cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal e-Biomedik
ISSN : 2337330X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal eBiomedik memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus dengan cakupan bidang kedokteran dari ilmu dasar sampai dengan aplikasi klinis.
Arjuna Subject : -
Articles 879 Documents
GAMBARAN KADAR GLUKOSA DARAH PUASA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI ANGKATAN 2011 DENGAN INDEKS MASSA TUBUH ≥ 23 kg/m2 Rorong, Gracia; Kaligis, Stefana; Purwanto, Diana
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4362

Abstract

Abstract: Glucose is a main compound that has important role in preparation and development  of energy in human body. Blood glucose level is the amount of glucose in the blood. One of the factors that affects blood glucose level is body weight. Body weight is affected by several factors, such as aged, gender, and physical activities. Overweight may cause insulin resistance, results in increasing of the blood glucose level. This study aimed to describe the fasting blood glucose level at students Faculty of Medicine year 2011 Sam Ratulangi University with Body Mass Index (BMI) ≥23 kg/m2. Research method used for this study was cross sectional descriptive survey with purposive sampling method. From 26 respondents, 12 overweight (BMI ≥23 kg/m2) respondents (46,15%) had average fasting blood glucose level 85,4 mg/dL and 14 obese (BMI ≥25 kg/m2) respondents (53,85%) had average fasting blood glucose level 86 mg/dL. Conclusion: the description of fasting blood glucose level at students Faculty of Medicine year 2011 Sam Ratulangi University with Body Mass Index (BMI) ≥23 kg/m2 is at normal level (80-100 mg/dL). Keywords: BMI ≥23 kg/m2, Fasting blood glucose, students year 2011     Abstrak: Glukosa merupakan suatu molekul utama yang berperan penting dalam penyediaan dan pembentukan energi di dalam tubuh. Kadar glukosa darah adalah jumlah kandungan glukosa dalam darah. Salah satu faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah adalah berat badan. Berat badan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain usia, jenis kelamin, dan aktivitas fisik. Kelebihan berat badan dapat menyebabkan resistensi insulin sehingga kadar glukosa dalam darah meningkat. Peningkatan kadar glukosa darah merupakan salah satu penanda sindroma metabolik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar glukosa darah puasa pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Angkatan 2011 dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) ≥23 kg/m2. Jenis penelitian berupa penelitian survey deskriptif cross sectional dengan metode purposive sampling. Sampel penelitian sebanyak 26 orang responden. Hasil penelitian ini didapatkan 12 orang responden (46,15%) yang overweight (IMT ≥23 kg/m2) memiliki rata-rata kadar glukosa darah puasa 85,4 mg/dL dan 14 orang responden (53,85%) yang obesitas (IMT ≥25 kg/m2) memilki rata-rata kadar glukosa darah puasa 86 mg/dL. Simpulan: semua responden mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Angkatan 2011 memiliki kadar glukosa darah puasa normal (80-100 mg/dL). Kata Kunci: Glukosa darah puasa, IMT ≥23 kg/m2, mahasiswa angkatan 2011
Indikator yang Membedakan Gejala Psikotik dengan Pengalaman Spiritual dalam Perspektif Neurosains (Neuro-Anatomi) Lumingkewas, Priscilla E.; Pasiak, Taufiq F.; Ticoalu, Shane H.R.
e-Biomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i2.18515

