cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL ILMIAH PLATAX
ISSN : 23023589     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Mencakup Penulisan yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan secara mandiri, atau kelompok, dan berdasarkan Ruang Lingkup Pengelolaan Wilayah Pesisir, Konservasi, Ekowisata, dan Keanekaragaman Hayati Perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
PEMBANGUNAN WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN DALAM PERSPEKTIF NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK INDONESIA Ridwan Lasabuda
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 1 No. 2 (2013): EDISI JANUARI - APRIL 2013
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.1.2.2013.1251

Abstract

PEMBANGUNAN WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN DALAM PERSPEKTIF NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK INDONESIA Regional Development in Coastal and Ocean in Archipelago Perspective of The Republic of Indonesia Ridwan Lasabuda1     ABSTRACT   Indonesian as an archipelagic state has been recognized internationally (UNCLOS 1982), later ratified by Act 17 of 1985. Under UNCLOS 1982, the total maritime area of Indonesia is 5.9 million km2, consisting of 3.2 million km2 of territorial waters and 2.7 km2 of Economic Exclusive Zone (Zone Ekonomi Ekslusif), not including the continental shelf. This makes Indonesia as the largest archipelagic state in the world. However, the development of marine and fisheries for this is still far from expectations, while large potential of natural resources and environmental services are relatively unexploited in coastal areas, small islands and ocean in Indonesian archipelago.   Keywords : coastal and ocean, development, Indonesian, archipelago     ABSTRAK Sebagai negara kepulauan, Indonesia telah diakui dunia secara internasional (UNCLOS 1982) yang kemudian diratifikasi oleh Indonesia dengan Undang-Undang No.17 Tahun 1985. Berdasarkan UNCLOS 1982, total luas wilayah laut Indonesia seluas 5,9 juta km2, terdiri atas 3,2 juta km2 perairan teritorial dan 2,7 km2 perairan Zona Ekonomi Eksklusif, luas tersebut belum termasuk landas kontinen. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Namun demikian, pembangunan bidang kelautan dan perikanan hingga saat ini masih jauh dari harapan. Padahal wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dan lautan kepulauan Indonesia disimpan potensi sumber daya alam dan jasa lingkungan yang sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal.   Kata kunci : pesisir dan laut, pembangunan, Indonesia, kepulauan         1 Laboratorium Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu, FPIK UNSRAT
Gastropod Community In The Intertidal Of Likupang Coast, Kampung Ambon, East Likupang District, North Minahasa Regency Evelina Hermanses; Jety K Rangan; Alex D Kambey
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 6 No. 2 (2018): ISSUE JULY-DECEMBER 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.2.2018.20623

Abstract

This study was aimed at finding Gastropod species and studying the community structure in the coastal area of Kampung Ambon, Likupang, through species density, diversity, evenness and dominance analyses. It was carried out in August 2017. The study employed transect method with quadrats by placing the on the area covered with coral-sand mix substrates. Density analysis found total numbers of 168 individuals with mean density of 7 ind/m². Spesies of the highest indiviual numbers was Cypraea annulus with a total of 98 individuals. Species diversity (H’) was 0.632773. This value reflects that the species diversity is moderate. Species richness index was R ˃ 4 reflecting that there is high species richness. Species evenness index was ˃ 0,5 meaning that the gastropods in the area are sufficiently even. Dominance index ranged from 0.27 to 0.47 indicating no species dominance in the study site.Key Words : Gastropod,  density, diversity, evenness, dominance ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah mempelajari jenis-jenis gastropoda apa saja yang ditemukan dan mempelajari struktur komunitas melalui analisis kepadatan, keanekaragaman, kekayaan, kemerataan, dan dominasi spesies di daerah intertidal perairan Kampung Ambong Likupang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2017.  menempatkan  pada  satu  macam   habitat   yaitu  kawasan   yang didominasi oleh substrat karang yang bercampur pasir. Hasil analisis kepadatan menunjukkan bahwa di ketiga transek pengamatan jumlah individu yang diperoleh berjumlah 168 individu dengan kepadatan rata-rata per kuadrat 7 ind/m². Spesies dengan individu yang terbanyak adalah Cypraea annulus dengan jumlah individu sebanyak 98 individu. Keanekaragaman spesies yang diperoleh yaitu H’ = 0.632773. Nilai ini tergolong pada tingkat keanekaragaman sedang. Indeks kekayaan diperoleh nilai R ˃ 4, kriteria ini tergolong pada indeks kekayaan yang tinggi. Indeks kemerataan spesies diperoleh nilai ˃ 0,5 yang berarti spesies yang ada cukup merata, dan indeks dominasi diperoleh pada kisaran 0,27 – 0,47 yang menunjukkan tidak ada dominansi spesies di lokasi penelitian.Kata Kunci : Gastropoda, kepadatan, keanekaragaman, kekayaan, dominasi
Technology Applications Based Ecosystem Conservation in The Beach Basaan, Southeast Minahasa Regency , North Sulawesi Adnan S. Wantasen
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 2 No. 2 (2014): EDISI MEI - AGUSTUS 2014
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.2.2.2014.7152

