cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi" : 11 Documents clear
Hubungan Lama Penggunaan Ortodonti Cekat dengan Status Psikososial Puspitasari, Yustisia; Novawaty, Eva; Abdi, Muhammad J.; Alifjayani, Syahfira
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.54840

Abstract

Abstract: Orthodontic treatment aims to improve orofacial aesthetics and function, by moving teeth or modifying jaw growth. Psychosocial describes the interaction between behavior, social influences, environment on the mind, and culture. This study aimed to analyze the relationship between duration of fixed orthodontics use and psychosocial status. This was an observational and analytical study with a cross-sectional design. Data were analyzed using the chi-square test. Samples were patients using fixed orthodontics at Kimia Farma Cendrawasih Clinic. The results showed that 40 patients were included in this study as respondents. The highest percentage of respondents was those who had used fixed orthodontics for >2 years (42.5%), followed by less than one year (32.5%), and 1-2 years (25.0%). Related to psychosocial status, most respondents had moderate psychosocial status (50%), followed by good psychosocial status (35.0%), and poor psychosocial status (15.0%). The chi-square test obtained a p-value of 0.021 for the relationship between the duration of using orthodontics and psychosocial status. In conclusion, there is a significant relationship between duration of fixed orthodontics use and psychosocial status among the patients. Keywords: duration of use; fixed orthodontics; psychosocial status   Abstrak: Perawatan ortodonti bertujuan untuk memperbaiki estetika dan fungsi orofasial, dengan cara menggerakkan gigi atau memodifikasi pertumbuhan rahang. Psikososial merupakan gambaran interaksi antara perilaku, pengaruh sosial, lingkungan pada pikiran, dan budaya. Penelitian ini bertuju untuk mengetahui hubungan lama penggunaan ortodonti cekat dengan status psikososial. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan desain potong lintang. Uji statistik yang digunakan ialah uji chi-square. Sampel penelitian ini ialah pasien Klinik Kimia Farma Cendrawasih yang melakukan perawatan ortodonti di dokter Spesialis Ortodonti. Hasil penelitian mendapatkan 40 pasien sebagai responden. Responden terbanyak ialah responden yang memiliki lama penggunaan ortodonti cekat >2 tahun (42,5%), diikuti lama penggunaan <1 tahun (32,5%), dan lama penggunaan 1-2 tahun (25,0%). Terkait status psikososial, responden terbanyak memiliki status psikososial sedang (50%), diikuti status psikososial baik (35,0%), dan status psikososial buruk (15,0%). Hasil uji chi-square terhadap hubungan antara lama penggunaan ortodonti cekat dengan status psikososial mendapatkan nilai p=0,021. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara lama penggunaan ortodonti cekat dengan status psikososial pasien. Kata kunci: lama penggunaan; ortodonti cekat; status psikososial
Pengaruh Pemberian Ekstrak Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav) terhadap Pembentukan Zona Hambat Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans Pradnyani, Kadek S.; Parmasari, Wahyuni D.; Anindhita, Pritartha S.
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.56518