Abstract

Abstract: Psychotic disorder is a mental disorder characterized by hallucinations, delusions, catatonic behavior, chaotic behavior, chaotic speaking and are generally accompanied by poor performance. Spirituality is a belief related to the Almighty and the Creator. Current neuroscience approaches have touched the spiritual dimension, well-known as spiritual neuroscience. This term is used to describe human spirituality in terms of health and medicine perspectives. People with advanced spiritual personality are often regarded as those who have mental illness by the people around them. This study was aimed to determine the difference between psychotic symptoms and spiritual experience in the perspective of neuroscience. This was a descriptive study with a retrospective approach. We used research articles in journals pertaining to psychotic symptoms, spiritual experiences, and neuroscience, in addition searching for indicators that could help to differentiate the psychotic symptoms and spiritual experiences using a systematic review technique. Conclusion: There is a difference in brain activity between people who had spiritual experiences and those with psychotic symptoms.Keywords: neuroscience, spiritual, psychotic Abstrak: Gangguan psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya halusinasi, waham, perilaku kataton, perilaku kacau, pembicaraan kacau yang pada umumnya disertai tilikan yang buruk. Spiritualitas merupakan keyakinan yang berkaitan dengan Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta. Saat ini pendekatan neurosains telah menyentuh dimensi spiritual, yang lebih dikenal dengan istilah neurosains spiritual. Istilah ini dipakai untuk menjelaskan spiritualitas manusia dipandang dari sisi perspektif kesehatan dan kedokteran. Orang dengan kepribadian spiritual yang maju sering dianggap memiliki penyakit mental oleh orang-orang di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara gejala psikotik dengan pengalaman spiritual dalam perspektif neurosains. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan cara mempelajari penelitian-penelitian yang telah dimuat dalam jurnal-jurnal yang membahas tentang gejala psikotik, pengalaman spiritual, dan neurosains serta mencari indikator yang dapat membedakan, dengan teknik telaah sistematik. Simpulan: Terdapat perbedaan aktivitas otak pada orang yang sementara mengalami pengalaman spiritual dengan orang yang mengalami gejala psikotik.Kata kunci: neurosains, spiritual, psikotik
GAMBARAN HISTOPATOLOGIK MUKOSA LAMBUNG TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI KEBISINGAN DAN DIBERIKAN RANITIDIN Sembor, Patricia
e-Biomedik Vol 1, No 2 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i2.5485

Abstract

Abstrak: Bising memegang peranan yang sangat besar dalam menyebabkan stres. Stres bisa meningkatkan produksi asam lambung. Ranitidin merupakan obat untuk saluran cerna yang menghambat reseptor H2 secara selektif dan reversibel dalam meningkatkan produksi asam lambung. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh kebisingan terhadap gambaran histopatologik mukosa lambung dan efek pemberian ranitidin terhadap gambaran histopatologik mukosa lambung tikus wistar yang diinduksi kebisingan. Penelitian eksperimental ini dilakukan selama 5 bulan dengan menggunakan 25 ekor tikus wistar yang dibagi dalam 5 kelompok (masing-masing terdiri dari 5 ekor tikus). Kelompok 1 adalah kontrol negatif (KN). Kelompok 2 (P1) diinduksi bising selama 12 hari. Kelompok 3 (P2) diinduksi bising dan diberikan ranitidin secara bersamaan selama 12 hari. Kelompok 4 (P3) diinduksi bising selama 12 hari dan tidak mendapat perlakuan apapun pada 7 hari berikutnya. Kelompok 5 (P4) diinduksi bising selama 12 hari dan diberikan ranitidin pada 7 hari berikutnya. Bising diberikan dengan intesitas 90-95 dB selama 8 jam sehari. Ranitidin diberikan dengan dosis 0,9mg/hari. Hewan uji diterminasi dengan cara dekapitasi, kemudian organ lambung diambil dan diproses untuk dibuat preparat histologi dengan pengecatan HE. Analisis histopatologik dilakukan dengan menggunakan mikroskop cahaya di laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Kelompok KN memberikan gambaran mikroskopik lambung normal. Kelompok P1, P3, dan P4 secara mikroskopik menunjukkan hasil yang hampir sama, yakni infiltrasi sel radang PMN, edema, dan vasodilatasi pembuluh darah pada mukosa lambung. Kelompok P2 menunjukkan infiltrasi sel radang PMN, edema dan vasodilatasi yang lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok yang lain. Tikus yang diinduksi kebisingan menunjukkan tanda-tanda gastritis akut secara histopatologik. Pemberian ranitidin bersamaan dengan induksi kebisingan lebih baik dibandingkan dengan pemberian ranitidin setelah induksi kebisingan dalam terapi gastritis akibat stres oleh kebisingan. Kata kunci: bising, gastritis, ranitidin.   Abstract: Noise has a big role in causing stress. Stress can increase gastric acid production. Ranitidine is a selective and reversible histamine H2-receptor antagonist that inhibits gastric acid production. The objectives of this research were to study the histopathology of noise-exposed gastric mucous and the effects of ranitidine on histopathology noise-exposed gastric mucous. This study was an experimental research. The research was conducted in 5 months. 25 healthy rats were divided into 5 groups, 5 rats for each group. Group 1 (KN) was a controlled group. Group 2 (P1) was exposed by noise in 12 days. Group 3 (P2) was exposed by noise and ranitidine in 12 days. Group 4 (P3) was exposed by noise in 12 days and not given any treatment for the next 7 days. Group 5 (P4) was exposed by noise in 12 days and ranitidine for the next 7 days. Noise was given with the intensity of 90-95 decibel. Ranitidine was given with doses of 0.9 mg/day. The data collection was conducted after the latest treatment for each group by taking out the gastric of the sacrificed rats. Gastric microscopic slides were prepared using paraffin method and stained with hematoxylin eosin staining. Gastric specimen was studied using light microscopy. Group 1 showed a normal histology of gastric. Group 2, 4, and 5 showed the infiltration of polymorph nuclear leukocytes (PMN) cell, edema, and vasodilatation on the gastric mucous. Group 3 showed less infiltrations of polymorph nuclear leukocytes (PMN) cell, edema, and vasodilatation on the gastric mucous compared to the other 3 groups. Histopathology study showed that signs of acute gastritis present in the noise-exposed gastric mucous. Ranitidine treatment together with the noise exposed still showed the signs of acute gastritis although less PMN cell present. Keywords: gastritis, noise, ranitidine.
Pengaruh lamanya paparan energi panas terhadap suhu tubuh dengan metode mandi uap pada wanita dewasa Wangean, Lesley Z.; Lintong, Fransiska; Rumampuk, Jimmy F.
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.10871

