cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Penerapan Metode Mikrotremor HVSR untuk Penentuan Respons Dinamika Kegempaan di Kota Padang Pupung Susilanto; Drajat Ngadmanto; Daryono Daryono; Thomas Hardy; Suliyanti Pakpahan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2332.214 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v7i2.96

Abstract

ABSTRAKPeristiwa gempabumi 30 September 2009, memperlihatkan bahwa Kota Padang merupakan daerah rawan gempabumi. Sebagai ibu kota provinsi, Kota Padang berperan sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian, sehingga harus dilindungi dari bahaya gempabumi. Penelitian mikrozonasi dengan metode pengukuran mikrotremor ini bertujuan untuk mengetahui respons dinamika kegempaan setempat di Kota Padang. Data mikrotremornya terdiri atas 180 titik hasil pengukuran yang tersebar di Kota Padang dengan grid 500 m x 500 m. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan digital portable seismograph tiga komponen dengan durasi pengukuran selama 30 menit dan frekuensi sampling 100 Hz. Data diolah dengan menggunakan metode HVSR (Horizontal to Vertical Spectrum Ratio). Indeks kerentanan seismik (Kg) diperoleh dengan mengkuadratkan nilai puncak spektrum mikrotremor dibagi dengan frekuensi dominannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai frekuensi dominan (f0) di daerah penelitian berkisar antara 0,5 – 1,9 Hz, H/V amplifikasi (A) antara 0,6 – 9,7, dan nilai indeks kerentanan seismik (Kg) berkisar antara 0,3-162,0. Persebaran secara spasial indeks kerentanan seismik menunjukkan bahwa hampir seluruh daerah penelitian merupakan daerah yang mempunyai kerentanan yang cukup tinggi terhadap bahaya gempabumi.Kerentanan yang tertinggi tersebar di bagian barat dan utara daerah penelitian, sedangkan kerentanan yang lebih rendah tersebar di bagian timur dan selatan daerah penelitian.Kata kunci: HVSR, indeks kerentanan seismik,mikrotremorABSTRACTThe earthquake on September 30, 2009, shows that Padang City is an earthquake vulnerable area. As the capital of a province, it plays the role as the centre of governance and economy. Thus, Padang City should be protected from earthquake hazards.Microzonation research with microtremor measurement method aims to determine the dynamic response of the local seismicity in the city. Microtremor data consist of 180 measurement points that are scattered in Padang with a grid of 500 mx 500 m. The measurements used a digital portable seismograph three components with time duration 30 minutes and 100 Hz of sampling frequency. The data are processed using HVSR (Horizontal to Vertical Spectrum Ratio) method. The seismic vulnerability index (Kg) obtained by squaring the peak value of microtremor spectrum divided by its dominant frequency. The results show that the dominant frequency (f0) in the studied area ranges between 0.5 to 1.9 Hz, H/V amplification (A) between 0.6 to 9.7, and the value of the seismic vulnerability index (Kg) rangesbetween 0.3 to 162.0. Spatial distribution of the seismic vulnerability index shows that almost of the entire researched area has a fairly high susceptibility to earthquake hazards. The highest vulnerability spreads across the western and northern parts of the studied area, while a lower susceptibility scatteres in the east and south of the studied area.Keywords: HVSR, seismic vulnerability index, microtremor
Pengaruh mekanisme sesar terhadap Gempa Bumi Aceh Tengah, 2 Juli 2013 Sri Hidayati; Supartoyo Supartoyo; Wawan Irawan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5078.254 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v5i2.66

