cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
MEDIA MATRASAIN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
PENERAPAN ARSITEKTUR REGIONALISME PADA FASILITAS PELATIHAN UMKM DI KOTA SAMARINDA Ihsan, Tondo Wijoyo; Rolalisasi, Andarita; Tohar, Ibrahim
MEDIA MATRASAIN Vol. 21 No. 2 (2024): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fasilitas pelatihan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan suatu fasilitas yang digunakan sebagai tempat menampung seluruh aktivitas pelatihan UMKM. Fasilitas pelatihan ini terdiri dari beberapa bangunan yang mendukung fasilitas tersebut. Pengangkatan topik penelitian ini didasarkan dari besarnya minat masyarakat Kota Samarinda yang menekuni di bidang UMKM namun hal tersebut tidak ditunjang dengan fasilitas untuk melakukan pelatihan serta pengembangan di bidang UMKM sehingga berpotensi pertumbuhannya menjadi tidak terkendali. Lokasi penelitian ini berada di Kota Samarinda. Alasan pemilihan lokasi tersebut dikarenakan Kota Samarinda merupakan sekian banyaknya wilayah di Indonesia yang masih sangat terikat dengan budaya daerahnya. Oleh karena itu, hampir seluruh aspek yang ada disana memiliki nuansa budaya Dayak Kenyah (budaya Kalimantan Timur), tak terkecuali dengan bangunannya. Konsep bangunan ini menggunakan pendekatan arsitektur regionalisme. Tujuan pemilihan penerapan Arsitektur Regionalisme ialah untuk mengangkat serta memperkenalkan unsur kelokalan kebudayaan masyarakat Dayak agar lebih dikenal khalayak ramai, dengan cara menerapkan unsur lokalitas pada bangunan fasilitas pelatihan UMKM yang akan di bangun. Bertujuan untuk memperkenalkan budaya setempat Samarinda. Pengimplementasian arsitektur regionalisme terlihat pada desain bangunan bertujuan mengedukasi dan menambah pengetahuan untuk khalayak umum tentang budaya Samarinda, yang ditampilkan dalam desain bangunan yang memiliki ciri kekhasan tersendiri, seperti bentuk atap, material bangunan, desain rumah panggung, dan ukiran yang terdapat pada dinding.
REDISAIN GEDUNG DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KABUPATEN GRESIK DI ERA MODERN DENGAN PENDEKATAN KONSEP METAFORA Sadulla, Mochammad Dicky; Prakasa, Darmansjah Tjahja; Santoso, Joko
MEDIA MATRASAIN Vol. 21 No. 2 (2024): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik memiliki tugas pokok yaitu membantu Pemerintah Daerah dalam melaksanakan urusan di bidang perpustakaan dan kearsipan. Dalam pelaksanaan tugasnya masih terdapat permasalahan dan kekurangan baik eksternal maupun internal seperti, sarana dan prasarana yang kurang memadai, kurang nya fasilitas yang nyaman untuk pemustaka, fasilitas yang ada belum berstandar nasional perpustakaan RI. Dalam perkembangannya, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik tidak luput dari ancaman terhadap eksistensi dan fungsinya. Diantaranya, asumsi masyarakat terhadap perpustakaan saat ini yang masih terperangkap kedalam asumsi klasik yaitu pemahaman sempit terhadap perpustakaan, bahwa perpustakaan adalah suatu tempat yang menjenuhkan, yang dikelilingi buku buku berdebu dan merupakan tempat yang tidak menyenangkan apabila di gunakan sebagai tempat mencari informasi sekaligus tempat refreshing, Penelitian ini bertujuan mengkaji dari sudut pandang perancang dalam mendesain fasilitas perpustakaan yang representatif dan modern sebagai tempat mencari data dan informasi yang menyenangkan, efektif, efisien sesuai dengan perkembangan beradaban dunia
KONSERVASI LINGKUNGAN PERKOTAAN: PENYULUHAN DAN PENDAMPINGAN REVITALISASI MANGROVE DI PESISIR PANTAI TUMINTING DAN MOLAS, MANADO Riogilang, Hendra; Riogilang, Herawaty; Ticoh, Jack