Abstract

Abstract: Dental caries has the highest prevalence among all oral and health problems. Streptococcus mutans is the main bacteria that cause dental caries. Another alternative that can be used in preventing caries is traditional medicine, such as red betel leaves (Piper crocatum Ruiz & Pav). The efficacy of red betel is caused by the presence of some active compounds. This study aimed to analyze the effect of administering red betel extract on the formation of inhibitory zone for the growth of S. mutans. All samples of S. mutans were obtained from the microbiology laboratory of the Faculty of Medicine, Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya. Sample size taken was at least four samples for each group using a simple random sampling technique. Data were analyzed using the analysis of variance test (ANOVA). The results showed that the diameter of inhibition zone was already visible at a concentration of 10%, with an average of 20.25 mm. Meanwhile, the highest inhibition zone diameter in the treatment group was observed in group P6 treated with red betel leaf extract at a concentration of 50%, with a diameter of 35 mm. In conclusion, the effective concentration of red betel leaf extract (Piper crocatum Ruiz & Pav) in inhibiting the growth of Streptococcus mutans bacteria is at a concentration of 50%. Keywords: red betel extract; inhibition zone; Streptococcus mutans bacteria   Abstrak: Karies gigi memiliki prevalensi tertinggi dari seluruh masalah kesehatan gigi dan mulut. Steptoccocus mutans merupakan bakteri penyebab utama terjadinya karies gigi. Salah satu alternatif dalam mencegah terjadinya karies ialah penggunaan pengobatan tradisional, antara lain daun sirih merah (Piper Crocatum Ruiz & Pav). Khasiat sirih merah itu disebabkan oleh adanya kandungan sejumlah senyawa aktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian ekstrak sirih merah terhadap pembentukan zona hambat pertumbuhan S. mutans. Bakteri S. mutans diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Besar sampel diambil minimal empat sampel untuk setiap kelompok dengan teknik simple random sampling. Analisis data penelitian menggunakan uji analisis varian (ANOVA). Hasil penelitian mendapatkan bahwa diameter zona hambat sudah terlihat pada pemberian ekstrak konsentrasi 10% dengan rerata diameter 20,25 mm, sedangkan diameter zona hambat tertinggi pada kelompok perlakuan P6 yaitu kelompok dengan pemberian ekstrak 50% dengan diameter 35 mm. Simpulan penelitian ini ialah konsentrasi efektif ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans pada konsentrasi 50%. Kata kunci: ekstrak sirih merah; zona hambat; bakteri Streptococcus mutans
Efektivitas Antibakteri Nanokomposit AgNP Cymbopogon citratus dengan Penstabil Kitosan terhadap Streptococcus viridans Halim, Johni; Siahaya, Aleceandra A. S.; Komariah, Komariah; Ranggaini, Dewi; Anggraeni, Rezky
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.64572

Abstract

Abstract: Nanocomposite is a synthesis of silver nanoparticles (AgNP) with lemongrass leaves (Cymbopogon citratus) stabilized with chitosan. The combination of nanocomposites has synergy in inhibiting bacteria, one of which is Streptococcus viridans that causes abscesses in the oral cavity. This study aimed to determine the effectiveness of nanocomposite chitosan AgCh with C. citratus in inhibiting the growth of S. viridans. This was an in vitro experimental laboratory study with a post-test group control design using disc diffusion for antibacterial test. Samples were divided into eight groups, with several concentrations 6.25 mg/mL, 12.5 mg/mL, 15 mg/mL, 25 mg/mL, and 50 mg/mL, positive control (clindamycin), and negative control (aquadest and acetic acid). Normality test showed a p-value of >0.05, which meant data were normally distributed. One-way ANOVA test showed a p-value <0.05, indicating there was a difference in each treatment. Therefore, further testing was carried out using the Tukey's post hoc. In conclusion, chitosan nanocomposite, AgCh, with C. citratus can inhibit the growth of S. viridans with the formation of the best inhibition zone at a concentration of 50 mg/mL, followed by concentrations (25, 12.5, 15, and 6.25) mg/mL. Keywords: nanocomposite; silver nanoparticles; Cymbopogon citratus; chitosan; Streptococcus viridans; abscess    Abstrak: Nanokomposit ialah sintesis nanopartikel perak (AgNP) dengan daun serai dapur (Cymbopogon citratus) yang distabilkan dengan kitosan. Gabungan nanokomposit memiliki sinergitas dalam menghambat pertumbuhan bakteri, salah satunya Streptococcus viridans yang menyebabkan abses dalam rongga mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas nanokomposit kitosan AgCh dengan C. citratus dalam menghambat pertumbuhan S. viridans. Jenis penelitian ialah eksperimental laboratorik in vitro dengan post test group control design. Pengujian antibakteri menggunakan metode difusi cakram. Sampel dibagi dalam delapan kelompok, masing-masing pada konsentrasi 6,25 mg/mL, 12,5 mg/mL, 15 mg/mL, 25 mg/mL, 50 mg/mL, kontrol positif (clindamycin), dan kontrol negatif (akuades dan asam asetat). Hasil uji normalitas menunjukkan p>0,05 yang berarti data terdistribusi normal. Uji oneway ANOVA menunjukkan nilai p<0,05 yang berarti terdapat perbedaan pada setiap perlakuan, sehingga dilakukan uji lanjut dengan menggunakan post hoc tukey. Simpulan penelitian ini ialah nanokomposit kitosan, AgCh, dengan C. citratus dapat menghambat pertumbuhan S. viridans dengan pembentukan zona hambat terbaik pada konsentrasi 50 mg/mL, diikuti oleh konsentrasi (25, 12,5, 15, dan 6,25) mg/mL. Kata kunci: nanokomposit; nanopartikel perak; Cymbopogon citratus; kitosan; Streptococcus viridans; abses
Manajemen Klinis Fenestrasi Apikal pada Gigi Sulung: Laporan Kasus Ramadhan, Moh S. S.; Jeffrey, Jeffrey
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.64784