Abstract

In fact the use or the use of resources and territory or coastal area showed a significant rate. Yet on the other hand the availability of space and resources are in a dilemma because the rate is followed by the use of more that do not consider the sustainability of the resource. It is crucial to increase with increasing population. One of the consequences or impact most noticeably is the damage to the environment, both natural environment in general and specifically the environment of coastal areas. From various studies and concern, for while the environmental damage that occurs in the context of use (exploitation) of natural resources because of: 1) Lack of or perhaps the lack of an integrated approach to the planning and management of resources that are in the coastal region; 2) Lack of adequate information and data to be used as a reference in the management; 3) Lack of community involvement in the management of local government may hoarse coastal power. Management of small -scale coastal resources is an activity in the village / urban neighborhoods implemented as an effort of institutional capacity building and community, improving the quality of the environment, as well as socio-economic improvement of the quality of society by using technology appropriate management of coastal areas for the community. These activities are grouped into 3 categories: 1. Capacity building society in the management of coastal and marine resources through training and mentoring, 2. Environmental improvement activities that influence the activities in improving welfare, 3. The development of alternative employment Keywords : Coastal resources , utilization strategy and management activities ABSTRAK Pada kenyataannya pemanfaatan atau penggunaan sumberdaya dan wilayah atau ruang pesisir menunjukkan laju yang signifikan. Padahal di sisi lain ketersediaan ruang dan sumber daya tersebut berada dalam laju yang dilematis karena diikuti toleh pemanfaatan lebih yang tidak mempertimbangkan keberlanjutan dan kelestarian sumber tersebut. Hal ini bertambah krusial dengan bertambahnya jumlah penduduk. Salah satu akibat atau dampak yang paling terasa adalah kerusakan lingkungan, baik lingkungan alam secara umum maupun lingkungan wilayah pesisir secara khusus. Dari berbagai kajian dan kepedulian, untuk sementara kerusakan lingkungan yang terjadi dalam konteks pemanfaatan (eksploitasi) sumber daya alam oleh karena : 1)Kurangnya atau mungkin tidak adanya suatu pendekatan yang terpadu dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya yang berada dalam kawasan pesisir; 2)Kurangnya informasi dan data yang layak untuk dijadikan acuan dalam pengelolaan; 3)Kurangnya keterlibatan masyarakat dan mungkin pemerintah daerah dalam pengelolaan sember daya pesisir. Untuk berbagai alasan dan pertimbangan tersebut di atas, maka perlu diterapkan strategi pemanfaatan dalam batas-batas ramah lingkungan, melindungi dan mengkonservasi wilayah tertentu, merehabilitasi wilayah yang rusak, serta  meningkatkan kesadaran masyarakat pesisir untuk melestarikan ekosistem pesisir,  yang terintegrasi dalam strategi pengelolaan wilayah pesisir terpadu. Pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir skala kecil adalah suatu kegiatan pada tingkat desa/kelurahan yang dilaksanakan sebagai upaya dari kegiatan peningkatan kapasitas kelembagaan dan masyarakat, peningkatan kualitas lingkungan, serta peningkatan kualitas sosial ekonomi masyarakat dengan menggunakan teknologi pengelolaan wilayah pesisir tepat guna bagi masyarakat.  Kegiatan ini dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu: 1.Kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut melalui pelatihan dan pendampingan, 2.Kegiatan perbaikan lingkungan yang mempengaruhi kegiatan dalam peningkatan kesejahteraan, 3.Kegiatan pengembangan mata pencaharian alternatif.   Kata kunci : Sumberdaya pesisir, strategi pemanfaatan dan kegiatan pengelolaan 1Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi
Isolation and amplification of 16S rRNA gen of Associated Microbial isolates in Red Algae Kappaphycus alvarezii from Belang, Southeast Minahasa Regency, North Sulawesi Letha L. Wantania; Stenly Wullur; Elvi L. Ginting; Desy M. H. Mantiri; Suzanne L. Undap; Deiske A. Sumilat; Grevo S. Gerung
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.22808