MEDIA MATRASAIN Vol. 21 No. 2 (2024): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Revitalisasi mangrove merupakan upaya penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, mencegah abrasi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Penelitian ini berfokus pada kegiatan penyuluhan dan pendampingan revitalisasi mangrove di pesisir pantai Tuminting dan Molas, Manado. Metode yang digunakan meliputi observasi lapangan, wawancara dengan masyarakat lokal, serta penyuluhan dan pelatihan terkait pentingnya konservasi mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi aktif masyarakat dalam program revitalisasi mangrove meningkat setelah diberikan penyuluhan dan pendampingan intensif. Selain itu, ditemukan bahwa pengetahuan masyarakat tentang manfaat mangrove, seperti perlindungan dari badai dan penyediaan habitat bagi berbagai spesies, mengalami peningkatan yang signifikan. Program ini juga berhasil menanam kembali area mangrove yang rusak dan memperbanyak serapan CO2 untuk mempromosikan praktik-praktik berkelanjutan. Hasil rancangan untuk penyerapan CO2 adalah luas total rancangan yang dihasilkan 145.259 m2 atau 14.5 ha dengan total kerapatan 8.8 dan rata rata 0.1 ind/m2, Jumlah pohon dengan jenis Rhizopora Stylosa adalah 17.510 pohon, Total cadangan karbon adalah 4.766 ton/ha, Total estimasi serapan CO2 yang didapatkan adalah 18.068 ton/ha dengan rata-rata 1.246 ton/ha. dan dapat diestimasikan rata-rata serapan CO2 per pohon adalah sekitar 1,03 ton/ha.
Analisis Perubahan Penggunaan Lahan di Kota Tomohon Tahun 2003-2024 Masloman, Kayla; Tilaar, Sonny; Lintong, Steven
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Tomohon mengalami perubahan penggunaan lahan yang signifikan sejak pemekarannya dari Kabupaten Minahasa pada tahun 2003 (UU No. 10 Tahun 2003). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan serta faktor-faktor yang memengaruhinya di Kota Tomohon dalam kurun waktu dua dekade, yaitu tahun 2003, 2013, dan 2024. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi secara masif menunjukkan adanya dinamika pembangunan wilayah yang cukup intens, khususnya pergeseran penggunaan lahan dari lahan perkebunan dan lahan hutan menjadi lahan terbangun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) melalui analisis citra landsat menggunakan metode klasifikasi terbimbing dan teknik overlay peta penggunaan lahan, serta analisis regresi linier berganda untuk menguji pengaruh variabel-variabel seperti kepadatan penduduk, aksesibilitas, topografi, ketersediaan sarana dan prasarana, serta kebijakan pemerintah terhadap perubahan penggunaan lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan signifikan pada lahan terbangun dan penurunan luas lahan perkebunan selama periode analisis. Faktor dominan yang memengaruhi perubahan penggunaan lahan adalah pertumbuhan penduduk dan kebijakan pemerintah yang mendukung pembangunan permukiman. Penelitian ini memberikan rekomendasi penting bagi perencana wilayah dan pengambil kebijakan untuk mengarahkan perubahan penggunaan lahan secara terencana dan berkelanjutan di Kota Tomohon.
Pola Persebaran Dan Keterjangkauan Fasilitas Kesehatan Di Kota Bitung Menggunakan Konsep Neighborhood unit Maukar, Amanda; Tilaar, Sonny; Lintong, Steven
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Dalam lima tahun terakhir pertumbuhan penduduk di Kota Bitung mengalami perubahan, peningkatan serta penurunan, sehingga penting untuk menjamin bahwa layanan kesehatan di yang tersedia Kota Bitung mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara optimal. Hal ini mencakup aspek ketersediaan, kapasitas dan kemudahan akses terhadap layanan kesehatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode spasial dan deskriptif kuantitatif. Metode spasial mencakup teknik analisis tetangga terdekat (Nearest Neighbour Analysis) dan buffering dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pola sebaran dari fasilitas kesehatan serta jangkauan pelayanan fasilitas kesehatan di Kota Bitung. Metode deskriptif kuantitatif digunakan untuk menghitung kebutuhan fasilitas kesehatan yang ada hingga tahun 2044 dan untuk metode spasial digunakan untuk menjelaskan hasil dari analisis spasial. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pola persebaran fasilitas kesehatan di Kota Bitung adalah cenderung mengelompok (clustered). Untuk setiap kecamatan sudah memiliki layanan kesehatan walaupun tidak tersebar secara merata. Dalam hal keterjangkauan, Kecamatan Ranowulu, Lembeh Selatan dan Lembeh Utara adalah Kecamatn yang paling tidak terlayani oleh fasilitas kesehatan, sebaliknya Kecamatan Matuari, Girian, Maesa, Madidir dan Aertembaga adalah Kecamatan yang paling terlayani oleh fasilitas kesehatan.