Abstract

Abstract: Apical fenestration is a defect in the apical region of a tooth root that penetrates the oral mucosa. Unlike dehiscence, which involves the marginal bone, fenestration is limited to the apical portion of the root and may arise from physiological or pathological processes. Although the exact cause remains unclear, several predisposing factors, including prominent root morphology, malocclusion, buccal or labial tooth position, and thin cortical bone, have been associated with its occurrence. This case report describes the management of apical fenestration in a 5-year-old male patient who presented to the Dental and Oral Hospital, Jenderal Achmad Yani University, with a complaint of the upper left primary incisor root protruding through the labial gingiva. Clinical examination revealed that the apical tip of tooth 61 had penetrated the alveolar bone and was visible intraorally as a rounded projection with surrounding erythema. The treatment consisted of extraction of the remaining root of tooth 61. Follow-up evaluation one month after surgery demonstrated satisfactory soft-tissue healing without signs of secondary infection. The management of apical fenestration in primary teeth requires accurate diagnosis and appropriate treatment to prevent complications. In this case, the clinical intervention resulted in favourable healing and periodontal improvement, demonstrating that a well-planned approach can lead to a good prognosis. Keywords: apical fenestration; extraction; soft tissue healing; primary teeth    Abstrak: Fenestrasi apikal adalah suatu defek pada daerah apikal akar gigi yang menembus mukosa mulut. Berbeda dengan dehiscence yang melibatkan tulang marginal, fenestrasi hanya terbatas pada bagian apikal akar dan dapat terjadi akibat proses fisiologis maupun patologis. Meskipun penyebab pastinya belum diketahui, beberapa faktor predisposisi seperti morfologi akar yang menonjol, maloklusi, posisi gigi yang lebih bukal atau labial, serta ketebalan tulang kortikal yang tipis diduga berperan dalam terjadinya kondisi ini. Laporan kasus ini menjelaskan penatalaksanaan fenestrasi apikal pada seorang anak laki-laki berusia 5 tahun yang datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Jenderal Achmad Yani dengan keluhan adanya bagian akar gigi insisivus sentralis kiri atas yang menonjol pada daerah gingiva labial. Pemeriksaan klinis menunjukkan bahwa ujung apikal gigi 61 telah menembus tulang alveolar dan tampak secara intraoral berbentuk bulat dengan jaringan sekitarnya yang eritematosa. Perawatan yang dilakukan berupa ekstraksi sisa akar gigi 61. Evaluasi hasil perawatan setelah satu bulan menunjukkan penyembuhan jaringan lunak yang baik tanpa tanda-tanda infeksi sekunder. Penanganan fenestrasi apikal pada gigi sulung memerlukan diagnosis tepat dan terapi yang sesuai untuk mencegah komplikasi. Pada kasus ini, intervensi klinis menunjukkan hasil baik dengan penyembuhan jaringan dan perbaikan kondisi periodontal, sehingga menegaskan bahwa tata laksana yang terencana dapat memberikan prognosis yang baik. Kata kunci: fenestrasi apikal; ekstraksi; penyembuhan jaringan lunak; gigi sulung
Status Psikososial Remaja Usia 15-17 Tahun yang Mengalami Maloklusi Anterior Berdasarkan Indeks PIDAQ Tilaar, Keren D.; Anindita, Pritartha S.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.64949

