cover
Contact Name
Andri Restiyadi
Contact Email
sangkhakala.balarsumut@kemdikbud.go.id
Phone
+6282160904164
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Balai Arkeologi Sumatera Utara Jalan Seroja Raya, Gang Arkeologi No. 1, Tanjung Selamat, Medan Tuntungan, Medan 20134
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Berkala Arkeologi SANGKHAKALA
ISSN : 14103974     EISSN : 25808907     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
"SANGKHAKALA" refers to the shell horns that blown regularly to convey certain messages. In accordance with the meaning, this journal expected to become an instrument in the dissemination of archaeological information to the public which is published on an ongoing basis. Berkala Arkeologi Sangkhakala is a peer-reviewed journal published biannual by the Balai Arkeologi Sumatera Utara in May and November. The first edition was published in 1997 and began to be published online in an e-journal form using the Open Journal System tool in 2015. Berkala Arkeologi Sangkhakala aims to publish research papers, reviews and studies covering the disciplines of archeology, anthropology, history, ethnography, and culture in general.
Articles 235 Documents
Rumah Panggung Melayu, Bentuk Adaptasi di Kawasan Lahan Basah Pesisir Timur Sumatera Utara Deni Sutrisna
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 11 No 22 (2008)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (937.766 KB) | DOI: 10.24832/bas.v11i22.242

Abstract

AbstractMost of the Malay live in wetland ecosystem area in eastern coastal of north Sumatera which one of their cultural characteristics is storeyed house. It is adaptation strategy to its environment, especially at wetland to avoid flooding effects.
Gajah, Interaksinya dengan Pendukung Tradisi Megalitik di Sumatera Utara Dyah Hidayati
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 14 No 2 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3379.155 KB) | DOI: 10.24832/bas.v14i2.146

Abstract

AbstractSuch wild and powerful beasts,elephants are feared by men. Many of them live in the Sumatra jungle. As more of their habitat are threatened by more intense human activities, elephants impose a similar menace against men’s safety. As beasts, elephants also interract baturally with men. Not only do men interract naturally with elephants but also they use them for various purposes. A descriptive-comparative study, this writing is aimed at exploring explanatiosn on questions of how elephants and megalith men in north Sumatra interracted. Such interractions may have been either positive or negative relationships of power or prestige. The use of elephants was a means of transportation as well as other uses of economic purposes.AbstrakGajah merupakan hewan yang hidup di belantara Sumatra. Sebagai hewan liar yang memiliki kekuatan besar gajah sangat ditakuti oleh manusia. Apalagi setelah habitat hidupnya terganggu oleh aktivitas hidup manusia yang semakin intens, gajah semakin sering mengancam keselamatan manusia. Walaupun merupakan hewan liar, gajah juga berinteraksi dengan manusia. Selain berinteraksi secara alami manusia juga memanfaatkan gajah untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Dengan mengkaji secara deskriptif-komparatiff tulisan ini menggali jawaban atas pertanyaan mengenai bentuk-bentuk interaksi antara gajah dengan manusia pendukung tradisi megalitik di Sumatra Utara. Interaksi tersebut dapat bersifat positif ataupun negatif berupa hubungan religi, hubungan yang berkaitan dengan simbolisasi kekuasaan dan kekuatan, serta prestise. Sedangkan pemanfaatan yang dilakukan adalah pemanfaatan sebagai moda transportasi serta pemanfaatan secara ekonomis.
Situs Lobu Dolok, Makam Kuno di Kawasan Padang Lawas Sekitar Abad ke-17 Masehi Sukawati Susetyo
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 13 No 26 (2010)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (941.816 KB) | DOI: 10.24832/bas.v13i26.178

Abstract

AbstractAs a sacred tomb, Lobu Dolok is not maintained properly. This is because the tomb is situated on a hilltop. Although the sacred, none of people know who is buried and what the meaning of these remains. This article attempts to make an interpretation based on signs left by the form of inscriptions, statues of women and men as well as a relief of vulva.
Kreativitas Partonun dalam Menimbulkan Efek Komunikasi Pemasaran Ulos Defri Elias Simatupang
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 12 No 23 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2780.822 KB) | DOI: 10.24832/bas.v12i23.201

Abstract

AbstractThis article about ulos, a traditional clothes made by Batak People. Nowdays, many partonun (people who made ulos) difficult to sell it. They complain about that and finally did not serious to preserve this culture. As a traditional ancestor heritage ulos must be competing in this global market era.So actually they need a new creativity to think how ulos can be more impotant. This Writing want to think about creativity by using communicatioan market theories.
Syailendrawangsa: Sang Penguasa Mataram Kuna Baskoro Daru Tjahjono
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 16 No 2 (2013)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4010.767 KB) | DOI: 10.24832/bas.v16i2.102

