cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
HUBUNGAN ANTARA IMT DENGAN USIA MENARCHE PADA SISWI SD DAN SMP DI KOTA MANADO Munda, Sarah Stevany
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.3289

Abstract

Abstract: Menarche is the first menstruation experienced by woman. The improving standards of life will impact on the age of menarche (early menarche). There are many factors that affect the age of menarche, one of them is nutritional status. This research was aimed to analyze correlation between the nutritional status and age of menarche in female student of elementary school and junior high school at Manado city. This research used a cross sectional study. The subject was 196 female student. The data was analyzed using chi-square test. Research result showed that average age of menarche in elementary school is 10.63 ± 0.72 and in junior high school is 11.34 ± 1.35. Based on test results X2 (Pearson Chi Square) value obtained X2 = 68.742, p = 0.000. These results indicate that there is a highly significant association between IMT and age of menarche (p <0.01).Keywords: Female student, Menarche age, Nutrinional statusAbstrak: Menarche adalah menstruasi pertama yang dialami oleh seorang wanita. Membaiknya standar kehidupan berdampak pada penurunan usia menarche (menarche dini). Ada banyak faktor yang mempengaruhi usia menarche, salah satunya adalah status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi dan usia menarche pada siswi di SD dan SMP di Kota Manado. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional dengan sampel sebanyak 196 siswi. Data akan dianalisis dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata usia menarche di SD adalah 10,63 ± 0,72 dan SMP adalah 11,34 ± 1,35. Berdasarkan hasil uji X2 (pearson Chi Square) diperoleh nilai X2 = 68,742 dengan p = 0,000. Hasil ini menyatakan terdapat hubungan yang sangat bermakna antara IMT dan usia menarche (p < 0,01).Kata kunci: Siswi, Status gizi, Usia menarche
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN BERAT RINGANNYA CAMPAK PADA ANAK Liwu, Teressa S.; Rampengan, Novie H.; Tatura, Suryadi N. N.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10961

Abstract

Abstract: Appendicitis is an inflammation of vermiform appendix. Acute inflammation of the appendix needs to be treated immediately to prevent fatal complications. The incidence among females and males is slightly comparable, however, the incidence is higher among males than females in the age range between 20-30 years. The fundamental clinical decision in the diagnosis of a patient with suspected appendicitis is whether to do an operation or not. The meaningful evaluation of acute appendicitis balances early operative intervention to prevent operative risks. This study aimed to obtain the incidence of appendicitis at Prof. Dr. R.D Kandou Hosiptal Manado from October 2012 to September 2015. This was a  retrospective descriptive study using data of the Department of Medical Record Prof. Dr. R.D Kandou Manado Hospital. The results showed that there were 650 patients. Most patients had acute appendicitis as many as 412 patients (63%) meanwhile chronic appendicitis was found in 38 patients (6%). Of 650 patients, 200 patients had complications; 193 patients (30%) with perforated appendicitis and 7 patients (1%) with appendicular mass. The most frequent age group to develop appendicitis was 20-29 years. The number of male patients was higher than the females. Keywords: appendicitis, incidence  Abstrak: Apendisitis adalah adanya peradangan pada apendiks vermiformis. Peradangan akut pada apendiks memerlukan tindak bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya. Insidens pada perempuan dan laki-laki umumnya sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun insidens pada laki-laki lebih tinggi. Keputusan klinis mendasar dalam mendiagnosis pasien dengan dugaan apendisitis ialah apakah perlu dilakukannya operasi atau tidak.  Evaluasi yang baik dari kasus apendisitis akut dapat mengurangi intervensi untuk operasi awal, dengan harapan dapat mengurangi risiko operasi yang tidak diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian apendisitis di RSUP Prof. Dr. R. D, Kandou Manado periode Oktober 2012 – September 2015. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data di Bagian Rekam Medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode Oktober 2012 – September 2015 terdapat 650 pasien. Jumlah pasien terbanyak ialah apendisitis akut yaitu 412 pasien (63%) sedangkan apendisitis kronik sebanyak 38 pasien (6%). Dari 650 pasien, yang mengalami komplikasi sebanyak 200 pasien yang terdiri dari 193 pasien (30%) dengan komplikasi apendisitis perforasi dan 7 pasien (1%) dengan periapendikuler infiltrat. Kelompok umur tersering yang menderita apendisitis ialah 20-29 tahun. Jumlah pasien laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Kata kunci: apendisitis, angka kejadian
Gambaran fungsi kognitif pada penderita hipertensi di Kelurahan Kakaskasen III Kecamatan Tomohon Utara periode September-Oktober 2016 Watulingas, Janiffer F.; Kembuan, Mieke A.H.N.; Karema, Winifred
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14682