Abstract

Abstract: Anterior malocclusion can affect facial aesthetics and has an impact on psychosocial condition, particularly among adolescents. Coastal areas like Tuminting District, which is close to the center of Manado City, have social characteristics that make appearance an important aspect of adolescent interactions, while socio-economic conditions often limit access to orthodontic care, which further influences the psychosocial impact of malocclusion. This study aimed to obtain the psychosocial status of adolescents aged 15-17 tahun with anterior malocclusion based on PIDAC at SMAN3 Tuminting. This was a descriptive and observational study with a cross-sectional approach. Respondents consisted of 60 students aged 15–17 years selected through purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria. Visual monitoring was conducted to detect anterior malocclusion, and the PIDAQ questionnaire was administered to assess psychosocial impact. The majority of study subjects (61.6%) fell into the moderate PIDAQ score category, 21.7% into the high category, and 16.7% into the low category. Female subjects tended to have higher PIDAQ scores than males, reflecting greater sensitivity to dental aesthetics. In conclusion, most adolescents with anterior malocclusion at SMAN 3 Tuminting fall into the moderate PIDAQ score category indicating that anterior malocclusion has a psychosocial impact. Keywords: anterior malocclusion; adolescents; psychosocial status; PIDAQ   Abstrak: Maloklusi anterior dapat memengaruhi estetika wajah dan berdampak pada kondisi psikososial, terutama pada remaja. Daerah pesisir seperti Kecamatan Tuminting yang tidak jauh dari pusat Kota Manado memiliki karakteristik sosial yang menjadikan penampilan sebagai aspek penting dalam interaksi remaja, sementara kondisi sosio-ekonomi sering membatasi akses terhadap perawatan ortodontik, yang turut memengaruhi dampak psikososial akibat maloklusi. Penelitian ini bertujuan mengetahui status psikososial remaja usia 15–17 tahun dengan maloklusi anterior berdasarkan indeks PIDAQ di SMAN 3 Tuminting. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Responden penelitian berjumlah 60 siswa berusia 15–17 tahun yang telah dipilih melalui purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Pemantauan visual dilakukan untuk mendeteksi maloklusi anterior dan pengisian kuesioner PIDAQ untuk menilai dampak psikososial. Mayoritas responden sebanyak 61,6% tergolong skor PIDAQ kategori sedang, 21,7% kategori tinggi, dan 16,7% kategori rendah. Responden perempuan cenderung memiliki skor PIDAQ lebih tinggi daripada laki-laki, yang mencerminkan sensitivitas lebih besar terhadap estetika gigi. Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar remaja dengan maloklusi anterior di SMAN 3 Tuminting tergolong dalam kategori skor PIDAQ sedang, yang menunjukkan bahwa maloklusi anterior memberikan dampak psikososial. Kata kunci: maloklusi anterior; remaja; status psikososial; PIDAQ
Kejadian Gingivitis pada Siswa Tunagrahita di SLB Wilayah Pesisir Kota Manado Pardanus, Darlene G.; Tendean, Lydia E. N.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.64950

Abstract

Abstract: Gingivitis is one of the periodontal disease characterized by redness, swelling of the gingival tissue, and bleeding due to the accumulation of dental plaque and calculus in the supragingival and subgingival areas. This disease is common among children, including those with special needs such as individuals with intellectual disabilities. Children with intellectual disabilities face challenges in maintaining oral hygiene due to intellectual and behavior limitations, which increase the risk of periodontal diseases like gingivitis. Moreover, socioeconomic challenges and limited access to dental health services in coastal areas further exacerbate this condition. This study aimed to determine the incidence of gingivitis in students with intellectual disabilities in special schools at the coastal area of Manado City. This was an observational study with a cross-sectional design conducted on students with intellectual disabilities at GMIM Nazareth Tuminting Special School and YPAC Special School in Manado using the total sampling method. The results obtained 46 students as respondents; females (58.7%) were more frequent than males (41.3%). The highest percentages were students from SMPLB and SMALB (each of 34.8%). The majority of respondents suffered from gingivitis (89.1%), especially on both upper and lower jaws (41.3%). In conclusion, the prevalence of gingivitis among intellectually disabled students in Special Schools in the coastal area of Manado City is categorized as high (89.1%). Keywords: gingivitis; students with intellectual disabilities    Abstrak: Gingivitis merupakan salah satu penyakit periodontal yang ditandai dengan kemerahan, pembengkakan jaringan gingiva, dan pendarahan akibat penumpukan plak gigi dan kalkulus di supragingiva dan subgingiva. Gingivitis menjadi salah satu penyakit periodontal yang umum terjadi pada anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus seperti tunagrahita. Anak-anak tunagrahita menghadapi tantangan dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut akibat keterbatasan intelektual dan perilaku adaptif, yang meningkatkan risiko terhadap penyakit periodontal seperti gingivitis. Tantangan sosial ekonomi dan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan gigi di wilayah pesisir memperburuk kondisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian gingivitis pada siswa tunagrahita di Sekolah Luar Biasa wilayah pesisir Kota Manado. Jenis penelitian ialah observasional dengan desain potong lintang yang dilakukan pada siswa tunagrahita di SLB GMIM Nazareth Tuminting dan SLB YPAC Kota Manado dengan metode total sampling. Hasil penelitian mendapatkan 46 siswa sebagai responden penelitian. Responden perempuan (58,7%) lebih banyak daripada laki-laki (41,3%), terbanyak berada di tingkat SMPLB dan SMALB (masing-masing 34,8%). Mayoritas responden mengalami gingivitis (89,1%), terutama pada rahang atas dan bawah (41,3%). Simpulan penelitian ini ialah angka kejadian gingivitis pada siswa tunagrahita di sekolah luar biasa wilayah pesisir Kota Manado tergolong tinggi (sebesar 89,1%). Kata kunci: gingivitis; siswa tunagrahita
Uji Daya Hambat Ekstrak Daun Bitung (Barringtonia asiatica) terhadap Pertumbuhan Bakteri Porphyromonas gingivalis Inoi, Archi G. P.; Juliatri, Juliatri; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.64954

