cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL ILMIAH PLATAX
ISSN : 23023589     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Mencakup Penulisan yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan secara mandiri, atau kelompok, dan berdasarkan Ruang Lingkup Pengelolaan Wilayah Pesisir, Konservasi, Ekowisata, dan Keanekaragaman Hayati Perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Ekopreferensi Dua Jenis Avicennia Terhadap Parameter Lingkungan Di Tegakan Bakau Muara Sungai Wulan Demak Joudy R.R. Sangari
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 2 No. 3 (2014): EDISI SEPTEMBER-DESEMBER 2014
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.2.3.2014.9126

Abstract

Studi mengenai ekopreferensi dan dua jenis mangrove (Avicennia marina dan A. alba) dilakukan di tegakan mangrove muara sungai Wulan, Demak. Tujuan penelitian ini diarahkan untuk melihat kemampuan ekopreferensi A. marina dan A. alba terhadap salinitas, jenis sedimen dan kandungan air. Data vegetasi diperoleh dengan menggunakan transek garis yang dikombinasikan dengan cara kuadrat yang dimodifikasi dari Cox (1967) dan Mueller-Dumbois & Ellenberg (1977). Dua stasiun pengumpulan data vegetasi ditentukan secara horisontal dari garis pasang terendah sampai garis pasang tertinggi. Pengukuran parameter lingkungan dilakukan pada transek yang ada dan tanah sampel dianalisis untuk melihat fraksi tekstur. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam hal keragaman vegetasi, tegakan mangrove yang ada di muara Sungai Wulan miskin dalam hal komposisi jenis dibandingkan dengan tegakan mangove yang ada di sepanjang pantai utara Jawa Tengah. Studi ini juga menunjukkan bahwa kehadiran A. marina cenderung menjadi species pelopor dibandingkan dengan A. alba. Diduga hal ini disebabkan oleh kemampuan A marina untuk beradaptasi pada kondisi salinitas dan tipe tanah yang marginal. Kata kunci: Bakau, ekopreferensi, A. marina, A. alba, Muara Sungai Wulan A b s t r a c t Study on ecological preferences of two Avicennia species was carried out in Wulan River, Demak, Central Java. The sudy was aimed at revealing the eco-preference toward salinity, sediment types and water content. Vegetation data were collected by implementing line transect approach combined with quadrate methods modified according to Cox (1967) and Mueller-Dumbois & Ellenberg (1977). Two sites for vegetation data collection were set horizontally from High Tide Mark toward Low Tide Mark. All ecological parameters were measured in situ on the established transects.  The results showed that in term of mangrove species diversity this area is low or marginally poor compared to other mangrove belts along the northern coast of Central Java. The study also showed that the two Avicennia species  are the pioneer species. These two species of Avicennia are adaptable to the salinity and soil types that are poor in term of nutrients content. Key word: mangrove, ecological-preference, A. alba, A. marina, Wulan River estuary 1Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNSRAT Manado
Predation Intensity in Mangrove Ecosystem in Marine Protected Area, North Sulawesi Tabita S.H. Suyoto; Farnis B. Boneka; Nego E. Bataragoa; Sebastian C. A. Ferse; Lawrence J. L. Lumingas; Markus T. Lasut; Deiske A. Sumila; Edwin L. A. Ngangi
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 2 (2019): ISSUE JULY - DECEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.2.2019.24415

Abstract

This study aims to get an overview of the intensity of predation on mangrove ecosystem in five marine protected areas (MPA), namely Tumbak, Basaan, Blongko, Bahoi and Tambun. The research method was carried out by installing Squidpops bait within one hour and calculating the number of lost bait during the exposure of baits in high tide. Fish species that migrate in the mangrove area are obtained through visual census; Mega Bentos is recorded.  The result of this study indicates the intensity of predation in the mangrove ecosystem in the five North Sulawesi DPLs are varied in each location, which has the possibility of being influenced by local condition, predatory fish population, the level of disturbance at observation, method and level of preference for the bait provided.Keywords: Predation, Predator, Mangrove, Fish Community, Squidpops ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran intensitas predasi pada ekosistem mangrove di lima daerah perlindungan laut (DPL), yaitu Tumbak, Basaan, Blongko, Bahoi dan Tambun. Metode penelitian dilakukan dengan pemasangan umpan Squidpops dalam waktu 1 jam dan menghitung jumlah umpan yang hilang selama umpan terpapar pada saat air pasang. Jenis ikan yang bermigrasi di daerah mangrove diperoleh melalui sensus visual; mega bentos dicatat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan intensitas predasi di ekosistem mangrove pada 5 DPL Sulawesi Utara bervariasi pada tiap lokasi yang memiliki kemungkinan dipengaruhi oleh kondisi lokal, populasi ikan predator, tingkat gangguan saat pengamatan, metode dan tingkat kesukaan pada umpan yang disediakan.Kata Kunci: Predasi, Predator-Mangsa, Mangrove, Komunitas Ikan, Squidpops
Inventory of Fish Species and Local Fishermen Profile in Tagulandang Island, Sitaro District of North Sulawesi Province Meikel A Marthin; Rose O. S. E. Mantiri; Jan F. W. S. Tamanampo
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.2.2016.14076

