cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL ILMIAH PLATAX
ISSN : 23023589     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Mencakup Penulisan yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan secara mandiri, atau kelompok, dan berdasarkan Ruang Lingkup Pengelolaan Wilayah Pesisir, Konservasi, Ekowisata, dan Keanekaragaman Hayati Perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Echinoderms Community in Mokupa Beach Waters, Sub-district of Tombariri, Minahasa Regency Andrea G Kambey; Unstain N. W. J. Rembet; Adnan S. Wantasen
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 3 No. 1 (2015): EDISI JANUARI-JUNI 2015
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.3.1.2015.13212

Abstract

Echinoderms community of intertidal zone in Tasik Ria beach, Mokupa village, Tombariri Sub-district, Minahasa Regency was studied to reveal its structure. Methods implemented to study the community were density, relative density, diversity, dominance and evenness focusing on echinoderms species. Those methods including species abundance and diversity introduced by Shannon-Wiener (‘H). Results from 10 species identified with total of 193 individuals were recorded in the study.  In general, the result showed that the area still has good condition as a habitat for echinoderm communities.   Keywords: Community, diversity, dominance   A B S T R A K   Komunitas Echinodermata di zona intertidal rataan terumbu di daerah Tasik Ria Desa Mokupa Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, dianalisis untuk memahami struktur komunitas organisme Echinodermata, menggunakan analisis tentang kepadatan, kepadatan relatif,  keanekaragaman, dominasi, dan kemerataan spesies.  Penelitian ini difokuskan pada kelimpahan dan keragaman spesies termasuk keragaman Shannon-Wiener spesies (H') masing-masing. Hasilnya mencatat 10 spesies dan total 193 individu. Secara umum, menunjukan daerah tersebut memiliki  kondisi yang masih stabil sebagai tempat hidup komunitas echinodermata.   Kata Kunci : Komunitas, keanekaragaman, dominasi 1Mahasiswa Program Studi MSP FPIK-UNSRAT 2Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi
Catch And Length-Weight Relationship Of Freshwater Lobster, Cherax Quadricarinatus Von Martens, 1868 In Tondano Lake, Kakas District, Minahasa, North Sulawesi Jamlean, Yosef Gerard; Bataragoa, Nego E.; Tombokan, Jhon L.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 6, No 1 (2018): ISSUE JANUARY-JUNE 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.1.2018.18903

Abstract

C. quadricarinatus (red claw) has important economic value either for consumption or as ornamental crustacean, has been  cultivated, and introduced to many waterways outside its natural habitat. In Tondano lake, C. quadricarinatus has developed and become fishing target  using traps and spearguns.  The purpose of this survey is to describe the freshwater lobster catching using traps, and to know the length-weight relationships, growth pattern and condition factor. The study was expected to use as information on the presence of C. quadricarinatus Tondano Lake. Catches were red claw, C. quadricrinatus, marble sleeper Oxyeleotris marmorata, Mud gudgeon Ophieleotris aporos, Mozambique tilapia Oreochromis mossambicus and African sharptooth catfish Clarias Gariepinus. Length-weight relationship of C. quadricarinatus was W = -1.8005 + 4.2765 log L for males, W = -1.2978 + 3.6524 log L for females, respectively, and W = -1.5631 + 3.9848 log b for combined sexes. They had positive allometric (A +) growth. Condition factor ranged from 0.60-1.43 with an average of 1.071 ± 0.17 for males and 0.46-1.36 with an average of 1.027 ± 0.18 for females, 0.59-1.642 withan average of 1.22± 0.21.Keywords: fishing, length-weight, growth pattern, fishing gear, Kakas district, MinahasaAbstrakC. quadricarinatus (red claws) mempuyai nilai ekonomis penting baik komsumsi maupun sebagai krustasea hias dan  telah banyak di budidaya serta di introduksi ke banyak perairan  di luar habitat aslinya. Di Danau Tondano, C. quadricarinatus telah berkembang biak dan menjadi target penangkapan nelayan mengunakan alat tangkap bubu dan alat tangkap tura sejenis tombak sambil menyelam. Tujuan penelitinan ini ialah untuk mendeskripsikan penangkapan lobster air tawar C. quadricarinatus menggunakan alat tangkap bubu, hubungan panjang berat, pola pertumbuhan dan faktor kondisi. Hasil penilitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi keberadaan lobster air tawar C. quadricarinatus di Danau Tondano. Hasil tangkapan yang didapat adalah lobster air tawar, ikan Betutu, ikan Payangka, ika Mujair dan ikan Lele Dumbo. Hasil hubungan panjang berat lobster air tawar di dapat jantan : W=-1,8005+4,2765 log L, betina : W=-1,2978+3,6524 log L dan gabungan ( jantan & betina) : W=-1,5631+3,9848 log L. Pola pertumbuhan ketiganya ialah allometrik positif (A+) dan faktor kondisi jantan berkisar 0,60-1,43 dengan rata-rata1,071±0,17, betina berkisar 0,46-1,36 dengan rata-rata 1,027±0,18, dan gabungan (jantan dan betina) berkisar 0,59-1,642 dengan rata-rata1,22±0,21.Kata Kunci : Penangkapan, Hubungan panjang berat, Pola pertumbuhan, Kecamatan Kakas
The potential of catappa leave to prevent Aeromonas hydrophila infection in Nile Tilapia Oreochromis niloticus Selvyane Bukasiang; Henky Manoppo; Sartje Lantu; Nego E. Bataragoa; Cyska Lumenta; Reni L. Kreckhoff
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 2 (2019): ISSUE JULY - DECEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.2.2019.23722