Abstract

Abstract: Porphyromonas gingivalis is a Gram-negative anaerobic bacterium and one of the main etiological agents of periodontal disease, which is a common oral health problem in the community. Management of periodontal disease generally involves scaling and root planing, accompanied by antibiotics such as metronidazole. However, long-term use of antibiotics may lead to adverse effects, including bacterial resistance and hypersensitivity reactions. Therefore, safer alternative antibacterial agents are needed. One natural ingredient with antibacterial potential is the bitung plant (Barringtonia asiatica), which is known to contain active compounds such as flavonoids, saponins, steroids, alkaloids, phenols, and tannins. This study aimed to evaluate the inhibitory effect of Barringtonia asiatica leaf extract on the growth of P. gingivalis. The test used the disc diffusion method. Extract samples were prepared at concentrations of 25%, 50%, 75%, and 100%, with positive control (metronidazole) and negative control (aquades). The test was conducted at the Pharmaceutical Microbiology Laboratory, FMIPA, Universitas Sam Ratulangi. The results showed that Barringtonia asiatica leaf extract exhibited antibacterial activity against P. gingivalis at all tested concentrations. The largest mean inhibition zone was observed at the 25% concentration and categorized as very strong. In conclusion, Barringtonia asiatica leaf extract has inhibitory effects on the growth of Porphyromonas gingivalis bacteria. Keywords: Porphyromonas gingivalis bacteria; bitung leaf (Barringtonia asiatica)    Abstrak: Porphyromonas gingivalis merupakan bakteri Gram negatif anaerob yang menjadi salah satu penyebab utama penyakit periodontal yang banyak ditemukan di masyarakat. Penanganan umum penyakit ini dilakukan melalui scaling, root planning, dan pemberian antibiotik seperti metronidazole, namun, penggunaan antibiotik jangka panjang dapat menimbulkan efek samping seperti resistensi dan reaksi hipersensitivitas, sehingga diperlukan alternatif antibakteri yang lebih aman. Salah satu tanaman yang memiliki potensi antibakteri ialah daun bitung (Barringtonia asiatica) yang mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, steroid, alkaloid, fenol dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk menguji daya hambat ekstrak daun bitung terhadap pertumbuhan bakteri P. gingivalis. Penelitian dilakukan secara eksperimental laboratorium dengan rancangan post-test only control group design menggunakan metode difusi cakram. Sampel dibagi menjadi enam kelompok: ekstrak daun bitung konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%, kontrol positif (metronidazole), serta kontrol negatif (akuades). Pengujian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Farmasi FMIPA Universitas Sam Ratulangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun bitung mampu menghambat pertumbuhan P. gingivalis pada seluruh konsentrasi uji, dengan zona hambat terbesar ditemukan pada konsentrasi 25% dan masuk dalam kategori sangat kuat. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak daun bitung (Barringtonia asiatica) memiliki potensi sebagai agen antibakteri terhadap Porphyromonas gingivalis. Kata kunci: bakteri Porphyromonas gingivalis; daun bitung (Barringtonia asiatica)
Uji Daya Hambat Ekstrak Landak Laut (Diadema setosum) terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus pada Plat Gigi Tiruan Putra, Made Wisnu D.; Mariati, Ni Wayan; Khoman, Johanna A.
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.64955