Abstract

Abstract: In the medical field, heat energy has been often used in the treatment of various types of diseases. The steam bath is one example of the methods of treatment with heat energy by conduction. If there is a temperature difference between two objects, the heat is transferred by conduction from the hotter object to the colder object. This study aimed to obtain the effect of steam on changes of body temperature during a 20-minute steam bath. This was an analytical study with a cross sectional design. Samples were obtained by using random sampling. There were 40 adult women aged 20-25 years who met the inclusion criteria: having a normal BMI, and without hypertension, asthma, or heart disease. The study was conducted at Tikala Shiatsu Sario Manado. Data were analyzed by using SPSS and Paired T Test. The results showed a very significant difference in temperatures before and after the steam bath in the 10th minute (p < 0.001), 15th minute (p < 0.001), and the 20th minute (p < 0.001). Conclusion: There was a very significant difference between the body temperatures before and after the steam bath.Keywords: temperature , steam bathAbstrak. Dalam bidang kedokteran, energi panas sudah sering dimanfaatkan dalam penyembuhan berbagai macam jenis penyakit. Mandi uap termasuk dalam salah satu contoh pengobatan energi panas dengan metoda konduksi. Bila terdapat perbedaan temperatur antara kedua benda maka panas akan ditransfer secara konduksi yaitu dari benda yang lebih panas ke benda yang lebih dingin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mandi uap terhadap perubahan suhu tubuh selama mandi uap selama 20 menit. Jenis penelitian ini yaitu analitik dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel secara simple random sampling berjumlah 40 orang wanita dewasa usia 20-25 tahun yang memenuhi kriteria inklusi yaitu tidak terdapat penyakit Hipertensi, Asma dan Penyakit Jantung, serta memiliki IMT normal. Lokasi penelitian bertempat di Tikala Shiatsu Sario Manado. Data dianalisis dengan SPSS dan Uji T Berpasangan. Hasil penelitian mendapatkan adanya perbedaan yang sangat bermakna antara suhu sebelum dan sesudah mandi uap pada menit ke-10 (p < 0,001), menit ke-15 (p < 0,001), dan menit ke-20 (p < 0,001). Simpulan: Terdapat perbedaan yang sangat bermakna antara hasil pengukuran suhu tubuh sebelum mandi uap dan sesudah mandi uap.Kata kunci: suhu tubuh, mandi uap
UJI EFEK ANALGESIK EKSTRAK DAUN MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa) PADA MENCIT (Mus musculus) Tone, Dinar Salsabila; Mambo, Christi
e-Biomedik Vol 1, No 2 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i2.3249

