cover
Contact Name
Agus Eka Aprianta
Contact Email
penerbitan@isi-dps.ac.id
Phone
+62361-227316
Journal Mail Official
penerbitan@isi-dps.ac.id
Editorial Address
Mudra Jurnal Seni Budaya Institut Seni Indonesia Denpasar Jalan Nusa Indah Denpasar 80235
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
MUDRA Jurnal Seni Budaya
ISSN : 08543461     EISSN : 25410407     DOI : https://doi.org/10.31091/mudra.v37i4.2084
AIMS The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. In accordance with the meaning of the word “Mudra”, which is a spiritual gesture and energy indicator, it is hoped that the journal will be able to vibrate the breath of art knowledge to its audience, both academics, and professionals. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches. SCOPE MUDRA, as the Journal of art and culture, is dedicated as a scientific dialectic vehicle that accommodates quality original articles covering the development of knowledge about art, ideas, concepts, phenomena originating from the results of scientific research, creation, presentation of fine arts, performing arts and new media from researchers, artists, academics, and students covering areas of study: Performing Arts: dance, puppetry, ethnomusicology, music, theater,performing arts education, performing arts management Fine Arts: fine arts, sculpture, craft art, fine arts education,fine arts management, including new media arts Design: interior design, graphic communication design, fashion design,product design, accessories and/or jewelry design Recording Media : photography, film, television, documentary, video art, animation,game Culture : linguistic, architecture, verbal tradition, as well as other communal tradition The object of research is explored in a variety of topics that are unique, relevant, and contextual with environmental and sustainability aspects, local wisdom, humanity and safety factors. In addition to that, the topic of research needs to be original, creative, innovative, excellence, and competitive.
Articles 496 Documents
Jenny Lee : Keramikus Dan Pendidik Seni Keramik Di Surabaya Belinda Dewi Regina
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32 No 2 (2017): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i2.115

Abstract

Jenny Lee merupakan keramikus perempuan sekaligus pendidik seni keramik yang berasal dari Surabaya. Jenny Lee sering mengikuti pameran tunggal maupun bersama. Keunikan dari karya keramik Jenny Lee adalah terletak dari konsep dan gaya keramik yang dimiliki. Kepandaian Jenny Lee dalam berkeramik menjadikan dia sebagai dosen DKV mata kuliah art and craft dan interior di Universitas Ciputra. Fokus penelitian ini (1) latar belakang kehidupan Jenny Lee sebagai keramikus dan pendidik seni keramik di Sura- baya. (2) peran dan kontribusi Jenny Lee sebagai keramikus. (3) peran dan kontribusi Jenny Lee sebagai pendidik seni keramik. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan (1) latar belakang kehidupan Jenny Lee sebagai keramikus dan pendidik seni keramik di Surabaya. (2) peran dan kontribusi Jenny Lee sebagai keramikus. (3) peran dan kontribusi Jenny Lee sebagai pendidik seni keramik. Penelitian ini adalah peneli- tian kualitatif dengan pendekatan life history. Kajian teorinya menggunakan agen perubahan sosial. Lokasi penelitian ini di kediaman Jenny Lee tepatnya di daerah Kedurus gang IV/A, studio Keramik Jenny Lee tepatnya di jalan Laban Kulon gang 1 dan di Universitas Ciputra. Pengumpulan data ini melalui observasi, dokumentasi, wawancara. Temuan hasil penelitian ini berisi tentang kehidupan seorang Jenny Lee sebagai perempuan, keramikus dan pendidik seni keramik. Hal tersebut menjadikan ciri khas bagi Jenny Lee yang tidak dimiliki oleh seniman lain di Surabaya. Perempuan Tionghoa yang memiliki bakat berkeramik secara otodidak ini mampu membuat Jenny Lee dikenal sebagai salah satu seniman keramik di Indonesia yang menghasilkan karya-karya repro dengan mengkombinasikan budaya Indonesia dan Tionghoa. Teknik pembuatan keramik Jenny Lee menggunakan teknik pinch dan cetak sedangkan keeksistensian Jenny Lee sebagai seorang keramikus di Surabaya kurang begitu berkembang hingga akhirnya Jenny Lee memilih untuk menjadi seorang pendidik karena dengan mendidik akan mendapatkan income dan dapat mengenalkan serta menyalurkan bakat keramik yang dia miliki bagi masyarakat dan generasi muda yang membutuhkan referensi penelitian. Selain mendidik, Jenny Lee juga sebagai narasumber dalam workshop. Model pembela- jaran Jenny Lee menggunakan pendekatan studio dengan mengajak mahasiswa untuk melakukan proses berkarya keramik dalam studio.
Jember Fashion Carnaval (JFC) Dalam Industri Pariwisata Di Kabupaten Jember Chandra Ayu Proborini
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32 No 2 (2017): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i2.116

