MUDRA Jurnal Seni Budaya
AIMS The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. In accordance with the meaning of the word “Mudra”, which is a spiritual gesture and energy indicator, it is hoped that the journal will be able to vibrate the breath of art knowledge to its audience, both academics, and professionals. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches. SCOPE MUDRA, as the Journal of art and culture, is dedicated as a scientific dialectic vehicle that accommodates quality original articles covering the development of knowledge about art, ideas, concepts, phenomena originating from the results of scientific research, creation, presentation of fine arts, performing arts and new media from researchers, artists, academics, and students covering areas of study: Performing Arts: dance, puppetry, ethnomusicology, music, theater,performing arts education, performing arts management Fine Arts: fine arts, sculpture, craft art, fine arts education,fine arts management, including new media arts Design: interior design, graphic communication design, fashion design,product design, accessories and/or jewelry design Recording Media : photography, film, television, documentary, video art, animation,game Culture : linguistic, architecture, verbal tradition, as well as other communal tradition The object of research is explored in a variety of topics that are unique, relevant, and contextual with environmental and sustainability aspects, local wisdom, humanity and safety factors. In addition to that, the topic of research needs to be original, creative, innovative, excellence, and competitive.
Articles
496 Documents
Cultural Landscape: Brand Knowledge Wisatawan tentang Bali dalam Online Travel Review Communication Platform
Ramaswati Purnawan;
I Gede Pitana;
I Nyoman Darma Putra
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 2 (2021): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v36i2.1200
Kebudayaan Bali memiliki peran penting bagi citra dan competitiveness Bali dalam industri pariwisata global dan unsur-unsur budaya telah digunakan sebagai ikon pemasaran pariwisata. Namun demikian, dalam perjalanan kepariwisataan di Bali, motivasi wisatawan berkunjung beragam karena banyaknya alternatif aktivitas wisata ditawarkan di Bali. Di sisi lain, perkembangan teknologi komunikasi merubah trend wisatawan mempersiapkan perjalanan wisata melalui pencarian informasi dengan merujuk ke rekomendasi dari sosial media secara online, salah satu yang populer adalah travel review forum. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui brand knowledge wisatawan tentang Bali melalui mediasi online travel review platform. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui survey dengan kuesioner online sebagai instrument penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan metode Spearman Rank Correlation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eWOM, khususnya online travel review memiliki hubungan yang kuat dan positif terhadap brand knowledge wisatawan bahwa Bali merupakan destinasi wisata alam. Sebaliknya, hubungan yang lemah dan negatif terjadi antara eWOM terhadap brand knowledge wisatawan tentang Bali sebagai destinasi wisata budaya.
Jejak Seni Pertunjukan Bali Kuna Dalam Karya Kesusastraan Usana Bali Mayantaka Carita
Hendra Santosa;
Dyah Kustiyanti;
Ida Ayu Wayan Arya Satyani
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 2 (2021): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v36i2.1247
Tulisan ini merupakan bagian dari penelitian yang berjudul “Inventarisasi Istilah-istilah Seni Pertunjukan Bali dalam Karya Kesusastraan Jaman Gelgel (1401-1687) dan bertujuan untuk memperlihatkan bagaimana seni pertunjukan pada masa Bali kuno masih bertahan dan berkembang dengan baik pada masa Gelgel, setelah penaklukan Majapahit. Berbagai karya pada masa Raja Waturenggong lahir di Bali, sehingga dapat dikatakan sebagai sebuah masa keemasan bagi seni sastra di Bali. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu, yaitu melalui tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Khusus untuk artikel ini karya kesusastraan pada masa Gelgel (1401-1687) dijadikan sebagai sumber primer untuk mengetahui berbagai seni pertunjukan yang lahir pada masa tersebut. Naskah Usana Bali Mayantaka Carita yang diambil dalam buku Karya Sastra Filsafat Kakawin Mayantaka Karya Danghyang Nirartha., karya, I. B. Agastia tahun 2018 terbitan Taman Sastra Wagiswari Dharmasabha karena karya kesusastraan tersebut paling banyak menyuratkan unsur-unsur seni pertunjukan Bali. Metode yang dipergunakan adalah deskripsi analisis dengan interpretasi faktual apa adanya. Berdasarkan Kakawin Usana Bali Mayantaka Carita, dapat ditarik kesimpulan bahwa bahwa pada masa Raja Waturenggong masih terus dipertahankan dan sepertinya terdapat penambahan fungsi serta perubahan istilah terutama pada seni karawitan (instrumen).