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan dosis penambahan ekstrak daun ketapang dalam pakan untuk meningktkan. Ikan uji adah benih nila berukuran 5-8 cm dengan beratr ata-rata 2,93 g yang diperoleh dari Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Tatelu. Bahan uji berupa Daun Ketapang  (Terminalia catappa) dengan dosis A= 0, B= 5 g/kg, C= 10 g/kg, D= 20 g/kg dan E= 40 g/kg  diberikan kepada ikan selama 21 hari. Ikan diberi pakan perlakuan dua kali sehari yakni pukul 09.00 am dan 16.00 pm dengan dosis pemberian 5%/berat tubuh/hari. Hasil penelitian didapatkan pertumbuhan terbaik dicapai pada kosentrasi ekstrak daun ketapang 5 g/kg.  Sebagai kesimpulan adalah ekstrak daun ketapang dapat digunakan dalam akuakultur untuk meningktkan pertumbuhan ikan.Kata kunci : Daun Ketapang, tanaman obat, ikan Nila,  A. hydrophila, budidaya ABSTRAKThe research aimed to  establish the accurate dose of catappa leave extract supplemented into feed to enhance fish growth.  The fish measuring 5-8 cm with an average weight of 2.93 g were obtained from Board of Freshwater Fisheries Aquaculture Tatelu. Catappa leave extract as much as A= 0, B= 5 g/kg, C= 10 g/kg, D= 20 g/kg dan E= 40 g/kg were added into feed and fed to fish for 21 days.  The fish wee fed twice  day at 09.00 am and 16.00 pm at 5% of body weigth a day.  Research result showed that application of 5 g of leave extract per kg of feed gave the best absolute and specific growth of fish.  Thus, supplementation of leave extract into fish feed was potential ti improve fish growth.Keywords: catappa leave, medicinal plant, Nile tilapia, aquaculture, A. hydrophila.
Otolith And Growth Pattern Layang Fish, Decapterus Muroadsi Temminck & Schlegel, 1844 In Manado Bay Yulianti Umar; Fransine B. Manginsela; Ruddy D. Moningkey
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.21441

