Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Independence and Responsibility of Mass Media in Indonesia: The Sweetness and Bitterness of Freedom Erman Anom; Yumelda Sari; Nurmala Nurmala
INJECT (Interdisciplinary Journal of Communication) Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : FAKULTAS DAKWAH UIN SALATIGA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/inject.v10i1.2433

Abstract

It is recognized that the press in Indonesia has not entirely implemented a professional and responsible press quality in reporting. This should be watched out for, considering that not all Indonesians have adequate education and intelligence levels. In this study, using the document analysis method and in-depth interviews, it was found that the press was allowed to run without control and responsibility, so this could potentially become a medium of agitation that could affect the psychology of the uneducated community, which, in fact, is greater in number than the educated community. Therefore, this study suggests that press freedom needs to be limited, at least through legal means and legislation. So that the news carried out by the press can become responsible and accountable press reporting. The first use of press freedom was in England 316 years ago. This use is a development of the concept of freedom of speech, which has its roots in Greece since the glorious days of the Romans and Greeks. Indonesia today is said to be practicing responsible press freedom. In terms of philosophy, the Indonesian press is not a responsible press freedom because the press is very free beyond freedom itself. To achieve responsible freedom of the press, several elements or other powers in society need to be given wider independence. The trick is to strengthen the four elements of the branch of power, namely the legislature (the people), the executive, the judiciary, and the press. On the other hand, the executive power, the legislative power that is the most powerful in the country today, needs to be balanced according to its function and should be limited or reduced, in line with the limited government principle, so that the system of mutual control, balance and does not bring down each other contained in the Constitution. And Pancasila becomes more meaningful. Empowering the elements of power based on the Pancasila ideology above will make Indonesia more open, the press more independent, and the freedom to have a wider voice. Its implementation involves and refers to the need for a press law by responding to the needs of the government, society, and the press itself; realize a social contract regarding the freedom of the press which is responsible between the government, the press, and the public; create a code of ethics for the press. Ideally, the idea of responsible press freedom should be implemented in Indonesia today. This idea will not weaken the government; on the contrary, it will strengthen democracy in this country.
Mengembangkan Bakat dan Potensi Anak-Anak Usia 3 sampai 10 Tahun melalui Kegiatan Edukatif dan Kolaboratif Qori Halimatul Hidayah; Dewi Setiowati; Ary Prabowo; Nurmala
NJCOM: Community Service Journal Vol. 2 No. 1 (2026): January
Publisher : RAM PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18316683

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan bakat serta potensi anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Yayasan Nur Ummiyah Kedoya Selatan, Jakarta Barat, dengan fokus utama pada peningkatan minat belajar dan penguatan religiusitas sejak usia dini. Sasaran kegiatan ini adalah anak-anak berusia 3 hingga 10 tahun yang mengikuti kegiatan pembelajaran di TPA tersebut. Pelaksanaan program dilakukan secara kolaboratif oleh dosen dan mahasiswa melalui penerapan metode edutainment, yaitu pendekatan pembelajaran yang memadukan unsur bermain dengan proses belajar, serta melalui penyelenggaraan berbagai lomba edukatif. Pendekatan tersebut dipilih guna menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan, interaktif, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan antusiasme dan partisipasi anak-anak dalam proses pembelajaran, sekaligus tumbuhnya minat terhadap kegiatan keagamaan. Program ini diharapkan dapat menjadi model efektif dalam pengembangan bakat dan potensi anak serta memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam bidang pendidikan dan pembinaan karakter sejak usia dini.
Dinamika Komunikasi Digital: Peluang dan Tantangannya bagi Gen Z: Penelitian Nurmala; Qori Halimatul Hidayah; Muda Wali
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.5276

