cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Profil Kasus Amputasi Jari Traumatik di Rumah Sakit Umum Daerah Bitung Selang 1 Januari 2020 – 30 April 2023 Lintong, Pinkan; Kalitouw, Ferry; Kalitouw, Priscilia
e-CliniC Vol. 13 No. 1 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i1.60578

Abstract

Abstract: Finger injury is one of the most common types of accidents with varied impacts. The diagnosis of finger amputation is usually based on anamnesis of the history of the mechanism of trauma, the cause of trauma, the extent of contamination in the wound area, and direct clinical physical examination of the amputated finger. This study aimed to obtain the profile of traumatic amputation of finger at Rumah Sakit Umum Daerah Bitung from January 1 to April 30, 2023. This was a descriptive and retrospective study with a cross sectional design. Data were obtained from medical records of patients diagnosed as traumatic amputation of finger from January 1, 2020 to April 30, 2023. The results showed a total of 15 patients consisted of 13 males (87%) and two females (13%). Domestic accident was the most common cause, besides work accidents and traffic accidents. The most common type of trauma is sharp trauma and surgical procedures were performed in the form of stump repair and reamputation due to serious wound contamination and coming to the hospital after more than 24 hours. In conclusion, traumatic amputation of finger is most common among males, aged 10-60 years, sharp trauma, located in digiti II and III, and duration more than 24 hours, therefore, patients have to undergo stump repair, followed by dysartuculation and debridement. Keywords: finger amputation; finger injuries; finger trauma    Abstrak: Cedera jari tangan merupakan salah satu jenis kecelakaan yang tersering dengan dampak bervariasi. Diagnosis amputasi jari biasanya didasarkan pada anamnesis riwayat mekanisme terjadinya trauma, penyebab trauma, besarnya kontaminasi pada area luka, serta pemeriksaan fisik klinis secara langsung ke jari yang teramputasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil kasus amputasi jari traumatik di Rumah Sakit Umum Daerah Bitung selang 1 Januari 2020–30 April 2023. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang. Data penelitian diperoleh melalui penelusuran catatan medik penderita yang dirawat dengan diagnosis amputasi jari traumatik selang periode 1 Januari 2020 sampai dengan 30 April 2023. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 15 penderita selama selang waktu tersebut, terdiri dari 13 laki-laki (87%) dan dua perempuan (13%). Kejadian terbanyak didapatkan pada kecelakaan domestik selain kecelakaan kerja dan kecelakaan lalu lintas. Jenis trauma terbanyak ialah trauma tajam dan telah dilakukan tindakan pembedahan berupa stump repair serta reamputasi. Simpulan penelitian ini ialah kasus amputasi jari traumatik yang tersering pada jenis kelamin laki-laki, usia 10-60 tahun, penyebab trauma tajam, lokasi pada digiti II dan III, dengan durasi tindakan lebih dari 24 jam, dan karenanya mengharuskan pasien untuk menjalan prosedur stump repair, diikuti dengan disartikulasi dan debridemen. Kata kunci: amputasi jari; cedera jari; trauma jari
Hubungan Postur Tubuh Saat Bekerja dengan Keluhan Low Back Pain pada Perawat Bedah Mondoringin, Lidya H. M.; Doda, Diana V. D.; Wungouw, Herlina I. S.
e-CliniC Vol. 13 No. 1 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i1.60614

Abstract

Abstract: Occupational disease is a serious health problem in the world of work that has the potential to cause injuries and various musculoskeletal diseases including low back pain (LBP). This study aimed to evaluate the relationship between work posture and LBP complaint among surgical nurses. Samples were surgical nurses of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital as many as 30 respondents. The results showed that the majority of respondents were ≤45 years (70%), and had LBP complaint (96,7%). Male respondents were predominant than females (53.3% : 46.7%). Based on REBA, the most frequent risk levels were high risk (50%) and moderate risk (36.7%). The Spearman correlation test obtained a p-value of 0.288 indicating a non significant relationship between work posture and LBP complaint. In conclusion, there is no significant relationship between  work posture and low back pain complaint among surgical nurses at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. Keywords: work posture; low back pain; surgical nurse    Abstrak: Penyakit akibat kerja (occupational disease) merupakan masalah kesehatan serius dalam dunia kerja yang berpotensi menimbulkan cedera dan berbagai penyakit muskuloskeletal, termasuk low back pain. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan postur tubuh saat bekerja dengan keluhan low back pain pada perawat bedah. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah perawat bedah RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou yang berjumlah 30 responden. Hasil penelitian mendapatkan mayoritas responden berusia ≤45 tahun (70%) dan memiliki keluhan LBP (96,7%). Jumlah responden laki-laki lebih banyak daripada perempuan (53,3% : 46,7%). Klasifikasi tingkat risiko postur tubuh menggunakan REBA mendapatkan responden terbanyak dengan risiko tinggi (50%) dan sedang (36,7%). Hasil uji korelasi Spearman mendapatkan nilai p=0,288 yang menunjukkan hubungan tidak bermakna antara postur tubuh responden saat bekerja dengan keluhan LBP. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan bermakna antara postur tubuh saat bekerja dengan keluhan low back pain pada perawat bedah RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Kata kunci: postur tubuh; low back pain; perawat bedah
Hubungan Penggunaan Gawai dengan Kejadian Sindroma Mata Kering pada Mahasiswa Assa, Ishak A.; Wungouw, Herlina I.; Pangemanan, Damajanty H.
e-CliniC Vol. 13 No. 1 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i1.60615

