cover
Contact Name
Agus Eka Aprianta
Contact Email
penerbitan@isi-dps.ac.id
Phone
+62361-227316
Journal Mail Official
penerbitan@isi-dps.ac.id
Editorial Address
Mudra Jurnal Seni Budaya Institut Seni Indonesia Denpasar Jalan Nusa Indah Denpasar 80235
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
MUDRA Jurnal Seni Budaya
ISSN : 08543461     EISSN : 25410407     DOI : https://doi.org/10.31091/mudra.v37i4.2084
AIMS The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. In accordance with the meaning of the word “Mudra”, which is a spiritual gesture and energy indicator, it is hoped that the journal will be able to vibrate the breath of art knowledge to its audience, both academics, and professionals. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches. SCOPE MUDRA, as the Journal of art and culture, is dedicated as a scientific dialectic vehicle that accommodates quality original articles covering the development of knowledge about art, ideas, concepts, phenomena originating from the results of scientific research, creation, presentation of fine arts, performing arts and new media from researchers, artists, academics, and students covering areas of study: Performing Arts: dance, puppetry, ethnomusicology, music, theater,performing arts education, performing arts management Fine Arts: fine arts, sculpture, craft art, fine arts education,fine arts management, including new media arts Design: interior design, graphic communication design, fashion design,product design, accessories and/or jewelry design Recording Media : photography, film, television, documentary, video art, animation,game Culture : linguistic, architecture, verbal tradition, as well as other communal tradition The object of research is explored in a variety of topics that are unique, relevant, and contextual with environmental and sustainability aspects, local wisdom, humanity and safety factors. In addition to that, the topic of research needs to be original, creative, innovative, excellence, and competitive.
Articles 496 Documents
Reconstruction of Furniture Production as Potential and Reputable Intellectual Property Rights (IPR) Creative Design Model husen hendriyana
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32 No 3 (2017): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i3.179

Abstract

Along with recent rapid development of science, technology, art and culture, through research institutions from the central to the local level, the government seriously activates enhancement and protection of the intellectual products of the nation. Such as protection of intellectual property rights against irresponsible plagiarism. This is due to that the appearance, process, or invention steps of the creative furniture designer in the society or in the academic environment have the potential and the opportunity to be registered as Intellectual Properties (IP) or gain Intellectual Property Rights (IPR). Besides aiming to lift up the state or institutions achievement and attainment of intellectual property rights internationally, the added value also can be developed in the direction of economic upgrade. Research on furniture products designs have been numerously carried out with various objects and cases, yet the diversity of the subject character and creative processes still have not well defined so they enrich the model of creative process design. This study aims to identify, classify and formulate a potential furniture design model of creative process and IPR standard, through methods PAR. The results of this study are (1) prototype of furniture design products, (2) the creative process model and the construction methods process of furniture design with a concept or a specific theme; (3) Registration of IPR; (4) Scientific manuscript.Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya yang marak dewasa ini, melalui lembaga penelitian dari tingkat pusat sampai ketingkat daerah, pemerintah semakin serius menggalangkan peningkatan dan perlindungan terhadap produk intelektual anak bangsa. Salah satu contoh di antaranya adalah perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual dari perilaku plagiarism yang tidak bertanggung jawab. Hal ini tiada lain bahwa, bentuk, proses, maupun invention steps dari para pelaku kreatif desain mebel yang ada di masyarakat maupun di lingkungan akademik memiliki potensi dan peluang untuk didaftarkan sebagai Intellectual Properties (IP) atau Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Selain bertujuan mendongkrak prestasi lembaga maupun Negara dalam perolehan HKI di kancah Internasional, juga pada nilai tambah dapat dikembangkan ke arah peningkatan ekonomi. Penelitian desain produk mebel telah banyak dilakukan orang dengan berbagai objek dan kasusnya, tetapi keragaman karakter dan proses kreatif yang ada belum banyak didefinisikan dengan baik untuk memperkaya model proses kreatif desain. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengklasifikasi dan merumuskan model proses kreatif desain mebel yang berpotensi dan bereputasi HKI dengan metode PAR. Hasil penelitian ini berupa (1) prototype produk desain mebel, (2) model proses kreatif dan metode proses perancangan desain mebel dengan konsep atau tema tertentu; (3) Pendaftaran HKI; (4) Naskah Ilmiah.
Commodification of Tektekan Calonarang At Baturiti Village, Kerambitan, Tabanan I Ketut Sariada
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32 No 3 (2017): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i3.180