Abstract

This research was carried out on July-August 2016 in the villages of Apengsala, Mohongsawang and Balehumara in SITARO District of North Sulawesi Province. It aims to make inventory of fish species, record the number of the fish caught, and get the local fishermen profile. Samples were bought from local fishermen who just returned from fishing areas in the traditional fish market “Burias”. The data of fishermen profile and fishing gears were retrieved from 30 respondents of Apengsala, Mohongsawang and Balehumara fishermen. Based on the results of the identification, interviewing and questionnaire filling, the conclusions are as follows: 1) there are 23 species of fish usually captured by local fishermen. 2.) there are 5 types of fishing gears often used by fishermen :  Spear gun (Jubi),  “ Darape” net (soma darape), traps (bubu), “Rawai” Rod (pancing rawai) and “Cang” net (soma cang). 3.) The average age and the length of fishing profession from 30 respondents data, ranges from 27-60 years old and 4-41 years of profession (Apengsala) ; 32-50 years old and 9-31 years of  profession (Mohongsawang) ; and 20-65 years old and 1-41 years of profession (Balehumara). Only 1 respondens who is not married yet, mostly finished their study until elementary school, and only 9 respondents have odd jobs. Local fishermen can still meet the needs of the family life with a dependent varied with 3-7 person/family.   Key Words: Fish, Fishermen In Profile, Tagulandang.   Abstrak Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2016 di Desa Apengsala, Desa Mohongsawang dan Desa Balehumara Pulau Tagulandang Kabupaten SITARO Provinsi Sulawesi Utara.   Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jenis ikan hasil tangkapan,  mendata jumlah ikan hasil tangkapan dan alat penangkapan ikan, dan mendapatkan profil nelayan Pulau Tagulandang. Pengambilan sampel dilakukan di tempat pendaratan ikan pasar tradisional Burias. Sampel yang diambil merupakan ikan hasil tangkapan nelayan yang baru saja kembali dari melakukan kegiatan penangkapan.  Pengambilan data profil nelayan dan jenis alat tangkap diambil dari 30 responden dari ketiga desa. Bedasarkan hasil identifikasi, wawancara dan pengisian kuisioner pada nelayan Pulau Tagulandang, kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut : 1). Ada 23 Jenis ikan yang sering ditangkap oleh nelayan Pulau Tagulandang. 2). Terdapat 5 jenis alat tangkap yang sering digunakan oleh nelayan Pulau  Tagulandang, yakni Spear gun (jubi), soma darape, bubu, pancing rawai dan soma cang. 3). Berdasarkan data dari 30 responden,  rata-rata usia dan lamanya berprofesi sebagai nelayan : usia 27-60 tahun dan 4-41 tahun profesi (Desa Apengsala) ; 32-50 tahun, 9-31 tahun (Desa Mohongsawang) ;  20-65 tahun, 1-41 tahun (Desa Balehumara). Hanya 1 responden yang belum kawin, mayoritas hanya mampu tamat sekolah dasar,  dan hanya 9 responden yang memiliki pekerjaan sambilan. Adapun dari penghasilan dan pengeluaran, nelayan masih dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga dengan tanggungan yang berkisar 3-7 orang/keluarga. Kata Kunci : Ikan, Profil Nelayan, Tagulandang. 1Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK UNSRAT 2Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi.
Community Structure Of Sea Cucumber (Holothuroidea) In The Coastal Area Of The Island Of Jailolo Subdistrict Nyaregilaguramangofa South Halmahera Regency West Of North Maluku Gajali Husain; Jan W. S. F. Tamanampo; Gaspar D. Manu
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.15910

