cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
Uji Aktivitas Anti-Inflamasi Ekstrak Sabut Kelapa (Cocos nucifera L.) dengan Metode Stabilisasi Membran Sel Darah Merah Pangemanan, Damajanty H. C. Pangemanan; Mariati, Ni Wayan; Rantetondok, Angelin L.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.55338

Abstract

Abstract: Dental and oral care often causes injuries that can trigger an inflammatory reaction associated with feeling of discomfort. Drugs that can be given for the treatment of inflammation, namely corticosteroids of the glucocorticoid group and non-steroidal anti-inflammatories (NSAIDs). However, these drugs have side effects, therefore, alternatives with minimal toxicity that can be found in plants are preferrable. Coconut coir has the potential to be an anti-inflammatory drug because it contains flavonoids, tannins and saponins. This study aimed to determine the anti-inflammatory activity of coconut coir extract at concentrations of 50, 100, 150, 500, and 1000 ppm. This was a pure experimental study with a post-test-only control design using blood of rats weighing above 250 grams taken through the retro-orbital sinus. The samples were divided into seven groups, namely 50, 100, 150, 500, 1000 ppm, positive control, and negative control. The results showed that coconut coir extract contained alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and terpenoids. The percentages of inhibition of hemolysis were obtained at 50, 100, 150, 500, and 1000 ppm, namely 14.73%, 24.60%, 38.86%, 43.11%, and 50.39%. In conclusion, coconut coir extract (Cocos nucifera L.) has anti-inflammatory activity. Extract concentration of 1000 ppm has the highest anti-inflammatory activity. Keywords: inflammation; coconut coir extract; stabilization of red blood cell membranes    Abstrak: Perawatan gigi dan mulut tidak jarang menimbulkan perlukaan yang dapat memicu reaksi inflamasi disertai rasa tidak nyaman. Golongan obat yang dapat diberikan untuk pengobatan inflamasi, yaitu kortikosteroid golongan glukokortikoid dan anti-inflamasi non-steroid (AINS). Namun, obat-obat tersebut memiliki efek samping sehingga dibutuhkan alternatif dengan toksisitas minimal yang dapat ditemukan pada tanaman. Sabut kelapa berpotensi menjadi obat anti-inflamasi karena mengandung flavonoid, tanin, dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas anti-inflamasi ekstrak sabut kelapa konsentrasi 50, 100, 150, 500, dan 1000 ppm. Penelitian ini merupakan eksperimental murni dengan post-test only control design menggunakan darah tikus yang diambil melalui sinus retro-orbitalis. Kriteria tikus ialah berat di atas 250 gram, yang dibagi menjadi tujuh kelompok, yaitu 50, 100, 150, 500, 1000 ppm, kontrol positif, dan kontrol negatif. Hasil penelitian mendapatkan bahwa ekstrak sabut kelapa mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan terpenoid. Hasil persentase inhibisi hemolisis didapatkan pada 50, 100, 150, 500, dan 1000 ppm, yaitu 14,73%, 24,60%, 38,86%, 43,11%, 50,39%. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak sabut kelapa (Cocos nucifera L.) memiliki aktivitas anti-inflamasi. Konsentrasi ekstrak 1000 ppm memiliki aktivitas anti inflamasi tertinggi. Kata kunci: inflamasi; ekstrak sabut kelapa; stabilisasi membran sel darah merah
Hubungan Estetika Senyum dengan Persepsi Diri pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Puspitasari, Yustisia; Novawaty, Eva; Aslan, Sarahfin; Arifin, Nur F.; Septiriani, Andi Azisa D.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.55669

