Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Hubungan pola konsumsi buah dan sayur terhadap status gizi selama pandemi Corona Virus Disease 19 (COVID-19) Saragih, Eluzai Eben; Saragih, Bernatal; Emmawati, Aswita
Journal of Tropical AgriFood Volume 5, Nomor 1, Tahun 2023
Publisher : Department of Agricultural Products Technology, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.5.1.2023.7272.21-34

Abstract

Hidup sehat dan mengkonsumsi buah dan sayur mampu meningkatkan sistem imunitas tubuh yang dapat mencegah penyebaran Covid-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola konsumsi buah dan sayur dan hubungannya terhadap status gizi.  Metode penelitian menggunakan studi potong lintang yang mempelajari suatu  korelasi antara faktor-faktor risiko, dengan efek yakni  pendekatan pengumpulan data dengan analisis korelatif antara variabel dependen dan variabel independen. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 70 keluarga pada bulan Oktober 2020 sampai dengan November 2020 yang dilakukan secara daring menggunakan google form yang diperoleh dari Kota Samarinda, Kota Sangatta dan Desa Barja Tongah, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Uji statistik yang digunakan adalah chi-square untuk mengetahui hubungan status gizi dengan pola konsumsi sayur dan buah. Pola konsumsi sayur selama pandemi Covid-19 bahwa keluarga sering mengonsumsi sayur. Jenis sayur yang sering dikonsumsi adalah bayam. Selama pandemi frekuensi konsumsi mengalami peningkatan sebanyak 65,7%. Pola konsumsi buah selama pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa keluarga sering mengkonsumsi buah. Jenis buah yang sering dikonsumsi adalah pisang. Selama pandemi frekuensi konsumsi mengalami peningkatan sebanyak 65,7%. Karakteristik keluarga dengan usia kepala keluarga dewasa lanjut (51-75 tahun) dengan pendidikan SMA sederajat dan pekerjaan tidak tetap, Jumlah anggota keluarga ≤4 orang dan penghasilan keluarga  ≥Rp.3.500.000, Ibu keluarga dengan pendidikan SMA sederajat dan pekerjaan tidak tetap sering mengonsumsi buah dan sayur. Frekuensi dan porsi konsumsi buah memiliki hubungan dengan penghasilan keluarga. Keluarga yang kurang porsi konsumsi sayur dan buah memiliki status gizi tidak baik lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga yang cukup porsi konsumsi sayur dan buah.
Pengaruh metode pengeringan oven gas dan rumah pengering terhadap laju pengeringan dan kualitas daun katuk (Sauropus androgynus) Romadoni, Jeri Yandi; Rahmadi, Anton; Emmawati, Aswita
Journal of Tropical AgriFood Volume 6 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Department of Agricultural Products Technology, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.6.1.2024.10055.9-16

Abstract

Penelitian ini mengkaji pengembangan rumah pengering yang memanfaatkan sinar matahari sebagai alternatif pengeringan konvensional (tanpa rumah). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan model laju pengeringan daun katuk dengan dua kondisi, yaitu dengan dan tanpa pra-perlakuan blanching. Laju pengeringan yang digunakan adalah persamaan model Lewis dan Page. Sebagai perbandingan dilakukan percobaan secara paralel menggunakan pengering oven dengan membuat percobaan faktorial 2x3. Faktor pertama adalah pra-perlakuan pada bahan (blanching dan non-blanching), sedangkan faktor kedua adalah suhu pengeringan (60,70,dan 80oC). Percobaan ini disusun dalam Rancangan Acak Lengkap, masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Parameter yang diamati adalah yield dan kualitas daun katuk kering. Data yang diperoleh dari percobaan dengan pengering oven dianalisis dengan ANOVA, kemudian dibandingkan secara deskriptif dengan data dari percobaan menggunakan rumah pengering. Hasil penelitian menunjukkan kinerja rumah pengering (3 hari) untuk pengeringan daun katuk berada dalam kisaran kinerja pengering oven yang bekerja pada suhu 60-80 C (4 jam). Pra-perlakuan blanching memberikan yield dan kualitas daun katuk kering yang lebih baik pada proses pengeringan dengan bahan tanpa blanching. Desain rumah pengering yang digunakan pada penelitian ini direkomendasikan untuk dipergunakan pada pengeringan bahan daun-daunan.
Komparasi metode presto dan perendaman dalam larutan asam klorida serta kombinasinya dengan papain sebagai pretreatment produksi gelatin kulit sapi Yuliani, Yuliani; Putra, Sepfian Fadilla Setya; Emmawati, Aswita
Journal of Tropical AgriFood Volume 5, Nomor 2, Tahun 2023
Publisher : Department of Agricultural Products Technology, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.5.2.2023.10942.112-118

