cover
Contact Name
Agus Eka Aprianta
Contact Email
penerbitan@isi-dps.ac.id
Phone
+62361-227316
Journal Mail Official
penerbitan@isi-dps.ac.id
Editorial Address
Mudra Jurnal Seni Budaya Institut Seni Indonesia Denpasar Jalan Nusa Indah Denpasar 80235
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
MUDRA Jurnal Seni Budaya
ISSN : 08543461     EISSN : 25410407     DOI : https://doi.org/10.31091/mudra.v37i4.2084
AIMS The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. In accordance with the meaning of the word “Mudra”, which is a spiritual gesture and energy indicator, it is hoped that the journal will be able to vibrate the breath of art knowledge to its audience, both academics, and professionals. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches. SCOPE MUDRA, as the Journal of art and culture, is dedicated as a scientific dialectic vehicle that accommodates quality original articles covering the development of knowledge about art, ideas, concepts, phenomena originating from the results of scientific research, creation, presentation of fine arts, performing arts and new media from researchers, artists, academics, and students covering areas of study: Performing Arts: dance, puppetry, ethnomusicology, music, theater,performing arts education, performing arts management Fine Arts: fine arts, sculpture, craft art, fine arts education,fine arts management, including new media arts Design: interior design, graphic communication design, fashion design,product design, accessories and/or jewelry design Recording Media : photography, film, television, documentary, video art, animation,game Culture : linguistic, architecture, verbal tradition, as well as other communal tradition The object of research is explored in a variety of topics that are unique, relevant, and contextual with environmental and sustainability aspects, local wisdom, humanity and safety factors. In addition to that, the topic of research needs to be original, creative, innovative, excellence, and competitive.
Articles 496 Documents
Pengaruh Sistem Zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Hindu Siswa SMP Negeri 1 Kota Denpasar Tahun Pelajaran 2018/2019 Wayan Paramartha; Ni Putu Suwardani; Ni Luh Suryaningsih
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 3 (2020): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i3.1102

Abstract

Dalam pendidikan formal, tahapan awal untuk memulai jenjang pendidikan dilakukan melalui penerimaan peserta didik baru. Penerimaan pesertadidik baru adalah proses seleksi yang akan menentukan siswa yang diterima di suatu sekolah. Proses ini diharapkan dapat berjalan secara objektif, akuntabel, transparan, dan tanpa diskriminasi sehingga bisa mendorong peningkatan akses layanan dan pemerataan pendidikan melalui sistem zonasi, terlepas dari kemampuan kognitif ataupun ekonomi yang rendah. Dalam pelaksanaan di lapangan, penerapan sistem zonasi ini mendapati berbagai persoalan diantaranya adanya kondisi peserta didik yang diterima melalui sistem zonasi memiliki kemampuan kognitif dalam prestasi belajar yang cukup rendah dibandingkan peserta didik yang diterima melalui jalur prestasi. Selama ini SMPN 1 Kota Denpasar dikenal sebagai salahsatu sekolah favorit yang menerima siswa baru berdasarkan nilai hasil ujian sekolah, prestasi akademik dan non akademik, serta tes tertulis. Makapara guru terbiasa menghadapi siswa dengan kemampuan kognitif dalam prestasi belajar yang cukup baik sehingga para guru mengalami kesulitan ketika menghadapi siswa dengan prestasi belajar yang rendah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh sistem zonasi penerimaan peserta didik baru terhadap prestasi belajar siswa kelas VII di SMPN 1 Kota Denpasar Tahun Pelajaran 2018/2019. Metode penelitian yang digunakandalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi 285 dengan penentuan jumlah sampel Krejcie dan Morgan taraf kepercayaan 95% berjumlah 158 responden. Pengumpulan data dengan angket, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumen penelitian diuji dengan uji validitas dan uji reliabilitas. Analisis data menggunakan statistik deskriptif persentase, statistik korelasional, dan analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh yang negatif dan signifikan sistem zonasi penerimaan peserta didik baru terhadapprestasi belajar peserta didik kelas VII SMPN Negeri 1 Denpasar tahun pelajaran 2018/2019. Terbukti hasil perhitungan analisis statistik korelasidiperoleh rxy = 0,030 dengan rtabel = 0,159, maka rxy < rtabel. Hasil perhitungan analisis regresi linier sederhana, diperoleh a = 81,268 dan b= -0,043, jadi Ŷ = 81,268 -0,043X. Uji-t diperoleh thitung =-0,369, dengan ttabel =1,684. Karena nilai -thitung < -ttabel, maka dapatdisimpulkan bahwa variabel X memiliki pengaruh negatif terhadap variabel Y. Pada out put uji signifikansi dan linearitas persamaan regresi diatas ternyata diperoleh nilai Sig. sebesar 0,713 lebih besar dari 0,05 sehingga tidak signifikan.
Tata Cara Penyuratan Dan Pendaftaran Awig-awig Desa Adat di Bali (Dari Desa Mawacara ke Bali Mawacara) I Putu Sastra Wibawa; I Putu Gelgel; I Wayan Martha
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 3 (2020): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i3.1103