EVALUASI KESESUAIAN LOKASI TPA REGIONAL ILO-ILO DI KABUPATEN MINAHASA UTARA Paendong, Marcelino; Warouw, Fela; Karongkong, Hendriek Hanie
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan persampahan di Kota Manado yang ditandai dengan kelebihan kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sumompo mendorong perencanaan TPA Regional Ilo-ilo di Kabupaten Minahasa Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian lokasi TPA Regional Ilo-ilo yang direncanakan. Metode yang digunakan adalah Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) yang diintegrasikan dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Sepuluh kriteria dianalisis yang terdiri dari faktor fisik, sosial, dan lingkungan, meliputi jarak dari jaringan jalan, permukiman, sungai, bandar udara, dan tempat pengelolaan sementara (TPS), serta kelerengan, elevasi, erodibilitas tanah, permeabilitas tanah, dan penggunaan lahan. Setiap kriteria diberi bobot dan skor untuk menentukan tingkat kesesuaian. Hasil analisis weighted overlay menunjukkan bahwa lokasi TPA Regional Ilo-ilo masuk dalam kategori "Cukup Sesuai". Lokasi ini memiliki keunggulan pada kriteria penggunaan lahan (tanah kosong), erodibilitas tanah (sangat rendah), dan kelerengan (5°-10°). Namun, lokasi ini memiliki kelemahan karena jaraknya yang sangat dekat dengan permukiman (±200 m) dan berada pada elevasi rendah (<200 mdpl), yang membuatnya masuk kategori "Tidak Sesuai" untuk kedua kriteria tersebut. Oleh karena itu, meskipun layak, pengembangan TPA Ilo-ilo memerlukan langkah mitigasi yang cermat untuk mengatasi potensi dampak negatif sosial dan lingkungan.
PERANCANGAN AGROWISATA di MODOINDING, MINAHASA SELATAN-Estetika Lansekap Laatung, Felano Gregorio; Wuisang, Cynthia E.; Tungka, Aristotulus E.
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai tempat yang dijuluki Dapur Indonesia timur, Kecamatan Modoinding menjadi salah satu ponsdasi untul menyokong perkembangan perekonomian nasional di bidang pertanian dan pariwisata. Dengan potensi yang dimiliki oleh Kecamatan Modoinding terutama di sektor pertanian, Kec Modoinding menjadi produsen bahan pangan terbesar di Sulawesi Utara. Untuk mengoptimalkan produktivitas dalam bidang pertanian dan pariwisata ke arah yang lebih modern diperlukan sebuah fasilitas yang dapat mewadahi kegiatan edukasi, penelitian, budidaya, dan rekreasi yang meningkatkan nilai perekonomian sekaligus estetika dan keindahan alam dalam suatu kawasan. Perancangan objek agrowisata dapat menjadi solusi untuk permasalahan di atas. Selain menampung kegiatan edukasi, budidaya, dan pelestarian sumber daya alam, objek ini juga diperuntukan untuk destinasi wisata dengan memfokuskan pada potensi pertanian. Dengan pendekatan Tematik Arsitektur Lansekap, pada hakekatnya arsitektur lansekap adalaah ilmu dan seni perancangan atau perencanaan serta pengaturan ruang luar, penyusunan elemen-elemen alam dan buatan melalui ilmu pengetahuan dan budaya, dengan memperhatikan keseimbangan kebutuhan pelayanan dan pemeliharaan sumber daya, hingga pada akhirnya dapat tercipta suatu lingkungan yang fungsional dan estetis. Dengan kehadiran objek rancangan ini serta pendekatan tematik yang digunakan diharapkan mampu memberikan pemahaman dalam pemanfaatan ruang terbuka dan mampu bertindak dan menghasilgunakan potensi dan kemampuan lingkungan alam secara bijaksana sebagai kebutuhan lingkungan manusia. As the place is nicknamed the "Kitchen of Eastern Indonesia," Modoinding Regency serves as a foundation supporting national economic development in the fields of agriculture and tourism. With its potential, especially in the agricultural sector, Modoinding Regency is the largest food producer in North Sulawesi. To optimize agricultural productivity and tourism towards a more modern direction, facilities are needed that can accommodate educational, research, cultivation, and recreational activities that increase economic value while enhancing the aesthetics and natural beauty of the region. Agrotourism can be a solution to this problem. In addition to providing educational activities, cultivation, and natural resource conservation, these locations are also designated as tourist destinations with a focus on agricultural potential. With a Thematic Landscape Architecture, landscape architecture is essentially the science and art of designing/planning and arranging outdoor spaces, arranging natural and artificial elements through the application of science and culture, while maintaining a balance between service needs and resource conservation, which ultimately creates a functional and aesthetic environment. The presence of design objects and this thematic approach is expected to provide an understanding of the use of open spaces and enable students to act wisely to utilize and utilize the potential and capabilities of the natural environment according to human needs.