Desain Multimedia Pembelajaran Tari Rakyat Berbasis Android Sebagai Self Directed Learning Mahasiswa Dalam Perkuliahan
Heni Komalasari;
Agus Budiman;
Juju Masunah;
Ayo Sunaryo
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 1 (2021): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v36i1.1260
Pendekatan sumber belajar konvensional saat ini lambat laun mulai beralih atau bertransformasi menuju pendekatan sumber belajar digitalisasi. Tujuan penelitian ini ingin mengembangkan protipe pembelajaran tari rakyat berbasis android yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa sebagai pendekatan pembelajaran self directed learning pada perkuliahan tari rakyat. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian pengembangan. Data penelitian diperoleh dari hasil studi dokumentasi dan studi literatur. Analisis data disajikan secara kualitatif untuk mendeskripsikan secara detail mengenai langkah-langkah proses penyusunan prototipe multimedia pembelajaran tari rakyat berbasis android. Temuan menunjukan bahwa protipe sumber belajar multimedia tari rakyat berbasis android yang dikembangkan memiliki karakteristik dalam mendorong mahasiswa untuk dapat melakukan belajar secara mandiri tanpa harus dibimbing dan dilatih langsung oleh dosen di dalam jam perkuliahan. Model media yang dikembangkan menyajikan beberapa menu pilihan belajar yang dapat diakses oleh mahasiswa melalui berbagai perangkat teknologi seperti komputer, laptop, seluler, dan lain sejenisnya.
Teo-Estetika-Filosofis Topeng Sidakarya Dalam Praktik Keberagamaan Hindu Di Bali
Komang Indra Wirawan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 2 (2021): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v36i2.1283
Topeng Sidakarya memeliki peranan penting dalam setiap upacara yadnya bagi umat Hindu di Bali. Upacara yadnya belum dinyatakan selesai sebelum dipentaskannya tarian sakral ini, sehingga dalam setiap prosesi ada pementasan tarian yang tergolong tari wali. Jenis tarian ini adalah bergenre tari topeng dengan atribut yang khas menampakan ketuaanya. Sidakarya secara literal berarti pekerajaan yang sudah tuntas atau selesai. Melalui pementasan tarian ini, masyarakat Hindu yang melangsungkan upacara yadnya diyakini sudah selesai menjalankan yadnya, dan tentunya ada pemberkatan di dalamnya. Tarian sakral yang menunjukan kesan magis, dan tidak saja dipandang sebagai pelengkap ritus yadnya, tetapi juga kaya makna teologi, keindahan dan filosofis yang berhubungan dengan praktik beragama Hindu di Bali yang di dalamnya tidak terlepas dari konsep satyam, siwam dan sundaram.