Abstract

The aim of this research is to know the distribution of the size of Decapterus muroadsi, to describe otolit that is otolith length (Po), width otolith (Lo), perimeter / otolith circumference (Ko), otolith area (Ao), and determine the relationship of total length and body weight of fish kite Decapterus muroadsi in Manado Bay. The sampling was conducted in August - December 2017 of the gliders obtained during the study of 135 individuals in which males were 87 individuals and 48 female individuals. Distribution of the total length of the globe and the body height of the globe fish 190 mm - 225 mm, weighs 63 grams - 154 grams, the female fish has a total length of 205 mm - 250 mm, and weighst 88 grams - 159 grams. To know the morphometric perimeter otolith left and right perimeter otolith fish taken to be taken as otolith samples of male fish (15 individuals) and females (15 individuals). The results of the comparison analysis were found for the left and right otolith of male trooper with otolith length (Po) 0.796, perimeterr / otolith circumference (Ko) 0.621, and otolith area (Ao) 0.268 and females with 0.027 otolith (Po) 0.057, perimeter / otolith (Ko) 0.231, and otolith area (Ao) 0.858, males and females did not differ significantly between left otolith and right otolite where t-hit <from t-table as for otolith (O2) 2,371 and otolith otolith otolith (Lo) 2,952 differs markedly where t-hit> from t-table. Kites, Decapterus muroadsi used as a sample in the study were 135 individuals divided into 3 parts, namely males and females and combined (males and females). Based on the result of growth pattern analysis on the value of the fish b of the Decapterus muroadsi male has t-hit> t-table (4E - 06> 1,998) and mixed (and female) have t-hit> t-table (4E-06 - 1,997) Therefore H1 is accepted as (allometric) and females have t-hit <t-table (3E-O6-1,679) has a value b where hypothesis H1 is accepted as isometric. Keywords: Decapterus muroadsi, Describing, Otolith, male, females ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran ukuran ikan layang Decapterus muroadsi, mendeskripsikan otolit yakni panjang otolit (Po), lebar otolit (Lo), perimeter/keliling otolit (Ko), area otolit (Ao), dan menentukan hubungan panjang total dan berat tubuh ikan layang Decapterus muroadsi di Teluk Manado. Pengambilan sampel  ini dilakukan pada bulan Agustus – Desember 2017 ikan layang yang di peroleh selama penelitian sebanyak 135 individu di mana jantan 87 individu dan betina 48 individu. Sebaran ukuran panjang total ikan layang dan berat tubuh ikan layang jantan 190 mm – 225 mm, berat 63 gram – 154 gram, ikan layang betina memiliki panjang total 205 mm – 250 mm, dan berat 88 gram – 159 gram, Untuk mengetahui perimeter morfometrik otolit kiri dan kanan perimeter otolit ikan layang yang diambil untuk dijadikan sampel otolit ikan layang jantan berjumlah (15 individu) dan betina (15 individu). Hasil analisis perbandingan ternyata untuk otolit kiri dan kanan ikan layang jantan dengan Panjang otolit (Po) 0,796, perimeterr / keliling otolit (Ko) 0,621, dan  area otolit (Ao) 0,268 dan betina dengan Panjang otolit (Po) 0,057, perimeter/keliling otolit (Ko) 0,231, dan area otolit (Ao) 0,858, jantan dan betina tidak berbeda nyata antara otolit kiri dan otolit kanan di mana t-hit < dari t-tabel adapun untuk otolit jantan lebar otolit (Lo) 2,371 dan otolit betina  lebar otolit (Lo) 2,952 berbeda nyata di mana t-hit > dari t-tabel. Ikan layang, Decapterus muroadsi yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian berjumlah 135 individu yang di bagi dalam 3 bagian yaitu jantan dan betina serta gabungan (jantan dan betina). Berdasarkan hasil analisis pola pertumbuhan terhadap nilai b ikan layang Decapterus muroadsi jantan memiliki t-hit> t-tabel (4E – 06 >1,998) serta campuran (jantan dan betina) memiliki t-hit> t-tabel (4E-06 – 1,997) Maka dari itu H1 di terima sebagai (allometrik) dan betina memiliki t-hit< t-tabel (3E-O6– 1,679) memiliki nilai b dimana hipotesis H1 diterima sebagai isometrik.Kata kunci : Decapterus muroadsi, mendeskripsikan, otolit, jantan, betina
Structure Community of Mangrove at Tabulo Selatan Beach, Boalemo Regency Rusdiyanto Husuna; Adnan S. Wantasen; Ari B. Rondonuwu
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.23406