Abstract

ABSTRAKGempa bumi berkekuatan 6,2 skala richter pada kedalaman 10 km telah mengguncang wilayah Aceh Tengah dan sekitarnya pada tanggal 2 Juli 2013 pukul 14.37 WIB. Mekanisme sesar penyebab terjadinya gempa bumi tersebut adalah gerak sesar mendatar berarah N 304ºE/69º dengan rake 169º, berkaitan dengan salah satu aktivitas sesar aktif di Aceh Tengah. Gempa bumi ini mempunyai intensitas VII-VIII pada skala MMI yang ditandai oleh bangunan rusak berat, retakan tanah, dan gerakan tanah serta menimbulkan korban jiwa 39 orang meninggal dan lebih dari 400 orang luka. Gerakan tanah sebagai bencana juga terjadi di 22 tempat dan yang terparah di Desa Serempah, Kecamatan Ketol pada jarak 8,22 km dari pusat gempa bumi.Kata Kunci: Gempa bumi Aceh Tengah, skala intensitas gempa bumi, sesar aktif, gerakan tanahABSTRACTAn earthquakes of 6.2 local magnitude in Richter Scale and at a depth of 10 km had shaken Aceh Tengah on July 2nd, 2013 at 14|:37.The mechanism of the earthquake was strike-slip fault which is trending in N 304º E/69º with rake 169º. It was suggested of being associated with one of the active faults in Aceh Tengah region. The scale of the intensity scale was VII-VIII MMI which were marked with heavily damaged settlements; soil cracks and landslides that causing 39 people died and more than 400 people wounded. There were about 22 landslides occurred, the largest one was at Serempah Village in Ketol District, at a distance of 8.22 km from the epicenter.Keyword: Aceh Tengah earthquake, earthquake intensity scale, active fault, landslide
Mitigasi dampak kenaikan muka laut di Pantai Alam Indah Kota Tegal Jawa Tengah melalui pendekatan Geomorfologi Septriono Hari Nugroho
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1804.341 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v3i1.34

Abstract

SARIPenelitian terkait penanganan kenaikan muka air laut di kawasan wisata Pantai Alam Indah Kota Tegal dilakukan dengan pembuatan profil pantai. Metode yang digunakan adalah survei lapangan dengan analisis deskriptif korelatif. Pantai Alam Indah relatif landai, dengan kemiringan bibir pantai antara 1 – 70, tersusun oleh endapan pasir dan termasuk jenis pantai abrasi. Profil pantai diukur dengan waterpass portable, sehingga dapat diketahui muka laut sekarang dan dapat dibuat prediksi kenaikan muka laut masa datang. Dari hasil pengukuran diperoleh ketinggian dataran pantai sekitar 0,2 – 1,8 m dpl. Apabila kenaikan muka laut di prediksi menjadi 0,5 m maka seluruh segmen pantai akan mampu menghadapi kenaikan muka laut, sehingga air tidak masuk ke daratan. Apabila kenaikan muka air laut naik menjadi 0,8 – 1 m maka sebagian besar dataran pantai terutama bagian timur akan tergenang oleh limpasan air tersebut. Bagian barat dan tengah pantai, hanya mampu menahan air yang datang hingga ketinggian 0,8 m. Persoalan ini dapat ditanggulangi dengan meninggikan dataran tepi pantai, dengan cara pembuatan deretan groin di sepanjang pantai. Deretan groin akan bermanfaat untuk menstabilkan garis pantai, sebagai penangkap sedimen sehingga akan meninggikan dataran tepi pantai dan kawasan tersebut dapat dijadikan kawasan wisata pantai yang aman.Kata kunci: mitigasi, kenaikan muka laut, profil, pantaiABSTRACTThe research related to sea level rise anticipation in tourism area of Alam Indah Beach, Tegal city, handled by making of beach profile. The method used in this research was a field survey with correlative description analysis. The Alam Indah beach has relatively gentle slope, of which the shore line angle ranges between 1o to 7o; it is composed of sand deposits, and it is included to abrasion beach. The beach profile measured by portable water pass, so the present sea level can be reecognized and the future sea level can be predicted. By measuring the coastal plain, the height is obtained which is about 0.2 to 1.8 m above MSL. If the increase of sea level was predicted to 0.5 m, the entire coastal segment will be able to deal with the increase of sea level, so the water does not inundate the land. But, if the sea level increases to
Peningkatan Aktivitas Vulkanik Gunung Api Slamet dan Pengaruhnya Terhadap Sistem Panas Bumi Mamay Surmayadi; Hanik Humaida; Cahya Patria; Adjat Sudrajat; Nana Sulaksana; Mega Fatimah Rosana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 6, No 3 (2015)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3909.142 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v6i3.87