Abstract

Fenomena Jember Fashion Carnaval (JFC) yang terjadi di Kabupaten Jember menjadi salah satu latar belakang dilakukannya penelitian ini. Jember yang mempunyai latar belakang masyarakat pandalungan, diantara masyarakatnya terbentuk sebuah karnaval fashion yang saat ini dikenal hingga dunia. Fenomena ini menjadi hal yang menarik, karena Jember tidak mempunyai riwayat sejarah fashion dan dikenal dengan kota santri. JFC yang diprakarsai oleh Dynand Fariz telah menunjukkan eksistensinya selama 14 tahun dan telah berhasil merubah Jember menjadi kota karnaval tingkat dunia. Selain itu JFC menjadi barometer karnaval fashion di Indonesia karena menginspirasi daerah lain untuk membuat karnaval yang serupa. JFC memamer- kan busana hasil kreativitas dari peserta yang mengikutinya. Peserta diberikan pelatihan untuk membuat dan memperagakan busana. Adanya proses pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kreativitas peserta sehingga dapat membuat busana yang memiliki standart keindahan tersendiri. Proses tersebut secara tidak langsung membuat JFC mengalami proses komodifikasi, yaitu JFC bertransformasi menjadi event yang layak jual. Berdasarkan latar belakang yang telah diungkapkan, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tumbuh dan berkembangnya JFC diantara masyarakat Jember. Adapun secara spesifik mengkaji tentang latar belakang sosial budaya terbentuknya JFC sebagai industri pariwisata di Kabupaten Jember. Hasil pene- litian ini menunjukkan bahwa Jember memiliki ciri khas kultural serta modal yang mendukung tumbuh dan berkembangnya JFC di Jember, sehingga Jember dapat bersaing dengan daerah lain dalam ranah sektor pariwisata.Abstrak memuat uraian singkat mengenai masalah dan tujuan penelitian, metode yang diguna- kan, dan hasil penelitian. Tekanan penulisan abstrak terutama pada hasil penelitian.
Kerajinan Ukiran Kayu Di Palembang Aji Windu Viatra; Retika Wista Anggraini
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.131