Abstract

Sea cucumbers (Holothuroidea) are a group of marine invertebrate animals of the class Holothuroidea (phylum Echinodermata). At present, hunting of sea cucumbers is not only targeted at species of high economic value, but also of low economic value. The pressure of exploitation has led to a decline in the population that can cause changes in the structure of the community. The purpose of this research is to understand the type of sea cucumber, analyze the structure of sea cucumber which includes individual density, diversity index, domination index, inter species association and dispersion pattern. Sampling was conducted at night during the lowest tide in April 2016. Based on the results of research conducted in the coastal area of Nyaregilaguramangofa Island, South Jailolo district, West Halmahera Regency, North Maluku. Species of sea cucumbers found in the study sites were 6 species of sea cucumber: Holothuria atra, Holothuria hilla, Holothuria scabra, Bohadschia marmorata, Bohadschia vitiensis and Ophedesoma grisea, each with an average individual density of 0.029 ind/m2, the diversity index (H '= 1,495), the fairness index (e = 0.834), the dominance index (C = 0.260), the association between the six species forming 4 pairs of positive associations and 11 pairs of negative associations and the entire population has a randomly distributed pattern.Keywords: Structure communities, Holothuroidea, Nyaregilaguramangofa, Nort Maluku  ABSTRAKTeripang (Holothuroidea) adalah kelompok hewan avertebrata laut dari kelas Holothuroidea (filum Echinodermata). Pada saat ini, perburuan teripang tidak hanya ditargetkan pada spesies yang bernilai ekonomis tinggi, tetapi juga yang bernilai ekonomis rendah. Tekanan eksploitasi telah menyebabkan penurunan populasi yang dapat menyebabkan perubahan pada struktur komunitasnya. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memahami jenis teripang, menganalisis struktur teripang yang meliputi kepadatan individu, indeks keanekaragaman, indeks dominasi, asosiasi antar spesies dan pola penyebaran. Pengambilan sampel dilakukan pada malam hari saat surut terendah pada bulan April 2016. Berdasarkan hasil penelitian dilakukan di kawasan pantai Pulau Nyaregilaguramangofa, kec. Jailolo Selatan Kab. Halmahera Barat, Maluku Utara. Spesies teripang yang ditemukan di lokasi penelitian berjumlah 6 spesies teripang: Holothuria atra, Holothuria hilla, Holothuria scabra, Bohadschia marmorata, Bohadschia vitiensis dan Ophedesoma grisea, masing-masing dengan kepadatan individu rata-rata 0.029 ind/m, indeks keanekaragaman (H' = 1.495), indeks kemerataan atau keserasian (e = 0.834), indeks dominansi (C = 0.260), asosiasi antar 6 spesies membentuk 4 pasang asosiasi positif dan 11 pasang asosiasi negatif dan keseluruhan populasi memiliki pola  penyebaran secara  acak.Kata kunci : Struktur komunitas, teripang, Nyaregilaguramangofa, Maluku Utara 
BIODIVERSITAS KERANG OYSTER (MOLLUSCA, BIVALVIA) DI DAERAH INTERTIDAL HALMAHERA BARAT, MALUKU UTARA Pieter F Silulu; Farnis B Boneka; Gustaf F. Mamangkey
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 1 No. 2 (2013): EDISI JANUARI - APRIL 2013
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.1.2.2013.1247

