cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
ANALISIS KERENTANAN PENCEMARAN AIR TANAH DENGAN PENDEKATAN METODE DRASTIC DI BANDUNG SELATAN Khori Sugianti; Dedi Mulyadi; Rizka Maria
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.871 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v7i1.91

Abstract

AbstrakPertumbuhan penduduk menyebabkan peningkatan kebutuhan air bersih sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia yang berkelanjutan. Penanganan pemenuhan kebutuhan air bersih dilakukan oleh pemerintah melalui PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) dan dengan regulasi pembatasan pemakaian air tanah. Pencemaran merupakan salah satu penyebab utama penurunan kualitas air tanah, terutama di daerah perkotaan seperti halnya di Kabupaten Bandung bagian Selatan. Penurunan kualitas air tanah ditandai dengan terdeteksinya kehadiran beberapa polutan diantaranya logam berat, nitrit, nitrat, dan bakteri coli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran kerentanan dan menentukan tingkat kerentanan pencemaran dengan metode DRASTIC yang mencerminkan kerentanan statis. Parameter yang digunakan dalam pengklasifikasian tingkat kerentanan, antara lain: kedalaman permukaan air tanah, curah hujan, jenis akuifer, tekstur tanah, kemiringan lereng, jenis zona tak jenuh, dan konduktivitas hidrolik akuifer. Berdasarkan hasil analisis parameter DRASTIC, Bandung Selatan memiliki dua tingkat kerentanan, yaitu rendah (52,83%) dan sedang (47,17%). Faktor yang dominan memengaruhi tingkat kerentanan pada masing–masing wilayah berbeda, faktor yang paling dominan adalah kondisi geologi, kemiringan lereng, dan jenis akuifer.Kata kunci: kerentanan, air tanah, metode DRASTIC, pencemaranABSTRACTPopulation growth leads to an increase in need for clean water as one of the continuing basic human needs. The handling of the need of clean water is carried out by the government through the Water Local Government Owned Company (PDAM) and by the restriction regulatory on the use of groundwater. Pollution is one of the main causes of groundwater quality deterioration in urban areas as in the southern part of Bandung Regency. The decline in the quality of groundwater is characterized by the presence of several pollutants including heavy metals, nitrite, nitrate, and coli bacteria. This study aims to determine the distribution of vulnerability and to determine the level of vulnerability of contamination using DRASTIC methods that reflect the static susceptibility. The parameters used in the classification of the degree of vulnerability among others: the depth of groundwater level, rainfall, aquifer type, soil texture, slope, type of unsaturated zone, and hydraulic conductivity of the aquifers. Based on the DRASTIC parameter analyses, the southern part of Bandung Regency has two levels of vulnerability: low (52,83 %) and moderate (47,17 %). The dominant factor affecting the level of vulnerability in each different region, the dominant factor are geological condition,slope, and aquifer types.Keywords: vulnerability, groundwater, DRASTIC method, contaminant
Fasies sedimen Kuarter berpotensi likuifaksi Pesisir Kota Padang, Provinsi Sumatra Barat berdasarkan data inti bor dan CPTu Prahara Iqbal; Adrin Tohari; Imam A. Sadisun; Dwiharso Nugroho
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 1 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5817.602 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v5i1.61