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dinamika komunikasi digital meliputi peluang dan tantangannya bagi gen Z. Metode penelitian dalam penulisan artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literature. Perkembangan zaman dan teknologi membawa perubahan yang signifikan dalam semua aspek kehidupan manusia. Dalam bidang komunikasi yang kerap disebut era digital ini juga mengalami banyak pergeseran dari komunikasi langsung saat ini manusia lebih banyak memanfaatkan media komunikasi digital untuk berintaraksi. Gen Z adalah genarasi yang aktif menggunakan media komunikasi, dimana mereka merupakan generasi yang hadir dan tumbuh bersamaan dengan berkembangnya teknologi digital. Media komunikasi digital yang populer di kalangan gen Z yaitu media sosial. Hampir semua aktifitas hari-harinya mengandalkan media komunikasi dalam mencapai tujuannya. Kehadiran media komunikasi digital pada dasarnya memberi banyak dampak positif bagi penggunanya, diantaranya sebagai literasi dalam aktifitas pembelajaran, sebagai sarana untuk mengeksplorasi bakat atau kreatifitas, berbagi pengalaman, ilmu atau memberi hiburan pengguna lainnyaserta dapat menjadi sarana dalam menambah penghasilan dengan menjadi content creator yang mengedukasi dan menghibur. Namun kemudahan tersebut juga menjadi tantangan bagi gen Z di era digital akibat kurangnya pemahaman dan kecakapan dalam pemanfaatan media komunikasi digital secara baik, terampil, dan bijak sehingga penyalahgunaan media digital yang berdampak negative bagi dirinya dan orang lain seperti fomo, pelanggaran etika digital, terlibat dalam perdebatan yang tidak perlu di media sosial, kecanduan gedged, kesehatan mental dan informasi yang overload/hoak. Pemanfaatan komunikasi digital bagi gen Z sebaiknya tidak hanya kreatif tetapi harus memberi keamanan dan kenyamanan bagi komunikator dan komunikan di ruang digital.
Mengembangkan Bakat dan Potensi Anak-Anak Usia 3 sampai 10 Tahun melalui Kegiatan Edukatif dan Kolaboratif Qori Halimatul Hidayah; Dewi Setiowati; Ary Prabowo; Nurmala
NJCOM: Community Service Journal Vol. 2 No. 1 (2026): January
Publisher : RAM PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18316683

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan bakat serta potensi anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Yayasan Nur Ummiyah Kedoya Selatan, Jakarta Barat, dengan fokus utama pada peningkatan minat belajar dan penguatan religiusitas sejak usia dini. Sasaran kegiatan ini adalah anak-anak berusia 3 hingga 10 tahun yang mengikuti kegiatan pembelajaran di TPA tersebut. Pelaksanaan program dilakukan secara kolaboratif oleh dosen dan mahasiswa melalui penerapan metode edutainment, yaitu pendekatan pembelajaran yang memadukan unsur bermain dengan proses belajar, serta melalui penyelenggaraan berbagai lomba edukatif. Pendekatan tersebut dipilih guna menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan, interaktif, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan antusiasme dan partisipasi anak-anak dalam proses pembelajaran, sekaligus tumbuhnya minat terhadap kegiatan keagamaan. Program ini diharapkan dapat menjadi model efektif dalam pengembangan bakat dan potensi anak serta memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam bidang pendidikan dan pembinaan karakter sejak usia dini.
Penerapan Etika Komunikasi Islam dalam Mengatasi Krisis Moral Gen Z di Era Digital: Penelitian Nurmala; Muda Wali; Muslem; Ismuhar; Nailis Wildany
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 2 June - September
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v4i2.515

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis Penerapan Etika Komunikasi Islam dalam Mengatasi Krisis Moral Gen Z Era Digital. Metode dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan library research atau studi kepustakaan. Teknik pengumpulan data berasal dari sumber data primer dan sumber data skunder. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis data deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Kemajuan teknologi digital yang begitu pesat telah membawa pengaruh positif dan negative bagi penggunanya terutama gen Z. Pemanfaatan teknologi dengan baik dan bijak maka dapat mempermudah segala aktifitasnya di era digital ini. Namun kurangnya pemahaman dalam penggunaan teknologi digital malah berdampak buruk bagi pengguna itu sendiri. Kehadiran Gen Z seiring dengan perkembangan teknologi menjadikan merak generasi yang aktif di ruang digital saat ini terutama media sosial. Kurangnya pemahaman penggunaan media sosial yang benar dan beretika menghasilkan tindakan-tindakan yang tidak bermoral di media sosial seperti penggunaan bahasa yang tidak sopan, cyber bullying, penipuan dan lainnya. Dengan memahami prinsip etika komunikasi Islam berperan sebagai pedoman bagi Gen Z untuk berinteraksi secara bermoral di era digital.
Strategi Personal Branding Virtual Youtuber Mikazuki Arion dalam Membangun Citra Positif di Media Sosial Youtube Kirana Ariesandra Milania Subiyantoro; Nurmala
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3307