Abstract

Saat ini terkait dengan salah satu dari hak tradisional desa adat di Bali dalam mengurus rumah tangganya sendiri melalui hak untuk membentuk aturan hukum adat sebutan lainnya di Bali disebut awig-awig desa adat terjadi pergeseran akibat diterbitkannya Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Desa Adat di Bali. Pergeseran dimaksud disini, dari awalnya pembentukan awig-awig desa adat berdasarkan tata cara kebiasaan masing-masing desa adat (desa mawacara) bergeser ke arah penyeragaman yang dibuat pemerintah dalam hal tata cara penyuratan dan pendaftaran awig-awig desa adat di Bali (Bali mawacara). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji tata cara penyuratan dan pendaftaran awig-awig desa adat pasca terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Desa Adat di Bali dikaitkan dengan otonomi yang dimiliki oleh desa adat di Bali. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian kualitatif dengan metode deskriptif menggunakan pendekatan peraturan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Data bersumber dari data sekunder berupa data kepustakaan termasuk peraturan perundang-undangan terkait kemudian dikumpulkan dengan metode kutipan dan dianalisis secara deskriptif dan kemudian disimpulkan.Hasil penelitian menunjukkan terdapatnya pedoman penyuratan dan pendaftaran awig-awig pada Peraturan Daerah Provinsi Bali tentang Desa Adat dan Peraturan Gubernur tentang Pelaksanaan Perda Desa Adat di Bali menunjukkan terjadinya pergeseran dari desa mawacara ke Bali mawacarasehingga dapat mengurangi kadar otonomi yang dimiliki oleh desa adat di Bali, khususnya terkait dalam pembentukan hukum adat terutama pada desa adat Bali Aga yang secara turun-temurun memiliki cara sendiri membentuk hukum adat masing-masing
Analisis Pertarungan Wacana Video Pendek Covid-19 di Media Sosial I Komang Arba Wirawan; Dewa Made Dermawan; I Wayan Mudra
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 1 (2021): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v36i1.1105

Abstract

Kecepatan teknologi digital berdampak terhadap produksi film atau video pendek, pola distribusi, dan konsumsi yang sangat cepat pada era Covid-19 ini. Kehadiran video pendek Covid-19 di Indonesia sangat variatif, kreatif dan inovatif membawa pertarungan wacana di kalangan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertarungan wacana video pendek Covid-19 di media social khususnya WhatsApp (WA), mulai 13 April s/d 5 Agustus 2020. Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kualittatif didukung data kuantitatif, dan teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi, dan penyebaran kuesioner secara on line. Sumber data utama penelitian ini adalah delapan video pendek terpilih mengenai kampanye Covid-19 yang pernah beredar di media sosial WA berbahasa Indonesia. Teori yang dipergunakan adalah teori wacana, (Stuart Hall) dan estetika (Virilio). Kedua teori ini diaplikasikan secara eklektik untuk menganalisis secara kritis proses konsumsi video pendek Covid-19 oleh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa video pendek kampanye Covid-19 yang beredar di media WhatsApp ada dua model yang melakukan pertarungan wacana bertujuan untuk kepentingan politik. Kelompok video pertama mengandung muatan hoax bertujuan untuk menimbulkan kepanikan di masyarakat, dan kelompok video kedua bertujuan membangun kesadaran masyarakat dalam menghadapi Covid-19. Video yang kedua ini adalah video yang mendukung kampanye pemerintah, sebagai wacana tanding menenangkan wacana video pendek kampanye Covid-19. Pada kedua jenis video ini tergambar pertarungan wacana ideologi, politik dan ekonomi dalam memenangkan dan memengaruhi masyarakat melalui media social. Kesimpulannya video pendek Covid-19 yang beredar di media sosial wacana pertarungannya didasari atas berbagai kepentingan, dan tidak semata-mata hanya bertujuan baik.
Reka Ulang Koreografi Rejang Pala, Setelah 100 Tahun Menghilang: Sebuah Rekonstruksi Imajinatif Ida Ayu Wayan Arya Satyani; I Wayan Adi Gunarta
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 1 (2021): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v36i1.1108