Abstract

ABSTRAKKajian fasies dan sifat fisik sedimen Kuarter kaitannya dengan potensi likuifaksi di daerah Pesisir Kota Padang dan sekitarnya dilakukan dengan tujuan mendapatkan hubungan antara fasies dan karakteristik fisik sedimen Kuarter terhadap potensi likuifaksinya. Metode yang digunakan adalah observasi inti bor dan pola kurva CPTu untuk menentukan fasies yang berkembang, analisis laboratorium, dan analisis potensi likuifaksi untuk mengetahui karakteristik fisik setiap fasies. Berdasarkan asosiasi litologi, pengamatan pola kurva CPTu, analisis laboratorium, dan analisis potensi likuifaksi, terdapat tiga fasies yang berkembang di daerah penelitian dengan potensi likuifaksi yang berbeda. Fasies pasir fluvial memiliki potensi likuifaksi yang lebih tinggi daripada fasies pasir pematang pantai dan fasies lempung rawa, sedangkan fasies lempung rawa memiliki potensi likuifaksi yang paling rendah di antara fasies-fasies tersebut.Kata Kunci: Fasies sedimen Kuarter, CPTu, Likuifaksi, Kota PadangABSTRACTThe study of Facies and physical property of Quaternary sediments and its relationship with liquefaction potential was conducted at the coastal area of Padang city, West Sumatra Province in order to get the relationship between facies and physical characteristics of the Quaternary sediments and its liquefaction potential. The method used are core and CPTu patterns observations to determine the developed facies, laboratory analysis, and liquefaction potential analysis to determine the physical characteristics of each facies. Based on lithological associations, CPTu pattern observations, laboratory analysis, and liquefaction potential analysis, there are three facies that develop at the research areas with different liquefaction potential. Fluvial sand facies has greater liquefaction potential than the beach ridge sand facies and marsh clay facies, while marsh clay facies has the smallest one among two facies.Keyword: Facies and Quarternary sediments Kuarter, CPTu, liquefaction, city of Padang
Tinjauan geologi lingkungan terhadap wilayah bencana aliran bahan rombakan di Wasior Papua Barat Alwin Darmawan; Wahjono Wahjono; Andiani Andiani; Dikdik Riyadi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 3 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3739.201 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i3.29

Abstract

SARIWilayah Wasior berada di pesisir pantai di kaki Pegunungan terjal Wondiboy Kabupaten Teluk Wondama Papua Barat. Aliran bahan rombakan pada tanggal 4 Oktober 2010 telah terjadi secara bersamaan di 8 alur sungai di bagian barat lereng Pegunungan Wondiboy. Dari hasil pemetaan bencana pasca kejadian hanya 3 alur sungai, yaitu Sungai Anggris, Sungai Sanduai, dan Sungai Rahu, yang telah merenggut 163 korban tewas, 91 orang luka berat, 3374 orang luka ringan/berobat dan 121 orang hilang. Penilaian geologi lingkungan diawali dari tahap pertama, yaitu analisis kondisi geomorfologi dan geologi daerah pebukitan dibentuk oleh batuan Genes dengan kemiringan lereng yang ekstrem (70°), tiba-tiba berubah menjadi datar di daerah yang sempit, yang dibentuk oleh endapan kipas alluvial (alluvial fan). Tahap kedua, yaitu analisis terhadap 8 subdas alur sungai yang menunjukkan bahwa alur Sungai Sandui adalah yang terluas 27,75 km2, disusul Sungai Rahu 18,63 km2 dan Sungai Anggris 14,79 km2. Dari data curah hujan pada saat kejadian bencana, yaitu 157 mm/hari, besarnya debit aliran sungai Sungai Sanduai 257,3 m3/det., Sungai Rado 172,7 m3/det dan Sungai Anggris 137,1 m3/det, yaitu melebihi debit normal 68,5 m3/det. Tahap ke tiga merupakan pemetaan situasi kejadian gerakan tanah di 8 subdas aliran sungai yang menunjukkan bahwa longsoran bahan rombakan (debris slide) banyak terjadi di 3 subdas alur sungai Sungai Anggris, Sungai Sanduai dan Sungai Rado. Di Sungai Anggris dan Sungai Sanduai material bahan rombakan berupa bongkah-bongkah batu dan batang-batang kayu, sedangkan pada alur Sungai Rado dominan batang- batang kayu dan Lumpur. Tahap ke empat merupakan rekonstruksi dari mekanisme proses terjadinya bencana banjir bandang yang diakibatkan oleh jebolnya bendungan alam pada alur sungai, terdiri atas batang-batang kayu dan material longsoran. Tahap ke lima merupakan penyusunan peta geologi lingkungan yang berupa arahan pemanfaatan lahan dan rekomendasi teknis, terkait dengan potensi bencana alam aliran bahan rombakan yang kemungkinan akan terjadi di waktu mendatang.Kata kunci: aliran bahan rombakan, geologi lingkungan, pemanfaatan lahan, WasiorABSTRACTWasior is located at the coastal area at the foot of steep Wondiboy Wondama Bay District of West Papua. The debris flow of 4 October 2010 occurred simultaneously in eight river flows at the western part of Wondiboy Mountains. The disaster mapping carried out after the event there were only three rivers namely Anggris, Sanduai, and Rahu which had caused 163 deaths, 91 people were seriously injured, 3374 people were slightly injured and 121 people missing. Assessment of environmental geology of catastrophic events began with the first stage, namely the analysis of geological and geomorphological conditions that the ridge formed by gneiss with an extreme slope (70°), was suddenly turned into a narrow flat area, which was formed by alluvial fan deposits (alluvial fan). The second stage, is analyzing the 8 sub watersheds showed that the largest river basins is River Sandui 27.75 km2, River Rahu 18.63 km2 and River Anggris 14.79 km2. Calculation of rainfall data at the time of the event which was 157 mm/day, the discharge of River Sandui 257.3 m3/sec than River Rado 172.7 m3/sec and River Anggris 137.1 m3/ sec, which exceeds the normal discharge 68.5 m3/sec at the time of the incident. The third stage is a mapping of the situation of the landslide in 8 sub watersheds indicate that avalanches (debris slides) frequently occur in three river watersheds namely River Anggris, River Sanduai and River Rado, with debris material in the form of blocks of rocks and logs, whereas in River Rado is dominantly logs and mud. The fourth stage is a reconstruction of the mechanism of the occurrence of the flood events caused by the collapse of natural dam in the river flow by logs and avalanche material. The fifth stage is the preparation of environmental geologic map in the form of land use guidance and technical recommendations, related to the potential debris flow which is likely to occur in the future.Keywords: debris flow, environmental geology, land use, Wasior
Karakteristik Hidrolika Batuan Sedimen Tersier Berdasarkan Analisis Uji Pemompaan di Kabupaten Cilacap dan Banyumas, Provinsi Jawa Tengah Taat Setiawan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 8, No 3 (2017)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3326.138 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v8i3.126