Abstract

BIODIVERSITAS KERANG OYSTER (MOLLUSCA, BIVALVIA) DI DAERAH INTERTIDAL HALMAHERA BARAT, MALUKU UTARA Biodiversity of Oyster (Mollusca, Bivalvia) in the Intertidal of West Halmahera, North Maluku Pieter F Silulu2, Farnis B Boneka3, Gustaf F. Mamangkey3   ABSTRACT   Biodiversity in coastal areas, whether in the form of genetic, species or ecosystem diversity is a valuable asset for supporting development in Indonesia. This study aimed to figure out the types of oyster, species abundance, diversity and dominant species in the intertidal area of the West coast of Halmahera. Aktivitiy studies conducted in March - Jun 2012 at three sites using belt transects method. The analysis showed abundant species Isognomon isognomon is with density between 0.080 to 0.283 ind/m2, diversity in the category are marked with an index value in the range of 1.109 to 1.644. Six families of oyster constans were found 8 species, namely Isognomon isognomon, Saccostrea cucullata, Saccostrea sp, Chama limbula, Hyotissa hyotis, Malleus malleus, Spondylus versicolor, Pinctada margaritifera.. Keywords : biodiversity, oyster, intertidal, West Halmahera   ABSTRAK Keanekaragaman hayati di wilayah pesisir, baik dalam bentuk keanekaragaman genetik, spesies maupun ekosistem merupakan aset yang sangat berharga untuk menunjang pembangunan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji jenis-jenis oyster, kelimpahan spesies, keanekara-gaman dan dominan spesies di daerah intertidal pantai Halmahera Barat. Kegiatan penelitian dilakukan pada bulan Maret – Juni 2012 di tiga stasiun penelitian dengan menggunakan metode transek pita. Hasil analisis menujukkan spesies Isognomon isognomon paling melimpah dengan kepadatan antara 0,080 – 0,283 ind/m2, keanekaragaman dalam kategori sedang ditandai dengan nilai indeks pada kisaran 1,109 – 1,644. Jenis oyster yang ditemukan 8 jenis yang tergolong dalam 6 famili, yakni Isognomon isognomon, Saccostrea cucullata, Saccostrea sp, Chama limbula, Hyotissa hyotis, Malleus malleus, Spondylus versicolor, Pinctada margaritifera   Kata kunci : keanekaragaman, oyster, intertidal, Halamahera Barat   1 Bagian dari skripsi 2 Mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan FPIK-UNSRAT 3 Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi
The Ecological Adaptive Significance Of Littoraria scabra For Their Survivorship In Extreme Mangrove Environment Of Tombariri Jans D Lalita; Jety K Rangan
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 6 No. 2 (2018): ISSUE JULY-DECEMBER 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.2.2018.20576

Abstract

This research was found the ecological adaptive significance for their survivorship in mangrove microhabitat was as follow resting place, avoiding high tide, finding food, lying larvae, avoid sunshine, and hiding from predators. Significance of clumped distribution was taken to reduce drying stress, temperature, fallen from substrate against wave strikes, feeding and reproduction activity, suitable habitat. Significance of population abundance to balance strong predation and response to pressure of nature selection for their survivorship. Key Words : Littoraria scabra,  significance, ecology, survival, and mangrove ABSTRAKPenelitian ini menemukan bahwa signifikansi ekologi Littoraria scabra untuk survival di mikrohabitat mangrove Tombariri yang ekstrim adalah sebagai berikut berfungsi sebagai tempat istirahat, menghindari perendaman air, mencari makanan, meletakkan larva, menghindar cahaya dan bersembunyi dari predator-predator. Signifikansi L. scabra  distribusi spasial mengelompok untuk mereduksi stres kekeringan, suhu, terlepas di substrat akibat gelombang, aktivitas makan, reproduksi, kecocokan habitat. Signifikansi distibusi mengelompok dengan populasi tinggi untuk mengimbangi kuatnya predasi serta merespons tekanan seleksi alam yang kuat demi kelangsungan hidupnya. Kata Kunci : Littoraria scabra, signifikansi, ekologi, survival dan mangrove
MORFOMETRIK KIJING TAIWAN (Anodonta woodiana) DI BEBERAPA LOKASI DI KABUPATEN MINAHASA DAN MINAHASA UTARA Ahazia I. Tampa; Cyska Lumenta; Ockstan J. Kalesaran
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 2 No. 2 (2014): EDISI MEI - AGUSTUS 2014
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.2.2.2014.7148