Abstract

Seni ukiran Palembang telah dikenal luas, seni kerajinan ukir kayu yang lazim disebut Ukiran Palembang. Adapun sentra industri seni kerajinan ukiran kayu Palembang berada di Kampung 19 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, sebelah Barat Masjid Agung Palembang. Kampung 19 Ilir, memproduksi berbagai bentuk perabotan, alat-alat rumah tangga, dan hiasan rumah dengan ukiran kayu khas Palembang. Kegiatan mengukir di Palembang sebelumnya memiliki hubungan erat dengan rumah tradisional adat Palembang, yakni rumah Bari atau rumah Limas. Rumah tradisional yang saat ini masih digunakan oleh masyarakat Sumatera Selatan, khususnya di Palembang dengan segala perlengkapan rumah tangganya. Pertumbuhan ukiran kayu Palembang mengalami pasang surut dengan kondisi sosial dan ekonomi di wilayah tersebut. Seni kerajinan ukiran kayu ini hanya diproduksi oleh keluarga-keluarga tertentu  saja,  masih  banyak masyarakat Palembang dan para perajin beralih mengandalkan penghasilan ekonomi dengan mencari profesi lain. Perubahan yang terjadi pada proses pengolahan bahan kayu yang semakin sulit digunakan, kreasi motif ukiran, dan teknik pengukiran telah bercampur dengan daerah lain seperti Jepara, dan negara luar India, Eropa dan China. Akulturasi ragam hias ini telah menghasilkan suatu bentuk, gaya dan cita rasa baru menambah khasanah ukiran kayu Palembang. Kajian utama penelitian ini dititik beratkan pada kontinuitas, perubahan dan analisis ragam hias pada motif ukiran kayu. Kajian ini menggunakan pendekatan multidisplin, yakni pendekatan sosiologi, dan estetika. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan analisis deskriptif analitik. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan mengidentifikasi perkembangan seni kerajinan ukiran kayu Palembang terhadap kehidupan masyarakat, terutama bagi pelaku budaya tersebut, mengkaji terjadinya perubahan dan perkembangan bentuk, motif ragam hias seni kerajinan ukiran kayu Palembang dan menggali pengetahuan secara mendalam mengenai kebudayaan Palembang.Woodcarving arts from Palembang are widely known and commonly referred ro Ukiran Palembang. The center of woodcarving art industry of Palembang is in Kampung 19 Ilir, District of Bukit Kecil, West of Palembang Grand Mosque. Kampung 19 Ilir, produces various forms of furniture, and home decoration with wooden carving typical of the Palembang style. Woodcarving arts from Palembang previously fostered a very close ralationship with the traditional homes of Palembang, known as the Bari or Limas houses. Bari or Limas houses are Traditional houses that are still used by the people of South Sumatra, especially in Palembang equipped with household accessories made in Palembang. The growth of Palembang woodcarving has experienced fluctuation relative to regional economic conditions Art craft woodcarving is continued only by certain families, as the economic situation of the region causes many craftsmen to search for employment in other industries and professions. Changes in wood processing procedures have caused materials to become increasingly difficult to use. Also, carving motive creations, and engraving techniques have been hybridized with other regions such as Jepara, and countries outside India, Europe and China. The acculturation of this decorative variety has resulted in new forms, styles and flavors adding to the treasures of Palembang woodcarvings.
Wayang Jawa Timuran Lakon Gandamana Luweng (Kajian Struktur Dan Makna) Andini Shinta Kurniawati
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.137

Abstract

Wayang, sebagai salah satu bentuk kesenian klasik tradisional yang oleh pecintanya dikatakan mempunyai nilai adiluhung, banyak mempengaruhi tata nilai kehidupan Jawa khususnya dan masyarakat pada umumnya.Orang Jawa begitu percaya adanya perlambang, simbolisasi ataupun filsafat hidup yang berupa mitos pada satu lakon wayang.Salah satu lakon wayang yang cukup menarik perhatian adalah lakon wayang dengan judul “Gandamana Luweng”. Pokok permasalahan yang dikaji dalam penulisan ini adalah (1) Bagaimana struktur lakon Gandamana Luweng, (2) Bagaimana makna simbolik lakon Gandamana Luweng. Tujuan penulisan ini yaitu menganalisa dan mendeskripsikan struktur lakon dan makna simbolik lakon Gandamana Luweng. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomnologis empiris. Subjek utama dalam penelitian ini adalah Ki Pringgo Jati Rahmanu, sedangkan pengumpulan data diperoleh dengan pengamatan, wawancara, studi dokumen, dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pemerksaan keabsahan data menggunakan informan review dan triangulasi data (sumber dan teknik). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur lakon Gandamana Luweng terdiri atas sinopsis, penjabaran lakon, penokohan, alur, setting, dan tema cerita.Lakon Gandamana Luweng ini memiliki makna bahwa jika dalam suatu Negara para rakyatnya bermoral lemah tidak mempunyai kekuatan dan keberanian apalagi kesadaran apa arti hidup ini maka hancurlah Negara itu. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa Lakon Gandamana Luweng memiliki struktur lakon cukup menarik yang dikemas dalam durasi tampilan 60 menit, sedangkan dengan adanya makna simbolik yang terkandung diharapkan para pelaku hidup ini akan sadar tentang pentingnya saling mengerti, menyadari tentang hidup dan kehidupan di dunia.Shadow Puppettry, as one of the traditional classical art form that by the lover is said to hold in high value, hold much affect to the values of life of Java in particular and its society in general. The Javanese are very confident in the use of symbols. Symbols and philosophies of life that are manifest in one myth in one puppet play. One of the puppet plays that attract attention is the wayang play entitled "Gandamana Luweng". The main issues studied in this book are (1) How Gandamana Luweng play is structured, (2) The symbolic meaning of Gadamana Luweng play. The purpose of this paper is to analyze and describe the structure of the play and the symbolic implications of the play Gandamana Luweng. This research uses qualitative research design with empirical phenomenological approach. The main subject in this study is Ki Pringgo Jati Rahmanu, while data collection is obtained with observation, interview, document study, documentation. Data analysis is done through by data reduction, presentation data, and conclusion. The validity of data is checked using using informant review and triangulation of data (source and technique). The results of this study indicate the structure of the Gandamana Luweng play consists of synopsis, description of the play, characterization, plot, setting, and theme of the story. This Gandamana Luweng play has the meaning if country’s people possess weak moral, no strength and courage let alone awareness as to what this life means, then the country is destroyed. From these data can be concluded Gandamana Luweng shadow puppet play holdss a fascinating  structure that comprises a 60 minute view duration, where the symbolic meanings intentions are expected that these actors will be aware of understanding each other, conscious about life and life in the world.
Goyang Karawang: Exploration of Woman’s Body Between Rites and Fiesta Citra Aryandari; Gilang Muhamad Sidiq
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32 No 3 (2017): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i3.142

