cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal e-Biomedik
ISSN : 2337330X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal eBiomedik memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus dengan cakupan bidang kedokteran dari ilmu dasar sampai dengan aplikasi klinis.
Arjuna Subject : -
Articles 879 Documents
Kadar Serum Glutamate Piruvate Transaminase Pada Peminum Minuman Beralkohol di Kelurahan Tosuraya Selatan Rompas, Deyana G.; Kaligis, Stefana H.M.; Assa, Youlla
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.28711

Abstract

Abstract: Nowadays alcoholism is a problem in every country in the world. Liquor contains ethanol which can cause liver damage mainly hepatocytes then can lead to the increase of transaminase enzymes produced by the liver. One of the transaminase enzymes that used to measure is Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT). This study aim to determine the levels of Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) in alcoholic beverage consumers in South Tosuraya Village. This was a descriptive study with a cross-sectional design and was conducted from September to December 2019. By using total sampling method, 50 subjects were willing to participate in this study. Blood samples taken form the subjects then examined at Noongan District Hospital Laboratory. The results from 50 subjects showed most of the subjects (80%) in this study were male (40 subjects). The results also showed 44 subjects (88%) had normal SGPT levels and 6 subjects (12%) had SGPT levels above the normal range. Based on duration of alcohol drinking, the average levels of SGPT showed results as followed: subjects who drank liquor for less than 11 years: 22.7 U/L, between 11 to 15 years: 61 U/L, and more than 15 years: 27.38 U/L. In conclusion, it can be concluded that the majority of the subjects (88%) had normal SGPT levels.Keywords: serum glutamic pyruvic transaminase, alcohol, alcohol drinkers   Abstrak: Saat ini penyalahgunaan alkohol menjadi masalah pada hampir setiap negara di dunia. Minuman keras atau minuman beralkohol merupakan minuman yang mengandung etanol. Etanol menyebabkan kerusakan hepar, tepatnya kerusakan hepatosit (sel hepar) yang mengakibatkan terjadinya kenaikan enzim transaminase yang diproduksi oleh hati. Salah satu enzim yang diperiksa untuk mengetahui adanya kenaikan enzim transaminase adalah enzim Serum Glutamate Piruvate Transaminase (SGPT). Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Serum Glutamate Piruvate Transaminase (SGPT) pada peminum minuman beralkohol di Kelurahan Tosuraya Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional dan dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Desember 2019. Dengan menggunakan metode total sampling, didapatkan 50 subjek penelitian yang bersedia dilakukan pengambilan darah. Sampel darah kemudian diperiksa di laboratorium RSUD Noongan. Dari 50 subjek penelitian, subjek terbanyak(80%) berjenis kelamin laki-laki (40 orang). Hasil penelitian juga menunjukkan, sebanyak 44 subjek (88%) memiliki kadar SGPT normal dan sebanyak 6 subjek (12%) memiliki kadar SGPT diatas batas normal. Berdasarkan lamanya meminum alkohol, rata-rata kadar SGPT menunjukkan hasil sebagai berikut: subjek yang meminum minuman beralkohol selama kurang dari 11 tahun: 22,7 U/L, antara 11 sampai 15 tahun: 61 U/L, dan lebihdari15 tahun: 27,38 U/L. Berdasarkan hasil penelitian tentang kadar Serum Glutamate Piruvate Transaminase (SGPT) pada peminum minuman beralkohol di Kelurahan Tosuraya Selatan disimpulkan bahwa sebagian besar responden (88%) memiliki kadar SGPT normal.Kata kunci: serum glutamate piruvate transaminase, alkohol, peminum alkohol
Survei Penyakit Kecacingan Pada Pekerja Tambang Tradisional di Desa Soyoan Kecamatan Ratatotok Kabupaten Minahasa Tenggara Tuuk, Herlisa A.V.; Pijoh, Victor D.; Bernadus, Janno B.B.
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.28693