Abstract

ABSTRAKSebagian wilayah Kabupaten Cilacap dan Banyumas memiliki tipologi akuifer sedimen terlipat yang tersusun atasbatuan berumur Tersier Formasi Halang, Kumbang, dan Tapak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristikhidrolika dan potensi air tanah batuan tersebut berdasarkan analisis uji pemompaan sumur bor air tanah. Hasil analisismenunjukkan batuan tersebut memiliki karakter akuifer semitertekan hingga tertekan. Nilai konduktivitas hidrolikadan permebilitas intrinsik menunjukkan batuan tersebut relatif bersifat sebagai akuifer dengan karakter hidrolika samadengan lanau, lanau pasiran, dan pasir lempungan. Kuantitas air tanah berdasarkan transmisivitas akuifer menunjukkanpotensi jelek hingga sedang untuk kebutuhan domestik, dan potensi sangat jelek untuk kebutuhan irigasi. Nilaikapasitas jenis sumur bor menunjukkan pemompaan dengan debit 1 hingga 2 l/det. masih bisa diharapkan.Kata kunci: karakteristik hidrolika, air tanah, sedimen tersier, uji pemompaanABSTRACTParts of the Cilacap and Banyumas Regencies have folded sedimentary aquifer typology that consist of TertiarySediment of Halang, Kumbang, and Tapak Formations. This study was conducted to determine the hydrauliccharacteristics and groundwater potential of these rocks based on a pumping test analysis. The analysis shows therocks have confined and semiconfined aquifer characters. Based on rock hydraulic conductivity and permeabilityvalues, the aquifer has similar character to silt, sandy silt, and silty sand. Groundwater quantity, based on aquifertransmissivity, indicates poor to moderate for domestic need and insufficient for irrigation purpose. The specificcapacity value shows that pumping rate of 1 to 2 l/sec. can be expected.Keywords: hydraulic characteristics, groundwater, tertiary sediment, pumping test
Jejak tsunami 25 Oktober 2010 di Kepulauan Mentawai berdasarkan penelitian kebumian dan wawancara Yudhicara Yudhicara; Widjo Kongko; Velly Asvaliantina; Suranto Suranto; Sapto Nugroho; Andrian Ibrahim; Widodo S. Pranowo; Nils B. Kerpen; Knut F. Kramer; Oliver Kunst
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 1, No 3 (2010)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4740.995 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v1i3.19