Prototype Komersial Kursi Borobudur Menuju Hilirisasi Dengan Pendekatan Eklektik
Rahmanu Widayat;
Anung B. Studyanto
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 1 (2021): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v36i1.1313
Artikel ini berlatar belakang eksplorasi hasil rekonstruksi Kursi Borobudur berupa replika yang mengacu pada kursi yang terdapat pada relief Karmawibangga Candi Borobudur (tahun 2015) untuk menuju hilirisasi tahap 2 tahun 2020. Persoalannya adalah 1) Apa itu prototype Kursi Borobudur yang dapat menuju hilirisasi? 2) Mengapa prototype Kursi Borobudur menuju hilirisasi? 3) Bagaimana wujud Kursi Borobudur yang dapat menuju hilirisasi? Untuk mendapatkan jawaban dari persoalaan ini dilakukan penelitian secara kualitatif, dengan proses redesain (penciptaan) dengan pertimbangan aspek desain (pendekatan eklektik) dalam konteks budaya, dan industri kreatif yang harapannya dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat dan dunia usaha (hilirisasi). Hasil dan pembahasannya adalah berbagai prototype komersial kursi Borobudur yang siap diproduksi dalam jumlah banyak dalam bidang industri kerajinan furniture. Keunggulannya terletak pada kombinasi berbagai jenis kayu, stacking chair (dapat ditumpuk), multi fungsi (kursi samping meja, kursi tamu, kursi makan, kursi pertemuan). Kesimpulannya kursi yang dikembangkan dari relief Candi Borobudur dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman sekarang. Saran untuk penelitian selanjutnya bekerjasamasama dengan industri furniture dalam memproduksi kursi Borobudur menuju hilirisasi.
Genealogi Sosiokultur Musikalitas Sonai Gandai Mukomuko Bengkulu
Bambang Parmadi
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 1 (2021): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v36i1.1317
Eksistensi kesenian dalam masyarakat terkait dengan fungsi dan guna kesenian tersebut bagi masyarakat tersebut. Secara konseptual, fungsi berarti hubungan fungsi tersebut dengan organisme sosial. Fungsi seni, terutama dari hubungan praktis dan intergritasnya, mereduksi menjadi tiga fungsi utama, yaitu: (1) untuk kepentingan social atau sarana upacara; (2) sebagai ungkapan perasaan pribadi yang dapat menghibur diri; dan (3) sebagai penyajian estetik. Kabupaten Mukomuko sebagai bagian dari provinsi Bengkulu memiliki kesenian yang sudah dikenal secara luas oleh masyarakat yaitu Tari Gandai. Tari Gandai diyakini berasal dari mitologi Malin Deman di wilayah Kecamatan Malin Deman Kabupaten Mukomuko. Malin Deman sendiri diyakini sebagai nenek moyang suku bangsa Pekal yang menciptakan tari Gandai beserta alat musik pengiringnya yaitu gendang (odap dalam bahasa lokal) dan serunai (Sonai dalam bahasa lokal). Sonai adalah alat musik tradisional tiup aerophone, tergolong dalam end blown flute atau bamboo clarinet yang berfungsi sebagai pembawa melodi tutur tradisi yang dimainkan secara perorangan (solo). Alat musik ini diyakini berasal dari suku bangsa Pekal yang ada di Kecamatan Malin Deman Kabupaten Mukomuko dan berkembang hingga ke seluruh wilayah Kabupaten Mukomuko. perjalanan genealogi eksistensi alat musik Sonai pada masyarakat Mukomuko baik secara sosiokultur dan musikologi. Makna Sonai pada konteks pertunjukan sangalah utama sebagai leader, dan Sonai juga diyakini mempunyai kekuatan supranatural baik pemainnya. Dominasi Sonai tidak hanya pada pentunjukan musikalitasnya saja, namun telah menjadi identitas masyarakat Mukomuko sebagai kearifan lokal musik tradisi. Jenis penelitian adalah kajian budaya dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif yang bersifat holistik-integratif, thick description. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif dan menkondensasi data. Pada penelitian ini, verifikasi data dilakukan secara terus menerus sepanjang proses penelitian dilakukan. Sejak pertama memasuki lapangan dan selama proses pengumpulan data, peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan.