Abstract

This study will discuss about Goyang Karawang, which always brings eroticism of woman's body in every show. Eroticism presented through swaying hips is inseparable from the history that surrounds. The changing Karawang district (32 miles of Jakarta, Indonesia) from agriculture to industrial making the culture in this area transformed. In agriculture period, which is almost the entire population of Karawang as a farmer known as Bajidoran, is used as a fertility rite to celebrate the harvest. Swaying hips of the dancers in Bajidoran later evolved into the cultural identity of the region and then known as Goyang Karawang. In 90's Goyang Karawang was also known as a dangdut song title that described the condition of the culture. Karawang has been turned into industrial city. Bajidoran was adapted to era and is popularly known as Goyang Karawang who peddles female’s body as commodity with many text weaving. Goyang Karawang: Exploring of Woman’s Body between Rites and Fiesta is a simple article about the cultural phenomena that occurred in Karawang. Goyang Karawang existence as a cultural text cannot be separated from the study of music, history, social, gender, etc., so in the process of research and writing would be in Cultural Studies for weaving the texts which are presented. Ethnography is selected as the method of data collection, considering that this method can describe with deep cultural events.Penelitian ini akan membahas mengenai Goyang Karawang yang selalu menghadirkan erotisme tubuh perempuan dalam setiap pertunjukannya. Erotisme yang dihadirkan melalui goyangan badan tidak terlepas dari sejarah yang melingkupi. Perubahan kota dari agraris menuju industri membuat kesenian yang ada di wilayah Karawang berubah bentuk. Pada masa agraris, masa dimana hampir seluruh penduduk Karawang bermata pencarian sebagai petani dikenal kesenian Bajidoran yang digunakan sebagai ritus kesuburan dalam merayakan masa panen. Goyang penari dalam Bajidoran kemudian berkembang seiring waktu dan menjadi identitas wilayah yang kemudian dipopulerkan lewat lagu Dangdut Goyang Karawang. Kini Karawang telah berubah menjadi kota Industri, sehingga Bajidoran beradaptasi dengan jaman dan kini populer dengan Goyang Karawang yang menjajakan tubuh perempuan sebagai komoditas dengan bermacam teks yang tejalin. Goyang Karawang: Penjelajahan Tubuh Perempuan diantara Ritus dan Fiesta merupakan tulisan sederhanamengenai fenomena budaya yang terjadi di Kota Karawang. Keberadaan Goyang Karawang sebagai sebuah teks budaya tidak dapat dipisahkan dari kajian musik, sejarah, gender, sosial sehingga dalam proses penelitan dan penulisan akan digunakan Cultural Studies dalam menenun teks-teks yanghadir. Metode etnografi dipilih sebagai metode dalam proses pencarian data, mengingat metode ini dapat menggambarkan peristiwa budaya dengan mendalam.
Aspect of Art And Meaning of Staging The Traditional Dolanan Game In Sanggar Kebo Iwa Badung I nyoman Subagia
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32 No 3 (2017): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i3.147