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan pengaruh metode pretreatment produksi gelatin, yaitu metode presto dan metode perendaman dalam larutan HCl serta kombinasi keduanya dengan perendaman dalam larutan enzim papain terhadap rendemen dan karakteristik fisika-kimia gelatin kulit sapi. Penelitian ini merupakan penelitian faktor tunggal (metode pretreatment) yang disusun dalam RALdengan 6 taraf perlakuan, yaitu presto (10 dan 20 menit) dilanjutkan dengan perendaman dalam air atau larutan papain 3%, masing-masing selama 3 jam, proses perendaman dalam larutan HCl (1 dan 2%) dilanjutkan dengan perendaman dalam larutan papain 3% selama 3 jam. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pretreatment berpengaruh terhadap rendemen gelatin, tetapi tidak untuk kadar airnya. Kombinasi presto selama 10 menit dan perendaman dalam larutan papain menghasilkan rendemen gelatin tertinggi (19,61%). Presto menghasilkan gelatin dengan viskositas tertinggi. Kadar air gelatin yang dihasilkan dari semua metode kombinasi yang dilakukan memenuhi SNI, yaitu berkisar 5,42-8,31%. Sedangkan kadar abu hanya metode presto dan kombinasi presto-perendaman dalam larutan enzim papain yang memenuhi SNI. Gelatin yang dihasilkan dari semua pretreatment mempunyai kadar protein yang lebih rendah dari gelatin komersial. Warna gelatin yang dihasilkan dari semua metode pretreatment adalah kuning cerah.
Profil Kualitas Organoleptik Produk Segar Dan Matang Dari Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Hasil Pengawetan Menggunakan Daun Keluwek (Pangium Edule Reinw.) Candra, Krishna Purnawan; Hosana, Onedha; Yuliani, Yuliani; Emmawati, Aswita
Jurnal Pertanian Khairun Vol 2, No 2: (Desember, 2023)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/jpk.v2i2.7296

Abstract

Dayak tribe, as the native people of Kalimantan, has used the Keluwek plant for generations to prepare food sources of protein such as meat and fish. Apart from getting a preferred taste, this plant has also extended the food shelf life. This research aims to determine the sensory response profile of cooked products from preserved fish using Keluwek leaves. Tilapia fish is preserved using chopped Keluwek leaves for 2 days, then steamed and fried to get the cooked product. The organoleptic properties of fresh fish from preservation were compared with fresh fish without preservation using a quality assessment score of 1-9 based on SNI 01-2729.1-2006 for eyes, body surface mucus, odor, and texture. The cooked product's hedonic organoleptic properties and hedonic quality (color, aroma, taste and texture) were also observed (score 1-5). The results showed that on day 2 of preservation, the sensory properties of preserved fish were significantly different (p0.001) from fish without preservation for the eye, body surface mucus, smell, and texture attribute. Meanwhile, the sensory properties of the steamed cooked product are significantly different (p0.001) from those for the taste attribute but are not significantly different (p0.001) for the color, aroma, and texture attribute. Likewise, the sensory properties of the cooked fried product are significantly different (p0.001) for the color, aroma, taste and texture attribute. The steamed cooked product of preserved tilapia received a neutral response. for the attribute of color, aroma, taste, and texture. Meanwhile, the cooked fried product of preserved tilapia received a bit dislike response for the attribute of color, smell, taste, and a neutral response to texture attribute.Keywords: Keluwek, Nile fish, fish preservation.
Penerapan CPPB-IRT dan sistem jaminan produk halal sebagai upaya peningkatan mutu dan kehalalan produk UMKM Putri, Annisa Ananda; Rohmah, Miftakhur; Emmawati, Aswita; Andriyani, Yulian; Rahmadi, Anton
Jurnal Inovasi Hasil Pengabdian Masyarakat (JIPEMAS) Vol 6 No 2 (2023)
Publisher : University of Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jipemas.v6i2.19633