Abstract

Abstract: Helminthiasis is an infection that generally occurs in humans and is often caused by worm parasites, specifically intestinal nematodes, that are transmitted into the body through soil or so-called Soil Transmitted Helminths (STH). Traditional miners are at high risk to suffer from helminthiasis caused by STH due to frequent contact with soil. Soyoan Village was chosen based on an initial survey. It was found that the majority of its population are traditional gold miners.  Most mining activities still use simple safety equipment, along with poor sanitation in the area and miners having frequent contact with the ground.  If the helminthiasis is left alone, in addition to causing anemia and malnutrition, it can also cause workloads that inhibit concentration, a decrease in work ability and eventually death. This study to identify helminthiasis in traditional mining workers. A total of 16 miners (18%) out of 86 miners suffered from helminthiasis. All positive samples were infected by STH, specifically hookworm.  The highest number of respondents were male with a number of 85 people (99%), and there was only 1 female (1%). Most respondents were in the age group of 26-35 with a total of 27 people (31%). A total of 16 respondents (18%) had helminthiasis infection caused by STH, specifically hookworm. In conclusion, helminthiasis prevalence is still relatively low, so disease control can still be done easily.Keywords: Helminthiasis, traditional miners  Abstrak: Kecacingan merupakan infeksi yang umumnya terjadi pada manusia dan paling sering disebabkan oleh parasit cacing jenis nematoda usus yang ditularkan  ke dalam tubuh melalui tanah atau disebut Soil Transmitted Helminths (STH). Profesi penambang tradisional termasuk kelompok beresiko tinggi mengalami infeksi kecacingan yang disebabkan oleh STH karena sering berkontak dengan tanah. Desa Soyoan dipilih berdasarkan survei awal, didapatkan bahwa mayoritas penduduknya adalah penambang emas  tradisional. Aktifitas pertambangan kebanyakan masih menggunakan alat pengaman diri seadanya, sanitasi yang buruk dan sering berkontak dengan tanah. Apabila infeksi kecacingan dibiarkan maka selain menyebabkan anemia, dan malnutrisi juga dapat menimbulkan beban kerja yang membuat konsentrasi terhambat, terjadinya penurunan kemampuan kerja sampai kematian. Penambang yang mengalami infeksi kecacingan sebanyak 16 orang (18%) dari 86 sampel subyek penelitian. Semua sampel yang positif terinfeksi oleh cacing STH jenis cacing tambang. Jumlah responden  terbanyak berjenis kelamin laki-laki sebanyak 85 orang (99%) dan jenis kelamin perempuan 1 orang (1%), responden terbanyak berada di kelompok usia 26-35 tahun sebanyak 27 orang (31%).  Sebanyak 16 orang responden (18%) yang mengalami infeksi  kecacingan oleh cacing STH jenis cacing tambang. Simpulannya ialah prevalensi kecacingan masih tergolong rendah sehingga pengontrolan penyakit masih dapat dilakukan dengan mudah.Kata kunci : Kecacingan, pekerja tambang tradisional
Perbandingan Saturasi Oksigen pada Mahasiswa Obes Sentral dan Non Obes Sentral saat Posisi Berbaring dan Posisi Berdiri Samola, Adella; Polii, Hedison; Marunduh, Sylvia
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.27101