Abstract

This article is a summary of the results of research to review aspects of the art, the meaning of staging traditional games studio Kebo Iwa dolanan in Badung. To reveal deeply these aspects, used a qualitative approach with the active participation of observation techniques, in-depth interviews and document study. Based on the methodology, the research explained that the first philosophical meaning, both philosophical meaning, the religious meaning of the third, the fourth meaning of aesthetics, the fifth meaning of education, sixth and seventh pelestraian meaning of togetherness. Dolanan performed by a group of children, where there is a beauty in conveying messages of religious teachings to the public through the medium of art. Because art as a symbol of truth (satyam), chastity (sivam) and beauty (sundaram).Artikel ini adalah ringkasan hasil penelitian yang mengulas aspek seni, makna pementasan permainan tradisional dolanan di Sanggar Kebo Iwa Badung. Untuk mengungkap secara mendalam aspek-aspek tersebut, digunakan pendekatan kualitatif dengan teknik observasi partisipasi aktif,wawancara mendalam dan studi dokumen. Berdasarkan metodelogi, hasil penelitian menjelaskan bahwa pertama makna filosofis, kedua makna religius, ketiga makna estetika, keempat makna pelestarian, kelima makna pendidikan, dan keenam kebersamaan. Dolanan yang dibawakan oleh sekelompok anak-anak, di mana terdapat suatu keindahan di dalam penyampaian pesan-pesan ajaran agama kepada masyarakat melalui media seni. Karena seni sebagai simbol kebenaran (satyam), kesucian (sivam) dan keindahan (sundaram).
Menjadi Lelaki Sejati: Maskulinitas Dalam Komik Daring Webtoon Indonesia Asep Wawan Jatnika; Ferry Fauzi Hermawan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.158

Abstract

Perkembangan teknologi telah mengubah cara penyebaran komik di Indonesia. Saat ini internet dan media sosial menjadi salah satu media utama penyebaran komik. Salah satu media yang menjadi pilihan tempat menyebarkan dan membaca komik adalah Webtoon. Tulisan ini bermaksud menganalisis wacana homoseksualitas dan maskulinitas yang terdapat dalam komik No Homo karya Apitnobaka yang diterbikan dalam Webtoon. Menggunakan pemahaman Foucault dan Bartkly tentang panoptikon dan gender hasil kajian menunjukkan bahwa pembicaraan masyarakat (gosip) merupakan alat utama dalam pengonstruksian gender di masyarakat. Gosip berperan sebagai pengawas perilaku seperti apa yang boleh dilakukan laki-laki dan sebaliknya. Gosip berperan sebagai panoptikon dalam mengawasi pelanggengan konstruksi maskulinitas di masyarakat. Selain itu, ditemukan juga salah satu penanda maskulinitas ideal di masyarakat yaitu, laki-laki harus menjadi seorang alfa dan tidak bergantung pada orang lain. Jika seorang laki-laki tidak mampu memenuhi hal tersebut dirinya akan digolongkan bukan laki-laki ideal. Dalam komik No Homo dipandang memiliki orientasi seksual lain yaitu homoseksual yang dianggap tabu dalam masyarakat. Selain itu, komik No Homo merefleksikan dan melanggengkan anggapan bahwa orientasi seksual yang bukan hetero seperti homoseksual bukanlah berasal dari Indonesia. Hal itu dipandang sebagai bagian dari budaya Barat.Technological developments have changed the way in which comics are circulated and distributed throughout Indonesia. Currently the internet and social media have become the primary media for the distribution of comics. One of the media that has been chosen for circulation, distribution and consumption of comics is Webtoon. This paper intends to analyze discourse in subjects such as homosexuality and masculinity as can be observed in Apitnobaka's No Homo comic as published on Webtoon. Using Foucault's and Bartkly's understanding of the panopticon and the gender; this study suggests that community talk (gossip) plays a major role in gender-building in society. Gossip serves as a supervisory behaviour that shapes gender norms in society i.e., what is considered as acceptable behaviour by a male or vice versa. Gossip serves as a panopticon in overseeing the construction of masculinity in consumer society. Moreover, it can be observed that one of the markers of ideal masculinity in the community is that a male must be an alpha and does not rely on the others can be found within this comic. If a male does not capably fulfil these terms, he will consequently be classified a as non-ideal man by consumer society. In No Homo comics, the male is portrayed as being of homosexual orientation and it is considered as taboo in society. In addition, No Homo comics reflect upon and perpetuate the assumption that sexual orientation other than heterosexual such as a homosexual is apart from Indonesian heteronormative culture. However, it is viewed as being a symptom of western culture.
Exploring Yeh Pulu Relief (An Iconography Approach) I Wayan Kun Adnyana; I Nengah Sudika Negara; Desi In Diana Sari; A.A Bagus Udayana
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32 No 3 (2017): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i3.176