Abstract

Tektekan Calonarang is a Calonarang dance drama performed as a new tourism model which in its presentation is accompanied by Tektekan gamelan; a small traditional bamboo music from Baturiti village, Kerambitan, Tabanan. Balinese communities usually disagree to showcase a sacred culture for tourism, but in Baturiti village this is different. They actually support the commodification of TektekanCalonarang using sacred barong and rangda for tourism. This raises questions because it is contrast with the attitude of Balinese communities in general. This research is conducted in Baturiti village, Kerambitan, Tabanan using qualitative method. There are three main problems in this study, such as: (1) why do the community of Baturiti village, Kerambitan, Tabanancommodify Tektekan Calonarang which uses sacred barong and rangda for tourism?, (2) what is the form of the commodified Tektekan Calonarang;  (3) what are the implications for those conducting it, the community and the performance itself. The purpose of this research is to understand the commodification of Tektekan Calonarang in Baturiti village, Kerambitan, Tabanan which uses sacred barong and rangda for tourism. To explain the problems, Deconstruction theory, Social Practice theory, Aesthetic theory, and Knowledge Relation theory are used. The results of this research are (1) the community of Baturiti village, Kerambitan, Tabanan commodify Tektekan Calonarang using sacred barong and rangda is motivated by market ideology, development ideology, religious ideology, and conservation ideology; (2) the community of Baturiti village, Kerambitan, Tabanan commodify Tektekan Calonarang using sacred barong and rangda in the form of procession and Tektekan Calonarang performance; (3) the commodification of Tektekan Calonarang using sacred barong and rangda has the implications for the increase of income of the conductors, community (multi flyer effect), the continuance of the barong and rangda’s mystical strength, the increase of interest from the market/ tourism, and as a reinforcing social solidarity of the community. The findings of this research are that desecration did not happen even though sacred barong and rangda is commodified for tourism because in every performance the conductor/ community conduct a special purification ceremony for the barong and rangda according to their individual context.Tektekan Calonarang merupakan sebuah drama tari Calonarang untuk pariwisata model baru. Penyajiannya diiringi oleh gamelan tektekan, sebuah musik tradisional bambu berukuran kecil, khas Desa Baturiti, Kerambitan, Tabanan. Pada umumnya masyarakat Bali tidak setuju menampilkan unsur budaya yang bersifat sakral untuk pariwisata. Namun, berbeda halnya dengan masyarakat Desa Baturiti, Kerambitan, Tabanan. Mereka justru mendukung komodifikasi Tektekan Calonarang dengan menggunakan barong dan rangda sakral untuk pariwisata. Hal itu menimbulkan berbagai pertanyaan, karena bertentangan dengan sikap masyarakat Bali pada umumnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami komodifikasi Tektekan Calonarang Desa Baturiti, Kerambitan, Tabanan yang menggunakan barong dan rangda sakral untuk pariwisata. Penelitian yang berlokasi di Desa Baturiti, Kerambitan, Tabanan ini dilakukan dengan metode kualitatif. Permasalahan yang dikaji meliputi (1) mengapakah masyarakat di Desa Baturiti, Kerambitan, Tabanan mengomodifikasikan Tektekan Calonarang dengan menggunakan barong dan rangda sakral untuk pariwisata; (2) bagaimanakah bentuk komodifikasi Tektekan Calonarang tersebut; (3) apakah implikasinya bagi pelaku, masyarakat, dan pertunjukan itu sendiri. Untuk menjelaskan permasalahan tersebut digunakan teori dekonstruksi, teori praktik sosial, teori estetika, dan teori kuasa pengetahuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) masyarakat Desa Baturiti, Kerambitan, Tabanan mengomodifikasikan Tektekan Calonarang dengan barong dan rangda sakral untuk pariwisata dilatari oleh ideologi pasar, ideologi pembangunan, ideologi religi, dan ideologi konservasi; (2) masyarakat Desa Baturiti, Kerambitan, Tabanan mengomodifikasikan Tektekan Calonarang dengan barong dan rangda sakral dalam bentuk prosesi dan pertunjukan Tektekan Calonarang; (3) komodifikasi Tektekan Calonarang dengan barong dan rangda sakral itu berimplikasi pada peningkatan pendapatan pelaku, masyarakat (multiplier effects), kelangsungan kekuatan magis barong dan rangda tersebut, peningkatan animo pasar/pariwisata, serta sebagai penguat solidaritas sosial masyarakat setempat. Temuan baru penelitian ini adalah tidak terjadi desakralisasi walaupun barong dan rangda sakral itu dikomodifikasikan untuk pariwisata. Hal itu disebabkan oleh pelaku/masyarakat setempat melakukan upacara penyucian khusus terhadap barong dan rangda tersebut sesuai dengan konteksnya masing-masing pada setiap penyajiannya.
Cosmology Design Products Wears To Pura In Bali I Nyoman Dana
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32 No 3 (2017): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i3.181