Abstract

This study was conducted to determine morphometric kijing taiwan at several locations in Minahasa District and North Minahasa regency and its association with the abundance of plankton and water quality. Sampling gravestone taiwan and water quality obtained from the four (4 ) locations: Rap Rap Village, BBAT Tatelu North Minahasa Regency, Paleloan and Tataaran II Village, Minahasa regency. Morphometric measurements kijingg taiwan include dimensional measurements and weighing of the shell. Measurement of shell dimensions include length , width , and thickness. Include the weighing of the weighing of the total, shell weight and wet weight of meat. Water quality measurements carried out directly at the sites include measurement of temperature, pH, dissolved oxygen and water base texture, while the identification of plankton carried in Pathology and Clinical Laboratory of Fish Diseases, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, University of Sam Ratulangi. Morphometric measurements will be taken in any of 50 individual kijing taiwan each location. The results of morphometric measurements in multiple locations showed uniform size Tataaran II contained in the Village, the Village and Village Paleloan Rap Rap while in BBAT Tatelu uniformity of size only in size from 7-18 to 9-74 cm was caused by Taiwan in the pool because kijing BBAT Tatelu regarded as pest extermination so regularly done. Relationships shell length and total weight kijing taiwan to change at any time is influenced by several factors such as the condition of gonadal maturation , water quality and availability of food in the waters.
Coral Reef Conditions of Hogow and Dakokayu Islands Southeast Minahasa Regency Billy N. Ompi; Unstain N.W.J. Rembet; Ari B. Rondonuwu
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.22743

Abstract

This research objective was to determine the condition of Coral Reef ecosystems in Dakokayu and Hogow Islands, Southeast Minahasa Regency. The method that has been used in this studies that is Line Intercept Transect (LIT) by diving activities at 5 meter and 10 meters depth with 50 meters transect length. Each biota passed by the line transect recorded according based on shape of growth.Coral Reefs conditon in Hogow Island in 5 meters and 10 meters depth were categorized as a “Good” where the percentage of live coral cover in 5 meters depth is 70.12% and in 10 meters depth  is 55.78%. The condition of Coral Reefs on Dokokayu Island at a depth of 5 meters is categorized “Good” with the percentage of live coral cover is 56.32% while in the 10 meters depth it is categorized as “Medium” with the percentage of live coral cover is 48.10%. Water quality parameters such as temperature, salinity, brightness, pH, and dissolved oxygen (DO) are within the range of tolerance for Coral Reefs to survive.Keywords: Condition, Coral Reef, Hogow, DokokayuABSTRAKTujuan penelitian untuk mengetahui kondisi ekosistem terumbu karang di Pulau Dakokayu dan Pulau Hogow, Kabupaten Minahasa Tenggara.  Metode yang telah digunakan dalam penelitian ini yaitu Line Intercept Transek (LIT) dengan melakukan penyelaman pada kedalaman 5 dan 10 meter dengan panjang transek 50 meter.  Setiap biota yang dilewati transek akan dicatat menurut bentuk pertumbuhannya. Secara umum, kondisi terumbu karang di Pulau Hogow pada kedalaman 5 meter dan 10 meter, dikategorikan Baik dimana persentasi tutupan karang hidup pada kedalaman 5 meter sebesar 70,12% dan pada kedalaman 10 meter sebesar 55,78%.  Kondisi terumbu karang di Pulau Dokokayu pada kedalaman 5 meter dikategorikan Baik  dengan persentase tutupan karang hidup 56,32% sedangkan di kedalaman 10 meter dikategorikan  Sedang  dengan persentase tutupan karang hidup 48,10 %. Parameter kualitas perairan seperti suhu, salinitas, kecerahan, pH, dan oksigen terlarut (DO) berada dalam kisaran toleransi bagi terumbu karang untuk dapat bertahan hidup.Kata Kunci : Kondisi, Terumbu Karang, Hogow, Dokokayu
In Intertidal Gastropod community Malalayang Beach Manado North Sulawesi Cornelis Dimas Bugaleng; Fransine B. Manginsela; Alex D. Kambey
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 3 No. 1 (2015): EDISI JANUARI-JUNI 2015
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.3.1.2015.13217