Abstract

Abstract: Denture stomatitis is caused by food debris sticking to the surface of the denture plate becoming a habitat for the growth of Staphylococcus aureus bacteria. The increase in the number of Staphylococcus aureus in the oral cavity can be overcome by maintaining the cleanliness of the denture plate. Denture cleaning can use natural materials such as sea urchin extract which is known of its antibacterial potential due to its active compounds such as flavonoids, saponins, steroids, alkaloids, phenols, and tannins. This study aimed to test the inhibition of Diadema setosum sea urchin extract against the growth of Staphylococcus aureus bacteria on artificial tooth plates. This was a laboratory experimental study with a post-test control group design using the disc diffusion method. Samples were divided into six groups: sea urchin Diadema setosum extract 10%, 30%, 50%, and 70%, positive control (manufactured denture cleaner), and negative control (distilled water). The test was conducted at the Microbiology Laboratory of Pharmacy FMIPA Sam Ratulangi University. The results showed that Diadema setosum sea urchin extract was able to inhibit the growth of Staphylococcus aureus bacteria at all test concentrations, with the largest inhibition zone found at 70% concentration (medium category). In conclusion, Diadema setosum sea urchin extract can inhibit the growth of Staphylococcus aureus bacteria on denture plates Keywords: Diadema setosum; sea urchin; Staphylococcus aureus   Abstrak: Denture stomatitis disebabkan oleh sisa makanan menempel pada permukaan plat gigi tiruan dan menjadi habitat untuk berkembang biaknya bakteri Staphylococcus aureus. Peningkatan jumlah Staphylococcus aureus dalam rongga mulut dapat diatasi dengan menjaga kebersihan plat gigi tiruan. Pembersih gigi tiruan dapat menggunakan bahan dari alam seperti ekstrak landak laut Diadema setosum yang memiliki potensi antibakteri karena kandungan senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, steroid, alkaloid, fenol, dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk menguji daya hambat ekstrak landak laut Diadema setosum terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada plat gigi tiruan. Penelitian dilakukan secara eksperimental laboratorium dengan post-test control group design menggunakan metode difusi cakram. Sampel dibagi menjadi enam kelompok: ekstrak landak laut Diadema setosum 10%, 30%, 50%, dan 70%, kontrol positif (pembersih gigi tiruan pabrikan), serta kontrol negatif (akuades). Pengujian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Farmasi FMIPA Universitas Sam Ratulangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak landak laut Diadema setosum mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada seluruh konsentrasi uji, dengan zona hambat terbesar ditemukan pada konsentrasi 70% (kategori sedang). Simpulan penelitian ini ialah ekstrak landak laut Diadema setosum mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada plat gigi tiruan. Kata kunci: landak laut; Diadema setosum; Staphylococcus aureus
Hubungan antara Status Gizi dengan Maloklusi pada Remaja Usia 14-16 Tahun di SMAN 3 Tuminting Pangandaheng, Enjelina F.; Anindita, Pritartha S.; Kawengain, Shirley E. S.
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.65757

Abstract

Abstract: Malocclusion, or crowded teeth, is frequently encountered across various age groups and can impact individual’s physical and mental health, including chewing function and facial aesthetics. In adolescents, nutritional status plays a role in the development of jaw structure and tooth positioning; however, scientific evidence regarding the relationship between the two still shows varied results. This study aimed to analyze the relationship between nutritional status and the occurrence of malocclusion in adolescents. This was an analytical and observational study with a cross-sectional design. Respondents were 70 adolescents aged 14-16 years at SMA Negeri 3 Tuminting (Senior high school). The results showed that the most frequent age group was 15 years (41.4%), and female students were predominant (58.6%). Most respondents had malocclusion (91.4%). Most repondents had normal nutritional status (68.5%), followed by overweight (14.3%), and underweight and obesity (each of 8.6%). The Fisher’s exact test showed that there was no significant relationship between nutritional status and malocclusion (p=0.657), and the majority of respondents with malocclusion had normal nutritional status. In conclusion, there is no significant relationship between nutritional status based on BMI-for-age and the occurrence of malocclusion among adolescents. Keywords: nutritional status; malocclusion; BMI-for-age; adolescents   Abstrak: Maloklusi atau gigi berjejal merupakan masalah yang sering ditemui di berbagai kelompok usia, dan dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental seseorang, termasuk fungsi pengunyahan dan estetika wajah. Pada remaja, status gizi berperan dalam perkembangan struktur rahang dan posisi gigi, tetapi bukti ilmiah mengenai hubungan keduanya masih menunjukkan hasil beragam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi berdasarkan IMT/U dengan kejadian maloklusi pada remaja usia 14–16 tahun. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Responden penelitian ialah 70 remaja usia 14–16 tahun di SMA Negeri 3 Tuminting. Hasil penelitian mendapatkan kelompok usia terbanyak ialah 15 tahun (41,4%) dan jenis kelamin perempuan (58,6%). Sebagian besar responden mengalami maloklusi (91,4%). Responden terbanyak dengan status gizi normal (68,5%), diikuti status gizi gemuk (14,3%), dan status gizi kurus dan obesitas (masing-masing 8,6%). Hasil analisis Fisher’s exact test menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara status gizi dan maloklusi (p=0,657), dan mayoritas remaja yang mengalami maloklusi memiliki status gizi normal. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan bermakna antara status gizi berdasarkan IMT/U dengan kejadian maloklusi pada remaja. Kata kunci: status gizi; maloklusi; IMT/U; remaja
Gambaran Status Gizi dan Kejadian Karies pada Anak Usia 24-59 Bulan di Puskesmas Tinumbala Pesisir Kota Bitung Mongi, Pebrian B.; Mintjelungan, Christy N.; Parengkuan, Wulan G.
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.65758