Abstract

Abstract: Gadgets have become a fundamental necessity in contemporary human life, especially for students to aid in their educational process. Uncontrolled gadget usage can lead to detrimental health effects, particularly in the eyes, such as decreased blinking reflex, resulting in increased evaporation and dry eye syndrome. This study aimed to evaluate the relationship between gadget usage and dry eye syndrome among students. This was an analytical and observational with a cross-sectional design, using simple random sampling. Samples were 193 students of the Department of Informatics Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Sam Ratulangi. Data were analyzed using the Spearman correlation test with a significance level of 0.05. The results showed that of the three categories, there were only respondents with high gadget usage (22.8%) and moderate gadget usage (77.2%). Based on  OSDI, 5.2% of respondents were categorized as moderate and 94.8% as poor.  The Spearman correlation test obtained a p-value of 0.011 (<0.05) and r = 0.182, indicating a significant relationship between gadget usage and dry eye syndrome with a positive and very weak correlation.  In conclusion, there is a significant correlation between gadget usage and the incidence of dry eye syndrome among students at the Faculty of Engineering, Department of Informatics Engineering at Universitas Sam Ratulangi. The higher the gadget usage, the higher the risk of  dry eye syndrome. Keywords: gadget usage; dry eye syndrome    Abstrak: Gawai menjadi salah satu kebutuhan dasar dalam kehidupan manusia saat ini, terlebih bagi mahasiswa untuk membantu proses pendidikan. Penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat menimbulkan efek berbahaya bagi kesehatan, salah satunya pada mata, yaitu terjadinya penurunan refleks berkedip yang mengakibatkan peningkatan evaporasi pada mata sehingga terjadi mata kering. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara penggunaan gawai dengan kejadian sindroma mata kering pada mahasiswa. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan desain potong lintang. Teknik pengambilan sampel yakni simple random sampling. Sampel penelitian ini ialah 193 mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Teknik Informatika Universitas Sam Ratulangi. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian mendapatkan bahwa dari ketiga kriteria penilaian, hanya didapatkan responden dengan penggunaan gawai tinggi (22,8%) dan penggunaan gawai sedang (77,2%). Berdasarkan kategori OSDI didapatkan responden dengan kategori sedang (5,2%) dan kategori berat (94,8%). Hasil uji korelasi Spearman dengan perolehan nilai p sebesar 0,011 (p<0,05) menunjukkan adanya hubungan bermakna antara penggunaan gawai dan sindroma mata kering. Nilai koefisien 0,182 menunjukkan korelasi yang sangat lemah dan searah. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara penggunaan gawai dengan kejadian sindroma mata kering pada mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Teknik Informatika Universitas Sam Ratulangi. Semakin tinggi penggunaan gawai, semakin tinggi kejadian sindroma mata kering. Kata kunci: penggunaan gawai; sindroma mata kering
Hubungan Faktor-Faktor Risiko dengan Persalinan Prematur di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 2021–2022 Lontaan, Gregorya I. A.; Wagey, Freddy W.; Tendean, Hermie M. M.
e-CliniC Vol. 13 No. 1 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i1.60616