Abstract

Abstract: As the field of orthodontics develops progressively, many patients undergo orthodontic treatment to improve their dentofacial characteristics, which support the facial appearance and aesthetics of their smile. An individual who has unesthetic smile and tooth arrangement is considered to lack self-confidence and have a negative effect, especially on his/her social relationship, education, and career. This study aimed to determine the relationship between smile aesthetics and self-perception. This was a descriptive and analytical study with a purposive sampling design. Samples were students of Faculty of Dentistry Universitas Muslim Indonesia. The relationships between intercommisural distance at midline (mm) and self-perception, and between intercommisural distance (mm) and self-perception were tested using the Pearson correlation test. The results showed that based on the Pearson test, the relationship between intervermillion distance in the midline (mm) and self-perception had a p-value of 0.708, meanwhile the relationship between intercommission distance (mm) and self-perception had a p-value of 0.815. In conclusion, there is no significant relationship between smile aesthetics and self-perception among students of the Faculty of Dentistry, Universitas Muslim Indonesia. Keywords: smile aesthetics; self-perception    Abstrak: Seiring dengan perkembangan dan kemajuan dalam bidang ortodonti, banyak pasien yang melakukan perawatan ortodonti untuk meningkatkan karakteristik dentofasial yang mendukung penampilan wajah dan estetika senyum. Seseorang yang memiliki senyum dan susunan gigi kurang estetik dianggap kurang percaya diri dan dinilai memiliki efek negatif terutama terhadap hubungan sosial, pendidikan, dan karir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan estetika senyum dengan persepsi diri. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain purposive sampling. Sampel penelitian ialah mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia. Hubungan antara variabel intervermillion distance at midline (mm) dengan persepsi diri, serta antara variabel intercommissural distance (mm) dengan persepsi diri diuji menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil uji Pearson mendapatkan nilai p=0,708 untuk hubungan antara intervermillion distance at midline (mm) dengan persepsi diri serta nilai p=0,815 untuk hubungan antara intercommissural distance dengan persepsi diri. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan bermakna antara estetika senyum dengan persepsi diri mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia Kata kunci: estetika senyum; persepsi diri
Hubungan Perilaku Menyikat Gigi dan Kejadian Karies Gigi pada Anak Usia Sekolah di Desa Wori Wowor, Vonny N. S.; Bernadus, Janno B. B.; Lumbangaol, Grace M. P.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.55681

Abstract

Abstract: Dental caries is still a significant health problem among school-age children 6 – 12 years in Southeast Asian countries. Tooth brushing behavior plays an important role in oral and dental health status. This study aimed to evaluate the relationship between tooth brushing behavior and the incidence of dental caries among school-age children at Desa Wori. This was an analytical and observational study with a cross-sectional design. Samples of 153 students were selected using the stratified proportionate random sampling technique. We used questionnaire to evaluate the tooth brushing behavior which had been tested for validity and reliability, meanwhile the examination of dental caries was performed using the International Caries Detection and Assessment System (ICDAS). The results showed that 24 students brushed their teeth correctly and did not have dental caries, while 52 students brushed their teeth correctly but had dental caries. Moreover, 10 students had poor brushing behavior but had no dental caries, meanwhile 67 students had poor behavior and had dental caries. The chi-square test obtained a p-value of 0.006 (p≤0.05). In conclusion there is a significant relationship between tooth brushing behavior and the incidence of dental caries among school-age children at Desa Wori. Keywords: tooth brushing behavior; dental caries; school-age children   Abstrak: Karies gigi masih merupakan masalah kesehatan yang signifikan pada anak usia sekolah 6–12 tahun di negara-negara Asia Tenggara. Perilaku menyikat gigi memegang peranan penting dalam status kesehatan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku menyikat gigi dengan kejadian karies gigi pada anak usia sekolah di Desa Wori. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain potong lintang. Partisipan sebanyak 153 siswa dipilih dengan menggunakan teknik stratified proportionate random sampling. Instrumen yang digunakan untuk perilaku menyikat gigi ialah kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas serta pemeriksaan karies gigi menggunakan International Caries Detection and Assessment System (ICDAS). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 24 siswa memiliki perilaku menyikat gigi yang baik dan tidak ada karies gigi, sedangkan 52 siswa memiliki perilaku menyikat gigi dengan baik tetapi ada karies gigi. Kemudian ditemukan 10 siswa memiliki perilaku menyikat gigi yang kurang baik dan tidak ada karies gigi, sedangkan 67 siswa memiliki perilaku kurang baik dan ada karies gigi. Uji chi-square mendapatkan nilai p=0,006 (p≤ 0,05). Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara perilaku menyikat gigi dengan kejadian karies gigi pada anak usia sekolah di Desa Wori. Kata kunci: perilaku menyikat gigi; kejadian karies gigi; anak usia sekolah
Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang Tua dengan Status Karies Gigi Siswa Usia 10–12 Tahun di SDN Talawaan Bajo Kabupaten Minahasa Utara Mariati, Ni Wayan; Mintjelungan, Christy N.; Vania, Marella T.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.55683