Abstract

SARITsunami Mentawai yang terjadi pada 25 Oktober 2010 adalah kategori tsunami earthquake. Ciri dari kategori ini, antara lain guncangan gempa bumi terasa lemah tetapi berlangsung lama (~ 3 menit) dan menghasilkan tsunami cukup besar. Parameter tsunami yang terukur di lapangan, diketahui bahwa ketinggian run up maksimum 12,4 m di Pulau Sibigou, jarak genangan maksimum 450 m di Dusun Malakopa, kedalaman batimetri dekat pantai 2-15 m, dan ketebalan endapan pasir tsunami mencapai 12cm di Teluk Makaroni. Berdasarkan keterangan dari saksi mata, sebelum tsunami berlangsung indikasinya adalah suara gemuruh dari arah laut dan perilaku burung camar yang mengeluarkan suara yang gaduh. Gelombang tsunami tiba di pantai 5-10 menit setelah guncangan gempa bumi sebanyak 3 sampai 4 kali gelombang. Gelombang yang kedua dianggap paling tinggi.Kata kunci: gempa bumi, Tsunami Mentawai, ketinggian run up, jarak genanganABSRACTTsunami Mentawai of 25 October 2010 is take in to tsunami earthquake catagory, which has weak shaking and slow duration (~ 3 minutes), but produce big tsunami. Tsunami parameter measurement obtained the maximum run up of 12.4 meters at Sibigou Island, maximum inundation of 450 meters at Malakopa Village, near coast bathymetry of 2-15 meters and tsunami sand deposits up to 12 cm at Makaroni Bay. According to the eyewitnesses, there are some precursors such as roaring sound from the sea and bird noisy sounds heard before the tsunami came. Tsunami arrived 5-10 minutes after earthquake, come inland about 3 to 4 times and the second wave was the highest.Keywords: earthquake, Tsunami Mentawai, run up, inundation
Pentarikhan Radiokarbon dalam Penentuan Umur Aktivitas Sesar Sumatra di Liwa, Lampung Radiocarbon Dating for Sumatra Fault Activity Age Determination in Liwa, Lampung Darwin Alijasa Siregar; Yudhicara Yudhicara
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1954.658 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v8i1.165

Abstract

ABSTRAK Gempa bumi tahun 1994 di daerah Liwa dan sekitarnya merupakan gempa yang cukup besar dan memakan banyak korban jiwa. Untuk itu penelitian sesar aktif di daerah tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mengurangi risiko bencana gempa bumi. Metode pentarikhan radiokarbon dengan fase gas asetilena diperkenalkan dalam tulisan ini untuk menentukan umur absolut batuan atau endapan pada suatu singkapan paleoseismik, sehingga dapat merekonstruksi kejadian gempa bumi pada masa lampau, yang bersumber pada sistem tektonik sesar Sumatra yang terdapat di Liwa, Lampung. Metode ini memanfaatkan material yang mengandung unsur karbon radioaktif yang terdapat di dalam suatu percontoh batuan atau sedimen dengan kisaran umur tidak lebih dari 50.000 tahun BP (Before Present). Berdasarkan hasil pentarikhan tersebut diketahui aktivitas tektonik sesar Sumatra di daerah Liwa (Segmen Semangko) terjadi pada 5370 - 5280 ±120 tahun B.P. dan 2980 - 2880 ± 120 tahun B.P. Kata kunci: gas asetilena, Liwa, Pentarikhan radio karbon, Sesar Sumatra ABSTRACT The 1994 earthquake in Liwa and its surroundings is the most severe earthquake which caused many fatalities. Therefore a research of active faults has been done as an effort to mitigate the earthquake hazard. In this paper, dating method is introduced using asetilena gas phase which is one of dating methods applied to rocks or sediment from a paleoseismic exposure to reconstruct a paleo-earthquake event. This method uses material containing radioactive carbon and resulting the age that is no more than 50.000 BP (Before Present). This method determine that there is tectonic activity of Sumatra Fault in Liwa region, which occured in 5,370 – 5,280 ± 120 years B.P. and 2,980 – 2,880 ± 120 years B.P. Keywords: asetilena gas, carbon dating, Liwa, Sumatra Fault
Prekursor peningkatan kegiatan Gunung Tangkubanparahu pada Agustus – September 2012 Ugan Boyson Saing; Ony K. Suganda; Iyan Mulyana; Ahmad Basuki
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 4, No 2 (2013)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5390.261 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v4i2.52