Abstract

Abstract: Preterm labor is still a global health challenge worldwide. The causes of preterm labor are multifactorial including age, parity, the amount of ANC, PROM, antepartum hemorrhage, and PEB. This study aimed to determine the relationship between risk factors (age, parity, number of ANC, history of preterm labor, PROM, antepartum hemorrhage, and severe preeclampsia) with the incidence of preterm labor at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a retrospective and analytical study with a cross-sectional design using medical records of all deliveries at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from 2021 to 2022. Samples were childbirths during the mentioned period, including preterm labor that met the inclusion and exclusion criteria. The results showed that the most common preterm labor category was moderate to late preterm (32 - <37 weeks) as many as 135 out of 199 cases of preterm labors. There was no significant relationship between age, parity, and PROM with preterm labor (p>0.05). Meanwhile, there was a significant relationship between the number of ANC, history of preterm labor, antepartum hemorrhage, and severe preeclampsia with preterm labor (p<0.05). In conclusion, there was a significant relationship between total ANC, history of preterm labor, antepartum hemorrhage, severe preeclampsia, and preterm labor. However, there was no significant association between age, parity, PROM, and preterm labor. Keywords: risk factors; preterm labor    Abstrak: Sampai saat ini persalinan prematur masih menjadi tantangan kesehatan global. Penyebab terjadinya persalinan prematur ialah multifaktorial, meliputi faktor usia, paritas, jumlah ANC, KPD, perdarahan antepartum, dan PEB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor-faktor risiko (usia, paritas, jumlah ANC, riwayat partus preterm, KPD, perdarahan antepartum, dan PEB) dengan kejadian persalinan prematur di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah analitik retrospektif dengan desain potong lintang. Data yang digunakan ialah rekam medik seluruh persalinan di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado periode 2021–2022. Sampel meliputi semua persalinan tahun 2021-2022 termasuk persalinan prematur yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian memperlihatkan distribusi persalinan prematur terbanyak terdapat pada kategori moderate to late preterm (32 - <37 minggu) sebanyak 135 dari 199 kasus persalinan prematur. Terdapat hubungan tidak bermakna antara usia, paritas, dan KPD dengan persalinan prematur (p>0,05). Terdapat hubungan bermakna antara jumlah ANC, riwayat partus preterm, perdarahan antepartum dan PEB dengan persalinan prematur (p<0,05). Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara jumlah ANC, riwayat partus preterm, perdarahan antepartum dan PEB dengan persalinan prematur namun tidak terdapat hubungan bermakna antara usia, paritas, dan KPD dengan persalinan prematur. Kata kunci: faktor-faktor risiko; persalinan prematur
Perbandingan Kapasitas Vital Paksa Perokok Elektronik dan Perokok Tembakau Siwu, Imanuel L.; Engka, Joice N. A.; Marunduh, Sylvia R.
e-CliniC Vol. 13 No. 1 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i1.60617

Abstract

Abstract: Smoking can cause reduced lung function such as decreased forced vital capacity (FVC), heart diseases, and cancer. An electronic cigarette or vape is an electrically powerful device that heats an e-liquid aerosol containing propylene, glycerin, glycol, nicotine, and various additives to produce aerosols that can be breathed. Electronic cigarettes are popular because they are considered as safer and healthier device than conventional cigarettes since they do not contain tobacco that is hazardous to health. This study aimed to find out the comparison of forced vital capacity of electronic smokers with tobacco smokers among students of Universitas Sam Ratulangi. This was an observational and analytical study with a cross-sectional study design. Samples consisted of 51 students obtained by using the purposive sampling method and met the inclusion and exclusion criteria. The results showed that highest percentages were found in respondents aged 20 years (39.2%), tobacco smokers (58.8%), and low FVC (76.5%). The independent sample t-test used to compare the FVC of electronic smokers with tobacco smokers obtained a p-value of 0.719 indicating there was no significant difference between the two groups. In conclusion, there is no significant comparison between the forced vital capacity values of electronic smokers and tobacco smokers among students of Universitas Sam Ratulangi. Keywords: FVC, electronic smokers; tobacco smokers    Abstrak: Merokok dapat menyebabkan penurunan fungsi paru antara lain penurunan kapasitas vital paksa (KVP), penyakit jantung dan kanker. Rokok elektronik atau vape adalah sebuah perangkat berdaya listrik yang memanaskan aerosol e-liquid yang mengandung propilena, gliserin, glikol, nikotin dan berbagai perasa yang aditif untuk menghasilkan aerosol yang bisa di hirup. Rokok elektronik atau vape populer karena dianggap sebagai perangkat yang lebih aman dan sehat daripada rokok konvensional karena tidak memiliki kandungan tembakau yang berbahaya bagi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan KVP perokok elektronik dan perokok tembakau pada mahasiswa Universitas Sam Ratulangi. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Sampel berjumlah 51 mahasiswa yang diperoleh dengan metode purposive sampling serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian mendapatkan persentase tertinggi pada responden berusia 20 tahun (39,2%), perokok tembakau (58,8%), dan hasil pengukuran KVP dengan nilai low (76,5%). Hasil uji independent sample t-test terhadap KVP perokok tembakau dan elektronik memperoleh nilai p=0,719, yang membuktikan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara nilai KVP perokok elektronik dan perokok tembakau. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat perbandingan bermakna antara nilai kapasitas vital paksa perokok elektronik dan perokok tembakau pada mahasiswa Universitas Sam Ratulangi. Kata kunci: kapasitas vital paksa; perokok elektronik; perokok tembakau
Perundungan dan Stres pada Mahasiswa Kedokteran Dewantara, Lilac; Kairupan, Bernabas H. R.; Munayang, Herdy
e-CliniC Vol. 13 No. 1 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i1.60736