Abstract

Abstract: Hypertension is a desease that occurs due to increased blood pressure. Hypertension is classified in two major types, primary hypertension which cause is still unknown and secondary hypertension caused by renal disease, endocrine disease, heart disease, etc. Although hypertension usually does not show up any symptom, as the blood pressure keeps increasing it could lead to a serious complication. Due to that reason, hypertension has to be detected early by doing a periodical check-up of blood pressure. In daily life, cognitive function in hypertension patients is less needed. Hypertension itself is one of the risk factors of cardiovascular disease that shows an existence of the correlation between the risk factors themselves and the decline of cognitive function. MMSE examination showed that 42.50% of the respondens had cognitive impairment meanwhile CDT examination showed that 47.50% of the respondents had cognitive impairment. Keywords: hypertension, MMSE, CDT, Cognitive function. Abstrak: Hipertensi merupakan penyakit yang terjadi akibat adanya peningkatan tekanan darah. Hipertensi biasa diklasifisikan menjadi 2 jenis, hipertensi primer yang penyebabnya tidak diketahui dan hipertensi sekunder yang disebabkan oleh penyakit ginjal, penyakit endokrin, penyakit jantung,dll. Hipertensi biasanya tidak menimbulkan gejala, dan sementara tekanan darah terus menerus menigkat dan dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan komplikasi. Oleh karena itu hipertensi sebaiknya harus dideteksi dini dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala. Dalam keseharian fungsi kognitif pada penderita hipertensi kurang diperhatikan dan akan diperhatikan jika penderita hipertensi telah mengalami stroke. Hipertensi sendiri ialah salah satu faktor resiko penyakit kardiovaskular yang menunjukkan adanya hubungan faktor risiko tersebut dengan penurunan fungsi kognitif. Hasil pemeriksaan fungsi kognitif pada penderita hipertensi menggunakan MMSE mendapatkan bahwa yang mengalami gangguan kognitif sebesar 42,50% sedangkan pada pemeriksaan menggunakan CDT didapatkan yang mengalami gangguan kognitif sebesar 47,50%.Kata kunci: hipertensi, MMSE, CDT, fungsi kognitif.
HUBUNGAN SKOR SOFA DENGAN LAMA RAWAT INAP PASIEN SEPSIS PASCA LAPARATOMI DI ICU PERIODE JULI 2012 – SEPTEMBER 2013 Tewuh, Tifany; Lalenoh, Diana; Kumaat, Lucky
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i2.5051

Abstract

Abstract: Sofa score is one of the assessments used in ICU. Sofa score can help to see organ dysfunction or organ failure during treatment and can be used to predict the prognosis of patients treated in ICU. Aim:  To determine the relationship of sofa score with length of stay patients septic post laparatomy in ICU. Methods: This study is a retrospective analytic study with collection data of sofa score patients septic post laparatomy in ICU RSUP Prof. R D. Kandou period July 2012-September 2013.Data were evaluated and analyzed to see the relationship with length of stay. Result: These results by using the spearman correlation test showed significance value p=0,557 (p>0,05). Conclusions: No relationship between the sofa score with length of stay patients septic post laparatomy in ICU because of less number of samples and a short period study. Keywords: sofa score, length of stay, septic post laparatomy.   Abstrak: Skor Sofa adalah salah satu penilaian yang digunakan di ICU. Skor Sofa dapat membantu untuk melihat disfungsi organ atau gagal organ selama perawatan dan dapat digunakan untuk memprediksikan prognosis dari pasien yang dirawat di ICU. Tujuan: Mengetahui hubungan Skor Sofa dengan lama rawat inap pasien sepsis post laparatomi di ICU. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik retrospektif dengan pengumpulan data skor sofa pasien sepsis post laparatomi yang dirawat di ICU RSUP Prof. DR. R. D. Kandou periode Juli 2012 – September 2013. Data dievaluasi dan dianalisis untuk melihat hubungannya dengan lama rawat inap. Hasil: Hasil penelitian ini dengan menggunakan uji korelasi spearman menunjukkan nilai signifikasi p=0,557 (p>0,05). Simpulan: Tidak didapatkan hubungan antara skor sofa dengan lama rawat inap pasien sepsis post laparatomi di ICU karena jumlah sampel yang kurang dan periode penelitian yang singkat. Kata Kunci: skor sofa, lama rawat inap, sepsis post laparatomi.
Keragaman kasus patologi forensik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dari sudut pandang SKDI 2012 periode Juli 2015-Juni 2016 Tololiu, Charity C.; Kristanto, Erwin G.; Mallo, Nolla T.S.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14347