Abstract

Abstract: Dental caries is most commonly caused by demineralization, namely loss of the structure of the hard tooth tissue which consists of email, dentine, and cementum. Dental caries has several causative factors, one of which is knowledge which is an external factor in the occurrence of dental caries. This study aimed to determine the relation between the level of parental knowledge and the dental caries status of students aged 10–12 years at SDN Talawaan Bajo, North Minahasa Regency. This was an analytical and descriptive study using a cross-sectional design. Samples consisted of students aged 10–12 years and parents of the students, totaling 42 people each, who were taken by total sampling technique that met the inclusion criteria. The results showed the parental levels of knowledge about caries, categorized as follows: good (95.24%), moderate (4.76%), and poor (0,0%). Dental caries status of students aged 10–12 years with very low (35.71%), low (21.43%), moderate (26.19%), high (9.52%), and very high (7.14%). The Spearman Rank test showed a p-value of 0.38 (>0.05). In conclusion, there is no significant relation between the level of parental knowledge and the dental caries status of students aged 10–12 years at SDN Talawaan Bajo, North Minahasa Regency. Keywords: caries status; parental knowledge; students   Abstrak: Karies gigi paling sering terjadi akibat demineralisasi yaitu hilangnya struktur dari jaringan keras gigi yang terdiri dari email, dentin, dan sementum. Karies gigi memiliki beberapa faktor penyebab, salah satunya ialah pengetahuan yang merupakan faktor eksternal timbulnya karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan orang tua dengan status karies gigi siswa usia 10–12 tahun di SDN Talawaan Bajo Kabupaten Minahasa Utara. Jenis penelitian ini ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Sampel penelitian terdiri dari siswa berusia 10–12 tahun dan orang tua siswa yang berjumlah masing-masing 42 orang, diambil dengan teknik total sampling yang telah memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat pengetahuan orang tua tentang karies dengan kategori baik (95,24%), kategori sedang (4,76%), dan kategori kurang (0,0%). Status karies gigi siswa usia 10–12 tahun dengan kategori sangat rendah (35,71%), rendah (21,43%), sedang (26,19%), tinggi (9,52%), dan sangat tinggi (7,14%). Hasil uji Spearman Rank menunjukkan nilai p=0,38 (0,38>0,05). Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan orang tua dengan status karies gigi siswa usia 10–12 tahun di SDN Talawaan Bajo Kabupaten Minahasa Utara. Kata kunci: status karies; tingkat pengetahuan orang tua; siswa
Efek Anti Perdarahan Ekstrak Sabut Kelapa (Cocos Nucifera L) pada Luka Potong Ekor Mencit Tendean, Lydia E. N.; Khoman, Johanna A.; Ginotodihardjo, Devani
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.55684