Abstract

Abstract: Bullying tend to occur in the educational process, including inside medical institutions. Bullying is associated with high level of stress, which may influence various aspects of life, including quality of service and patient safety. This study aimed to report various literature regarding bullying and stress in medical students. This was a systematic review study using three databases, namely Google Scholar, PubMed, and Clinical Key. The literatures used should be in Indonesian or English, published during the last five years. Based on the 10 studies reviewed, it was found that bullying still occurred in medical education, with a prevalence of 16% up to 86.8%. The major target of bullying was females. Bullying influenced one’s psychological, academic, and social aspects. Psychologically, bullying was associated with high level of stress, anxiety, and depression. In conclusion, bullying among medical students is associated with stress. Keywords: bullying; stress; medical students   Abstrak: Perundungan seringkali terjadi dalam proses pendidikan, termasuk di dalam institusi kedokteran. Perundungan dikaitkan dengan stres yang tinggi, yang dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk melaporkan kajian pustaka dari perundungan dan stres pada mahasiswa kedokteran. Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review dengan menggunakan tiga database, yaitu Google Scholar, PubMed, dan Clinical Key. Literatur yang digunakan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, yang diterbitkan dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan hasil reviu dari 10 penelitian yang didapat, ditemukan bahwa perundungan masih sering terjadi dalam pendidikan kedokteran dengan prevalensi 16% hingga 86,8%. Mayoritas sasaran perundungan ialah perempuan. Perundungan memengaruhi aspek psikolgis, akademis, dan sosial. Secara psikologis, perundungan diasosiasikan dengan stres yang tinggi, kecemasan, dan depresi. Simpulan penelitian ini ialah perundungan pada mahasiswa kedokteran diasosiasikan dengan stres. Kata kunci: perundungan; stres; mahasiswa kedokteran
Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Omeprazole atau Ranitidin pada Pasien Dispepsia di Instalasi Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Swasta Sinaulan, Evania A.; Nangoy, Edward; Masengi, Angelina S. R.
e-CliniC Vol. 13 No. 1 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i1.60737