Abstract

Abstract: Obesity could cause impairment of the ventilation-perfusion mechanism and gas exchange which results in a decrease of oxygen saturation followed by an increase in respiratory rate. This study was aimed to obtain the ratio of oxygen saturation among obese and non-obese students in standing and lying positions. This was an analytical study with a cross sectional design. Samples taken by using purposive sampling method consisted of students of batch 2016, 2017, 2018, and 2019 of Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University, classified as centrally obese and non-centrally obese groups by measuring waist circumference, followed by oxygen saturation measurement in standing and lying positions using a pulse oximeter. The statistical test analysis used was the Mann-Whitney test. The results showed that there were 126 students that met the inclusion criteria. The average oxygen saturation values of both groups were 97%, which showed no significant difference between them. The pulse oximeter values showed 57 respondents had higher oxygen saturation in standing than in lying down position; 27 respondents had higher oxygen saturation in lying position, and the remaining 42 respondents had equal oxygen saturation values in the standing and in lying position. In conclusion, there was no difference in oxygen saturation between centrally obese and non-centrally obese respondents, albeit, there were differences in oxygen saturation between lying position and standing position among both groups.Keywords: obesity, waist circumference, oxygen saturation, standing position, lying position Abstrak: Obesitas mengakibatkan gangguan mekanisme ventilasi-perfusi dan gangguan pertukaran gas yang berakibat pada penurunan saturasi oksigen yang diikuti peningkatan frekuensi pernapasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan saturasi oksigen pada mahasiswa obes dan non-obes pada posisi berdiri dan pada posisi berbaring. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potog lintang. Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling pada mahasiswa angkatan 2016, 2017, 2018 dan 2019 di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi dengan mengelompokkan responden obes sentral dan non-obes sentral. Dilakukan pengukuran lingkar pinggang kemudian pengukuran saturasi oksigen pada posisi berdiri dan berbaring menggunakan pulse oximeter. Analisis uji statistik yang digunakan ialah uji Mann-Whitney. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 126 mahasiswa memenuhi kriteria inklusi. Nilai saturasi oksigen rerata pada kelompok obes sentral dan non-obes sentral keduanya ialah 97%, yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan saturasi di antara kedua kelompok. Distribusi nilai pulse oximeter yang diukur pada 57 responden memiliki saturasi oksigen yang lebih tinggi saat berdiri dibandingkan saat berbaring. Terdapat 27 responden lainnya memiliki tingkat saturasi oksigen yang lebih tinggi pada posisi berbaring dan 42 responden sisanya menunjukkan nilai saturasi oksigen yang sama pada posisi berdiri maupun berbaring. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat perbedaan saturasi oksigen pada responden obes sentral dan non-obes sentral namun terdapat perbedaan saturasi oksigen pada posisi berbaring dan posisi berdiri pada kedua kelompok.Kata kunci: obesitas, lingkar pinggang, saturasi oksigen, posisi berdiri, posisi berbaring
Uji Efek Anti Bakteri Madu Hutan dan Madu Hitam Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Pseudomonas aeruginosa Kaligis, Clayton J.; Nangoy, Edward; Mambo, Christi D.
eBiomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.8.1.2020.28704

Abstract

Abstract: Honey contains plenty of antibacterial components, among them are high osmolarity, acidic pH, hydrogen peroxide, and antimicrobial proteins. The aim of this study is to determine in vitro antibacterial activity of forest honey and black honey against Staphylococcus aureus, Escherichia coli, and Pseudomonas aeruginosa. The method used is experimental laboratory with dilution method at University of Sam Ratulangi Faculty of Mathematics and Natural Sciences Microbiology Laboratory. Concentrations of honey used are 100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,125%, 1,56% dan 0,78% (v/v) respectively. Ciprofloxacin as positive control and aquadest as negative control. The results obtained in this study is that both forest honey and black honey exhibited antibacterial activity. The Minimum Inhibitory Concentration (MIC) of forest honey towards S. aureus, E. coli, and P. aeruginosa is 12,5%, 12,5%, and 25%. The MIC of black honey towards S. aureus, E. coli, and P. aeruginosa is 25%, 12,5%, and 25%. No Minimum Bactericidal Concentration (MBC) is found on both forest honey and black honey. In conclusion, forest honey and black honey exhibited antibacterial activity against Staphylococcus aureus, Escherichia coli, and Pseudomonas aeruginosa bacteria. The antibacterial effect of forest honey superior to black honey by a small margin.                                                                                                          Keywords: antibacterial, forest honey, black honey, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa  Abstrak: Madu memiliki banyak komponen antibakteri, diantaranya osmolaritas yang tinggi, pH asam, hidrogen peroksida, dan protein antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antibakteri in vitro madu hutan dan madu hitam terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Pseudomonas aeruginosa. Metode yang digunakan yaitu eksperimental laboratorium dengan metode dilusi di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi. Konsentrasi madu yang digunakan ialah 100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, 3,125%, 1,56% dan 0,78% (v/v) secara berurutan. Ciprofloxacin sebagai kontrol positif dan akuades sebagai kontrol negatif. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu kedua madu hutan dan madu hitam menunjukkan sifat antibakteri. Minimum Inhibitory Concentration (MIC) pada madu hutan terhadap S. aureus, E. coli, dan P. aeruginosa adalah 12,5%, 12,5%, dan 25% (v/v). MIC pada madu hitam terhadap S. aureus, E. coli, dan P. aeruginosa adalah 25%, 12,5%, dan 25% (v/v). Tidak ditemukan Minimum Bactericidal Concentration (MBC) pada kedua madu hutan dan madu hitam. Efek antibakteri madu hutan lebih kuat daripada madu hitam. Simpulan penelitian ini ialah madu hutan dan madu hitam memiliki efek antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Pseudomonas aeruginosa. Efek antibakteri madu hutan sedikit lebih besar daripada madu hitam.             Kata Kunci: antibakteri, madu hutan, madu hitam, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa
Analisis Postur Kerja Dan Keluhan Muskuloskeletal Pada Petani Pemetik Cengkih Di Kabupaten Minahasa Selatan Pandey, Blandina E.; Doda, Diana V.D.; Malonda, Nancy S.
eBiomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.8.1.2020.28713