Abstract

Abstract: Coconut coir has beneficial secondary metabolites, such as flavonoids, tannins, and saponins, which are known stop bleeding. This effect is much needed in dental practice. This study aimed to determine the anti-hemorhhagic effect of coconut coir extract on cut wound of mouse tail. This was an experimental study with a post test only control design. Subjects were 32 male mice, divided into four groups, as follows: positive control group (epinephrine), negative control group (not treated), and treatment groups with 50% and 100% coconut coir extract. The anti-hemorhhagic effect was observed using the Duke method. The tails of the mice were cut 0.5 cm length, and the bleeding time was measured from the first drop until the blood stopped dripping on the filter paper. Data were analyzed using the One Way ANOVA and the Least Significant Differences test (LSD). The results showed that the positive control group had the shortest bleeding time, followed by the 100% extract group, the 50% extract group, and the negative control group (105.213, 114.738, 143.563, 166.500 seconds). There was a significant difference between the negative control group and the group treated with 100% coconut coir extract (p=0.000). In conclusion, coconut coir extract (Coconut nucifera L) has an anti- hemorhhagic effect on cut wound of mouse tail. Keywords: coconut coir; anti-hemorhhagic effect   Abstrak: Sabut kelapa memiliki senyawa metabolit sekunder yang sangat bermanfaat, seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang diketahui dapat membantu menghentikan proses perdarahan yang sangat dibutuhkan dalam praktik kedokteran gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek anti perdarahan ekstrak sabut kelapa terhadap luka potong ekor mencit. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan post test only control design. Subjek penelitian ialah 32 ekor mencit jantan yang dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kelompok kontrol positif (epinefrin), kontrol negatif (tanpa perlakuan), serta kelompok perlakuan dengan ekstrak sabut kelapa konsentrasi 50%, dan 100%. Efek anti perdarahan dilihat dengan menggunakan metode Duke. Ekor mencit dipotong sepanjang 0,5 cm dan bleeding time diukur dari tetesan pertama hingga darah berhenti menetes pada kertas saring. Data dianalisis menggunakan One Way ANOVA dan Least Significant Differences test (LSD). Hasil peneliian mendapatkan bahwa kelompok kontrol positif memiliki bleeding time paling singkat, diikuti dengan kelompok ekstrak konsentrasi 100%, kelompok ekstrak konsentrasi 50%, dan kelompok kontrol negatif (105,213; 114,738; 143,563; 166,500 detik). Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok kontrol negatif dengan kelompok yang diberi perlakuan ekstrak sabut kelapa 100% (p=0,000). Simpulan penelitian ini ialah ekstrak sabut kelapa (Coconut nucifera L) memiliki efek anti perdarahan terhadap luka potong ekor mencit. Kata kunci: sabut kelapa; efek anti perdarahan
Gambaran Pola Sidik Bibir Masyarakat Desa Tateli Tiga Khoman, Johanna A.; Tendean, Lydia E. N.; Kaunang, Joshua B. A.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.55685

Abstract

Abstract: Lip print pattern offers potential as a fast and effective secondary identification method that can be used in emergency situations. DesaTateli Tiga is a disaster-prone village because it is located in a coastal area of ​​Mandolang District, Minahasa, North Sulawesi. This study aimed to obtain the profile of lip print pattern in people at Desa Tateli Tiga. This was a observational and descriptive studi with a cross sectional design. Samples were people living at Desa Tateli Tiga aged 21-40 years, obtained by using the purposive stratified sampling method as many as 267 people. The results showed that there were 87 males and 180 females as samples. In early adult group, the most frequent type of lip pattern was type 1 (43.65%) and type IV (20.63%). The most common lip profile in males was type IV (43.24%), and in females was type I (56.18%). In late adult group, the most frequent type of lip pattern was type I and type III, each of 27.03%. The most common type of lip pattern in males was type III (44.83%), and in females was type I (37.78%). In conclusion, the lip print pattern of Tateli Tiga people in Minahasa is dominated by perfectly vertical type I and reticular type IV. Type IV is predominant in males meanwhile type I in females. Keywords: lip print pattern; Suzuki and Tsuchihashi method; identification; sex; age   Abstrak: Penggunaan pola sidik bibir sebagai metode identifikasi sekunder yang cepat dan efektif dapat membantu mempercepat proses identifikasi korban dalam situasi darurat. Desa Tateli Tiga, merupakan salah satu desa yang rawan bencana karena terletak di wilayah pesisir pantai Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tipe pola sidik bibir masyarakat Desa Tateli Tiga. Jenis penelitian ialah observasional deskriptif dengan desain potong lintang. Sampel penelitian yaitu masyarakat Desa Tateli Tiga yang berusia usia 21–40 tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive stratified sampling sebanyak 267 orang, ditentukan dengan rumus Slovin. Hasil penelitian mendapatkan sampel laki-laki sebanyak 87 dan perempuan sebanyak 180. Pada populasi dewasa awal, tipe yang paling sering ditemukan ialah tipe I (43,65%) dan tipe IV (20,63%). Tipe pola sidik bibir yang sering ditemukan pada jenis kelamin laki-laki ialah tipe IV (43,24%), dan pada perempuan tipe I (56,18%). Pada populasi dewasa akhir, tipe yang paling sering ditemukan ialah tipe I (27,03%) dan tipe III sama banyak. Tipe pola sidik bibir yang sering ditemukan pada jenis kelamin laki-laki ialah tipe III (44,83%), dan pada perempuan tipe I (37,78%). Simpulan penelitian ini ialah pola sidik bibir masyarakat Desa Tateli Tiga di Kabupaten Minahasa didominasi oleh tipe I vertikal sempurna dan tipe IV retikuler. Tipe IV terbanyak didapatkan pada laki-laki sedangkan tipe I pada perempuan. Kata kunci: pola sidik bibir; metode Suzuki dan Tsuchihashi; identifikasi korban
Efektivitas Ekstrak Daging dan Biji Buah Kurma Ajwa (Phoenix dactylifera L.) terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme dalam Rongga Mulut Amiruddin, Maqhfirah; Rusyd, Ibnu
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.55963