Abstract

Keamanan pangan merupakan hal penting dalam suatu produk agar tidak membahayakan kesehatan konsumen. Salah satu upaya untuk meningkatkan keamanan mutu dan kehalalan produk yaitu dengan menerapkan Cara Produksi Pangan yang Baik untuk Industri Rumah Tangga dan Sistem Jaminan Produk Halal. Pendampingan ini bertujuan untuk membantu UMKM Amplang Belida Gina dalam memenuhi syarat izin edar P-IRT dan Sertifikat Halal dengan menggunakan metode: (1) observasi dan wawancara; (2) identifikasi gap pemenuhan aspek CPPB-IRT dan Sistem Jaminan Produk Halal; (3) pendampingan  penerapan CPPB-IRT dan SJPH; (4) penyiapan dokumen persyaratan dan proses pendaftaran SPP-IRT dan Sertifikat Halal kategori self declare. Hasil pendampingan  UMKM telah melakukan implementasi CPPB-IRT dan SJPH sehingga telah mendapatkan sertifikat P-IRT sebagai izin edar dan Sertifikat Halal sebagai pengakuan kehalalan produk. Tindak lanjut yang dapat dilakukan yaitu melalui monitoring dan evaluasi sebagai penilaian akhir dari proses pendampingan agar pelaku usaha melakukan implementasi secara konsisten dari kegiatan yang telah dilaksanakan sehingga jika ditemukan ketidaksesuaian maka pelaku usaha harus melakukan tindakan perbaikan kembali.
Kelayakan daun keluak (Pangium edule Reinw) sebagai pengawet alami produk perikanan berdasarkan profil mutu sensoris dan keamanan mikrobiologi [The appropriateness of Pangi (Pangium edule Reinw) leaves as natural preservative based on sensory quality and microbiological safety profile] Candra, Krishna Purnawan; Setiawan, Agus; Yuliani, Yuliani; Emmawati, Aswita
Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian Vol. 29 No. 1 (2024): Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian
Publisher : Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtihp.v29i1.35-43

Abstract

Daun keluak (Pangium edule Rinew) digunakan oleh masyarakat suku Dayak Ahoeng untuk mengawetkan daging dan ikan sebagai wujud dari kearifan lokal. Daun ini diketahui mengandung senyawa antibakteri yaitu tanin, fenol dan asam sianida. Sebuah percobaan faktor tunggal (lama pengawetan) yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap telah dilakukan dengan tujuan untuk menentukan karakteristik mutu sensoris dan keamanan mikrobiologi ikan selama pengawetan menggunakan daun keluak. Perlakuan yang dicobakan adalah lama pengawetan 1 sampai 4 hari dan menggunakan ikan segar sebagai kontrol. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Parameter yang diamati adalah mutu sensoris hedonik ikan (SNI 2729:2013), ALT dan bakteri patogen (Coliform, Escherichia coli, Salmonella sp., Vibrio cholera, dan Vibrio parahaemolyticus). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu sensoris hedonik ikan Lele Sangkuriang selama empat hari pengawetan menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0,05) untuk semua atribut. Ikan lele Sangkuriang masih menunjukkan kualitas yang baik dengan skor mutu hedonik 6, 8, 7 dan 7 berturut-turut untuk kenampakan bola mata, lendir permukaan badan, bau dan tekstur pada pengawetan hari kedua. Pengawetan menggunakan daun keluak dapat mempertahankan keamanan mikrobiologi ikan lele Sangkuriang selama satu hari berdasarkan parameter ALT, Coliform, dan Salmonella sp. Cemaran V. parahaemolyticus mulai terdeteksi setelah dua hari pengawetan. Cemaran E. coli dan V. cholera mulai terdeteksi masing-masing setelah pengawetan selama 3 dan 4 hari. Pengawetan menggunakan cacahan daun keluak dapat mempertahankan mutu sensoris hedonik dan keamanan mikrobiologi ikan lele Sangkuriang sampai pengawetan hari ke satu berdasarkan syarat mutu SNI 2729:2013 tentang ikan segar.
Sifat sensoris, kadar air dan angka kapang khamir pada cookies yang diformulasi dengan terigu, umbi singkong dan tepung daun singkong (Manihot utilissima) selama penyimpanan Oktaviani, Renni; Saragih, Bernatal; Emmawati, Aswita
Journal of Tropical AgriFood Volume 8 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Department of Agricultural Products Technology, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.8.1.2026.7749.66-75