Abstract

Bali is one of the areas in Indonesia that still upholds the customs and arts of traditional culture and is admired by the world community. Customary products to the temple are part of the struggle to keep local wisdom. Design cosmology is a transcendental dimension that has a very complex exploration. Life is deep, also full of uncertainty. Ideas, creativity, passion, and ideals, creativity, concepts that overlap, whether intangible or not. The style in the design is a reflection of the behavior and attitude of human life at a certain time, and in line with the dynamics of life, such as social dynamics, cultural development and value. Design can be a reflection of the times in each period. Designer style can be a product trend if he is able to meet the needs and tastes of society. If the design word would be made to satisfy the needs of the community or the person who would carry out a customary and cultural activity for example, then the draft concept should begin from who and when it will be used, it should be considered as a considerate consideration by a designer, so that what they are designed to be acceptable to users of the design.Bali adalah salah satu daerah di Indonesia yang masih menjunjung budaya adat dan budaya kesenian yang masih dikagumi oleh masyarakat dunia. Produk adat tradisional ke pura merupakan bagian dari perjuangan untuk menjaga kearifan lokal. Desain kosmologi adalah dimensi transendental yang memiliki eksplorasi yang sangat kompleks. Gaya dalam desain merupakan cerminan dari perilaku dan sikap budaya manusia pada waktu tertentu, sejalan dengan dinamika kehidupan, seperti dinamika sosial, perkembangan budaya dan nilai. Desain bisa menjadi cerminan zaman di setiap periode. Gaya perancang bisa menjadi tren jika ia mampu memenuhi kebutuhan dan selera konsumen. Anadai mengatakan, desain akan dibuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atau orang yang akan melakukan kegiatan adat dan budaya, maka draf konsep harus dimulai dari siapa dan kapan akan digunakan disain, hal ini perlu dilakukan. Disajikan sebagai pertimbangan yang cukup matang oleh seorang desainer, Sehingga apa yang disain mereka dapat diterima oleh pengguna desain.
Overexploitation Of Sand Mining Leading To Imaginary Landscape: Research-Based Creation I Wayan Setem
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32 No 3 (2017): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i3.182

