Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Ritual Domestik dan Subkultur Perlawanan dalam Laut Bercerita: Analisis Wujud Kebudayaan Koentjaraningrat Tarismah Ismail; Andi Karman; Aslan Abidin
Wahana Literasi: Journal of Language, Literature, and Linguistics Vol 6, No 1 (2026): Wahana Literasi: Journal of Language, Literature, and Linguistics
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59562/wl.v6i1.85744

Abstract

This study analyzes cultural manifestations in Leila S. Chudori's Laut Bercerita using Koentjaraningrat’s literary anthropology framework. A qualitative descriptive method with a literary anthropology approach was employed. Data, consisting of narrative units and dialogues, were analyzed using Miles and Huberman’s interactive model. The results demonstrate three primary findings. First, the ideological system is manifested through resistance and human values acting as a counter-culture against authoritarianism. Second, the behavioral system materializes in domestic rituals and clandestine subcultures that maintain social cohesion. Third, the physical system (artifacts), represented by letters and banned books, transforms into a sacred medium preserving collective memory. In conclusion, Laut Bercerita functions as a fictional ethnography reconstructing historical trauma through cultural practices. This study implies the critical role of literature as a space for cultural transmission to combat historical amnesia regarding state violence.Keywords:, Literary anthropology, Koentjaraningrat, Laut Bercerita, subculture of resistance. domestic rituals.         
Transedukasi dalam Lanskap Bahasa dan Sastra untuk Peningkatan Daya Kritis Mahasiswa Andi Karman; Muhammad Saleh; Syamsudduha Syamsudduha; Usman Usman; Asri Ismail
Abdimas Singkerru Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Teknologi Industri Dewantara Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59563/singkerru.v6i2.413

Abstract

Transformasi digital memberikan kemudahan bagi mahasiswa dalam memperoleh dan menyebarkan informasi, tetapi juga menghadirkan persoalan berupa disinformasi, bias, manipulasi bahasa, polarisasi pandangan, serta rendahnya kebiasaan memeriksa kredibilitas sumber. Kondisi tersebut membutuhkan penguatan daya kritis agar mahasiswa mampu memahami penggunaan bahasa, mengevaluasi informasi, mengenali bias, dan menyampaikan tanggapan berdasarkan alasan serta bukti. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat daya kritis mahasiswa melalui transedukasi dalam lanskap bahasa dan sastra. Kegiatan melibatkan sekitar 75 mahasiswa dan unsur civitas academica melalui rangkaian edukasi transedukasi dalam lanskap bahasa dan sastra, diskusi dan analisis wacana kritis, serta refleksi dan evaluasi literasi kritis. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui penyampaian materi, pembahasan contoh wacana bahasa dan media digital, diskusi interaktif, serta refleksi peserta. Penilaian pemahaman menunjukkan skor rata-rata 2,80 sebelum kegiatan dan 4,26 setelah kegiatan. Penilaian peserta terhadap keseluruhan pelaksanaan memperoleh rata-rata 88,4% dengan kategori sangat baik. Refleksi peserta menunjukkan kesadaran mengenai ketidaknetralan bahasa, pentingnya verifikasi informasi dan pengenalan bias digital, serta fungsi sastra sebagai ruang empati, refleksi, dan kritik sosial. Keberlanjutan kegiatan diarahkan pada aktivitas praktis berupa analisis berita dan media sosial, dokumentasi lanskap bahasa, diskusi sastra berbasis persoalan sosial, dan latihan verifikasi informasi.
PBSI AI-LAB: Mentoring on the Use of Artificial Intelligence for Prospective Indonesian Language Teachers Andi Karman; Dedi Risaldi; Muh Ikbal; Ade Yustina; Abdul Rahim
Jurnal IPMAS Vol. 6 No. 3 (2026): September - Desember 2026
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/ipmas.6.3.2026.1928

Abstract

The rapid development of artificial intelligence (AI) creates new opportunities for Indonesian language education while also presenting challenges for prospective teachers who need adequate literacy and practical skills to use AI appropriately. The PBSI AI-Lab program was designed to provide prospective Indonesian language teachers with knowledge, practical experience, and ethical awareness in utilizing AI for educational purposes. The program was conducted over approximately three months through three main activities: Artificial Intelligence Literacy Training, Practical Training on AI Utilization for Teaching Materials, and Mentoring on AI Application and Ethics. The activities introduced participants to basic AI concepts, generative AI, potential applications in Indonesian language education, prompt engineering, development of teaching materials and learning activities, and AI-assisted assessment. Participants were also guided to review, refine, and contextualize AI-generated outputs while considering accuracy, originality, transparency, data protection, and human judgment. The implementation demonstrated that participants were able to explain basic AI concepts, formulate more specific prompts, develop AI-assisted instructional products, revise generated content, and recognize principles of responsible AI use. The program also provided practical resources that can be further adapted for Indonesian language teaching. Sustainability is directed toward independent practice, continued development of AI-assisted learning materials, peer sharing, and integration of responsible AI use into PBSI academic activities. The program supports the readiness of prospective Indonesian language teachers to utilize AI creatively, critically, and responsibly.
Dari Membaca ke Berdiskusi: Penguatan Budaya Literasi Siswa melalui Program “SMANSES Bedah Buku” Andi Karman; Muhammad Ikbal; Muhammad Ilham; Muhammad Syukri Gaffar; Nursinah Nursinah
Abdimas Langkanae Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v6i2.882