Abstract

Yeh Pulu relief, located in Bedulu Village, Gianyar Regency, is one of the important Balinese visual art work. It serves as a proof of the ultimate artistic achievement in the ancient Balinese kingdom era. It possesses some distinctive characteristics, such as a particular style of figuration, a specific theme, and unique sculptural characters. There are very few articles focusing on this topic. Therefore, there is a need to explore Yeh Pulu relief by conducting an in-depth research. Based on Panofsky’s iconography perspective, this research aims to analyze stylistic figurations of the relief, the theme, the sculptural characters and the meaning of the depiction. Panofsky’s iconography consists of three levels of analysis, i.e. pre-iconography, iconography and iconology. Employing his theory, the first stage of this analysis focuses on the physical characters on the relief; the second stage focuses on the concept of narration; and the third one deals with discourse around the subject of this study. The image of Yeh Pulu relief very clearly reveals the theme of heroism found in the everyday life by ordinary people. The result of this research is defined of the theme is reinforced by the figuration of the relief’s subjects that tends to be realistic (using the body proportion of a normal adult human) and is complemented by carvings of plant tendrils that are nearly naturalistic in style. The research participants are I Nengah Sudika Negara (data collector), Luh Desi in Diana Sari (layout designer), and Anak Agung Udayana (photographer).Relief Yeh Pulu, lokasi di Desa Bedulu, Kabupaten Gianyar merupakan salah satu karya seni rupa terpenting. Relief ini merupakan pencapaian artistik puncak di era kerajaan Bali Kuna. Selain itu juga memiliki karakter yang khas, seperti gaya figurasi yang khusus, memiliki tema spesifik, dan keunikan pahatan. Sangat sedikit tulisan yang fokus membahas tentang topik ini. Sehingga menjadi penting untuk mengeksplorasi Relief Yeh Pulu melalui riset yang mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa gaya figurasi, tema, karakter pahatan dan makna dari relief. Melalui pendekatan ikonografi Panofsky, analisis dilakukan melalui tiga tahapan, yakni praikonografi, ikonografi dan ikonologi. Analisis level pertama terfokus pada analisis karakter fisik dari relief; kedua, fokus pada konsep narasi; ketiga, terkait tentang diskursus yang melingkupi subjek kajian. Berdasar analisis tersebut, dapat ditegaskan bahwa relief Yeh Pulu mengungkap tema kepahlawanan dunia sehari-hari orang-orang biasa. Selain itu, dapat disimpulkan pula bahwa secara figurasi relief ini cenderung bersifat realistik (terlihat dari proporsi yang berukuran sama dengan ukuran tubuh manusia dewasa normal), begitu juga dengan pemahatan tentang tetumbuhan yang cenderung bergaya naturalistik. Anggota peneliti di antaranya: I Nengah Sudika Negara (pengumpul data), Luh Desi in Diana Sari (layout desain), dan Anak Agung Udayana (fotografer).
Understanding Visual Novel As Artwork of Visual Communication Design Dendi Pratama; Winny Gunarti; Taufiq Akbar
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32 No 3 (2017): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i3.177