Abstract

This study aims to obtain isolates and amplify the associative bacterial 16SrRNA gene in K. alvarezii algae. The K. alvarezii algae was collected from seaweed cultivation area in Belang, Southeast Minahasa, North Sulawesi. Associative bacteria were sampled from K. alvarezii algae, grown in Nutrient Agar and separated based on their morphological characteristics.  Each isolates were extracted their DNA genome and.the16S rRNA gene of each isolate was amplified using PCR.  Eight associative bacterial from K. alvarezii algae were successfully isolated based on morphological characteristics which were dominated by round shape, smooth edges, convex elevation, and white color of the isolates. The results of genomic DNA extraction from each of these isolates were successfully used as templates to amplify the 16s rRNA gene.Key word: Bacteria, Kappaphycus alvarezii, Taxsonomy, 16S rRNAABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat dan mengamplifikasi gen 16SrRNA bakteri asosiatif pada alga K. alvarezii. Metode penelitian diawali dengan pengambilan sampel alga K. alvarezii di lokasi pembudidayaan rumput laut di desa Belang, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Selanjutnya, bakteri asosiatif pada alga K. alvarezii tersebut ditumbuhkan dalam media Nutrient Agar, isolat yang tumbuh kemudian dipisahkan berdasarkan karakteristik morfologinya. dan gen 16S rRNA masing-masing isolat diamplifikasi menggunakn PCR.  Delapan isolat bakteri asosiatif pada alga K. alvarezii berhasil diisolasi dengan karakteristik morfologi berbeda yang didominasi dengan bentuk round, tepian smooth, elevasi convex, dan warna putih. Hasil ekstraksi DNA genom dari masing-masing isolat tersebut berhasil digunakan sebagai template untuk mengamplifikasi gen 16s rRNA.Kata Kunci: Bakteri, Kappaphycus alvarezii, Taksonomi, 16S rRNA
Utilization of life feed Alona sp., Boiled Egg Yolk and Commercial Feed Toward Survival Rate of Betta Fish Larvae Mikraim J. Kaseger; Henneke Pangkey; Diane J. Kusen; Henky Manoppo; Winda M. Mingkid; Nego E. Bataragoa
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 2 (2019): ISSUE JULY - DECEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.2.2019.23651