Abstract

Rekonstruksi Imajinatif merupakan proses reka ulang terhadap koreografi tari yang sudah punah, tetapi masih meninggalkan jejak masa lampau selain jejak koreografinya. Hal ini dialami oleh Rejang Pala di desa Nongan, kecamatan Rendang, kabupaten Karangasem, yang menghilang akibat gejor Bali 1917. Kisahnya terselip dalam mitos Pan Balang Tamak yang diwarisi di desa ini. Jejak lainnya berupa hiasan kepala (serobong), dan sedikit jejak arkeologis yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai peninggalan Pan Balang Tamak. Minimnya sumber informasi untuk merunut jejak sejarah maupun ke’asli’an koreografi rejang ini mengantarkan peristiwa rekonstruksinya pada rekonstruksi imajinatif. Apa yang dimaksud dengan rekonstruksi imajinatif?, bagaimana prosesnya?, dan bagaimana hasilnya?, menjadi fokus pembahasan artikel ini. Metoda rekonstruksinya mengkombinasikan metoda sejarah dengan metoda konstruksi tari. Metoda sejarah meliputi heuristik (pengumpulan data), kritik (analisis, eksternal dan internal), interpretasi (analisis dan sintesis), dan historiografi (penyampaian hasil). Sedangkan metoda konstruksi tari menurut Jacqueline Smith, tersusun dalam lima langkah yaitu: konstruksi I bertumpu pada rangsang tari, konstruksi II pada motif dan komposisi, konstruksi III pada komposisi kelompok, konstruksi IV pada pengorganisasian bentuk tari, dan konstruksi V pada keutuhan karya. Pengetahuan metoda konstruksi tari menurut pandangan Smith, terhubung dengan imajinasi dan intuisi, pengetahuan tentang materi gerak, serta pengenalan bentuk melalui pengalaman estetis. Hasil pembahasan diperlukan sebagai refleksi terhadap apa yang telah dilakukan selama rekonstruksi imajinatif sejak 2017 hingga makebah (peluncuran) pada 9 April 2019. Butir-butir refleksi ini kemudian digunakan sebagai dasar untuk menyusun rancangan panyacah awig rejang, sebagai langkah awal penguatan ekosistem Rejang Pala.
Upacara Tabut di Pesisir Barat Sumatera Khanizar -; Hendrik Arwan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 3 (2020): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i3.1110

Abstract

Upacara tabut sangat layak untuk dikaji dalam konteks kajian budaya dan masyarakat pendukungnya. Hal ini disebabkan bahwa upacara tabut sebagai identitas budaya, perekat nilai budaya dan makna budaya oleh masyarakat di Pesisir Barat Sumatera. Pembahasan upacara tabut sebagai cerminan estetika budaya masyarakat Pesisir Barat Sumatera, berkaitan dengan, arena budaya Islam Syi’ah di Pantai Barat Sumatera dan Indonesia umumnya. Permasalahan penelitian ini adalah; (1) Bagaimana bentuk estetika upacara tabut sebagai identitas dan sekaligus sebagai perekat nilai budaya, (2) Bagaimana fungsi estetika upacara tabut sebagai identitas lokal, (3) Bagaimanakah kelompok masyarakat Pesisir Barat Sumatera memaknai upacara tabut yang dilaksanakan sekali dalam setiap tahun Hijiriah. Tujuan penelitian ini adalah membahas nilai-nilai upacara tabut dari aspek; (1) identitas masyarakat dan sekaligus sebagai perekat nilai budaya masyarakat Pesisir Barat Sumatera. (2) mengaplikasikan fungsi estetika etnis. (3) menjelaskan makna estetis dan kaitannya dengan agama dan adat istiadat. Penelitian dilaksanakan dengan mempergunakan metode kualitatif sesuai dengan kaidah penelitian ilmiah dan paradigm kajian budaya. Untuk pemecahan permasalahan digunakan tiga teori besar, yaitu teori genealogi, teori dekonstruksi dan teori postkolonial. Ketiga teori tersebut dipergunakan secara eklektis untuk membahas subtansi pokok bahasan. Bahasan terhadap penelitian upacara tabut di Pesisir Barat Sumatera terdiri atas; (a) upacara tabut sebagai bentuk cerminan estetika budaya masyarakat Pesisir Barat Sumatera, (b) Fungsi upacara tabut oleh masyarakat Pesisir Barat Sumatera, sebagai pembersihan jiwa, religiusitas, pengalaman mistis dan estetis, ideologi, hegemoni melebihi patronase postkolonial, hingga upacara tabut berfungsi sebagai pensucian dan pernyataan estetis kosmologi masyarakat pendukung upacara tabut; dan (c) Makna dekonstruksi dan genealogi estetika upacara tabut di Pesisir Barat Sumatera.
Analisis Wacana Resistensi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Sebagai Budaya Global Oleh Pelaku Seni Indonesia Khususnya Di Bali I Nyoman Lodra
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 3 (2020): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i3.1112

