunjukkan bahwa variabel kondisi sosial ekonomi masyarakat, ketersediaan infrastruktur, dan peran pemerintah memiliki pengaruh signifikan terhadap penurunan kualitas lingkungan permukiman kumuh di Kecamatan Mamuju. Hasil uji F dan determinasi menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut secara bersama-sama memberikan kontribusi sebesar 82,6% terhadap penurunan kualitas lingkungan. Berdasarkan analisis SWOT, strategi penanganan kawasan kumuh dapat dilakukan dengan mengoptimalkan program bantuan pemerintah, meningkatkan pengelolaan sampah, serta mengintegrasikan mitigasi bencana dalam perencanaan kawasan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap perumusan kebijakan penanganan kawasan permukiman kumuh, khususnya di Kecamatan Mamuju, untuk menciptakan lingkungan yang lebih layak huni dan berkelanjutan. This study aims to examine and analyse the influence of community behaviour on the decline in environmental quality of slums in Mamuju Sub-district and to analyse strategies for handling urban slum areas. The research uses a quantitative approach with descriptive and explanatory methods. Data was analysed using descriptive statistics, multiple linear regression test, and SWOT analysis to formulate slum upgrading strategies. The results of the multiple linear regression test showed that the variables of community socioeconomic conditions, infrastructure availability, and the role of government have a significant influence on the decline in the quality of the slum environment in Mamuju Sub-district. The results of the F test and determination show that the three variables together contribute 82.6% to the decline in environmental quality. Based on SWOT analysis, slum management strategies can be done by optimising government assistance programs, improving waste management, and integrating disaster mitigation in area planning. The results of this study are expected to contribute to the formulation of slum upgrading policies, especially in Mamuju Sub-district, to create a more livable and sustainable environment..
Evaluasi Penyebab Ketidak Patuhan Ketentuan KKPR Dalam Penilaian Pelaksanaan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang dan Penilaian Pernyataan Mandiri Pelaku Usaha Mikro dan Kecil Eko Yudhowo; Batara Surya; Syafri Syafri
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.6047

Abstract

Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang menyebabkan ketidakpatuhan terhadap ketentuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) dalam konteks perencanaan dan pengelolaan ruang di Kota Bontang. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan kajian dokumentasi, data dianalisis secara tematik dengan teknik open, axial, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran paling umum terjadi pada aspek teknis bangunan (misalnya, KDB, KLB, tata bangunan, garis sempadan, dan jarak bebas), serta ketidaksesuaian lokasi dan jenis kegiatan. Faktor penyebab utama meliputi keterbatasan pemahaman atas terminologi teknis, kurangnya sosialisasi serta pelatihan, koordinasi antar-instansi yang belum optimal, serta keterbatasan sumber daya dan infrastruktur pendukung. Rekomendasi kebijakan difokuskan pada penyederhanaan prosedur, peningkatan pengawasan dan edukasi, serta sinergi antar stakeholder guna mendukung tata ruang yang berkelanjutan. This study examines the factors contributing to non-compliance with the Conformity of Activities for Spatial Utilization (KKPR) regulations within the context of spatial planning and management in Bontang City. Utilizing a qualitative approach through in-depth interviews, field observations, and document reviews, the data were thematically analyzed using open, axial, and selective coding techniques. The findings indicate that the most common violations occur in the technical aspects of buildings (e.g., building coverage ratio [KDB], floor area ratio [KLB], building design, boundary lines, and setback distances), as well as inconsistencies between the designated location and the type of activity. The primary contributing factors include a limited understanding of technical terminology, insufficient dissemination and training, suboptimal inter-agency coordination, and constraints in resources and supporting infrastructure. The policy recommendations focus on streamlining procedures, enhancing oversight and education, and fostering synergy among stakeholders to support sustainable spatial planning.
Relokasi Perumahan Kampung Maluang Kecamatan Gunung Tabur Ismail Saleh N; Batara Surya; Syafri Syafri
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.6048