Abstract

The purpose of this study was to find out the survival rates of betta fish larvae (cupang) that were given life feed Alona sp., boiled egg yolk and commercial feed for 21 days. Data analysis was performed by one-way ANOVA, and continued with BNJ (Tukey) test. The result of the survival rate is as follow treatment with life feed Alona sp. 56%, treatment with boiled egg yolk 26%, and treatment with commercial feed 0%. The results of statistical tests show there are significant differences.  Significant value p <.0002 (<.05). Water quality parameter measured during the study was temperature of 26 ºC.Keywords: betta fish larvae, life feed, Alona sp., survival rateABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan laju kelangsungan hidup larva ikan betta (cupang) yang dibeerikan pakan alami Alona sp., rebusan kuning telur dan pakan komersil selama 21 hari.  Analisis data dilakukan dengan ANOVA one way, dan dilanjutkan dengan uji BNJ (Tukey).  Hasil laju kelangsungan hidup adalah sebagai berikut, perlakuan dengan pakan alami Alona sp. 56%, perlakuan dengan rebusan kuning telur 26%, dan perlakuan dengan pakan komersil 0%.  Hasil uji statistik menunjukan adanya perbedaan yang nyata.  Nilai signifikan p <.0002 (<.05).  Parameter kualitas air yang diukur selama penelitian adalah suhu 26ºC.Keywords: larva ikan betta, pakan alami, Alona sp., kelangsungan hidup
Cumulatif valuation of physic-chemical water quality from Tondano Lake, North Sulawesi Jan W. F. S. Tamanampo; Georis J. F. Kaligis; lawrence J. L. Lumingas
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.15533