Abstract

Singkong mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin C, vitamin B1, zat besi, fosfor, kalsium, serat makanan, serta memiliki indeks glikemik rendah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh kadar air, perubahan sifat sensoris, dan pertumbuhan mikroorganisme kapang dan khamir pada cookies yang diformulasikan dengan tepung terigu, umbi singkong, dan tepung daun singkong selama penyimpanan. Penelitian ini menggunakan jenis kuasi eksperimen dengan desain posttest only control design menggunakan perlakuan terbaik dari penelitian sebelumnya yaitu 98 g tepung terigu, umbi singkong (1:1) : 2 g tepung daun singkong. Cookies disimpan pada suhu kamar selama 1, 7, 15, 30, 45, dan 60 hari. Data dianalisis dengan analisis non parametrik Kruskal-Wallis dan One-way ANOVA. Hasil menunjukkan sensoris mutu hedonik warna pada hari ke-1 hijau sedangkan hari ke-7,15 dan 30 agak kehijauan. Mutu hedonik aroma dan rasa adalah beraroma cookies dan manis. Mutu hedonik tekstur pada hari ke-1 dan 7 renyah sedangkan hari ke-15 dan 30 agak renyah. Kadar air cookies di hari ke-1,7,15 dan 30 yaitu 4.46, 4.96, 5.22 dan 5.96 (%). Nilai tersebut berdasarkan SNI 2973:2011 mampu bertahan sampai hari ke-7. Hasil uji mikrobiologi Angka Kapang Khamir (AKK) tidak memenuhi syarat mutu SNI 2973:2011 yaitu maksimal 2 x 102 CFU/g.
The Shelf Life of Wet Noodle Added by Gendarussa (Justicia gendarussa Burm. F.) Leaves Extract Yuliani Yuliani; Rinten Anjang Sari; Aswita Emmawati; Krishna Purnawan Candra
Indonesian Journal of Agricultural Research Vol. 3 No. 1 (2020): InJAR, Vol. 3, No. 1, March 2020
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.457 KB) | DOI: 10.32734/injar.v3i1.3823

Abstract

Gendarussa (Justicia gendarussa) is a herbaceous plant with a height of 1-1.5 m. Its stem and leaves extract show antimicrobial and antioxidant activities and have potent cytotoxic activity on the human cancer cell. Gendarussa has a better flavor than stem. Its aqueous extract shows higher extract than ethanol extract. The present study evaluated the preservative effect of aqueous extract of gendarussa leaves (GL) in prolonging the shelf life of wet noodles. The single-factor experiment (GL of 0, 50, 100, 150, and 200 g was extracted in hot water of 100 mL) arranged in a completely randomized design was applied in this research. Total bacterial and mold were observed as well as sensory hedonic characteristics during storage. Data were analyzed using SPSS ver.25. The microbial quality data were analyzed by the Kruskal-Wallis test followed by pair comparison with Bonferroni correction, while the sensory data analyzed by Friedman test continued by Wilcoxon Sign Rank Test. The results showed that the addition of GL aqueous extract (200 g in 100 mL hot water) could prolong the shelf life of wet noodles. The microbial quality of the wet noodle, which preserved at room temperature for 24 h still meet the Indonesian standard of wet noodle (SNI: 2987-2015) for total bacteria and 36 h for total molds. The wet noodles have log cfu/g of 5.35 and 1.58 for total bacterial and mold, respectively. The panelists preferred the color, aroma, texture, and taste of wet noodles produced with the GL aqueous extracts. The most preferred one was wet noodle with the addition of GL aqueous extract at a concentration of 200 g per 100 mL with the characteristic of greenish-white color, not scented with GL, chewy texture, and slightly flavored GL.
Optimasi Aktivitas Antioksidan Minuman Herbal Celup Berbahan Bunga Telang dan Serai Marni Jayanti; Sulistyo Prabowo; Krishna Purnawan Candra; Aswita Emmawati
Jurnal Mutu Pangan : Indonesian Journal of Food Quality Vol. 12 No. 1 (2025): Jurnal Mutu Pangan
Publisher : Department of Food Science and Technology (ITP), Faculty of Agricultural Technology, Bogor Agricultural University (IPB) in collaboration with the Indonesian Food and Beverage Association (GAPMMI), the National Agency of Drug and Food Control, and th