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resistensi terhadap budaya global seperti HKI oleh pelaku seni Indonesia, khususnya di Bali. Sebagai negara berkembang Indonesia telah mengadaftasi budaya tersebut ke dalam Undang-Undang HKI. Implementasikan di pasar global Indonesia, khususnya di daerah Bali, masih terjadi resistensi oleh pelaku seni tradisional yang kerapkali abaikan, apriori terhadap HKI. Fokus permasalahan: (1) bagaimana bentuk resistensi terhadap HKI di Bali? (2) apa faktor-faktor penyebab resistensi HKI di Bali? (3) bagaimana dampak resistensi terhadap HKI di Bali?. Tujuan, (1) mendiskripsikan bentuk resistensi HKI di Bali (2) mengetahui faktor penyebab resistensi HKI di Bali (3) mengetahui dampak resistensi terhadap HKI di Bali. Manfaat; hasil penelitian: mencarikan solusi untuk mengatasi resistensi HKI di Bali. Metode penelitian deskriptif kualitatif, dengan pendekatan yuridis emperis. Pengumpulan data primer dan sekender, dengan pengambilan data: observasi, wawancara, dan dokumen. Analisis digunakan teori wacana, teori praktik sosial, dan teori dekonstruksi. Sumber data, manusia, jurnal, buku, validitas dengan trianggulasi data, trianggulasi sumber. Hasil: ditemukan resistensi terhadap HKI oleh pelaku seni di Bali yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.
Emotional Branding Dalam Strategi Pemasaran Kolaborasi : Studi Kasus Desain Kemasan Mizzu “Khong Guan Face Palette” Monica Revias Purwa Kusuma; Aji Susanto Anom Purnomo
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 3 (2020): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i3.1126

Abstract

Di era internet marketing saat ini, pengambilan keputusan pembelian sebuah produk tidak hanya bergantung pada fungsinya saja. Faktor emosional dan nilai artistik juga memiliki peran didalam proses tersebut. Hal ini membutuhkan strategi pemasaran yang kreatif dan inovatif agar sebuah produk sukses dalam pemasarannya. Penelitian ini bertujuan memaparkan fenomena strategi pemasaran yang dilakukan oleh Mizzu Cosmetics sebagai alternatif dalam merencanakan sebuah strategi pemasaran. Strategi pemasaran tersebut adalah strategi pemasaran kolaborasi yang dilakukan oleh Mizzu Cosmetics bersama biskuit Khong Guan dalam produk “Khong Guan Face Palette”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif berlandaskan fenomenologis dengan teori utama desain kemasan dan ditunjang oleh teori emotional branding serta teori strategi pemasaran. Dari hasil penelitian didapat strategi pemasaran kolaborasi yang kreatif dan inovatif memanfaatkan aspek emotional branding dari sebuah produk yang ikonik. Biskuit Khong Guan yang sudah lebih dulu lekat di benak konsumen dengan parodi dan meme hilangnya sosok ayah memberikan nilai tambahan pada produk Mizzu Cosmetics dalam desain kemasannya serta rangkaian kampanye yang dilakukan
Ruang Adat di Kampung Dukuh Dalam sebagai Bentuk Kehidupan Spiritual Nani Sriwardani; Reiza D Dienaputra; Susi Machdalena; N Kartika
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 3 (2020): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v35i3.1127