Abstract

The research of  cumulative valuation  of physico-chemical  from Tondano Lake was conducted  in to  dry season on 2015.  The purpose  of the study was to  analysis of water quality of the Lake  such as Total Suspeded Solid (TSS), Total Disolved Solid (TDS), and Conductivity (DHL), as physical  parameters, and also chemical parameters such as  pH, Ca, Mg, K, SO4, Nitrogen Total, NH3, NO3, Phosfat Total, PO4, and Fe.  These were done by taking water sample on 24 location.The data were analysed by multivariate analysis with soft ware statistic R versi 3.3.2, and  Water quality analysis  based on  water quality criteria for  water environment, and Decree of Government Republic Indonesian No.82 /2001 about water quality management and water pollution control.Result revealed that  average and deviation standart  of phyco-chemical  parameters    are   TDS (mg/l)  192.0471 ± 94.1827, TSS (mg/l)  13.33 ± 4.8154 , DHL ( µmhos/cm)  317.833 ± 161.984, pH (6.8875  ± 0.2291), Ca (mg/l) 16.6667  ± 7.2284, Mg (mg/l) 14.7714  ± 0.3860, K (mg/l) 2.330  ± 0.4467, SO4 (mg/l) 5.685  ± 5.3366, Total Nitrogen (mg/l) 2.993  ± 5.3364, NH3 (mg/l) 0.2348  ± 0.8543, NO3 (mg/l) 5.3567  ± 7.0824, Total Phosfat (mg/l) 0.3333  ± 0.4821, PO4 (mg/l) 0.1130  ± 0.3315, Fe (mg/l) 0.11  ± 0.1901Principle Componen Analysis (PCA)  with  Eigen value (cumulative  % of variance)  62.68 %  explaining  10  parameter of physical chemistry water and 10 research location  as  reduction data from initial data.  Cluster analysis with  reduction data formed (1) The research location between Eris village and eceng gondok area, and fish Pond Eris village, the dominant variable were TDS, DHL, Nitrogen Total, and NH3.  (2) The research location in fish Pond Toulimembet  village, in front of  eceng gondok Urongo village, in front of eceng gondok Paleloan village, and in front of eceng gondok Roong village, the dominant variable were SO4, pH, and Mg,  (3) The research location between Kakas villages and eceng gondok area , Kaweng village and eceng gondok area, Kaweng village and eceng gondok area, Toulimembet village and eceng gondok area, and also fish Pond Kaima village,  the dominant variable were TSS, Ca, dan K.Tondano Lake has level of productivity from medium to high, and it is good for fish culture and fishery activity, prossed for drinking water, agriculture, animal husbandry, industry, and water power.Keywords :  Valuation, physical chemistry water, criteria   Abstrak           Penelitian tentang kumulatif kualitas fisik kimia air Danau Tondano telah dilakukan pada  musim kemarau tahun 2015.  Tujuan penelitian adalah (1)  menganalisis kualitas air Danau Tondano  yang meliputi  TSS, TDS, DH sebagai faktor fisika perairan , dan faktor kimia  yaitu derajat keasaman (pH), parameter fisika air danau yaitu Calsium, Magnesium, Kalium, Sulfat, Total nitrogen,  Amoniak, Nitrat, Total Phosfat, Phosfat terlarut, dan Besi (Fe).Sampel air di ambil pada 24 titik pengambilan sampel di Danau Tondano.  Pengambilan sampel air  pada kedalaman 20 meter dilakukan pada 21 titik atau lokasi penelitian,  titik pengambilan sampel pada kedalaman  5 meter, 10 meter, dan 20 meter.Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan  (1) Analisis multivariate dengan bantuan perangkat lunak statistic R versi R 3.3.2. (2)  Analisis kulaitas air dengan menggunakan kriteria kualitas air bagi lingkungan perairan, dan  Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 81 Tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air.Hasil analisis menunjukan konsentrasi  rata-rata dan stadar deviasi TDS (mg/l)  192.0471 ± 94.1827, TSS (mg/l)  13.33 ± 4.8154 , DHL ( µmhos/cm)  317.833 ± 161.984, pH (6.8875  ± 0.2291), Ca (mg/l) 16.6667  ± 7.2284, Mg (mg/l) 14.7714  ± 0.3860, K (mg/l) 2.330  ± 0.4467, SO4 (mg/l) 5.685  ± 5.3366, Total Nitrogen (mg/l) 2.993  ± 5.3364, NH3 (mg/l) 0.2348  ± 0.8543, NO3 (mg/l) 5.3567  ± 7.0824, Total Phosfat (mg/l) 0.3333  ± 0.4821, PO4 (mg/l) 0.1130  ± 0.3315, Fe (mg/l) 0.11  ± 0.1901. Melalui Analisis Komponen Utama (AKU) diperoleh nilai Eigen 62.68 %  yang mampu  menerangkan varian indicator 10 variabel lingkungan dan 10 lokasi penelitian sebagai hasil reduksi data. Analisi kluster dari data reduksi membentuk 3 kluster yaitu  Kluster I di lokasi penelitian belakang eceng gondok Eris dan budidaya ikan Eris dengan variabel  dominan TDS, DHL, Total Nitrogen, dan amoniak.  Kluster II di lokasi penelitian budidaya ikan Toulimembet, depan eceng gondok Urongo, depan gondok Paleloan, Depan eceng gondok Roong dengan variabel dominan  SO4, pH, dan Magnesium.  Kluster III di lokasi penelitian belakang eceng gondok Kakas, belakang eceng gondok Kaweng, belakang eceng gondok Toulimembet, dan budidaya ikan Kaima dengan variabel dominan TSS, Ca, dan K.  Danau Tondano memiliki tingkat kesuburan perairan yang dikategorikan sedang sampai tinggi, dan layak bagi kegiatan perikanan, air danau dapat diolah menjadi air minum, keperluan pertanian, peternakan, perikanan, industri dan listrik tenaga air.Kata kunci: Penilaian, fisika kimia air, Kriteria  
Struktur Komunitas dan Biomassa Rumput Laut (Seagrass) di Perairan Desa Tumbak Kecamatan Pusomaen Idris Baba; Ferdinand Frans Tilaar; Victor Naser Watung
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 1 No. 1 (2012): (Edisi September - Desember 2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.1.1.2012.494

