cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
MEDIA MATRASAIN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 253 Documents
KAJIAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU DI KABUPATEN SIDOARJO Sugiarti, Putri Riska; Rolalisasi, Andarita; Mufidah
MEDIA MATRASAIN Vol. 21 No. 1 (2024): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v21i1.56045

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Sidoarjo memiliki peningkatan jumlah penduduk, yang berdampak pada jumlah timbulan sampah yang diproduksi. Upaya Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dalam mengatasi hal tersebut dengan fasilitas pengelolaan sampah, salah satunya Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). TPST yang telah terbangun dan tersebar masih belum berjalan secara optimal. Hal ini disebabkana oleh beberapa faktor, salah satunya mengenai persyaratan terbangunnya TPST dan juga sarana dan prasarana yang masih kurang optimal dan memadahi. Tujuan adanya penelitian ini yaitu untuk mengkaji terhadap kesesuaian TPST yang tersebar berdasarkan persyaratan TPST pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 03/PRT/M/2013. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskripif. Data diperoleh dari observasi, lapangan, dan wawancara, serta studi literatur dan dinas terkait. Hasil kajian tersebut menjelaskan bahwa TPST di Kabupaten Sidoarjo masih perlu adanya pemerhatian peningkatan kegiatan operasional baik meliputi sarana prasarana dan pengolahan pemeliharaan pengolahan sampah agar TPST dapat berjalan secara optimal dan bersifat keberlanjutan. Kata Kunci: TPST, Sarana Prasarana, Persyaratan Teknis, Fasilitas ABSTRACT Sidoarjo Regency has an increase in population, which has an impact on the amount of waste generation produced. The efforts of the Sidoarjo Regency Government in overcoming this problem with waste management facilities, one of which is the Integrated Waste Treatment Plant (TPST). TPST that has been built and spread is still not running optimally. This is caused by several factors, one of which is regarding the requirements for the construction of TPST and also facilities and infrastructure that are still not optimal and crowded. The purpose of this study is to examine the suitability of TPST spread based on TPST requirements in the Minister of Public Works Regulation No. 03 / PRT / M / 2013. The research method used is descriptive. Data were obtained from observation, field, and interviews, as well as literature studies and related agencies. The results of the study explained that TPST in Sidoarjo Regency still needs attention to improve operational activities, both including infrastructure facilities and processing, maintenance, waste management so that TPST can run optimally and be sustainable. Keywords: TPST, Infrastructure, Technical Requirements, Facilities
KAJIAN ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR PADA SITE KECAMATAN JEPON SEBAGAI FASILITAS PELATIHAN KESENIAN TRADISIONAL BLORA Maftukhosyi, Hadad Alfito; Murti, Farida
MEDIA MATRASAIN Vol. 21 No. 1 (2024): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v21i1.56072

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Blora memiliki beberapa potensi sosial budaya yang dapat dikembangkan, salah satunya yang berada di Kecamatan Jepon. Kecamatan Jepon ini memiliki potensi kesenian dan tradisional yang melekat pada lingkungan sekitar terutama pada Dukuh Nglobener. Adanya perkembangan zaman di era postmodern menyebabkan lingkungan sekitar site mengalami kemajuan dengan terdapat beberapa fasilitas yang mengacu pada prinsip arsitektur neo-vernakular dengan tetap mempertahankan nilai lokalitas tradisional setempat. Perkembangan pada era postmodern menyebabkan munculnya gaya arsitektur neo-vernakular. Gaya arsitektur neo-vernakular lahir pada tahun 1960-an sebagai jawaban atas kritik terhadap gaya arsitektur modern yang mengutamakan fungsionalisme dan rasionalisme yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Arsitektur neo-vernakular berkaitan dengan adaptasi dan perpaduan budaya lokal dalam kehidupan bermasyarakat, norma hukum, serta rasa keharmonisan dan keselarasan antara bangunan, lingkungan dan alam, dengan teknologi.Tujuan dari penelitian perancangan ini adalah untuk mengkaji dan mengadaptasi prinsip-prinsip arsitektur neo-vernakular pada lokasi Dukuh Nglobener, Kelurahan Jepon yang dapat berguna untuk adanya fasilitas pelatihan kesenian tradisional Blora. Metode yang digunakan adalah analisa kualitatif dengan pendekatan metode deskriptif evaluatif melalui observasi langsung, studi literatur tentang prinsip-prinsip arsitektur neo vernakular, pengumpulan data dari sumber lainnya. Pokok pada permasalahan yang akan diselesaikan terhadap objek penelitian ini yaitu, masalah minimnya produktifitas adanya pelestarian dan pengembangan kesenian tradisional setempat yang diterapkan pada prinsip arsitektur neo-vernakular. Sehingga didapat bahwa kondisi site memenuhi prinsip arsitektur neo-vernakular karena masih terdapat beberapa bangunan atau lingkungan sekitar yang mempertahankan dan melestarikan lokalitas tradisional setempat. Kata Kunci: Arsitektur, Blora, Jepon, Neo-Vernakular, Prinsip