Abstract

Abstract: Ajwa dates (Phoenix dactylifera L.) are widely developed as medicine in Indonesia. Moreover, they are known as healthy food for a long time due to their beneficial ingredients. Some studies stated that Ajwa dates had strong antimicrobial effects. The use of Ajwa dates begins to be developed in the field of dentistry because they contain flavonoid compounds that provide antibacterial effects. This study aimed to evaluate the effectiveness of flesh and seed extract of kurma Ajwa. This was a systematic review study using databases of Google Scholar and Pubmed. The results obtained 14 articles out of 257 that fulfilled the inclusion criteria. Kurma fruit contained phytochemical substances such as flavonoid that had antibacterial, antifungal, anti-inflammatory, and anti-oxidant effects.  Flavonoid had antifungal and antibacterial effects on Candida albicans and Streptococcus mutans. Extract of kurma Ajwa seeds 3.25% and kurma fruit flesh 12.5% could strongly inhibit the growth of Streptococcus mutans. Moreover, the seed and flesh extract of kurma Ajwa 3.25% could inhibit the growth of Candida albicans. In conclusion, kurma Ajwa fruit (Phoenix dactylifera L.) has antibacterial, antifungal, anti-inflammation, and anti-oxidant effects that are very beneficial for oral health. Keywords: Ajwa dates (Phoenix dactylifera L.); microorganisms of the oral cavity   Abstrak: Kurma Ajwa (Phoenix dactylifera L.) merupakan tanaman yang banyak dikembangkan sebagai pengobatan di Indonesia dan telah dikenal sebagai makanan sehat sejak lama karena kaya dengan kandungan yang bermanfaat. Kurma Ajwa mulai dikembangkan dalam bidang kedokteran gigi karena kandungan senyawa flavanoid yang memberi efek antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daging dan biji buah kurma Ajwa (Phoenix Dactylifera L.) terhadap pertumbuhan mikroorganisme dalam rongga mulut dalam bentuk suatu systematic review. Penelusuran artikel menggunakan database Google scholar dan Pubmed. Hasil penelitian mendapatkan 14 artikel yang sesuai dengan kriteria dari 257 hasil pencarian artikel. Buah kurma memiliki kandungan zat-zat fitokimia seperti flavonoid yang mempunyai efek antibakteri, antifungal, anti inflamasi dan antioksidan. Kandungan senyawa flavonoid memiliki efek antifungal/antibakteri terhadap Candida albicans dan Streptococcus mutans. Ekstrak biji kurma Ajwa 3,25% dan daging kurma Ajwa 12,5% dapat menghambat secara kuat pertumbuhan Streptococcus mutans sedangkan ekstrak biji dan daging kurma Ajwa 3,25% dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans. Simpulan penelitian ini ialah buah kurma Ajwa (Phoenix dactylifera L.) memiliki efek antibakteri, antijamur, anti inlamasi, dan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan rongga mulut. Kata kunci: kurma Ajwa (Phoenix dactylifera L.); mikroorganisme rongga mulut
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Amaranthus hybridus L. dalam Pelarut Heksana, Etil Asetat, dan Air Halim, Johni; Ranggaini, Monica D.; Tedjokusumo, Sabrina N.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.56111