Abstract

STRUKTUR KOMUNITAS DAN BIOMASSA RUMPUT LAUT (SEAGRASS) DI PERAIRAN DESA TUMBAK KECAMATAN PUSOMAEN1   Idris Baba2, Ferdinand F Tilaar3, Victor NR Watung3   ABSTRACT   Seagrass community structure is the basic data of seagrass ecosystems needs to know. Research community structure and biomass of seagrass was conducted in the waters of the Tumbak village, district of Pusomaen Southeast Minahasa North Sulawesi, in June 2012. This study aims to determine the community structure and biomass of seagrass through a review of the species density, species diversity, and evenness of species in the waters. Found seven species of seagrass that is Cymodoceae rotundata, Cymodocea serrulata, Halophila ovalis, Halophila minor, Enhalus acoroides, Thalasia hemprichii and Syringodium isoetifolium.     Keywords : seagrass, community structure, biomass   ABSTRAK Struktur komunitas rumput laut merupakan data dasar dari ekosistem rumput laut yang perlu di ketahui. Penelitian struktur komunitas dan biomassa rumput laut (seagrass) ini dilakukan di perairan Desa Tumbak Kecamatan Pusomaen Kabupaten Minahasa Tenggara Sulawesi Utara, pada bulan juni 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas dan biomassa rumput laut (seagrass) melalui penelahaan kepadatan spesies, keanekaragaman spesies, dan kemerataan spesies. Ditemukan tujuh spesies rumput laut yaitu Cymodoceae rotundata, Cymodocea serrulata, Halophila ovalis, Halophila minor,  Enhalus acoroides, Thalasia hemprichii dan Syringodium isoetifolium.     Kata kunci : rumput laut, struktur komunitas, biomassa
The biodiversity of macroalgae in the coastal waters of Tongkaina, Manado City Kepel, Rene Charles; Mantiri, Desy M. H.; Nasprianto, - -
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 6, No 1 (2018): ISSUE JANUARY-JUNE 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.1.2018.19558

Abstract

This study was carried out in coastal waters of Tongkaina, Manado City with an objective of knowing the taxa composition of macroalgae through morphological studies. Data collection used exploring survey. Results found 15 species that consisted 7 species of green algae, 4 species of brown algae, and 4 species of red algae.Keyword: Macroalgae, Tongkaina.  AbstrakPenelitian ini dilakukan di perairan pesisir Tongkaina, Kota Manado dengan tujuan untuk mengetahui komposisi taksa makroalga melalui pendekatan morfologi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode Survei Jelajah. Hasil penelitian menemukan 15 spesies, yang terdiri dari 7 spesies alga hijau, 4 spesies alga cokelat dan 4 spesies alga merah.Kata Kunci: makroalga, Tongkaina.
Diversity, Distribution Pattern, Morphometric of Box Mussel Septifer bilocularis (Linnaeus, 1758) on the Reef Flat in Cape Lampangi, South Minahasa Grace Mustamu; Lawrence J. L Lumingas; Anneke V. Lohoo
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 2 No. 1 (2014): Edisi Januari - April 2014
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.2.1.2014.4402

Abstract

Septifer bilocularis (Linnaeus, 1758) is a suspension feeder organisms which are found live clustered on dead coral . This study aims to estimate the average density, analyzes the distribution patterns and analyze morphometric aspects of a long-high (thick) relation, length-total weight relation and length-weight index without shell  relation of S. bilocularis at that location. Sampling method using transect squares method, with the length of each line is 50m, on each transect placed 10 squares (measuring 1m x 1m). Based on the data analysis of the average density in both transect was 214 individuals with a clustered deployment pattern, with a maximum shell length of 29,64mm. The relation between length and high of shell shows that the growth is allometri negative, length and total weight shell relationships is allometri negative, where the contents of the weight index does not increase with increasing length but declined. Box mussel Septifier bilocularis live clustered with very dense aggregations in intertidal reef flat area on the intertidal zone are exposed at the lowest tide at Cape Lampangi.   Keywords : box mussel, morphometric, Cape Lampangi, South Minahasa   ABSTRAK Septifer bilocularis (Linnaeus, 1758) merupakan organisme pemakan suspensi yang banyak ditemukan hidup secara mengelompok pada rataan terumbu karang mati. Penelitian ini bertujuan untuk menduga kepadatan rata-rata, menganalisis indeks dispersi atau pola sebaran dan menganalisis aspek morfometrik berupa hubungan panjang-tinggi (tebal), panjang-berat dan panjang-indeks berat tubuh tanpa cangkang dari S. bilocularis di lokasi tersebut. Pengambilan sampel menggunakan metode transek kuadrat, dengan panjang setiap garis 50 meter, pada masing-masing transek diletakkan 10 kuadrat (berukuran 1m x 1m). Berdasarkan analisis data kepadatan rata-rata secara keseluruhan (kedua transek) adalah 214 individu dengan pola penyebaran mengelompok, dengan panjang cangkang maksimum 29,64mm. Hubungan pertumbuhan panjang dan tinggi cangkang ‘allometri negatif’, hubungan panjang cangkang dan berat total ‘allometri negatif’, di mana pertambahan indeks isi tidak sejalan dengan pertambahan panjang tetapi menurun. Kerang kotak Septifier bilocularis hidup mengelompok dengan agregasi yang sangat padat di daerah intertidal rataan terumbu pada zona intertidal yang terekspos pada saat surut terendah di Tanjung Lampangi.   Kata kunci : karang kotak, morfometrik, Tanjung Lampangi, Minahasa Selatan
Ecological Conditions And Economic Values Of Coral Reef Flats In Mattiro Deceng Village, Badi Island, Pangkajenne Kepulauan Regency, South Sulawesi Ella Maria Tudang; Unstain N. W. J. Rembet; Adnan S Wantasen
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 7 No. 1 (2019): ISSUE JANUARY-JUNE 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.22596