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi personal branding Virtual YouTuber (VTuber) Indonesia, Mikazuki Arion, dalam membangun citra positif di media sosial YouTube. Penelitian menggunakan paradigma postpositivisme dengan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus tunggal berunit terbenam (embedded single-case study) yang merujuk pada Yin (2018). Kasus dibatasi pada praktik personal branding Mikazuki Arion sejak debut 2023 hingga periode pengumpulan data 2026. Sumber bukti mencakup lima video siaran langsung YouTube yang dipilih secara purposif, dokumentasi digital, serta wawancara semi-terstruktur dengan tiga moderator Mikazuki Arion, yaitu Cuji, Seven, dan Mine pada 22 Agustus 2026. Analisis dilakukan secara deduktif menggunakan delapan hukum personal branding Peter Montoya sebagai kategori yang ditetapkan di muka, kemudian dipadankan melalui pattern matching antar-sumber bukti. Keabsahan studi kasus diperkuat melalui validitas konstruk, validitas internal, validitas eksternal, dan reliabilitas sebagaimana dikemukakan Yin (2018), terutama dengan penggunaan multiple sources of evidence dan rantai bukti. Hasil penelitian menunjukkan pola yang kuat dan konsisten pada delapan hukum Montoya. Spesialisasi dan perbedaan dibangun melalui konsep Prime Minister, Primordial Demon, suara khas, lore, serta identitas visual; kepemimpinan terlihat dalam pengelolaan alur siaran, batas komunitas, dan respons terhadap kritik; kepribadian tampak melalui komunikasi spontan, hangat, humoris, dan natural; kenampakan dijaga melalui live streaming dan interaksi lintas platform; kesatuan dan keteguhan terlihat pada keberlanjutan identitas meskipun terjadi redebut dan pembaruan model; sedangkan goodwill dibangun melalui apresiasi, empati, ketegasan yang proporsional, dan kepedulian terhadap audiens. Wawancara moderator mengonfirmasi mayoritas pola yang teramati pada video sekaligus memperluas pemahaman tentang pengelolaan komunitas di luar momen siaran. Temuan ini pada dasarnya mengonfirmasi teori Montoya, tetapi memperluas pemaknaan personality dan unity pada konteks identitas berbasis avatar, karena konsistensi yang dapat diuji adalah konsistensi persona publik dan praktik komunikasinya, bukan identitas privat talent di balik avatar.
Pola Komunikasi Virtual dalam Grup Online di Platform Discord pada Server Gang Desa Azhario Juwali; Nurmala; Juandanilsyah; Halomoan Harahap
Edutik : Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 6 No. 5 (2026): EduTIK : Oktober 2026
Publisher : Jurusan PTIK Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67142/edutik.v6i5.591

Abstract

ABSTRAK Penelitian kualitatif deskriptif ini mengkaji pola komunikasi virtual komunitas Discord “Gang Desa” menggunakan Teori Ekologi Media untuk memetakan peran arsitektur teknologi dalam membentuk norma interaksi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, dokumentasi obrolan, dan wawancara mendalam dengan lima pengurus server, lalu dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian mengidentifikasi empat pola komunikasi utama: pola primer melalui voice channel yang menghadirkan kedekatan emosional; pola sekunder pada text channel terstruktur yang menjembatani pertemuan offline; pola linear satu arah dari pengurus melalui saluran pengumuman untuk menjaga ketertiban; serta pola sirkular berupa obrolan harian yang santai, dinamis, dan setara. Penelitian ini menyimpulkan bahwa fitur teknis Discord tidak sekadar menjadi sarana komunikasi, tetapi juga aktif membentuk cara komunitas melestarikan nilai serta identitas kedaerahan di ruang digital. ABSTRACT This descriptive qualitative research examines virtual communication patterns in the "Gang Desa" Discord community using Media Ecology Theory to map the role of technological architecture in shaping interaction norms. Data were collected through participatory observation, chat documentation, and in-depth interviews with five server administrators, then analyzed using the Miles and Huberman model. The results identify four main communication patterns: a primary pattern through voice channels that creates emotional closeness; a secondary pattern on structured text channels that bridges offline meetings; a linear pattern consisting of one-way announcements from administrators to maintain order; and a circular pattern featuring relaxed, dynamic, and equal daily conversations. This study concludes that Discord's technical features do not merely serve as communication tools, but actively shape how the community preserves rural values and regional identity in the digital space.
Strategi Komunikasi Politik Digital Partai Gerindra dalam Memulihkan Citra Prabowo Subianto melalui TikTok Lutfia Insani; Syurya Muhammad Nur; Juandanilsyah Juandanilsyah; Nurmala Nurmala
JURNAL SYNTAX IMPERATIF : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 7 No. 4 (2026): Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/syntaximperatif.v7i4.1199