Abstract

An art has something to do with form and content (shape and the meaning attached to it). When an artist intends to add philosophical value to his creation, he enters two aesthetic exploration spaces; they are the aesthetic concept and the artistic exploration. “The structure of the form shows “the face” of an art work which cannot be separated from how material should be processed, and the “aesthetic structure” treats every “aesthetic thing” as an entity which is caught as a combination of the quality of perception and the common sense processing which are drawn into the metaphysical, ethic, axiological, and epistemological (philosophical) dimensions. Similarly, the ideas which are related to the fine arts of which the subject matter is the overexploitation of the sand mining should be processed in the phases of concepts with aesthetic dimension before they are retransformed in the visual stage; therefore, the creative process and the idioms chosen become highly subjective. It is easy to explain every phase in the creation process, and the visual idioms chosen can be generalized, clarified, verified, and concluded in the level of objectivity. The theoretical conception of the visual value becomes multi interpretations and rich in meaning (positive), as the value of its articulation contains symbols and metaphors.Seni adalah bentuk dan isi (wujud dan makna yang melekat). Ketika pengkarya ingin memberikan bobot filsafati pada karyanya, maka pengkarya memasuki dua ruang penjelajahan estetika, yaitu konsep estetik dan eksplorasi artistik. ”Struktur bentuk” menunjukkan ”wajah” suatu karya seni dengan pengolahan material, sedangkan ”struktur estetik” meletakkan segala hal yang ”estetik” sebagai suatu entitas yang ditangkap dalam keterpaduan antara kwalitas persepsi dengan pengolahan akal budi yang ditarik kedalam dimensi-dimensi metafisik, etik, aksiologik, dan epistemologik (filsafati). Seperti ide-ide dalam seni rupa yang yang bertitik tolak (subject matter) overeksploitasi penambangan pasir, harus diolah dalam tataran konsep-konsep yang berdimensi estetik, kemudian ditransformasikan lagi dalam tataran visual, maka proses kreatif dan pilihan-pilihan idiom-idiom visualnya menjadi sangat subjektif. Tidaklah mudah dijelaskan setiap tahapan dalam proses kreasi dan pilihan idiom-idiom visual tersebut dapat digeneralisir, diklasifikasi, diverifikasi, dan disimpulkan dalam tataran obyektivitas. Pemahaman teoritik kegambaran visikal (nilai visual) menjadi multi interpretasi dan kaya makna (positif), karena nilai kebentukkannya mengandung simbol-simbol dan metafora-metafora.
Politics of Identity in the Indonesian Wayang Comics Seno Gumira Ajidarma
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32 No 3 (2017): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i3.183

Abstract

As identity become more and more important in the life of a nation-state in the age of globalization, the ideological struggle to be original, like there is an original signifier of “Indonesia”, happen as long as the history of wayang comics itself, from 1955 until today. Theoretically come from a Sanskrit source literary epic of Ramayana and Mahabharata, the first evidence of intermediation are the reliefs of Ramayana at Prambanan Temple in the 9th century, as the year 856 AD marked the official use of the temple; and only in the year of 960 an anonymous writer finished the translation of Wirataparwa, part of Mahabharata from Sastra Parwa. Long before come to the comic form, these two epics were the sites of political interest on all of the intermediations, from the Old Javanese translations of the Indian’s Sanskrit, to the shadow play and dance-drama interpretations from the literary sources. The wayang comic itself born as a way out from political repression outside, when in the 1955 comics were hunted to be seized and burn. However, as the wayang comic genre going to be an ideological choice, which the best form, style, and genre to choose is still an ongoing contestation of identity politics to represent Indonesia. Wayang comic is the site of struggle of groups in society with the interest of identity politics with an idea of Indonesia, where the discourse of the sub-ordinated groups appear as a resistance to the discourse of dominant groups.Dengan semakin pentingnya identitas bagi kehidupan negara-bangsa, perjuangan ideologis untuk menjadi asli juga berlangsung sepanjang sejarah komik wayang, dari 1955 sampai hari ini. Terandaikan datang dari sumber susastra epik berbahasa Sanskerta, bukti pertama alihwahananya adalah relief Ramayana di Candi Prambanan pada abad ke-9; dan baru pada 960 terjemahan Wirataparwa, bagian Mahabharata, diselesaikan penulis anonim. Jauh sebelum berbentuk komik, kedua epik ini merupakan situs kepentingan politis segala alihwahana, dari terjemahan Jawa Kuna atas bahasa Sanskerta dari India, sampai kepada penafsiran bagi pementasan wayang kulit dan wayang orang dari sumber-sumber susastra. Komik wayang sendiri lahir sebagai jalan keluar dari tekanan politis, ketika pada 1955 komik dirazia dan dibakar. Betapapun, meski genre komik wayang lantas menjadi pilihan ideologis, bentuk, gaya, dan genre wayang yang mau dipilih masih berada dalam kontestasi politik identitas bagi representasi Indonesia. Komik wayang adalah situs perjuangan dari berbagai kelompok dengan kepentingan politik identitas bagi gagasan Indonesia.
Kecimol Music As Cultural Identification Of Sasak Ethnic I Gede Yudarta; I Nyoman Pasek
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32 No 3 (2017): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i3.184