ABSTRACT District of Blora has several socio-cultural potentials that can be developed, one of which is in Jepon District. Jepon District has artistic and traditional potential inherent in the surrounding environment, especially in Dukuh Nglobener. The development of the times in the postmodern era has caused the environment around the site to experience progress with several facilities that refer to neo-vernacular architectural principles while maintaining traditional local values. Developments in the postmodern era led to the emergence of the neo-vernacular architectural style. The neo-vernacular architectural style was born in the 1960s as a response to criticism of the modern architectural style which prioritized functionalism and rationalism which was influenced by technological advances. Neo-vernacular architecture is related to the adaptation and integration of local culture in social life, legal norms, as well as a sense of harmony and harmony between buildings, the environment and nature, and technology. Therefore, the aim of this design research is to examine and adapt the principles of neo-vernacular architecture in the Dukuh Nglobener location, Jepon Village which can be useful for providing training facilities for traditional Blora arts. The method used is qualitative analysis with a descriptive evaluative method approach through direct observation, literature study on the principles of neo-vernacular architecture, data collection from other sources. The main problem that will be resolved regarding the object of this research is the problem of minimal productivity in the preservation and development of local traditional arts which are applied to the principles of neo-vernacular architecture. So it was found that the condition of the site meets the principles of neo-vernacular architecture because there are still several buildings or surrounding environments that maintain and preserve local traditional locality. Keywords: Architecture, Blora, Jepon, Neo-Vernacular, Principles
PUSAT PELATIHAN dan PEMENTASAN PADUAN SUARA Di KOTA MANADO - HARMONIZATION IN ARCHITECTURE Taihuttu, Abraham; Rondonuwu, Dwight M.; Tinangon, Alvin J.
MEDIA MATRASAIN Vol. 21 No. 1 (2024): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v21i1.56073

Abstract

ABSTRAK Paduan suara adalah sebuah seni musik yang membutuhkan kerjasama dan kolaborasi antar individu untuk menciptakan harmoni yang indah dalam nyanyian. Kota Manado adalah salah satu kota dengan jumlah peminat paduan suara yang tinggi. Kurangnya fasilitas dan wadah untuk berlatih dan menampilkan paduan suara di Manado membuat para pelaku paduan suara tidak efektif untuk meningkatkan keterampilan dalam paduan suara. Pusat Pelatihan dan Pementasan Paduan Suara di Manado dirancang untuk menjadi wadah bagi masyarakat yang ada sebagai fasilitas pendukung berkembangnya paduan suara yang ada di Manado dan sekitarnya. Pusat Pelatihan dan Pementasan Paduan Suara ini diharapkan dapat bermanfaat untuk lebih berkembangnya paduan suara yang ada di Manado dan sekitarnya baik dalam segi kualitas maupun kuantitas. Harmonization in Architecture sebagai tema perancangan merupakan sebuah upaya untuk menciptakan harmoni antara arsitektur dan musik. Arsitektur dan musik memiliki peran yang saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain. Sebagaimana harmonisasi dalam musik dibutuhkan untuk menyeimbangkan hati dan suara maka harmonisasi dalam arsitektur yang mencakup elemen-elemen seperti bentuk, warna, tekstur, dan suara dicocokkan dan diterapkan secara harmonis untuk menciptakan suasana dan estetika objek arsitektur yang baik. Kata Kunci: Pusat Pelatihan, Pusat Pementasan, Paduan Suara, Hamonization in Architecture ABSTRACT Choir is an art of music that requires cooperation and collaboration between individuals to create beautiful harmony in singing. Manado City is one of the cities with a high number of choir enthusiasts. The lack of facilities and containers to practice and perform choirs in Manado makes choir performers ineffective in improving skills in choirs. The Choir Training and Performance Center in Manado is designed to be a forum for the existing community as a supporting facility for the development of choirs in Manado and its surroundings. This Choir Training and Performance Center is expected to be useful for the further development of choirs in Manado and its surroundings both in terms of quality and quantity. Harmonization in Architecture as a design theme is an effort to create harmony between architecture and music. Architecture and music have roles that complement and reinforce each other. Just as harmonization in music is needed to balance heart and sound, harmonization in architecture that includes elements such as shape, color, texture, and sound is matched and applied harmoniously to create a good atmosphere and aesthetics of architectural objects Keywords: Training Center, Performance Center, Choir, Hamonization in Architecture
KAJIAN DAYA DUKUNG DAN DAYA TAMPUNG UNTUK KAWASAN PERMUKIMAN DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW SELATAN Nonto, Erlangga; Sela, Rieneke L. E.; Tinangon, Alvin J.