Abstract

Budaya membaca remaja menghadapi tantangan akibat meningkatnya dominasi media digital, terbatasnya ruang dialog tentang bacaan, serta kecenderungan menempatkan membaca sebagai aktivitas akademik semata. Program “Smanses Bedah Buku” bertujuan memperkuat budaya literasi siswa melalui kegiatan membaca, interpretasi, dan dialog kritis terhadap karya sastra. Kegiatan melibatkan sekitar 100 siswa SMA Negeri 11 Makassar dengan pendekatan partisipatif-deskriptif yang mencakup orientasi bacaan, pemaparan hasil pembacaan, dialog terarah, kuis literasi, observasi keterlibatan, dan refleksi. Dua novel, Laut Bercerita karya Leila S. Chudori dan Janji karya Tere Liye, digunakan sebagai bahan utama untuk mengembangkan pembacaan yang menghubungkan unsur cerita dengan persoalan sosial dan kemanusiaan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa bedah buku menciptakan ruang literasi lintas kelas yang mendorong siswa tidak hanya memahami unsur intrinsik karya, tetapi juga menginterpretasikan isu sejarah, kemanusiaan, moralitas, tanggung jawab, dan keadilan. Partisipasi siswa dalam dialog dan kuis memperlihatkan pergeseran aktivitas membaca dari pengalaman individual menuju praktik literasi yang sosial, komunikatif, dan reflektif. Keterlibatan OSIS dan MPK dalam penyelenggaraan juga memperkuat kepemilikan siswa terhadap program literasi sekolah. Dengan demikian, bedah buku berbasis dialog dan partisipasi siswa berpotensi menjadi strategi penguatan budaya literasi sekolah dengan menempatkan siswa sebagai pembaca aktif, penafsir, sekaligus peserta dalam komunitas literasi
REPRESENTASI KOLONIALISME DALAM NOVEL TANAH SURGA MERAH KARYA ARAFAT NUR: PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA DAN TEORI POSKOLONIALISME Muhammad Alif Putra Nigara; Andi Karman; Aslan Abidin
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Publish
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.19092

Abstract

This study aims to analyze the representation of colonialism and identity dynamics in the novel Tanah Surga Merah written by Arafat Nur using a sociology of literature approach and postcolonial theory proposed by Homi K. Bhabha. The focus of this research is to identify the forms of hybridity, mimicry, and ambivalence represented in the narrative, characters, and social realities depicted in the novel. This research applies a qualitative descriptive method through textual analysis of relevant quotations from the novel. Data were collected by conducting intensive reading, identifying, classifying, and interpreting textual elements related to postcolonial concepts. The findings reveal that the novel represents the dynamics of Acehnese society in the post-conflict era, characterized by social, political, and cultural transformations. The concept of hybridity appears in the mixed identity of characters shaped by revolutionary ideals, conflict experiences, and new political realities. Mimicry is reflected in the behavior of characters and political elites who imitate previous power structures to gain legitimacy and maintain authority. Meanwhile, ambivalence is portrayed through the contradictory attitudes of characters and society, which oscillate between hope for social change and disappointment with persistent injustice, political rivalry, and social inequality. Therefore, the novel not only portrays individual experiences but also offers social criticism toward post-conflict society while revealing the complexity of identity within a postcolonial context.
KONTESTASI WACANA EKOLOGI DALAM PEMBERITAAN PERTAMBANGAN NIKEL DI RAJA AMPAT Muh. Ikbal; Andi Karman
Jurnal Vokatif: Pendidikan Bahasa, Kebahasaan, dan Sastra Vol. 3 No. 3 (2026)
Publisher : Education and Talent Development Center Indonesia (ETDC Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/vokatif.v3i3.5794

Abstract

Pertambangan nikel di Raja Ampat memicu konflik antara pelestarian kawasan yang ditetapkan UNESCO, wilayah adat, serta ruang hidup masyarakat dengan pengembangan nikel sebagai mineral strategis untuk hilirisasi industri dan transisi energi. Studi ini mengkaji kontestasi wacana dan perubahan konfigurasi wacana dalam 28 artikel berita lengkap yang diterbitkan antara Maret dan September 2025 oleh lima media terpilih yang mewakili empat jenis media. Kerangka analisis utama menggunakan pendekatan Fairclough, analisis klausa menggunakan teori transitivitas Halliday, evaluasi ekologis dipandu oleh pendekatan Stibbe, serta representasi aktor sosial dan legitimasi dianalisis menggunakan kerangka Van Leeuwen. Unit pengambilan sampel adalah artikel; setiap artikel utuh berfungsi sebagai unit konteks, sedangkan 84 segmen fokus yang mencakup judul/teras berita, segmen aktor-sumber, dan segmen ekologis-ideologis berfungsi sebagai unit pencatatan. Artikel diklasifikasikan berdasarkan orientasi yang sama pada setidaknya dua dari tiga segmen tersebut; kasus campuran dikategorikan sebagai ambivalen. Hasilnya menunjukkan 12 artikel bersifat kontra-wacana, delapan artikel bersifat melegitimasi, dan delapan artikel bersifat ambivalen. Legitimasi dibangun melalui otorisasi resmi, kepatuhan administratif, rasionalisasi teknis, manfaat ekonomi, pembatasan spasial, dan klaim persetujuan masyarakat. Sebaliknya, kontra-wacana mengonstruksi Raja Ampat sebagai wilayah adat dan ekosistem yang saling terhubung, menonjolkan heterogenitas masyarakat, serta mengangkat isu entitas non-manusia dan dampak ekologis. Analisis lintas fase menunjukkan adanya perubahan konfigurasi wacana yang bervariasi antar-media, bukan pergeseran seragam: ANTARA beralih dari respons krisis yang ambivalen menuju legitimasi operasional; Mongabay Indonesia dan Suara Papua tetap dominan dalam posisi kontra-wacana; sementara Tirto.id menunjukkan pola perubahan yang dinamis. Temuan ini membedakan antara legalitas administratif dan legitimasi ekologis, serta antara batas-batas izin dan konektivitas ekosistem.