Abstract

This research was carried out in Badi Island waters on Mattiro Deceng Village, Pangkajenne Kepulauan Regency, South Sulawesi.  The aims of this study are to know the ecological conditions of the coral reef ecosystem at; and to calculate the economic value of coral reef ecosystems at the research area. To determine the ecological conditions of coral reefs, data were obtained by using the Transect Line Intercept (LIT) method which were used in 3 different locations including: inner reef, middle reef, and outer reef. All benthic biota passed through the transect were recorded based on their growth form. On the other hand, to obtain the total economic value, interviews were conducted within the community who were active in utilizing the coral reef ecosystem by using the purposive sampling method. The condition of the coral reef of Badi Island on inner reef area (48.62%) was considered in the medium category and for the middle reef area is 64.10% and the outer reef area is 50.01% were both considered in the good category. The total economic value of Badi Island's coral reef ecosystem in Mattiro Deceng Village is Rp. 10,567,286,000 / year, whereas for the direct benefit calculated value is Rp. 9,213,714,286 / year and for the value of indirect benefits is totaling Rp. 1,353,572,000/year.Keywords: Ecological Conditions, Economic Value, Coral ReefsABSTRAKPenelitian ini dilakukan di Perairan Pulau Badi Desa Mattiro Deceng Kabupaten Pangkajenne Kepulauan, Sulawesi Selatan dengan tujuan untuk: 1. Mengetahui kondisi ekologi ekosistem terumbu karang pada lokasi penelitian. 2.  Mengetahui nilai ekonomi ekosistem terumbu karang pada lokasi penelitian. Untuk menentukan kondisi ekologi terumbu karang akan di peroleh dengan menggunakan metode Line Intercept Transek (LIT) pada 3 lokasi berbeda yaitu inner reef, middle reef, dan outer reef, dimana setiap biota bentik yang dilewati transek akan dicatat menurut bentuk pertumbuhannya. Sedangkan untuk memperoleh nilai ekonomi total dilakukan wawancara kepada masyarakat yang beraktivitas di ekosistem terumbu karang dengan menggunakan metode Purposive Sampling. Kondisi terumbu karang Pulau Badi pada inner reef (48,62%) termasuk dalam kategori sedang dan pada  middle reef ( 64,10%) dan outer reef (50,01%) termasuk dalam kategori baik.  Nilai total ekonomi ekosistem terumbu karang Pulau Badi Desa Mattiro Deceng sebesar Rp. 10.567.286.000/tahun, dimana untuk nilai manfaat langsung sebesar Rp. 9.213.714.286/tahun  untuk nilai manfaat tidak langsung sebesar Rp. 1.353.572.000/tahun.Kata Kunci : Kondisi Ekologi, Nilai Ekonomi, Terumbu Karang

Filter by Year

2012 2025