Abstract

Music is one of the arts in West Nusa Tenggara region, precisely in Lombok Island. In that region there are two types of Kecimol, modern and traditional. The existence of these two types of cimol is very contradictory. The existence of these two types of kecimol is in compatible. The existence of modern kecimol is much more popular than the traditional one in the community life. The occurrence of the above phenomena arose the desire to raise the traditional kecimol music as an object of study with the aim to elevate the existence of the music as a cultural attraction that contains Sasak cultural values. This study is the initial step to understand the existence of kecimol music because of several topics to be discussed such as: background and history of the existence of ketimol music, its shape, structure and function in community life.
Variasi Leksikal Bahasa Bali Dialek Kuta Selatan Putu Devi Maharani; Komang Dian Puspita Candra
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.196

Abstract

Bahasa daerah merupakan kekayaan budaya yang perlu dilestarikan. Bahasa Bali menjadi salah satu bahasa daerah di Indonesia yang sangat kaya dengan kosakata. Untuk menyebutkan satu entitas seringkali kita temui berbagai variasi penyebutannya di masyarakat yang tinggal pada wilayah yang berbeda di Bali padahal mereka menggunakan bahasa yang sama yaitu bahasa Bali. Variasi penyebutan suatu entitas ini terkadang menjadi sesuatu yang terdengar aneh atau kurang dimengerti oleh penutur bahasa Bali yang berasal dari daerah yang berbeda namun menjadi ciri dan identitas daerah mereka yang dapat menghasilkan atmosfer kekeluargaan dan keakraban saat dipergunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan variasi leksikal bahasa Bali di daerah Kuta bagian Selatan khususnya daerah Ungasan, Jimbaran dan Kedonganan yang saat ini menjadi salah satu tempat tujuan wisata di Bali serta untuk memetakan bagaimana perkembangan variasi pilihan kata masyarakat lokal daerah tersebut setelah banyaknya interaksi dengan wisatawan asing dan lokal yang datang ke daerah Kuta bagian Selatan ini, sehingga rumusan masalah dalam penelitian ini adalah a) Bagaimana penggunaan variasi leksikal bahasa Bali di daerah Jimbaran, Ungasan dan Kedonganan dan b) Pada kelas kata apa  saja variasi leksikal yang terjadi. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dengan teknik sadap, teknik libat cakap, teknik bebas libat cakap, teknik rekam dan teknik catat serta metode cakap dengan teknik pancing yang menjadi acuan dalam menemukan tujuan penelitian. Dari hasil analisis tiga dialek bahasa Bali daerah Kuta bagian Selatan ini, ditemukan beberapa variasi leksikal dalam kelas kata pronominal, nomina, kata sifat, kata kerja dan kata keterangan. Kemunculan variasi leksikal untuk kelas kata nomina muncul paling dominan. Pada dialek Jimbaran dan Kedonganan banyak ditemukan penggunaan leksikal yang sama. Pada dialek Ungasan ditemukan lebih banyak perbedaan leksikal yang digunakan untuk merujuk suatu yang sama.Language describes the culture of local society because in the culture activity, the community has not off from the language as a tool of interaction. Balinese language is a traditional language spoken by the local people of Bali. Differences or variations in the use of Balinese language can be observed in each district at the level of sound, morphological, syntactic and lexical. The variation in Balinese language raises particular dialect in each region. This aims of this study is to find out the lexical variations in the three different area those are Jimbaran, Kedonganan and Unggasan. The method of collecting the data in this research are close observation method with refers to the technique of tapping, face-to-face interview technique, eave-dropping technique, recording and note-taking technique. Generally found there are some lexical variations found in these three areas used to mention the same things. The lexical variation found are in class of pronoun, noun, verb, adjective, and adverbial. The dominant variation is noun. In Jimbaran and Kedonganan has a similarity in lexical choice. Unggasan has many differences than the other areas because the location of this village is in highlands position.
The Creation Of Furniture Products Design From Stem Waste Of Sugar Palm Tree (Arenga Pinnata) I Wayan Seriyoga Parta; I Wayan Sudana; - Hasdiana
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32 No 3 (2017): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i3.205