Abstract

Abstract: Dyspepsia is a common condition that is commonly found in daily practice. The most common drugs for  dyspepsia therapy are proton pump inhibitors (PPIs) and histamine-2 receptor antagonists (H2RAs). One of the factors that affects the cost of treatment that must be incurred by patients is the selection of treatment therapy. Pharmacoeconomic studies can compare the effectiveness of the two drug regimens in the treatment of dyspeptic patients. This study aimed to determine the effectiveness of therapy, average total cost, and cost effective value of the use of omeprazole or ranitidine therapy in dyspeptic patients at the Inpatient Installation of one Type C Private Hospital in Minahasa. This was a descriptive and observational study using the Cost-Effectiveness Analysis method with a retrospective data collection design in the period of January-June 2023. Based on medical record data of 72 patients, there were 30 patients using omeprazole and 42 patients using ranitidine. Ranitidine was more effective than omeprazole with the number of patients who reached the target therapy as many as 32 with a percentage of 76.1%. Ranitidine had a lower average total cost of therapy in dyspeptic patients which was Rp. 2,748,045 compared to omeprazole of Rp. 3,537,487. In conclusion, the use of ranitidine therapy in dyspepsia patients is more cost effective with Average Cost Effectiveness Ratio of Rp. 3,611,097. Keywords: dyspepsia; omeprazole; ranitidine; cost effectiveness analysis   Abstrak: Dispepsia merupakan kondisi umum yang sering ditemukan pada praktek sehari-hari. Terapi dispepsia salah satunya adalah golongan proton pump inhibitors (PPIs) dan histamine-2 receptor antagonists (H2RAs). Salah satu hal yang berpengaruh pada biaya pengobatan yang harus dikeluarkan oleh pasien adalah pemilihan terapi pengobatan. Kajian farmakoekonomi dapat membandingkan efektivitas dua regimen obat tersebut dalam pengobatan pasien dyspepsia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi, rata-rata biaya total, dan nilai cost effective dari penggunaan terapi omeprazole atau ranitidin pada pasien dispepsia di Instalasi Rawat Inap salah satu Rumah Sakit Swasta Tipe C di Minahasa. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional menggunakan metode Cost-Effectiveness Analysis dengan rancangan pengambilan data secara retrospektif pada periode Januari-Juni 2023. Berdasarkan data rekam medis diperoleh 72 data pasien, terdiri dari 30 pasien yang menggunakan omeprazole dan 42 pasien yang menggunakan ranitidin. Ranitidin lebih efektif dibandingkan omeprazole dengan jumlah pasien yang mencapai target terapi sebanyak 76,1%. Ranitidin memiliki rata-rata total biaya terapi pada pasien dispepsia lebih rendah yaitu sebesar Rp. 2.748.045 dibandingkan omeprazole sebesar Rp. 3.537.487. Simpulan penelitian ini ialah penggunaan terapi ranitidin pada pasien dispepsia lebih cost effective dibandingkan omeprazole dengan nilai Average Cost Effectiveness Ratio yaitu Rp. 3.611.097. Kata kunci: dispepsia; omeprazole; ranitidin; analisis efektivitas biaya
Gambaran Kadar Profil Lipid pada Stroke Iskemik Fariza, Andi F. D.; Rambert, Glady I.; Berhimpon, Siemona L. E.
e-CliniC Vol. 13 No. 2 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i2.60738

Abstract

Abstract: Stroke is one of the leading causes of death and disability worldwide. Dyslipidemia is one of the risk factors for stroke that can trigger atherosclerosis in blood vessels in the heart as well as in the brain. This study aimed to obtain the lipid profile in patients with ischemic stroke at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital. This was a descriptive and retrospective study using medical records of patients ischemic stroke patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital in 2022, using the total sampling method. The results obtained 78 patients that met the inclusion criteria. The highest percentages were found in male patients (56.4%), age group of 56–65 years (42.3%), optimal total cholesterol level (53.8%), low HDL cholesterol level (52.6%), LDL cholesterol level approaching optimal (32.1%), and optimal triglyceride level (62.0%). In conclusion, patients with ischemic stroke most commonly have optimal total cholesterol levels, low HDL cholesterol levels, LDL cholesterol levels approaching optimal, and optimal triglyceride levels. Keywords: lipid profile; ischemic stroke   Abstrak: Stroke merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan di seluruh dunia. Dislipidemia  ialah salah satu faktor risiko stroke yang dapat memicu terjadinya aterosklerosis pada pembuluh darah, baik yang berada di jantung maupun otak. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran profil lipid pada pasien stroke iskemik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou. Jenis penelitian ini ialah deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medis pasien stroke iskemik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou tahun 2022 dengan metode total sampling. Hasil penelitian mendapatkan 78 pasien stroke iskemik yang memenuhi kriteria penelitian. Pada hasil analisis didapatkan dominasi pasien berjenis kelamin laki-laki (56,4%), usia 56–65 tahun (42,3%), kadar kolesterol total optimal (53,8%), kadar kolesterol HDL rendah (52,6%), kadar kolesterol LDL mendekati optimal (32,1%), dan kadar kolesterol trigliserida optimal (62,0%). Simpulan penelitian ini ialah pasien stroke iskemik paling banyak ditemukan dengan kadar kolesterol total optimal, kadar kolesterol HDL rendah, kadar kolesterol LDL mendekati optimal, serta kadar kolesterol trigliserida optimal. Kata kunci: profil lipid; stroke iskemik
Gambaran Kadar D-Dimer pada Pasien Stroke Iskemik Ticoalu, Micha M. C.; Wowor, Mayer F.; Rambert, Glady I.
e-CliniC Vol. 13 No. 1 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i1.60740