Abstract

This study aims to determine the density and relative density of gastropods and diversity index of the community as well as evenness and dominance index in the intertidal beach Malalayang), Manado in North Sulawesi. Gastropods were sampled using quadrate with size 1x1m2 placed systematically and disproportionately on dead coral sandy substrate, mix mud, rocks slightly sandy substrate, and  substrate-sized stones. The study found that there has been a change in the amount of 30 species of gastropod species (Manginsela, 1998) increased to 69 species. While the density of gastropods contained in the intertidal beach of Malalayangis ranging from  13,63individu / m2to currently 2,73-13,63individu / m2 and relative density ranging from 11.22% - 42.78%. Diversity index of organism is high with a value of H '= 2.81497. Evenness index of gastropods in Malalayang Beach intertidalcould be categorized fairly even and almost evenly. Meanwhile, the low dominance values ​​C = 0.2132, indicating that the area has good conditions as a place to live, and yet there is competition, which means, food or a place is suitable for gastropods to live. The intertidal area of Malalayang Beach Manado North Sulawesi substrate are mainly in the form of sandy coral, slightly muddy and rocky. Keywords: gastropod, distribution A B S T R A K Penelitian ini bertujuan mengetahui kepadatan, kepadatan relative  dari masing-masing jenis gastropoda serta indeks keanekaragam komunitas gastropoda, kemerataan dan indeks dominansi di intertidal Pantai Malalayang (di belakang Minanga Hotel), Manado Sulawesi Utara. Pengambilan contoh gastropoda menggunakan kuadrat ukuran 1x1m2 yang ditempatkan secara sistimatis dan proporsional pada substrat karang mati berpasir campur lumpur, substrat bebatuan sedikit berpasir substrat batu-berukuran. Hasil penelitian menemukan telah terjadi perubahan jumlah spesies gastropoda dari 30 spesies (Manginsela, 1998) meningkat menjadi hanya 69 spesies. Sedangkan kepadatan gastropoda yang terdapat di intertidal pantai Malalayang dari berkisar 13,63individu/m2 saat ini 2,73-13,63individu/m2 dan kepadatan relatif berkisar 11,22% - 42,78%. Keanekaragaman jenis organisme tergolong tinggi dengan nilai H’ = 2,81497. Kemerataan jenis gastropoda pada intertidan Pantai Malalayang Manado Sulawesi Utara termasuk kategori cukup merata dan hampir merata. Sedangkan,  Dominasi rendah yakni nilai C = 0.2132,  menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki kondisi yang baik sebagai tempat hidup dan belum terjadi persaingan yang berarti terhadap ruangg, makanan atau tempat hidup bagi gastropoda. Di daerah intertidal Pantai Malalayang Manado Sulawesi Utara Substrat berupa karang mati berpasir, berlumpur tipis dan berbatuan. Kata Kunci : Gastropoda, Distribusi 1Mahasiswa Program Studi MSP FPIK-UNSRAT 2Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi
Water quality management for aquaculture at Lake Tutud, North Sulawesi Suzanne L. Undap; Reiny A. Tumbol
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.2.2016.15225