Abstract

ABSTRACTThe plant of Mahkota Dewa is a traditional plant which is used as a medicinal plant whose benefits are located in almost parts where it contains flavonoid and saponin compounds that have a variety of effects and one of them is analgesic effect. This research aims to determine the analgesic effect of the extract of Mahkota Dewa leaf (Phaleria macrocarpa) in mices (Mus musculus). This research uses an experimental method using nine male and female mices which are divided into three groups: the positive control group that was given aspirin and the negative control that was given aquades and the treatment group that was given the extract of the Mahkota Dewa leaf. The research is done by giving the stimulus of pain in the form of heat 55o.C and then observes the response of the tested animal such as jumping or licking its legs and at the minute of 0 before treatment, and at the minutes of 30, 60, 90, 120 after the treatment. The average value of the number of respons of mices which were given the extract of the Mahkota Dewa leaf decreases from the 30th minute until the 90th minute. Conclusion. The extract of Mahkota Dewa leaf has an analgesic effect in Mouse.Key Word: Analgesic, Aspirin, Mahkota Dewa leaf (Phaleria macrocarpa)ABSTRAKTanaman mahkota dewa merupakan tumbuhan tradisional yang digunakan sebagai tumbuhan obat yang manfaatnya terletak hampir di seluruh bagian dimana di dalamnya terkandung senyawa-senyawa flavonoid dan saponin yang mempunyai bermacam-macam efek dan salah satunya adalah efek analgesik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek analgesik dari ekstrak daun mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) pada mencit (Mus musculus). Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan menggunakan 9 ekor mencit jantan dan betina yang dibagi atas 3 kelompok yaitu kelompok kontrol positif yang diberi obat aspirin, kontrol negatif yang diberi aquades dan kelompok perlakuan yang diberi ekstrak daun mahkota dewa. Penelitian dilakukan dengan cara memberi rangsangan nyeri berupa suhu panas 55o.C kemudian mengamati respon hewan uji berupa melompat dan atau menjilat kaki pada menit ke-0 sebelum perlakuan, dan pada menit ke-30, 60, 90, 120 setelah perlakuan. Nilai rata-rata jumlah respon mencit yang diberikan ekstrak daun mahkota dewa mengalami penurunan dari menit ke-30 sampai menit ke-90. Kesimpulan. Ekstrak daun mahkota dewa memiliki efek analgesik pada mencit.Kata kunci: Analgesik, Aspirin, Daun Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa)
PENGARUH LATIHAN PEREGANGAN TERHADAP FLEKSIBILITAS LANSIA Ibrahim, Renold C.; Polii, Hedison; Wungouw, Herlina
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.8074

Abstract

Abstract: Flexibilityis the ability of a joint, muscles, and ligaments around it to move free lyandcomfortably in the space for the expected maximum. Flexibility is influenced by many factors. These factors are the muscles, tendons, ligaments, age, gender, body temperature and joint structure. Less flexibility may lead toa slower movement and injury pronetomuscles, ligaments, andothertissues. With increasing age, the person’s flexibility will reduce. The best way to increase the flexibility is stretching exercises. This study aimed to find the effect of stretching exercises for flexibility among the eldery. This was an experimental field study with pre-post test design. Samples were 30 elderly people who were in BPLU Senjah Cerah, Paniki Bawah. Samples were measured by using a goniometer flexibility before doing stretching exercises. After stretching exercises for 3 weeks, they were measured again with the goniometer. The results showed that stretching influenced the flexibility of the elderly (p<0.05), except the glexibility of the right arm flexion did not increase p =0.134(p>0.05). Conclusion: Stretching exercises can improve joint flexibility.Keywords: flexibility, stretching exercises, elderlyAbstrak: Fleksibilitas merupakan kemampuan dari sebuah sendi,otot dan ligamen di sekitarnya untuk bergerak dengan leluasa dan nyaman dalam ruang gerak maksimal yang diharapkan. Fleksibiltas dipengaruhi oleh banyak factor yaitu otot, tendon, ligamen, usia, jenis kelamin, suhu tubuh dan struktur sendi. Fleksibilitas yang kurang dapat menyebabkan gerakan lebih lamban dan rentan terhadap cedera otot, ligamen, dan jaringan lainnya. Dengan bertambahnya usia maka fleksibilitas seseorang akan berkurang. Cara terbaik meningkatkan fleksibilitas ialah dengan latihan peregangan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh latihan peregangan terhadap fleksibilitas. Penelitian ini bersifat eksperimental lapangan dengan rancangan pre-post test design. Sampel berjumlah 30 orang Lansia yang berada di BPLU Senjah Cerah, Paniki Bawah. Sampel di ukur fleksibilitasnya dengan menggunakan goniometer terlebih dahulu sebelum melakukan latihan peregangan Setelah latihan peregangan selama 3 minggu dilakukan pengukuran kembali dengan menggunakan goniometer. Hasil yang didapatkan terdapat pengaruh peregangan lingkup gerak sendi pada fleksibilitas lansia (p<0,05) kecuali pada fleksi lengan dextra tidak terjadi peningkatan fleksibilitas diperoleh nilai p = 0,134 (p>005). Simpulan: Latihan Peregangan dapat meningkatkan Fleksibilitas Sendi.Kata kunci: fleksibilitas, latihan peregangan, lansia
Hubungan diabetes melitus dengan kualitas tidur Tentero, Inry N.; Pangemanan, Damayanti H.C.; Polii, Hedison
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.14626