Abstract

Abstract: The primary cause of ischemic stroke is atherosclerosis affecting major arteries in the neck and head. D-dimer is linked to ischemic stroke, as it is the end product of fibrin breakdown by plasmin through the fibrinolytic process. This study aimed to assess D-dimer levels in ischemic stroke patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital, Manado. This was a descriptive and retrospective study using the total sampling method. The results showed that there were 15 patients meeting the inclusion criteria for ischemic stroke patients consisting of nine male patients and six female patients. The majority of patients were in the age group of 60-79 years (53.3%), followed by age group 40-59 years (33.3%), and age group 80-99 years as well as 20-39 years (each of 6.67%). All patients with ischemic stroke had increased D-dimer level. In conclusion, the majority of patients with ischemic stroke are males, aged over forty, and have elevated D-dimer level. Keywords: D-Dimer; ischemic stroke    Abstrak: Penyebab utama stroke iskemik ialah aterosklerosis yang mengenai arteri besar pada leher dan kepala. D-dimer memiliki hubungan dengan stroke iskemik oleh karena merupakan produk akhir pemecahan fibrin oleh plasmin melalui proses fibrinolitik. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kadar D-dimer pada pasien stroke iskemik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medis pasien stroke iskemik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dengan metode total sampling. Hasil penelitian mendapatkan 15 pasien stroke yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, terdiri dari sembilan laki-laki dan enam perempuan. Pasien terbanyak pada kelompok usia 60-79 tahun (53,3%), diikuti oleh kelompok usia 40-59 tahun (33,3%), serta kelompok usia 80-99 tahun dan 20-39 tahun (masing-masing 6,67%). Pada seluruh pasien stroke iskemik didapatkan peningkatan kadar D-dimer. Simpulan penelitian ini ialah majoritas pasien stroke iskemik berjenis kelamin laki-laki, usia di atas 40 tahun, dengan peningkatan kadar D-dimer. Kata kunci: D-Dimer; stroke iskemik
Gambaran Kasus Nyeri Bahu pada Pasien di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Tahun 2020-2022 Geraldine, Petria F.; Lampah, Christopher; Gessal, Joudy
e-CliniC Vol. 13 No. 1 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i1.60774

Abstract

Abstract: Shoulder pain is one of the leading causes of health problems with a high incidence rate increaseing with age. This condition is the third most common musculoskeletal problem encountered in primary health care visits. This study aimed to obtain the description of shoulder pain cases in patients at the Medical Rehabilitation Installation of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from 2020 to 2022. This was a descriptive and retrospective study with a cross-sectional design. The results obtained a population of 240 patients; 223 of them met the inclusion and exclusion criteria. Patients who came with complaints of shoulder pain in this study were dominated by patients diagnosed with frozen shoulder (43.9%), the age group of the late elderly (56–65 years) (28.3%), female gender (54.7%), had a work background as housewives (26.5%), had a previous history of hypertension (39%), and had a non-traumatic etiology of the problem (51.2%). In conclusion, patients who presented with shoulder pain were diagnosed with frozen shoulder, aged in the late old elderly, female gender, worked as housewives, had a history of hypertension, and had a nontraumatic etiology. Keywords: shoulder pain; patient characteristics; non-traumatic etiology     Abstrak: Nyeri bahu merupakan salah satu penyebab utama gangguan kesehatan dengan tingkat kejadian yang tinggi seiring pertambahan usia dan menempati masalah muskuloskletal ketiga paling sering dijumpai dalam kunjungan ke layanan kesehatan primer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran nyeri bahu pada pasien di Instalasi Rehabilitasi Medik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode tahun 2020-2022. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan rancangan potong lintang. Hasil penelitian mendapatkan populasi sebanyak 240 pasien dengan nyeri bahu; 223 di antaranya memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Pasien yang datang dengan keluhan nyeri bahu pada peneltitian ini didominasi oleh pasien yang terdiagnosis frozen shoulder (43,9%), kelompok usia masa lansia akhir (56–65 tahun) (28,3%), berjenis kelamin perempuan (54,7%), pekerjaan sebagai ibu rumah tangga (26,5%), memiliki riwayat hipertensi sebelumnya (39%), dan memiliki etiologi permasalahan secara non traumatik (51,2%). Simpulan penelitian ini ialah pasien dengan nyeri bahu terbanyak dengan diagnosis frozen shoulder, berusia masa lansia akhir, berjenis kelamin perempuan, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, mempunyai riwayat hipertensi, serta beretiologi non traumatik. Kata kunci: nyeri bahu; karakteristik pasien, etiologi nontraumatik