Ashta Bhumi, Panduan Pembuatan Lay Out Ruang Bangunan Hunian Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya
Anak Agung Gede Rai Remawa;
Cok Gde Rai Padmanaba
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 1 (2021): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v36i1.1321
Ashta Bhumi adalah pengetahuan yang membahas tentang konsep ruang yang bersumber dari lontar, khususnya yang berhubungan dengan perancangan lay out ruang pekarangan di dalam bangunan hunian rumah tinggal tradisional Bali Madya. Sistem pengukuran jaraknya menggunakan satuan depa dan tapak yang diambil dari ukuran tubuh, tangan dan telapak kaki kepala keluarga laki-laki. Dasar pengukuran pekarangan huniannya menggunakan satuan depa-hasta-musti atau kelipatannya yang terdiri dari; ukuran Gajah (15x14), Dwaja (14x13), Singa (13x12) dan Wreksa (12x11). Beragamnya jenis ukuran yang terdapat pada hunian Bali Madya, adalah masalah yang sangat kompleks, maka dari itu penelitian ini akan mengamati dan meneliti jenis ukuran Gajah (sukat Gajah), Dwaja (sukat Dwaja), Singa (sukat Singa) dan Wreksa (sukat Wreksa). Ukuran ini banyak diterapkan oleh masyarakat tradisional Bali, karena digunakan oleh kalangan masyarakat luas. Setelah pengukuran tahap pertama ini, kemudian dilanjutkan dengan pengukuran berikutnya yaitu Sukat Pah Pinara Sanga, Sukat Tampak, Sukat Tampak Ngandang, dan Sukat Tampak Guli, untuk menentukan keluasan dan pembagian areal pekarangannya serta jarak antara bangunannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dan bersifat kualitatif dengan pendekatan etnosains (etnografi), untuk mengetahui bagaimana masyarakat mengorganisir budayanya, sebagai sebuah konsep ruang masa lalu. Hasil dan manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dasar pembentukan lay out ruang pekarangan dalam bangunan hunian rumah tinggal tradisional Bali Madya.
Model Normatif Kemasan Seni Pertunjukan Melayu Objek Wisata Candi Muarajambi
Mahdi Bahar;
Hartati Muchtar
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 1 (2021): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v36i1.1322
Seni tradisional masyarakat Melayu Muarajambi adalah seni rakyat dan belum tentu mampu memenuhi kebutuhan apresiasi kontemporer para wisatawan. Untuk alasan ini, diperlukan model seni pertunjukan kreatif bercitra global di kompleks candi Muarajambi yang mampu memenuhi apresiasi para wisatawan. Sementara itu, kegiatan wisata berada di pusat kehidupan masyarakat Melayu Muarajambi yang kebudayaannya secara ideal berdasarkan pada ajaran Islam. Di sisi lain, ketahanan budaya dibutuhkan seiring dengan penguatan budaya. Solusi akomodatif untuk melakukan kemasan seni untuk itu adalah, model normatif didasarkan pada estetika dan kesenian Melayu Muarajambi, serta Melayu pada umumnya dan kreativitas seni berorientasi pada artistika global.