Abstract

Sosok Prabowo Subianto sebagai figur militer yang keras dan kontroversial, terutama akibat tuduhan pelanggaran hak asasi manusia pada peristiwa 1997–1998, menjadi beban citra yang perlu dipulihkan menjelang Pemilihan Presiden 2024. Penelitian ini mengkaji strategi komunikasi digital Partai Gerindra dalam memulihkan citra Prabowo melalui akun TikTok @partaigerindra, serta pola pesan, visual, dan narasi yang digunakan. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berparadigma konstruktivis dengan desain studi kasus, data primer dihimpun dari delapan video TikTok @partaigerindra yang diunggah September 2023–Desember 2024, ditunjang data sekunder dari jurnal, buku, dan pemberitaan. Analisis difokuskan pada Image Restoration Theory William Benoit sebagai kerangka utama, dengan The Eight Laws of Personal Branding Peter Montoya dan Image Theory sebagai penunjang, serta semiotika Roland Barthes sebagai alat baca tanda. Hasil menunjukkan pemulihan citra dijalankan lewat tiga strategi, yaitu reducing offensiveness melalui bolstering, denial lewat pembingkaian ulang identitas, dan evading responsibility lewat kontekstualisasi peran sebagai pemimpin masa depan. Sebaliknya, mortification, corrective action, attacking the accuser, dan compensation sama sekali tidak digunakan, sehingga tuduhan masa lalu tidak pernah dijawab secara langsung, melainkan ditimpa dengan bahan ingatan baru. Seluruh tanda bermuara pada satu mitos dominan, yaitu “pemimpin rakyat yang dicintai”. Citra gemoy Prabowo terbukti merupakan hasil konstruksi komunikasi sistematis, bukan fenomena viral kebetulan.
Resepsi Khalayak terhadap Representasi Citra Aparat Kepolisian dalam Film Sayap-Sayap Patah 2: Olivia Ria Eka Ningrum; Nurmala Nurmala; Salman Salman; Syurya Muhammad Nur
JURNAL SYNTAX IMPERATIF : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 7 No. 4 (2026): Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/syntaximperatif.v7i4.1208

Abstract

Film sebagai media komunikasi massa tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga mengonstruksikan gambaran sosial yang dapat memengaruhi cara khalayak memahami institusi publik. Penelitian ini bertujuan menganalisis resepsi khalayak terhadap representasi citra aparat kepolisian dalam film Sayap-Sayap Patah 2: Olivia. Penelitian menggunakan paradigma konstruktivisme, pendekatan kualitatif deskriptif, dan analisis resepsi berdasarkan model encoding-decoding Stuart Hall. Data diperoleh melalui observasi film, dokumentasi, serta wawancara semi-terstruktur terhadap tujuh informan yang dipilih secara purposif dan memiliki latar belakang media, film, komunikasi, aktivisme, serta masyarakat umum. Data dianalisis melalui pengumpulan, reduksi, penyajian, penarikan kesimpulan, dan klasifikasi pemaknaan ke dalam posisi dominan, negosiasi, dan oposisi. Hasil menunjukkan bahwa posisi khalayak berubah menurut jenis klaim yang dibangun film. Representasi yang bersifat afektif dan universal, seperti peran ayah dan kepedulian terhadap keselamatan warga, cenderung diterima secara dominan. Sebaliknya, representasi kompetensi institusional pada proses investigasi dan interogasi lebih banyak dinegosiasikan atau ditolak karena dianggap terlalu cepat dan ideal. Adegan yang memadukan keputusan humanis dengan tindakan kekerasan juga memunculkan oposisi kuat. Penelitian menyimpulkan bahwa resepsi dipengaruhi bukan hanya oleh latar sosial dan pengalaman, tetapi juga oleh kemampuan penonton menguji plausibilitas klaim film terhadap realitas yang mereka kenal.