Abstract

Visual Novel is a kind of audiovisual game that offers visual strength through the narrative and visual characters. The developer community of Visual Novel (VN) Project Indonesia indicated a limited local game developer that produces Visual Novel of Indonesia. In addition, Indonesian Visual Novel production was also more influenced by the style of anime or manga from Japan. Actually, Visual Novel is part of the potential of  creative industries products. The study is to formulate the problem, how to understand Visual Novel as artwork of visual communication design, especially among students? This research is a case study conducted on visual communication design student at the University Indraprasta PGRI Jakarta. The results showed low levels of knowledge, understanding, and experience of  the Visual Novel game, which is below 50%. Qualitative and quantitative methods combined with structural semiotic approach is used to describe the elements of the design and the signs structure at the Visual Novel. This research can be a scientific reference for further introduce and encourage an understanding of Visual Novel as artwork of Visual Communication Design. In addition, the results may add to the knowledge of  society, and encourage the development of Visual Novel artwork that  reflect the culture of Indonesia.Visual Novel adalah sejenis permainan audiovisual yang menawarkan kekuatan visual melalui narasi dan karakter visual. Data dari komunitas pengembang Visual Novel (VN) Project Indonesia menunjukkan masih terbatasnya pengembang game lokal yang memproduksi Visual Novel Indonesia. Selain itu, produksi Visual Novel Indonesia juga lebih banyak dipengaruhi oleh gaya anime dan manga dari Jepang. Padahal Visual Novel adalah bagian dari produk industri kreatif yang potensial. Studi ini merumuskan masalah, bagaimana memahami Visual Novel sebagai karya seni desain komunikasi visual, khususnya di kalangan mahasiswa? Penelitian ini merupakan studi kasus yang dilakukan terhadap mahasiswa desain komunikasi visual di lingkungan Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan masih rendahnya tingkat pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman terhadap permainan Visual Novel, yaitu di bawah 50%. Metode kombinasi kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan semiotika struktural digunakan untuk menjabarkan elemen desain dan susunan tanda yang terdapat pada Visual Novel. Penelitian ini dapat menjadi referensi ilmiah untuk lebih mengenalkan dan mendorong pemahaman tentang Visual Novel sebagai karya seni Desain Komunikasi Visual. Selain itu, hasil penelitian dapat menambah pengetahuan masyarakat, dan mendorong pengembangan karya seni Visual Novel yang mencerminkan budaya Indonesia.
Balinese Arts And Culture As Tourism Commodity In Bali Tourism Promotion Videos Desak Putu Eka Pratiwi; Putu Nur Ayomi; Komang Dian Puspita Candra
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32 No 3 (2017): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i3.178

Abstract

Tourism industry in Bali has increased significantly since 1970’s.  It is supported not only by its stunning nature of Bali but also its fascinating arts and culture. Bali has incredible arts, vibrant culture and unique traditions which have been very famous all over the world.  Many people especially foreigners want to see Balinese’s artistic artworks and experience their culture.   It motives them to travel to the island which also well known as the island of paradise.  Culture has a compelling role in tourism functioning as an internationally promoted commodity, a role that has often been the subject of disputes among academics. Some people consider that the changing of culture become tourist attractions will cause the loss of culture’s authenticity through modification.  Many scholars say that cultures that are performed as tourist attraction will lose its originality to adjust the tourist demand. This study aims at analyzing how Balinese arts and culture are packaged as tourism commodity in Bali tourism promotion videos which internationally published by Bali tourism board. The data were collected through observation method and note taking technique. The data were analyzed by using levels of product theory by Kotler and Armstrong (2008). The findings and discussions were presented through formal and informal methods. Our findings show that Bali tourism promotion videos consist of four dimensions: (1) essence of product, (2) real product, (3) processed real product and (4) additional product, as described in the discussion.Industri pariwisata di Bali terus meningkat sejak tahun 1970. Hal ini didukung tidak hanya oleh keindahan alam pulau Bali tetapi juga seni dan budaya Bali yang begitu memukau. Bali memiliki kekayaan seni yang menakjubkan, budaya yang dinamis dan berbagai tradisi unik yang begitu terkenal di seluruh dunia. Banyak orang, khusunya orang asing, yang ingin melihat karya seni Bali yang artistik dan mengalami sendiri budaya masyarakat Bali. Hal tersebut mendorong mereka untuk berwisata ke pulau Bali yang juga dikenal sebagai pulau surga. Budaya memiliki memiliki peran yang kuat dalam dunia pariwisata yang berfungsi sebagai alat promosi secara internasional, sebuah peran yang sering menjadi bahan perdebatan para ahli. Beberapa ahli berpikir bahwa dengan berubahnya fungsi budaya sebagai atraksi wisata dapat mengakibatkan hilangnya keaslian atau originalitasnya karena mengalami modifikasi untuk menyesuaikan dengan kebutuhan wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana seni dan budaya Bali dikemas sebagai komoditas pariwisata dalam video promosi pariwisata Bali yang telah dipublikasikan secara internasional oleh Dinas Pariwisata Bali. Data dikumpulkan dengan metode observasi dan kemudian dianalisis menggunakan teori dari Kotler and Armstrong (2008). Temuan dan pembahasan dipaparkan dengan metode formal dan informal. Seara umum temuan kami menunjukkan bahwa video pariwisata Bali terdiri dari empat dimensi, yaitu: (1) essence of product, (2) real product, (3) processed real product and (4) additional product, yang dijelaskan dalam sub bab pembahasan.

Page 6 of 50 | Total Record : 496