MEDIA MATRASAIN Vol. 18 No. 2 (2021)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v18i2.37074

Abstract

The carrying capacity and capacity of land is an analytical instrument related to the limitations and needs of land in order to balance it, so that there is no land transfer and environmental damage. The residential area in South Bolaang Mongondow Regency is located on the river border and coastal area. Limited land due to hilly landscapes to steep slopes, no direction for the development of residential areas and the lack of community understanding regarding the carrying capacity and capacity of land are the main obstacles to the development of residential areas. Related to this, it is necessary to identify physical conditions and analyze the carrying capacity and capacity of existing land in 2020 until the prediction in 2040. The approach used is descriptive quantitative and spatial approach to determine physical conditions and analyze the projected carrying capacity and carrying capacity of land in 2020-2040. The results showed that South Bolaang Mongondow Regency had potential land with an area of 118,106 Ha. Posigadan District 23,606 Ha, Tomini 16,596 Ha, Helumo 13,475 Ha, Bolaang Uki 15,759 Ha, Pinolosian 16,533 Ha, Central Pinolosian 15,541 Ha, East Pinolosian 16,596. Based on the calculation of the land capacity of the most dominant sub-district that cannot accommodate the population in 2040, the Bolaang Uki District consists of 10 villages.
ANALISIS PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR PARIWISATA DI KECAMATAN LIKUPANG TIMUR KABUPATEN MINAHASA UTARA Mirah, Rini Erike; Rondonuwu, Dwight Mooddy; Siregar, Frits O. P
MEDIA MATRASAIN Vol. 21 No. 2 (2024): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Organisasi Pariwisata Dunia atau WTO mengatakan bahwa pariwisata akan menjadi industri terbesar di dunia, karena merupakan salah satu industri dengan pertumbuhan tercepat dibandingkan industri lain di dunia. Infrastruktur pariwisata adalah dasar pembangunan dari suatu lokasi wisata. Dengan adanya infrastruktur pariwisata yang baik berdampak bagi pertumbuhan sektor pariwisata daerah. Di Kecamatan Likupang Timur memiliki desa wisata berkembang yang terdapat di Pantai Pulisan Desa Pulisan, Pantai Kinunang Desa Kinunang dan Pantai Paal Desa Marinsow. Memiliki infrastruktur pariwisata yang baik menjadi potensi dan daya tarik pariwisata tersebut. Akan tetapi nyatanya infrastruktur pariwisata juga dapat menjadi suatu kelemahan bagi suatu pariwisata tersebut jika didapati permasalahan didalamnya, oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis pengembangan infrastruktur pariwisata di Kecamatan Likupang Timur. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan analisis data menggunakan Analisis SWOT untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal pada objek wisata agar diketahui faktor kekuatan-peluang serta kelemahan-ancaman dari pengembangan infrastruktur pariwisata di Kecamatan Likupang Timur. Teknik pengumpulan data yaitu dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengembangan infrastruktur pariwisata di Kecamatan Likupang Timur, khususnya di Pantai Pulisan, Pantai Kinunang dan Pantai Paal memiliki kesamaan serta kekurangan terkait infrastruktur pariwisatanya, dimana sebagian besar telah tersedia, namun masih perlu adanya perbaikan sesuai dengan peraturan undang-undang yang berlaku serta perlunya pembangunan untuk beberapa infrastruktur pendukung yang masih belum tersedia.