Abstract

Sugar Palm tree (Arenga Pinnata) is one of potential natural resources that can be used as a based material of furniture products. But, this sugar palm tree potential hasn’t exploited maximally and only throws away as a waste that contaminates the environment. On the other side, woods that have been used as based material of furniture products are getting rare and expensive. Based on that problem, this research is aimed to design new furniture products models that exploite the stem waste as a prominent based material.  This research uses experiment method with steps: 1) finding and formulating concepts of furniture products design creation based on analysis towards the stem waste of sugar palm tree characteristics; 2) implementing of finding concepts to become furniture products models from stem waste of sugar palm tree. As a result of the research, it is found “tube” concept and tatah carved concept as a right concept to be applied in creation of furniture products from stem waste of sugar palm tree. Implementing of “tube” concept and tatah carved concept is made successfully in shape of some furniture products design such as:  table model, chair model and wardrobe model. Realization of these designs has concerned with the use of sugar palm tree as a prominent based material. According to the result of evaluation, all of these designs are deserved to be made. So, it is concluded that to anticipate the qualified wood as a based material of furniture products, we can use stem waste of sugar palm tree as alternative based material.Pohon aren (Arenga Pinnata) merupakan salah satu sumber daya alam yang potensial digunakan sebagai bahan baku produk mebel. Akan tetapi, potensi batang pohon aren itu belum dimanfaatkan secara maksimal dan hanya terbuang menjadi limbah yang mengotori lingkungan. Di sisi lain, kayu yang selama ini dimanfaatkan sebagai bahan baku produk mebel keberadaannya makin langka dan mahal. Bertolak dari permasalahan itu, penelitian ini bertujuan untuk merancang model-model produk mebel baru dengan memanfaatkan limbah batang pohon sebagai bahan baku utama. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan langkah-langkah: 1) menemukan dan merumuskan konsep-konsep penciptaan desain produk mebel berdasarkan analisis terhadap karakteristik limbah batang pohon aren; 2) mengimplementasikan konsep-konsep yang ditemukan ke dalam bentuk model-model desain produk mebel dari limbah batang pohon aren. Dari hasil penelitian ditemukan konsep “tabung” dan konsep ukir tatah sebagai konsep yang tepat untuk diterapkan dalam penciptaan produk-produk mebel dari limbah batang pohon aren. Implementasi dari konsep “tabung” dan konsep ukir tatah berhasil dibuat beberapa model desain produk mebel yaitu model meja, model kursi, dan model lemari. Perwujudan desain-desain tersebut telah mempertimbangkan penggunaan limbah batang pohon aren sebagai bahan baku utama. Berdasarkan hasil evaluasi, semua desain tersebut dinyatakan layak untuk diproduksi. Oleh karena itu disimpulkan, bahwa untuk mengantisipasi makin langkanya jenis kayu yang berkualitas sebagai bahan baku produk mebel, dapat digunakan limbah batang-batang pohon aren sebagai bahan baku alternatif.
Pengaruh Globalisasi Dan Hegemoni Pada Transformasi Musik Dol Di Kota Bengkulu Bambang Parmadie; A.A Ngurah Anom Kumbara; A.A Bagus Wirawan; I Gede Arya Sugiartha
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.240