Abstract

Abstract: Musculoskeletal complaints are one of the most common health problems experienced by workers. Work-related Musculoskeletal disorders may reduce workforce productivity. This disease is caused by inconsistency between tools, humans, and work processes so often the workers do activities with awkward work posture. This study aimed to analyze the working posture and the musculoskeletal complaint of the cloves farmers in one of the villages in the district of South Minahasa. The study used analytical surveys with cross-sectional study design and the number of population taken was all members of the farmer group of 60 people. The instruments in this study are the Nordic Body Map questionnaire and the Ovako Working Posture Analysis System Assessment sheet. A statistical rank Spearman test was used to analyze the relationship between the working posture and the musculoskeletal complaint of the cloves farmers. The characteristics of the participants were mostly male within the age group of 31-50 years old. The majority of the participants have a moderate musculoskeletal complaint (68.3%). The highest complaint that the respondent felt was at the foot of (98.3%) and on the wrist (96.7%). The bivariate result shows that there were relationships between work posture and musculoskeletal complaint (p= 0.000, p = < 0.05) with the relationship level indicating moderate correlation (r = 0,590) and the direction of positive relationship. Based on the results of the research on the risk of the most working posture is at high risk (50%). This research concludes that working posture an important factor for the development of musculoskeletal complaints among Cloves farmers.Keywords: farmer, musculoskeletal, work-posture.  Abstrak: Keluhan muskuloskeletal merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling umum ditemui pada pekerja informal. Gangguan muskuloskeletal bisa berdampak berkurangnya produktivitas tenaga kerja.  Penyakit ini disebabkan oleh karena ketidaksesuaian antara alat, manusia, dan proses kerja kerja sehingga sering kali para pekerja melakukan aktivitas dengan  postur kerja janggal. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis postur kerja dan keluhan muskuloskeletal pada petani pemetik cengkih di Desa Tambelang Kabupaten Minahasa  Selatan. Penelitian ini menggunakan survei analitik dengan desain study cross sectional dan jumlah populasi yang diambil adalah seluruh anggota kelompok tani yang berjumlah 60 orang. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner Nordic Body Map dan lembar penilaian Ovako Working Posture Analysis System. Analisis yang digunakan yaitu uji statistik rank spearman. Sebagian besar petani cengkeh melaporkan mengalami keluhan Muskuloskeletal yang sedang (68,3%). Keluhan tertinggi yang dirasakan responden ada pada bagian kaki yaitu 98,3% dan keluhan kedua tertinggi ada pada bagian pergelangan tangan yaitu 96,7%. Hasil analisis bivariate menemukan bahwa terdapat hubungan antara postur kerja dan keluhan muskuloskeletal (p= 0,000, p=<0,05) dengan tingkat hubungan menunjukkan korelasi sedang (r=0,590) dan arah hubungan positif. Berdasarkan hasil penelitian risiko postur kerja terbanyak ada pada  risiko tinggi yaitu 50%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu postur kerja merupakan faktor yang penting  yang dapat menyebabkan keluhan muskuloskeletal pada petani pemetik cengkih.Kata Kunci: petani, muskuloskeletal, postur kerja.
Pengaruh Pemberian Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) Terhadap Kualitas Spermatozoa Tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang Diinduksi Dengan Alkohol Lohonauman, Christy C.; Tendean, Lydia; Turalaki, Grace
eBiomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.8.1.2020.28699