PEMETAAN GAS RUMAH KACA DI KOTA MANADO Palar, Mawar Sharon; Sangkertadi, Sangkertadi; Prijadi, Rachmat
MEDIA MATRASAIN Vol. 21 No. 2 (2024): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanasan global dan perubahan iklim disebabkan oleh gas-gas rumah kaca seperti CO2, CH4, dan NOx yang menyerap dan memancarkan radiasi inframerah, menyebabkan peningkatan suhu global. Aktivitas manusia seperti industri, pertanian, deforestasi, dan penggunaan energi fosil menyebabkan peningkatan emisi gas tersebut. Pencemaran udara menurut Undang-Undang Nomor 23 tahun 1997 pasal 1 ayat 12 mengenai Pencemaran Lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Kota Manado, sebagai ibu kota Sulawesi Utara, memiliki peran penting dalam konteks perubahan iklim dan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat setempat. Peningkatan aktivitas manusia, pertumbuhan populasi, dan perkembangan ekonomi telah berkontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca di kota tersebut. Dengan pertumbuhan penduduk sebesar 0,31 persen dan kepadatan penduduk mencapai 2.934 penduduk/km2, aktivitas kegiatan yang memicu naiknya konsentrasi GRK juga meningkat. Pemahaman yang lebih baik tentang pola emisi gas rumah kaca di Manado menjadi kunci dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim dan melindungi lingkungan serta kesejahteraan masyarakat lokal. Penelitian ini diharapkan memberikan wawasan penting bagi pemerintah daerah, dan masyarakat untuk merancang kebijakan yang berkelanjutan serta berkontribusi pada upaya global dalam mengatasi perubahan iklim.
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR ETNIK PADA PASAR DESA ADAT KEDONGANAN DI KABUPATEN BADUNG Dewanto, Khrisna Daffa; Murti, Farida; Tohar, Ibrahim
MEDIA MATRASAIN Vol. 21 No. 2 (2024): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasar Desa Adat Kedonganan merupakan salah satu pasar yang terletak di Kabupaten Badung, Bali. Pasar Desa Adat Kedonganan memiliki potensi karena terletak di pinggir pantai dan memiliki fungsi penunjang berupa wisata kuliner hasil laut. Akan tetapi, Pasar Desa Adat Kedonganan mengalami penurunan pengunjung dan pedagang serta Pasar Desa Adat Kedonganan masih belum memenuhi Kriteria Peraturan Daerah Provinsi Bali (Perda Bali) Nomor 5 Tahun 2005, Sehingga pasar layak untuk di Redesain. Redesain Pasar akan menerapkan Konsep Arsitektur Etnik berupa Konsep Arsitektur Tri Hita Karana dan Konsep Arsitektur Tri Angga. Hal ini bertujuan untuk selain memenuhi Peraturan Daerah juga untuk mengenalkan dan menyebar luaskan Konsep Arsitektur Tradisional Bali kepada masyarakat awam.
STRATEGI MODEL PENGEMBANGAN WISATA BATAS KAMPUNG MENJADI AGROWISATA LOKAL DI SURABAYA Edison, Nanda Oktavian; Masruchin, Febby Rachmatullah; Bintarjo, Benny D.H
MEDIA MATRASAIN Vol. 21 No. 2 (2024): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Agrowisata adalah wisata alam berbasis pertanian dan merupakan salah satu wisata yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia, ditinjau dari kondisi geografisnya yang mendukung pengembangan pertanian sebagai salah satu daya tarik objek wisata . Salah satunya agrowisata yang berada di kampung Sumberan, Kelurahan Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung, Kota Surabaya yang bernama Wisata Batas Kampung. Wisata Batas Kampung merupakan wisata pertanian yang menawarkan kesejukan alam dengan didukung potensi buah yang ada disana yaitu buah jeruk dan memiliki dua jenis yaitu jeruk siam dan jeruk semboro. Dalam pengembangan objek wisata ini masih terdapat banyak kendala permasalahan sarana dan prasarana yang belum tersedia sesuai dengan kriteria sebagai tujuan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketersediaan sarana dan prasarana di Wisata Batas Kampung sehingga dapat diketahui apakah ketersediaan sarana dan pradarana pariwisata sudah sesuai dengan kriteria sehingga menjadi agrowisata lokal rekreasi yang mendukung ekonomi warga sekitar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif diskriptif dengan menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi sebagai datanya. Kesimpulan yang dapat diambil adalah Potensi pengembangan objek destinasi agrowisata ini layak untuk dikembangkan, agar dapat dikenal oleh masyarakat umum dan para wisatawan dan adanya tingkat kepedulian terhadap pemerintah serta pihak pengelola pengembangan agrowisata tersebut agar terciptanya kawasan wisata yang potensial untuk dikunjungi.