Abstract

Abstract: Forensic pathology is a study that focuses on determination of death causes by examining the corpse, especially for investigation of criminal cases and civil law cases. Knowledge and skills are needed for a doctor to get an accurate result of examination. Therefore, the general practicioners are required to master all the level of competence by the National Standard Competencies of Indonesian Medical Doctors 2012 (Standar Kompetensi Dokter Indonesia/SKDI). This study refered to Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital as the main educational hospital for Medical Faculty of Sam Ratulangi University and also a tertiary health facility. This study was aimed to determine the diversity of cases in the Department of Forensic Pathology at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from the viewpoint of National Standard Competencies of Indonesian Medical Doctors 2012 (Standar Kompetensi Dokter Indonesia/SKDI). This was a descriptive retrospective study. The result showed that the diversity of cases at Department of Pathology Forensic was 78% which was sufficient for standard competency requirements. Conclusion: Overall, Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital is still eligible as the main educational hospital of Medical Faculty of Sam Ratulangi University. It is suggested to prolong the period of study in Forensic Department to increase the number of cases as well as to support the study with medical videos in order to increase the knowledge about the level 2 – competency cases.Keywords: forensic pathology, physician competence, SKDI 2012 Abstrak: Patologi Forensik adalah ilmu yang berkaitan dengan penentuan penyebab kematian melalui pemeriksaan pada jenazah, dilakukan terutama untuk membantu investigasi kasus kejahatan atau kasus perdata. Ilmu dan ketrampilan seorang dokter dibutuhkan agar hasil pemeriksaan akurat. Dokter umum diwajibkan menguasai seluruh tingkat kompetensi dalam buku Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012. Penelitian merujuk pada RSUP Prof. Dr. R. D Kandou sebab rumah sakit tersebut merupakan faskes tersier yang juga merupakan rumah sakit pendidikan utama Fakultas Kedokteran UNSRAT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman kasus Patologi Forensik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dari sudut pandang SKDI 2012 periode Juli 2015 – Juni 2016. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 78% keragaman kasus di bagian Forensik mencukupi untuk kebutuhan standar akreditasi. Simpulan: Secara keseluruhan RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou masih layak sebagai rumah sakit pendidikan utama Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Disarankan memperpanjang masa studi di Bagian Forensik agar dapat meningkatkan jumlah kasus dan pembelajaran dengan video medis dalam meningkatkan pengetahuan tentang kasus yang memiliki tingkat kompetensi 2. Kata kunci: patologi forensik, kompetensi dokter, SKDI 2012
Pengetahuan Kader Posbindu terhadap Penyakit Diabetes Melitus Sengkey, Yesika; Palandeng, Henry M.F.; Monintja, Tyrsa C.N.
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.1.2017.15904