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus (DM) is a serious problem with the incidence rising sharply. DM can affect almost all segments of society throughout the world. The number of people with diabetes continues to grow from year to year due to poor lifestyle. People today are less likely to move and have unhealthy eating patterns. High blood sugar levels are disturb concetration to sleep, due to frequent urge to urinate during the night. Sleep disorder is a common problem that occurs in patients with DM and DM reverse can also cause sleep disturbance due to nocturia and pain complaints. The purpose of this study was to determine the relationship of the DM with the quality of sleep in out patients with DM who in the Pancaran Kasih General Hospital Manado. This research is descriptive analytic with cross-sectional study. The study population was the out patients with DM in Pancaran Kasih General Hospital Manado totaling 456 people. Samples were taken using total sampling technique as much as 78 respondents who met the inclusion criteria. The data were analyzed using Pearson's correlation to determine whether there is a correlation between diabetes mellitus and sleep quality by using the application of computer programs. There is a correlation between Diabetes Mellitus with the quality of sleep in patients of Pancaran Kasih General Hospital Manado.Keywords: diabetes mellitus, sleep quality, people with diabetes mellitus Abstrak: Diabetes Melitus (DM) merupakan masalah serius dengan angka kejadian yang meningkat tajam. DM dapat menyerang hampir semua golongan masyarakat di seluruh dunia. Jumlah penderita DM terus bertambah dari tahun ke tahun karena pola hidup manusia zaman sekarang yang cenderung jarang bergerak dan pola makan yang tidak sehat. Kadar gula darah yang tinggi sangat mengganggu konsentrasi untuk tidur nyenyak, dikarenakan seringnya keinginan untuk buang air kecil pada malam hari. Kadang muncul rasa haus yang berlebihan. Gangguan tidur merupakan masalah umum yang terjadi pada pasien DM dan sebaliknya DM juga dapat menimbulkan gangguan tidur akibat adanya keluhan nocturia dan nyeri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan DM dengan kualitas tidur pada pasien DM yang melakukan pemeriksaan rawat jalan di poliklinik penyakit dalam Rumah Sakit Umum Pancaran Kasih Manado. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan rancangan cross-sectional study. Populasi penelitian adalah semua pasien DM yang melakukan pemeriksaan rawat jalan di Rumah Sakit Umum Pancaran Kasih Manado yang berjumlah 456 orang. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik total sampling sebanyak 78 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Data-data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan korelasi Pearson untuk mengetahui apakah ada hubungan antara diabetes mellitus dan kualitas tidur dengan menggunakan aplikasi dari program komputer. Terdapat hubungan antara Diabetes Mellitus dengan kualitas tidur pada pasien Rumah Sakit Umum Pancaran Kasih GMIM Manado. Kata kunci: diabetes melitus, kualitas tidur, penderita diabetes melitus
GAMBARAN HISTOPATOLOGI LAMBUNG TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DIBERIKAN LENGKUAS (Alpinia galanga Willd) SETELAH DIINDUKSI OLEH ASAM MEFENAMAT Pasaribu, Juita; Loho, Lily; Lintong, Poppy
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4570