Analisis Strategi Pengembangan Kawasan Transit Oriented Development di Kota Manado Rawis, Gloria Mariane; Rogi, Octavianus H. A.; Rengkung, Michael M.
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan penduduk dan aktivitas yang meningkat menyebabkan perkembangan transportasi di Kota Manado, namun juga memicu kemacetan. Sebagai solusi, penerapan konsep TOD merupakan pendekatan alternatif dalam mengatasi permasalahan transportasi, tujuan utama TOD adalah menciptakan kawasan yang terintegrasi dan efisien yang menggabungkan berbagai fungsi (mixed-use), memiliki tingkat kepadatan yang tinggi, serta mendukung mobilitas pejalan kaki. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskripstif kuantitatif dengan proses analisis spasial yang dilakukan pada lima lokasi potensial zona TOD di Kota Manado yakni zona Malalayang, Zona Pusat Kota, zona Tuminting, zona Paal Dua dan zona Kota Baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua zona potensial belum memenuhi standar ideal baik variabel design, diversity maupun density, dengan zona Pusat Kota (PPK) sebagai yang paling mendekati kriteria TOD terutama pada aspek desain jalur pedestrian dan keberagaman fungsi lahan, sementara zona Malalayang, Tuminting, Paal Dua, dan Kota Baru masih mengalami kekurangan signifikan dalam fasilitas pedestrian, kepadatan bangunan, serta integrasi moda transportasi. Analisis gap mengungkap perlunya peningkatan eksisting variabel penyusun TOD, dengan prioritas pengembangan berdasarkan metode AHP berturut-turut pada Pusat Kota (skor 0,332), Malalayang (skor 0,287), Paal Dua (skor 0,277), Kota Baru (skor 0,193), dan Tuminting (skor 0,182), di mana zona dengan kesiapan rendah membutuhkan perencanaan pengadaan awal yang lebih besar dari pemerintah dan pemangku kepentingan agar mencapai standar dari pengembangan kawasan TOD.Population growth and increased activity have driven transportation development in Manado City but have also led to traffic congestion. As a solution, the implementation of the Transit Oriented Development (TOD) concept offers an alternative approach to addressing transportation problems. The primary goal of TOD is to create integrated and efficient areas that combine various functions (mixed-use), have high density levels, and support pedestrian mobility. This study employs a quantitative descriptive analysis method combined with spatial analysis conducted across five potential TOD zones in Manado City: Malalayang, Pusat Kota, Tuminting, Paal Dua, and Kota Baru. The results indicate that nearly all potential zones have yet to meet the ideal standards in terms of design, diversity, and density variables. The Pusat Kota zone (PPK) is closest to the TOD criteria, particularly regarding pedestrian pathway design and land use diversity, while Malalayang, Tuminting, Paal Dua, and Kota Baru still face significant deficiencies in pedestrian facilities, building density, and transportation mode integration. Gap analysis reveals the need to improve the existing TOD components, with development priorities based on the Analytical Hierarchy Process (AHP) scores in the following order: Pusat Kota (0.332), Malalayang (0.287), Paal Dua (0.277), Kota Baru (0.193), and Tuminting (0.182). Zones with lower readiness require more extensive initial planning and support from the government to receive TOD development standards
ANALISIS KARAKTERISTIK LANSEKAP BUDAYA DI KECAMATAN SANGALLA KABUPATEN TANA TORAJA Tandi, Sri Septyani; Rengkung, Michael M.