Abstract

Abstract: Alcohol is a psychoactive substance that contains ethanol or ethyl alcohol that can cause spermatozoa damage through oxidative stress mechanism that increases Reactive Oxygen Species (ROS) and cause toxicity to spermatozoa quality and function. There are many ways to take care of the male reproductive system, one of them being consuming food with high antioxidant content like fruits. The red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) is high in vitamin C, vitamin E, lycopene, beta carotene, and flavonoids that act as antioxidants in warding off and neutralizing free radicals in spermatozoa cells. This study aims to determine the effect of red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) towards the spermatozoa quality of rats (Rattus norvegicus) induced with alcohol. This study has nine male rats as subjects, divided into three random groups, weighing 150-200 grams and being 12-15 weeks old. Each rat group is induced with 0.5 ml of alcohol per day where group P0 are only induced with alcohol, group P1 are also given 0.15 grams of red dragon fruit per day and group P2 are given 0.2 grams of red dragon fruit per day. Results show that administration of red dragon fruit do not affect the spermatozoa quality of rats induced by alcohol because of different doses given.Keywords: red dragon fruit, alcohol, spermatozoa  Abstrak: Alkohol merupakan zat psikoaktif yang mengandung etanol atau etil alkohol yang dapat menimbulkan kerusakan spermatozoa melalui mekanisme stres oksidatif sehingga meningkatkan Reactive Oxygen Species (ROS) dan mengakibatkan toksik terhadap kualitas dan fungsi spermatozoa. Berbagai cara dapat dilakukan untuk menjaga sistem reproduksi pria salah satunya dengan mengkonsumsi makanan yang memiliki kandungan antioksidan seperti buah-buahan. Buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) mengandung vitamin C tinggi, vitamin E, likopen,  betakaroten, dan flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan dalam menangkal dan menetralisir radikal bebas pada sel spermatozoa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) terhadap kualitas spermatozoa tikus wistar (Rattus norvegicus) yang diinduksi alkohol. Subjek penelitian ini menggunakan 9 ekor tikus wistar (Rattus norvegicus) jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok secara acak dengan berat badan 150-200 gram dan berumur 12-15 minggu. Masing-masing kelompok tikus diinduksi dengan alkohol 0,5 ml / hari dimana kelompok perlakuan (P0) hanya diinduksi dengan alkohol, kelompok perlakuan (P1) juga diberikan buah naga merah 0,15 gram / hari, dan kelompok (P2) diberi buah naga 0,20 gram / hari. Hasil penelitian menunjukkan pemberian buah naga tidak berpengaruh terhadap kualitas spermatozoa tikus wistar yang diinduksi dengan alkohol oleh karena pemberian dosis yang berbeda.Kata kunci: buah naga merah, alkohol, spermatozoa
Kadar Triasilgliserol Pada Peminum Minuman Beralkohol di Kelurahan Tosuraya Selatan Ihsan, Muhammad; Tiho, Murniati; Purwanto, Diana
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.28705