Abstract

Abstract: Noncommunicable diseases, such diabetes mellitus, atherosclerosis and cancer, caused by inter alia imbalance between free radicals and antioxidants within the body, known as oxidative stress. Antioxidants from outside the body are required as antioxidants within the body are not enough to ward off excessive free radicals. Amaranthus hybridus L. plant is quite popular among Indonesian people due to its fast harvest and advantages for health, including its natural antioxidants potency. This study aimed to determine the comparison of antioxidant activities among n-hexane, ethyl acetate, and aqueous extract of A. hybridus L. leaves. This was an experimental laboratory study. Amaranthus hybridus L. simplicia extracted with maceration in n-hexane, ethyl acetate and aquadest. Antioxidant activities of n-hexane, ethyl acetate, and aqueous extract of A. hybridus L. were examined with 2.2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) in 517 nm wavelength by using microplate reader. The results showed that the IC50 values of A. hybridus L. n-hexane, ethyl acetate, and aqueous extract respectively were 131.81 mg/mL, 103.53 mg/mL, and 79.61 mg/mL. In conclusion, there are differences in antioxidant activities between n-hexane, ethyl acetate, and aqueous extract of A. hybridus L. This occur due to differences in the polarity of each solvent. Keywords: Amaranthus hybridus L.; antioxidant activities; maceration; solvent polarity    Abstrak: Penyakit tidak menular, seperti diabetes melitus, aterosklerosis, dan kanker, disebabkan antara lain oleh ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan dalam tubuh (stres oksidatif). Antioksidan dari luar tubuh diperlukan karena antioksidan dari dalam tubuh tidak cukup untuk menangkal radikal bebas berlebih. Tanaman Amaranthus hybridus L. cukup diminati masyarakat Indonesia karena waktu panen yang singkat dan manfaatnya bagi kesehatan, termasuk potensi antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan aktivitas antioksidan ekstrak heksana, etil asetat, dan air daun A. hybridus L. Jenis penelitian ini berupa studi eksperimental laboratorik. Simplisia A. hybridus L. diekstraksi dengan metode maserasi dalam pelarut heksana, etil asetat, dan air. Aktivitas antioksidan ekstrak heksana, etil asetat, dan air daun A. hybridus L. diuji aktivitas antioksidan dengan metode 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH) pada panjang gelombang 517 nm dengan menggunakan microplate reader. Hasil penelitian menunjukkan nilai IC50 ekstrak heksana, etil asetat, dan air daun A. hybridus L. secara berturut-turut sebesar 131,81 mg/mL, 103,53 mg/mL, dan 79,61 mg/mL. Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan aktivitas antioksidan antara ekstrak heksana, etil asetat, dan air daun Amaranthus hybridus L. Hal ini terjadi karena perbedaan polaritas dari masing-masing pelarut. Kata kunci: Amaranthus hybridus L.; aktivitas antioksidan; maserasi; polaritas pelarut
Efektivitas Aromaterapi Peppermint (Mentha Piperita L) untuk Mengatasi Kecemasan Sebelum Ekstraksi Gigi Lestari, Nurasisa; Amran, Ardian J.; Mawaddah, Besse
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.57595