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis bagaimana kondisi perumahan yang berada pada Kawasan Risiko Bencana Banjir yang berada di Kampung Maluang Kecamatan Gunung Tabur serta menganalisis Kesesuaian Terhadap Rencana Tata Ruang Kabupaten Berau. Penelitian ini menggunakan metode analisis Spasial. Data dianalisis dengan melakukan overlay terhadap data sebaran bangunan terhadap Rencana Tata Ruang serta dalam menentukan lokasi perumahan yang baru. Berdasarkan Hasil overlay antara sebaran bangunan dengan Rencana Tata Ruang Kabupaten Berau, bahwa pada saat ini dari 113 bangunan hanya 9 bangunan yang sesuai dengan peruntukannya berdasarkan RTRW. Berdasarkan Karakteristik lokasi dan kesesuaian lahan dengan Topografi datar sampai bergelombang (Kelerengan lahan 0-25 %), tidak berada pada daerah rawan bencana, tidak berada pada kawasan lindung, Budidaya pertanian atau penyangga serta tidak berada pada sawah irigasi. Hasil penelitian ini penelitian ini sebagai dasar untuk menyusun kebijakan terkait pemberian bantuan Rumah Bagi masyarakat yang terkena dampak relokasi. This study aims to examine and analyze the condition of housing located in flood disaster risk areas in Maluang Village, Gunung Tabur Subdistrict, as well as to assess its conformity with the Spatial Plan of Berau Regency. The research employs a spatial analysis method. Data were analyzed through an overlay process, comparing the distribution of buildings with the spatial plan, and identifying suitable locations for new housing development. Based on the overlay results between the distribution of buildings and the Spatial Plan of Berau Regency, it was found that out of 113 existing buildings, only 9 are in accordance with the designated land use as outlined in the spatial plan (RTRW). In terms of site characteristics and land suitability, the selected relocation area features flat to undulating topography (slope of 0–25%), is not located in disaster-prone areas, does not fall within protected zones, agricultural cultivation zones, or designated rice irrigation areas.The findings of this study serve as a foundation for formulating policies regarding the provision of housing assistance for communities affected by the relocation program.
Evaluasi Implementasi Kebijakan Tata Ruang Terhadap Kebijakan Pembangunan Di Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan: Studi Kasus Alih Fungsi Lahan Pertanian Di Kawasan Perkotaan Pangkajene Sulfi Aryanti; Batara Surya; Syafri Syafri
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.6049

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan di Kawasan Perkotaan Pangkajene serta merumuskan strategi perlindungan lahan pertanian. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan metode deskriptif dan eksplanatori. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji regresi linear berganda, dan analisis SWOT. Hasil regresi menunjukkan bahwa variabel komunikasi kebijakan, sumber daya, disposisi implementor, struktur birokrasi, serta kondisi sosial ekonomi dan dukungan masyarakat berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan implementasi kebijakan. Uji F dan koefisien determinasi menunjukkan bahwa kelima variabel tersebut secara bersama-sama berkontribusi sebesar 93,1% terhadap keberhasilan kebijakan, dengan sumber daya sebagai variabel paling dominan. Analisis SWOT merekomendasikan strategi seperti penguatan regulasi konversi lahan, peningkatan koordinasi antarinstansi, optimalisasi sumber daya, serta peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar perumusan kebijakan perlindungan lahan pertanian berkelanjutan untuk mendukung ketahanan pangan dan keseimbangan ekologi di kawasan perkotaan. This research aims to analyse the factors that influence the implementation of sustainable food agricultural land protection policies in the Pangkajene Urban Area and formulate agricultural land protection strategies. A quantitative approach was used with descriptive and explanatory methods. Data were analysed using descriptive statistics, multiple linear regression test, and SWOT analysis. The regression results show that the variables of policy communication, resources, implementor disposition, bureaucratic structure, as well as socioeconomic conditions and community support have a significant effect on the success of policy implementation. The F test and coefficient of determination show that the five variables together contribute 93.1% to policy success, with resources as the most dominant variable. The SWOT analysis recommends strategies such as strengthening land conversion regulations, improving coordination between agencies, optimising resources, and increasing public awareness and participation. The results of this study are expected to serve as the basis for formulating sustainable agricultural land protection policies to support food security and ecological balance in urban areas
Implementasi Pemanfaatan Kesesuaian Lahan Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan Muhammad Indra Dewa Virgiawan; Syafri Syafri; Iqbal Suhaeb
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.6062