Abstract

ABSTRAKSejak awal Maret 2014 status aktivitas Gunung Api Slamet di Jawa Tengah dinaikkan dari normal (level I) menjadi waspada (level II) seiring dengan peningkatan jumlah gempa vulkanik. Seismisitas Gunung Api Slamet yang dipantau melalui empat stasiun seismik memperlihatkangempa letusan terekam sebanyak 1.106 kejadian dengan rata-rata 73 kejadian per hari, gempa hembusan terekam sebanyak 6.857 kejadian dengan rata-rata 457 kejadian per hari, sedangkan gempa vulkanik dalam (VA) hanya terekam sebanyak 2 kali selama periode Maret – Agustus 2014. Sumber gempa tersebut berada pada kedalaman antara 1 - 2 km di bawah kawah Gunung Api Slamet sebagai indikasi gempa permukaan. Peningkatan aktivitas magmatik tersebut menghasilkan pelepasan gasCO2 yang berpengaruh terhadap fluida panas bumi yang ditunjukkan dengan terjadinya perubahan keasaman air dari normal menjadi alkalin, pembentukkan bualan gas CO2 pada air panas Pancuran 3 di Baturraden, dan peningkatan saturasi kalsit. Bualan gas CO2 pada air panas Pancuran 3 menjadi indikasi terjadinya proses pendidihan pada temperatur 273° C pada elevasi kedalaman 454 m dibawah permukaan laut. Kondisi ini menjadikan temperatur reservoar menjadi lebih tinggi sebagai indikasi bahwa sistem panas bumi Gunung Api Slamet merupakan sistem panas bumi aktif (active geothermal system) bertemperatur tinggi (high enthalpy).Kata kunci : bualan gas, fluida panas bumi, gempa permukaan, saturasi kalsitABSTRACTSince the beginning of March 2014 the activity status of The Slamet Volcano in Central Java has been declared from normal (level I) to become alert (level II) due tosignificant increase in the number of volcanic earthquakes. The Slamet Volcano seismicity monitored by four seismic stations shows eruption earthquakes as many as 1,106 events with an average of 73 events per day, gas emission earthquakes as many as 6,857 events with an average of 457 events per day, whereas the deep volcanic (VA) earthquake recorded only 2 times during the period of March to August 2014. The hypocentre of these earthquakes was at a depth of 1-2 km below Slamet Volcano crater as an indication of surface earthquakes. Increased magmatic activity resulted in the release of CO2 gas effect on the geothermal fluid indicated by changes in water acidity from normal to alkaline, formation of CO2bubblegas on Pancuran 3 hot springat Baturraden area, and calcite saturation enhancement. The presence of CO2 bubble gas on Pancuran 3 hot springis an indication of a boiling process at the temperature of 273° C at a depth of 454 m below sea level. This condition makes the reservoar temperature becomes higher as an indication that the geothermal system of The Slamet Volcano is an active geothermal systemwith high temperature (high enthalpy).Keywords: bubble gas, geothermal fluid, surface earthquake, calcite saturation
Potensi bencana Gunung Api Iya, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur Igan S. Sutawidjaja
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 2 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2845.253 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i2.25

Abstract

SARIGunung Iya di Kabupaten Ende merupakan salah satu gunung api paling selatan di Pulau Flores, termasuk bagian dari jalur vulkanik Banda. Pulau Flores sendiri mempunyai 11 gunung api aktif dan sejumlah kerucut gunung api tidak aktif. Kaki bagian utara Gunung Iya berjarak 1 km dari tepi selatan Kota Ende. Adanya Gunung Meja dan Gunung Roja sebagai penghalang, dan bukaan kawah aktif (K2) yang mengarah ke Laut Sawu di selatannya, mengakibatkan kegiatan letusan Gunung Iya tampaknya tidak membahayakan Kota Ende secara langsung. Pada erupsi terdahulu, semua aliran piroklastika dan material lainnya yang dierupsikan arahnya mengalir ke laut, tetapi karena jarak horizontal antara Gunung Iya dan Kota Ende cukup pendek, lontaran material erupsi dapat membahayakan Kota Ende, terutama bagian selatan. Sebuah rekahan telah berkembang di sekeliling kawah aktif (K2) Gunung Iya, yang mengindikasikan bahwa lokasi tersebut merupakan suatu zona lemah di dalam gunung api, sehingga memungkinkan terjadinya longsoran besar ke arah laut dan timbulnya tsunami apabila Gunung Iya erupsi.Kata kunci: erupsi, tsunami, longsoran, rekahan, mitigasiABSTRACTMount Iya strato volcano in Ende Regency is one of the most southern volcano on the Flores Island, is part of Banda arc. Flores island itself has 11 active volcanoes and several non active volcanic cones. The northern foot of the volcano is only about 1 km away from the southern outskirts of Ende City. The presence of Mount Meja and Mount Roja as the barrier, and the orientation of the active crater (K2) which is facing southward to Sawu sea in the south part of the volcano, the highly explosive eruption of Iya volcano may not directly endanger the city of Ende. Most pyroclastic flows of previous eruptions and other eruptive material emplaced into the sea, but due to a short horizontal distance between Mount Iya and Ende City, the ejected rock fragments can endanger the city of Ende especially its southern parts. A crack has developed around the active crater (K2) of Iya volcano. It seems that the crack indicates the presence of major weakness within the volcano, therefore a tsunami generating giant landslide may occur when Iya volcano erupts in the future.Keywords: eruption, tsunami, landslide, crack, mitigation
Pergerakan Tanah Ruas Jalan Tol Cikampek – Purbaleunyi Hubungannya dengan Pola Anomali Bouguer subagio subagio
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5889.024 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v8i2.123

