Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

THE EFFECTIVENESS OF POLITICAL PARTIES’ DIGITAL CAMPAIGNS IN THE 2024 LEGISLATIVE ELECTIONS: A CASE STUDY OF THE GERINDRA PARTY IN KUPANG CITY Antonio P.D. Sarmento; Ahmad Atang; Syarifuddin Darajad; nursalam; rahmad laan
SOSIOEDUKASI Vol 15 No 3 (2026): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v15i3.8947

Abstract

This study evaluates the effectiveness of the Gerindra Party's digital campaign during Indonesia's 2024 Legislative Election in Kupang City and identifies the factors supporting and constraining its implementation, amid the growing strategic role of digital campaigning and rising social media use among young voters. Using a qualitative case-study design, data were collected through in-depth interviews, social media observation, and documentation, then analyzed with the Miles, Huberman, and Saldaña interactive model. Informants included Gerindra officials, the digital campaign team, millennial and Gen Z voters, a political observer, and a Bawaslu Kupang City representative. Applying the AIDA model, the campaign was highly effective at the attention and interest stages, reflected in sustained engagement and visual recall; moderately effective at the desire stage, where positive party image coexisted with reliance on candidates' records; and limited at the action stage, as votes were shaped by family discussion and face-to-face interaction rather than online exposure. This uneven distribution across AIDA stages is the study's central finding, revealing a conversion gap between digital engagement and electoral behavior rarely noted in prior studies. Building on this gap, the study proposes an "interrupted AIDA" model, in which digital media generate attention and shape agenda, while final decisions are mediated through interpersonal, two-step-flow-like communication rooted in local context. Supporting factors included widespread youth social media use, a structured digital team, and cost flexibility, while inhibiting factors included digital literacy gaps, persistent face-to-face culture, limited resources, and weak content oversight. The study concludes that digital campaigning complements rather than replaces conventional campaigning, extending the AIDA model for future research.
Dampak Budaya Lokal Terhadap Partisipasi Pendidikan: Studi Kasus di Kecamatan Reok Kabupaten Manggarai Nusa Tenggara Timur Kaharudin; Zainur Wula; Zulkhaedir Abdussamad; Baco Tang; Wahid Hasyim TRA Beni; syarifuddin darajad
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 5: Agustus 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i5.20116

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak budaya lokal terhadap partisipasi pendidikan masyarakat di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, sekaligus mengkaji upaya revitalisasi budaya lokal dan pola pelibatan masyarakat dalam mendukung keberlangsungan pendidikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus etnografis-fenomenologis, di mana data dihimpun melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan penelusuran dokumen terhadap tokoh adat, orang tua, pengurus komite sekolah, kepala sekolah, guru, pengawas pendidikan, serta peserta didik. Keabsahan data diperiksa melalui triangulasi sumber dan triangulasi teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya lokal Reok memberikan pengaruh ganda terhadap partisipasi pendidikan. Nilai gotong royong, penghormatan terhadap ilmu pengetahuan, dan peran tokoh adat mendorong semangat bersekolah, sementara konstruksi budaya seperti mendo (anggapan bahwa pendidikan tinggi memberatkan ekonomi keluarga), takdir (kepasrahan atas nasib hidup), dan anak wina (pembatasan pendidikan bagi anak perempuan), ditambah keterlibatan anak dalam kegiatan adat, ekonomi keluarga berbasis tradisi, dan pernikahan usia muda, menjadi faktor penghambat. Revitalisasi budaya melalui integrasi muatan lokal, sanggar budaya, dan pelibatan tokoh adat terbukti memperkuat relevansi pembelajaran dan identitas peserta didik, meskipun masih terkendala keterbatasan sumber daya dan pelatihan guru. Keterlibatan masyarakat melalui komite sekolah, gotong royong, dan kemitraan sekolah-orang tua juga berkorelasi positif dengan kedisiplinan dan motivasi belajar siswa. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan pendidikan berbasis budaya yang kontekstual dan kolaboratif di wilayah dengan tradisi kuat seperti Reok.