Abstract

This study aims to know the community structure of mangrove and the environmental condition in South Tabulo coast. Mean temperature at station 1, 2, and 3 was 310C, and water salinity varied between 28-30 ‰. Water pH was averagely 7 in all stations. Substrate measurements were visually done and through touches. Stations 1 and 2 had sandy muddy substrates, while station 3 was muddy. Mangroves of tree criterion were found 122 individuals of 7 species, Avicennia lanata, A. marina, Rhizophora apiculata, R. mucronata, Sonneratia alba, Bruguiera gymnorrhiza, and Ceriops tagal. Field observations showed that the highest species density was recorded in R. mucronata. The highest species frequency was found in S. alba, R. apiculata, and R. mucronata, while the highest species cover and importance value index were recorded in S. alba and R. apiculata dan R. mucronata. Based on diversity index, it was found that only 7 species were found in the study sites and it belonged to good condition. It indicates that the study sites are still in good ecological condition.Abstrak Keywords : Mangrove, community, Boalemo, diversity, importance value. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas mangrove serta kondisi lingkungan di Pantai Tabulo Selatan. Berdasarkan hasil penelitian di Pantai Tabulo Selatan untuk pengukuran suhu pada stasiun 1, 2, dan 3 diperoleh hasil rata-rata 310C, dengan salinitas bervariasi antara 28-30 ‰. Pengukuran pH air pada semua stasiun pengamatan diperoleh hasil rata-rata 7. Pengamatan substrat dilakukan secara visual dengan cara meraba tekstur substrat pada setiap stasiun, dan substrat yang terdapat di lokasi penelitian pada stasiun 1 dan 2 adalah lumpur berpasir, pada stasiun 3 berlumpur. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada semua stasiun dengan kriteria pohon telah ditemukan 122 individu dari 7 spesies yang ditemukan yaitu Avicennia lanata, Avicennia marina, Rhizophora apiculata, R. mucronata, Sonneratia alba, Bruguiera gymnorrhiza dan Ceriops tagal. Berdasarkan pengamatana lapangan, kerapatan spesies tertinggi dimiliki oleh spesies Rhizophora mucronata, frekuensi spesies tertinggi dimiliki spesies S. alba, R. apiculata dan Rhizophora mucronata, penutupan spesies dan indeks nilai penting didapati spesies Sonneratia alba, Rhizophora apiculata dan R. mucronata.. Berdasarkan indeks keanekaragaman dapat dilihat bahwa hanya ada 7 spesies yang didapatkan pada lokasi penelitian dan termasuk dalam kriteria keanekaragaman baik. Hal ini menunjukkan bahwa di lokasi penelitian masih dalam kondisi ekologis yang cukup baik.Kata kunci : Mangrove, komunitas, Boalemo, keanekaragaman, nilai penting.
Marine Waste Analysis And Abundance of gastropods In Mangrove Ecosystem Tongkaina, North Sulawesi M. Alaksmar Djohar; Farnis B. Boneka; Joshian N. W. Schaduw; Stephanus V. Mandagi; Kakaskasen A. Roeroe; Deiske A. Sumilat
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 1 (2020): ISSUE JANUARY-JUNE 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.1.2020.27597

Abstract

This study aims to analyze the relation of marine debris to gastropods in the mangrove ecosystem. This research was conducted from October to December 2019 in the Tongkaina mangrove forest. The method used in this research is the line transects method with 2 different stations. Then do the data analysis of waste density, gastropod abundance index, frequency, diversity index, uniformity, and dominance. Then, analyzing a simple linear regression and correlation is performed to see the relationship between marine debris and gastropod abundance in a mangrove ecosystem. The results showed that the highest inorganic marine debris in the Tongkeina mangrove ecosystem is plastic and followed by cloth, wood, metal and the least was glass. The species of Gastropods found in the mangrove ecosystem are Littoraria scabra, Nerita undulata and Terebralia sulcata. The highest abundance of gastropod species was found at station 2 in transects 1 by Littoraria scraba. The results of the linear regression analysis show that there is a relationship between waste and abundance of gastropods. The increasing amount of waste, lower the abundance of gastropods. Where the correlation value is -0.20506.Keywords: Correlation; Marine debris; Gastropods; Mangrove Ecosystem. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis  hubungan  sampah laut terhadap gastropoda di ekosistem mangrove. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober sampai Desember 2019 di hutan mangrove Tongkaina.  Metode yang digunakan adalah metode line transek dengan 2 stasiun berbeda. Kemudian dilakukan analisa data kepadatan sampah, indeks kelimpaha gastropoda, frekuensi, indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominasi. Selanjutnya dilakukan analisa regresi lineier sederhana serta korelasi untuk melihat hubungan yang terjadi antara sampah dan kelimpahan gastrooda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampah anorganik jenis plasik yang tertinggi di ekosistem mangrove pantai Tongkaina diikuti sampah jenis Kain, Kayu, Logam dan yang paling sedikit adalah sampah jenis kaca. Jenis gastropoda yang ditemukan di ekosistem mangrove yaitu Littoraria scabra, Nerita undulata dan Terebralia sulcata. Nilai kelimpahan jenis gastropoda tertinggi terdapat di stasiun 2 di transek 1 oleh Littoraria scraba. Hasil analisa regresi linier menunjukan bahawa ada hubungan yang terjadi  antara sampah dan kelimpahan gastropoda yang dilihat dari anlisis regresi linier sederhana. Semakin meningkatnya jumlah sampah maka semakin rendah kelimpahan gastropoda. Dimana nilai korelasinya sebesar -0.20506.Kata Kunci : Korelasi; Sampah Laut; Gastropoda; Ekosistem Mangrove.
Study On Artificial Reef Made of Bamboo “Bambooreef” In Malalayang Dua Waters, Malalayang District, Manado Alex Denny Kambey; Nego E. Bataragoa; Adnan S. Wantasen
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 1 (2017): ISSUE JANUARY - JUNE 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.1.2017.14967