Abstract

Berdasarkan litologinya, daerah penelitian ini yang mencakup lajur jalan tol Purbaleunyi-Cikampek dan sekitarnya tertutupi oleh tiga jenis batuan, yaitu batuan sedimen, batuan gunungapi, dan batuan terobosan. Struktur geologi hanya tersingkap di bagian tengah dan selatan daerah penelitian, berupa sesar, lipatan, kelurusan dan kekar, dijumpai pada batuan berumur Oligosen-Miosen-Pliosen sampai Kuarter. Data geofisika berupa data anomali gayaberat, memperlihatkan pola-pola anomali bergradien tinggi yang tersebar secara acak di semua bagian daerah penelitian, sedangkan pola anomali bergradien rendah hanya dijumpai di bagian utara daerah penelitian. Pola anomali bergradien tinggi diduga karena adanya perbedaan rapatmassa batuan yang tinggi yang disebabkan oleh pensesaran batuan secara vertikal. Ruas jalan Tol Purbaleunyi yang sering mengalami pergerakan tanah berupa tanah longsor dan amblesan tanah di km 80-100 berada di wilayah ini. Data-data gayaberat dan data geologi permukaan tersebut kemudian dianalisis lebih lanjut, sehingga dapat mengetahui hubungan antara pola anomali gayaberat dengan pergerakan tanah di ruas jalan tol tersebut.
Semburan gas bercampur air dan lumpur di Desa Metatu, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur Akhmad Zaennudin; Hanik Humaida; Ugan B. Saing; Rachmad W. Laksono
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 4, No 3 (2013)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.414 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v4i3.57

Abstract

AbstrakSemburan gas bercampur air dan lumpur di Desa Metatu, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, JawaTimur terjadi pada bulan November 2012. Semburan tersebut dipicu oleh akumulasi gas hidrokarbon yang terperangkapdi bawah permukaan. Desa Metatu dan sekitarnya merupakan wilayah minyak dan gas bumi yang telah diusahakan sejak zaman Belanda, sehingga banyak dijumpai sumur minyak peninggalan Belanda. Gas hidrokarbon yang memicu semburan Metatu tersebut didominasi oleh gas metana berasal dari oil windowseperti yang terdapat di gunung lumpur LUSI, Sidoarjo, tetapi kedua mempunyai perbedaan dalam tingkat kematangannya. Kematangan gas metana dari semburan gas Metatu mempunyai tingkat kematangan yanglebih rendah dari tingkat kematangan LUSI.Kata kunci: Metatu, semburan gas, lumpurAbstractGases outburst mixed of water and mud in Metatu village, Benjeng subdistrict, Gresik regency, East Java occurred in November 2012. This outburst was trigerred by high pressure of hydrocarbon gases that were accumalted beneath the surface. Metatu and its surrounding is potensially petroleum and natural gases which was developed since Ducth era, so this area plenty of oil wells that were construted by Ducth. Hydrocarbon gases that trigger a gas outburst at Metatu is dominated by methane gas of oil window origin like as in LUSI mud volcano, Sidoarjo, but among them different in maturity degree. Hydrocarbon gas maturity of Metatu gas outburst is lower than LUSI.keywords: Metatu, gases outburst, mud
Perencanaan Evakuasi Vertikal di Pulau Serangan, Provinsi Bali sebagai Alternatif Pengurangan Risiko Bahaya Tsunami Yunarto Yunarto; Anwar H. Z.; Wibowo Y. S.
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 6, No 2 (2015)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (955.648 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v6i2.83