Abstract

ABSTRAKPada 23 Agustus 2012 status Gunung Tangkubanparahu dinaikkan dari Normal (Level 1) menjadi Waspada (Level 2) karena adanya peningkatan aktivitas di Kawah Ratu. Prekursornya meningkat secara seismik, visual, temperatur solfatara, geokimia, dan deformasi. Saat kondisi normal, kegempaan Gunung Tangkubanparahu didominasi oleh gempa vulkanik dangkal (VB) berkisar 5 kejadian per hari, sedangkan vulkanik dalam (VA) kurang dari 1 kejadian per hari. Setelah peningkatan kegiatan, tremor menerus muncul, gempa vulkanikdangkal pada 12 – 20 Agustus 2012 meningkat menjadi 9 – 18 kejadian per hari. Saat status normal, tinggi asap solfatara Kawah Ratu antara 20 – 50 m di atas dasar kawah. Setelah meningkat status Waspada pada 24 Agustus 2012 tinggi asap solfatara menjadi 50 – 100 m dari dasar kawah. Temperatur solfatara dari 106,3o C pada 18 Agustus 2011 naik menjadi 246,0o C pada 24 Agustus 2012 dan 286,0o C pada 11 September 2012. Fluks SO2 solfatara Kawah Ratu dari 0,15 ton/hari pada 24 Agustus 2012 naik menjadi 1,85 ton/hari pada 6 September 2012. Rasio Cl/SO4 dari 0,11 pada Desember 2011 naik menjadi 3,98 pada 24 Agustus 2012 dan 3,52 pada 11 September 2012. Deformasi EDM (PARK – LRNG) mengalami pemanjangan jarak miring (slope) sebesar 2,30 cm pada 9 – 16 September 2012. Bila dibandingkan dengan data GPS bulan Agustus 2012, deformasi GPS pada bulan September 2012 menghasilkan perubahan nilai vektor horizontal sebesar 1,22 – 8,97 cm dengan arah vektor dominan ke luar Kawah Ratu.Kata kunci : gempa vulkanik, solfatara, fluks SO2, rasio Cl/SO4, deformasiABSTRACTOn August 23, 2012 Alert level of Tangkubanparahu Volcano raised from Normal (Level 1) to Level 2 due to an increased activity in the Kawah Ratu. In addition to increasing activity shown by seismic precursors, also improved visually, solfatara temperature, geochemical, and deformation. In normal condition, seismicity of Tangkubanparahu is dominated by shallow volcanic earthquake less than 5 events per day, whereas the deep volcanic earthquake less than 1 event per day. After the increasing activity, continuous tremor appears, number of shallow volcanic earthquake increased on 12 to 20 August 2012 to 9-18 events per day. In Normal status, solfatara plume height of Kawah Ratu was 20-50 m above the bottom of the crater, after increasing on August 24, 2012 (Level 2) solfatara plume height be  50-100 m from the bottom of the crater. Solfatara temperature was 106.3° C on August 18, 2011 raised to 246.0° C on August 24, 2012 and 286.0° C on September 11, 2012. SO2 flux of Kawah Ratu solfatara of 0.15 tonnes/day on August 24, 2012 increased to 1.85 tonnes/day on September 6, 2012. Cl/SO4 ratio of 0.11 in December 2011 raised to 3.98 on August 24, 2012 and 3.52 on 11 September 2012. Lengthening of slope distance of PARK - LRNG was 2.30 cm from 9 to 16 September 2012. Compared to the August 2012 GPS data, deformation on September 2012 changes in the value of the horizontal vector of 1.22 to 8.97 cm with the dominant vector outward from theKawah Ratu Crater.Keywords: volcanic earthquake, solfatara, SO2 flux, Cl/SO4 ratio, deformation
Gempa Bumi Laut Maluku Tanggal 15 November 2014 Supartoyo Supartoyo
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 6, No 1 (2015)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1622.63 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v6i1.75