Abstract

Building and placing artificial reef “Bambooreef” around the natural coral reef in Malalayang Dua is a modified concept to innovate the commonly present reef model and create a new alternative model. The technical approach on consideration was type/structure of raw material, difficulty of finding the raw material, artificial reef model formation. Results showed that Bambooreef could be used as growing site of coral transplants and other epiphytic organisms, such as algae, mollusk, and etc. The occurrence of demersal reef fishes around the “Bambooreef” reflected that the artificial reef was good enough to develop for coral rehabilitation program in the degraded areas. And as fish house. Based on the age of bambooreef placed for 8 months on the sea bottom, it was found that this material could stand long enough on the sea bottom. Further studies are needed in relation with the use of bambooreef as fish house to support the fisheries sustainability, particularly demersal reef fisheries, and as fish stock supplying ground to the surrounding waters. Keywords: Artificial reef, bambooreef, bamboo, demersal.   Abstrak Pembuatan dan peletakan terumbu buatan dari bahan bambu “Bambooreef” di daerah sekitar terumbu karang perairan Malalayang Dua merupakan konsep modifikasi yang diterapkan untuk melakukan inovasi terhadap model terumbu karang yang sudah pernah ada dan menghasilkan model alternative baru.  Pendekatan teknis yang akan dijadikan pertimbangan seperti; jenis/struktur bahan baku, tingkat kesulitan mendapatkan bahan baku, formasi modul terumbu buatan. Hasil menunjukkan bahwa penempatan Terumbu buatan “Bambooreef” di perairan Malalayang Dua dapat dijadikan tempat bertumbuhnya jenis-jenis transplan karang dan organisme penempel lainnya seperti jenis Alga dan moluska, dll.  Kehadiran jenis–jenis ikan demersal karang sekitar “Bambooreef” menunjukkan bahwa terumbu buatan tersebut cukup baik untuk dikembangkan dalam rangka rehabilitasi  karang di daerah yang telah mengalami degradasi, dan menjadi rumah ikan. Berdasarkan umur terumbu buatan dari bahan bambu yang diletakkan di dasar perairan 8 bulan, maka ditemukan bahwa bahan bambu tersebut akan dapat bertahan cukup lama di dasar perairan. Penelitian lanjutan mengenai bambooreef perlu dilakukan untuk memanfaatkan terumbu buatan dari bahan bambu sebagai rumah ikan dalam rangka menunjang kegiatan keberlajutan perikanan khususnya perikanan demersal karang, dan sebagai daerah penyedia stok ikan bagi perairan sekitarnya. Kata kunci: Terumbu buatan, bambooreef, bambu, demersal.
Size And Food Habit Of Travelly (Caranx spp.) In The Intertidal Zone Around The Field Laboratory Of Unsrat, Likupang Maherung, Susi S; Bataragoa, Nego E.; Salaki, Meiske S.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 6, No 1 (2018): ISSUE JANUARY-JUNE 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.1.2018.17857