Abstract

ABSTRAKBerdasarkan peta bahaya tsunami multi-skenario Bali skala 1 : 25.000 mencakup magnitudo M9 tahun 2009, wilayah Pulau Serangan dimungkinkan terkena dampak tsunami kecil maupun tsunami besar. Lokasi evakuasi horizontal yang telah ditetapkan mengakibatkan waktu tempuh masyarakat lebih dari satu jam dari Pulau Serangan menuju Pulau Bali, sedangkan waktu perkiraan gelombang tsunami tiba di pantai diperkirakan kurang dari 38 menit (berdasarkan perkiraan waktu tiba tsunami Banyuwangi) setelah terjadinya gempa. Penelitian ini merencanakan evakuasi vertikal terhadap bahaya tsunami  yang dilakukan di Pulau Serangan bagian utara, yang bertujuan untuk mengurangi risiko masyarakat terhadap bahaya tsunami. Proses persiapan evakuasi masyarakat sejak diumumkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setelah gempa kuat yang memicu gelombang tsunami hingga masyarakat mulai melakukan evakuasi diperkirakan memerlukan waktu sekitar 20 menit, dengan demikian waktu yang dibutuhkan untuk mencapai lokasi evakuasi (38-20 menit) <= 18 menit. Sebagai konsekuensinya, diperlukan shelter sebagai bangunan evakuasi vertikal yang dapat menyelamatkan masyarakat Pulau Serangan bagian utara  dalam waktu kurang dari 18 menit. Ada dua shelter yang akan dibangun, yaitu shelter 1 yang direncanakan BPBD Provinsi Bali dan shelter 2 sebagai shelter tambahan yang diusulkan. Sistem Informasi Geografis (SIG) melalui services area pada Network Analyst terhadap kedua shelter dengan waktu evakuasi 18 menit, diperkirakan penduduk yang dimungkinkan dapat menjangkau  shelter 1 dan shelter 2, baik  pada siang dan malam hari, yaitu 2.830 orang dan 1.335 orang, sehingga total kapasitas kedua shelter 4.165 orang (melebihi jumlah penduduk Pulau Serangan bagian utara sebanyak 3.986 orang). Kata kunci : perencanaan evakuasi,  perkiraan waktu tiba, SIG, waktu evakuasi Vertical Evacuation Planning at Serangan Island, Bali Province, as an Alternative Reduction of Tsunami Hazard Risk ABSTRACTBased on the multi scenario tsunami hazard map Bali scale 1: 25,000 covering magnitude of M9 in 2009, the island of Serangan is possibly affected by small or large tsunami hazard. Horizontal evacuation sites that have been assigned lead people travel time of more than one  hour from Serangan Island to Bali Island, whereas the estimated time of tsunami waves arrive at the coast to be less than 38 minutes (estimated arrival time of  Banyuwangi tsunami) after the quake. Therefore, this study is aimed to prepare the vertical evacuation planning against tsunami hazard at Serangan Island at the northern part of the island. The vertical evacuation is aimed to reduce the tsunami risk. The evacuation preparation since   The BMKG announcement that the possibility of the tsunami that triggered by an earthquakes until people begin to evacuate is estimated to take approximately 20 minutes. Thus the time needed to reach the evacuation site (38-20 minutes) <= 18 minutes. As a consequence, the importance of vertical evacuation shelter as a building that can save people at north Serangan is less than 18 minutes. There are two shelters those will be built, the first shelter is planned  by BPBD of Bali Province and the second shelter  as an additional shelter is being proposed. Analysis through The Geographic Information System (GIS) based Network Analyst show that the evacuation time necessary to the second shelter is about 18 minutes, it is estimated that the population may reach Shelter 1 and 2, both at day and night with amount of 2,830 people and 1,335 people, bringing the total capacity of both shelter is 4,165 people (exceeding the population of the northern part of the Serangan island of 3,986 people). Keyword :  evacuation planning, GIS, estimated arrival time, evacuation time
Studi sesar aktif Peterjajar daerah Bakauheni, Lampung Selatan Aditya Dwi Prasetio; Dicky Muslim; Marjiyono Marjiyono; Asdani Soehaimi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3539.583 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v4i1.48