Abstract

ABSTRAKSabtu tanggal 15-11-2014 pukul 09:31:44 WIB, daerah Sulawesi Utara dan Maluku Utara digoncang gempa bumi kuat dengan kekuatan 7,3 SR (Scale Richter). Kejadian gempa bumi tersebut diikuti gempa bumi susulan dengan luas zona pecah 145,6 km x 54,5 km. Kedudukan pusat gempa bumi tanggal 15-11-2014 hampir berdekatan dengan kejadian gempa bumi tanggal 21-1-2007. Kedua gempa bumi tersebut bersumber dari aktivitas sesar naik pada Punggungan Mayu. Gempa bumi tanggal 15-11-2014 telah mengakibatkan dinding lantai VII Hotel Lion ambruk dan retakan dinding Hotel Grand Puri di Kota Manado. Di Kota Bitung sebuah rumah rusak dan jalan longsor akibat hujan dan goncangan gempa bumi. Di Kabupaten Kepulauan Sitaro sembilan rumah mengalami kerusakan. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan tidak ditemukan jejak terjadinya tsunami. Kejadian gempa bumi ini sempat membuat masyarakat Kota Manado, Bitung dan wilayah pesisir timur Sulawesi Utara panik dan resah karena adanya peringatan dini tsunami. Intensitas goncangan gempa bumi terasa di seluruh wilayah Sulawesi Utara. Dengan skala intensitas gempa bumi di Kota Manado dan Bitung mencapai V skala MMI (Modified Mercally Intensity). Dari hasil analisis zona pecah gempa bumi tanggal 15-11-2014 dan 21-1-2007 diperoleh nilai magnitudo maksimum sumber gempa bumi penunjaman Punggungan Mayu pada peristiwa ini sebesar 8,5 Mw (moment magnitude).Kata kunci: Gempa bumi Laut Maluku, Punggungan Mayu, skala intensitasABSTRACTOn Saturday, November 15th, 2014 at 09:31:44 PM, Areas of North Sulawesi and North Maluku, were struck by a strong earthquake with magnitude of 7.3 Richter Scale. The earthquake was followed by aftershocks with rupture zone dimension of approximately 145.6 km x 54.5 km. The epicentre of the earthquake on November 15th, 2014 is almost adjacent with the previous  earthquake on January 21st, 2007. Both of these earthquakes were derived from reverse fault activities in Mayu ridge. The earthquake on November 15th, 2014 causes the wall of 7th floor of Lion Hotel collapsed and wall cracks of Grand Puri Hotel in Manado, a damaged house and landslide of road triggered by rain and earthquake shaking in Bitung. Nine houses were damaged in Kepulauan Sitaro Regency. Based on field observations no trace of tsunami by this earthquake. The earthquake could make the peoples in Manado City, Bitung and eastern coastal areas of North Sulawesi worryed caused by the tsunami early warning. The earthquake shaking was felt in North Sulawesi region. The earthquake intensity scale in Manado and Bitung Cities of V MMI (Modified Mercally Intensity) scale. Based on analysis of rupture zone that occurred in 2007 and 2014, the maximum magnitude earthquake source of Mayu ridge is 8,5 Mw (moment magnitude).Keywords: earthquake on November 15, 2014, Mayu ridge, intensity scale
Prediksi tingkat pencemaran air tanah dangkal daerah Bandung, Jawa Barat Suhari Suhari
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 3, No 3 (2012)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2073.738 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v3i3.43