Abstract

This study was conducted in October to November 2016 in the intertidal zone around the field laboratory of UNSRAT in Likupang. It was aimed at knowing the species and the size of trevally (Caranx spp.) migrating to the intertidal zone and their food habit. Fish sampling used a beach seine. The fish collected were 45 individuals consisting of 3 species, 22 individuals of Caranx melampygus, 21 individuals of C. papuensis, and 2 individuals of C. sexfaciatus. Body length varied from 6 to 19.9 cm for C. melampygus, 7 to 15.6 cm for C. papuensis, and 6.9 and 7.6 cm for C. sexfaciatus, respectively. There were 4 food types, shrimps, fish, crabs, and organic matters, such as shrimp’s eye and digested food. The Importance Relative Index of shrimp was the highest, 82%, followed by fish, 14%, and the lowest recorded in crab, 4%. Shrimp is major food sort of C. melampygus. The Importance Relative Index of C. papuensis and C. sexfaciatus could not be counted because of empty stomach and low number of samples. Feeding intensity of C. melampygus was 86% and that of C. papuensis was 10%, so that it was apparent that C. melampygus come to the intertidal for feeding, while C. papuensis come for other purpose.        Keywords: size, food habit, Caranx spp. ABSTRAKPenelitian ini dilakukan pada bulan Oktober-November 2016 di Daerah Intertidal Sekitar Laboratorium Lapangan UNSRAT Likupang penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies dan ukuran ikan kuwe (Caranx spp) yang bermigrasi di daerah pasang-surut dan kebiasaan makanannya. Pengambilan sampel ikan menggunakan pukat pantai, ikan yang terkumpul yaitu 45 ekor yang terdiri dari 3 spesies yaitu 22 individu Caranx melampygus, 21 individu Caranx papuaensis, dan dua individu Caranx sexfaciatus. Panjang tubuh bervariasi dari 6-19,9 cm Caranx melampygus, 7-15,6 cm Caranx papuaensis untuk Caranx sexfaciatus yaitu 6,9 cm dan 7,6 cm. Terdapat empat jenis makanan yaitu udang, ikan, kepiting dan bahan organik seperti mata udang dan makanan yang sudah tercerna. Indeks Relatif Penting udang yang tertinggi yaitu 82% di ikuti oleh ikan 14% dan terendah ditemukan pada kepiting 4%. Udang merupakan makanan utama dari Caranx melampygus. Indeks Relatif Penting Caranx sexfaciatus dan Caranx papuaensis tidak dapat dihitung karena isi lambung kosong dan jumlah sampel sedikit. Intensitas makan (IM) Caranx melampygus adalah 86% dan  Caranx papuaensis 10% sehingga jelas bahwa Caranx melampygus dating ke daerah Intertidal untuk mencari makanan sedangkan Caranx papuaensis datang ke daerah Intertidal untuk tujuan lain.Kata Kunci: Ukuran, Kebiasaan Makanan, Caranx spp,
The Existence of Intertidal Gastropods in Malalayang Beach, North Sulawesi Irawati RJC Roring; Fransine B. Manginsela; Boyke H Toloh
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 1 No. 3 (2013): EDISI MEY - AGUSTUS 2013
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.1.3.2013.2571

Abstract

ABSTRACT This study aims to determine the density, relative density and patterns of distribution of  gastropods and diversity index gastropod community in the intertidal Malalayang Beach (behind Minanga Hotel), North Sulawesi. Gastropods sampling using quadratic size 0.5x0.5 m2 placed systematically and proportionally on dead coral sandy substrate mix mud, rocks slightly sandy substrate and substrate-sized stones. The results found have been changes in the number of species of the 30 species of gastropods (Manginsela, 1998) now to only 15 species. While the density of intertidal Malalayang gastropods contained 0,13 and  the current range of 0.06 - 0.13  individu/m2 and relative density ranged from 2%-38.5%. Diversity index contained in the intertidal gastropod dead coral layered thin smear highest H' = 2.412 following the rocky region is H' = 2.232, and the lowest in the region b is H' = 2.059. Dispersal patterns in the intertidal gastropod are all randomized except Cypraea felina the distribution pattern of the group. Keywords : gastropod, distribution   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui kepadatan, kepadatan relatif  dan pola penyebaran dari masing-masing jenis gastropoda serta indeks keanekaragam komunitas gastropoda di intertidal Pantai Malalayang (di belakang Minanga Hotel), Propinsi Sulawesi Utara. Pengambilan contoh gastropoda menggunakan kuadrat ukuran 0.5x0.5 m2 yang ditempatkan secara sistimatis dan proporsional   pada substrat karang mati berpasir campur lumpur,  substrat bebatuan  sedikit berpasir substrat batu-berukuran. Hasil penelitian menemukan telah terjadi perubahan jumlah spesies gastropoda dari 30 spesies (Manginsela, 1998) menjadi hanya 15 spesies. Sedangkan kepadatan gastropoda yang terdapat di intertidal pantai Malalayang dari berkisar 0,13 individu/m2 saat ini 0,06-0,13 individu/m2 dan kepadatan relatif berkisar 2% - 38,5%. Indeks keanekaragaman gastropoda yang terdapat di intertidal karang mati berlapis lumpur tipis tertinggi adalah H’ = 2,412 menyusul kawasan berbatu adalah H’ = 2,232 serta terendah kawasan pada kawasan b adalah H’ = 2,059. Pola penyebaran gastropoda di intertidal ini semuanya acak kecuali Cypraea felina yang pola penyebarannya kelompok. Kata kunci : gastropoda, distribusi1 Bagian dari skripsi2 Mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK-UNSRAT 3 Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi 
Shell Color Classification And Carotenoid Pigments On Littoraria pallescens (Philippi, 1846) From Mangrove Ecosystem Area On Mokupa Village, Tombariri Sub District and Basaan Village, Ratatotok Sub District) Susan M. Sumampouw; Desy M. H. Mantiri; Farnis B. Boneka; Medy Ompi; James J. H. Paulus; Adnan S. Wantasen
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 6 No. 2 (2018): ISSUE JULY-DECEMBER 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.2.2018.20650