Abstract

Abstract: Excessive alcohol consumption can disrupt lipid metabolism and cause an increase in triacylglycerol concentration. North Sulawesi is the region with the highest average alcohol consumption in Indonesia. South Tosuraya Village is one of the villages located in Ratahan Sub-District, Southeast Minahasa Regency, North Sulawesi Province. Based on preliminary surveys, it is known that there are alcoholic beverage production sites, namely mouse stamps which are supported by affordable mouse stamp prices and the habit of drinking mouse stamps has become a traditional drink of the local community, from the survey there are no preliminary data showing triacylglycerol levels in this area. Knowing the levels of triacylglycerol in alcoholic drink drinkers in South Tosuraya Village. This research is a descriptive study with cross-sectional design. The study used total sampling and was conducted in August 2019 until December 2019. Of the 50 willing subjects, 29 subjects (58%) had normal triacylglycerol levels, 9 subjects (18%) had high threshold triacylglycerol levels, 11 subjects (22%) had high triacylglycerol levels, and as many as 1 subject ( 2%) has very high levels of triacylglycerol. The results showed that subjects who drank alcoholic drinks for <5 years had an average triacylglycerol level of 106.3 mg / dL 5-10 years an average of 144 mg / dL, 11-15 years an average of 177 mg / dL, 16 -20 years with an average of 194.4 mg / dL and those who have> 20 years of drinking alcoholic drinks have an average triacylglycerol level of 223.1 mg / dL. In conclusion, most of the subjects 58% had normal triacylglycerol levels and drinkers who had been drinking alcohol for more than 20 years experienced elevated levels of triacylglycerol.Keywords: Triacylglycerol, alcohol  Abstrak: Konsumsi alkohol berlebihan dapat mengganggu metabolisme lipid dan menyebabkan peningkatan konsentrasi triasilgliserol. Sulawesi Utara merupakan daerah dengan konsumsi alkohol rata-rata tertinggi di Indonesia. Kelurahan Tosuraya Selatan merupakan salah satu kelurahan yang berada di Kecamatan Ratahan Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Berdasarkan survei awal diketahui terdapat tempat produksi minuman beralkohol yaitu cap tikus yang didukung oleh harga cap tikus yang terjangkau serta kebiasaan meminum cap tikus telah menjadi minuman tradisional masyarakat setempat, dari survei tersebut belum ada data awal yang menunjukkan kadar triasilgliserol pada daerah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar triasilgliserol pada peminum minuman beralkohol di Kelurahan Tosuraya Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional. Penelitian menggunakan total sampling dan dilaksanakan pada bulan Agustus 2019 sampai dengan Desember 2019. Dari 50 subjek penelitian yang bersedia, didapatkan 29 Subjek (58%) memiliki kadar triasilgliserol normal, sebanyak 9 subjek (18%) memiliki kadar triasilgliserol ambang batas tinggi, sebanyak 11 subjek (22%) memiliki kadar triasilgliserol tinggi, dan sebanyak 1 subjek (2%) memiliki kadar triasilgliserol sangat tinggi. Hasil penelitian menunjukkan subjek yang meminum minuman beralkohol selama selama <5 tahun memiliki kadar triasilgliserol rata-rata 106,3 mg/dL 5-10 tahun rata-rata 144 mg/dL, 11-15 tahun rata-rata 177 mg/dL, 16-20 tahun rata-rata 194,4 mg/dL dan yang telah >20 tahun meminum minuman beralkohol memiliki kadar triasilgliserol rata-rata 223,1 mg/dL. Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar subjek memiliki kadar triasilgliserol normal serta peminum yang telah meminum alkohol lebih dari 20 tahun mengalami peningkatan kadar triasilgliserol.Kata kunci: Triasilgliserol, alkohol
Standarisasi Parameter Spesifik dan Non-Spesifik Ekstrak Rimpang Lengkuas Merah (Alpinia Purpurata K. Schum) sebagai Obat Antibakteri Fatimawali, .; Kepel, Billy J.; Bodhi, Widdhi
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.28131

Abstract

Abstract: Red galangal rhizome (Alpinia purpurata K. Schum) has antibacterial activity categorized as very strong, therefore, it needs to be standardized. This study was aimed to standardize the ethanol extract of red galangal rhizomes obtained from plantations in North Minahasa region. Standardized extract had two parameters namely specific parameters and non-specific parameters. Determination of specific parameters includes extract identity, organoleptic test, levels of compounds that dissolve in water and that are soluble in ethanol, content test of alkaloids, flavonoids, saponins, and tannins. Meanwhile, non-specific parameters include drying losses, microbial contamination, total ash content, acid insoluble ash content, as well as Cd and Pb metal contamination. The results showed that red galangal rhizome extract had dark red-brown color, specific odor of galangal, slightly bitter taste, water soluble was 12.55%, and ethanol soluble was 8.25%. Its fitochemical contents were alkaloids, saponins, tannins, and flavonoids. Moreover, drying shrinkage of 19.17%, microbial contamination of 2.1 x 102 CFU /g, ash content of 0.36%, acid insoluble ash content of 0.36%, and Cd and Pb 0.062 and 0.091 ppm. In conclusion, based on standardization testing including specific and non-specific parameters, red galangal extract can meet the standardization of raw material quality.Keywords: Alpinia purpurata K. Schum, rhizome, standardization Abstrak: Lengkuas merah (Alpinia purpurata K. Schum) memiliki aktivitas antibakteri dengan kategori yang sangat kuat dan karenanya perlu distandarisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menstandarisasi ekstrak etanol rimpang lengkuas merah yang diperoleh dari perkebunan di wilayah Minahasa Utara. Ekstrak standar dengan dua parameter yaitu parameter spesifik dan parameter non-spesifik. Penentuan parameter spesifik meliputi: identitas ekstrak, uji organoleptik, kadar senyawa yang larut dalam air dan yang larut dalam etanol, kadar uji alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Parameter non-spesifik meliputi: susut pengeringan, kontaminasi mikroba, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, kontaminasi logam Cd dan Pb. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak rimpang lengkuas merah berwarna merah-coklat pekat, bau khas lengkuas, rasa agak pahit, larut dalam air 12,55%, dan larut dalam etanol 8,25%. Senyawa fitokimia yang terkandung ialah alkaloid, saponin, tanin, dan flavonoid. Susut pengeringan 19,17%, kontaminasi mikroba 2,1 x 102 CFU/g, kadar abu 0,36%, kadar abu tidak larut asam 0,36%, Cd dan Pb 0,062 dan 0,091 ppm. Simpulan penelitian ini ialah berdasarkan pengujian standardisasi termasuk parameter spesifik dan non-spesifik, ekstrak lengkuas merah memenuhi standar kualitas bahan baku.Kata kunci: Alpinia purpurata K. Schum, rimpang lengkuas merah, standarisasi
Perbandingan Efek Beberapa Minuman Ringan Berkarbonasi terhadap Gambaran Histopatologik Lambung Tikus Wistar (Rattus norvegicus) Papia, Yetrida M.; Durry, Meilany F.; Kairupan, Carla F.
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.28741