Abstract

Abstract: Age of 24–59 months is a critical early stage in an individual's growth and development. Dental caries in children can cause pain, difficulty in eating, sleep disturbance, and ultimately affect their nutritional status due to disrupted food intake. Children with abnormal nutritional status are at higher risk of health problems, including infectious diseases, growth disorders, and oral health issues such as dental caries. This study aimed to obtain the description of nutritional status and dental caries incidence among children aged 24-59 months. This was a descriptive and observational study with a cross-sectional approach, using purposive sampling on children attending the posyandu (integrated health post) organized by Puskesmas Tinumbala. A total of 87 children were selected based on inclusion and exclusion criteria. The results showed that 34.48% (n=30) of the children were categorized as stunted based on height-for-age (H/A) assessment, and 58.62% (n=51) had dental caries. Of the 30 children with stunted nutritional status, 50% experienced dental caries, and of the 51 children who had dental caries, 29.4% were also classified as stunted. Several factors influenced these conditions, including exclusive breastfeeding, birth weight, parental education and economic level, toothbrushing behavior, and the number of children in the family. In conclusion, half of the children aged 24-59 months experience dental caries, and  a part of the children  that experience dental caries are categorized as stunted. Keywords: nutritional status, caries incidence, children    Abstrak: Masa anak usia 24-59 bulan merupakan tahap awal yang krusial dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Karies gigi pada anak dapat menyebabkan rasa nyeri, kesulitan makan, gangguan tidur, dan pada akhirnya memengaruhi status gizi anak karena asupan makanan terganggu. Anak dengan status gizi tidak normal memiliki risiko lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan, termasuk penyakit infeksi, gangguan pertumbuhan, dan masalah kesehatan gigi dan mulut seperti karies. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran status gizi dan kejadian karies pada anak. Jenis penelitian ialah observasional deskriptif dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling pada anak 24-59 bulan yang menghadiri posyandu yang dilaksanakan oleh Puskesmas Tinumbala. Sampel penelitian berjumlah 87 anak, diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 34,48% (n=30) anak tergolong dalam kategori stunting berdasarkan penilaian status tinggi badan menurut umur (TB/U) dan sebanyak 58,62% (n=51) anak mengalami karies. Dari 30 anak dengan status gizi stunting, sebanyak 50% mengalami karies gigi, dan dari 51 anak yang mengalami karies gigi, sebanyak 29,4% juga tergolong dalam status gizi stunting. Beberapa faktor yang memengaruhi kondisi tersebut antara lain pemberian ASI-Eksklusif, berat badan lahir, tingkat pendidikan dan ekonomi orang tua, perilaku menyikat gigi, serta jumlah anak dalam keluarga. Simpulan penelitian ini ialah setengah dari anak usia 24-59 bulan dengan status gizi stunting mengalami karies gigi, dan sebagian anak yang mengalami karies gigi tergolong dalam status gizi stunting. Kata kunci: status gizi; kejadian karies; anak usia 24-59 bulan  

Page 1 of 2 | Total Record : 11