Abstract

Abstrak: Gastritis akut merupakan proses inflamasi yang bersifat akut dan biasanya terjadi pada bagian permukaan mukosa lambung. Penyakit ini biasanya disebabkan karena banyak faktor salah satunya yaitu penggunaan asam mefenamat dalam dosis yang berlebihan. Pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya didapatkan bahwa lengkuas dapat mengurangi terjadinya radang akut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran histopatologi lambung tikus wistar yang diberikan lengkuas setelah diinduksi dengan asam mefenamat. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan sampel 11 ekor tikus wistar yang dibagi dalam 4 kelompok perlakuan. Kelompok A tidak diberikan perlakuan. Kelompok B diberikan asam mefenamat 10 mg selama 7 hari. Kelompok C diberikan asam mefenamat 10 mg selama 7 hari kemudian diberikan perasan lengkuas selama 7 hari. Kelompok D diberikan asam mefenamat 10 mg kemudian tidak diberikan perlakuan selama 7 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran mikroskopik lambung tikus wistar pada kelompok C terdapat sel-sel radang PMN yang lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok B dan D. Simpulan: lengkuas dapat mengurangi sel-sel radang PMN pada mukosa lambung yang diberikan dengan asam mefenamat. Kata kunci: Lengkuas, Asam Mefenamat, Gastritis akut.   Abstract : acute gastritis is an acute inflammatory process normally occurring in the mucosal lining of the stomach. This disease is caused by a variety of factors, one of which is the use of mefenamat acid in large doses. Previous research has revealed that galangal can be used to reduce acute inflammation. The objective of this research was to reveal the histopathological pictures of stomach of wistar rats that treatment with galangal after induce by mefenamat acid. This study is an experimental, employing 11 wistar rats which were assigned for four treatment groups. Group A was the control group in which the rats received no treatment. Rats in group B were administered mefenamat acid 10 mg for 7 days. In group C, the rats were also administered mefenamat acid 10 mg for 7 days and then received galangal distillation for 7 days. In group D, rats were administered mefenamat acid 10 mg for 7 days and then for 7 days without receiving anymore mefenamat acid or galangal distillation. Results showed that microscopic pictures of stomach of wistar rats in group C were presented with PMN inflammatory cells fewer than rats in group B and D. Conclusion: galangal can reduce PMN inflammatory cells in mucosal lining of the stomach exposed to mefenamat acid. Key words: galangal, mefenamat acid,  acute gastritis.
Isolasi dan Identifikasi Bakteri Resisten Arsen pada Sedimen Tanah di Pesisir Pantai Ratatotok Hidayat, Muh. I.; Manampiring, Aaltje; Kepel, Billy J.
e-Biomedik Vol 6, No 2 (2018): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v6i2.21995

Abstract

Abstract: Arsenic is classified chemically as a metalloid which has both properties of metal and nonmetal. Production and application of arsenic in industries such as mining is a source of enviromental pollution. Therefore, agents for remediation process are needed. Arsenic resistant bacteria become a target of many studies related to its utilization as bioremediation agent. This study was aimed to obtain arsenic resistant bacteria identificated from soil sediment in the coastal area of Ratatotok Beach. This was an explorative descriptive study. Samples were colonies of arsenic resistant bacteria found in the soil sediment of the coastal area of Ratatotok Beach. The results of arsenic-resistant test showed that there were arsenic-resistant bacteria in every concentration. The morphological, physiological, and biochemical tests obtained four arsenic-resistant bacterial genus, namely Staphylococcus, Klebsiella, Hafnia, and Enterobacter. Conclusion: Four genera of arsenic-resistant bacteria identified in the sediment of the coastal area of Ratatotok Beach, as follows: Staphylococcus, Klebsiella, Hafnia, and Enterobacter.Keywords: arsenic, sediment, arsenic resistant bacteria Abstrak: Arsenik diklasifikasikan secara kimia sebagai metaloid yaitu memiliki kedua sifat logam dan bukan logam. Produksi dan penggunaan arsen di dalam kegiatan industri seperti industri pertambangan, merupakan salah satu sumber pencemarannya di lingkungan. Arsen merupakan polutan bagi lingkungan sehingga diperlukan suatu agen untuk proses remediasi. Bakteri resisten arsen menjadi target dari banyak penelitian dalam rangka pemanfaatannya sebagai agen bioremediasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis bakteri resisten arsen yang teridentifikasi pada sedimen tanah di pesisir pantai Ratatotok. Jenis penelitian yaitu dekriptif eksploratif. Sampel yang digunakan yaitu koloni bakteri resisten arsen yang terdapat dalam sedimen tanah pesisir pantai Ratatotok. Hasil uji resistensi arsen mendapatkan adanta bakteri resisten arsen pada setiap konsentrasi uji. Setelah dilakukan uji morfologi, fisiologi, dan biokomia didapatkan empat genus bakteri yang resisten terhadap arsen: Staphylococcus, Klebsiella, Hafnia, dan Enterobacter. Simpulan: Terdapat empat genus bakteri resisten arsen yang teridentifikasi dalam sedimen tanah pesisir pantai Ratatotok, yaitu Staphylococcus, Klebsiella, Hafnia, dan Enterobacter.Keyword: arsen, sedimen tanah pesisir, bakteri resisten arsen
KETAHANAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN NYAMUK Aedes spp PADA BERBAGAI JENIS AIR PERINDUKAN Jacob, Aprianto; Pijoh, Victor D.; Wahongan, G. J. P.
e-Biomedik Vol 2, No 3 (2014): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v2i3.6039