Abstract

Transformasi memiliki arti perubahan bentuk dan secara lengkap merupakan perubahan fisik maupun nonfisik (bentuk, rupa, sifat, fungsi, dan lain-lain). Transformasi dimaksudkan baik perubahan yang masih menunjukkan benda asalnya maupun perubahan yang sudah tidak memperlihatkan kesamaan dengan benda asalnya. Arus globalisasi dan hegemoni yang terjadi pada perubahan musik Dol sebagai musikalitas ritual Tabot digunakan secara sengaja untuk hiburan, kreativitas seniman, pencitraan, pendidikan, dan pariwisata. Fenomena yang terjadi dalam waktu yang panjang dan bertahap-tahap, bersifat linier dan hierarkis, dari sakral ke sekuler atau profan (komodifikasi), dari idealisme tradisi ke idealisme industri dan pencitraan (ekonomi), dan dari tujuan ke pesanan (kreativitas). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Teori yang digunakan untuk menganalisis permasalahan yaitu teori hegemoni, teori budaya populer dan teori praktik sosial. Hasil penelitian pengaruh globalisasi dan hegemoni pada perubahan musik Dol dari sakral ke sekuler atau profan maupun sebaliknya yang terjadi dalam masyarakat Bengkulu menyebabkan perubahan (motivasi dan stimulasi) ini dapat diterima oleh masyarakat dan bisa menyatu dalam kehidupan bermasyarakat.  Pengaruh globalisasi dan hegemoni pada perubahan musik Dol menjadikan kesenian ini sebagai industri budaya, materi kreatifitas seniman, pariwisata, pencitraan dan inovasi pada pendidikan. Musik Dol tumbuh menjadi kebudayaan seni pertunjukan baru yang menggeser  keberadaan pesta rakyat ritual Tabot pada saat ini. Hal ini tampak jelas dalam perkembangan musik Dol semakin meluas secara kuantitas dan kreatifitas.Transformation signifies meaningful change in form and is a complete physical and nonphysical reconfiguration (form, likeness, nature, function, etc.). Transformation is representative of both intended change that is still indicative of the origins of an object and the changes that are not indicative of showing any similarity with the object in its original form. The dynamics of globalization and hegemony that have affected change in Dol music as Tabot ritual musicality is used deliberately for entertainment, artist's creativity, imaging, education, and tourism. Long-term and gradual phenomena are linear and hierarchical, from sacred to secular or profane (commodification), from idealism to industrial idealism and imaging (economy), and from purpose to order (creativity). The method used in this research is qualitative method. The theory used to analyze the problems of hegemony theory, popular culture theory and social practice theory. The result of the research of the influence of globalization and hegemony on the musical change of Dol from sacred to secular or profane and vice versa that happened in Bengkulu society caused change (motivation and stimulation) that is accepted by society and can be instrumental in united  society life. The influence of globalization and hegemony on the change of Dol music makes this art  take form as cultural industry, artistic creativity, tourism, imaging and innovation in education. So Dol music becomes an icon of Bengkulu Province and flourishes into a new performance art culture that shifts the existence of Tabot ritual folk feast. This is evident as the development of Dol music is widespread in quantity and creativity.
Legong Tombol di Desa Banyuatis, Buleleng, Bali Rekonstruksi dan Regenerasi Ida Ayu Wimba Ruspawati
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 31 No 1 (2016): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15859.597 KB) | DOI: 10.31091/mudra.v31i1.245

Abstract

Karya seni ini mengungkapkan tentang keberadaan Tari Legong Tombol di Desa Banyuatis, Buleleng,Bali yang mengalami kemandegan regenerasi. Melalui karya ini, langkah yang ditempuh untuk mengatasi kemandegan tersebut adalah dengan merekonstru.ksi bentuk tari tersebut, kemudian mengkore­ ografi ulang bagian yang hilang serta selanjutnya mengajarkan bentuk tarian tersebut kepada para penari generasi muda setempat. Terkait dengan permasalahan yang terjadi alas keberadaan tari Legong Tombol di Desa Banyuatis, maka dalam karya ini disampaikan tentang: (I) Metode Penciptaan karya tari yang bertitik tolak dari usaha rekonsttuksi bentuk tari yang hampir mengalami kepunahan, (2). Merekonstru.ksi dan mengkemas ulang bentuk tari Legong Tombol untuk kemudian dikembalikan kepada masyarakat, (3). Menyajikan metode pelatihan tari Legong yang terkadung dari kreativitas sosok seniman (alm.) I Wayan Rindi yang berhasil digali kembali.

Page 7 of 50 | Total Record : 496