Makna Ruwatan Wayang Cupak Dalang I Wayan Suaji
Made Marajaya;
Dru Hendro
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 1 (2021): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v36i1.1329
Wayang Cupak termasuk pertunjukan langka di Bali, keberadaannya menambah genre pertunjukan Wayang Kulit Bali yang terus berkembang. Pertunjukan wayang kulit berfungsi sebagai wali, bebali, dan balih-balihan. Sebagai seni wali, pertunjukan wayang kulit hadir dalam berbagai jenis upacara termasuk upacara ruwatan. Upacara ruwatan yang paling populer di Bali disebut dengan Sapuh Leger. Selain Wayang Sapuh Leger, Wayang Cupak pun juga difungsikan untuk ruwatan seperti di Kabupaten Badung. Banyak ditemukan dalang wayang kulit di Kabupaten Badung, namun tidak banyak yang khusus mementaskan Wayang Cupak, hanya Dalang I Wayan Suaji yang merupakan keturunan dalang Wayang Cupak mampu meneruskan budaya ruwatan melalui pertunjukan Wayang Cupak. Orang-orang yang diruwat umunnya telah menginjak dewasa yang memiliki sifat loba, rakus, pemalas, dan tidak mengenal etika. Fenomena ruwatan (fenomena budaya) dikaji melalui pendekatan ilmu kajian budaya dengan metode kualitatif yang hasilnya merupakan deskripsi pencatatan hasil pengumpulan data, pengolahan data hingga analisis data tentang gejala atau fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Ruwatan Wayang Cupak yang terpelihara masyarakat hanya di wilayah Desa Adat Kerobokan dan sekitarnya dan sudah menjadi sebuah tradisi. Bentuk ruwatan Wayang Cupak dapat dilihat sarana dan prasarananya, seperti: canang uleman, banten ruwatan, pementasan wayang, proses ruwatan, mantra ruwatan, dan tirta ruwatan. Setelah dikaji bentuk ruwatannya, kemudian maknanya bagi masyarakat Hindu Bali. Beberapa makna ditemukan berupa: makna filosofis, makna religius, makna simbolik, makna pembersihan diri, dan makna budaya. Dapat dikatakan bahwa pertunjukan Wayang Cupak pada umumnya hanya dipentaskan untuk ruwatan dan belum disentuh oleh teknologi canggih, pertunjukannya masih sangat tradisi, dan hanya diganti gamelannya saja sebagai media untuk menciptakan iringan sesuai dengan adegan dalam lakon. Lakonnya bersumber dari cerita panji/malat atau folklore, sehingga secara filosofis wacana dikaitkan dengan konsep rwa belum ditemukan bhineda yang harus dilalui dalam kehidupan untuk menuju moksartam.
Sasolahan Legong Dedari di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pangideran Dewata Nawa Sanggha (Kajian Teo- Estetik)
I Nyoman Linggih;
I Ketut Muka
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 36 No 1 (2021): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v36i1.1330
Selama kurang lebih 60 tahun silam Sasolahan Legong Dedari tidak ditarikan, belakangan ini mulai Sasolahan Legong Dedari ditarikan kembali mengingat terjadinya fenomena aneh yaitu; terjadinya secara berturut-turut penduduk meninggal hingga delapan orang (grubug), uang sesari di balai banjar hilang misterius, warga banjar yang tidak harmonis dan terjadinya trend (kerauhan) yang mengisyaratkan beliau Ida Ratu Ayu Mas Maketel (Rangda) berkeinginan untuk tedun masolah kembali (napak pertiwi) diiringi Sasolahan Legong Dedari. Sasolahan Legong Dedari yang tergolong tari Sakral ini hanya ditarikan ketika Upacara piodalan di Balai Banjar Pondok, dan Upacara Piodalan di Pura Luhur Kanda Pat Sari Pangideran Dewata Nawa Sanggha. Penari Sasolahan Legong Dedari wajib hukumnya untuk mengikuti upacara penyucian sebelum menari.Ditarikan kembali Sasolahan Legong Dedari serta Ida Ratu Ayu Mas Maketel (Rangda) Napak Pertiwi tiada lain untuk menetralisir kembali, agar hal-hal aneh tidak terjadi lagi di wilayah Desa Banjar Pondok. Demikian juga masyarakat sangat meyakini dengan ditarikan Sasolahan Legong Dedari serta Ida Ratu Ayu Mas Maketel, merupakan simbol turunnya Ida Sanghyang Widhi Wasa (manifestasinya) diiringi para Widyadara- Widyadari, dapat menyucikan kembali wilayah serta isinya, sehingga masyarakat dapat hidup rukun, damai, tentram sejahtra serta bersenang hati untuk senantiasa meyakini Pura Luhur Kanda Pat Sari Pangideran Dewata Nawa Sanggha dilestarikan sebagai tempat suci pemujaan Beliau.