Abstract

Abstract: Carbonated soft drinks are beverages that undergo carbonation with the addition of acidic ingredients, caffeine, and preservatives. Consumption of these drinks increases signi-ficantly worldwide and is associated with gastrointestinal problems. This study was aimed to determine whether there were any differences in the effects of some carbonated soft drinks on gastric histopathological images of Wistar rats (Rattus norvegicus). It was an experimental study with a randomized posttest only control group. Subjects were 20 Wistar rats, male and female, divided into 5 groups; one control group (not treated) and four treatment groups (P1 to P4). Each treatment group was given one type (brand) of carbonated soft drinks, namely Coca-cola® (P1), Fanta® (P2), Sprite® (P3), and Big cola® (P4) at a dose of 7 ml/day for 29 days. The results showed that the gastric histopathological images of all treatment groups were different from of the control group. Infiltration of many inflammatory lymphocytes, hyperemia, and edema in the gastric mucosal stroma were observed in all treatment groups. In conclusion, all treatment groups showed gastric histopathological images, namely infiltration of many inflammatory lymphocytes, hyperemia, and mucosal stromal edema. However, there was no significant difference in histo-pathologic images among all treatment groups.Keywords: carbonated softdrink, gastric histopathological images Abstrak: Minuman ringan berkarbonasi merupakan minuman yang mengalami proses karbonasi dengan tambahan bahan asam, kafein, dan bahan pengawet. Konsumsi minuman ini menun-jukkan peningkatan nyata di seluruh dunia dan dikaitkan dengan timbulnya berbagai masalah kesehatan pada saluran cerna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek beberapa minuman ringan berkarbonasi terhadap gambaran histopatologik lambung tikus Wistar. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan randomized posttest only control group. Subyek penelitian terdiri dari 20 ekor tikus Wistar jantan dan betina, dibagi menjadi satu kelompok kontrol dan empat kelompok perlakuan (P1 sampai P4). Setiap kelompok perlakuan diberikan satu jenis (merek) minuman ringan berkarbonasi, yaitu Coca-cola® (P1),Fanta® (P2), Sprite® (P3), dan Big cola® (P4) dengan dosis 7 ml/hari selama 29 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran histopatologik lambung tikus Wistar pada semua kelompok perlakuan berbeda dengan yang terlihat pada kelompok kontrol. Jaringan lambung kelompok P1, P2, P3, dan P4 terlihat memiliki gambaran histopatologik yang serupa, yaitu adanya infiltrasi banyak sel-sel radang limfosit, hiperemi dan edema pada stroma mukosa. Simpulan penelitian ini ialah gambaran histopatologik lambung tikus Wistar yang diberikan minuman ringan berkarbonasi Coca-cola®, Fanta®, Sprite®, ataupun Big cola®semuanya menunjukkan adanya infiltrasi sel-sel radang limfosit, hiperemi dan edema stroma mukosa; tidak tampak perbedaan jelas antara kelompok tikus yang diberi minuman ringan berkarbonasi dengan merek berbeda.Kata kunci: minuman ringan berkarbonasi, gambaran histopatologik lambung
Pola Mycobacterium tuberculosis dari Sputum Penderita Batuk ≥ 2 Minggu Pada Perokok dan Bukan Perokok di Poli Paru Rumah Sakit R.W. Mongisidi di Teling Manado La Sengka, Nurul F.; Porotu'o, John P.; Rares, Fredine E.S.
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.28700