Abstract

Abstract: In Indonesia there are two vectors are known, the main vector Aedes aegypti and Aedes albopictus as a potential vector, Aedes spp mosquito breeding varies but generally prefer clear water reservoirs. Eggs Aedes spp mosquitoes can hatch in the sewage, although not known survival and growth of larvae into pupae and adult mosquitoes. Objective: To determine the survival and growth of Aedes spp in various types of water breeding. Methods: Four types of breeding water taken directly from the settlement, and immediately used. Eggs Aedes spp laboratory strains incubated in water media. Larvae reared until the age of 4 days. A sample of 25 healthy larvae included six types of breeding water. The number of surviving larvae, pupae and adult mosquitoes be observed and counted every day for 15 days. Data security and growth of larvae processed manually in the form of percentages and graphs. Results: Aedes spp shown to survive in water dug wells (SGL), sewage water (sewer), as well as tap water. The presence of mosquitoes living in the sewer water can last up to 15 days with the same amount of mosquitoes from the first day until the last day. This phenomenon is different in the SGL and PAM water where mosquitoes can survive until day 15, although with a small percentage. Aedes spp proved unable to survive in wastewater soap. Conclusion: Water drains were left in place and clear become breeding places for Aedes spp good to note that its presence in the cleaning mosquito breeding. Keywords: The larvae of Aedes spp, life, death, pupa, adult mosquitoes, breeding water.     Abstrak: Di Indonesia dikenal ada dua vektor, vektor utama nyamuk  Aedes aegypti dan Aedes albopictus sebagaivektor potensial, perindukan nyamuk Aedes spp sangat bervariasi tetapi umumnya lebih menyukai tempat penampungan air jernih. Telur Aedes sppdapat menetas pada air comberan,meskipun belum diketahui ketahanan hidup dan pertumbuhan larva menjadi pupa dan nyamuk dewasa. Tujuan: mengetahui ketahanan hidup dan pertumbuhan nyamuk Aedes spp pada berbagai jenis air perindukan. Metode: Empat jenis air perindukan diambil secara langsung dari pemukiman penduduk dan langsung digunakan. Telur Aedes spp strain laboratorium ditetaskan pada media air bersih. Larva dipelihara hingga berumur 4 hari. Sampel sebanyak 25 ekor larva sehat dimasukkan ke enam jenis air perindukan. Jumlah larva yang bertahan hidup, menjadi pupa dan nyamuk dewasa diamati dan dihitung setiap hari selama 15 hari. Data ketahanan dan pertumbuhan larva diolah secara manual dalam bentuk persentase dan grafik. Hasil: Nyamuk Aedes spp terbukti dapat bertahan hidup pada air sumur gali (SGL), air comberan (got), serta air PAM.  Keberadaan nyamuk hidup pada air got  mampu  bertahan  sampai 15 hari dengan jumlah nyamuk yang sama dari hari pertama sampai hari terakhir. Fenomena ini berbeda pada air SGL dan PAM dimana nyamuk mampu bertahan sampai hari ke-15 meskipun dengan persentase kecil. Nyamuk Aedes spp terbukti tidak dapat bertahan hidup pada air limbah sabun. Simpulan:  Air got yang didiamkan dan jernih menjadi tempat perindukan yang baik bagi Aedes spp sehingga keberadaannya perlu diperhatikan dalam pembersihan sarang nyamuk. Kata kunci: Larva Aedes spp, hidup, mati, pupa, nyamuk dewasa, air perindukan.