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jmpi.2025.12.1.1

Abstract

Butterfly pea flowers and lemongrass are developed as functional herbal drinks because have antioxidant benefits. The combination of the two was innovated herbal drink packaged in tea bags, so it was necessary to create an optimal formula. This study aims to measure on the response antioxidant activity and total flavonoid content from the combination of butterfly pea flower(A), lemongrass(B), and drying time(C). Additionally, the study to obtain the optimal formulation and validated its antioxidant activity, total flavonoid content, as physical characteristics (pH and color intensity) and organoleptic characteristics herbal beverage combination of butterfly pea flower and lemongrass packaged in tea bag. The research utilized a Box-Behnken design with variable combinations: (A) 0.50–1.00 g, (B) 1.00–1.50 g, and (C) 23–25 hours (using an oven drying method at approximately 55 °C). The results indicated that variables A, B, C, their interactions (AB, AC, and BC), had no significant effect (p>0.05) on antioxidant activity. However, the total flavonoid content was influenced differently. Variables B, C, and their interaction (BC) had a significant effect (p<0.05) on total flavonoid content, while other variables did not show significant effects. The optimal formulation for the herbal beverage (200 mL) is (A) 0.50 g, (B) 1.22 g, and (C) 24 hours. This formulation yielded a validated IC50 antioxidant activity of 23.36±6.62 ppm, a total flavonoid content of 255.07±25.10 mg QE/L, and satisfactory physical and organoleptic characteristics aligning with standards from previous research. The optimized formulation is recommended as a functional beverage due to its flavonoid, which provides potential antioxidant benefits for the body.
Karakteristik organoleptik dan kadar serat kasar abon dari formulasi daging ikan patin dan jantung pisang kepok Yuliani, Yuliani; Septiansyah, Andre; Emmawati, Aswita
Journal of Tropical AgriFood Volume 3, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Department of Agricultural Products Technology, Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jtaf.3.1.2021.5485.23-30

Abstract

Abon adalah pangan olahan kering daging sapi atau ikan. Bahan tambahan lain seperti bahan kaya serat sering ditambahkan untuk menambah nilai fungsionalnya disamping meningkatkan nilai ekonomis produksinya. Tetapi penambahan bahan kaya serat ini sering menurunkan kualitas abon. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan kadar jantung pisang kapok (Musa accuminata x balbisiana) maksimal yang dapat ditambahkan dalam pengolahan abon daging ikan patin (Pangasius pangasius). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktor tunggal (formula daging ikan patin (DIP) dan jantung pisang kapok (JPK)) dengan 5 taraf perlakuan dan 3 ulangan. Formula yang dicobakan dalam pembuatan 200 g abon adalah DIP 200 g; 150 g dan 50 g JPK; 100 g DIP dan 100 JPK; 50 g DIP dan 150 JPK; 200 g JPK. Parameter yang diamati adalah karakteristik sensoris hedonik dan mutu hedonik (warna, aroma, tekstur, rasa) serta kadar serat kasar. Data dianalisis dengan sidik ragam dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi DIP dan JPK berpengaruh nyata terhadap karakteristik sensoris dan kadar serat kasar. Abon yang dihasilkan dari formula DIP 150 g dan JPK 50 g mempunyai karakteristik sensoris paling unggul, yaitu mendapatkan respons disukai untuk semua atribut dan mempunyai karakteristik sensoris mutu hedonik berwarna agak kuning, beraroma DIP juga agak beraroma JPK, bertekstur agak kasar, agak berasa DIP juga berasa JPK. Kandungan serat kasar dari abon dengan formula tersebut adalah 0,89%.