Abstract

The purpose of this study was to classify the color of the shell and to know the carotenoid pigment content in Littoraria pallescens based on color classification and population distribution in the mangrove ecosystem area of Mokupa Village, Tombariri Sub district and Basaan Village, Ratatotok Sub district. Sampling directly on mangrove trees as water begins to recede. Identification of L. pallescens species is done by looking at the shape of the shell, the color of the shell, the color of the operculum and the shape of the genital organ. Shell color classification by inserting into the Color Explorer application. Analysis of carotenoid pigments by extraction process with acetone and petroleum ether, further separation of pigment by thin layer chromatography. The results obtained show that L. pallescence dominates life on mangrove trees. Sex was inversely proportional to the two research sites, 53.8% of the male L. pallescens species and 46.2% female in Mokupa waters while from Basaan waters there were 47.1% males and 52.9% females. Color classification based on the percentage of occurrences of constant color that is black (18.5), black orange (16.3) brown black spots (16,3), gray (10.7), angry (6,3), yellow pale (17.8), brown yellow spots (14,1). The detected pigment based on the color classification of the shell is located on the identical and identifiable Rf for all colors is the β-carotene pigment.Keyword : Littoraria pallescence, Carotenoid pigments Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengklasifikasikan warna cangkang dan mengetahui kandungan pigmen karotenoid pada Littoraria pallescens berdasarkan klasifikasi warna dan sebaran populasinya di wilayah ekosistem mangrove Desa Mokupa kecamatan Tombariri dan Desa Basaan Kecamatan Ratatotok. Pengambilan sampel secara langsung pada pohon mangrove saat air mulai surut. Identifikasi spesies L. pallescens dilakukan dengan melihat bentuk cangkang, warna cangkang, warna operculum dan bentuk organ genital.  Pendataan untuk klasifikasi warna cangkang dengan memasukkan ke dalam aplikasi Color Explorer. Analisis pigmen karotenoid melalui proses ekstraksi dengan aseton dan petroleum eter, selanjutnya pemisahan awal pigmen dengan kromatografi lapis tipis. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa L. pallescence mendominasi hidup pada pohon mangrove. Jenis kelamin berbanding terbalik pada dua lokasi penelitian, spesies L. pallescens jantan 53.8% dan betina 46.2% di perairan Mokupa sedangkan dari perairan Basaan terdapat 47.1% jantan dan 52.9% betina. Klasifikasi warna berdasarkan persentase kemunculan warna yang konstan yaitu warna hitam (18,5), hitam oranye (16,3) coklat bercak hitam (16,3), abu-abu (10,7), Marah (6,3), kuning pucat (17,8), kuning bercak coklat (14,1). Pigmen yang terdeteksi berdasarkan klasifikasi warna pada cangkang adalah berada pada Rf yang sama dan yang dapat diidentifikasi untuk semua warna adalah pigmen ß-karoten.Kata kunci : Littoraria pallescence, Pigmen Karotenoid

Filter by Year

2012 2025