Abstract

Abstract: Riskesdas (Basic Health Research) 2013 showed that the prevalence of diabetes mellitus (DM) in Indonesia was 6.9% for those above 15 years and in North Sulawesi in 2013 was 2.4%. Posbindu is a public health service post for elderly in a certain region driven by the community. At Posbindu, the elderly can get integrated health services as well as activities involving health promotion and well-being arranged by the community and social organization. Posbindu cadres are trained community workers set up in a communication forum technology transfered and public health guidance services by and for the people that has a strategic value in developing human resources as early as possible. Therefore, it is necessary to improve the knowledge of Posbindu cadres about DM and related diseases. This study was aimed to obtain the cadres’ knowledge about DM. This was a qualitative study using informants. The results showed that the informants’ knowledge about DM was very good, however, there were several things that should be improved. Conclusion: The informants had already known the important things that must be considered in the community, especially related to DM.Keywords: knowledge, Posbindu cadre, diabetes mellitus. Abstrak: Riset Kesehatan Dasar (2013) menunjukkan bahwa prevalensi DM di Indonesia untuk usia di atas 15 tahun sebesar 6,9% dan di Sulawesi Utara sebesar 2,4%. Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) merupakan pos pelayanan kesehatan untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat. Di Posbindu masyarakat usia lanjut bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Disamping itu, terdapat kegiatan peningkatan kesehatan serta kesejahteraan yang melibatkan peran masyarakat dan organisasi sosial. Kader Posbindu ialah tenaga masyarakat yang telah dilatih, dan dibentuk dalam suatu forum komunikasi alih tehnologi dan pelayanan bimbingan kesehatan masyarakat oleh dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai strategis dalam mengembangkan sumber daya manusia sejak dini. Oloeh karena itu, peningkatan pengetahuan kader Posbindu mengenai DM dan hal-hal yang berkaitan perlu dilakukan secara berkesinambungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan kader Posbindu mengenai penyakit diabetes melitus (DM)..Jenis penelitian ialah kualitatif menggunakan informan. Hasil penelitian mendapatkan bahwa pengetahuan informan sudah baik walaupun masih terdapat hal-hal yang harus lebih ditingkatkan tentang penyakit DM. Simpulan: Para informan sudah mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan dalam masyarakat terutama yang berhubungan dengan penyakit DM.Kata kunci: pengetahuan, kader posbindu, diabetes melitus
Hubungan Kadar Urine Transforming Growth Factor-1 dengan Rasio Albumin Kreatinin Urin dan Nilai Laju Filtrasi Glomerulus pada Pria Perokok Yuswanto, .; Moeis, Emma S.; Wongkar, Maarthen C.P.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.2.2017.17328

Abstract

Abstract: Smoking can augment the risk for kidney disease by increasing the expression of Transforming Growth Factor-β1 (TGF-β1) in the kidneys (uTGF-β1). Early glomerular dysfunction in smokers can be evaluated by measuring albuminuria (urine albumin-to-creatinine ratio/uACR), which generally appears before a decrease in estimated glomerular filtration rate (eGFR). This study was aimed to determine the relationship between smoking and the level of eGFR through changes in levels of uTGF-β1 and uACR among male smokers compared to non-smokers. This was an observational analytical study with a cross-sectional design conducted at Pineleng Subdistrict, Manado. Subjects of this study were 80 males (40 smokers and 40 non-smokers). The results showed significant differences in levels of uTGF-β1 and uACR among smokers compared to non-smokers (P values 0.003 and 0.012). The correlation test showed significant correlations between the increase in uACR levels and the decrease in eGFR levels (P = 0.019), as well as the duration of smoking and the increase in uTGF-β1 levels (P = 0.000). There was no significant association (P = 0.470) between smoking and the risk of decreased eGFR level (PR = 0.704). Therefore, smoking cannot be used as a predictor of eGFR decline. Conclusion: There were no correlations between uTGF-β1 and uACR as well as uTGF-β1 and eLFG.Keywords: Urine Transforming Growth Factor-β1, uACR, GFR, smokersAbstrak: Merokok dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal melalui peningkatan ekspresi Transforming Growth Factor-β1 (TGF-β1) pada ginjal (uTGF-β1). Gangguan glomerular dini pada perokok dapat dievaluasi dengan pengukuran albuminuria (rasio albumin kreatinin urin/RAKU), yang umumnya muncul sebelum terjadi penurunan estimasi laju filtrasi glomerulus (eLFG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan merokok dengan nilai eLFG melalui perubahan kadar uTGF-β1 dan RAKU pada pria perokok dibanding non-perokok. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan desain potong lintang yang dilaksanakan di Kecamatan Pineleng, Manado. Subyek penelitian yaitu 80 pria (40 perokok dan 40 non-perokok). Hasil penelitian menunjukkan perbedaan bermakna kadar uTGF-β1 dan RAKU antara perokok dibanding non-perokok (P = 0,003 dan 0,012). Terdapat hubungan bermakna (P = 0,470) antara merokok dan risiko penurunan eLFG (PR = 0,704). Tidak terdapat perbedaan eLFG antara subyek perokok dan non-perokok. Tidak terdapat hubungan antara kadar uTGF-β1 dan RAKU. Tidak terdapat hubungan antara kadar uTGF-β1 dan nilai eLFG. Terdapat hubungan bermakna antara lama merokok dan peningkatan kadar uTGF-β1, namun tidak terdapat hubungan antara lama merokok dengan RAKU dan nilai eLFG. Peningkatan RAKU pada perokok berkorelasi dengan peningkatan nilai eLFG. Karena itu merokok tidak dapat digunakan sebagai prediktor penurunan eLFG. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara kadar uTGF-β1 baik dengan RAKU maupun nilai eLFG.Kata kunci: Urine Transforming Growth Factor-β1, RAKU, LFG, perokok
Gambaran Kasus Kejahatan Kekerasan Seksual di RS Bhayangkara Tingkat III Manado Periode Januari 2017-Desember 2019 Latjengke, Aditya P.; Tomuka, Djemi; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 8, No 2 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i2.30181