Abstract

ABSTRAKPeta penggunaan lahan daerah Bandung dan sekitarnya dikonversikan menjadi peta potensi sumber pemcemaran terhadap air tanah dangkal. Peta ini kemudian ditumpangsusunkan dengan peta sensitivitas pencemaran air tanah menghasilkan peta baru yaitu peta prediksi tingkat pencemaran air tanah dangkal. Terdapat lima kategori tingkat pencemaran yaitu rendah, agak rendah, sedang, agak tinggi, dan tinggi. Sebagian besar daerah kajian memiliki tingkat pencemaran sedang dan agak tinggi.Kata kunci: pencemaran air tanah, BandungABSTRACTLanduse map of Bandung area and its surroundings is converted into pollutant potential to groundwater contamination map. Overlaying such the map with groundwater vulnerability map produces a new map namely predicted groundwater pollution map. There are five prediction levels of groundwater pollution namely low, rather low, moderate, rather high, and high. Most parts of the area are of moderate and rather high levels.Keywords: groundwater pollution, Bandung
Geologi lingkungan untuk penentuan koefisien dasar bangunan wilayah Cibinong dan sekitarnya Oki Oktariadi; Dikdik Riyadi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1767.295 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v1i2.9

Abstract

SARIKejadian banjir di wilayah DKI terus berulang walaupun banyak program yang sudah dilakukan dengan curahan dana dan usaha yang besar. Pendekatan teknis yang telah dan akan dilakukan belum secara komprehensif menggunakan informasi geologi lingkungan. Sehubungan hal tersebut perlu diambil langkahlangkah untuk mengatasi masalah guna mengendalikan banjir dengan berbagai upaya jangka pendek dan mampu menjamin keberhasilan jangka panjang. Salah satunya adalah menentukan koefisien dasar bangunan (KDB) untuk meningkatkan kapasitas imbuhan air tanah. Penelitian dilakukan di enam kecamatan yang masuk ke wilayah Kabupaten Bogor, yaitu Cibinong, Citeureup, Gunung Putri, Kedunghalang, Bojong Gede, dan Semplak. Untuk mengetahui KDB tersebut dilakukan analisis neraca air berdasarkan persamaan “Mock”. Dari hasil perhitungan KDB di wilayah penelitian diperoleh nilai KDB: (1) lahan yang disusun oleh batuan kipas volkanik dengan kemiringan lereng < 10% hanya dapat dibangun maksimal dengan KDB 20%, kemiringan lereng 10 – 30% dapat dibangun maksimal KDB 15%, kemiringan lereng > 30% dijadikan sebagai lahan budidaya yang dapat menghindari terjadinya peningkatan air larian, peningkatan erosi dan longsoran. (2) lahan yang disusun oleh batuan sedimen pembangunan dapat dibuat dengan KDB 25% dengan tanpa rekayasa pemulihan neraca air karena kondisi tanah/batuan yang tidak memungkinkan untuk dibuat sebagai bidang resapan. Air larian yang terjadi dapat ditampung dalam kolam penampungan (retention pond) untuk dijadikan sebagai sumber baku air bersih.Kata kunci: geologi lingkungan, KDB, resapan airABSTRACTThe flood events in keep repeating even though many programs have been conducted with the outpouring amount of funds and efforts. The technical approach that have been and will be carried out does not use environmental geology comprehensively. Regarding this matter it needs to solve the problem in order to control the flooding with varoius short term effort that can guaranted long-term success. One of them is determining the building coverage ratio (BCR) to increase ground water recharge capacity. Administratively the study area comprises six districts that includesto the regency of Bogor, namely Cibinong, Cieureup, Gunung Putri, Kedunghalang, Bojong Gede, and Semplak districts. To know the building coverage ratio (BCR) and analysis of water balance was carried out based on “Mock” equation . Calculation of BCR in the research area, results: (1) land that is composed by volcanic rock fan with a slope of <10% can only be developed with BCR of 20%, slope 10-30% can be built up with a BCR up to 15%, slope > 30% can be utilized as cultivation land which can avoid the increase of running water, erosion, and landslide. (2) land development composed by sedimentary rocks can be developed with a BCR up to 25% without engineering approach to recover water balance since the conditions of soil / rock that does not allow water to percolate downward. running water can be accommodated in retention pond to serve as a source of raw water.

Page 8 of 22 | Total Record : 218