Abstract

Southeast Minahasa Regency has potential natural resources, one of them related aquculture in Lake Tutud. Considering the conditions and opportunities for the development of aquaculture in Lake Tutud, improvement efforts and increase the potential for fish production needs to be done. Some of the factors that caused the current problems include declining water level of Lake Tutud drastically in recent years caused by the death of most of spring water coming into the lake causing sedimentation, high content of sulfur from the irrigation run off. All of these problems can be a barrier to tilapia fish culture, so it is necessary to periodically measure the water quality in Lake Tutud in order to improve and enhance the quality of the water before it is used for culture efforts. Referring to the current economic conditions of the community around Lake Tutud of Tombatu 3 Village include community leaders and the fish farmers are also public observers who are interested in this program, through the Program Implementation of science and technology for the Community (IbM) of PNBP UNSRAT given counseling, training and mentoring such as water quality management technology. The methods used in the implementation of science and technology program are education, training, discussion and mentoring. Materials used were proper method of producing fish seeds, the stages of the production process, the use immunostimulatory in fish feed for fish disease management, maintain and improve water quality. With the Community Service Program through the application of science and technology, it is expected that there will be a transferred in science and technology in water quality management of Tutud lake so hopefully their business development, creation of business opportunity, income generation and welfare of the people in this Tombatu 3 village. The results revealed that the implementation of this community service activity in the form of the application of science and technology are: lecture activities, training, discussion and question and answer, including the lake water quality measurements that have been going well with good response of the fish farmers indicated by the presence of participants as much as 80%, show that a). increased production of tilapia fish farmers through water quality management can be implemented, b). tilapia fish farming is feasible and can provide profit if done properly, so it can be an alternative in an effort to help the reduction of unemployment and poverty. Interaction with the community on this community service activity, it is found that there were many people who still do not understand much about the overall material included engineering, water quality management and proper fish feed and feeding method. One of the barriers was the language, so it is necessary for the lectures and trainers to use the local language. It can be recommended in the future to keep on doing this kind of community service considering the inherent of the knowledge and application of water quality management is still a new thing and has a business prospective opportunities in the Tombatu 3 village. Keywords: water quality, community, management. Abstrak Kabupaten Minahasa Tenggara mempunyai potensi sumber daya alam yang banyak salah satunya yang berkaitan dengan bidang Perikanan budi daya air tawar adalah Danau Tutud. Memperhatikan kondisi dan peluang pengembangan pembudidayaan ikan di Danau Tutud maka upaya perbaikan dan peningkatan potensi produksi ikan perlu dilakukan. Budi daya ikan khususnya di Danau Tutud adalah pembudidayaan pembesaran ikan nila di Keramba Jaring Tanjap (KJT). Dalam usaha pengembangan budi daya ikan air tawar harus diimbangi dengan pengelolaan kualitas air danau dan penanganan penyakit ikan yang baik. Oleh sebab itu aspek-aspek yang menjadi factor pembatas dalam hal peningkatan produksi perlu dicari jalan keluarnya yang baik. Beberapa faktor yang menjadi masalah yang dihadapi saat ini antara lain adalah menyusutnya secara drastis permukaan air Danau Tutud dalam beberapa tahun belakangan ini akibat dari matinya sebagian besar mata air yang masuk ke danau sehingga mengalami sedimentasi, selain itu kandungan sulfur atau belerang cukup tinggi dari air irigasi yang berasal dari danau yang mana akan dapat menjadi hambatan usaha pembenihan ikan nila, sehinggan diperlukan adanya pengukuran kualitas air Danau Tutud untuk dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas air sebelum dipergunakan untuk usaha budi daya. Mengacu pada kondisi tersebut maka untuk masyarakat sekitar Danau Tutud di Desa Tombatu 3 antara lain para tokoh masyarakat dan para pembudidaya ikan juga masyarakat pemerhati yang tertarik pada program ini, melalui Program Penerapan Ipteks bagi Masyarakat (IbM) dari PNBP UNSRAT diberikan penyuluhan, pelatihan dan pendampingan berupa teknologi pengelolaan kualitas air. Metode yang digunakan dalam Program Penerapan Ipteks ini adalah penyuluhan, pelatihan, diskusi dan pendampingan. Materi kegiatan pengabdian penerapan Ipteks ini meliputi cara memproduksi benih ikan yang benar dan baik, tahapan-tahapan proses produksi pakan ikan yang diberi imunostimulan untuk penanganan penyakit ikan, tahapan tahapan untuk memelihara dan meningkatkan kualitas air. Dengan Program Pengabdian Kepada Masyarakat melalui penerapan Ipteks ini diharapkan dapat ditransfer ilmu dan teknologi pengelolaan kualitas air Danau Tutud sehingga diharapkan adanya pengembangan usaha, penciptaan peluang berusaha, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di Desa Tombatu 3 ini. Hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk penerapan ipteks ini adalah: kegiatan ceramah, pelatihan, diskusi dan tanya jawab, termasuk dengan pengukuran kualitas air Danau Tutud telah berjalan dengan baik respon kehadiran peserta sebanyak 80%. Dari hasil pelatihan, diskusi tanya jawab dan prakek dilapangan menunjukkan bahwa a). peningkatan produksi pembudidaya ikan nila melalui pengelolaan kualitas air ini dapat dilaksanakan, b). pembudidayaan ikan nila ini layak dan dapat memberikan profit bila dilaksanakan dengan baik dan benar, sehingga dapat menjadi alternatif lapangan usaha baru untuk membantu program pengentasan penggangguran dan penanggulangan kemiskinan. Dari hasil interaksi dengan masyarakat pada kegiatan pengabdian ini diketahui bahwa banyak masyarakat yang masih belum banyak mengerti tentang keseluruhan materi termasuk pada materi teknik dan proses pengelolaan kualitas air dan pakan ikan yang baik dan benar, salah satu kendala adalah bahasa, sehingga perlu ceramah dan pelatihan yang menggunakan bahasa setempat. Untuk selanjutnya dapat direkomendasikan agar terus digalakkan dan dilakukan pembinaan yang melekat mengingat pengetahuan dan penerapan pengelolaan kualitas air ini masih merupakan hal yang baru dan merupakan peluang usaha yang prospektif di Desa Tombatu 3. Keywords: Kualitas Perairan, Komunitas, Manajemen.

Filter by Year

2012 2025