Abstract

AbstractThe history of the ancient Mataram has been an intriguing discussion matter due to a seemingly endless problematic arising from the lack of data. However, increasing historical, archaeological researches, and new data findings complicate the issue. This article does not aim at providing justification over any of various perspectives proposed by any archaeologists or historians; rather, it tries to reveal and comprehend the historical matter of the ancient Mataram from one point of view. The historical approach suggests that there was only one ruling dynasty in the ancient Mataram, the Syailendrawangsa. Sanjaya was one of the descendant kings of Syailendrawangsa. The origins of the dynasty can be traced back through the Sojomerto inscription found in Batang, Central Java Province. The Syailendrawangsa was established by Dapunta Selendra, a native Indonesian. Mantyasih and Wanua Tengah III, under the instruction of Balitung, tell records about the lineage of the Syailendra dynasty or Syailendrawangsa from Sanjaya though Balitung. Some of the kings believed in Siva and others in Buddha. The inscriptions also have reports on four (4) names of the capital cities of the ancient Mataram: Poh Pitu, Mamratipura, Tamwlang, and Watugaluh; the locations which are not identified exactly. The different locations of the capital suggest the constant mobility of the kingdom centre of power. Early study predicts that the first two mentioned capitals are located in Central Java, while the latter two are in Jombang, East Java Province.AbstrakBicara tentang sejarah kerajaan Mataram Kuna selalu menarik, karena selalu akan ada permasalahan yang muncul akibat terbatasnya data. Namun semakin banyak penelitian sejarah maupun arkeologi dan semakin banyaknya temuan data baru, semakin rumit pula permasalahan yang muncul. Oleh karena itu, maksud tulisan ini tidak untuk membuktikan mana yang benar di antara berbagai pandangan para ahli tersebut, melainkan hanya ingin mengungkap dan memahami permasalahan kesejarahan kerajaan Mataram Kuna dari salah satu sudut pandang saja. Melalui pendekatan dengan metode historis, yang mengikuti salah satu pendapat bahwa hanya ada satu dinasti di kerajaan Mataram Kuna, maka dapat disimpulkan bahwa Syailendrawangsalah penguasa tunggal kerajaan Mataram Kuna. Sanjaya adalah salah satu raja keturunan Syailendrawangsa. Asal-usul dinasti ini dapat diketahui dari prasasti Sojomerto yang ditemukan di Batang Jawa Tengah. Syailendrawangsa didirikan oleh Dapunta Selendra yang merupakan orang asli Indonesia. Dari prasasti Mantyasih dan prasasti Wanua Tengah III yang dikeluarkan oleh Balitung dapat diketahui silsilah raja-raja Dinasti Syailendra atau Syailendrawangsa, yang diawali oleh Sanjaya sampai Balitung. Di antara raja-raja keturunan wangsa Syailendra itu ada yang memeluk agama Siwa dan ada yang memeluk agama Buddha. Diketahui pula adanya empat nama ibukota kerajaan Mataram Kuna, yang menunjukkan bahwa pusat kerajaan sering berpindah tempat. Keempat nama ibukota kerajaan itu adalah Poh Pitu, Mamratipura, Tamwlang, dan Watugaluh. Namun keempat pusat kerajaan itu belum dapat diidentifikasi lokasinya -- baru dapat diperkirakan -- dua nama pertama berada di wilayah Jawa Tengah dan dua nama terakhir diperkirakan di wilayah Jombang Jawa Timur.
Lamuri Telah Islam Sebelum Pasai Repelita Wahyu Oetomo
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 11 No 21 (2008)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1727.003 KB) | DOI: 10.24832/bas.v11i21.233

Abstract

AbstractLamuri is known as a place in Aceh Besar, which supported by the existence of grave complex and fortress. The result of archaeological activities indicated that the gravestone in Aceh Besar is older than Samudera Pasai.
Restoran Tertua Tip Top : Representasi Kuliner Masa Kolonial di Kota Medan Eny Christyawaty
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 15 No 1 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4268.356 KB) | DOI: 10.24832/bas.v15i1.137