Abstract

ABSTRAKSesar Peterjajar merupakan sesar oblique dengan pergerakan sinistral dan komponen vertikal naik yang dapat dijumpai di daerah Bakauheni, Lampung Selatan. Keaktifan sesar ini telah dikaji dengan menerapkan dua metodologi yaitu geologi (morfotektonik) dan geofisika (resistivitas dan seismik refraksi). Penelitian morfotektonik yang telah diterapkan adalah analisis kerapatan sungai (Dd) dan rasio lebar lembah dengan tinggi lembah (Vf ratio). Uji statistik juga dilakukan untuk membuktikan adanya perbedaan Vf Ratio antara blok barat dan blok timur sesar ini. Penelitian geofisika resistivitas dan seismik refraksi dilakukan untuk mengetahui keberadaan struktur geologi sesar dibawah permukaan sebagai kelanjutan sesar yang tersingkap di permukaan. Hubungan antara struktur geologi sesar ini dan kegempaan yang berdasarkan data NEIC tahun 1970 – 2012. Kajian, evaluasi dan analisis keempat metode tersebut diatas, menunjukkan bahwa sesar Peterjajar merupakan satu salah sesar aktif di daerah Bakauheni dan sekitarnya.Kata kunci: geolistrik resistivitas, seismik refraksi, sesar aktif Peterjajar, Bakauheni, kerapatan pengaliransungai (Dd), Vf RatioABSTRACTPeterjajar Oblique Sinistral Thrust Fault can be found at Bakauheni, South Lampung. The activity of this fault have has been studied with two methods those are namely geology (morphotectonic) and geophysics (resistivity, seismic refraction, and seismicity). Morphotectonic used in this study is drainage density (Dd), and valley width and valley floor ratio (Vf ratio). Vf ratio of West and East blocks was tested with statistic t-test to perform the difference. Geophysical resistivity and seismic refraction studies had done to have been carried out to identified identify subsurface geological structure as the continuity continuation of geological structure from the surface outcrop. The correlation between this fault and the epicentre distribution has been analized based on the NEIC (1970-2012) data. The study, evaluation and analize analysis of the four methods mentioned above base on those method shown show that the Peterjajar Fault is an active fault in Bakauheni and the surrounding area.Keywords: resistivity, seismic refraction, Peterjajar active fault, Bakauheni, drainage density (Dd), Vf Ratio
Pertambahan penduduk, variasi interannual suhu permukaan laut dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan linier karang Porites di Kepulauan Seribu Sri Yudawati Cahyarini
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (864.459 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i1.15

Abstract

SARIKerusakan lingkungan laut di pesisir Jakarta semakin parah. Data historis perubahan lingkungan laut dalam waktu yang panjang diperlukan untuk memahami intensitas dan sumber kerusakan. Pertumbuhan tahunan karang Porites terbukti akurat sebagai arsip perubahan lingkungan, mampu menyediakan data perubahan lingkungan dalam skala waktu yang panjang. Dengan penelitian karang yang dilakukan di perairan wilayah Kepulauan Seribu, yaitu Pulau Jukung, Pulau Air, dan Pulau Bidadari, faktor perubahan lingkungan di perairan tersebut dapat didokumentasikan dari waktu ke waktu dan penyebab kerusakan lingkungan di wilayah itu dapat lebih dipahami. Pertumbuhan linier karang dari wilayah dekat daratan ke laut lepas dikorelasikan dengan perubahan suhu permukaan laut (SPL) dan pertambahan penduduk DKI Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan linier karang di lokasi penelitian, yaitu di Pulau Jukung, Pulau Air, dan Pulau Bidadari berkorelasi dengan kenaikan jumlah penduduk DKI dalam kurun waktu 1971-2005. Variasi SPL dalam skala interannual memiliki korelasi yang tinggi dengan pertumbuhan linier karang Pulau Jukung yang terletak di lepas pantai, dibandingkan dengan karang Pulau Air dan Pulau Bidadari yang terletak lebih dekat dengan daratan (inshore).Kata kunci: karang, pertumbuhan linier, suhu permukaan laut, pertambahan pendudukABSTRACTThe damage of the marine environment around the coastal region of Jakarta is getting worse. Historical data of marine environmental change within a long period of time is required to understand the intensity and the source of the damage. Annual growth of Porites coral proved accurately as an archive of environmental change which is able to provide data to environmental changes within a long period of time. With corals research conducted in Thousand Islands (Kepulauan Seribu) region namely: Pulau Jukung, Pulau Air, and Pulau Bidadari, the factor of environmental change in this region can be documented from time to time, moreover the cause of the damage of the environment can better be understood. Linear growth of corals in offshore region towards the inshore (high seas) region was correlated with the changes of the surface temperature (SST) and the increase of the population of DKI Jakarta. To study the influence  of anthropogenic factor the data of the linear growth of the corals was correlated to the population of DKI Jakarta. The results showed a linear growth of corals in the study areas (in Jukung Island, Air Island and Bidadari Island) correlated with the increase in total population of Jakarta within the period of 1971-2005. The variation of SST in interannual scale has a tight correlation with the linear growth of the corals of the Jukung Island which is located in offshore area compared with the Bidadari and Air Islands corals those are located closer to inshore (near the coast).Keywords: coral, linier extension, sea surface temperature, population growth

Page 9 of 22 | Total Record : 218