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kecamatan Sangalla merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Tana Toraja yang memiliki karakter lansekap budaya yang telah ada secara turun-menurun. Lokasi yang strategis berbatasan langsung dengan Kota Makale, hanya berjarak tempuh sekitar 7 km dari Kota Makale Kabupaten Tana Toraja. Di Kecamatan Sangalla sendiri terdapat berbagai elemen budaya toraja, seperti tongkonan (rumah adat), alang (lumbung padi), kuburan batu dan tradisi adat rambu solo' (upacara kematian) yang sudah turun-temurun. Kecamatan Sangalla menyimpan kekayaan budaya yang tak kalah menarik dengan Kete’ Kesu kawasan wisata budaya yang sudah dikenal. Salah satu kekhasan yang dimiliki Kecamatan Sangalla adalah keberadaan situs pemakaman bayi di dalam pohon (baby grave) serta memiliki sebuah museum lokal yang menyimpan berbagai peninggalan yang menggambarkan kehidupan puang di masa lalu. Apabila tidak dikelola secara optimal, maka kualitas karakter lansekap budaya yang dimiliki oleh Kecamatan Sangalla ini akan mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik lansekap budaya yang ada di Kecamatan Sangalla, menganalisis kekuatan dan peluang yang dapat mempengaruhi keberlanjutan lansekap budaya serta memberikan rekomendasi pengelolaan untuk pelestarian lansekap budaya di Kecamatan Sangalla. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan analisis spasial untuk mengidentifikasi karakteristik lansekap budaya di Kecamatan Sangalla dan analisis SWOT untuk menganalisis kekuatan dan peluang untuk pengelolaan pelestarian lansekap budaya ABSTRACT Sangalla Sub-district is one of the sub-districts in Tana Toraja Regency that possesses a cultural landscape character inherited through generations. Strategically located, it directly borders Makale City and is only about 7 kilometers away from the capital of Tana Toraja Regency. Sangalla is home to various Torajan cultural elements such as tongkonan (traditional houses), alang (rice barns), stone graves, and the traditional Rambu Solo' (funeral ceremony), all of which have been passed down over time. The sub-district holds cultural richness that is no less significant than Kete’ Kesu, a well-known cultural tourism area. One of Sangalla’s unique features is the presence of baby graves placed inside trees, as well as a local museum that houses various relics representing the historical life of the Torajan nobles (puang). If not managed properly, the cultural landscape character of Sangalla Sub-district is at risk of degradation. This study aims to identify the characteristics of the cultural landscape in Sangalla, analyze the strengths and opportunities that support its sustainability, and provide management recommendations for its preservation. The methods used in this study include descriptive qualitative and spatial analysis to identify the cultural landscape characteristics, and SWOT analysis to assess the strengths and opportunities for the sustainable management of the cultural landscape.
Interaksi Keruangan Antara Pusat Kota Bitung dan Pulau Lembeh Suawah, Alya Graciela Rahmadini; Takumansang, Esli D.; Sela, Rieneke L. E.
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelurahan Bitung Barat Satu, Kelurahan Bitung Barat Dua, Kelurahan Bitung Tengah dan Kelurahan Bitung Timur di Kecamatan Maesa yang berfungsi sebagai pusat pelayanan di Kota Bitung mengindikasikan terjadinya ketimpangan dengan wilayah lainnya khususnya wilayah pinggiran, yakni Pulau Lembeh dalam berbagai aspek seperti kondisi ekonomi dan infrastruktur perkotaan sehingga dimana hal ini dapat menghambat perkembangan Pulau Lembeh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai interaksi keruangan dan menentukan faktor yang mempengaruhi terjadinya interaksi keruangan antara 4 kelurahan pusat pelayanan dengan 17 kelurahan yang ada di Pulau Lembeh menggunakan analisis model gravitasi dan analisis spasial berbasis Geographic Information System (GIS). Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah pendapatan per kapita, fasilitas perkotaan dan aksesibilitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelurahan Papusungan yang berada di Pulau Lembeh telah terjadi interaksi dengan klasifikasi yang sangat kuat pada 3 jenis data sementara itu Kelurahan Lirang terjadi interaksi yang sangat lemah pada 2 jenis data. Faktor yang paling mempengaruhi terjadinya interaksi antara 4 kelurahan pusat pelayanan dengan 17 kelurahan di Pulau Lembeh adalah faktor kemampuan saling melengkapi (regional complementarity) hal ini dikarenakan suatu wilayah tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga perlu melakukan interaksi dengan wilayah lainnya.