STRATEGI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA DI KOTA GRESIK Munafilah, Siti; Kusumaningayu, Intan; Bintarjo, Benny
MEDIA MATRASAIN Vol. 21 No. 2 (2024): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di tengah maraknya era 4.0, potensi industri kreatif sangatlah pesat, banyak menjadikan dari kalangan manapun di haruskan dapat terjun langsung di bidang industri kreatif. Sebagai contoh di kabupaten Gresik. Baik berasal dari kalangan tingkat kecil, menengah maupun hingga perusahaan tingkat tinggi bahkan sudah masuk di rana dunia industri kreatif dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat kota Gresik.. Riset ini bertujuan untuk melakukan kajian pengembangan industri kreatif yang dapat meningkatkan sumber daya di era digitalisasi 4.0 dengan cara memberikan pelatihan maupun Fasilitas Sarana Prasarana yang mendukung. .Metode pengumpulan data dilakukan melalui survey dan dokumentasi. Data dianalisis secara kualitatif melalui metode pengembangan Industri Kreatif terhadap variabel antara lain Pengetahuan di bidang industri kreatif yakni melalui pembinaan, pendidikan, workshop, serta event yang memperkenalkan industri kepada khalayak; Pendidikan, baik itu pendidikan formal, pendidikan informal serta pendidikan non formal, analisis Pelaku usaha di bidang industri kreatif. Melalui penataan fasilitas Pengembangan usaha industri kreatif, bantuan modal usaha dan strategi marketing Industri kreatif. Diharapkan melalui strategi pengembangan Industri kreatif terhadap Pelaku Usaha, akan memberi dampak bagi peningkatan ekonomi Kota Gresik khususnya Sumber Daya Manusia di bidang Industri Kreatif.
SENTRA WISATA KULINER TERAPUNG, DI PULAU LIKRI, DANAU TONDANO: IMPLEMENTASI ARSITEKTUR REGIONALISME DALAM DESAIN Walintukan, Casey C; Rogi, Octavianus H.A; Wuisang, Cynthia E.V
MEDIA MATRASAIN Vol. 21 No. 2 (2024): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Tondano, sebagai ibu kota kabupaten Minahasa, membanggakan potensi pariwisata yang meliputi Danau Tondano, yang menjadi daya tarik utama dengan pemandangan alamnya yang memukau. Selain itu, kota ini juga dikenal dengan kekayaan kuliner yang beragam, menarik minat warga lokal dan wisatawan untuk menikmati kuliner khas daerah. Wisata Kuliner tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memuaskan keinginan untuk mencoba hal baru dan memperdalam pemahaman budaya. Faktor ini telah mengubah kota-kota menjadi tujuan wisata yang diminati, memberikan motivasi tambahan bagi perjalanan. Penerapan tema arsitektur regionalisme dalam desain sentra wisata kuliner di Kota Tondano menjadi krusial. Regionalisme dalam arsitektur menekankan penggunaan bahan lokal, adaptasi terhadap iklim, dan refleksi nilai-nilai budaya setempat dalam desain bangunan. Dengan menggabungkan elemen-elemen arsitektur tradisional dan modern secara harmonis, sentra wisata kuliner tersebut akan menjadi simbol yang mencerminkan identitas kedaerahan dan memberikan pengalaman yang autentik bagi pengunjung. Hal ini tidak hanya meningkatkan daya tarik wisata, tetapi juga memperkaya pemahaman dan apresiasi terhadap warisan budaya setempat. Dengan demikian, sentra wisata kuliner di Kota Tondano menjadi lebih dari sekadar tempat makan, tetapi juga menjadi wadah untuk memperdalam hubungan antara manusia dan budaya, menciptakan pengalaman wisata dengan inovasi baru yang berarti dan berkesan.