Abstract

Abstract: Rape or sexual violence is very prominent in this globalization era. This sudy was aimed to obtained the profile of sexual violence crimes in Forensic Department of RS Bhayangkara Tingkat III in the period of January 2017 to December 2019. This was a retrospective and descriptive study using visum et repertum. Data were presented in tables of frequency distribution. There were 305 cases of sexual violence crimes in this study; 152 cases were 12-16 years (teenagers). Most victims were females (304 cases); had occupation/education as students (184 cases); and lived in Manado (169 cases). Perpetrators of sexual violence crimes were friends of the victims (108 cases). In conclusion, the majority of sexual violence victims were 12-16 years old (teenagers), females, had occupation/education as students, and lived in Manado. Most perpetrators were friends of the victims.Keywords: sexual violence crimes, victims, perpetrators Abstrak: Fenomena kejahatan pemerkosaan atau kekerasan seksual pada era globalisasi saat ini sangat menonjol. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kasus kejahatan kekerasan seksual di Bagian Forensik RS Bhayangkara Tingkat III Manado periode Januari 2017-Desember 2019. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan hasil visum dan dilaporkan menurut distribusi frekuensi. Hasil penelitian mendapatkan 305 kasus kejahatan kekerasan seksual. Sebagian besar kasus kekerasan seksual berusia 12-16 tahun (masa remaja awal) yaitu 152 kasus. Jenis kelamin korban yang terbanyak ialah perempuan yaitu 304 kasus. Pekerjaan/pendidikan korban ialah pelajar sebanyak 184 kasus. Alamat korban terbanyak berada di Kota Manado yaitu 169 kasus. Pelaku kejahatan kekerasan seksual yang terbanyak ialah teman korban yaitu 108 kasus. Simpulan penelitian ini ialah mayoritas korban kasus kekerasan seksual di RS Bhayangkara Tingkat III Manado berusia 12-16 tahun, berjenis kelamin perempuan, pekerjaan/pendidikan sebagai pelajar dengan alamat di Kota Manado. Pelaku kekerasan seksual terbanyak ialah teman korban.Kata kunci: kejahatan kekerasan seksual, korban, pelaku
HUBUNGAN LAMA DUDUK DENGAN KEJADIAN LOW BACK PAIN PADA OPERATOR KOMPUTER PERUSAHAAN TRAVEL DI MANADO Sari, Ni Putu L. N. I.; Mogi, Theresia Isye; Angliadi, Engeline
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.2.2015.8602