Abstract

Abstract: Coughing is the body's reaction to defense against irritation in the throat, caused by foreign matter, dust, food, etc. that enter the respiratory tract. The presence of mucus in the respiratory tract can protect the lungs because foreign particles that enter the respiratory tract will be trapped in the mucus. Cough ≥ 2 weeks is one of the typical symptoms that is usually complained of by people with tuberculosis, accompanied by other symptoms. Smokers in question are people who still consume cigarettes when having a cough ≥ 2 weeks (current smokers), also people who have stopped smoking when having a cough ≥ 2 weeks but have consumed at least 100 cigarettes in their lifetime (ex smokers). and non-smokers are people who have never consumed cigarettes or not including current smokers or ex smokers. Based on the distribution of respondents according to the sex of patients who came with complaints of cough ≥ 2 weeks, found more men (60.0%) than women (40.0%) Based on the distribution of respondents according to age group, found cough patients ≥ 2 weeks dominated by age group ≥65 (33%), followed by age group 55-64 (23.2%), then age group 25-34 (19.8%), age group 15-24 and 45-54 with the same number (9.9%) and finally the age group 35-44 (3.3%). Based on the distribution of respondents according to smoking history, it was found the number of cough sufferers ≥ 2 weeks who were active smokers was 26.4% and those who were not active smokers were 72.6%. From the smear examination results on smokers and nonsmokers conducted at the Microbiology Laboratory of the Faculty of Medicine Unsrat, found 30 samples of cough patients ≥ 2 weeks consisting of 8 smokers and 22 nonsmokers, and found 8 samples (27.4%) of smear (-) in smokers, and 22 samples (72.6%) of smear (-) in nonsmokers.Keywords: Mycobacterium tuberculosis pattern, cough ≥2 weeks, smoker, nonsmoker  Abstrak: Batuk adalah reaksi tubuh untuk melakukan pertahanan terhadap iritasi di tenggorokan, yang disebabkan oleh benda asing, debu, makanan, dan sebagainya yang masuk kedalam saluran pernapasan. Adanya mukus di saluran pernapasan dapat melindungi paru-paru karena partikel asing yang masuk ke saluran pernapasan akan terjebak di dalam mukus tersebut. Batuk ≥ 2  minggu adalah salah satu gejala khas yang biasanya dikeluhkan oleh penderita tuberkulosis, disertai dengan gejala – gejala lainnya. perokok yang dimaksud adalah orang yang masih mengonsumsi rokok pada saat mengalami batuk ≥ 2 minggu (current smokers), juga orang yang sudah berhenti merokok pada saat mengalami batuk ≥ 2 minggu tapi  telah mengonsumsi setidaknya 100 batang seumur hidupnya (ex smokers) dan bukan perokok adalah orang yang tidak pernah mengonsumsi rokok atau bukan termasuk current smokers atau ex smokers. Berdasarkan distribusi responden menurut jenis kelamin pasien yang datang dengan keluhan batuk ≥ 2 minggu, didapatkan lebih banyak laki-laki (60,0%) daripada perempuan (40,0%) Berdasarkan distribusi responden menurut kelompok umur, ditemukan pasien batuk  ≥ 2 minggu didominasi oleh kelompok umur ≥65 (33%), diikuti oleh kelompok umur 55-64 (23.2%), kemudian kelompok umur 25-34 (19.8%), kelompok umur 15-24 dan 45-54 dengan jumlah sama (9.9%) dan terakhir kelompok umur 35-44 (3.3%). Berdasarkan distribusi responden menurut riwayat merokok, dididapati jumlah penderita batuk ≥ 2 minggu yang merupakan perokok aktif adalah 26.4% dan yang bukan perokok aktif sebesar 72.6%. Dari hasil pemeriksaan BTA pada perokok dan bukan perokok yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Unsrat, didapati 30 sampel penderita batuk ≥ 2 minggu yang terdiri dari 8 perokok dan 22 bukan perokok, dan ditemukan  8 sampel (27.4%) BTA (–) pada penderita perokok, dan 22 sampel (72.6%) BTA (–) pada penderita bukan perokok.Kata kunci: Pola Mycobacterium tuberculosis, batuk ≥2 minggu, perokok, bukan perokok