Abstract

Masyarakat Adat Sunda tersebar di daerah di Jawa Barat, beberapa kampung bersifat tertutup dengan mempertahankan adat istiadat kebiasaan secara turun termurun dan sebagian juga ada yang mengalami penyesuain pada nilai-nilai kebudayaannya. Kampung Dukuh yang terletak di Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, merupakan salah satu kampung yang memiliki keduanya. Kampung tersebut memberi batas antara “dalam” dan “luar”. Pemisahan “dalam” dan “luar” ini memiliki perbedaan dalam menciptakan kesakralan ruang dan kondisi manusia yang ada di lingkungan tersebut. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran nilai kehidupan spiritual yang hadir melalui batas ruang lingkup suatu kampung adat. Metode yang digunakan adalah dengan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan mengutamakan berbagai data literatur serta survei dilapangan. Hasilnya ditemukan bahwa terdapat batas wilayah atau ruang yang membatasi antara Dukuh Dalam dan Dukuh Luar. Kampung Dukuh mengedepankan akhlaq dalam sistem kehidupannya dan di Kampung Dukuh Dalam aturan tawadhu, sederhana, dan harmonis dijalankan sepernuhnya sampai kepada gaya hidup dan lingkungannya. Pegangan hidup masyarakat Kampung Dukuh Dalam berpedoman pada ajaran agama Islam yang berlandaskan Al Quran dan Hadist. Hasil dan kajian ini diharapkan dapat menjadi wawasan pengetahuan perihal Kampung Dukuh Dalam dan wilayah serta ruang yang menaunginya.
Bentuk Tari Renteng di Dusun Saren I, Nusa Penida, Klungkung Anak Agung Gde Agung Indrawan Indrawan; I Ketut Sariada; Ni Made Arshiniwati
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 1 (2021): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v36i1.1129

Abstract

Tari Renteng yang terdapat di Dusun Saren I, Nusa Penida, Klungkung adalah tarian sakral yang dibawakan oleh sekelompok orang dengan gerak, busana, dan iringan musik yang sangat sederhana. Tarian ini memiliki keunikan tersendiri yaitu bentuknya yang sederhana dan ditarikan secara berulang-ulang, terdapat prosesi ritual yang harus dilakukan oleh penari sebelum dipentaskan, memiliki keterkaitan dengan Pura Penataran Ped. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tari Renteng secara umum, dan khususnya memahami tarian ini melalui bentuknya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang diterapkan adalah teori bentuk bermakna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk tari Renteng di Dusun Saren I, Nusa Penida, Klungkung dapat dilihat dari gerak tari, struktur pertunjukan, dan elemen-elemen pertunjukannya. Kesimpulannya adalah bentuk tari Renteng di Dusun Saren I, Nusa Penida, Klungkung adalah tarian sakral yang ditarikan secara massal oleh sekelopok wanita dewasa berjumlah ganjil. Terdiri dari tiga gerak pokok yaitu ngelikas, nguler, dan mentang. Struktur pertunjukannya meliputi bagian awal, tengah, dan akhir. Tempat pentas yang digunakan yaitu pentas arena. Penarinya adalah wanita yang sudah menikah, berasal dari Dusun Saren I, dan menjadi penari atas keinginannya sendiri. Terdapat sesajen yang digunakan untuk mendak renteng. Rias yang digunakan adalah rias natural, sedangkan busananya yakni pakaian adat persembahyangan yang menjadi busana tari, dan diiringi dengan gamelan rerentengan.
Perhelatan Seni dalam Bingkai Dinamika Zaman Taman Balekambang Surakarta (1921-2020) Rudy Wicaksono Herlambang; Rahmanu Widayat; Galih Pranata
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 1 (2021): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v36i1.1164

Abstract

Balekambang Park is one of the many tourist objects that are quite popular in the Solo area. Not only does it present the beauty of the garden, but also keeps a long historical side. This paper seeks to record flashbacks of art events from time to time that have occurred in Taman Balekambang Surakarta. The results showed that Balekambang Park was once busy with a variety of art performances and the enthusiasm of the audience until the 80s before being displaced by the globalization media which made Balekambang Park lose its crowd and began to be abandoned in the 90s. Whereas previously, various art events such as WOP, Kethoprak had triumphed in the 80s. This alarming condition is increasingly felt where Balekambang Park has begun to be viewed with a negative stigma with the establishment of the night world in it and other dark sides such as 'plus-plus' massage and so on. Revitalization efforts were then carried out by the Solo City Government starting from the revitalization by Solo City Leaders Joko Widodo and FX Rudy in 2008. In addition, the establishment of new facilities such as the Open Stage is an effort to preserve Balekambang Park while maintaining the existence of art and cultural events that have been held in the Park since long ago.