Abstract

Abstract: Low Back Pain (LBP) is commonly found in society. LBP often results in decreased of productivity and disability. The most frequent causes of LBP are prolonged sitting, improper sitting position, bad body posture, excessive activity, and trauma. Risks of LBP are prolonged working such as computer operator. This study aimed to obtain the correlation of sitting duration of computer operators in travel agencies in Manado to LBP. This was an analytical observasional study with a cross sectional design. Data were collected by using questionnaires. The result showed that of 30 subjects, 27 (90%) had suffered from LBP. An upright sitting position is the most position that caused LBP in 18 subjects (60%). The sitting position where the knees were as high as the hip caused LBP in 25 subjects (83,33%). Prolonged sitting of 7-8 hours contributed in 21 subjects (70%). The alternative Fisher exact test showed a strong correlation (P=0.014) between prolonged sitting and LBP in computer operators of travel agencies. An upright sitting position (P=0.028) and the sitting position where knees were as high as the hips (P=0.003) were also correlated with LBP.Keywords: low back pain, computer operator, sitting position, knee positionAbstrak: Low Back pain (LBP) merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam masyarakat. LBP sering menyebabkan penurunan produktivitas kerja juga disabilitas. Penyebab LBP yang paling sering ialah duduk terlalu lama, sikap duduk yang tidak tepat, postur tubuh yang tidak ideal, aktivitas berlebihan, serta trauma. Pekerjaan yang berisiko menimbulkan LBP antara lain yang memiliki jam kerja panjang seperti operator komputer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama duduk dan angka kejadian LBP pada operator komputer perusahaan travel di Manado dengan menggunakan metode analitik observasional dan desain potong lintang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner kemudian dianalisis. Hasil penelitian memperlihatkan dari jumlah 30 subjek penelitian, 27 orang (90%) mengalami LBP. Posisi duduk tegak merupakan posisi terbanyak yang menimbulkan LBP pada 18 subjek penelitian (60%). Posisi lutut sejajar pinggul menimbulkan LBP pada 25 subjek penelitian (83,33%). Lama duduk 7-8 jam paling banyak menimbulkan LBP yaitu pada 21 subjek penelitian (70%). Uji alternatif Fisher exact memperlihatkan adanya korelasi kuat (P=0,014) antara lama duduk dan kejadian LBP pada operator komputer perusahaan travel. Posisi duduk tegak (P=0,028) dan posisi lutut sejajar pinggul (P=0,003) juga berkorelasi dengan LBPKata kunci: low back pain, lama duduk, operator komputer, posisi duduk, posisi lutut,
Hubungan kadar hematokrit dengan tekanan darah pada pria dewasa muda obesitas sentral Puspitarinie, Nadiah D.; Wantania, Frans E.; Rotty, Linda W.A.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14455

Abstract

Abstract: Abdominal obesity is the accumulation of body fat in the abdomen that is most prevalent in males. The prevalence of abdominal obesity in Indonesia increased from 2007 (18.8%) to 2013 (26.6%) and North Sulawesi was the second rank of abdominal obesity among other provinces. Some studies suggested that there was a relationship between hematocrit, blood viscosity, and blood pressure, however, there is no study about these three parameters in young adult males with abdominal obesity so far. This study was aimed to determine the relationship between hematocrit and systolic blood pressure (SBP) as well as diastolic blood pressure (DBP) in young adult males with abdominal obesity. This was a cross-sectional analytical study in 42 male students aged 18-40 years of Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi Manado. The Spearman correlation test showed r= 0.208 and p= 0.186 for hematocrit level and SBP; and r= 0.339 and p= 0.028 for hematocrit level and DBP. Conclusion: There was a significant positive relationship between hematocrit and diastolic blood pressure but not with systolic blood pressure in male young adults with abdominal obesity.Keywords: blood pressure, hematocrit, abdominal obesity Abstrak: Obesitas sentral adalah penumpukan lemak dalam tubuh di bagian perut, paling banyak terjadi pada pria. Prevalensi obesitas sentral di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2007 (18,8%) hingga tahun 2013 (26,6 %) dimana Sulawesi Utara merupakan provinsi kedua tertinggi dengan obesitas sentral pada tahun 2013. Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kadar hematokrit, viskositas darah, dan tekanan darah namun penelitian secara khusus pada pria dewasa muda dengan obesitas sentral belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar hematokrit dengan tekanan darah sistolik (TDS) dan diastolik (TDD) pada pria dewasa muda obesitas sentral. Jenis penelitian ialah analitik korelasi dengan desain potong lintang pada 42 mahasiswa pria usia 18-40 tahun di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil uji korelasi Spearman mendapatkan nilai r= 0,208 dan nilai p= 0,186 pada kadar hematokrit dengan TDS. Hasil uji korelasi Spearman mendapatkan nilai r= 0,339 dan nilai p= 0,028 pada kadar hematokrit dengan TDD. Simpulan: Pada pria dewasa muda dengan obesitas sentral didapatkan hubungan bermakna antara kadar hematokrit dengan tekanan darah diastolik namun tidak dengan tekanan darah sistolik. Kata kunci: tekanan darah, hematokrit, obesitas sentral

Page 63 of 108 | Total Record : 1074