Abstract

Abstract: During tooth extraction, patients sometimes feel anxious that can cause mental disorders. One way to reduce anxiety is by using peppermint-based aromatherapy. This study aimed to find out the effectiveness of peppermint aromatherapy (Mentha piperita L) before tooth extraction. This was a quasi exprimental study with a cross sectional design. Samples were patients that came to Azka Nadhifa Clinic for tooth extraction, obtained by using accidental sampling. Level of anxiety was based on pulse rate measured with oximeter. The results obtained 44 patients as samples. Before aromatherapy treatment, the mean pulse rate of patients was 105.64 (SD±2.90) meanwhile after treatment the mean pulse rate was 82.95 (SD±6.62). The T-paired showed that the mean difference of pulse rate before and after aromatherapy treatment was 22.68, with a p-value of 0.000 (p<0.05), meaning a sifnificant difference between before and after treatment. In conclusion, peppermint aromatherapy (Mentha piperita L) is effective to overcome anxiety before tooth extraction.   Abstrak: Saat melakukan prosedur ekstraksi gigi pasien terkadang merasa cemas hingga mengalami gangguan mental. Salah satu cara menurunkan kecemasan ialah dengan menggunakan aromaterapi berbahan peppermint (Mentha piperita L). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas aromaterapi peppermint terhadap tingkat kecemasan pasien sebelum tindakan ekstraksi gigi. Metode penelitian ialah kuasi eksprimental dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah pasien yang berkunjung ke klinik Azka Nadhifa utnuk tindakan ekstraksi gigi, diperoleh dengan menggunakan accidental sampling. Tingkat kecemasan diukur berdasarkan denyut nadi dengan menggunakan oximeter. Hasil penelitian mendapatkan 44 pasien sebagai sampel penelitian. Sebelum perlakuan aromaterapi didapatkan rerata denyut nadi pasien sebesar 105,64 (SD±2,90) sedangkan setelah perlakuan didapatkan rerata denyut nadi sebesar 82,95 (SD±6,62). Hasil uji T-paired menunjukkan bahwa selisih rerata denyut nadi sebelum dan setelah perlakuan sebesar 22,68, dengan nilai p=0,000 (p<0,05), yang menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara sebelum dan setelah diberikan aromaterapi peppermint. Simpulan penelitian ini ialah pemberian aromaterapi peppermint (Mentha piperita L) efektif dalam mengatasi kecemasan sebelum ekstraksi gigi. Kata kunci: ekstraksi gigi; kecemasan; aromaterapi; peppermint
Korelasi antara Intensitas Nyeri dan Kualitas Hidup Terkait Kesehatan Gigi dan Mulut pada Pasien Endodontik Arifin, Fadil A.; Aslan, Sarahfin; Febriany, Mila; Husein, Husnah
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.56571

Abstract

Abstract: Endodontic pain can inhibit activity and negatively impact patient's quality of life. This study aimed to find out the correlation between the Visual Analogue Scale (VAS) scores and oral health-related quality of life using the General Oral Health Assessment Index (GOHAI) in endodontic patients. A total of 199 patients were referred to UNHAS RSGMP for endodontic treatment. The entire patient determined the intensity of the pain they were experiencing using VAS on a scale between 0 and 10. The patient was then instructed to fill out a 12-question GOHAI questionnaire. The statistical analysis used was the Spearman correlation test. The results showed that the average age of the patients in this study was 35.3 years, with the female patient dominating the samples (66.3%). The Spearman's correlation test showed that there was a positive and significant correlation between GOHAI scores and VAS scores, with an r-value of 0.177 and a p-value of 0,012. In conclusion, high intensity of pain correlates with low quality of life in endodontic patients, highlighting the need for dentists and endodontists to accurately execute endodontic pain, therefore, promptly improvement of endodontic patients' quality of life can be achieved. Keywords: endodontic; orofacial pain; quality of life; Visual Analogue Scale; General Oral Health Assessment Index   Abstrak: Nyeri endodontik dapat menghambat aktifitas hingga berdampak buruk pada kualitas hidup penderita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara skor Visual Analogue Scale (VAS) dan kualitas hidup terkait kesehatan gigi dan mulut dengan menggunakan General Oral Health Assessment Index (GOHAI) pada pasien endodontik. Sebanyak 199 pasien dirujuk ke RSGMP UNHAS untuk dilakukan perawatan endodontik. Seluruh pasien menentukan intensitas nyeri yang sedang dialami menggunakan VAS dengan skala antara 0 dan 10. Selanjutnya pasien diinstruksikan untuk mengisi kuesioner GOHAI sebanyak 12 butir pertanyaan. Jenis analisis statistik yang digunakan ialah uji korelasi Spearman. Hasil penelitian mendapatkan rerata usia pasien ialah 35,3 tahun, dengan pasien perempuan yang mendominasi sampel (66,3%). Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan adanya korelasi positif dan bermakna antara skor GOHAI dan skor VAS dengan nilai r sebesar 0,177 serta nilai p sebesar 0,012. Simpulan penelitian ini ialah terdapat korelasi antara GOHAI dan VAS dimana tingginya intensitas nyeri dapat menyebabkan rendahnya kualitas hidup pada pasien endodontik. Dokter gigi dan endodontis diharapkan mampu melakukan penatalaksanaan nyeri endodontik dengan tepat agar dapat segera memperbaiki kualitas hidup pasien endodontik. Kata kunci: endodontik; kualitas hidup; nyeri orofasial; Visual Analogue Scale; General Oral Health Assessment Index