Abstract

AbstractTip-top is the oldest restaurant in Medan that has existed since the colonial era. This restaurant has uniquely occupied the same building and served the same food and beverages menu as they did in the past with exactly the old recipe and taste, as well as the use of uncahnging cooking utensils. The consistency of process and taste with the atmosphere of the colonial period is the added value this restaurant offers, which is hard to beat by its competitors. Tip-Top restaurant is a part of Medan culinary history. This paper describes the old building of the restaurant as well as the colonial culinary tracesin Medan.AbstrakTip Top merupakan restoran tertua di Kota Medan yang berdiri sejak masa Kolonial, selain masih menempati gedung yang sama, juga masih menyajikan menu makanan dan minuman seperti masa kolonial dengan resep dan cita rasa yang sama. Bahkan peralatan yang digunakan untuk membuat makanan dan minuman pun masih mempergunakan peralatan kuno yang dipakai sejak dulu kala ketika restoran ini berdiri. Konsistensi pengolahan dan cita rasa dengan nuansa masa kolonial merupakan nilai lebih dari restoran ini yang mungkin sulit ditemukan pada restoran lain. Restoran Tip Top merupakan bagian dari sejarah kuliner di Kota Medan. Tulisan ini menjelaskan tentang jejak kuliner di Kota Medan pada masa kolonial.
Tinjauan Semiotik Terhadap Gambaran Dunia Menurut Kosmologi Hindu-Buddha, dan Batak Ery Soedewo
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 10 No 19 (2007)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (889.779 KB) | DOI: 10.24832/bas.v10i19.266

Abstract

AbstractSimilarities in cosmology concept between Bataks tradition and Hindu-Buddhist tradition on three world existence is universal. But there’s a concept in Hindu-Buddhist that influenced on Batak’s cosmology concept.
Sumberdaya Alam dan Pemanfaatannya di Situs Biaro Sipamutung, Padang Lawas Utara, Sumatera Utara (Kajian Laboratoris) Muh. Fadlan S. Intan
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 13 No 25 (2010)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2543.819 KB) | DOI: 10.24832/bas.v13i25.192

Abstract

AbstractIn the area of Padang Lawas, there are many biaros as the archaeological remains, especially along DAS Barumun and DAS Batang Pane. The existence of various remains in the region due to the availability of natural resources needed by human to his life. Various existing natural resources are exploited by people with supported by its own technology.
Tinjauan UU RI Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa Terhadap Pengelolaan Desa Bawömataluo Sebagai Kawasan Cagar Budaya Defri Elias Simatupang
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 17 No 1 (2014)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1249.207 KB) | DOI: 10.24832/bas.v17i1.93

Abstract

AbstractThis article reviews the policy of cultural heritage management of Bawömataluo village of South Nias Regency, having been proposed as a nominee of Indonesian cultural heritage to UNESCO since 2009 of no approval. The ratification of the Indonesian Government Law No. 11 the year of 2010 on cultural heritage and the Indonesian Government Law No 6 the year of 2014 about village affairs affects the lawful management of Bawömataluo village according to both UNESCO’s and Indonesian Government’s rulings. It is an inductive reasoning article that begins its discussion from data resulting from observations, interviews, and library studies. Those data are then analyzed and interpreted to formulate a hypothesis that the Indonesian Government Law No. 11 the year of 2010 on cultural heritage and the Indonesian Government Law No 6 the year of 2014 about village affairs are complementary, not contradictory. However, some distinct terminologies are worth noticing for possible future misinterpretations.AbstrakTulisan ini mengkaji kebijakan pengelolaan di Kawasan Cagar Budaya (KCB) yang dalam hal ini menggunakan Desa Bawömataluo (Kabupaten Nias Selatan) sebagai objek kajian. Sudah sejak tahun 2009 desa ini diusulkan ke UNESCO sebagai nominasi daftar warisan budaya dari Indonesia, namun masih belum mendapat pengesahan. Seiring telah disahkannya UU RI No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya dan yang terbaru UU RI No. 6 Tahun 2014 tentang desa, dirasakan penting untuk melihat desa Bawömataluo dari perspektif kedua produk hukum tersebut. Harapannya agar pengelolaan Desa Bawömataluo selama ini, dapat disesuaikan dengan kaidah peraturan perundang-undangan di Indonesia maupun di UNESCO sendiri. Tulisan ini menggunakan penalaran induktif yang berawal dari pembahasan setiap data hasil observasi, wawancara, dan studi pustaka. Data-data tersebut dianalisis dan diinterpretasi untuk merumuskan sebuah hipotesis bahwa UU RI No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya dan yang terbaru UU RI No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa pada dasarnya tidak bertentangan dan saling mendukung. Namun ada beberapa perbedaan istilah kiranya.