Abstract

Implementasi Pemanfaatan Kesesuaian Lahan Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Di Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan. Kabupaten Takalar adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kabupaten ini berada di pesisir barat daya Pulau Sulawesi dan berbatasan dengan Kabupaten Gowa di sebelah utara, Kabupaten Jeneponto di sebelah timur, serta Laut Makassar di sebelah selatan dan barat. Kabupaten Takalar memiliki luas sekitar 866,28 km² dan terdiri dari 10 kecamatan. Masalah ketidaksesuaian lahan terhadap rencana tata ruang wilayah di Kabupaten Takalar, seperti di banyak daerah lainnya, adalah salah satu tantangan besar dalam pembangunan. Kesesuaian antara penggunaan lahan dan rencana tata ruang wilayah sangat penting untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan, teratur, dan tidak merusak lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penyebab, dampak, dan solusi atas ketidaksesuaian lahan terhadap rencana tata ruang wilayah di Kabupaten Takalar. Untuk memberikan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah dalam mengatasi masalah ketidaksesuaian lahan terhadap rencana tata ruang wilayah.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan observasi, survei, atau statistik Sebagian besar wilayah yang telah ditetapkan untuk penggunaan pertanian dalam RTRW, seperti kawasan sawah dan perkebunan, masih digunakan sesuai dengan peruntukannya. Namun, ada beberapa titik yang mengalami alih fungsi menjadi kawasan pemukiman dan komersial. Selanjutnya, Dengan memahami ketidaksesuaian penggunaan lahan terhadap RTRW, diharapkan penelitian ini dapat menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas tata ruang di Kabupaten Takalar, sehingga pembangunan di daerah ini dapat berjalan lebih tertata dan sesuai dengan visi pembangunan jangka panjang yang berkelanjutan. Implementation of Land Suitability Utilization Based on Regional Spatial Planning (RTRW) in Takalar Regency, South Sulawesi. Takalar Regency is a regency located in South Sulawesi Province, Indonesia. This regency is located on the southwest coast of Sulawesi Island and borders Gowa Regency to the north, Jeneponto Regency to the east, and the Makassar Sea to the south and west. Takalar Regency has an area of approximately 866.28 km² and consists of 10 sub-districts. The problem of land incompatibility with the regional spatial planning in Takalar Regency, as in many other areas, is one of the major challenges in development The suitability between land use and regional spatial planning is very important to create sustainable, orderly, and environmentally friendly development. Therefore, this study aims to explore the causes, impacts, and solutions to land mismatches with regional spatial planning in Takalar Regency. To provide policy recommendations for local governments in overcoming the problem of land mismatches with regional spatial planning. This study was conducted using a quantitative descriptive approach with observation, survey, or statistics Most of the areas that have been designated for agricultural use in the RTRW.such as rice fields and plantations, are still used according to their designation. However, there are several points in coastal areas and coastal areas that have been converted into residential and commercial areas. Furthermore, by understanding the inconsistency of land use with the RTRW, it is hoped that this study can be a basis for improving the quality of spatial planning in Takalar Regency, so that development in this area can run more orderly and in accordance with the vision of sustainable long-term development.
Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Dalam Gejala Urban Sprawl Di Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo: Studi Kasus Daerah Pesisir Sungai Wallannae Wahyu Wahyu; Syafri Syafri; Muhammad Awaluddin Hamdy
Urban and Regional Studies Journal Vol. 8 No. 2 (2026): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2026
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v8i2.9037

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak implementasi rencana tata ruang terhadap perubahan struktur ruang berbasis Production–Living–Ecological Space (PLES), nilai jasa ekosistem (Ecosystem Service Value/ESV), dan cadangan karbon, serta merumuskan strategi optimisasi pemanfaatan ruang di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Matabe. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif spasial berbasis sistem sosial-ekologis melalui analisis evaluatif-diagnostik dan analisis trade-off. Data diperoleh dari peta penggunaan lahan dan dokumen perencanaan, kemudian diklasifikasikan ke dalam PLES. Nilai jasa ekosistem dihitung menggunakan pendekatan Costanza, sementara cadangan karbon diestimasi berdasarkan koefisien IPCC. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan ruang produksi sebesar 107% dan penurunan ruang ekologis sebesar 58%, yang berdampak pada penurunan ESV sebesar 58% dan cadangan karbon sebesar 50%. Perubahan ini menunjukkan terjadinya ketidakseimbangan struktural serta konflik antara fungsi ekonomi dan ekologis yang berada pada kondisi non-Pareto optimal. Penelitian ini merekomendasikan strategi optimisasi berbasis zonasi yang mencakup zona lindung, zona transisi, dan zona produksi sebagai pendekatan untuk menjaga keseimbangan sistem sosial–ekologis. Temuan ini memberikan kontribusi dalam pengembangan perencanaan tata ruang berbasis nilai ekologis serta menjadi dasar pengambilan kebijakan pembangunan kawasan yang berkelanjutan. This study aims to evaluate the impact of spatial planning implementation on land-use structure based on the Production–Living–Ecological Space (PLES) framework, ecosystem service value (ESV), and carbon storage, and to formulate an optimized land-use strategy in the Matabe Special Economic Zone (SEZ). A spatial quantitative approach within a social–ecological system framework was applied using evaluative-diagnostic and trade-off analysis. Land-use data were derived from planning documents and classified into PLES categories. Ecosystem service values were estimated using the Costanza approach, and carbon storage was calculated using IPCC coefficients. The results reveal a 107% increase in production space and a 58% decrease in ecological space, leading to a 58% decline in ESV and a 50% reduction in carbon storage. These findings indicate a structural imbalance and a strong trade-off between economic expansion and ecological sustainability, reflecting a non-Pareto optimal condition. This study proposes a zoning-based spatial optimization strategy that includes conservation, transition, and production zones to balance socio-ecological systems. The findings contribute to spatial planning by integrating ecological valuation into land-use decision-making and provide an evidence-based framework for sustainable regional development.